What do you think?


Makamkan Ibu di Samping Ayah
“Barangkali yang paling sulit bukan memaafkan, tetapi menerima bahwa kita tidak pernah tahu seluruh kebenaran.”
Di antara dua nisan, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar selesai. Saat kenangan tentang ayah yang dibenci mulai kembali dihidupkan, kebenaran lama perlahan runtuh. Kini, hanya ada dua pilihan: terus mewarisi luka, atau berani memahaminya.
Di antara dua nisan, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar selesai. Saat kenangan tentang ayah yang dibenci mulai kembali dihidupkan, kebenaran lama perlahan runtuh. Kini, hanya ada dua pilihan: terus mewarisi luka, atau berani memahaminya.
128 pages, Paperback
Published June 6, 2026
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 16 of 16 reviews
July 28, 2026
Seperti Ibu.
Dua kata itu cukup pekat dan dalam di buku ini. Bagaimana peran Ibu yang penuh dengan rasa “aku” memengaruhi seluruh fragmen dalam keluarganya? Bagi anak sulung, bagi anak kedua, bagi anak bungsu, bagi [mantan] suami, bahkan istri baru sang mantan suami.
Enam sudut pandang.
Buku ini sangat tipis, namun begitu padat akan sudut pandang. Terdiri dari 6 sudut pandang yang bergantian memberikan pengalaman dan sakitnya dalam satu keluarga.
Aji, sang anak sulung, selalu dihantui oleh perasaan “tidak mau seperti ayahnya”, namun justru semakin tidak mau, malah semakin avoidant. Aji ini banyak memendam luka sebagai anak sulung. Selalu jadi garda depan. Selalu disuruh oleh ibunya untuk menemui keluarga ayahnya—yang sudah punya keluarga baru—entah itu untuk meminta uang atau menjadi saksi akan ketidakmampuan ayahnya dalam menjadi seorang ayah.
Kenapa aku harus datang ke rumah seorang ayah yang tidak bisa diandalkan sejak dulu? (p.28)
Vikra, sang anak tengah. Layaknya anak tengah—kadang tidak terlihat, sudut pandangnya pun paling sedikit dibicarakan. Terlalu berjarak dengan siapa pun di keluarganya. Jika Aji menjadi saksi ketidakberdayaan ayahnya, Vikra menjadi saksi akan ketidaksetiaan ibunya. Ada satu kalimat yang aku suka di pembukaan sudut pandang Vikra, “laki-laki sudah bercerita, tetapi keberanian menengok ke masa lalu memang memporak-porandakan segalanya.”
Vikra menemukan satu teori, selama ini, ia bukan laki-laki pengecut. Ia hanyalah seorang anak yang jadi tidak percaya dengan kesetiaan. (p.94-95)
Lini, sang anak bungsu, anak perempuan satu-satunya yang tumbuh tanpa kasih sayang sang ayah sejak kecil. Lini dijadikan sebagai perekat hubungan ayah dan ibunya yang telah merenggang. Katanya kalau punya anak lagi, hubungan suami-istri akan harmonis kembali. Sayangnya, Lini bukanlah lem. Dia malah tumbuh menjadi perempuan yang melihat ibunya bukan hanya menanggung beban ekonomi sendiri, namun juga bertarung dengan stigma dan prasangka di dunia yang sungguh patriarki ini.
Lalu, sudut pandang ayah, ibu, dan istri baru ayahnya membuatku berkontemplasi bahwa orang yang paling lapang hatinya di buku ini adalah Bu Santi, istri baru Pak Rukma, ayah dari Aji, Vikra, dan Lini. Ya, bagaimana tidak jika istri sebelumnya ingin dimakamkan di samping suaminya yang sekarang? Belum lagi ketiga anak dari suaminya memiliki dinamika dan trauma yang belum selesai.
Karya fiksi pertama penulis.
Sebelumnya aku mengenal penulis sebagai penulis non-fiksi, menulis kisah dari pengalaman pribadinya, dan esai-esai tentang keperempuanan. Tema keluarga yang diambil sangat relate terutama tentang trauma dan luka yang diwariskan. Aku suka banget dengan surat yang Mbak Kalis tulis untuk buku ini.
Tidak ada yang berhak memaksamu memaafkan. Seperti tidak ada pula yang berhak memaksamu tidak merelakan. Kamu boleh tenang sebagaimana udara. Kamu boleh rebah seperti daun. Kamu bisa mengizinkan dirimu diterbangkan angin untuk memilih sangkar yang nyaman untuk menetap.
