“Aku akan membawa kalian semua bersamaku, satu per satu.”
***
Pembunuhan berantai. Tujuh anggota Constantinopel. Pesan berbahasa Turki. Dan, jari kelingking yang hilang. Bima berpikir keras. Waktu bergerak cepat dan menjadi sangat berharga. Kasus ini menyeret Bima pada serangkaian peristiwa mengerikan. Semua ini harus segera dihentikan sebelum si pembunuh beraksi lagi.
Tapi, kenapa mereka diincar? Untuk apa semua kematian ini? Dan yang terpenting… Siapa berikutnya?
Saya tidak menyangka kalau akhirnya saya sangat menikmati membaca Konstantinopel. Buku thriller lokal ini tidak kalah dengan buku sejenis yang hasil terjemahan. Settingnya yang di Indonesia tidak lantas membuat buku ini jadi konyol atau terkesan meniru. Tidak, buku ini seperti punya jiwanya sendiri, sesuatu yang membuat saya hanyut dalam lembar-lembar di dalamnya. Ikut deg-degan menebak siapa korban berikutnya. Geregetan melihat ulah si pembunuh. Ikut asyik menebak siapakah sebenarnya sang pembunuh. Ketika tanpa sadar halaman terakhir sudah di depan mata, barulah saya berharap seandainya saja buku ini lebih tebal sehingga bisa terus menemani aksi Putra Bimasakti dalam mengungkap kejahatan. Jadi, tentang apakah buku ini?
Konstantinopel dibuka dengan terbunuhnya seorang caleg DPR bernama Ine Wijaya saat mobilnya tertabrak kereta api. Kedua, telah terjadi kebakaran besar yang memakan korban dalam jumlah yang tidak sedikit. Kebakaran itu turut menewaskan Sandra Sienna Dewi, yang juga menjabat staf administrasi gedung DPR. Sebelumnya, tidak ada yang menduga kalau kedua peristiwa itu berkaitan sampai terjadilah suatu insiden yang sama. Kedua korban sama-sama kehilangan jari kelingking sebelah kiri. Kebetulan lain yang cukup mencolok adalah kedua korban sama-sama teman dekat dari Cinta Clarisa, anak angkat dari Presiden RI.
Putra Bimasakti, 23 tahun, baru saja diangkat sebagai asisten dari wakil kepala BIN. Di hari pertamanya, dia sudah mendapat tugas berat dari pimpinannya, Catur Turangga, untuk menyelidiki dua kejadian tersebut. Apakah terbunuhnya Ine dan Sandra hanyalah sebuah kecelakaan, ataukah sebuah pembunuhan. Dengan otaknya yang cerdas, Bima sudah merasakan ada sesuatu yang janggal pada kedua kasus itu. Semacam benang merah menautkan peristiwa-peristiwa mengerikan di seputar putri sang presiden. Dengan bertugas sebagai sopir pribadi sekaligus pengawal Cinta Clarisa, Bima berhasil mengetahui fakta tentang Konstantinopel.
Berdasarkan pembicaraannya dengan Rohman Abdurrahman, seorang wartawan yang juga pernah dekat dengan Cinta, terungkaplah bahwa baik Ine, Sandra, Rohman, maupun Cinta pernah tergabung dalam Konstantinopel bersama tiga orang teman mereka yang lainnya. Konstantinopel dibentuk ketika ketujuh orang itu sempat kuliah bersama-sama di Universitas Instanbul, Turki. Mereka adalah Ine, Sandra, Cinta, Rohman,Januar, Juan, dan Felix. Dipertautkan bersama oleh ikatan yang sama sebagai sesama mahasiswa yang merantau ke Turki, ketujuhnya pun kompak bersahabat dan membentuk kelompok perkawanan yang dinamai Konstantinopel. Sayangnya, sekembalinya ke Indonesia, persahabatan ketujuh anak muda itu semakin renggang dan diwarnai konflik kepentingan.
