Jump to ratings and reviews
Rate this book

The Awakening

Rate this book
Mari kuceritakan padamu kisah Yahudi kuno, tentang Samel-Lilith yang tidak menurut Tuhan. Keturunan mereka terpecah: Splitter—para pembangkang Samael-Lilith yang memihak manusia, dan Devotee—para pengabdi Samael-Lilith yang memburu manusia. Ini tentang pernikahan terlarang keturunan Samael-Lilith dengan keturunan Adam-Eve. Pernikahan terlarang yang mewariskan darah E+, dan saat ini mengalir di tubuhku. Aku yang biasa hidup normal ini harus menghadapi masalah serius—diburu para devotee dan hidup dalam pelarian. Saat ancaman bahaya semakin serius, aku bergulat dengan perasaanku yang membingungkan. Aku nyaman berada di sisi Jeremy, mantanku yang seorang splitter. Namun, di sisi lain aku menyukai Frederick, seorang devotee yang jelas berada di pihak musuh dan memburu darah istimewaku. Aku bingung, kepada siapa perasaanku harus diletakkan? Dan siapa yang bisa kupercayai? “Aku tidak mau mati begitu saja setelah Fred dan Jim berkorban untukku.”

250 pages, Paperback

First published April 14, 2015

4 people are currently reading
24 people want to read

About the author

Yoana Dianika

27 books171 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (19%)
4 stars
5 (23%)
3 stars
8 (38%)
2 stars
3 (14%)
1 star
1 (4%)
Displaying 1 - 5 of 5 reviews
Profile Image for Dhia Citrahayi.
Author 3 books21 followers
May 27, 2015
Sampulnya.... sampulnya nyeremin, ciiiin. Pertama kali liat sampulnya, yang terbayang dalam benak saya adalah seorang tokoh boneka yang menjalani kehidupan kelam dengan latar belakang cerita di abad pertengahan sana. (Abad pertengahan kok pakenya gaun pendek berbahu terbuka? *toyor diri sendiri*). Ya intinya..., sampul buku ini saya pikir sebagai novel drama misteri yang berkisah soal pembunuhan atau psikopat sih.

Gak nyangka kalau ini cerita bergenre fantasi.

Lebih gak nyangka lagi, ini cerita remake dari cerita sebelumnya yang sebenarnya belum pernah baca.

(Apa sih yang bikin kamu nyangka? #dikeplak)


Jadi, novel ini menceritakan soal Ellen, sang pemilik darah langka yang diincar oleh keturunan Samael-Lilith yang untuk menambah kekuatan mereka. Sekilas, kalau dibaca dari sinopsisnya, ceritanya akan terbayang seperti twilight, tapi enggak kok. Karakter tokoh utamanya lumayan bisa disukai dan karakter-karakter pendukungnya juga likeable, cuma.... terkadang ada satu-dua bagian yang bikin saya gemes ama tingkah tokoh-tokoh ini, dan entah kenapa saya gak bisa suka sama Frederick.

Secara penceritaan dan alur, semuanya bagus dan runut. Gaya penceritaannya enak, walau saya menemukan ada informasi yang kurang penting dan numplek jadi satu di salah satu bab, seperti informasi soal dasi dan pengelompokan anak-anak di sekolah Ellen. Pas baca penjelasan soal sekolah Ellen ini, saya rada-rada heran, karena merasa pengelompokan ini mirip seperti pengelompokan di Divergent. Tiap-tiap anak dipisahkan sesuai dasi mereka (setidaknya ada 5 warna dasi), yang paling saya ingat mah, dasi abu-abu yang artinya menonjol atau termasuk anak-anak yang populer. Saya sedikit bingung, kalau mereka berbaur di dalam sekolah, lantas apa maksud pengelompokan dasi-dasi ini? Rasanya..., kurang terlalu relevan untuk cerita, kecuali untuk mencirikan tokoh-tokoh yang nantinya dekat dengan Ellen.

Alur cerita rapi, walau terkadang di bab-bab tertentu disisipi oleh mimpi Ellen tentang masa lalu leluhurnya. Kemudian, sedikit yang mengganggu saya di cerita adalah tentang ketidaktahuan Jim mengenai darah langka yang dimiliki Ellen. Setengah buku sebelumnya, saya mencermati kalau Jim seolah tahu kalau Ellen punya darah khusus, tapi... di bagian-bagian akhir, setelah Ellen dibawa ke rumah para Splitter, ini napa Jim jadi kaget kalau Ellen punya darah E+? Saya jadi rada bingung.



Secara garis besar, saya cukup menyukainya sebagai bacaan ringan di akhir pekan. 3 bintang untuk The Awakening.

Fiksi fantasi lokal
Profile Image for liz.
46 reviews
May 7, 2022
"It's like that show 'Becker', you know, with Ted Danson? I watched the entire run of that show, hoping it would get better and it never did." —Bojack Horseman.

