Kumpulan esai Seno Gumira Ajidarma yang sebelumnya pernah diterbitkan dalam "Affair" (2004) dan "Kentut Kosmopolitan" (2008), ditambah beberapa tulisan di Djakarta! free-mag (hingga tahun 2013) yang belum pernah diterbitkan sebelumnya.
--------------
“Kota bukanlah hutan beton, kota adalah kebun binatang manusia.”
—Desmond Morris, The Human Zoo, 1969
Pernah membayangkan nggak, ada ojek ngetem di Menara Eiffel? Senandung seruling di tengah-tengah deru dan debu metropolitan? Begitulah Jakarta, di tengah-tengah pencakar langit dan kawasan elit Sudirman, terselip deretan tukang ojek yang setia mengantarkan Anda dengan jaminan layanan yang lebih cepat dan tepat dibandingkan mobil yang harus berjuang melintasi kemacetan. Hanya di Jakarta-lah kita bisa menemui eksekutif muda berdasi naik ojek karena takut telat meeting di gedung perkantoran pencakar langit.
Tiada Ojek di Paris, kumpulan esai-esai bernas Seno Gumira Ajidarma tentang masyarakat urban dan kota metropolitan. Tingkah polah manusia yang berubah seiring berubahnya persepsi tentang dimensi ruang dan waktu mereka akibat tuntutan kehidupan perkotaan yang serbacepat dan tak memberikan waktu untuk berhenti sejenak. Tentang orang-orang modern yang tertipu dan terkungkung oleh “kemodernannya”. Tiada Ojek di Paris akan membuat Anda mengernyit, tertawa dan akhirnya menanyakan makna menjadi manusia urban dan manusia modern.
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.
He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.
I might be one of the few people who question the statement “New York, the City never sleeps”. In my opinion, NYC sleeps, just late. Most places are closed even before midnight and the City will only leave you down with some diners. I might be wrong. So is there any city that never sleeps? Yes, the closest answer is Jakarta. The offices and shopping malls might be closing around 10pm but then life continues somewhere else. Cafés, bars, clubs, street market, and so many other places are still open past midnight. Then what? A massive amount commuters and traders will crawl around about 4am. Well, my quick observation of our lovely Jakarta seems to agree with this collection of Essays written by Seno Gumira Ajidarma entitled ‘Tiada Ojek di Paris’. Nope, not Paris, this book is about our sexy city, Jakarta.
This book contains a collection of essay that have been previously featured in ‘Djakarta! Magazine’, ‘Affair’, and ‘Kentut Kosmopolitan’. The writer gave his thoughts on Jakarta’s urban social and culture in the forms of critiques or sole observations. It begins with a classification of contemporary cities and how Jakarta fits with the groups. The first section can be tricky because it will give a ‘pretty- difficult-to-read-with-a-cup-of-coffee-kind-of-book’ first impression but the following satire will keep you sit, read, and enjoy with grin. Segments like ‘how much time Jakartans had spent in traffic’, ‘the significance of wedding present’, ‘the motorcycle people’, and ‘ojek phenomena’ are scenes that are happening around us everyday and somehow we can relate!
The only question in mind when reading this book is on the reason behind the inclusion of pictures of, mostly, Indonesian classic brands prior to every segment. I am sure the writer wants to build a philosophical bridge between the stories and the pictures. Anyhow, the book itself is quite refreshing.
Read Harder Challenge 2018 #13: An essay anthology
Hmm, sebagai salah satu Homo jakartensis saya ikut (men)tertawa(i), merasa tertohok, dan turut mngernyitkan kening selama membaca buku ini. Dari 44 cerita, judul buku ini diambil dari cerita ke 41 yang judulnya Ojek Sudirman - Thamrin: Tiada Ojek di Paris.
Banyak banget polah dan kelakuan orang-orang yang mengaku Homo jakartensis yang bikin melongo, kagum, bahkan terkikik.
Pokoknya buat yg ngaku anak Jakarta kudu banget baca buku ini. Biar makin kenal siapa diri kita yang sebenarnya. Sisipannya bikin nostalgia jg.
The city is not a concrete jungle, it is a human zoo, said Desmond Morris, a zoologist. This statement viewed cities with an emphasis on its people rather than its structures. However, which focus does it want to emphasise? The myriad variety of its people? Or the confines of city life, like a zoo, where people are caged from one another?
In this book, subtitled “Urban Talk”, Seno Gumira Ajidarma offers sharp observations about Jakartans in 44 stories, which are collected from his published columns in newspapers. These stories are strange, yet familiar and intimate. We have heard these stories before.
