Jump to ratings and reviews
Rate this book

Menggali Sumur dengan Ujung Jarum

Rate this book
Dengan sia-sia, Eva berjuang untuk mengusir makhluk-makhluk berbahaya itu. Serangga-serangga itu berasal dari jantung ayahnya, yang telah memberi mereka makan dengan kesakitan selama malam-malam kesunyiannya yang menyedihkan. —Eva di Dalam Tubuh Kucingnya, Gabriel Garcia Marquez

Saya menulis karena saya menyukai bau kertas, pena, dan tinta. Saya menulis karena saya percaya pada sastra, pada seni novel, lebih dari kepercayaan saya pada yang lainnya. Saya menulis karena ia adalah kebiasaan, gairah. Saya menulis karena saya tak pernah bisa bahagia. Saya menulis untuk bahagia.
—Koper Ayah Saya, Orhan Pamuk

Kebutaan adalah hadiah. Kebutaan memberi saya Anglo-Saxon, kebutaan memberi saya sastra Skandinavia, kebutaan memberi saya pengetahuan tentang sastra Abad Pertengahan yang sebelumnya saya abaikan, kebutaan mengenalkan saya pada pelbagai karya yang baik atau yang buruk….
—Kebutaan, Jorge Luis Borges

Enam penulis dunia mencurahkan ide, hasrat, dan imajinasi mereka dalam buku ini. Selamat membaca!

208 pages, Paperback

First published April 15, 2015

6 people are currently reading
37 people want to read

About the author

Jorge Luis Borges

1,595 books14.4k followers
Jorge Francisco Isidoro Luis Borges Acevedo was an Argentine short-story writer, essayist, poet and translator regarded as a key figure in Spanish-language and international literature. His best-known works, Ficciones (transl. Fictions) and El Aleph (transl. The Aleph), published in the 1940s, are collections of short stories exploring motifs such as dreams, labyrinths, chance, infinity, archives, mirrors, fictional writers and mythology. Borges's works have contributed to philosophical literature and the fantasy genre, and have had a major influence on the magic realist movement in 20th century Latin American literature.
Born in Buenos Aires, Borges later moved with his family to Switzerland in 1914, where he studied at the Collège de Genève. The family travelled widely in Europe, including Spain. On his return to Argentina in 1921, Borges began publishing his poems and essays in surrealist literary journals. He also worked as a librarian and public lecturer. In 1955, he was appointed director of the National Public Library and professor of English Literature at the University of Buenos Aires. He became completely blind by the age of 55. Scholars have suggested that his progressive blindness helped him to create innovative literary symbols through imagination. By the 1960s, his work was translated and published widely in the United States and Europe. Borges himself was fluent in several languages.
In 1961, he came to international attention when he received the first Formentor Prize, which he shared with Samuel Beckett. In 1971, he won the Jerusalem Prize. His international reputation was consolidated in the 1960s, aided by the growing number of English translations, the Latin American Boom, and by the success of Gabriel García Márquez's One Hundred Years of Solitude. He dedicated his final work, The Conspirators, to the city of Geneva, Switzerland. Writer and essayist J.M. Coetzee said of him: "He, more than anyone, renovated the language of fiction and thus opened the way to a remarkable generation of Spanish-American novelists."

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (11%)
4 stars
15 (44%)
3 stars
11 (32%)
2 stars
3 (8%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for Wahid Kurniawan.
206 reviews3 followers
May 31, 2023
Andai buku ini dikhususkan buat memuat esai para maestro ini, pasti bakal lebih ngena. Ketimbang cerpen-cerpen mereka, aku justru terkesan sama esai-esainya, terutama esai Borges dan Pamuk.
Profile Image for Nufira S..
56 reviews22 followers
July 3, 2015
Seandainya saya harus bepergian jauh dan dari (misalnya) 100 buku yang saya punya, saya hanya diizinkan untuk membawa 10 buku saja, maka inilah salah satu yang akan saya bawa serta.
Ada dua esai karya Jorge Luis Borges. Ada juga pidato nobel Orhan Pamuk, Naguib Mahfouz (jujur, saya selalu penasaran dengan tulisan orang Arab, dan pidato sastrawan Mesir ini sempat membuat saya tertegun), juga pidato panjang Seamus Heaney tentang menghargai puisi.
Saya juga tidak melewatkan dua cerpen Gabriel Garcia Marquez, cerpen Borges tentang pencarian Averroes atau kita lebih mengenalnya sebagai Ibnu Rusyd, cerpen Pamuk tentang nggg... saya tangkap sebagai gambaran sekularisme di Turki, dan cerpen William Saroyan tentang menulis.
Barangkali satu-satunya hal yang tidak saya suka dari buku ini adalah covernya yang kelewat sederhana. Yah itu aja. Bintang lima tidak terlalu berlebihan kan?
Profile Image for Jurnalis  Palsu.
48 reviews1 follower
January 19, 2019
Buku ini menyingkap keindahan sastra dan memotivasi penulis pemula seperti saya. Jujur, buku ini memberi saya Nutrisi yang padat tentang dunia kepenulisan.
Profile Image for Wardah.
953 reviews172 followers
January 3, 2016
Buku ini terdiri dari lima buah cerpen, dua esai, dan tiga pidato. Semua cerpennya khas cerpen sastra, berkalimat panjang—yang sangat-sangat panjang—dan butuh waktu lama untuk bisa benar-benar paham.

