I read in English but this review is in Bahasa Indonesia
Sebuah percakapan lepas terjadi di grup WhatsApp Klub Siaran Goodreads Indonesia. Tiba-tiba saja kami membicarakan Charlie Brown dan komik Peanuts. Salah seorang dari kami pun mengatakan bahwa Charlie Brown dan teman-temannya seperti Linus, Lucy, Snoopy, Woodstock sebenarnya bermain-main dengan filsafat eksistensialisme. Aku yang pernah besar bersama produk bergambar Snoopy merasa tidak paham.
Sampai akhirnya Big Bad Wolf Indonesia diadakan versi virtual. Dalam koleksinya yang mereka akui ada belasan ribu, hanya beberapa saja yang akhirnya menarik minatku. Salah satunya adalah Peanuts ini. Komik striip pilihan masa-masa awal Schulz menciptakan karakter Charlie Brown.
Bagi yang terbiasa melihat Linus dan Lucy, Peanuts terasa berbeda. Schulz membawa karakter yang mungkin belum diketahui orang banyak. Wajar saja, namanya juga awal mula karakter legendaris. Di sini, Charlie Brown akan bermain bersama Violet dan Patty. Dua anak perempuan gemas dengan pemikirannya yang sangat "anak perempuan."
Meskipun berbentuk komik dengan tokohnya yang masih berusia 2 tahun, topik yang diangkat seringkali tentang menjadi orang dewasa. Mereka menyindir dan menjadi satir untuk mengajak pembaca dewasa menertawakan kehidupannya. Masing-masing "judul" hanya terdiri dari 4 panel saja. Sederhana namun bisa mengundang tawa.
Di samping tentang topiknya, Peanuts juga unik karena Schulz menggambar Charlie Brown dengan begitu menggemaskan. Kepalanya bulat dengan alis yang menyatu seperti ulat bulu. Aku merasa beruntung berhasil mendapatkan komik ini di BBW kemarin. Sebab aku rasa, aku akan kesulitan mencarinya di Indonesia.