Sebuah catatan usang misterius ditemukan di perpustakaan sekolah. Di atas tulisan tangan yang dibuat tergesa-gesa itu, terbaca; RAHASIA LANTAI KEEMPAT. Nikki, Fara, Randy, dan Neil—empat sahabat penyuka misteri—jelas jadi penasaran. Bagaimana bisa, sekolah yang jelas-jelas terdiri dari tiga lantai ini memiliki lantai keempat?
Bersama, mereka melakukan ritual rahasia dan berhasil menemukan jawabannya. Sebuah dimensi lain, di mana sesuatu yang jahat menunggu. Menghancurkan semangat, mental, dan menjebak mereka untuk selamanya berada di sana….
Mampukah keempat sahabat itu melawan teror mengerikan yang menghalangi kembali ke dunia nyata? Atau menyerah dan ikut hilang bersama… LANTAI KEEMPAT.
---ENDORSEMENT---
"Yang membuat RAHASIA LANTAI KEEMMPAT begitu mencekam adalah bagaimana Rettania berhasil menahan rahasia yang menakutkan dari pembaca dan melepaskannya perlahan-lahan, saya seperti dicekik kencang lalu diberikan sedikit ruang untuk bernapas. pembaca tidak akan tahu apa sebenarnya misteri di lantai empat sebelum tuntas membacanya, RAHASIA LANTAI KEEMPAT hanya untuk pembaca horor sejati." Ade Igama, penulis Death On Camera dan pengagas akun @kisahhorror
“Begitu membaca buku Rettania, saya sudah terpesona sejak halaman awal. Bahasanya renyah. Bukan hanya itu, sebagai buku horror untuk remaja, RAHASIA LANTAI KEEMPAT menyajikan terror sejak halaman awal, hingga halaman akhir. Kengerian tersaji di setiap halamannya. Mencekam, itu hal pertama yang terbayang tiap tokoh-tokoh di dalam cerita ini mencoba untuk terus survive. Merasa ikut takut, ikut lelah, juga merasa ikut putus asa tiap kali terror di buku ini mulai menghantui. Recommended untuk dibaca siapapun, terutama bagi penggemar horror. Karena selain menggambarkan kengerian, kalian bisa menemukan apa itu arti kebersamaan.” Cerberus Plouton, penulis Devil’s Game dan Tujuh Hari di Villa Mencekam
"Sejak membaca halaman awal novel ini hanya satu pertanyaan yang terbersit dalam pikiran saya: apakah mereka akan kembali? Dan saya harus menuntaskan sampai halaman terakhir agar pertanyaan saya terjawab. Hasilnya, saya tidak kecewa." Ruwi Meita, penulis Misteri Patung Garam, Kamera Pengisap Jiwa, dan The Cruise Chronicle
"Rahasia Lantai Keempat membawa saya kembali ke masa SMA, di mana kisah-kisah seram di sekolah selalu membuat penasaran. Dilengkapi dengan karakter-karakter yang menarik, novel ini membuat saya jatuh hati. Adegan-adegan menakutkan yang ditulis bergantian dengan adegan-adegan manis antara empat sahabat membuat novel ini memiliki rasa yang berbeda. Masukilah dunia Rahasia Lantai Keempat, dan bersiaplah untuk merinding ketakutan sekaligus gemas pada reaksi tokoh-tokohnya yang lovable." Nel Falisha, penulis Rust in Pieces
Penyuka horor dan romance. Gaya tulisannya lugas dan sederhana, dengan dialog yang mengalir dan kasual, sesuai dengan setting dan tokoh-tokoh dalam cerita.
Selain menulis novel yang merupakan passion-nya, Rettania sehari-harinya bekerja sebagai praktisi Public Relations di salah satu Konsultan Public Relations di Jakarta.
Masih berkeinginan menulis dengan genre realistic fiction dan cerita bertema keluarga.
