Buku Ini menghimpun tiga esai panjang Tan Malaka yang belum pernah dipublikasikan di Indonesia. Teks-teks ini akan jatuh menjadi dokumen sejarah semata jika dibaca sebagai arsip masa lalu. Daya ledaknya justru muncul ketika ia diletakkan di hadapan situasi hari ini, sebagai alat untuk melucuti berbagai bentuk kekuasaan yang masih bekerja. Dari kolonial Hindia Belanda hingga lanskap politik pasca Agustus 2025, wajah politik dan kekuasaan tidak ditemukan pada konstitusi atau pidato kenegaraan yang rapi, tapi dalam kesaksian mereka yang pernah diasingkan, dibuang, dan dipenjara, ketika manusia ditempatkan dalam kondisi yang tidak wajar dan seluruh hidupnya berada di bawah kuasa tanpa batas. Penjara, pengasingan atau pembuangan menjadi cermin paling jernih yang menampilkan wajah negara tanpa kepura-puraan dan tanpa kosmetik.
Zen RS
Di Hongkong. 25 Desember, pukul sebelas malam, setelah saya diberitahu tentang keputusan Pemerintah Belanda, saya melihat sebuah kesempatan, memang sangat kecil, jika saya memutuskan dalam satu jam untuk mengambilnya. Rasanya seperti berdiri di hadapan jembatan sehelai rambut, yang harus dilintasi orang Muslim pada hari penghakiman untuk mencapai ujungnya, surga, tempat para huri, para dara, tinggal dengan mata besar, bulat, seperti mata merpati. Di bawahnya, neraka. Saya berdiri di penjara Inggris. Ujung yang paling ekstrem bisa jadi lebih buruk daripada penjara Inggris.
Esai "Surat dari Seorang Tanpa Negeri dan Negara" (1933)
Tan Malaka (1894 - February 21, 1949) was an Indonesian nationalist activist and communist leader. A staunch critic of both the colonial Dutch East Indies government and the republican Sukarno administration that governed the country after the Indonesian National Revolution, he was also frequently in conflict with the leadership of the Communist Party of Indonesia (PKI), Indonesia's primary radical political party in the 1920s and again in the 1940s.
A political outsider for most of his life, Tan Malaka spent a large part of his life in exile from Indonesia, and was constantly threatened with arrest by the Dutch authorities and their allies. Despite this apparent marginalization, however, he played a key intellectual role in linking the international communist movement to Southeast Asia's anti-colonial movements. He was declared a "hero of the national revolution" by act of Indonesia's parliament in 1963.
Buku ini menghimpun tiga tulisan penting yang memperlihatkan pengalaman politik sekaligus pergulatan Tan Malaka saat menghadapi kekuasaan kolonial pada masanya. Kedua tulisan pertama berjudul Pengasinganku (Mijn Verbanning) dan Sekolah Sarekat Islam sebagai Sepucuk Pistol di Dada Pemerintah Kolonial (De Sarikat-Islamschool als een pistool op de borst der Koloniale Regeering) yang ditulis pada 1922 dan diterbitkan di surat kabar komunis Belanda, De Tribune.
Kemudian, tulisan ketiga yang diberi judul Surat dari Seorang Tanpa Negeri dan Negara (Surat kepada China League for Civil Rights), ditulis pada Februari 1933. Dokumen ini aslinya merupakan permohonan suaka politik Tan Malaka kepada komite Liga di Shanghai. Ironisnya, surat tersebut tidak pernah membuahkan perlindungan, oleh karena jatuh ke tangan intelijen Belanda. Kepolisian pun menyerahkannya kepada Konsul Jenderal Belanda di Shanghai, yang kemudian meneruskannya langsung ke meja Jaksa Agung (Procureur-Generaal) Hindia Belanda di Batavia.
Hal yang menarik dari buku ini adalah bagaimana teks-teks panjang yang ditulis Tan Malaka disusun sedemikian rupa untuk menghubungkan kisah pengasingan dirinya dengan persoalan yang lebih besar, terutama mengenai pendidikan dan kebebasan berpikir. Dalam esai tentang Sekolah Sarekat Islam, misalnya, Tan menunjukkan bahwa pendidikan bagi rakyat justru menjadi ancaman serius bagi pemerintah kolonial karena dapat membangkitkan kesadaran dan keberanian untuk melawan ketidakadilan.
“Sementara di dalam barisan kami sendiri masih banyak yang menyebut diri komunis, padahal dalam perbuatan sesungguhnya tidak lebih daripada utopis dan teosof, yang tidak memiliki keberanian maupun kemauan untuk menghendaki sesuatu di bumi ini tanpa perjuangan yang nyata.”