That's how I feel when I read this book. Buku ini gak ada di posisi atas dari TBR list-ku, tapi waktu awal April aku iseng ambil dan baca blurb-nya and I was interested. I thought, hmm this is interesting. Dan karena waktu SMP aku pernah baca karya Yoana Dianika (which I enjoyed), I had a good feeling about this book. But turns out, I was wrong. I'm sorry to say this but this book was the second dumbest book I read this year. God, you have no idea.

Di awal ada penjelasan tentang house dari sekolahnya si Ellen dan ini kayak crossover Harry Potter x Divergent tapi ternyata gak ada hubungannya sama cerita. Kayak dijelasin gitu cuma buat nambah halaman doang.

Jujur aja aku ngerasa baca tulisanku waktu SMP. Gaya tulisannya mirip. Yoana beberapa kali coba buat pake diksi yang unik, tapi ada satu yang kurang pas menurutku. Dia pake kata "berkonspirasi" untuk menggantikan kata "bersekongkol". Which was not entirely wrong, to be honest. Emang bener, konspirasi di KBBI bermakna "bersekongkol" tapi itu nomina, bukan verba yang bisa dikasih prefiks atau sufiks. Jadi menurutku kurang pas aja.

Beberapa dialognya cringe, jujur aja. Bahasanya kayak script FTV. Terus aku kesel banget sama si Ellen ini. Dia dikasih kelebihan tapi malah jadi beban. Waktu awal tuh aku kebayangnya bakalan ada aksi heroik Ellen nyelamatin kaumnya dan segala tektek bengeknya, gimana dia berantem hebat sama Kelly. Ternyata semua itu gak ada. Si Ellen ini cuma bisa pasrah aja tiap kali dia ngerasa mau mati. Daya survival-nya nol banget. 🙂 Gak ada keinginan buat berusaha ngelawan atau gimana. Selalu aja berharap ada cowok cakep yang nolongin dia. Jiwa feminisku meraung-raung. Emosi banget bacanya. Padahal aku udah rooting buat Ellen bikin momen yg bikin aku pengen bilang, "oooh, ✨woman✨" pas baca tapi ga pernah ada. Yang ada aku maki-maki Ellen karena jadi beban.

Terus aku ngerasa ada banyak informasi yang ga mendetail diceritain. Kayak si orang keturunan darah E+ ini tuh apa yang bikin mereka istimewa? maksudnya kan dibilang sebelumnya kalo si darah E+ ini "kedudukannya" lebih tinggi dari splitter atau devotee, nah dalam hal apa? karena kita tau splitter dan devotee ini intuisi dan indra penciumannya kuat, terus apa yg bisa dilakuin darah E+ selain bisa tau masa lalu lewat mimpi? apa kekuatannya secara fisik karena si Ellen ini keliatannya lemah banget. Dan dia kayak gak ada kemauan buat nyari tau lebih dalam soal semua keanehan yang terjadi di dia gitu. Kalo aku jadi dia aku bakalan cari tau apa yang bisa aku lakuin buat ngebantu cegah Kelly buat berbuat jahat. Kayak di Buffy the Vampire Slayer. Si Buffy nya kan pas pertama kali tau dia itu vampire slayer, dia selalu latihan gimana caranya bisa nolongin orang-orang. Sementara si Ellen ini, dia udah dikasih tau kalo dia ini "the choosen one" tapi do completely nothing about it. Kek yaudah iye tau and go on with her life. Aku ngerasa dia gak punya tanggung jawab besar dan gak pantes untuk dijadiin "the choosen one".

Terus dua kali Yoana lupa karakter mana yang lagi dia omongin di satu part. Beberapa paragraf Fred terus tau-tau dia salah panggil di salah satu kalimat jadi Jim. Kecil sih, tapi fatal menurutku.

Penggunaan Bahasa Inggrisnya tanggung. Kalau mau dibikin bilingual, bilingual sekalian. Proporsi antara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesianya harus jelas. Ini tuh dia di awal pake beberapa kalimat di Bahasa Inggris terus bab pertengahan gak ada tuh sama sekali, terus di ending tiba-tiba muncul lagi. Terus dia ada salah sebut "your wish" instead of "you wish". Sebagai seorang yang cukup perfeksionis soal grammar aku agak keganggu aja.

Gaya penulisannya juga labil alias naik turun. Di awal paragraf bagus banget kayak novel terjemahan, terus tiba-tiba jadi kayak tulisan anak SMP baru belajar nulis fiksi nanti bagus lagi. Yoana juga gak konsisten dalam menggunakan bahasa baku/tidak baku (kasual). Ada bagian dimana bahasanya baku banget terus tiba-tiba dia pake kata "nggak".

Terus lagi, mungkin yang si Fred ternyata saudara kembarnya itu harusnya jadi sebuah plot twist yang mencengangkan, tapi buatku itu malah aneh dan jadi kayak, "hah apaan sih."