Bersama Yoana Dianika, Aiu Ahra dan Nel Falisha, Rettania tergabung dalam R.A.Y.N., sebuah kelompok penulis yang disatukan oleh minat akan budaya Jepang dan berkomitmen untuk konsisten berkarya bersama.
Akan sangat senang diajak ngobrol tentang “anak-anaknya” ini melalui: Email: retty.tania@gmail.com Facebook: rettania.74 Twitter: @rettania74 Instagram: @Rettania
Tidak lama setelah “Apartemen Berhantu” terbit, @RyAzzura kembali menghubungiku dan memintaku menulis untuk genre horor remaja. Saat itu, aku kaget bercampur senang, karena artinya, tulisan horor pertamaku bisa diterima dengan baik.
Aku langsung memutar otak dan mencari ide. Saat itu, aku belum tahu ingin menulis apa, sementara aku memiliki deadline. Aku nggak mungkin hanya menunggu inspirasi datang, aku harus aktif mencarinya.
Inspirasi awalku adalah konsep dark hour dan Tartarus dari game Persona 3 yang dulu pernah kumainkan. Aku ingin menghadirkan suasana sekolah yang berubah mencekam di malam hari, di dunia yang senyap, familiar-tapi-asing, dan seolah hanya ada keempat tokohku di dalamnya.
Aku kemudian brainstorm dengan seorang teman. Cerita seperti apa yang bisa kutulis? Yang berbau misteri dan petualangan. Apa yang bisa menjadi pembeda dengan horor sekolahan yang sudah ada? Aku juga mencari inspirasi dengan membaca beberapa komik horor sekolahan, postingan di forum, hingga blog-blog yang memuat kisah seram.
Setelah mendapat ide dasar, aku mulai menulis sinopsis juga outline, yaitu poin-poin per bab dari prolog hingga epilog, untuk dikirim ke editorku. Sebenarnya, ketika menyerahkan sinopsis dan outline, aku masih belum puas dengan ide secara umum yang kutulis. Rasanya masih ada yang kurang, masih ada yang mengganjal. Aku belum mengenal keempat tokoh utamaku dengan baik–belum sepenuhnya memahami karakter dan pribadi mereka. Tapi, aku nggak punya waktu untuk menggalaukan ideku, jadi aku mulai menulis.
1. Saya selalu salut dengan orang dewasa yang bisa menulis cerita remaja bercitarasa remaja. Dalam buku ini, Kak Retty masih dengan lincahnya bercerita ala remaja, dengan penceritaan yang mengalir dan sangat mudah diikuti. Karakter dan hubungan antartokohnya juga remaja banget, sangat relate-able bagi remaja. Salut!
2. Nuansa horornya kerasa sekali sejak halaman awal hingga akhir. Ketegangannya, rasa mencekamnya, kengerian hantunya, dapet banget. Kak Retty hebat bisa mempertahankan nuansa itu.
3. Deskripsinya sangat detail dan filmis sehingga mudah dibayangkan, baik deskripsi tempatnya (interior sekolah) maupun makhluk-makhluk gaibnya. Saya membaca ini dengan rasa seakan sedang nonton film (or anime, lebih tepatnya). Kayaknya bagus juga nih kalau jadi film. :3
4. Konflik interpersonal antartokoh dalam novel ini menghidupkan ceritanya. Kalau di novel Kak Retty sebelumnya--Apartemen Berhantu--konfliknya lebih ke konflik keluarga, konflik di sini lebih ke konflik persahabatan remaja. Senang aja membaca bagian itunya--jadi nggak berasa baca novel horor yang cuma seram doang tanpa plot. Perkembangan karakter Nikki juga oke banget.