Jakarta Alienates “Ever since the 50s Jakarta has been a city that alienates people,” wrote the author. He went on arguing that city people aren’t bound by blood or culture, unlike their counterparts in the village. People come to Jakarta to fight, to work, to survive. These people often go on their own accord, alienating other people in the process.
Jakartans Hate Jakartans Small talk with “small people” (cab drivers, housemaids, security officers, coolies, and so on) often carries you to the point of “Where do you originally come from?” To which I have always answered almost spontaneously. (Sukabumi.) This answer have never failed to make the conversation more pleasant than before and carry the conversation further and farther away from Jakarta—to the places where they are originated. For some unknown reasons, there is no original Jakarta people. Betawi people, on the other hand, do exist, albeit rarely. Most Jakarta people are consisted of people coming from many places outside Jakarta. This urbanisation is the direct cause of uneven distribution (money, power, development) in Indonesia. For instance, Jakarta enjoys electricity every day for a year but cities in North Sumatra have to endure power crisis that includes deliberate power cut for many hours in a week. There is also a reason why online shopping is a hit for people living “outside the island” (outside Java, minus Bali). No wonder we will find every kind of Indonesian people from outside Jakarta in Jakarta. And no wonder people will dislike you if you proclaim yourself the real Jakarta people.
Jakarta Will Never Have “Ideal” Public Parks There is also a chapter regarding public parks in Jakarta. Public parks, that can be argued a product of European cities, are not a big hit here in Jakarta, for some reasons. If I may suggest just two: 1. The weather’s too hot 2. The pollution’s too dangerous. The author also observed an area in Jakarta with a luxurious apartment complex that offers a European style park with cupid statues and fountains. And because most luxurious apartment complexes are incarnations of slum areas, more often than not they are situated around shovels and huts. This one is no exception. Fences were erected to fend off people from the slums from enjoying the parks. But all the fences did was fending off the residents from entering the parks (permission from the building management needed). In the end there was only kids from the slums, who got in by jumping off the fence, playing water in the fountains under the afternoon heat. The irony.
Tiada Ojek di Paris (No Ojek in Paris) (note: Ojek is a motorcycle cab that runs independently before the rise of Go-Jek) offers many more of these stories, which are written in a rant, that will always have a place in Jakarta’s urban talk. This book is a reflection in the form of social critic addressed to discerning Jakarta people about their relationship with their city. A love-hate relationship.
Katanya buku ini adalah gabungan Affair + Kentut Kosmopolitan + layout bergaya Surat dari Palmerah = Tiada Ojeg di Paris.
Saya kira ini cuma kibulan Mizan saja. Seperti halnya yang dilakukan Bentang saat menyatukan "Jazz, Parfum, dan Insidien", "Saksi Mata", dan "Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara" dalam buku Trilogi Insiden. Pertanyaannya sih kenapa nggak esei-esei SGA di majalah/tabloit Djakarta! dari tahun 2008 - 2013 dikumpulkan saja jadi satu buku, yang walaupun jadinya pasti tipis banget mengingat sedikitnya tulisan tentang Jakarta yang SGA tulis di majalah Djakarta! selama medio tersebut. Atau terbitkan ulang saja Affair dan Kentut Kosmopoitan sambil menunggu kumpulan esei terbarunya terbit. Buat saya, saat membaca buku ini rasanya lumayan hambar. Seperti memakan nasi kemarin yang hampir basi. Tapi kalo dikategorikan sebagai koleksi, saya sih yakin dalam hitungan paling lama 5 tahun, buku ini bisa berharga mahal (seperti halnya buku-buku lama SGA lainnya)
Nggak ada masalah dari soal esei karena SGA selalu berhasil bikin kibulan baru tentang Jakarta. Tapi yaampun O' dewa kesenian, layout bagian dalam buku yang mencuri gaya "Surat dari Palmerah" sangat terkesan dipaksakan. Setiap penanda bab yang dibuka dengan cetakan iklan-iklan jadul kelihatan jelek banget. Penempatan gambarnya gak proposional (banyak gambar yang terpotong!), kualitas scanning yang butut, dan sebagian besar gambar malah terlihat pecah. Buat saya sih ini membuat mood membaca jadi jatuh. Sayang saja melihat kover buku ini cukup "catchy." Cieeee gitu aja sih.