Kembali anggota Konstantinopel dipersatukan dengan terbunuhnya dua anggota mereka. Belum jelas apa gerangan yang terjadi, pembunuhan ketiga terjadi, kali ini menimpa ******. Sama seperti dua kasus sebelumnya, si pelaku juga mencuri kelingking korban yang sebelah kiri. Polisi maupun BIN sama-sama mulai mengenali adanya suatu rencana rahasia di balik tiga peristiwa ini. Satu demi satu anggota Konstantinopel dibunuh, ini adalah sebuah pembunuhan berantai dengan skema tertentu. Sampai di sini, saya teringat pada novel-novel Dan Brown (dan tampaknya penulis memang mengikuti gaya penulisan Dan Brown) yang berpola pembunuhan berantai dan si pembunuh misterius meninggalkan jejak yang sama-sama misteriusnya. Dalam hal ini, kelingking yang hilang adalah jejak si pembunuh.
Sementara 4 anggota Konstantinopel semakin waswas dengan keselamatan dirinya, Bima harus membantu atasannya untuk memecahkan kasus ini. Alibi keempat anggota Konstantinopel dipertanyakan, mereka juga harus mendapat pengawalan rahasia dari polisi. Bima bahkan sempat mengejar si pembunuh ******, tapi sayangnya si pembunuh entah sangat gesit, jago, dan juga berfisik prima. Semua petunjuk semakin membingungkan Bima, sementara waktu terus berjalan dan media massa sudah panas dengan rangkaian kejadian tragis itu. Sementara itu, korban keempat pun jatuh, kemudian korban kelima, dan selanjutnya dan selanjutnya.
Walau belum sempurna, Konstantinopel memiliki alur cepat, dengan potongan-potongan cerita yang pendek dan meloncat-loncat sehingga membacanya semakin membuat penasaran semakin ke belakang. Siapa pembunuhnya, siapa korban berikutnya, mengapa dia membunuh, dan mengapa jari kelingking korban harus hilang. Secara tersirat, penulis sebenarnya sudah memberikan petunjuk di tengah-tengah cerita tentang identitas si pembunuh, pembaca hanya harus peka saja. Kalau terbiasa baca buku-buku detektif, kemungkinan bisa menebak si pembunuh, tapi saya pun sempat gagal menebak karena memang tokoh itu benar-benar tidak terduga.
Selain itu, masih ada beberapa “bolong” dalam novel ini, meisalnya tentang mengapa yang diambil adalah kelingking sebelah kiri, mengapa harus Turki, juga beberapa scene yang menurut saya terlalu hero, misalnya ketika Bima mengobrak-abrik MABES POLRI serta saat Bima nekat terjun dari lantai 6, dan tidak apa-apa meskipun hanya ditadahi oleh kain penyelamat. Tapi, dengan mengabaikan sejenak bolong-bolong itu, Konstantinopel sangat seru untuk diikuti. Saya habis membacanya dalam satu hari karena di samping kertas dan fontnya yang enak dibaca, juga karena penasaran dengan siapa si pembunuh sebenarnya. Setelah Misteri Patung Garam, semoga akan semakin banyak lagi muncul novel-novel karya penulis lokal yang seperti ini.
Konstantinopel, dari namanya saja sudah berbau sejarah, tetapi buku thriller lokal ini tak menggunakan sejarah yang rumit di dalam inti ceritanya. Nama Konstantinopel hanya digunakan sebagai nama sebuah kelompok eks-mahasiswa Indonesia yang pernah berstudi di Istanbul, Turki. Menjadi menarik ketika tujuh anggota geng Konstantinopel ini secara kebetulan sangat dekat dengan dunia perpolitikan di Indonesia, ada seorang putri presiden, seorang calon anggota dewan, sampai seorang wartawan yang tulisannya vokal mengkritik pemerintahan berjalan. Konflik dimulai ketika seorang anggota Konstantinopel tewas gara-gara tertabrak kereta dan kehilangan jari kelingkingnya, mulai dari sinilah maut mengincar Konstantinopel, pembunuhan berantai pun dimulai.
Tokoh utama buku ini ialah Bima. Seorang lulusan terbaik STSN (Sekolah Tinggi Sandi Negara) yang didapuk menjadi asisten Waka BIN (Wakil Kepala Badan Intelijen Nasional). Bima bersama si Waka BIN, yaitu Pak Catur, turun tangan untuk terjun langsung menangani kasus ini. Bima, seorang pemuda berusia hampir 23 tahun, masuk ke dalam dunia pembunuhan berantai dalam kasus perdananya sebagai Asisten Waka BIN. Predikatnya sebagai lulusan terbaik memang terbukti ketika ia berhasil memecahkan kasus ini melalui jalan yang berliku, dan agak lebay.
