Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tentang Kita

Rate this book
Kumpulan cerpen Reda Gaudiamo ini ditulis dalam rentang waktu yang cukup panjang: dari akhir 1980-an hingga 2014.

Warna dari masa ke masa cukup terasa pada beberapa cerpen. Tetap ada satu hal penting yang mengikat satu cerpen dengan cerpen yang lain: semua berkisah tentang keseharian, tentang hati, dan cinta manusia biasa.

Reda Gaudiamo sudah suka menulis sejak SD, namun berani mengirimkan tulisannya ke media massa ketika zaman kuliah karena perlu tambahan uang jajan. Lulusan Sastra Prancis & Magister Komunikasi FISIP UI ini pernah bekerja di berbagai biro iklan dan media cetak, seperti Gadis, Mode, Hai, dan Cosmopolitan.

Tahun 2008 - 2011, Reda menjadi publisher 7 majalah lifestyle Kompas Gramedia. Di waktu luangnya, ia giat bermusik, menyanyikan puisi Sapardi Djoko Damono bersama Ari Malibu dalam grup AriReda.

215 pages, Paperback

First published April 14, 2015

3 people are currently reading
61 people want to read

About the author

Reda Gaudiamo

54 books66 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (25%)
4 stars
24 (50%)
3 stars
11 (22%)
2 stars
1 (2%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 21 of 21 reviews
Profile Image for Lianny Hendrawati.
3 reviews
June 30, 2015
Penulis : Reda Gaudiamo

Editor : Herlina P. Dewi

Proof Reader : Weka Swasti

Foto & Desain Cover : Linda Thio

Penerbit : Stiletto Book

Cetakan I : April 2015

ISBN : 978-602-7572-37-9



Kumpulan cerpen Reda Gaudiamo ini ditulis dalam rentang waktu yang cukup panjang : dari akhir 1980-an hingga 2014.

Warna dari masa ke masa cukup terasa pada beberapa cerpen. Tetapi ada satu hal penting yang mengikat satu cerpen dengan cerpen lain : semua berkisah tentang keseharian, tentang hati, dan cinta manusia biasa.



***



“Sayang…”

“Hmmm…”

“Sudah jam tujuh.”

“Jam tujuh? Aduh, terlambat!”

“Sudah bukan terlambat lagi, Sayang. Kita anggap saja ini hari libur nasional keluarga kita.”

“Aduh!”

“Anakmu melompat kegirangan melihat kau belum bangun.”

“Aduh!”

“Kenapa aku tidak dibangunkan?”

“Sayang, ternyata cuma kau yang bisa bangun pagi.”

“…”



Itu adalah cuplikan dialog salah satu cerpen dalam buku kumpulan cerpen Tentang Kita. Cerita yang bikin aku tersenyum dan langsung membayangkan jika suatu hari aku juga terlambat bangun seperti yang terjadi dalam cerpen diatas. Mungkin akan ada hari libur nasional keluarga juga di keluargaku saat itu hahaha

Buku kumpulan cerpen Tentang Kita ini memuat 17 buah cerpen, dengan judul sebagai berikut:

Ayah, Dini, dan Dia
Mungkin Bib Benar
Anak Ibu
Potret Keluarga
Tentang Kita
24 x 60 x 60
Si Kecil
Perjalanan
Bayi
Menantu
Taksi
Minggu Dini Hari
Aku : Laki-Laki
Maaf
Cik Giok
Dunia Kami
Pada Suatu Pagi

Judulnya singkat, ya? Judul yang singkat ini malah mengundang rasa penasaran untuk segera membaca isinya.



Aku suka semua cerita dalam buku ini, tapi ada beberapa yang menjadi favoritku, yaitu :

Tentang Kita

Tak salah jika judul cerpen inilah yang dipilih menjadi judul buku. Cerita pasangan muda dengan problemanya. Penantian akan si buah hati dan pekerjaan, dua hal yang sama-sama berperan penting. Sangat menyenangkan jika kedua hal ini bisa berjalan seiring. Tapi jika dihadapkan pada pilihan untuk memilih salah satu, tentu merupakan hal yang sangat sulit. Bagaimana endingnya? Silahkan baca sendiri :)



Anak Ibu

Cerita ini full dialog, tapi sama sekali tak terlihat monoton. Malah mak jleb banget deh, aku jadi berkaca pada diriku sendiri. Seakan aku adalah sang ibu yang selalu menuntut ini dan itu kepada anakku, dari nilai ulangan yang bagus sampai pemilihan jurusan di sekolah. Mungkin selanjutnya juga akan seperti itu, memaksakan egoku kepada anak saat kuliah, mencari suami dan masalah pekerjaan, semuanya dengan satu kalimat yang hampir selalu tak terbantahkan oleh si anak, “Kamu kan, anak Ibu…”