Tidak ayal lagi buku ini memikat saya dengan gambaran secara nyata bagaimana muka Ibukota Jakarta sesungguhnya. Yang dimana penduduknya takut akan segala sesuatu (takut macet harus berangkat lebih pagi dsb), lebih menghabiskan lama waktu di mobil sehingga mobil menjadi rumah kedua, Kecuekan antara pejalan kaki dengan pengendara mobil, listrik yang lebih banyak digunakan untuk menghidupi mal-mal mewah di sudirman dan kafe di kemang ketimbang pelosok Indonesia Timur yang masih belum tersentuh listrik.
Itulah wajah dari Jakarta. Tempat berkumpulnya semua etnis suku dan budaya. Jakarta yang selalu ramai tanpa pandang bulu siang ataupun malam yang terasa hampa bagi penghuninya.
Yay! Akhirnya saya selesai juga membaca buku setebal 212 halaman ini. Butuh waktu empat bulan untuk menamatkannya. Empat bulan. Rekor! Beli tanggal 6 November 2015 dan baru kelar dibaca kemarin, 28 Februari 2016. Lama amat. Begini akibatnya kalau sebuah buku ditulis tidak bersambung seperti novel. Membacanya juga acak, mana yang judulnya paling menarik. Dan hanya untuk mengisi waktu senggang. Tapi sepertinya, memang seperti itu tujuan pengemasannya. Sebagai teman ngobrol di kala santai.
Pertama, menyindir. Tulisan-tulisan di buku ini hampir 99 % (nominal persen yang selalu berarti keseluruhan) berupa sindiran. Tentu saja hal ini berlaku bagi mereka yang merasa tersindir. Tersindir berarti mengakui dengan perasaan kesal, namun masih memiliki dua kemungkinan penerimaan yang bertolak belakang pengaruhnya. Sindiran tetap diterima sebagai sindiran atau sindiran yang berhasil ‘membuka mata’ (membuka mata ini nanti nyambung ke poin kedua). Keduanya tergantung bagaimana kita menerima. Tulisan Kang Seno—berhubung saya lagi di tanah sunda, panggilannya Kang saja, ya—yang berjudul Kartu Nama sungguh berhasil menyindir dan mencabik-cabik harga diri saya. Serius. Saya termasuk orang yang punya kartu nama, dan sangat bangga akan hal itu. 50 lembar kartu nama yang pernah dicetak perusahaan tempat saya bekerja kurang dari tiga tahun lalu sekarang tinggal sisa tiga lembar di dompet. Baru saja saya benar-benar menghitungnya. Berarti sudah 47 lembar tersebar ke mana-mana. Ini pertama kalinya saya memiliki kartu nama, pekerjaan sebelumnya tidak mengharuskan hal itu. Jika Kang Seno tetap bisa bekerja lebih dari normal dan selalu bisa dicari orang walaupun tidak punya kartu nama, sepertinya saya kebalikannya. Saya tidak bisa bekerja lebih dari normal, pekerjaan saya begitu-begitu saja. Saya juga selalu kesulitan dicari orang yang berhubungan dengan pekerjaan. Jelas saja, orang kartu namanya kebanyakan saya bagi ke teman-teman dan saudara-saudara yang bahkan tidak ada hubungannya dengan kerjaan. Apalagi kalau bukan buat pamer: Hei, ini, lho, saya. Sudah bekerja seperti cita-cita dan keinginan saya, keren, kan? Kira-kira seperti itu efek OKB, orang kerja baru. Yaa ada, sih, beberapa kartu nama yang berhasil diselamatkan dan pergi ke tangan yang seharusnya. Seperti kata Kang Seno, “ada dua fungsi kartu nama, yang teknis: artinya hanya nama, nomor, dan profesi, untuk catatan saja; dan yang berfungsi untuk menciptakan image—yakni menunjukkan bagaimana dirinya ingin dilihat.” Nah, itu saya kebanyakan yang kedua.
