Tak semua perasaan itu harus diungkapkan. Ada kalanya dia disimpan di hati. Diresapi sendiri.
Cukup bahagia hanya dengan melihat sosoknya. Senyum terkembang saat melihat tawanya. Lutut melemas saat dia menyapa.
Tak semua rasa cinta itu harus diumbar ke dunia. Ada kalanya dia dipupuk dengan sabar. Dinikmati saat mekar.
Namun, bagaimana jika yang membuatmu lemas saat dia tertawa bahagia karena orang lain, bukan karena dirimu? Saat rona merah pipinya bukan untukmu? Saat detak jantungnya yang berkejaran bukan karena berdekatan denganmu? Saat sosoknya tidak ada lagi untuk memuaskan matamu?
Saat itu tiba, mungkin waktunya kamu menyesal, karena terlalu asyik menikmati cinta dalam diam.
Saya mengamini sinopsis yang berada di balik sampulnya. Menyentuh dan menarik untuk di bawa pulang.
Tapi itu strategi pasar. Siapa di dunia ini yang tidak pernah mengalami jatuh cinta diam-diam?
Menyukai rekan sesama kantor tapi berujung tidak mau mengungkapkan. Padahal kesempatan jelas terbuka di depan mata. Hal-hal kecil seperti berebut bangku di hari pertama sekolah tapi menjadi awal persahabatan yang dilema karena justru persahabatan itu menumbuhkan cinta. Atau cinta yang hadir karena terbiasa memerhatikan hal kecil seperti memesan kopi apa dia malam ini dan bagaimana responnya setiap kali membicarakan filosofi dari kopi itu sendiri misalnya. Atau Atau hal paling Dilematis di muka bumi ini, saat kau jatuh cinta dan terhalang perbedaan keyakinan.
Semua itu jatuh cinta diam-diam. Dan hampir seluruh manusia merasakannya. Tapi memang hal utama dalam hidup ini adalah tidak semua makhluk bisa jadi milikmu. Tidak semua cinta berhasil berbalas. Sebagian besar diantaranya yang pupus. Dan buku ini mengambil secuil peliknya jatuh cinta diam-diam kedalam cerpen yang ditulis olehnya SENDIRI. Namun disamarkan menjadi beberapa nama yang berbeda.
Ini kali pertama saya membaca buku tulisan Dwitasari. Dan, well saya tidak tertipu dengan gaya menulisnya yang hampir sama disetiap nama di dalam kumcer ini. Terlebih sudah ribuan yang menyebutkan gaya menulis Dwita yang monoton, over sastrais, puitis dan bertele-tele. Yang tidak penting menjadi penting, yang bisa singkat dan padat malah membikin buku ini diisi orang-orang yang pemikirannya alay.
Tidak ada twist, yang ada hanya deskripsi. Tidak sistematis yang ada dibikin-bikin melankolis.
Oh Dwita, andai kau tahu tema yang kau coba tuliskan sangatlah bagus. Siapa yang tidak tertarik membaca buku Jatuh cinta diam-diam?? Setiap cerpenmu masih bisa dikembangkan sebagai novel kalau kau mau berpikir lebih jauh dan dalam. Jujur saya menyukai temanya, tapi sayang penulis masih perlu belajar lagi. Ia masih harus belajar menulis yang lebih berkembang dan bukan asal menyisipkan quote atau kata mutiara.
Sesuaikan sifat setiap karakter dengan gaya bicaranya. Buat senatural mungkin agar pembaca nggak JENGAH mencoba memahami apa yang dirasakan tiap karakternya.
Belajar lagi Dwitasari. Menulis puisi jelas berbeda dengan menulis novel.
ketika membaca buku ini cuman bisa bilang its not my cup of tea hahahaha secara saya pembaca roman dewasa mencoba mengikuti jaman dengan membaca buku ini cuman apa daya tetap bukan cangkir teh saya.. awalnya saya pikir ini novel ternyata ini kumpulan cerita dan yang saya cukup kaget dwitasari hanya menyumbang 1 cerita di buku ini hmm saya gak bisa komen banyak karena nanti bersifat subjektif cuman overall saya suka covernya
Ada 10 cerpen di buku bersampul biru ini. Walaupun bertema sama, namun cerita-ceritanya dikemas dengan apik dan manis. Setiap tokoh utama dalam masing-masing cerpen di buku ini berkarakter unik, namun agak mirip. Sesuai judulnya, tokohnya sama-sama menyimpan rasa suka yang tak diungkapkan. Ada yang takut mengungkapkan, ada yang memang sengaja nggak pengen si dia tahu, ada yang telat menyatakan, … Pokok’e semua dirahasiakan. Bikin geregetan aja, kenapa nggak dikatakan sih kalau kamu suka sama si dia? *Tapi kalau diungkapkan nanti judul bukunya bukan JCDD lagi dong!* Terus, ceritanya ada yang lucu, sedih, nge-gemesin, juga bikin senyum-senyum sendiri.
Dari 10 cerpen, yang pengennya saya semua berakhir dengan jadian tetapi ternyata nggak semuanya berakhir begitu, favorit saya adalah cerpen berjudul Angsana, Sebatas Cukup, dan Drama.
Buku ini ngajarin kita untuk nggak memendam rasa terlalu lama. Kalau suka ya ngomong aja. Walaupun secara teori itu mudah banget dan saya tahu untuk mengungkapkan rasa suka tuh butuh usaha dan nggak segampang membalikkan piring dari atas meja, tapi… apa salahnya dicoba? Ditolak ya udah. Sakit memang. Sedih pasti. Namun kalau diterima, kan pasti hepi.