Si Kecil

Berkisah tentang seorang anak lelaki dengan kaki kiri tak normal, selalu duduk dan mengemis di tempat yang sama, di jembatan penyeberangan. Seberang kantor, tempat sepasang suami isteri bekerja. Tokoh aku (istri) mulai merasa ada yang aneh saat suaminya selalu memberi uang receh kepada anak kecil itu selama 2 minggu penuh. Ternyata sang suami ingin membawa anak kecil itu pulang ke rumah mereka, ide ini jelas ditolak dengan keras oleh isterinya. Sampai saat suami hendak pergi ke Batam dan menitipkan kepada istrinya, sehelai baju hangat dari bahan rajut untuk diberikan kepada anak kecil itu. Apa yang terjadi selanjutnya? Ah, cerita ini mampu membuatku menitikkan air mata.



Pada Suatu Pagi

Lewat cerita ini, tergambar jelas kehidupan saat usia senja, dimana fisik sudah lemah dan keinginan hati yang tak lagi bisa dipahami oleh anak dan keluarga tercinta. Menyedihkan sekali.

Membaca cerita terakhir dalam buku ini membuatku merinding, aku jadi teringat dengan orangtuaku. Di usia senja mereka, sudahkah aku mampu mengukir senyum di wajah mereka atau malah sibuk dengan duniaku sendiri? Sudahkah aku memahami keinginan dan harapan mereka? Bagaimana jika suatu saat, akulah yang berada dalam posisi sebagai sang nenek?



“Bukan pemakaman terbaik, termewah dan kelompok pembaca doa berseragam yang kunanti, tapi percakapan, gelak tawa, berbagi cerita yang berlangsung ketika kita masih bersama, ketika waktu masih ada, ketika napasku masih ada, Nak…” (hal 203)



Baru pertama kalinya ini aku membaca tulisan dari Reda Gaudiamo, dan aku langsung suka dengan gaya penceritaannya. Tak perlu mengerutkan kening atau membaca dua kali untuk mengerti, semua disajikan dengan lugas, mengalir dan mudah dicerna. Semua ceritanya sederhana tapi banyak hikmah yang bisa diambil. Mengena, langsung masuk dalam hati tanpa menggurui.

Alur cerita mengalir lancar dengan karakter tokoh-tokohnya yang tergambar begitu kuat.

Tak heran jika cerita-cerita ini dimuat di berbagai media : Majalah Femina, Kompas Minggu, Majalah Hai, Good Housekeeping Indonesia, Harian Kompas, Majalah Spice, Tabloid Nova, Majalah Gadis. Bahkan cerpennya yang berjudul “Cik Giok” yang dimuat di harian Kompas, diterjemahkan oleh John McGlynn ke dalam bahasa Inggris untuk www.wordswithoutborders.com.

Tema yang diambil oleh Reda Gaudiamo sangat pas sekali dengan keseharian kita, mengajak kita untuk berkaca pada diri sendiri. Yup, cerita tentang keseharian yang terkadang menohok hati dan membuatku merenung. Banyak hal dalam hidup ini yang harus dihadapi, banyak pilihan-pilihan yang mendatangkan dilema tapi tetap harus dijalani. Dan apapun keputusan yang kita ambil, kita sudah harus siap dengan segala resikonya.



Banyak hal yang kudapat saat selesai membaca buku ini. Buku ini dengan cerita-ceritanya yang sederhana, mengajarkan banyak hal tentang nilai-nilai kehidupan, mampu mengajakku untuk merefleksi diri agar bisa bertindak lebih bijaksana, terutama sekali sebagai seorang isteri dan ibu.



“Biar saja. Biar orang tahu kita tidak sempurna. Tapi dalam ketidak sempurnaan itu kita sudah bersikap jujur. Kita sedang dalam upaya memperbaiki diri.” (hal 97)



Cover buku ini juga terlihat sederhana, dengan background bernuansa putih dan pink dengan sekaleng gula-gula aneka warna di pojok kanan bawah seakan mewakili aneka rasa cerpen dalam buku ini, menggambarkan hidup manusia dengan banyak warna.

Ada beberapa typo kecil, contohnya pada cerpen “Potret Keluarga” nama Addo mendadak berubah menjadi Tino (44). Tapi tetap tak mengurangi keasyikanku membaca buku ini.

Teman, jika ingin membaca cerita-cerita yang dekat dengan keseharian kita, buku kumpulan cerpen Tentang Kita ini sangat layak untuk dibaca.

4 dari 5 bintang dariku untuk buku ini.