Beberapa catatan aku adalah buku ini terlalu banyak yang ingin diceritakan, namun jumlah halaman membatasinya. Penyelesaiannya pun dibilang open ending juga bukan. Rasanya serba tanggung saja. Lalu, banyak suara penulis yang aku dengar ketimbang suara dari tokohnya. Mungkin karena ada transisi menulis non-fiksi ke fiksi.
Rekomendasi.
Buku ini cocok bagi kalian yang butuh bacaan sekali duduk yang penuh dengan kontemplasi. Suka dengan tema keluarga dengan segala dinamikanya.
🌹 4 bintang untuk, “ayah kalian pergi karena ibu kalian kepenuhan ‘aku’”, di halaman 138.
Dua kata itu cukup pekat dan dalam di buku ini. Bagaimana peran Ibu yang penuh dengan rasa “aku” memengaruhi seluruh fragmen dalam keluarganya? Bagi anak sulung, bagi anak kedua, bagi anak bungsu, bagi [mantan] suami, bahkan istri baru sang mantan suami.
Enam sudut pandang.
Buku ini sangat tipis, namun begitu padat akan sudut pandang. Terdiri dari 6 sudut pandang yang bergantian memberikan pengalaman dan sakitnya dalam satu keluarga.
Aji, sang anak sulung, selalu dihantui oleh perasaan “tidak mau seperti ayahnya”, namun justru semakin tidak mau, malah semakin avoidant. Aji ini banyak memendam luka sebagai anak sulung. Selalu jadi garda depan. Selalu disuruh oleh ibunya untuk menemui keluarga ayahnya—yang sudah punya keluarga baru—entah itu untuk meminta uang atau menjadi saksi akan ketidakmampuan ayahnya dalam menjadi seorang ayah.
Kenapa aku harus datang ke rumah seorang ayah yang tidak bisa diandalkan sejak dulu? (p.28)
Vikra, sang anak tengah. Layaknya anak tengah—kadang tidak terlihat, sudut pandangnya pun paling sedikit dibicarakan. Terlalu berjarak dengan siapa pun di keluarganya. Jika Aji menjadi saksi ketidakberdayaan ayahnya, Vikra menjadi saksi akan ketidaksetiaan ibunya. Ada satu kalimat yang aku suka di pembukaan sudut pandang Vikra, “laki-laki sudah bercerita, tetapi keberanian menengok ke masa lalu memang memporak-porandakan segalanya.”
Vikra menemukan satu teori, selama ini, ia bukan laki-laki pengecut. Ia hanyalah seorang anak yang jadi tidak percaya dengan kesetiaan. (p.94-95)
Lini, sang anak bungsu, anak perempuan satu-satunya yang tumbuh tanpa kasih sayang sang ayah sejak kecil. Lini dijadikan sebagai perekat hubungan ayah dan ibunya yang telah merenggang. Katanya kalau punya anak lagi, hubungan suami-istri akan harmonis kembali. Sayangnya, Lini bukanlah lem. Dia malah tumbuh menjadi perempuan yang melihat ibunya bukan hanya menanggung beban ekonomi sendiri, namun juga bertarung dengan stigma dan prasangka di dunia yang sungguh patriarki ini.
Lalu, sudut pandang ayah, ibu, dan istri baru ayahnya membuatku berkontemplasi bahwa orang yang paling lapang hatinya di buku ini adalah Bu Santi, istri baru Pak Rukma, ayah dari Aji, Vikra, dan Lini. Ya, bagaimana tidak jika istri sebelumnya ingin dimakamkan di samping suaminya yang sekarang? Belum lagi ketiga anak dari suaminya memiliki dinamika dan trauma yang belum selesai.
Karya fiksi pertama penulis.
Sebelumnya aku mengenal penulis sebagai penulis non-fiksi, menulis kisah dari pengalaman pribadinya, dan esai-esai tentang keperempuanan. Tema keluarga yang diambil sangat relate terutama tentang trauma dan luka yang diwariskan. Aku suka banget dengan surat yang Mbak Kalis tulis untuk buku ini.
Tidak ada yang berhak memaksamu memaafkan. Seperti tidak ada pula yang berhak memaksamu tidak merelakan. Kamu boleh tenang sebagaimana udara. Kamu boleh rebah seperti daun. Kamu bisa mengizinkan dirimu diterbangkan angin untuk memilih sangkar yang nyaman untuk menetap.
Beberapa catatan aku adalah buku ini terlalu banyak yang ingin diceritakan, namun jumlah halaman membatasinya. Penyelesaiannya pun dibilang open ending juga bukan. Rasanya serba tanggung saja. Lalu, banyak suara penulis yang aku dengar ketimbang suara dari tokohnya. Mungkin karena ada transisi menulis non-fiksi ke fiksi.
Rekomendasi.