Aku menyelesaikan buku ini dalam waktu kurang dari 2 jam.
Ada sedikit kekecewaan ketika aku selesai membacanya. Menurutku, isi dari buku ini kurang membuat emosi pembaca goyah. Meskipun hanya cerita pendek. Rasanya kisah-kisah didalam buku ini lebih terkesan kisah cinta yang menyedihkan ketimbang jatuh cinta diam-diam. Walaupun begitu gaya bahasa yang digunakan para penulis didalamnya sangatlah ringan sehingga pembaca tidak perlu berpikir untuk mencari makna ganda yang terkandung dalam setiap bait paragrafnya.
Jujur, aku tertarik akan buku ini karena blurb (gambaran singkat isi buku) di belakang buku terlihat menarik. Sayangnya, ketika aku membacanya, harapan tak sesuai dengan ekspektasi.
Kuncer yang satu ini berhasil membuatku tertegun sesaat setelah membaca lembar terakhir. Plot twist yg sukses membuaku berkata "HAH?!" dan tertawa kecil setelahnya. Terdapat 10 judul dengan tema "Jatuh cinta diam-diam" yang beraneka macam endingnya. Banyak kutipan yang aku suka, satu di antaranya adalah "Cinta memang tak selalu bisa dimiliki, tapi cinta selalu bisa diperjuangkan." (hal. 75). Cerita setiap cerpennya cukup ringan, namun mungkin akan berubah menjadi cerita yang rumit bila dikembangkan menjadi sebuah novel. 4/5 bintang untuk Jatuh Cinta Diam-Diam #2 karya Dwitasari dkk.
Novel ini berisi kumpulan cerita dengan tema "jatuh cinta diam diam". Di novel ini booklovers bisa merasakan jatuh cinta diam diam dalam berbagai view. Perasaan pahit manis ketika memendam rasa dengan background cerita yang berbeda beda. Disetiap ceritanya akan ada pelajaran yang bisa diambil. Bagi booklovers yang butuh menyalurkan kegalauan atau memendam rasa juga terhadap seseorang, buku ini bisa dijadikan sebagai sad release dari kegalauan booklovers. Tertarik membaca?
Tertarik dengan blurb ceritanya, tapi ternyata agak tidak sesuai ekspetasi. Maaf.
Kumpulan cerita pendek ini menurutku terlalu agak panjang alurnya. Dan ada beberapa penulisan yang enggak mengalir dan terkesan terburu-buru.
Meskipun review buku ini jelek, tapi ada buku dari Mba Dwitasari yang bagus, kok. Oh iya, ini menurut saya ya! Kalau kalian penasaran baca aja, karena setiap orang punya pendapat beda-beda.
Yah, cukup kecewa dengan buku ini. Padahal saya berharap banyak berhubung Mbak Dwitasari cukup berhasil dalam Jatuh Cinta Diam-diam yang pertama. Mungkin karena ekspetasi yang terlalu tinggi kali, ya. Buku ini terkesan agak random dan saya gak menemukan kesan 'wah, ini gue banget' pas baca buku ini seperti sewaktu saya baca Jatuh Cinta Diam-diam yang pertama. Sejujurnya saya kurang menikmati, jadi saya pikir dua bintang saja cukup. Satu bintang untuk cerpen berjudul 'Kopi' dan satu bintang untuk cerpen karya Dwitasari dalam buku ini.
Kumpulan cerpen roman pop ini nano-nano karena ditulis oleh banyak orang penulis pemula--dengan background yang beda-beda juga tentunya. Namun idenya tetap sama: pahit-manisnya memendam rasa. Di antara semua cerpen, saya paling suka cerpen berjudul "Kopi". Judulnya sederhana, singkat, namun ide dan diksi ceritanya bagus--jika dibandingkan dengan cerpen-cerpen lainnya di buku ini. :)
sebenernya ini cerpen buat teen atau chick ya, soalnya dari 10 cerpen, campur2 gitu, ada yang anak skul, anak kuliahan, ada yang kantoran juga, trus klo ada anak skul baca: dia tidur dengan sahabatku, lah gimana...
Biasanya saya me-review buku yang membosankan pun dengan dua bintang, namun buku ini entah seperti mengalami kemunduran dari bukunya yang pertama. dan Mbak Dwita saya rasa anda dapat menulis yang lebih baij dari itu.
Masih terlalu jatuh cinta dengan "Jatuh Cinta Diam-Diam" yang pertama. Buat saya di JCDD1 semua ceritanya sukses bikin saya suka dengan buku itu. Kurang puas dengan JCDD2.
Tak semua perasaan itu harus diungkapkan. Adakalanya dia disimpan di hati. Diresapi sendiri. Maka dalam kesepuluh cerpen dengan judul Jatuh Cinta Diam-Dima #2 berhasil membuat aku paham. Cinta memang kadang hanya perlu kita resapi sendiri. Cinta memang butuh diusahakan, akan tetapi saat usaha menunjukkan hasil nihil, maka diam dan resapi saja segala emosi yang dibawanya. Sedih, galau, terpuruk, dan perasaan wajar lainnya. Tak selalu cinta harus kita umbar pada dunia, karena hakikatnya cinta hanya antara aku-kamu-Tuhan- dan dua hati itu sendiri. Tidak ada peran orang lain dan dunia di dalamnya. Itulah cinta menurutku setelah membaca Antologi Cerpen ini. Thanks banget buat para penulis yang sudah menyajikan karya apik ini.