Tentang Kita Reading Challenge – Stiletto Book

Twitter : @lianny
Email : lianny.hendrawati@yahoo.com

Review bisa dibaca di : http://www.liannyhendrawati.com/revie...
Profile Image for Safara.
413 reviews69 followers
May 23, 2021
Berbubung aku baca ini setelah baca Potret Keluarga, cuma ada 5 cerita yang kubaca. Cerita paling berkesan menurutku yang judulnya Dunia Kami. Seorang anak laki-laki akhirnya mengungsi ke desa karena dia tidak sanggup menolak ajakan tawuran. Pilihannya cuma 2, ikut tawuran dan bertaruh nyawa saat bertemu lawan atau tidak tawuran tapi dikeroyok geng sendiri. Anak ini cuma ingin punya teman, tapi malah terjebak.

So far, so good sih.
Profile Image for Laaaaa.
208 reviews5 followers
April 10, 2022
pesan moralnya dapet banget. semua cerita tentang keluarga pasti rasanya hangat dan haru, gitu sih kalo buatku.
ceritanya pendek-pendek sih tapi cukup seru untuk terus diikuti.
Profile Image for Rinrin Indrianie.
Author 7 books4 followers
June 27, 2015
Ada 17 cerpen yang ditulis dalam rentang waktu yang cukup panjang: dari akhir 1980-an hingga 2014!

Ke-17 cerpen memiliki judul yang terkesan terlampau sederhana. Tapi saat membacanya, kita baru bisa mengerti terkadang judul yang membumi pun bisa mengajak kita ke langit *tsaaah*. Misalnya cerpen pertama yang berjudul “Ayah, Dini, dan Dia”, adalah pemenang Sayembara Cerpen Femina tahun 1990, cerpen jawara pasti keren toh? Cerpen-cerpen yang lain juga banyak yang pernah dimuat di Femina-Kompas-Hai dan lain-lain.

Berhubung tidak mungkin saya bahas satu per satu cerpennya, akan saya ceritakan beberapa cerpen yang paling saya sukai.

Cerpen Anak Ibu, 24 X 60 X 60, dan Menantu adalah cerpen-cerpen yang sarat dengan dialog, dengan alur cepat dan tokoh-tokoh berkarakter kuat, endingnya tidak terduga dan bahkan lucu membuat ketiga cerpen ini melekat kuat di ingatan.

Cerpen berjudul Si Kecil juga sangat menyentuh. Bercerita tentang anak laki-laki berkaki kiri tidak normal yang mengemis di sudut jembatan penyebrangan. Nala -suami si aku- ingin mengajaknya tinggal di rumah, yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh tokoh aku. Tapi sebuah peristiwa yang melibatkan pencopetan dompet, tokoh aku berubah pikiran, dia akhirnya sepakat dengan Nala, untuk mengajak Si Kecil tinggal bersama mereka dan tidak lagi membiarkannya menggigil di jembatan. Bagaimana ending cerita pendek ini berakhir? Harus Anda baca sendiri, temans! hihihihi.

Cerpen berikutnya adalah Tentang Kita yang dijadikan sebagai judul buku. Bercerita tentang sepasang suami istri yang tengah menanti buah hati. Alurnya sangat membuat perasaan campur aduk, endingnya -meskipun bisa dibilang biasa saja- juga sangat menohok, membuat saya berpikir ulang, apa saja sih keputusan besar dalam hidup yang membuat saya menyesalinya seumur hidup. Dan saya sangat menyukai jenis cerita yang membuat saya berpikir seperti itu *menjura hormat*.

Ada sebuah quote yang diucapkan tokoh dalam cerpen Pada Suatu Pagi yang berhasil membuat saya langsung menelepon Mamah saya, kalimat itu seperti ini, "Bukan pemakaman terbaik, termewah dan kelompok pembaca doa berseragam yang kunanti, tapi percakapan, gelak tawa, berbagi cerita yang berlangsung ketika kita masih bersama, ketika waktu masih ada, ketika napasku masih ada, Nak...." (halaman 203)

Kumpulan cerpen ini cocok untuk dibaca saat ngabuburit lho, dengan karakter-karakter yang dekat dengan kita, dan peristiwa-peristiwa yang kerap terjadi di keseharian kita, buku ini sangat layak menjadi daftar bacaan Anda. 4 dari 5 bintang dari saya untuk buku kumcer ini :).

Tulisan ini diikutsertakan dalam “Tentang Kita Reading Challenge – Stiletto Book”



@rindrianie
Review bisa juga dibaca di http://rindrianie.com/2015/06/23/revi...
Profile Image for Dhani.
257 reviews17 followers
June 7, 2015
Membaca karya karya Reda yang ada di kumpulan cerpen yang bertajuk Tentang Kita, mengajarkan saya banyak hal. Satu di antaranya adalah ide itu tak harus mengawang awang. Ide ada di dekat kita, dia bisa jadi ayah, ibu, pasangan kita, sahabat, tetangga atau bahkan hewan peliharaan.Walau pun sederhana nampaknya ide itu, kalau diolah dengan baik, akan dihasilkan karya yang baik. Reda juga tak menggunakan diksi dan pilihan kalimat yang penuh kembang. Kalimat kalimatnya bernas, efektif dan tepat sasaran. Dari segi tema, Reda menjadikan keluarga sebagai bahan yang tak akan habis dikulik.