Buku thriller lokal ini menurut saya segar isinya. Konflik politik dijadikan latar belakang sebuah kasus yang bisa dibilang sadis, membuat buku ini sukar ditebak, apalagi dikaitkan dengan Konstantinopel, pasti menjadi makin sulit ditebak. Jujur saja, saya enjoy membaca buku ini, isinya membuat penasaran akan konflik yang akan terjadi berikutnya, walaupun memang ada bagian di buku ini yang agak konyol, terutama tentang si tokoh utama, yaitu Bima. Entah ya, kalau menggunakan logika, apa mungkin seorang anak ingusan berusia 23 tahun dapat dengan mudahnya bertemu presiden, sedangkan ia hanya asisten dari seorang Waka BIN. Belum lagi, Bima ini kok kadang-kadang polosnya gak ketulungan (sampai gak tau fasilitas T9 di hp), tapi di akhir buku dia berubah, menjelma menjadi seperti Van Diesel di The Fast and the Furious, how could it be?
Ada baiknya, apabila si Bima ini mau dibuatkan sekuel, sebagai detektif partikelir mungkin, penulis bisa belajar dari pasangan Kosasih-Gozali-nya Ibu S. Mara Gd. Memang, agak banyak cerita cinta yang mengiringi kisah pasangan ini, tapi menurut saya, kalau tentang dunia perdetektifan dan perkasusan, cara pemecahan dan penanganan kasus oleh Kosasih-Gozali sangat brilian. Pembunuhan yang terjadi cukup masuk akal, dan tentunya tanpa melibatkan adegan-adegan stuntman yang agak lebay itu. Satu hal lagi, tentang dunia pendidikan, ada satu istilah yang cukup mengganggu saya dalam penulisannya, yaitu bagaimana penulisan “pH”, soalnya di buku ditulis “PH”, yang artinya “Rumah Produksi”, bukan “Derajat Keasaman”.
Lanjutkan, saya yakin dengan penulisan yang lebih matang, Putra Bimasakti bisa menjadi salah satu ikon detektif di Indonesia. Ya, kalau bisa bagian ending di buku ini juga agak diubah, yang adegan lebaynya itu lho, kayanya impossible hal itu terjadi di Indonesia. Mau ditaruh dimana muka Kabareskrim kalau semudah itu diayam-ayamin sama anak ingusan 23 tahun? :)
"Aku akan membawa kalian semua bersamaku, satu per satu!"
Itulah pesan yang ditinggalakan oleh pelaku pembunuhan berantai yang berhasil menggoncang stabilitas negara. Sebab pembunuhan berantai ini terjadi di tengah hiruk pikuk menjelang Pemilu. Terlebih, para korban pembunuhan ini bukanlah orang biasa. Mereka adalah sekelompok anak muda Indonesia yang pernah berkuliah di Turki dan menamai kelompok mereka sebagai "Konstantinopel".
Selain orang penting, anggotanya juga merupakan anak pejabat. Sebut saja, Ine Wijaya, korban pertama pembunuhan itu merupakan caleg terpilih yang tertabrak kereta api. Anggota kedua yang selanjutnya menjadi korban adalah Sandra Sienna Dewi lewat kebakaran besar di sekitar tempat tinggalnya. Sekalipun kematian mereka terlihat seperti kecelakaan biasa, ada benang merah dari setiap kematian yang terjadi, yaitu hilangnya jari kelingking korban. Demikianlah, nyawa lima anggota Konstantinopel lain pun tengah terancam.
Adalah Putra Bimasakti, seorang pemuda fresh graduate lulusan terbaik STSN yang baru saja ditempatkan sebagai Staf Ahli Bidang Politik sekaligus asisten Wakil Kepala Badan Intelejen Negara. Dia harus ikut terlibat dalam memecahkan pola yang digunakan pelaku pembunuhan. Hal ini tentu saja untuk menghindari lebih banyak korban dan pelaku tidak lagi bebas berkeliaran. Mampukah Bima mengungkap misteri di balik kelingking yang hilang?