Buku ini cocok bagi kalian yang butuh bacaan sekali duduk yang penuh dengan kontemplasi. Suka dengan tema keluarga dengan segala dinamikanya.
🌹 4 bintang untuk, “ayah kalian pergi karena ibu kalian kepenuhan ‘aku’”, di halaman 138.
July 4, 2026
Karya fiksi pertama Kalis, dan saya suka!
Buku ini bercerita tentang Keluarga Bu Indah dan Pak Rukma dengan tiga anak Aji, Vikra, dan Lini. Bu Indah adalah PNS yang 'sukses' sementara Pak Aji menjadi korban PHK di zaman krisis ekonomi. Situasi keluarga mereka pun berdampak hingga ketiga anaknya tumbuh dewasa. Buku ini ditulis dari POV dan lini masa yang berbeda, sehingga kita mendapat gambaran tentang kompleksitas sebuah 'dysfunctional family'. Kita punya kecenderungan melihat pihak tertentu sebagai korban atau pelaku semata tanpa memperhitungkan faktor ekonomi ataupun norma yang mempengaruhi langkah seseorang, terutama perempuan.
Awalnya saya sedikit khawatir apakah dengan tema rumah tangga dan patriarki —yang adalah topik tulisan non-fiksi Kalis sehari-hari—novela ini akan jadi bersifat edukatif. 'Makamkan Ibu di Samping Ayah' menjawab kekhawatiran saya tersebut. Betul ada istilah-istilah seperti 'advokasi', 'upstander', bahkan data tentang statistik KDRT. Namun, masuknya cukup smooth dan masih bisa dinikmati. Dialog-dialognya mengalir 'enak', dan walau tergolong novela, karakter-karakternya dijelaskan dengan baik sehingga kita sebagai pembaca bisa membayangkan situasinya.
Keren deh, Kalis! Potensial banget ini dibuat versi panjangnya, siapa tau mau expand kisah cinta Aji & Amanda yang realistis tapi gemesnya tetap ada 💖
Buku ini bercerita tentang Keluarga Bu Indah dan Pak Rukma dengan tiga anak Aji, Vikra, dan Lini. Bu Indah adalah PNS yang 'sukses' sementara Pak Aji menjadi korban PHK di zaman krisis ekonomi. Situasi keluarga mereka pun berdampak hingga ketiga anaknya tumbuh dewasa. Buku ini ditulis dari POV dan lini masa yang berbeda, sehingga kita mendapat gambaran tentang kompleksitas sebuah 'dysfunctional family'. Kita punya kecenderungan melihat pihak tertentu sebagai korban atau pelaku semata tanpa memperhitungkan faktor ekonomi ataupun norma yang mempengaruhi langkah seseorang, terutama perempuan.
Awalnya saya sedikit khawatir apakah dengan tema rumah tangga dan patriarki —yang adalah topik tulisan non-fiksi Kalis sehari-hari—novela ini akan jadi bersifat edukatif. 'Makamkan Ibu di Samping Ayah' menjawab kekhawatiran saya tersebut. Betul ada istilah-istilah seperti 'advokasi', 'upstander', bahkan data tentang statistik KDRT. Namun, masuknya cukup smooth dan masih bisa dinikmati. Dialog-dialognya mengalir 'enak', dan walau tergolong novela, karakter-karakternya dijelaskan dengan baik sehingga kita sebagai pembaca bisa membayangkan situasinya.
Keren deh, Kalis! Potensial banget ini dibuat versi panjangnya, siapa tau mau expand kisah cinta Aji & Amanda yang realistis tapi gemesnya tetap ada 💖
June 19, 2026
Kabarnya ini karya fiksi pertama dari Kalis Mardiasih, jadi saya pikir sebaiknya saya mereview sejinak kucing yang mager di atas sofa. 😁
Pertama saya ingin bilang bahwa ide cerita novela ini sangat pasaran. Udah ada banyak novel-novel yang mengangkat issue masalah keluarga seperti ini, beberapa berhasil meledak, beberapa juga tenggelam karena kurang istimewa. Tema cerita ini juga menjamur dibuat versi filmnya, beberapa juga menarik perhatian, tapi nggak sedikit juga yang cuman numpang lewat.
Makamkan Ibu di samping ayah, sebuah novela sepanjang 141 halaman yang menurut saya terlalu pendek untuk merangkum sebuah kemelut rumah tangga. Semua karakter di novela ini kurang digambarkan dengan baik dan kuat, terutama tokoh sentral si Ibu Indah yang seharusnya lebih diexsplorasi, terutama terkait pikiran dan persaaanya. Tapi kalau pun harus demikian, jatah halamannya sudah pasti harus nambah dong.