Sementara itu, surat panjang Tan Malaka memberikan sisi yang lebih personal dan tragis. Ia menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang kehilangan tempat berlindung secara politik dan harus terus berpindah dari satu negara ke negara lain untuk menghindari pengejaran intelijen kolonial. Nasib surat tersebut yang justru jatuh ke tangan pemerintah Belanda semakin memperlihatkan betapa kuat pengawasan terhadap dirinya.
“Saya hanyalah orang Indonesia karena kelahiran. Selama sebelas tahun saya telah dibuang dari negeri saya, dicabut kewarganegaraan dan perlindungan Belanda, dinyatakan di luar hukum dan diburu. Sebagai warga negara dari tidak satu pun negeri, dan telah menghabiskan hampir sepertiga hidup saya dengan berkelana ke seluruh Tiongkok, saya kira saya mempunyai satu alasan lagi untuk mengajukan permohonan kepada Liga.”
Dengan penerjemahan langsung dari bahasa aslinya, ditambah anotasi detail serta tambahan konteks sejarah pada setiap esai, buku ini menjadi mudah dipahami untuk menyelami pemikiran Tan Malaka sekaligus melihat bagaimana seorang tokoh pergerakan menghadapi tekanan negara dengan tulisan dan gagasannya. Ketiga teks dalam buku ini terasa seperti satu rangkaian cerita tentang seseorang yang terusir secara fisik, tetapi tidak pernah benar-benar dapat diasingkan dari perjuangan dan pemikirannya.
Penulisan analisis tajam, dingin, dan sistematis ttg mekanisme kekuasaan, dimana bagaimana hukum dijadikan topeng legitimasi, pendidikan rakyat dianggap lebih berbahaya daripada senjata, serta negara2 beradab bersatu memburu seorang pemikir yg menolak tunduk pd tatanan kapitalisme dirampung oleh sosok Tan. Ketiga esai ini membentuk satu narasi yg kohesif ttg cara kerja kekuasaan otoritarian, baik yg berkabel kolonial, militer, maupun “demokrasi prosedural”. Dan apapun jenisnya, mekanisme yg sama berulang kembali, how pathetic it is…🪦
At the end, ketidakmampuan negara dlm memenangkan perdebatan ideologis dan meredam rasionalitas oposisi kerap kali berunjung pd represi absolut berkedok penyelamatan stabilitas bangsa. 🤢👎🏻 Serta menjadi pengingat pula, bahwasan nya segala ancaman bisa diciptakan, tetapi kesadaran utk melawannya pun masih bisa di lakukan. Bahkan setelah 100tahun kemudian. #Panjang umur perjuangan🙂
Buku berisi tiga artikel Tan Malaka ini menjadi istimewa karena beberapa sebab. Pertama, karena ketiganya belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sehingga keterbacaannya di masa kini memang masih minim (atau bahkan belum terjangkau sama sekali karena ia tadinya berupa artikel koran dan sebuah surat yang kemudian dihimpun menjadi arsip). Kedua, fase krusial dalam hidup Tan Malaka ketika menjadi seorang yang diasingkan, dijauhkan dari tanah airnya, terekam dengan baik melalui artikel dan surat ini. Ketiga, apa yang ditulis oleh Tan Malaka nyaris satu abad lalu ternyata masih relevan dengan kondisi hari ini meski secara formal kekuasaan kolonial Hindia Belanda sudah bangkrut. Hal yang terakhir ini tentu saja yang membuat sangat miris dan menyedihkan karena itu berarti Indonesia hampir nggak kemana-mana dalam waktu delapan dekade merdeka ini; hanya berubah wujud saja di permukaan, tapi esensi negara kolonialnya yang menindas, mengeksploitasi, dan merendahkan martabat kemanusiaannya masih juga belum sirnah sampai kini.
Tentu saja apresiasi untuk Zen RS yang kemungkinan besar memang menjadi pengumpul, penerbit, sekaligus penyunting terjemahan teks-teks Tan Malaka yang, agaknya, jarang banget disebut ini. Di tengah gelombang pasang penerbitan kembali berbagai karya Tan dengan berbagai macam versi oleh berbagai penerbit, tentu kemunculan kembali teks yang disertai penjelasan dan pengantar konteks menjadi penting. Jadinya, penerbit tidak sekadar cari cuan doang dari menerbitkan naskah Tan yang emang laris betul di pasaran itu, tapi juga memberikan pemahaman sekaligus kontekstualisasi dan relevansi tulisan tokoh ini terhadap keadaan sosial-politik Indonesia masa kini, yang berjarak sekitar 100 tahunan sejak Tan Malaka menulis dan mencita-citakan sebuah Republik yang merdeka itu.
