Jump to ratings and reviews
Rate this book

Aku Pernah Singgah di Kotamu

Rate this book
Mathori A Elwa lahir di Magelang, 6 September 1966. Alumnus Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta dan Fakultas Ushuluddin Program Teologi dan Filsafat IAIN Sunan Kali-jaga. Pernah membacakan sajak-sajaknya di berbagai kota dan di arena Festival Puisi Internasional Indonesia 2002 di Solo.
Selama di Yogya (1986-2003) pernah bekerja di Sanggar Teater Eska IAIN Yogyakarta, Yayasan Annisa Swasti, Pener-bit Titian Ilahi Pres dan Penerbit Zaituna, Tabloid Padhang-mBulan dan Tabloid Kampung Halaman-Brebes Pos, dan Jasa Pe-nyucian “Sokka Loundry”. Sejak 2003 hengkang ke Bandung dan bergabung dengan penerbit dan distributor buku Nuansa Cendekia. Kumpulan sajaknya yang sudah terbit antara lain Yang Maha Syahwat (1997) dan Rajah Negeri Istighfar (2001).

http://penerbitkiblatbukuutama.blogsp...

68 pages, Paperback

First published January 1, 2008

4 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (11%)
4 stars
1 (11%)
3 stars
6 (66%)
2 stars
1 (11%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Mauli Hidayat.
21 reviews
September 20, 2021
Aku membaca buku kumpulan puisi ini di ipusnas. Aku sedikit terganggu dengan font atau bentuk huruf yang digunakan. Entah itu kesalahan cetak atau memang itulah seninya. Otapi sekiranya itu kesalahan cetak, semoga diperbaiki, sebab, orang sepertiku membaca font biasa saja kadang masih banyak salah, apalagi yang serperti ini. Berkali2 aku salah eja: penyair jadi penyiar, melemparkanku jadi menggamparmu, iya, separah itu. Namun, karena itu akhirnya aku benar2 memberi fokus ekstra, sehingga aku benar-benar terhanyut dengan puisi - puisi tulisan Mathori A Elwa.

Aku suka puisi sederhana seperti ini. Walaupun aku sebenarnya engga ngerti-ngerti amat sama puisi. Puisi yang sederhana membuatku mudah menafsirkannya. Walau demikian, kesederhanaannya mengangkat isu lingkungan yang ada di kota yang pernah disinggahi itu. Hal berat diiringi dengan kesederhanaan puisi banyak ditemui di buku ini. Sangat bagus karena terhibur sekaligus buat merenung.
Profile Image for Indrianiia.
6 reviews
July 21, 2021
Cermin Topeng

tiap hari aku berkaca kepadamu
wajahku makin tua
lihatlah ke dalam matamu sendiri
lorong gelap tanpa cahaya
jalan sesat dari marabahaya
lubang hidungmu
adalah segala pintu gerbang
air comberan limbah industri
kehidupan
masuklah dalam mulutku
lubang ozon raksasa
mengatup dan menganga
menyeprotkan
karbon dioksida
bara api dari neraka kerasukan dunia
kepalaku sudah tak subur lagi
menjelma padang sahara

tiap hari aku berkaca kepadamu
wajahmu berantakan (hlm 16)


waaah, tulisan yang berasa 👏
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.