Saya membaca Konstantinopel (sesuai saran penulisnya) tanpa ekspektasi apapun. Hanya ingin masuk dan menikmati cerita di dalamnya. Alasan saya membaca ini juga karena ini novel teman sendiri. Tetapi saat membacanya, saya lupa kalau yang nulis ini teman saya.
Menurut pengakuan penulisnya, novel ini ditulis sebelum dia mengenal apa-apa tentang teknis menulis. Saya tidak percaya itu. Karena novel ini tidak seburuk yang disebut-sebut penulisnya. Kalau tidak salah, novel ini ditulis dan dikirim ke penerbit sekitar 2011. Dan baru diterbitkan sebulan yang lalu. Penantian yang cukup panjang. Tentu saja selama itu pengetahuan dan pengalaman penulisnya terus bertambah dan berkembang.
Saya merasa, satu-satunya kekurangan novel ini adalah KURANG TEBAL. Tersebab ruang yang sempit ini membuat penokohan tidak tergarap dengan baik. Tokoh Bima, Cinta, dkk. bukanlah tokoh yang akan terus saya ingat. Selain itu, ruang yang singkat ini membuat semuanya serba sekilas dan hanya di permukaannya saja, tidak mendalam.
Saya juga menyayangkan adanya kesalahan ketik dalam novel ini, jika dihitung bisa lebih dari tiga. Terutama yang paling fatal ada di halaman 18 disebutkan bahwa itu adalah pemilu tahun 2010. Padahal di awal, ini adalah pemilu tahun 2011. Saya sampai harus menghitung ulang, yang benar yang mana. Ini hanya sekadar catatan untuk perbaikan di cetakan selanjutnya. Over all, permulaan yang bagus. Novel selanjutnya dari penulis yang sama layak untuk dinantikan.
Oppa sugha, congratulations!!! 5 bintang untuk novel ini. Sebenarnya saya tidak terlalu suka membaca novel yang berbau pembunuhan dan detektif seperti ini (kecuali komik). Ini merupakan novel pertama tentang pembunuhan yang saya baca. Novel ini mengisahkan tentang lulusan STSN yang memecahkan misteri pembunuhan berantai yang disebut dengan pembunuhan berantai konstantinopel. Saya kagum dengan cara penyampaian adegan action, sangat nyata. Ceritanya tidak membuat bosan, pembaca dibuat melompat-lompat setiap adegan. Tetapi sangat disayangkan, sang pembunuh berantai mudah sekali ditebak. Sangat disayangkan pula, penulisan novel ini terlalu kaku. Terlalu sesuai dengan SPOK. Meskipun begitu, novel ini sangat menarik untuk dibaca!!!
Cerita tentang investigasi yang dikaitkan dengan cara kerja institusi profesional macam BIN dan Polri selalu menarik dan bikin penasaran. Apalagi kalau latarnya tidak mengada-ada.
Untuk kasus pembunuhan kelompok Konstantinopel ini jalan ceritanya oke tapi terlalu tergesa-gesa. Anyway, suka dengan alurnya meskipun sudah bisa tertebak pelakunya di paruh akhir ceritanya.
Tokoh Bima benar-benar bikin gemes dengan 'kecerobohannya' tapi terbayar dengan kecerdikannya dalam menganalisis siapa dalang dibalik peristiwa pembunuhan yang menimpa kelompok alumni Konstantinopel itu.
Saya ingin membaca buku ini karena review nya cukup positif di goodreads dan saya membacanya .... Ok sebentar ini novel tentang apa yah?
Pembunuhan berantai terhadap alumnus Universitas Istanbul di Turki satu persatu di bunuh menjelang pilpres. Bima agen terbaik BIN (temenan ama Zen Wibowo gak ya dari "Koin Terakhir" ?) Dikerahkan untuk mencari pelakunya.
Saat pertama kali baca sih opening nya lumayan oke, lalu masuk kepada tokoh pengenalan Bima entah kenapa tokoh ini kok rada koplak yah, seneng bercanda, gampang di bully, dan banyak humor membuat saya agak sedikit ilfil dengan tokoh yang katanya lulusan terbaik STSN tersebut.