Nyaris semua cerpennya bagus, hanya ada satu yang saya skip karena kepanjangan dan jadinya melelahkan( Dunia Kami). Dari sekian banyak cerpen, ada beberapa favorit saya, yakni Mungkin Bib Benar( mengambil sudut pandang dua ekor anjing}, Anak Ibu( tentang Ibu yang dominan dan tak pernah puas), Tentang Kita( kegalauan sepasang suami istri, saat mereka belum siap secara ekonomi, seorang bayi dikandung si istri. Lantas bayi itu tak bisa dipertahankan. Ketika kemampuan ekonomi mereka membaik, si istri tak bisa hamil lagi), Bayi( sebuah pelajaran, keterlambatan bertindak akan berakibat fatal), dan Pada Suatu Pagi( yang berkisah tentang seorang ibu sepuh yang mendapatkan cinta anak dan menantunya, saat beliau meninggal)

Ada dua cerpennya yang mengambil latar belakang keluaarga China, yaitu Menantu dan Cik Giok. Di kedua cerpen ini, Reda sukses mengeksekusinya, bahkan terasa Redalah yang jadi menantu atau jadi si anak di Cik Giok.Pemahamannya yang besar akan tradisi China membuat kedua cerpen ini juga jadi bagian menarik dari keseluruhan cerpen.

Kalau ada sedikit cerpen yang menurut saya " biasa" dibanding cerpen cerpennya yang lain, itu adalah Potret Keluarga( ada kesalahan penyebutan nama orang dan endingnya yang entahlah, tak saya pahami), Minggu Dini Hari juga Taksi.

Reda adalah penulis serba bisa, tapi dia nampak lebih kuat di cerpen cerpen yang bertema dewasa atau keluarga. Reda juga punya ciri khas, yakni sering menggunakan kronologis waktu di beberapa cerpen.Dan secara keseluruhan, cerpen Reda menarik. Bukan karena dia kuat dalam salah satu aspek, tapi karena dis menjadikan kesederhanaan sebagai kekuatan.
Profile Image for Muhammad Nuril.
41 reviews1 follower
March 9, 2021
saya cukup tertarik dengan dialog-dialog yang berperan sebagai bangunan utama beberapa cerpennya. tema yang dihadirkan mudah dan ringan, tentang keluarga, hubungan sosial antar manusia. walau akhir cerita hampir semua cerpen mudah ditebak, tapi tetap menarik untuk dibaca sebab penulisannya yang sederhana dan terasa lebih dekat ke pembaca.
Profile Image for Nanaku.
155 reviews9 followers
May 14, 2015
Ditutup dengan cerita yang sangat menggambarkan kehidupan masa kini.
Cerita terakhir ini akan membuka mata kita & semoga menyadarkan.
Profile Image for Ibnu Wahyudinnur.
1 review
June 23, 2015
Dengan membaca buku ini aku dapat mengambil hikmah dari setiap cerpen yang ditulis.
Profile Image for rina susanti.
14 reviews7 followers
June 14, 2015
Judul Buku : Tentang Kita
Penulis : Reda Gaudiamo
Penerbit : Stiletto Book
Tahun : Mei, 2015
Hal : 188
ISBN : 978-602-27-572379
Potret keluarga dalam sebuah fiksi

Membaca cerpen dalam buku kumpulan cerpen yang di tulis Reda Gaudiamo, seperti bercermin pada keseharian. Kejadian yang begitu dekat dengan kehidupan. Satu atau dua cerpen dalam buku ini mungkin ada kesamaannya dengan kisah hidup teman, tetangga, saudara atau kita sendiri sebagai pembaca. Konflik keluarga, seorang ibu yang mendambakan menantu ideal untuk putrinya, hubungan kakak adik, persahabatan, gelora jiwa muda anak sma, dilema pasangan urban baru menikah, antara menunda memiliki anak atau langsung memiliki anak. Seperti dalam cerpen berjudul Tentang Kita, yang sekaligus menjadi judul buku kumpulan cerpen ini.

“Kita tidak punya apa-apa. Rumah masih kontrakan. Sempit pula. Kalau dia lahir, mau di taruh di mana? Tempat ini jauh dari keramaian, dari pusat kota. Kendaraan sendiri tidak punya. Kalau aku melahirkan malam-malam, mau naik apa kita ke rumah sakit? Seperti apa kacaunya...”

Lalu ketika akhirnya janin tumbuh di luar rencana, dan keadaan membenturkan pada situasi yang memaksa untuk memilih, cukup kuatkan naluri seorang ibu? Tanpa menghakimi atau menggurui, penulis menuntaskan cerpen ini dengan akhir yang memikat sekaligus membuat merenung.