Ketiga anak (Aji, Vikra, Lini) adalah anak-anak pasif yang terombang-ambing di tengah kemelut masalah yang nggak jelas arahnya ke mana. Mereka cuman dapat wasiat yang alasannya pun nggak diungkapin sampai akhir cerita. Jadinya susah untuk bisa simpati sama tokoh-tokohnya.
Timing 3 tahun ke belakang dikupas lewat sudut pandang tiap anak. Jujur kebingungan soal timeline di sini, apakah runut pelan-pelan menuju present time atau sepenggal-sepenggal aja. Si ibu juga nggak jelas posisinya di mana sebetulnya di present time.
Masalah utama justru terletak di konflik yang cuma main dipermukaan karena limit halaman yang sedikit, sementara ada peluang buat explorasi lebih dalam untuk terjun ke masing-masing karakter dan mengembangkan cerita.
Yang saya suka dari novela ini adalah sindiran-sindiran Kalis tentang issue feminis dan sosial.
Makamkan Ibu di Samping Ayah, adalah karya yang nanggung dan cukup mendapatkan rating 3,2⭐️/5⭐️ dari saya
Pertama saya ingin bilang bahwa ide cerita novela ini sangat pasaran. Udah ada banyak novel-novel yang mengangkat issue masalah keluarga seperti ini, beberapa berhasil meledak, beberapa juga tenggelam karena kurang istimewa. Tema cerita ini juga menjamur dibuat versi filmnya, beberapa juga menarik perhatian, tapi nggak sedikit juga yang cuman numpang lewat.
Makamkan Ibu di samping ayah, sebuah novela sepanjang 141 halaman yang menurut saya terlalu pendek untuk merangkum sebuah kemelut rumah tangga. Semua karakter di novela ini kurang digambarkan dengan baik dan kuat, terutama tokoh sentral si Ibu Indah yang seharusnya lebih diexsplorasi, terutama terkait pikiran dan persaaanya. Tapi kalau pun harus demikian, jatah halamannya sudah pasti harus nambah dong.
Ketiga anak (Aji, Vikra, Lini) adalah anak-anak pasif yang terombang-ambing di tengah kemelut masalah yang nggak jelas arahnya ke mana. Mereka cuman dapat wasiat yang alasannya pun nggak diungkapin sampai akhir cerita. Jadinya susah untuk bisa simpati sama tokoh-tokohnya.
Timing 3 tahun ke belakang dikupas lewat sudut pandang tiap anak. Jujur kebingungan soal timeline di sini, apakah runut pelan-pelan menuju present time atau sepenggal-sepenggal aja. Si ibu juga nggak jelas posisinya di mana sebetulnya di present time.
Masalah utama justru terletak di konflik yang cuma main dipermukaan karena limit halaman yang sedikit, sementara ada peluang buat explorasi lebih dalam untuk terjun ke masing-masing karakter dan mengembangkan cerita.
Yang saya suka dari novela ini adalah sindiran-sindiran Kalis tentang issue feminis dan sosial.
Makamkan Ibu di Samping Ayah, adalah karya yang nanggung dan cukup mendapatkan rating 3,2⭐️/5⭐️ dari saya
August 4, 2026
Buku cerita tentang keluarga yang banyak mengajak merenung & merefleksi. Atau mungkin bercermin, apa punya luka yang sama?
Bukunya tipis, bisa diselesaikan sekali duduk tapi padat dengan makna dari beberapa sudut pandang.
Aku merekomendasikan buku ini untuk banyak belajar. Jadi anak, jadi orang tua, jadi pasangan. ❤️🩹
Bukunya tipis, bisa diselesaikan sekali duduk tapi padat dengan makna dari beberapa sudut pandang.
Aku merekomendasikan buku ini untuk banyak belajar. Jadi anak, jadi orang tua, jadi pasangan. ❤️🩹
June 13, 2026
never expect anything from this book, karena shira media aja yang tiba-tiba ngirim bukunya (thanks btw) dan berakhir menjadi buku yang ngebuat aku nangis. if you guys have interest in a book yang menunjukkan bagaimana setiap orang di keluarga punya luka dan cara mereka menghadapi lukanya masing-masing, juga bagaimana resiko ketika orang tua punya luka yang belum selesai. a good book, sangat mengambarkan keluarga indonesia juga.
June 27, 2026
Sejak pertama kali novel ini muncul, saya sangat tertarik untuk membacanya. Makamkan Ibu di Samping Ayah merupakan novel debut karya Kalis Mardiasih, seorang penulis yang juga aktif menyuarakan isu feminisme dan politik. Novel ini menceritakan konflik dalam sebuah keluarga yang saya rasa sebenarnya relevan dengan kisah sebagian orang di dunia nyata. Akar masalahanya adalah trauma yang ditimbulkan oleh orang tua dan diwariskan kepada anak-anak.