Memasuki babak selanjutnya agak sedikit boring karena banyak pengulangan kasus yang kurang bergerak maju, lalu ada unsur action yang heboh bak 007 membuat novel ini menjadi semakin tidak realistis.
Eittss tunggu dulu
Memasuki babak akhir, novel ini benar2 seru, actionnya dapat digambarkan secara baik dan membuat pembaca akan terus membuka lembaran berikutnya lalu metode pengungkapan kasus yang brilian dari Bima membuat ia dari zero to hero.
Tidak ada yang baru dalam novel ini, karena novel ini murni "textbook thriller".
Tapi untuk kategori lokal beberapa kekurangan lainnya adalah minimnya detail dan bahkan hampir tidak ada dalam novel ini sehingga masing2 tokoh terlihat kosong dan tidak ada jiwanya.
Kelebihannya adalah buku ini menawarkan penyegaran dari buku2 yang beredar dan memberikan warna serta menyenangkan dan menghibur juga menambah wawasan dengan insting yang tajam dari cara Bima mengungkap kasus.
Tokoh Bima apabila dibuat sekuel yang tidak harus terkait dengan buku sebelumnya saya rasa akan sangat menarik dan ditunggu.
Agak heran juga saat menemukan buku ini diantara buntelan sajen dari King of Buntelan aka Dion Yulianto. Pertama jelas sudah, karena ini buntelan dari Dion. Bayangkan, Dion rela berbagi *pingsan dengan anggun*. Kedua karena kovernya mengusung warna merah. Dion tahu saya tidak suka warna merah, tapi kalau sampai tetap mengirim buku ini tentunya ada sesuatu yang spesial. Baiklah, mari kita baca.
Hemmm Hemmm Kok..... Eh....... Ah....... Mari membuat repiu
Ben, benimle butun, goturecegim, birer-birer (silahkan manfaatkan perangkat alih bahasa ya)
Cinta Clarissa, Januar Tan, Felix Marpalele, Juan Sandjaya, Roman Abdurrahman, Ine Wijaya serta Sandra Sienna Dewi bersahabat ketika sama-sama menempuh pendidikan di Istambul, Turki. Sebagai sesama perantauan di luar negeri tentunya membuat mereka memiliki ikatan batin satu dengan lainnya. Mereka menyebut diri sebagai Konstantinopel.
Sayangnya, ketika kembali ke tanah air pershabatan tersebut mulai mencari jalannya masing-masing. Perbedaan kepentingan serta pihak yang juga ikut campur dalam persahabatan tersebut. Hal tersebut membuat mereka sudah tidak seakrab dahulu mesti tetap menjalin komunikasi dengan sesama.
Suatu ketika, terjadi pembunuhan dengan korban dua dari anggota Konstantinopel. Jelas pembunuhan bukan kecelakaan penurut pihak kepolisian, karena kelingking kiri kedua korban hilang! Belum lagi pesan yang disampaikan saat pembunuhan ketiga.
Pada awal membuka buku ini sebenarnya tidak ada ekspektasi apa pun, hanya sekedar penasaran dengan tulisan teman penulis yang satu ini dan tema yang nggak romance yang ditawarkan. Namun setelah menyelesaikan novel ini, harus kuakui, ternyata tulisan penulis yang satu ini cukup menjanjikan - meskipun belum sempurna.
Novel ini berkisah tentang Bima, seorang pegawai baru di BIN yang bertugas sebagai salah satu staf ahli politik - yang menurut aku nggak memiliki fungsi berarti- sekaligus asisten wakabin yang terlibat dalam kasus pembunuhan berantai, Konstantinopel.
Menurutku, novel ini cukup menarik untuk diikuti. Hanya saja mengenai bab-bab awal novel ini agaknya kurang riset, terdapat berbagai kejanggalan di dalam struktur organisasi BIN, karakter dan latar belakang pendidikan Bima serta beberapa kesalahan data - seperti penyebutan Banten sebagai kota padahal Banten adalah sebuah provinsi. Namun saya cukup salut dengan penjabaran penulis mengenai sistem pemilu dan intrik-intriknya, serta penyelesaian kasus Konstantinopel ini. Cukup make-believe.
Dan, sedikit kesal dengan karakter Bima yang tidak mirip karakter agen yang terlatih untuk BIN, padahal katanya dia adalah lulusan terbaik. Mungkin kurang pengalaman kali ya, secara baru masuk. Hmmm...