Cerpen berjudul Anak ibu dan Menantu di halaman 31 dan 113, mengingatkan saya pada sebuah kalimat ‘setiap orangtua menginginkan yang terbaik untuk anaknya’, kalimat yang kerap kali menjebak orangtua pada upaya memilihkan bahkan memaksakan kehendak pada anak dengan alasan untuk kebaikan anak kelak. Dengan asumsi kebaikan untuk anak menurut orangtua sama dengan kebahagiaan anak.

Cerpen berjudul 24 x 60 x 60 memotret dengan sederhana keseharian yang khas keluarga urban. Suami dan istri yang sama-sama di sibukkan dengan urusan pekerjaan, kemacetan dan sempitnya waktu untuk keluarga. Pagi hari selalu huru hara karena terlambat bangun dan menyiapkan kebutuhan anak.

Cerpen dalam buku ini terdiri dari 17 cerpen dan sepertinya di susun dengan pertimbangan tertentu, karena seperti memiliki alur, dan di tutup dengan cerpen berjudul Pada Suatu Pagi, berkisah tentang seorang ibu di masa tuanya. Harapan yang mewakili perasaan kaum ibu dan orangtua pada umumnya.

“Bukan pemakaman terbaik, termewah dan kelompok pembaca doa berseragam yang kunanti, tapi percakapan, gelak tawa, berbagi cerita yang berlangsung ketika kita masih bersama...”(hal 203)

Walaupun semua cerita berkutat pada keseharian yang begitu lekat dengan kehidupan, namun pembaca tidak akan kehilangan greget saat membacanya. Bukan karena penulis mengemasnya dalam kata yang penuh metapor yang wah dan menjelimet, justru sebaliknya. Penulis menggunakan bahasa sederhana, lugas dan to the point. Dan walaupun minim deskripsi karena pilihan katanya tepat, mampu membawa pembaca membayangkan situasi saat percakapan terjadi dalam cerpen tersebut. Seperti kutipan berikut (hal 113);

“Jadi kamu mau di kawini si Jawa itu?”
“iya.”
“Aduh, hitamnya.”
“Tidak apa-apa.”
“Nanti anakmu jadi hitam kelam.”

Selain bahasa yang lugas, penulis juga menggunakan sudut pandang yang tidak biasa. Pemilihan sudut pandang ini yang membuat tulisan penulis berbeda dengan penulis fiksi lain walaupun tema yang diangkat sama. Sudut pandang yang juga membuat cerita lebih hidup dan menyentuh sisi kehidupan tanpa memaparkan nilai-nilai cerita dalam bentuk kalimat namun terpaparkan secara tersirat dalam setiap cerita, tanpa menggurui atau menghakimi. Hingga cerpen dalam buku ini terasa bersahaja, sederhana dan lugas walaupun begitu hampir setiap cerpen dalam buku ini memiliki kejutan, entah dari sudut pandang yang dipilih maupun ending cerita.

Kepiawain penulis, Reda Gaudiamo, dalam mengolah kata, memilih tema dan sudut pandang, tak lepas dari profesinya sebagai jurnalis yang pernah mengelola beberapa media massa.

Cerpen dalam buku ini di tulis dalam rentang waktu yang cukup lama dan merupakan cerpen yang pernah di muat di berbagai media massa. Namun tema yang di angkat dalam setiap cerpen membuat tak lekang waktu.

Quote yang paling saya suka ada di halaman 203, dalam cerpen terakhir di buku ini dan sudah saya kutif di atas. Quote yang mengingatkan saya bahwa itulah yang harus saya lakukan kelak jika Ibu atau Bapak saya sudah sepuh.

Tulisan ini diikutsertakan dalam “Tentang Kita Reading Challenge – Stiletto Book”,

Profile Image for ima.
102 reviews3 followers
August 18, 2015
Review:

Iya, karena novel ini adalah kumpulan cerpen, enggak mungkin aku bikin ringkasan cerita tanpa memberikan spoiler. Makanya, aku hanya akan memberikan kesanku terhadap beberapa cerpen di dalam buku ini.

Buku ini memuat sebanyak 17 cerpen karya mba Reda Gaudiamo. Sebelumnya, aku belum pernah membaca karya-karya beliau. Buku ini pun aku dapatkan dari Buntelan BBI yang bekerjasama dengan penerbitnya, Stiletto Book. Terimakasih banyak ya!

Nah, mari kita bahas isinya.