Buku kedua Tan Malaka di tahun ini yang saya baca dan persamaan dari keduanya adalah project buku Zen RS. Pokoknya kalo beliau menulis tentang Tan, sudah tidak perlu banyak berpikir, langsung ikut pre order.
Dari Pengasingan ke Pengasingan merupakan tiga esai karya Tan Malaka yang belum pernah dipublikasikan ke khalayak. Menurut Zen, tiga esai ini memang menemukan takdirnya secara momentum untuk diterbitkan pada hari ini didukung dengan kejadian-kejadian represif yang muncul belakangan di Indonesia. Usai selesai membacanya, saya menjadi paham mengapa konteks tulisan Tan ini yang ditulis di rentang tahun 1921-1922 masih relevan 105 tahun kemudian.
Esai pertama berjudul Mijn Verbanning (Pengasinganku) yang sebenarnya merupakan pledoi atau tulisan pembelaan Tan terhadap kebijakan hak luar biasa (exorbitante rechten) Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk mendeportasi dirinya dari Hindia Belanda ke Belanda. Terdapat enam tuduhan yang dialamatkan pemerintah kolonial kepada Tan, yaitu : 1. Dituduh menghubungkan antara PKI Hindia Belanda dengan Henk Sneevliet di Shanghai 2. Sebagai pengurus teras PKI secara langsung atau tidak langsung mengambil bagian demi membujuk Partai Komunis Belanda untuk merancang program aksi untuk persoalan di Hindia Belanda 3. Dituduh memasukkan paham komunis ke tubuh anggota Sarekat Islam dan menghasut mereka untuk membelot dari CSI (Central Serikat Islam) lalu masuk ke RVI (Serikat Buruh Revolusioner) 4. Dituduh terus-menerus secara lisan maupun tertulis memberitakan teori komunis dan menghasut massa untuk menerapkan secara nyata 5. Meresahkan masyarakat dengan agitasi dan propaganda sehingga massa menciptakan situasi penuh perlawanan kepada pemerintah 6. Melalukan agitasi dan propaganda komunis kepada kaum muda melalui pendekatan kurikulum sekolah milik Sarekat Islam
Semua poin tuduhan ini dibantah oleh Tan Malaka dengan rapi dan lugas, namun yang menarik perhatian saya ketika Tan menjelaskan duduk perkara poin 3. Bahwasanya perpecahan di tubuh Sarekat Islam bukan disebabkan oleh pihak eksternal melainkan oleh internal melalui CSI yang mengeluarkan aturan disiplin partai bahwasanya anggota tidak diperbolehkan memiliki keanggotaan ganda. Jika memilih CSI, maka ia harus keluar dari Sarekat Islam Merah atau RVI, begitu pula sebaliknya. Orang-orang yang menentang kebijakan ini mendirikan Persatuan Sarekat Islam (PSI). Tan bersama Hadi Koesoemo justru mendorong adanya persatuan ini karena perpecahan di tubuh SI justru malah menguntungkan pihak kolonial. Islam dan Komunis berada di jalan yang sama menentang penjajahan dan justru bersatu padu.
Selain itu, Tan menganggap pribumi yang bekerja sebagai pegawai rendahan di pemerintahan kolonial sebagai sekutu proletar, karena walaupun secara finansial lebih mapan, mereka juga banyak terlibat dalam pergerakan perjuangan kaum papa. Kesadaran akan perlawanan terhadap penjajahan tak luntur walaupun posisinya sangat dilematis
Esai kedua berjudul Surat dari Seorang tanpa Negeri dan Negara. Surat ini ditujukan kepada Liga Hak Sipil Tiongkok untuk meminta suaka politik karena ia menulis dalam kondisi terombang-ambing, ditolak oleh berbagai negara - termasuk yang mengaku dirinya sebagai si paling menjaga demokrasi seperti Hongkong, Tiongkok, Belanda dan Amerika Serikat karena perjanjian ekstradisi. Di sini terasa sekali nuansa kegetiran dan keputusasaan seorang Tan yang berstatus tanpa negara. Tan ingin meminta bantuan dan perlindungan dari Liga yang memang memiliki visi memoerjuangkan nasib para tahanan politik dan menentang ekstradisi. Sialnya, surat ini justru jatuh ke tangan polisi Shanghai yang sedang menggeledah kantor Liga Hak Sipil Tiongkok karena Sekjen mereka tewas di tangan orang suruhan Chiang Kai-shek. Akhirnya surat ini diberikan kepada konsulat Belanda di Shanghai dan Tan justru tertangkap lagi. Di sini Tan mengungkapkan adanya pola dan keterkaitan jaringan global yang secara sistemik berkerjasama dalam memberangus gerakan perlawanan terhadap kolonialisme.