Tapi, overall, novel ini cukup menarik untuk diikuti. Jika penulis terus konsisten untuk mengembangkan tulisannya dalam genre ini, mungkin novel-novel selanjutnya akan menjadi lebih luar biasa daripada yang ini. Good job untuk novel perdananya.
Saya pribadi menilai bahwa poin plus dari novel ini terletak pada pemilihan tema dan cara penceritaannya. Selain itu, detail pada akhir ceritanya pun tidak bisa tertebak. Tapi, kalau kalian membacanya dengan lebih jeli, kemungkinan untuk membaca bagaimana akhir ceritanya saya pikir bisa-bisa saja tapi mungkin tidak sampai ke detail-detail-nya. Dari segi penceritaan, saya tidak merasa ada masalah. Walau memang kalau boleh jujur terdapat beberapa part yang menurut saya agak wagu.
Sementara itu, kalau dari segi teknis, ada beberapa kata yang –kalau saya tidak luput dalam mencermatinya, salah penulisan. Misalnya seperti pada halaman 38 paragraf ketiga, di mana kata “mendengarnya” tertulis menjadi “mendengar nya”. Untuk segi sampul sendiri kebetulan saya menyukai desainnya. Sederhana. Tapi cukup mencolok perhatian mata karena warna merah yang digunakannya.
Saya tak memiliki harapan apa pun saat membaca novel thriller petualangan Indonesia yang satu ini karena satu yang saya inginkan adalah hiburan dan ternyata novel Konstantinopel ini memberikan hiburan yang mengasyikkan bahkan jauh lebih menghibur daripada menonton film thriller petualangan serupa di bioskop. Entah mengapa melihat sepak terjang agen BIN gagah berani yang muda usia seperti Putra Bimasakti ini membuat saya bersorak gembira. Oke, memang terdapat typo dan aksi-aksi yang mirip film laga Hollywood, tapi tetap saja itu tidak mengurangi rasa hiburan yang saya dapatkan, lalu saya yakin bahwa saya bisa menebak siapa dalangnya sejak awal dan memang tebakan saya betul 100%. Aneh jika saya bisa menebak dengan benar siapa dalangnya seperti ini biasanya saya pasti memberikan nilai rating yang cukup rendah, tetapi novel ini pengecualian karena begitu menghibur. Saya tunggu petualangan Putra Bimasakti berikutnya. Bravo Bang Sugha!
Bagus lho buku ini. Ga nyangka bakal secepet ini bacanya. Sebenernya pengen ngasih 4 bintang, tp karena udah bisa nebak pembunuhnya malah sebelum pertengahan buku jadi 3 bintang saja.
Pembunuhnya agak gampang ditebak, karena kalau kita membacanya lumayan cermat ada keganjilan2 yang keliatan banget ada di beberapa percakapan dan kejadian. Tapi sepertinya di akhir buku keganjilan itu memang dimaksudkan sebagai petunjuk. Dan adegan pas Bima kabur juga kayanya "Hollywood" banget yak, hehehe... Anyway, buku ini menghibur banget dan beneran ga bisa berenti bacanya. Buat yang suka baca cerita detektif, misteri dan sebangsanya harus baca deh. Salah satu karya anak bangsa yang oke banget. Dua jempol deh :)
"Aku akan membawa kalian semua bersamaku, satu per satu."
Awal beli novel ini adalah kenal sama penulisnya. Sebagai tambahan, cavernya simple tapi menarik. Tak disangka, saya menikmati Konstantinopel dengan sangat enjoy.
Bagian awal novel ini memang kurang mendukung nuansa "pembunuhan berantai",, tapi setelah dibaca lebih lanjut, Sugha menggulirkan petualangan Bima ini dengan gemilang. Teror pembunuhannya menarik.
Clue yang muncul di tengah novel membuat saya bisa menebak pelaku utamanya. Namun tidak mengurangi kenikmatan membaca kok. Sugha mengurai kisah Bima dengan cepat, melalui kalimat-kalimatnya. Lugas dan bertempo cepat cara menulis Sugha ini membuat konstantinopel memiliki 'rasa'nya tersendiri. Menarik.