- Ayah, Dini, dan Dia
“Kalau Ayah tetap begini, saya juga tak mau mundur. Tak usah terkejut kalau suatu hari nanti saya akan menikah dengan Yos.” (hal. 11)

Cerpen ini berkisah tentang seorang keluarga yang telah kehilangan istri dan ibunya. Ayah dan Dini sangat menyukai hujan. Suasana yang dibawa hujan. Ayah dan Dini juga menyukai seni. Tetapi Ayah tidak menyukai Dini untuk mencintai dunia seni melebihi dirinya, bahkan menyamaipun tidak. Dan Ayah tidak menyukai pilihan Dini, kekasihnya. Karena Ayah punya ketakutan akan itu.

Aku bersimpati dengan karakter Ayah, dan aku paham alasan ayah. Laki-laki punya pride. Harga diri. Kebanggaan. Dan Ayah udah mengalami itu, jadi dia tidak mau Dini maupun kekasihnya mengalami hal yang sama. Dan karena aku sangat sayang dengan ayahku sendiri, dan lagi baper banget, jadi cerpen ini sangat menohok hati. Tentu saja pada bagian klimaksnya.

- Mungkin Bib Benar
Biasanya aku paling kesal mendengar Bib bicara panjang lebar tak bertepi begini. Tapi sekali ini aku tak berminat untuk membantahnya. (hal. 25)

Sungguh, aku tercengang dengan cerita ini. Bagaimana tidak, cerita ini diceritakan melalui sudut pandang binatang peliharaan. Dan lagi-lagi ceritanya menohok hati.

Diceritakan sebuah keluarga, dengan ibu dan anak-anaknya. Anak-anaknya yang selalu saja sibuk dengan urusannya masing-masing, hingga tidak sempat membantu sang ibu. Tapi semua terlambat, ketika mereka menyesali keputusan untuk acuh terhadap ibu mereka sendiri.

Ah, suwer deh ceritanya cukup simpel, tapi sudut pandagnya itu loh. Tapi, kukira tadinya kucing, hehehe.

- Si Kecil

Satu lagi cerita yang berhasil ngebuat hatiku sesak. Cerita tentang seorang anak laki-laki – pengemis di jembatan penyeberangan, yang berkaki cacat dan berhasil menarik perhatian si suami. Sejujurnya, pemikiran istrinya logis sih. Kita enggak bisa percaya ke sembarangan orang. apalagi pengemis, yang siapa tahu punya seseorang di belakangnya. Bisa-bisa kalau anak itu masuk ke rumah mereka, apa nggak mungkin terjadi sesuatu yang tak diinginkan? Oke, ini namanya terlalu curiga juga, dan enggak baik.

Namun, ternyata Tuhan berkata lain. Si Kecil itu berhasil mengambil hati si istri. Tapi, ketika si istri itu ingin melakukan hal baik, seperti suaminya, anak itu sudah tidak ada di jembatan.

Cerita yang berakhir tragis sih. Nyesek juga bacanya.

^*^*^*^*^*^*^*^*^*^

Yap, cuman tiga cerpen yang aku bahas. Bukan berarti hanya tiga cerpen itu aja yang menarik buatku. Sejujurnya, masih banyak sih cerpen-cerpen di buku ini yang keren, yang beda dari tipe cerita yang pernah kubaca. Hanya saja kalau kebanyakan nanti malah jadi aku membocorkan keseluruhan isi cerita, dong? Enggak seru, kan.

Kesanku setelah membaca buku ini tuh, ya ampun ceritanya sederhana tapi kenapa ngena banget di hati ya? Seriusan. Ceritanya berputar di kehidupan sehari-hari. Dan mungkin kalian-kalian ada yang pernah mengalaminya. Tapi ya itu, terkadang endingnya tetap saja mengejutkan.

Dan lumayan banyak yang endingnya bawa-bawa kematian.

Sesuai dengan covernya. Itu coklat cha-cha kan? Yang warna-warni gitu. Kayak hidup, kita enggak selalu merasa senang ataupun sedih. Kita juga pasti pernah marah, kesal, benci, nyumpahin orang dan segala macamnya. Hidup tuh warna-warni, penuh kejutan. kayak coklat cha-cha.

Tapi, di sinopsis belakang buku bilang cerpen ini dibuat dalam jangka waktu 1980-an hingga 2014. Jujur aja sih, aku enggak ngerasa ada bedanya, dari jaman 80-an sampai sekarang. Ceritanya sama aja. Enggak ada yang bedanya suasananya. Apa mungkin karena aku juga lahir di akhir tahaun 90 ya? Jadi, enggak terlalu kerasa perubahan eranya.
6 reviews
June 26, 2015
Judul: Tentang Kita
Penulis : Reda Gaudiamo
Penerbit : Stiletto Book
Terbit : April 2015
ISBN : 978-602-7572-37-9

Sinopsis:

Kumpulan cerpen Reda Gaudiamo ini ditulis dalam rentang waktu yang cukup panjang: dari akhir 1980-an hina 2014.

Warna dari masa ke masa cukup terasa pada beberapa cerpen. Tetap ada satu hal penting yang mengikat satu cerpen dengan cerpen yang lain : semua berkisah tentang hati, dan cinta manusia biasa.