5. Selera pribadi sih: buat saya, adegan lari dari hantunya (baca: kejar-kejaran) agak kelamaan dan sedikit repetitif. Jadi ikut-ikutan capek deh kayak Nikki dkk. :D
6. Terus yang mengganjal banget: adegan waktu Nikki dkk pertama kali bertemu Maria di ruang kelas. Kan Maria-nya meluncur (melayang) ke arah mereka berempat tuh. Kok nggak ada yang menjerit ya? :D Wajar kalau Neil dan Randy melindungi Fara dan Nikki, tapi rasanya tidak dituliskan kalau Fara atau Nikki menjerit. Padahal refleks wajar cewek kan menjerit, ya. :D
7. Setelah mereka berhasil lolos dari lantai empat (bab 13), Nikki menganggap kejadian tersebut cuma mimpi. Buat saya itu juga agak aneh sih. Secara logika harusnya dia--mereka--mengalami trauma, mimpi buruk, dan nggak mau dekat-dekat ke perpustakaan lagi. Tapi malah pada nongkrong ke perpus. :D (Anyway, saya sebagai pustakawan cuma bisa mesem-mesem dengan penokohan "penjaga perpus yang galak" dan "perpustakaan sebagai tempat angker". Hahaha.)
8. Yang masih menyisakan tanya: 1) Kok tahu-tahu mereka bisa keluar dari dunia lain lantai keempat itu hanya dengan "meloncat" doang? Apa karena pembalikan ritualnya sudah selesai? 2) Pertanyaan semua orang: Siapa si "dia"? Cewek yang pakai gelang gemerincing? Hehehe.
9. Terakhir... kovernya sangat mendukung nuansa kengerian bukunya. Apalagi pewajahan tiap awal babnya... item-item gitu, mendukung banget!
10. Horror is not my cup of tea and it will never be, but I will always read it as long as it's written by Kak Retty. Good job, Kak! ;)
Cinta segiempat melatarbelakangi kisah kehidupan sekolah anak SMA saat ini. Neil dengan pembawaan yang easy going, bijaksana dan ramah mampu memikat hati para wanita dalam sekejap termasuk sahabatnya, Fara dan Nikki. Neil memilih Fara sebagai kekasihnya sehingga membuat Nikki merasa iri dengan apapun yang dilakukan Fara. Fara, seorang kutu buku, pendiam, dan pengalah. Nikki, anggota klub mading, cewek egois, dan memendam perasaan pada Neil. Randy, seorang cowok cuek dan memendam perasaan pada Nikki.
Selanjutnya, saya membahas kekurangan dari novel ini adalah terlalu tipis menurutku. Perlu penjelasan lebih lanjut bagaiman hantu Maria si legendaris itu, misalnya : masa lalunya. Tentang bagaimana kelanjutan hubungan Randy dan Nikki. Berharap dibuat sekuel selanjutnya. Hehehehe
Kelebihan dari buku ini, Kak Rettania telah berhasil memberikan porsi yang seimbang bagi masing-masing tokoh mengingat porsi cerita yang disajikan pun tidak terlalu banyak dan bertele-tele. Awal membaca novel ini, Kak Rettania sudah menghadirkan konflik yang menantang. Konflik di awal membuat pembaca tertantang untuk mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Kak Rettania pandai membawa pembaca untuk tidak melepaskan rasa penasaran dan ketegangan-ketegangan dalam petualangan Nikki, Fara, Randy dan Neil. Novel horror dengan sentuhan misteri memang lebih menegangkan. Ini pertama kali baca novel Kak Rettania dan udah langsung tertarik berkat alurnya yang mengalir.
Buku ini menggambarkan pesan moral sederhana. "Kita tidak dapat hidup seorang diri di dunia ini, kita butuh berpuluh-puluh, beratus-ratus bahkan beribu-ribu orang di dunia. Tuhan menciptakan manusia untuk saling memahami dan menjaga satu sama lain. Persahabatan seperti hujan dan pelangi. Saling mengisi satu sama lain."