Ellen ini juga laki-laki sentris banget. Apa-apa ngandelin cowok. Bukannya usaha sendiri dulu. She doesn't prove that a woman can be strong and stand on her own feet. Tapi di sini dia ngintilin cowok mulu. Pikirannya cowok-cowok-cowok mulu kayak si Ruby Oliver. At least Ruby was an ordinary teenager dan gak ada kewajiban untuk nyelamatin umat manusia whatsoever.

Terus Wattpad banget pas si Ellen ngaransemen musik dan dia dipuji abis-abisan sampe dapet tawaran kerja. Idupnya Ellen mulus amat yak, pantesan aja si Eve benci. Di buku Ellen dideskripsikan sebagai cewek bar-bar, gak kayak Eve yang menye-menye. Tapi subteks dari cerita ini justru kebalik. Bisa diliat dari apa yang udah aku sebutin kalo Ellen ini cowok sentris banget, sementara si Eve tuh dia kerasa banget perjuangannya.

Yoana juga terlalu eksplisit. Dia gak pake prinsip "show, don't tell". Jadi untuk mendeskripsikan apa yang dirasakan si karakternya, dia sebut aja langsung kata sifatnya. Gak dideskripsiin gimana biar pembaca yang menginterpretasikannya sendiri si karakternya ngerasa apa. Tapi semuanya udah jelas.

Kedatangan Fritz yang tiba-tiba juga aneh banget kayak dikejar durasi banget. Masa disangka mati, tau-tau muncul jelasin tentang keturunannya abis itu pergi tanpa kasih pelatihan, wejangan, atau apapun ke keturunannya sendiri. Gunanya Ellen cuma pas hidupin lagi si Fred, sisanya gak ada.

Ada satu momen yang bikin aku kayak "hah?" tapi ngakak juga dan gak habis pikir adalah waktu Ellen kerkom di rumahnya terus orang tuanya mendadak ilang. Si Ellen ini durhakanya malah lanjut kerkom dulu bukannya buru-buru telepon polisi apa gimana 😂 If it were a crime novel, people would've suspected her for her own parents' missing.

Also one thing that *really* annoyed me is that di bab-bab awal Yoana selalu nyebut "keturunan Adam-Eve", "keturunan Samael-Lilith". Ganggu karena kepanjangan. Kenapa gak buat aja kata baru buat namain makhluk keturunan Samael-Lilith karena jelas mereka bukan manusia, kan.

OK this is getting long and out of control. Aku maklum lah, karena ini novel debutnya Yoana so it's OK karena tulisan dia di Last Minute in Manhattan jauh lebih acceptable daripada ini. Lastly, I feel like this is basically Twilight.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Adeline Luhukay.
1 review
January 14, 2016
Baru aja kelar baca buku ini...butuh beberapa hari buat kelar baca novel ini karena kesibukan kerjaan gw yg luar biasa sibuknya!!
Hmmm...pada dasarnya gw suka novel yg genre nya fantasi, itu menjadi alasan kenapa gw beli lah novel ini.

Penilaian gw adalah buku ini ringan utk di baca, ga memerlukan konsentrasi yg banyak utk bisa ikutin alur ceritanya. Cuma ada beberapa yang kurang masuk akal dan membuat kurang natural yaitu di part dimana Ellen kehilangan orangtuanya karena di bunuh secara sadis, begitu baca gw menilai Ellen sedihnya biasa aja & gampang move on ya? Padahal kalau di gambarkan lebih dalam bagaimana mental Ellen menghadapi kejadian itu pasti lbh seru, apalagi pas di ending dia tau kalau Fred & Eve ada di balik rencana pembunuhan orangtua nya makin akan tergambar lebih dalam emosi Ellen nya itu.
Ending nya masih gantung ya, karena ga di jelasin bagaimana ujungnya hubungan splitter & Devotee, terus hubungan Ellen yg berdarah E+ itu sama fred yang udh jadi manusia biasa, apakah untuk mereka boleh berhubungan? Atau sama kayak splitter & manusia dilarang berhubungan? Trus nasib kelly yg hanya bisa di hentikan oleh Ellen? Masih belum ada ujungnya, apa mungkin ada kelanjutannya??

Ya pokoknya buku ini gw kasih nilai 3 bintang karena gw ga nyesel sih udh beli buku ini, dan buku ini bikin penasaran gmn endingnya, semoga segera ada kelanjutannya.

Semangaaat & terus berkarya untuk Yoana Dianika
Profile Image for MY.
92 reviews14 followers
Currently reading
June 1, 2015
29-04-2015
blurb-nya lumayan, tapi awas aja kalo sampe isinya jelek. saya gak akan ragu-ragu untuk bantai ini. hahahaha.

01-06-2015
mulai baca ini... hmmm. prolognya oke.
Profile Image for Nana Petronika.
Author 1 book6 followers
August 27, 2017
Dari semua karya Yoana Dianika kayaknya ini yang paling ngena di hati, deh.
Displaying 1 - 5 of 5 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.