Bagi saya, poin menarik dari novel ini adalah ketika penulis mengajak pembaca untuk melihat akar permasalahan dari berbagai sudut pandang tokoh. Pembaca diajak untuk tidak mudah menghakimi dan menentukan siapa yang salah di antara ayah yang meninggalkan keluarga, ibu yang otoriter, anak yang enggan menuruti perintah dan dingin kepada orang tua. Bahwa di balik semua ketidakidealan keputusan dan tindakan dari masing-masing tokoh adalah manifestasi dari luka-luka yang mereka rasakan tanpa tahu bagaimana cara menyembuhkannya.
Hangat, tapi getir. Begitu kiranya saya bisa mengutarakan kesan setelah membaca novel ini. Terkadang hubungan antartokoh digambarkan begitu hangat, seperti keluarga kecil Aji dan sang istri, yang saya membayangkannya sebagai keluarga kecil hangat nan bahagia meski tertekan oleh himpitan ekonomi dan persaingan bisnis di kota Yogyakarta. Atau interaksi Lini dan Bu Indah (sang ibu) menjelang akhir, juga interaksi Aji dan Vikra (anak kedua) dengan sosok Pak Rukma (sang ayah) sebelum ia menanggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Getir, karena setiap tokoh ternyata menyimpan lukanya masing-masing dan tidak mampu keluar dari jebakan luka itu.
Pada awalnya, saya sangat menikmati cerita dalam novel ini. Bahkan saking menikmatinya, saya bisa menamatkan dalam sekali duduk, menjadi peneman perjalanan Surabaya-Malang minggu lalu. Namun sayang, saya merasa bagian akhir dari novel ini cukup tanggung. Saya berharap bisa menemui Aji, Vikra, dan Lini dalam versi baru, yang telah benar-benar sembuh dari luka dan traumanya. Mungkin karena terbatasnya jumlah halaman yang hanya 142, atau memang dibikin demikian, saya tidak tahu.
Novel ini sangat layak untuk dibaca. Ringan tetapi sangat relevan. Kalau pun tidak 'relate' dengan isu keluarga berantakan yang diceritakan, barangkali pembaca bisa merasa relate dengan isu lain yang diangkat, seperti sulitnya mencari pekerjaan, sulitnya menghapus stigma negatif terhadap perempuan yang memilih hidup sendiri, sulitnya mewujudkan kesejahteraan bagi lansia, hingga isu soal bisnis cuci uang yang marak terjadi di negara yang korup.
Selamat membaca!
Bagi saya, poin menarik dari novel ini adalah ketika penulis mengajak pembaca untuk melihat akar permasalahan dari berbagai sudut pandang tokoh. Pembaca diajak untuk tidak mudah menghakimi dan menentukan siapa yang salah di antara ayah yang meninggalkan keluarga, ibu yang otoriter, anak yang enggan menuruti perintah dan dingin kepada orang tua. Bahwa di balik semua ketidakidealan keputusan dan tindakan dari masing-masing tokoh adalah manifestasi dari luka-luka yang mereka rasakan tanpa tahu bagaimana cara menyembuhkannya.
Hangat, tapi getir. Begitu kiranya saya bisa mengutarakan kesan setelah membaca novel ini. Terkadang hubungan antartokoh digambarkan begitu hangat, seperti keluarga kecil Aji dan sang istri, yang saya membayangkannya sebagai keluarga kecil hangat nan bahagia meski tertekan oleh himpitan ekonomi dan persaingan bisnis di kota Yogyakarta. Atau interaksi Lini dan Bu Indah (sang ibu) menjelang akhir, juga interaksi Aji dan Vikra (anak kedua) dengan sosok Pak Rukma (sang ayah) sebelum ia menanggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Getir, karena setiap tokoh ternyata menyimpan lukanya masing-masing dan tidak mampu keluar dari jebakan luka itu.
Pada awalnya, saya sangat menikmati cerita dalam novel ini. Bahkan saking menikmatinya, saya bisa menamatkan dalam sekali duduk, menjadi peneman perjalanan Surabaya-Malang minggu lalu. Namun sayang, saya merasa bagian akhir dari novel ini cukup tanggung. Saya berharap bisa menemui Aji, Vikra, dan Lini dalam versi baru, yang telah benar-benar sembuh dari luka dan traumanya. Mungkin karena terbatasnya jumlah halaman yang hanya 142, atau memang dibikin demikian, saya tidak tahu.