Reda Gaudiamo sudah suka menulis sejak SD, namun berani mengirimkan tulisannya ke media massa ketika zaman kuliah karena perlu tambahan uang jajan. Lulusan Sastra Prancis & Magister Komunikasi FISIP UI ini pernah bekerja di berbagai biro iklan dan media cetak, seperti Gadis, Mode, Hai dan Cosmopolitan.

Tahun 2008-2011, Reda menjadi publisher 7 majalah lifestyle Kompas Gramedia. Di waktu luangnya, ia giat bermusik, menyanyikan puisi Sapardi Djoko Damono bersama Ari Malibu dalam grup AriReda.


-------TENTANG KITA-------


Buku ini merupakan kumpulan cerpen, dimana ada 17 judul cerpen didalamnya. Dimulai dengan cerpen yang berjudul Ayah, Dini, Mungkin Bib Benar, Anak Ibu, Potret Keluarga, Tentang Kita, 24 x 60 x 60, Si Kecil, Perjalanan, Bayi, Menantu, Taksi, Minggu Dini Hari, Aku: Laki-Laki, Maaf, Cik Giok, Dunia Kamidan dia lalu diakhiri dengan cerpen Pada Suatu Pagi.

Masing-masing novel mengangkat kisah-kisah yang berbeda namun memiliki kesamaan dengan membahas tema mengenai kisah kehidupan yang biasa dijalani manusia seperti biasanya.

Buku ini juga banyak membahas tentang hal-hal yang terjad dalam kehidupan dari sebuah keluarga yang mungkin saja disalah satu cerpen ini ada kisahnya yang tak jauh seperti yang kau alami saat ini. Mulai dari kisah seorang ayah yang terlalu posessif pada anak peremuannya, kisah cinta yang membuat seseorang terlihat bodoh, pasangan suami istri yang peduli dengan masa depan anaknya hingga terlalu semangat bekerja hingga mereka tidak sadar bahwa mereka belum memiliki anak, ada juga kisah yang menggambarkan rasa kepedulian satu sama lain.

Terkadang banyak hal yang terjadi dalam kehidupan kita sering kita anggap sepele, bukanlah suatu masalah yang patut untuk diperbincangkan. Namun nyatanya, melalui buku ini, kita belajar banyak nilai-nilai kehidupan. Bahkan menurutku banyak pelajaran yang kita dapat dari membaca buku ini.

Dengan menggunakan bahasa yang lugas, simple dan to the point!! Meskipun menguak cerita mengenai kehidupan sehari-hari saja, tapi buku ini sangatlah bagus, membuat kita enjoy saat membacanya bahkan bisa dilahap sekali habis. Mungkin karena sang Penulis sudah ahlinya dalam hal pengolahan kata, alur cerita, karakter tokoh setiap cerpen bahkan sampai ke ending cerita semua terlihat sederhana tapi mengagumkan.

Dan sebagai penutup dari buku ini, cerpen Pada Suatu Pagi menyimpan harta yang begitu berharga, berbentuk sebuah kalimat indah yang mengandung makna begitu dalam.

“Bukan pemakaman terbaik, termewah dan kelompok pembaca doa berseragam yang kunanti, tapi percakapan, gelak tawa berbagi cerita yang berlangsung ketika kita masih bersama, ketika waktu masih ada, ketika napasku masih ada, Nak…”

Terbersitkah dibenakmu, seberapa jauh hubunganmu dengan keluargamu? Berapa lama waktu yang kita habiskan bersama mereka? Pernahkah kita berbagi kisah bersamanya?

Buku ini sangat menyentuh, setiap cerita mempunyai nilai lebih tersendiri. Dan buku ini cocok buat menemani waktu santaimu ^^

Nama: Tri Indah Permatasari
Twitter: @LiebeIs0503
Email: triindah.permatasari@yahoo.co.id
Facebook: Tri Yusuf Ciduk

“Tentang Kita Reading Challenge – Stiletto Book”
Profile Image for Sari Widiarti.
68 reviews3 followers
August 20, 2020
Kumpulan cerpen (kumcer) yang ditulis oleh Reda Gaudiamo terasa istimewa saat aku membaca sebuah tulisan cantik yang ditulis oleh pemimpin redaksi tabloid wanita ternama. Seorang pemimpin redaksi menanti – nanti hadirnya kumcer dari Reda Gaudiamo. Apa istimewanya?

Menulusuri daftar isi, terdapat tujuh belas judul cerpen, judul yang sangat sederhana, yaitu : Ayah, Dini, dan Dia ; Mungkin Bib Benar ; Anak Ibu ; Potret Keluarga ; Tentang Kita ; 24 X 60 X 60 ; Si Kecil ; Perjalanan ; Bayi ; Menantu ; Taksi ; Minggu Dini Hari ; Aku: Laki – Laki ; Maaf ; Cik Giok ; Dunia Kami ; Pada Suatu Pagi.