Kedua, membuka mata. Tulisan-tulisan yang 99 % berupa sindiran tadi telah berhasil membuka mata saya untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Jika seseorang hanya merasa tersindir dengan sindiran yang ditujukan padanya, dia hanya akan mendapatkan kekesalan yang berarti sia-sia. Sedangkan hidup terus berlanjut, orang lain sudah berjalan mendahului dirinya yang tadinya sempat berhenti karena kesal. Lalu, bagaimana sebaiknya bersikap? Mundur beberapa langkah untuk memasang aba-aba, buka mata lebar-lebar, dan lari! Ini saya ngomong apa, sih? Sebentar, mungkin saya kena pengaruh syndrome dukungan untuk Rio Haryanto. Tidak, tidak perlu berlari, cukup membuka mata lebar-lebar. Kemudian, lihatlah sindiran tadi dari berbagai sisi, sudut, dan dimensi. Sindiran itu biasanya (kalau tidak bisa dibilang: pasti) ada hikmahnya. Sindiran selalu melibatkan perhatian, kritisisme, kepekaan, dan harapan. Ya, harapan untuk menghasilkan sesuatu yang lain agar bisa dilakukan dengan lebih baik atau ditinggalkan agar kelak tidak melahirkan sindiran lagi, agar kelak tidak disindir lagi. Ngerti, kan, ya, maksud saya? Duh, maafkan, saya tidak berhasil menyusun kalimat yang lebih sederhana dari itu. Satu hal yang menarik dari buku ini adalah bagaimana Kang Seno bisa melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang tidak biasa. Hal-hal remeh yang orang lain tidak sadari, menjadi sesuatu yang menarik untuk diperhatikan. Sebenarnya Kang Seno dan kita melihat sesuatu yang sama yang terjadi di depan mata sehari-hari. Bedanya, kita melihat dan hanya melihat saja, sedangkan Kang Seno melihat, memikirkan bagaimana hal itu bisa terjadi, memikirkan untuk apa hal itu terjadi, memperhatikan apa dan siapa di sana, dan yang terpenting dia menuliskannya. Setelah membaca buku ini, saya jadi lebih sensitif dari biasanya. Melihat sesuatu yang kecil jadi besar, jadi sesuatu yang menarik, menguliknya, memikirkannya, dan tidak menuliskannya menjadi apa pun. :D Beberapa judul yang berhasil membuat saya membuka mata, seperti: Bajing Melintas di Kabel Listrik; Gresik United, Real Mataram, Tangerang Wolves; Premanisme; Uang Dengar; Seruling Bambu di Ruang Jakarta; Bukan Cengkareng/Tetap Cengkareng; Penyanyi Dangdut di Tepi Jalan; Dari Jakarta ….; Mahaselingan; Paranoia; Sarapan Berita; Listrik Mati; Taman; Mobil: Sebuah Mitos; Jakarta-Bandung, Bandung-Jakarta; Dimensi Ruang: Kisah-Kisah Jakarta; dan beberapa tulisan yang membuat mata tadinya sekedar melihat, begitu membaca tulisan Kang Seno jadi lebih terbuka. Jika kita sudah berhasil melihat sindiran dari berbagai sisi, sudut, dimensi, bayangan, dan keanekaragaman hayatinya, nanti akan menghasilkan keberhasilan ketiga, belajar dari banyak hal. Manusia yang disebut manusia adalah yang mau terus belajar. Jika manusia sudah tidak mau belajar, itu berarti mati, jadi zombie. Baiklah, baru saja saya mengarang argumen. Selama masih bernafas, manusia masihlah hidup. Jangan percaya argumen saya barusan. Itu sebenarnya kalimat motivasi buat diri sendiri.
Buku Kang Seno membuat saya belajar banyak hal dari sindiran-sindirannya yang menusuk sate. Eh, menusuk hati. Sebutlah tulisan yang berjudul Keberdayaan Gosip. Tadinya saya adalah perempuan yang sebisa mungkin ingin jauh dari yang namanya gosip. Kalau ingin jauh saja mungkin hal yang bagus, ya? Tapi, seperti yang disindirkan: “…. jika Anda “menghina” infotainment, sebetulnya Anda adalah bagian dari pemirsa atau konsumen aktif pula, tetapi yang secara total beroposisi. Untuk berada dalam posisi ini, Anda tak harus seorang intelektual pendiri LSM….” Saya adalah orang yang ingin dianggap intelektual dengan menjauhi yang namanya gosip, tidak menonton infotainment—walaupun tetap update perkembangan kabar para artis karena kerap ada saja yang memberitahu tanpa perlu ditanya—karena itu tontonan ibu-ibu setelah beberes rumah sambil menunggu anak dan suaminya pulang. Dan saya baru tahu, ternyata gosip justru merupakan sarana pemberdayaan sikap kritis.
