Mathori A Elwa lahir di Magelang, 6 September 1966. Alumnus Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta dan Fakultas Ushuluddin Program Teologi dan Filsafat IAIN Sunan Kali-jaga. Pernah membacakan sajak-sajaknya di berbagai kota dan di arena Festival Puisi Internasional Indonesia 2002 di Solo. Selama di Yogya (1986-2003) pernah bekerja di Sanggar Teater Eska IAIN Yogyakarta, Yayasan Annisa Swasti, Pener-bit Titian Ilahi Pres dan Penerbit Zaituna, Tabloid Padhang-mBulan dan Tabloid Kampung Halaman-Brebes Pos, dan Jasa Pe-nyucian “Sokka Loundry”. Sejak 2003 hengkang ke Bandung dan bergabung dengan penerbit dan distributor buku Nuansa Cendekia. Kumpulan sajaknya yang sudah terbit antara lain Yang Maha Syahwat (1997) dan Rajah Negeri Istighfar (2001).
Aku membaca buku kumpulan puisi ini di ipusnas. Aku sedikit terganggu dengan font atau bentuk huruf yang digunakan. Entah itu kesalahan cetak atau memang itulah seninya. Otapi sekiranya itu kesalahan cetak, semoga diperbaiki, sebab, orang sepertiku membaca font biasa saja kadang masih banyak salah, apalagi yang serperti ini. Berkali2 aku salah eja: penyair jadi penyiar, melemparkanku jadi menggamparmu, iya, separah itu. Namun, karena itu akhirnya aku benar2 memberi fokus ekstra, sehingga aku benar-benar terhanyut dengan puisi - puisi tulisan Mathori A Elwa.
Aku suka puisi sederhana seperti ini. Walaupun aku sebenarnya engga ngerti-ngerti amat sama puisi. Puisi yang sederhana membuatku mudah menafsirkannya. Walau demikian, kesederhanaannya mengangkat isu lingkungan yang ada di kota yang pernah disinggahi itu. Hal berat diiringi dengan kesederhanaan puisi banyak ditemui di buku ini. Sangat bagus karena terhibur sekaligus buat merenung.
tiap hari aku berkaca kepadamu wajahku makin tua lihatlah ke dalam matamu sendiri lorong gelap tanpa cahaya jalan sesat dari marabahaya lubang hidungmu adalah segala pintu gerbang air comberan limbah industri kehidupan masuklah dalam mulutku lubang ozon raksasa mengatup dan menganga menyeprotkan karbon dioksida bara api dari neraka kerasukan dunia kepalaku sudah tak subur lagi menjelma padang sahara
tiap hari aku berkaca kepadamu wajahmu berantakan (hlm 16)