Ayah, Dini, dan Dia merupakan cerpen pembuka. Bercerita tentang kedekatan antara anak (Dini) dan Ayah. Tema yang diangkat memang sederhana, bagaimana ketakutan Ayah ketika Dini ketika memilih pasangan hidup, apalagi pasangan hidup yang dipilih dini (Yos) tak jauh berbeda dengan Ayah yang juga seorang seniman. Ayah tak ingin masa depan Dini sepeti Ibunya, yang rela melepaskan kesempatan emas agar tidak menciptakan perbedaan besar hanya karena Ayah seorang seniman. Saat muda, Ayah memiliki impian besar untuk memiliki galeri, impian yang tak kunjung terwujud, apalagi kebutuha hidup yang semakin mendesak, akhirnya Ibu Dini harus bekerja untuk biaya pendidikan Dini dan mencukupi kebutuhan hidup. Dari pengalaman hidup yang Ayah lalui, tak ingin sekalipun Dini merasakan apa yang Ayah rasakan saat hidup merasa “kalah” dari Ibu Dini sebagai wanita karir. Apalagi lelaki yang dipilih Dini hanya seorang pegawai yang berstatus bawahan Dini.


selanjutnya di http://resensibukublog.blogspot.co.id...
Profile Image for Carolina Ratri.
Author 26 books40 followers
April 20, 2015
Cerita-cerita dalam buku Tentang Kita ini memang padat, ringkas dan lugas, seperti yang sudah kita lihat pada judul-judulnya.

Memang betul, sepertinya ciri khas dari cerpen-cerpen yang ditulis oleh Mbak Reda memang penggunaan kata-kata lugas, karakter tokoh-tokoh yang juga sangat jelas, dan yang terakhir ini yang penting, pemilihan tema yang sederhana dan menyentuh. Mbak Reda tak pernah “mengada-ada” dalam setiap ceritanya. Tak pernah dia tulis, cerita-cerita ajaib macam dongeng, tak pernah juga dia menggunakan kata-kata yang terlalu puitis melintir-lintir. Mbak Reda lebih memilih memotret lingkungan sekitarnya, lalu melukiskannya lewat kata-kata bernas dan singkat, tak bertele-tele.

Ada cerita tentang seorang ayah yang posesif pada anak perempuannya, ada cerita tentang ibu dan anak, tentang rasa iba pada sesama, tentang kerinduan ibu menimang buah hati dan lain sebagainya.

Buat saya, saya belajar banyak sekali dari buku kumpulan cerita pendek ini. Saya belajar untuk tak terbang terlalu tinggi saat sedang memikirkan ide, saat sedang memikirkan pemilihan kata-kata yang saya pergunakan. Terlebih lagi, saya belajar menyampaikan pesan lewat cerita secara tersirat. Saya belajar cerita to the point, bahwa imajinasi bisa dibawa ke mana saja, tak perlu terbang ke awang-awang.

More review >> http://www.redcarra.com/tantangan-men...
Profile Image for Ayu Fitri.
Author 8 books12 followers
December 1, 2015
Aku kasih 3.5 bintang.
Ih, cerpennya bagus-bagus deh.
Ini pertama kalinya aku baca tulisan mbak Reda dan kayaknya ciri khas tulisannya ada di dialog-dialog yang mendominasi cerpen.
Dalem banget deh cerita-cerita yang ditulis mbak Reda.
Jadi ikut sedih karena bener-bener sesuai sama kenyataan sehari-hari :(
7 reviews
May 3, 2016
Menurut pemikiran saya yg subjektif, ada 1 tema khusus yg sangat jelas di buku ini, yaitu pesan pengarang supaya kita tidak menunda2 melakukan sesuatu yg penting dlm hidup. Konsekuensi dr menunda2 kdg terasa seperti hukuman yg sangat berat. Ini pelajaran yg saya dapatkan dari buku ini. Trus ada 1 lg yg saya kurang sreg: yaitu cerita yg sedikit horor, brrrrrrr seremmmm
Profile Image for Herlina P Dewi.
Author 9 books31 followers
May 12, 2015
Buku yang bagus untuk kontemplasi batin :) Berisi 17 cerita pendek yang sampai sekarang masih nempel di kepala. Masing-masing punya rasa dan warna sendiri, seperti yang tergambar dalam covernya.
Profile Image for Nenden Arum.
19 reviews4 followers
December 31, 2015
Buku yang manis untuk jadi bacaan di penghujung tahun. Reda Gaudiamo membuat kisah-kisah yang sederhana tapi menghujam dan membuat ceritanya terus berkelebat dalam ingatan.
Displaying 1 - 21 of 21 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.