Dan setelah dua tahun terlewati barulah buku ini saya tamatkan. Karya SGA yang saya baca pertama kali. Narasinya enak, ya namanya juga penulis kawakan mau tema essainya tentang apapun pasti bahan yg disampaikan nya berbobot. Buku ini mengupas tuntas tentang gambaran Jakarta dan orang-orang yang menghuninya baik itu yang asli atau cuma numpang hidup aja. Jakarta yang katanya urban city tapi ya masih ada menyimpan sisi-sisi yang sebenernya belum cocok dikategorikan urban. Macet, gaya hidup, penduduk dan berbagai masalah lain yang disampaikan oleh SGA di kumpulan essai nya yang selalu dibatasi oleh gambar-gambar lawas yg entah itu sebuah iklan atau bukan sebagai pembatas bab seolah-olah seperti ingin mengenalkan pada pembaca tantang tampilan Jakarta pada masa lalu. Saya rekomendasikan pada teman saya yang saat ini tengah numpang hidup di Jakarta, yg katanya urban city kata yg tinggal di sana. Oiya, Orang-orang Bloomington karya Budi Darma sempat disinggung di satu bab essai yg saya lupa judulnya, dan sepertinya saya harus membacanya agar tahu bagaimana caranya Budi Darma melakukan pendekatan-pengenalan tentang kehidupan di sana, apakah dengan berinteraksi secara langsung atau hanya bermodalkan pengamatan dari balik jendela kaca mobil seperti cerita orang-orang Jakarta.
Finish reading this book in one sitting, because it's just regrettable if I have to stop, even for a second, from reading the daily life of Homo Jakartensis living their life in Jakarta
As a Homo Jakartensis who barely live in Jakarta, this book really gave very entertaining point of view. When you're born in Jakarta and your whole entire family are from Jakarta, you don't necessarily claim yourself as a Jakartans but you just have to explain the 'whole' story.
I could not stop thinking about all the 44 stories about the behavior of Jakartans. Starting from how people have to buy certain coffee trademarks to claim social caste, handing out business cards to people who are not interested in showing off their positions, to shifting the meaning of the function of the car.
The stories are short and simple, but really touches the heart.
Memandang masalah dengan cara SGA selalu membuat saya tercengang dan tertawa. Beberapa tema tulisannya sebenarnya cukup umum dan sudah sering pula dibahas, namun gaya tulisan SGA buat saya memang tak akan pernah membosankan, dengan alur dan pemilihan kata yang jauh dari kata biasa.
Sengaja dilambat-lambatin bacanya karena sayang, tapi toh akhirnya harus berakhir pula kebersamaan kami.
Bacalah buku ini di tengah keriuhan dan keruwetan Jakarta, maka Anda--mungkin akan seperti saya, mengangguk-angguk paham menyetujui seraya "tertawa miris" begitu membaca setiap lembarnya, karena mungkin Anda--sebagai Homo Jakartensis mengalami "lelucon" yang sama setiap harinya. "What is the city, but its people?" ujaran Shakespeare yang dikutip sang redaktur di halaman pengantar buku ini sungguh ada benarnya. Kota adalah cerminan para penghuninya, dan mungkin para penghuni ini mencerminkan kotanya. Lalu, seperti cermin apakah Jakarta bagi para penghuninya dan sebaliknya? Melalui kumpulan esai yang berisi satire-satire mengenai kehidupan urban di kota metropolitan Jakarta ini, Seno Gumira Ajidarma terlihat sangat lihai membidik fenomena-fenomena yang sebenarnya "remeh-temeh" namun akrab di keseharian kita dengan tutur bahasa yang bak obrolan santai di beranda, namun terkadang tetap membuat pembacanya mengerutkan kening demi mampu mengikuti alur berpikirnya. Sebagai akademisi yang juga berlatar belakang ilmu budaya, membaca tulisan-tulisan "jenaka" Prof. SGA serasa mengikuti kuliah perbandingan budaya dengan teori-teori Foucault yang berisikan kuasa wacana dan sebagainya. Satu yang saya suka, di sini Prof SGA memiliki terminologi baru bagi orang-orang Jakarta, beliau menyebutnya Homo Jakartensis. Entahlah, semoga terminologi itu kita maknai semata sebagai cara untuk memudahkan penyebutan "orang-orang Jakarta", dan bukan sebuah ejekan atas satu spesies tertentu. Meski tulisan-tulisan di buku ini merentang antara tahun 2000 hingga 2013, namun jika dibaca semua, ternyata masih relevan dengan kehidupan urban di Jakarta saat ini. Misalnya, dalam esai bertajuk "Zebra Cross", Prof. SGA menuliskan: "Jika jalanan menunjukkan bangsa, apa yang mau dikatakan tentang Jakarta." Bahwa Zebra Cross yang memang secara nyata eksistensinya dapat dilihat di jalan-jalan raya ibukota itu tak jarang hanya tinggal nama saja. Bahwa betapa masyarakat yang berkendara umumnya tak mau mengalah pada para penyeberang meski mereka berada di Zebra Cross.