Setiap tempat pasti punya cerita misteri tersendiri, biasanya yang paling sering dibicarakan adalah rumah peninggalan Belanda atau Rumah Sakit. Sering banget saya mendengar cerita kalau tidak ada bangunan rumah sakit berlantai empat, kalaupun begitu namanya akan diganti menjadi lantai lima. Pamali, nggak baik, nanti jadi bangsal angker, dan sebagainya. Jelas saya sangat bertanya-tanya tentang mitos ini karena Rumah Sakit adalah tempat saya bekerja sehari-hari, maka dari itu saya sangat tertarik membaca buku ini. Walau bukan bersetting di rumah sakit setidaknya mempunyai premis yang sama.
Tokoh utama buku ini adalah Nikki, Fara, Neil dan Randy. Fara adalah seorang kutu buku sedangkan Nikki tergabung dalam klub mading, membuat mereka sering pergi ke perpustakaan. Mereka berempat bersahabat sejak SMP, Fara adalah kekasih Neil, sedangkan Randy menyimpan perasaan kepada Nikki. Nikki sendiri sebenarnya suka pada Neil, yah memang ada cinta segi empat yang membelit persahabatan mereka namun tidak membuat hubungan menjadi rengang.
Cerita dimulai ketika Fara menemukan sebuah buku di perpustakaan. Pada satu lembar sebelum halaman terakhir buku tersebut, terdapat tulisan tangan yang terlihat kuno, ditulis dengan huruf sambung kecil-kecil seperti catatan pribadi yang tidak untuk dibaca orang lain. Isi tulisan tersebut adalah petunjuk untuk sampai ke lantai keempat. Sekolah mereka adalah bangunan berusia puluhan tahun dengan arsitektur ala kolonial, walau sudah beberapa kali direnovasi tetap saja kesan tuanya masih terasa. Bangunanya berbentuk U dan berlantai tiga. Konon ada lantai keempat yang bisa ditempuh dengan cara tertentu. Ada yang bilang kalau sampai di sana akan bertemu penunggu tertua yang dapat mengabulkan permintaan apa pun dan ada yang bilang juga sekalinya menginjak di lantai keempat, maka tidak akan bisa kembali lagi.
Nikki cukup tertarik dengan penemuan ini, dia ingin menulis artikel tentang Urban Legend di sekolahnya. Dia berpendapat kalau hantu Maria, salah satu hantu paling populer di sekolah lah yang menuliskan cara sampai ke lantai keempat karena dia sering terlihat di perpustakaan. Mitos yang beredar mengatakan kalau dia adalah anak rajin yang menjadi korban bully, kemudian bunuh diri, ada yang bilang juga dia hilang begitu saja. Nikki ingin menyelidiki apakah lantai keempat berhubungan dengan hantu Maria, dia yakin artikelnya akan sangat menarik. Fara pun menyarankan agar mereka mencoba mengikuti petunjuk yang tertera di buku yang ia temukan, sebagai riset agar sahabatnya bisa menggambarkan perjalanan Maria ke lantai empat dengan baik, walau awalnya agak ragu juga dengan mitos yang ada, setidaknya Nikki bisa menuliskannya secara fiksi.
Petualangan mereka pun di mulai. Apakah benar petunjuk yang Fara temukan mengarah ke lantai keempat? Ada apakah di sana? Apa benar ada hantu Maria? Apakah bisa mengajukan permintaan apa pun? Kalian bisa temukan sendiri jawabannya dengan membaca buku Rahasia Lantai Keempat :D
Ini adalah kali pertama saya membaca tulisan Rettania, bisa dibilang petualangan Nikki, Fara, Niel dan Randy seru sekaligus menegangkan! Kalian tidak akan membutuhkan waktu lama untuk menamatkannya karena lumayan tipis, dan sebagai pamungkas untuk membaca buku ini, sedikit tips yaitu bacalah pada malam hari, sendirian atau kalau kalian masih sekolah boleh kok baca di kelas pas suasana lagi sepi :p.
