Saya membaca buku ini dalam edisi terbitan Pustaka Pias yang terbit pada Februari 2024. Sebagai orang yang amat jarang membaca ihwal sejarah kesehatan, saya kira buku ini adalah salah satu pengantar yang amat baik, ringkas, serta sederhana untuk memahami perihal kesehatan dari sudut pandang sosial, politik, dan ekonomi. Buku ini bukan yang menjelaskan mengenai penyakit itu sendiri (jelas ini ranah medika, biologi, atau yang serumpun dengannya). Melainkan, buku ini merekonstruksi bagaimana di masa lalu penyakit itu dipandang, disikapi, ditangani, diperlakukan, dan kemudian diwacanakan dalam sebuah struktur masyarakat. Gani, sang penulis, menelusuri perihal penyakit kelamin sebagai salah satu penyakit yang ketika itu menjangkiti kawula Hindia Belanda di abad ke-19 dan 20, dan terutama kemudian penyakit itu direspons oleh pemerintah kolonial maupun masyarakat jajahan itu sendiri.
Melalui riset yang semula berupa tesis ini, Gani membongkar banyak hal perihal penyakit kelamin (sifilis) ini dipandang dari berbagai sudut (politik, kedokteran, maupun populer/sosial), dan kaitan penting apa dengan kekuasaan kolonial/Barat yang dominan dan menjajah ketika itu. Berbagai sudut pandang ini kemudian memperlihatkan sengkarut yang saling berkait: pemerintah kolonial khawatir karena penyakit ini menyerang tentara yang adalah tumpuan politik dan ekonomi mereka; dokter khawatir karena penyakit ini menyerang tubuh dan mengancam degenerasi; serta masyarakat waswas karena kehadiran sifilis berarti ancaman atas laku moral warga saat itu. Tidak kalah penting, Gani juga memperlihatkan bahwa dalam sejarahnya, penyakit kelamin juga berkait erat dengan persoalan stigmatisasi, utamanya perempuan, karena ada satu periode ketika sifilis disebut sebagai "penyakit perempuan" (kendati mereka yang terjangkit nyaris seluruhnya adalah laki-laki).
Dengan penelusuran sumber-sumber historis sezaman, Gani kemudian merekonstruksi bagaimana penyebaran sifilis ketika itu seolah menjadi dua sisi mata uang dari hadirnya modernisasi dan pemberadaban. Maka, seperti judul dalam edisi terbitan Pustaka Pias, Civilisatie/Syphilisatie, proses pembaratan (civilisatie) juga turut serta membawa penyakit kelamin (syphilisatie) yang hampir tidak mungkin ditolak. Ada paradoks di sini! Dan persis seperti yang ia tuliskan di epilog buku ini: "upaya untuk menganalisis satu penyakit bisa membuka lapisan-lapisan yang ada di dalam masyarakat, tegangan-tegangan antara berbagai kelompok, dan perebutan kuasa dalam bentuk dominasi pengetahuan di antara mereka." (hlm. 177). Artinya, sesuatu yang kerap dianggap natural seperti halnya penyakit, wabah, maupun virus, tidak pernah benar-benar alami karena ia terikat pada banyak sekali kepentingan politik, ekonomi, maupun sosial yang menyebabkan kemunculan dan penyebarannya.