Wat's not to love about SGA? I love her short-stories during my high school and college years--and yes that's around 90s. But in 2000-ish, I prefer his sharp and witty essays though. So it's true what people say, that we get better with age.
Cukup berat bagi saya. Idenya sederhana, tapi tulisannya berbobot sekali. Dikonstruksi dengan kebanyakan teori kebudayaan dan lebih banyak opini subjektif penulis. Tidak terlalu subjektif sebenarnya, karena argumen yang representatif, setidaknya bagi saya yang sudah 5 tahun tinggal di Jakarta.
Kumpulan esai yang menarik dan akan saya jadikan panutan dalam dunia kepenulisan. Gaya menulis Seno memang khas, sindiran yang dibungkus dalam tulisan ilmiah. Terkadang bisa jadi bahan renungan tentang hidup di zaman modern. Saya banyak setuju dengan ideologi Seno.
Entah sesekali saya kurang paham dengan struktur yang dibangun, relevan atau tidak, mungkin karena perbendaharaan wacana saya yang kurang. Penyanyi Dangdut di Tepi Jalan, Sarapan Berita, dan Jangan (Terlalu) Percaya Media Massa menjadi tiga esai kesukaan.
Seno menulis dengan tata krama ilmu kepenulisan yang kental. Mengambil ide yang relevan, menarik, unik, aktual, dan sebagainya itu lah. Semoga suatu hari saya bisa menulis sekeren Seno Gumira Ajidarma.
Setelah kembali ke Rumah, saya baru menyadari bahwa identitas saya bukanlah orang banten, bukan juga terlalu orang Padang. Tapi identitas yang terkehendakinya adalah sebagai orang Jakarta. Oleh karenanya obrolan-obrolan pendek di buku ini buat saya adalah isu-isu yang dekat dan sangat Jakartanian sekali.
Walau kebanyakan isu yang dibahas masih valid, ada juga yang tidak seperti judul buku ini: “Tiada Ojek Di Paris”. ini bisa dipastikan muncul di era beberapa tahun sebelum bisnis glorifikasi ojek dicanangkan.
Membaca essay-essay pendek yang dicanangkan sebagai sebuah obrolan ini sungguh menyenangkan. Walau sangat terlihat SGA memikirkan topik2 ini dengan amat sampai menghubungkan ke referensi2 penting di dunia, beliau tetap menyampaikannya dengan cara yang hangat dan terkadang seperti gurauan nyeletuk saja.
Obrolan Urban ini menyenangkan, lebih menyenangkan lagi kalau kamu adalah salah satu homo jakartensis.
Ini buku pertama Mas Seno Gumira Ajidarma yang saya baca. Berisi 44 esai yang ditulis dengan gaya yang ringan tapi kadang bikin kening berkerut saat mengikuti pola pikiran penulis. Sangat menarik mengetahui bagaimana Jakarta dalam wajah yang mungkin berbeda dengan bayangan yang dimiliki banyak orang. Bagi saya yang bukan warga Jakarta atau pun pernah tinggal di Jakarta, buku ini seperti memberikan gambaran bahwa Jakarta bukan hanya tentang gedung-gedung megah pencakar langit atau pusat perbelanjaan mewah dan modernitas yang selama ini lekat dengan kota ini, tapi juga tentang masyarakat yang di dalamnya. Terkadang hal tersebut menjadi ironi yang dihadirkan dalam buku ini dalam balutan sarkasme.
Meskipun judulnya ada kata 'Paris', tetapi kumpulan esai dari SGA ini berkisah tentang kota metropolitan bernama Jakarta. Betapa Jakarta adalah kota yang terlihat megah, "maju", dan menjadi impian orang-orang desa bisa mengadu nasib di sana. Namun, benarkah begitu? Karena pada kenyataannya, Jakarta adalah kota yang sibuk dan kemungkinan besar kebanyakan orangnya mementingkan dirinya sendiri. Selain itu, tak jarang juga penduduknya merasa terasing dari lingkungannya.
Kumpulan esai ini membuat saya bikin geleng-geleng kepala karena beberapa isinya memang benar setelah saya bekerja di daerah Jakarta dan merasakan sendiri tentang keadaannya.