Dua dari lima cerpen adalah karya Gabriel Garcia Marquez.

Cerpen berjudul Eva dalam Tubuh Kucingnya menjadi bagian penyusun dalam sinopsis di belakang buku. Cerpen Eva dalam Tubuh Kucingnya sendiri merupakan cerpen Gabriel Garcias Marquez yang bisa saya pahami dengan benar-benar. Bercerita tentang Eva, seorang gadis cantik yang ingin sekali lepas dari kecantikannya yang diturunkan secara bergenerasi. Yang paling menarik, gen kecantikan (well, semacam gen, kan, ya? *lalu ragu*) ini digambarkan dengan sangat unik oleh pengarang sebagai serangga.

Aku memiliki sekitar lima ratus buku dan aku membakar satu nikel untuk setiap bukunya. Tapi ketika aku mencari judul-judul buku yang bisa kubakar, aku tak menemukannya. (h. 82)


Untuk esai, keduanya adalah karya Jorge Luis Borges. Satu esai berjudul Kebutaan, bercerita tentang kebutaan yang dialaminya dalam hidupnya sebagai penulis. Sedangkan tiga pidato yang terdapat di sini merupakan pidato-pidato nobel yang disampaikan oleh Orhan Pamuk, Naguib Mahfouz, dan Seamus Heaney.

Secara keseluruhan, buku ini harus dibaca dalam kondisi yang nyaman, tenang, dan damai—mungkin buat saya yang terbiasa membaca karya-karya populer. Saya butuh waktu cukup lama untuk berhasil menghabiskan semuanya. Bahkan tidak cuma satu-dua saja yang sampai sekarang belum saya pahami dengan utuh maknanya (apalagi cerpen-cerpennya).

Akan tetapi, buku ini jelas sebuah buku yang layak dibaca bagi siapa pun yang mencintai sastra, ingin mencintai sastra, maupun mereka yang menikmati membaca.

Review lengkap silakan klik di sini.
Profile Image for Ricky Brahmana.
18 reviews
June 30, 2015
Sejauh ini, selain komik ini adalah buku yang paling cepat saya selesaikan. Dari 5 cerpen "panjang" dari 5 penulis legendaris dengan berbagai gaya bahasa dan penulisan — sayangnya terjemahan — saya menyukai William Saroyan dan caranya menyampaikan cerita yang di kamuflasekan dalam bentuk surat kepada sahabatnya. Siapapun M, dia pasti bisa menulis seketika itu juga setelah membaca surat William yang mengeluh tentang cuaca yang dingin dan gramofonnya yang rusak karena membeku.
Menulis tidak harus dengan tujuan untuk publikasi, menulislah karena kau takut akan kehilangan ingatan tentang suatu hal kalau tidak kau tuliskan.
Profile Image for Uppalight Yagami.
44 reviews2 followers
August 22, 2016
Kalau Anda ingin membaca karya-karya sastrawan Dunia dalam satu genggaman, ini adalah buku yang tepat. Karena saya percaya bahwa satu buku dapat mengantarkan kita kepada buku-buku bagus lainnya, maka demikian buku ini akan mengantarkan Anda untuk mengunjungi karya-karya mereka selanjutnya, yang tentunya luar biasa juga.

Buku ini memberikan Anda bacaan menarik dari Penulis luar biasa, membuat Anda memahami berbagai kisah dibalik dunia kreatif penulis, dan bahwa bahkan sebuah pidato dapat menjadi sebuah bacaan menarik. :)
Profile Image for Frida.
201 reviews16 followers
July 15, 2015
Dibandingkan cerpen2nya, saya lbh menikmati ceramah2nya, terutama kedua ceramah milik Borges dan ceramah Orhan Pamuk yg sangat menginspirasi. Ternyata judul buku ini diambil dari pepatah Turki yg diselipkan Pamuk dlm pidato nobelnya.

Untuk cerpen, saya paling terenyak oleh tulisan William Saroyan.
Profile Image for Arif Abdurahman.
Author 1 book71 followers
January 13, 2016
Ketimbang cerpennya, saya lebih suka sama ceramah-ceramahnya, utamanya Borges sama Pamuk.
Displaying 1 - 9 of 9 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.