Novel ini sangat layak untuk dibaca. Ringan tetapi sangat relevan. Kalau pun tidak 'relate' dengan isu keluarga berantakan yang diceritakan, barangkali pembaca bisa merasa relate dengan isu lain yang diangkat, seperti sulitnya mencari pekerjaan, sulitnya menghapus stigma negatif terhadap perempuan yang memilih hidup sendiri, sulitnya mewujudkan kesejahteraan bagi lansia, hingga isu soal bisnis cuci uang yang marak terjadi di negara yang korup.
Selamat membaca!
June 11, 2026
Selesai baca buku Makamkan Ibu di Samping Ayah karya Kalis Mardiasih. Menceritakan tentang tiga kakak-beradik yang harus menengok luka lama saat sang ibu berwasiat ingin dimakamkan di samping ayah mereka, sosok yang meninggalkan mereka tanpa pamit.
Tema utama buku ini keluarga dan bakal relate ke anak-anak korban perceraian, jadi siap-siap terguncang. Kita diajak berkenalan dengan Aji anak sulung yang selalu berbakti dan jadi tameng terdepan, Vikra anak kedua yang avoidant dan memendam rahasia besar serta Lini anak bungsu yang jadi people pleaser.
Selain dari sudut pandang ketiga bersaudara itu, kita juga melihat sudut pandang sang ibu dan ayah yang menciptakan trauma.
Suka dengan mba Kalis yang menyelipkan isu perempuan seperti perempuan di dunia kerja, nasib perempuan lansia, juga bagaimana masyarakat yang judgmental dengan seorang janda, kemudian bahas juga isu sosial seperti PHK, bisnis “cuci cuci”, sampai kesehatan mental.
Novel ini tentang luka masa kecil dan hubungan orang tua–anak. Pas itu Mba Kalis pernah mampir ke TikTok LIVE ku bilang “Buku ini teman untuk anak dari semua keluarga-keluarga prahara yang gagal cemara di Indonesia”. Bener banget, gak semua keluarga tuh cemara, bisa aja cendana eh.
Bukunya cuma 142 halaman dan bahasanya juga mudah dimengerti. Alurnya maju mundur, cuma beberapa latarnya kurang detail aja jadi bacanya harus lebih teliti tapi masih aman ko dibaca.
Banyak kutipan yang memilukan, salah satunya ini:
“Tubuh perempuan yang selalu punya pendapatnya sendiri ini ternyata sedang menahan sakit berlipat-lipat. Segala nyeri ia tata rapi di balik punggung yang dipaksa tegak.”
Oh iya dari judul dan tema bukunya, kayaknya berpotensi diangkat ke layar lebar hehe.
Tema utama buku ini keluarga dan bakal relate ke anak-anak korban perceraian, jadi siap-siap terguncang. Kita diajak berkenalan dengan Aji anak sulung yang selalu berbakti dan jadi tameng terdepan, Vikra anak kedua yang avoidant dan memendam rahasia besar serta Lini anak bungsu yang jadi people pleaser.
Selain dari sudut pandang ketiga bersaudara itu, kita juga melihat sudut pandang sang ibu dan ayah yang menciptakan trauma.
Suka dengan mba Kalis yang menyelipkan isu perempuan seperti perempuan di dunia kerja, nasib perempuan lansia, juga bagaimana masyarakat yang judgmental dengan seorang janda, kemudian bahas juga isu sosial seperti PHK, bisnis “cuci cuci”, sampai kesehatan mental.
Novel ini tentang luka masa kecil dan hubungan orang tua–anak. Pas itu Mba Kalis pernah mampir ke TikTok LIVE ku bilang “Buku ini teman untuk anak dari semua keluarga-keluarga prahara yang gagal cemara di Indonesia”. Bener banget, gak semua keluarga tuh cemara, bisa aja cendana eh.
Bukunya cuma 142 halaman dan bahasanya juga mudah dimengerti. Alurnya maju mundur, cuma beberapa latarnya kurang detail aja jadi bacanya harus lebih teliti tapi masih aman ko dibaca.
Banyak kutipan yang memilukan, salah satunya ini:
“Tubuh perempuan yang selalu punya pendapatnya sendiri ini ternyata sedang menahan sakit berlipat-lipat. Segala nyeri ia tata rapi di balik punggung yang dipaksa tegak.”
Oh iya dari judul dan tema bukunya, kayaknya berpotensi diangkat ke layar lebar hehe.
August 25, 2026
Cukup kaget saat mengetahui bahwa ini adalah novel debut penulis, karena naskah tertulis dengan alur yang sangat apik nan indah—apalagi mengetahui penulis tidak berasal dari dunia medis namun mampu menguraikan hal-hal yang bersinggungan dengan kesehatan secara luwes.