Di esai kedua ini sempat disinggung sedikit mengenai hubungan antara Tan Malaka dengan Senembah Mij, sebuah perusahaan raksasa di bidang ekstraksi sumber daya alam - yang kelak dinarasikan oleh Ferry Irwandi bahwa Tan Malaka pernah menjadi pegawai yang digaji oleh pemerintahan kolonial - suatu entitas yang padahal dilawannya. Narasi ini dibantah keras oleh Zen melalui tulisannya yang sangat ciamik dan mencerahkan ini https://thethirdsoil.substack.com/p/s...
(sangat direkomendasikan untuk dibaca)
Esai ketiga berjudul paling panjang yaitu De Sarekat-Islamschool als een pistool op de borst der Koloniale Regeering (Sekolah Sarekat Islam sebagai Sepucuk Pistol di Dada Pemerintahan Kolonial). Tulisan ini mengungkapkan bagaimana ketakutan Gubernur Jenderal Hindia Belanda diproyeksikan melalui represi nyata untuk memberangus sistem pendidikan yang membangkitkan kesadaran akan bangsa terjajah. Tan secara detail menjelaskan bagaimana ia menyusun kurikulum sekolah dan apa yang perlu dilakukan suatu sekolah untuk mendidik masyarakatnya. Esai yang sangat sangat berkelas dan masih relevan hingga hari ini.
Buku ini ditutup dengan epilog dari Zen RS berjudul Ancaman Bisa Diciptakan : Digul, Buru dan Kota-Kota Setelahnya. Di sini Zen menghubungkan konteks antara ketiga esai Tan dengan kondisi Indonesia saat ini. Zen secara tegas mengatakan bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah otoritarianisme bukan demokrasi. Bahwa watak kolonialisme Belanda masih hidup dan hanya berganti kulit menjadi topeng penguasa hari ini. Zen dengan cermat menukil tulisan Hannah Arrendt, Nelson Maldonado-Torres dan Carl Schmitt tentang bagaimana hukum ditegakkan bukan untuk melindungi hak-hak sipil tetapi demi menjaga harkat, martabat dan marwah penguasa itu sendiri.
Tiga esai yang ditulis Tan Malaka di buku ini adalah pisau bedah yang membelah wujud asli otoritas negara. Tersingkap segalanya, bahwa tubuh di dalam suatu negara dipenuhi mesin represi untuk membungkam rakyat yang bangkit. Dirinya secara ajaib dan kurang ajar selalu berada di luar hukum, dan berupaya dengan segala cara melegitimasi kekerasan terhadap banyak rakyat yang berusaha bangkit dari kebodohan rezim kolonial.
Jika dibaca hari ini, esai yang sudah seratus tahun lebih, kita bisa melihat watak kolonialisme saat itu tak ada bedanya dengan rezim saat ini. Rezim yang lahir setelah kolonialisme bubar seperti mendapat pencerahan bahwa ia adalah ahli waris yang sah untuk meneruskan kekerasan terhadap rakyat. Dari represi tokoh-tokoh kiri pada rentang 1920an, pembantaian rakyat pada tragedi G30S, pembungkaman panjang pada masa orde baru, hingga hari ini, setelah reformasi, kekerasan masih gemar dilakukan oleh aparat. Apa yang salah dari kita?
Membaca buku ini bisa buat kita tetap sadar siapa musuh yang perlu kita lawan.
Buku yang penting, terutama bagi Indonesia saat ini. Berisi 3 esai Tan Malaka yang mencari suaka dan pemikirannya. Betapa ideologi menjadi ancaman terbesar pemerintah kolonialisme. Sebegitu ketakutannya hingga penuh sesaknya pemegang kuasa tanpa meritokrasi ini melakukan segala cara untuk menyebar takut dan pembungkaman. Hal yang kembali berulang hingga setelah kurang lebih satu abad kemudian. Sebagai buku pertama beliau yang saya baca, juga kali pertamanya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, buku ini pun cukup penuh catatan kaki, namun berhasil memberi pengalaman serta pandangan visioner serta protes dan keresahan Tan Malaka saat itu, ironisnya masih relevan hingga saat ini. Negara kita memang belum "merdeka" sebenar-benarnya.