Saya akan membahas kekurangannya dulu. Kekurangan terbesar buku ini adalah terlalu tipis XD. Sebenarnya masih banyak sekali yang bisa digali penulis, mulai dari karakternya, berharap bisa digambarkan secara detail lagi, memperkuat hubungan mereka, seperti pertama bertemu atau ketika salah satu dari mereka berani jujur akan perasaan masing-masing, Neil dan Randy sangat sedikit sekali dibicarakan. Tidak ketinggalan juga tentang urban legend yang ada di sekolah mereka. Saya merasa penulis terlalu konsen pada perjalanan menuju lantai keempat dan apa yang mereka temukan di sana, berharapnya penulis juga menuliskan latar belakang kejadian, seperti masa lalu Maria (menurut saya dia adalah tokoh pendukung yang sangat penting), memperbanyak cerita tentang penunggu tertua, asal mula semuanya yang berhubungan dengan lantai keempat, kenapa menjadi lantai yang angker.
Sedangkan kelebihan buku ini, penulis cukup pandai menakuti pembaca. Hal ini sangat penting kalau kita membaca buku horor, tanpa adanya kesan takut berarti penulis gagal menulis buku horor. Saya cukup menikmati cara penulis bercerita yang to the point tapi tetap meninggalkan kesan misterius, membuat penasaran sehingga tidak bisa berhenti membaca sampai saya menemukan jawabannya, terlebih ketika sampai di lantai empat, saya ingin segera mengakhiri cerita karena kesan takut yang berhasil saya dapatkan, penulis punya modal yang sangat baik dalam urusan menakuti pembaca. Bagian di lantai empat adalah favorit saya, terutama ketika mereka berempat ingin pulang tetapi suasana di sekolah sangat sepi dan langit berubah menjadi merah seperti darah. Yah, memang seru sih tapi cepat-cepat juga bacanya XD.
Karakternya pun juga loveable semua, kita bisa langsung membedakan dan mengenal sifat mereka walau hanya dijelaskan secara singkat. Fara yang pendiam dan pengalah, Nikki yang egois, Neil yang bijaksana dan Randy yang cuek. Selain kisah horor kita juga akan mendapatkan kisah persahabatan. Dari segi tema cerita sampai penyelesaian konflik bisa dikatakan mulus, bahkan konflik perasaan diantara mereka juga diselesaikan dengan cukup baik di saat suasana lagi tegang-tegangnya.
Saya berharap buku ini akan menjadi serial, karena banyak hal yang bisa dikembangkan tadi, endingnya pun juga mendukung, terlebih saya ingin keempat karakter utama menjadi ghost hunter. Menyingkap misteri yang ada di sekolah mereka, membebaskan para arwah yang belum bisa kembali ke alam yang seharusnya, berhadapan kembali dengan yang mengejar mereka di lantai keempat atau malah menjadi musuh utama, saya membayangkannya pasti seru sekali, saya tidak ingin petualangan mereka berempat hanya sampai di buku ini, ingin lebih banyak lagi :D
Buku ini memiliki pesan moral persahabatan yang cukup kental, cocok dibaca bagi siapa saja yang ingin merasa takut dan penasaran dengan isi lantai keempat :p
Sebuah catatan usang misterius ditemukan di perpustakaan sekolah. Di atas tulisan tangan yang dibuat tergesa-gesa itu, terbaca; RAHASIA LANTAI KEEMPAT. Nikki, Fara, Randy, dan Neil—empat sahabat penyuka misteri—jelas jadi penasaran. Bagaimana bisa, sekolah yang jelas-jelas terdiri dari tiga lantai ini memiliki lantai keempat?
Bersama, mereka melakukan ritual rahasia dan berhasil menemukan jawabannya. Sebuah dimensi lain, di mana sesuatu yang jahat menunggu. Menghancurkan semangat, mental, dan menjebak mereka untuk selamanya berada di sana….