Topik yang terdapat dalam buku ini sebenarnya rumit dan berpotensi digali lebih dalam, namun pembaca hanya disajikan permukaannya saja. Bisa jadi buku ini memang memiliki tujuan yang lain, tidak hanya sebatas cerita biasa.
Meski begitu, seperti yang sudah aku sampaikan, aku sangat menikmati membaca buku ini karena diksi dan gaya penulisannya.
Buku ini mengingatkan bahwa tidak peduli apa dan siapa yang kita hadapi, masing-masing dari kita memiliki sudut pandang, cerita, trauma, serta rahasia yang berbeda-beda. Aku ingat pernah membaca di suatu tempat bahwa bahkan setiap saudara memiliki versi orangtua yang tidak sama. Kita kerap lupa bahwa orangtua pun manusia biasa: ibumu dulunya seorang anak perempuan yang mungkin telah mengubur cita-citanya demi keluarga, ayahmu dulunya seorang anak laki-laki yang dibebankan seluruh dunia di pundaknya.
Ada banyak sekali hal yang membentuk segala sisi seorang manusia, dan kita akan menghabiskan seumur hidup untuk mencari jawaban seutuhnya yang bahkan kemungkinan besar tidak akan pernah kita dapatkan. Kita hanya perlu untuk menerima. Mengesampingkan ego dan menerima fakta bahwa tidak semua bisa kita ketahui, karena mungkin itulah cara terbaik untuk menjalani hidup ini.
Topik yang terdapat dalam buku ini sebenarnya rumit dan berpotensi digali lebih dalam, namun pembaca hanya disajikan permukaannya saja. Bisa jadi buku ini memang memiliki tujuan yang lain, tidak hanya sebatas cerita biasa.
Meski begitu, seperti yang sudah aku sampaikan, aku sangat menikmati membaca buku ini karena diksi dan gaya penulisannya.
Buku ini mengingatkan bahwa tidak peduli apa dan siapa yang kita hadapi, masing-masing dari kita memiliki sudut pandang, cerita, trauma, serta rahasia yang berbeda-beda. Aku ingat pernah membaca di suatu tempat bahwa bahkan setiap saudara memiliki versi orangtua yang tidak sama. Kita kerap lupa bahwa orangtua pun manusia biasa: ibumu dulunya seorang anak perempuan yang mungkin telah mengubur cita-citanya demi keluarga, ayahmu dulunya seorang anak laki-laki yang dibebankan seluruh dunia di pundaknya.
Ada banyak sekali hal yang membentuk segala sisi seorang manusia, dan kita akan menghabiskan seumur hidup untuk mencari jawaban seutuhnya yang bahkan kemungkinan besar tidak akan pernah kita dapatkan. Kita hanya perlu untuk menerima. Mengesampingkan ego dan menerima fakta bahwa tidak semua bisa kita ketahui, karena mungkin itulah cara terbaik untuk menjalani hidup ini.
September 8, 2026
Pas baca ini, bener-bener ada rasa "jep" di beberapa bagian. Kisah tentang seorang ibu yang ingin mengontrol suami dan anak-anaknya, merasa dirinya paling tahu dan paling benar, sementara di sisi lain nggak ada keterbukaan yang cukup antara suami, istri, dan anak.
Yang paling terasa adalah bagaimana ekspektasi dan luka yang nggak pernah dibicarakan akhirnya justru diwariskan dan membuat anak menjadi korban.
Very deep, very emotional. Banyak hal yang terasa relate dengan pola parenting zaman dulu, ketika orang tua merasa bahwa apa yang mereka lakukan pasti yang terbaik untuk anak, tanpa benar-benar mendengarkan apa yang dirasakan anak. Menceritakan bukan bukan hanya tentang hubungan ibu dan anak, tapi juga tentang luka dalam keluarga, komunikasi yang nggak pernah selesai, dan bagaimana pola asuh bisa membentuk seseorang sampai dewasa.
Selesai baca rasanya bukan cuma sedih, tapi juga kepikiran lama.
Yang paling terasa adalah bagaimana ekspektasi dan luka yang nggak pernah dibicarakan akhirnya justru diwariskan dan membuat anak menjadi korban.
Very deep, very emotional. Banyak hal yang terasa relate dengan pola parenting zaman dulu, ketika orang tua merasa bahwa apa yang mereka lakukan pasti yang terbaik untuk anak, tanpa benar-benar mendengarkan apa yang dirasakan anak. Menceritakan bukan bukan hanya tentang hubungan ibu dan anak, tapi juga tentang luka dalam keluarga, komunikasi yang nggak pernah selesai, dan bagaimana pola asuh bisa membentuk seseorang sampai dewasa.
Selesai baca rasanya bukan cuma sedih, tapi juga kepikiran lama.