Yang ditulis di buku ini sebenarnya pandangan tentang Jakarta, yang selalu dianggap besar, hebat, mewah, padahal dalam kenyataannya penuh ironi. Walaupun saya bukan orang Jakarta (atau orang yang tinggal di Jakarta) beberapa esai di buku ini rasanya bisa saya relasikan dengan keadaan di kota tempat saya tinggali meskipun tidak sebesar Jakarta. Ada selipan-selipan kelucuan menyedihkan dan sindiran menohok khas Seno Gumira Ajidarma dalam buku ini. Setiap tulisan juga kaya akan referensi.
Ini merupakan kumpulan esai SGA yang bagi saya menarik, karena membahas hal-hal keseharian masyarakat urban, khususnya di Jakarta, yang lahir dari pengamatan penulis dan meskipun ditulis 10-23 tahun yang lalu, masih ada yang relevan dengan hidup sekarang (di kota kecil mungkin baru mulai dan/atau tidak terlalu sering terjadi, tapi di kota besar adalah hal yang lumrah). Asik dibaca saat santai sambil melamunkan polah tingkah manusia urban modern yang muncul dalam esai-esai ini ^^
Jakarta oh Jakarta. Long-term "Love-Hate Relationship" antara Jakarta dan Homo Jakartensis tergambar nyata dalam buku ini. Tidak tercantumnya tahun pada masing-masing tulisan, mengaburkan periode waktu sekaligus mengesahkan relevansi dengan hari ini dan menimbulkan pertanyaan, "Jadi, ternyata kita konsisten di kondisi ini ya? Akan pernah berubah kah?". Jakarta oh Jakarta.
Seperti mengulang tugas critical review semasa kuliah, tulisan SGA dlm kolom² majalah ini adl satire dr apa yang terjadi di sekitarnya. Jakarta dalam balutan angan yang paling banyak orang alami namun jarang disadari.
Banyak sekali tulisan-tulisan menarik dalam buku ini.. Dan yang menjadi top 5 menurut saya pribadi adalah: Ojek Sudirman-Thamrin, Jangan (Terlalu) Percaya Media Massa, Keberdayaan Gosip, Bukan Tontonan, dan Mode Kelihatan Pusarnya..
Kelimanya berhasil menyadarkan saya akan berbagai hal :)
Esai bernas Seno tentang kota, tepatnya Jakarta dengan beragam fenomena sosial yang menyertainya. Bacalah untuk sekadar membuka mata problematika kota -Jakarta- yang dari dulu sampai sekarang malah bertambah-tambah. Relevan
Udah lama gak baca kumpulan esai SGA, jadi baca lagi. Walaupun buku ini udah lama terbit tapi rasanya masih relevan dan masih enak dibaca. Seperti biasa selalu menarik melihat sisi-sisi homo Jakartaensis.
Selalu suka dg cerita komentar ttg kehidupan pinggir jalan yg sebenar-benarnya. Rupanya Pak SGA INI jg piawai dalam buat essay. Pengamatan Dan analisinya adil hehe.
Membincang Jakarta, berarti membincang keruwetan. Ini pertama kalinya saya membaca esai dari Seno. Sindiran-sindirannya pada manusia beton Jakarta cukup menggelitik dan membuat pembacanya berpikir ulang akan kehadiran 'homo Jakartensis' dan ruwetnya Jakarta itu. Membaca kumpulan esai ini tidak sebagai orang Jakarta membuat saya ingin mengutuk Jakarta-atas sentralisasinya- dan membuat bertanya-tanya, apakah Homo Jakartensis itu patut dikasihani? Hanya saja yang agak mengganggu adalah beberapa ilustrasi gambar seni rakyat yang terpaksa dibesarkan itu, sungguh tidak enak dipandang.
"Ideologi bukanlah konsep, melainkan praktik kehidupan sehari-hari itu sendiri." Hal. 89
Perdebatan wacana tentang sebuah kota selalu menarik untuk dibahas. Betapa keberadaaan sebuah kota bukan hanya soal nama saja, tetapi juga soal makna. Lebih jauh, soal keberadaannya secara historis, morfologis, dan sosiologis. Lalu, seperti apakah Jakarta dalam benak seorang Seno Gumira Ajidarma?
Apa yang SGA tulis disini tidak jauh berbeda dengan buku terdahulu, "Affair" dan "Kentut Kosmopolitan". Bagi yang akrab dengan "Surat dari Palmerah", bagian 'kesenian' buku ini mungkin sudah mafhum bagi anda. Gambar-gambar reproduksi dari produk budaya yang dihasilkan sepanjang sejarah perjalanan republik turut menghiasi bacaan ringan ini.