Mampukah keempat sahabat itu melawan teror mengerikan yang menghalangi kembali ke dunia nyata? Atau menyerah dan ikut hilang bersama… LANTAI KEEMPAT.
Review
Buku yang cocok sebagai camilan. Tunggu sebentar, bukunya jangan dimakan dulu. Maksudnya, sebagai sebuah bacaan, "Rahasia Lantai Keempat" ini adalah sebuah cerita yang singkat, ringan, dan mudah dibaca, walau tidak mengenyangkan.
Dari segi penulisan, saya lebih suka novel(et?) ini daripada "Apartemen Berhantu" (review di sini). Ceritanya juga lebih menegangkan dan sukses membuat penasaran hingga akhir.
Sayang ceritanya pendek banget. Nget. Padahal masih ada banyak hal yang bisa ditelusuri. Apakah ada hubungan antara lantai keempat dengan sekolah? Siapa makhluk yang menghuni dunia di lantai keempat itu? Hubungan antar karakternya juga bisa lebih dipertajam lagi. Terkesan kentang (kena tanggung) soalnya.
Secara keseluruhan, sebagai bacaan ringan, "Rahasia Lantai Keempat" ini bolehlah dicoba. Ceritanya cukup menarik dan punya peluang untuk digali lebih jauh lagi. Mungkin bisa dibuat sekuelnya yang berusaha menggali setting-nya lebih dalam? Bisa dengan memunculkan karakter yang sama, atau tokoh yang berbeda.
Neil, Fara, Randy, Nikki.. penulisnya bener2 kuat dalam menggambarkan karakter mereka, jadi selama baca gue jadi kenal betul sama watak mereka.
Ngebayangin bener2 kejebak setelah nemu lantai empat, lalu waktu berhenti dan dikejar sama 'dia', bener2 serem juga pas bacanya.
Nggak ada yg tau, setelah menemukan lantai 4 dan terjebak.. mereka ada di tahun berapa, kenapa nggak ada orang sama sekali, langit berwarna merah darah dan waktu berhenti.. ini masih jadi misteri.
Nggak cuma konflik waktu mereka terjebak yg seru, konflik antara mereka berempat juga ikutan seru, sosok cowok gentle terlihat dalam sosok Neil dan Randy yg terus melindungi orang yg mereka sayang.
Gue suka ceritanya, bikin penasaran terus dan endingnya nggak ketebak sama gue. Keren!
Suka dengan tema persahabatan yang turut dimasukkan dalam buku ini. Jika bicara tentang horornya, udah horor banget. Aku juga suka dengan setting yang dipilih oleh penulis; sekolah dan perpustakaan. Namun, sebenarnya ada beberapa bagian di buku ini yang masih bisa dikembangkan. Di buku ini, disebutkan ada sosok urban legend di sekolah bernama Maria. Aku rasa, akan lebih baik jika penulis ikut menuliskan latar belakang kenapa Maria ini bisa terbunuh. Terlebih, sosok Maria ini menjadi bahan permasalahan dalam buku ini. Review selengkapnya: http://ach-bookforum.blogspot.co.id/2...
Suka dengan pesan persahabatan yang ada di dalam buku ini, seakan memberikan kesan bahwa yang namanya sahabat akan ada di setiap situasi, setiap keadaan. Selain tentunya background horor di buku ini, bener-bener ngebuat 'wow kok bisa gini sih?'. Kalo boleh kasih hint, paling yang bikin misteri sampe nutup terakhir halaman buku ini adalah 'hantunya bener-bener masih misterius'.
novel ini lebih creepy daripada novel horror sebelumnya, yaitu Apartemen Berhantu. Salut buat penulisnya yang baru baca halaman pertama udah bikin merinding. Alur & plot lebih kompleks tapi akan lebih baik jika ada denah sekolah atau denah ritual untuk menuju ke lantai empat sekolah tersebut.