July 10, 2026
Dengan sangat jujur, aku bingung harus nulis review apa. Bukunya terlalu personal. Makin personal, makin gemeter buat nulisnya.
Makam kedua orang tuaku juga bersebelahan dan latar belakang kisah Aji, Vikra dan Lini adalah kisah-kisahku juga walau ngga sama persis. Takjub gimana penulis membuat dari semua POV untuk tiap bab dalam tiap konfliknya dan justru ini membuka mataku bahwa bisa jadi kita memang selalu protagonis di kisah kita sendiri dan orang lain selalu jadi antagonis.
Luka dari keluarga disfungsional memang membekas dengan caranya masing-masing. Part Vikra kebingungan dengan "laki-laki harus apa" bikin aku sesenggukan. Juga part Lini bekerja dengan para lansia yang punya story di dalamnya HUHUHU
Mbak Kalis, ini harusnya 400an lembar nggak, sih? masih banyak cerita mereka yang mau aku baca.
Makam kedua orang tuaku juga bersebelahan dan latar belakang kisah Aji, Vikra dan Lini adalah kisah-kisahku juga walau ngga sama persis. Takjub gimana penulis membuat dari semua POV untuk tiap bab dalam tiap konfliknya dan justru ini membuka mataku bahwa bisa jadi kita memang selalu protagonis di kisah kita sendiri dan orang lain selalu jadi antagonis.
Luka dari keluarga disfungsional memang membekas dengan caranya masing-masing. Part Vikra kebingungan dengan "laki-laki harus apa" bikin aku sesenggukan. Juga part Lini bekerja dengan para lansia yang punya story di dalamnya HUHUHU
Mbak Kalis, ini harusnya 400an lembar nggak, sih? masih banyak cerita mereka yang mau aku baca.
July 11, 2026
Aku merasa sedih, capek, dan sesak mengikuti perjalanan keluarga Pak Rukma dan Bu Indah ini. Background keluarga sengaruh itu membentuk karakter dan meninggalkan trauma pada anak. Aku sering kali geram dengan karakter Bu Indah, tapi makin dibaca, aku makin kasihan dengan hidupnya. Semua tokoh dicerita ini memiliki rangkaian trauma masa lalu yang banyak dipendam.
Untuk novel pertama, aku suka bagaimana Mbak Kalis menulis alurnya. Tetapi menurutku, masih ada banyak cerita yang bisa dikembangkan lagi, khususnya pov Pak Rukma.
Untuk novel pertama, aku suka bagaimana Mbak Kalis menulis alurnya. Tetapi menurutku, masih ada banyak cerita yang bisa dikembangkan lagi, khususnya pov Pak Rukma.
August 13, 2026
jujur saja sepertinya ekspektasiku terhadap buku ini cukup tinggi karena judulnya. sempat mengira bahwa ceritanya akan mengharu biru dan membuat nangis habis-habisan. tapi karena ada begitu banyak point of view dari satu keluarga, jadi membuat pengalaman membaca jadi terasa terpotong-potong. seru karena jadi tahu sisi dari semua orang tapi terasa sedikit membingungkan karena harus memahami pov emosi semua orang
June 25, 2026
I got it for free when Kalis made a silent reading event
I feel that it's an interesting read especially since we can view the story from other people's perspectives. But unfortunately I feel that it's not deep enough to help us understand each character. In fact I feel somehow the women characters are seen as someone who deserves to be unhappy
I feel that it's an interesting read especially since we can view the story from other people's perspectives. But unfortunately I feel that it's not deep enough to help us understand each character. In fact I feel somehow the women characters are seen as someone who deserves to be unhappy
July 5, 2026
beli buku ini waktu diundang Festivalnya sama Mba Kalis tgl 21 Juni 2026 di We Love Youth. lalu, besoknya kubaca sekali duduk karena ringan betul.
honest reviewku: terlalu try hard membentuk latar belakang keluarga yang kaya mau kelihatan woke dan aktivis banget heuh
honest reviewku: terlalu try hard membentuk latar belakang keluarga yang kaya mau kelihatan woke dan aktivis banget heuh
August 22, 2026
sukaa sekali dengan tema novel ini.. rasanya somehow relate dengan love-hate relationship antara bu Indah dan keluarganya. shotout to mba Kalis karena bisa ngambil dari banyak sudut pandang di keluarga! rasanya cerita tiap tokoh di novel ini masih bisa dikulik lagi
July 23, 2026
Lika-liku sebuah keluarga, dibahas dari setiap perspektif. Aku melahapnya dalam sekali duduk, karena memang ceritanya pendek. memberikan saran untukku yang jarang pulang untuk segera pulang.
Displaying 1 - 16 of 16 reviews