Obrolan ringan tentang Jakarta dalam buku ini dibuat ringan dan habis sekali baca. Maklum saja, buku ini adalah kumpulan tulisan SGA di "Affair", "Kentut Kosmopolitan", dan Majalah Djakarta! free mag. Walaupun begitu, muatan filsafat kental sekali dalam pembacaan.
SGA mempertanyakan, pernahkah kita melihat tukang ojek mangkal di sekitar Menara Eiffel, Paris. Tentu sudah lumrah bagi kita di Jakarta kalau seorang eksekutif muda berlarian untuk mengejar ojek supaya tidak terlambat ikut meeting di gedung-gedung pencakar langit sepanjang Sudirman-Thamrin-Kuningan.
Pertanyaan itu berlaku juga untuk hal-hal lain yang hanya ada di Jakarta. Contoh lain yang dekat dengan keseharian adalah dunia yang orang Jakarta buat dalam mobilnya sendiri. Ada ruang yang tercipta dalam kemacetan setiap hari. Pun, ketika bicara kesenjangan daerah dengan Ibukota dan gosip yang berkeliaran sepanjang hari di infotainment. Semuanya melekat dalam keseharian orang-orang Jakarta.
Silakan menikmati tingkah polah manusia yang selalu berubah seiring berubahnya persepsi tentang dimensi ruang dan waktu mereka akibat tuntutan kehidupan perkotaan yang serba cepat dan tak memberikan waktu untuk berhenti sejenak. Tentang orang-orang modern yang tertipu dan terkungkung oleh modernitas yang mereka buat sendiri. Pembaca silakan nyengir, tertawa atau miris, menyaksikan semua hal yang hanya terjadi di Jakarta. Dengan demikian, pemaknaan suatu hal dan ideologi-ideologi yang menukanginya menandakan sebuah pergulatan wacana yang interkontekstual.
Menyenangkan juga mendapatkan 2 buku baru Seno Gumira Ajidarma di bulan yang sama. Walau bukan kumcer, tapi selalu menyenangkan membaca tulisan Seno.
Yang sedikit mengejutkan kedua buku ini ternyata diterbitkan oleh Grup Mizan. Yang pertama Mizan yang kedua CAB. Tiada Ojek di Paris merupakan kumpulan tulisan-tulisannya dari majalah Djakarta!, tabloid Djakarta!, majalah Matra, dan satu tulisan dari Spaces Dimention Jakarta Stories, Latitutes. Ketiga majalah yang saya sebutkan pertama sudah almarhum, sedang yang keempat saya tak tahu.
Dapat dikatakan ini sebuah keberuntungan kecil. Kala ada majalah/tabloid menjadi almarhum, tulisan-tulisan di dalamnya juga seakan ikut lenyap. Terutama satu yang disorot adalah rubrik kolom. Generasi yang baru mungkin tak lagi tahu seperti apa majalah itu, apalagi tulisan kolomnya yang sebenarnya bisa menjadi gambaran trend saat itu. Untunglah konsistensi Seno menulis di jagat sastra membuat namanya terus diperbincangkan. Sehingga apa pun yang berkaitan dengannya, akan kembali diulas dan diterbitkan. Seperti kedua buku ini.
3 2
Tiada Ojek di Paris memperlihatkan gambaran yang jelas pada masa itu. Apalagi sejak awal buku ini sudah disebut sebagai obrolan urban. Sehingga –tak seperti saat membaca kumcer-kumcernya- kita tak lagi berpikir kemana-mana. Hal-hal yang dekat dengan masalah urban, diulas oleh Seno. Kopi, macet, mobil, gosip, dasi, mudik, pengamen, semua seperti tak ada yang ketinggalan.
Seno seperti menangkap semua hal yang mengganggu kepalanya, melemparkan kepada pembaca permasalahannya, lalu mengulasnya dengan gaya nakal, yang kadang terasa sekali kesarkastikannya.
Misalnya tentang bagaimana Seno menulis tentang kengganannya memiliki kartu nama. Karena masih menganggap bahkan kartu nama di negeri ini masih berarti; beri saya order. Atau saat Seno memecahkan alasan-alasan pemakaian nama-nama klub sepakbola kita semisal; Real Mataram, Gresik United, dll, namun pada akhirnya kembali dimentahkannya sendiri. Atau saat Seno mempertanyakan perihal uang dengar. Tema konyol ini bahkan ditulisnya dengan menghubung-hubungankan dengan teori Barthes, Fiske dan Hartley. Haiyah…