Kehilangan orang tercinta karena pembunuhan merupakan peristiwa traumatik yang pasti sulit dihapus dari kenangan. Hal inilah yang terjadi pada perempuan bernama Nani Nurrachman Sutojo. Ia kehilangan ayahnya, Sutojo Siswomiharjo, salah seorang jenderal yang menjadi korban G30S, 1965. Pengalaman traumatik yang dipendam selama hampir setengah abad, akhirnya tercurah lewat buku ini. Menurut Nani, tragedi yang merenggut nyawa ayahnya dan kemudian menjadi tragedi nasional ini, bukan lagi soal memaafkan atau melupakan. Bukan pula soal kalah-menang. Ini adalah soal upaya untuk berdamai dengan masa lalu.
Indra Ratnawati, nama lahir Nani Nurrachman Sutojo, lahir di Yogyakarta, 13 Mei 1950. Lulus sebagai sarjana dan kemudian meraih gelar doktor dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) 1993, dengan disertasi doktornya "Wanita Indonesia: Identitas Sosial, Diri Pribadi dan Pengembangannya dalam Organisasi Wanita". Nani menjadi dosen di almamternya UI sejak belum lulus kuliah sampai tahun 2000. Kemudian, sebagai dosen tetap pada Fakultas Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, mulai tahun 2001 sampai sekarang. Nani juga salah satu pendiri yang turut membenahi masa awal Program Studi kajian Wanita (sekarang namanya Program Studi Kajian Gender) Program Pascasarjana UI pada tahun 1990. Bersama Prof. Dr. Saparinah Sadli, sebelumnya ia menggagas mata kuliah "Psikologi Wanita" di Fakultas Psikologi UI. Nani juga pegiat dan penulis dalam berbagai kegiatan diskusi, simposium dan seminar untuk topik tentang rekonsiliasi dan pemulihan trauma pada para bekas tahanan politik pada tahun 1965 dan keluarganya. Ia juga menulis dan menjadi narasumber tema itu sampai yang terbaru adalah sebagai anggota tim perumus Simposium Nasional "Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan" pada 18-19 April 2016.
Sejak tahun 1980-an, aktif dalam organisasi profesi Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) sejak mula berdiri dengan nama Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia. Dalam HIMPSI menjadi anggota Majelis Psikologi, unit organisasi yang menangani masalah etika; tahun 2002-2014 untuk tingkat wilayah DKI Jaya dan tahun 2014-2018 untuk tingkat pusat.
Buku ini untuk memenuhi tantangan New Author Reading Challenge dan Yuk Baca Buku Non Fiksi 2015
3,3 dari 5 bintang!
"All of us, whether guilty or not, whether old or young, must accept the past. We older people do not owe youth the fulfillment of dreams, but rather integrity... We learn from our own history what man is capable of. Therefore we must not imagine that we have become, as human beings, different and better. There can be no finally achieved moral perfection..neither for any individual nor for any country" - Richard Von Weizsacker
Saya paling suka bagian ini dibuku ini..
"Jangan dilupakan, anak-anak saya dan generasi muda lainnya hidup di masa kini dan akan meneruskan kehidupan masa depannya. Berarti kepahitan masa lampau bertemu dengan harapan masa depan pada masa kini. Dalam bentuk apakah masa lampau akan diserahkan kepada masa depan? Ingatan masa lampau tidaklah lepas dari kandungan emosi yang menyertainya. Bila ingatan dan emosi yang demikian tidak diolah dan direfleksikan, ia akan mengalami represi dalam diri banyak orang. Ini membuka peluang untuk mengembangkan kehidupan masyarakat yang rawan akan sikap benci dan dendam. Untuk menghapusnya, harus ada sikap dan tindakan bersama yang berpaling dari masa lalu, tanpa melupakan kejahatan masa lalu. Sikap yang tetap menuntut keadilan, tetapi tidak menurunkan rasa keadilan itu pada tingkat balas dendam.
Dengan demikian kita dapat menerima masa lalu yang kelam, namun tidak membuatnya berseberangan dan menimbulkan kebencian, kekerasan, rasa benar, dan mau menang sendiri menjadi epidemik sosial. Kebnagkitan untuk hidup kembali dari penderitaan dan ketidakadilan harus dilihat sebagai realita untuk mau hidup bersama dalam pola hubungan antar-manusia yang baru." - Ibu Nani Nurrachman Sutojo, 2013
Bercerita mengenai kehidupan salah satu panglima gugur dalam tragedi 30 september pasca tragedi tersebut.
Berisi keterkaitan batin penulis dengan ayah setta trauma yang harus dihadapi sepanjang hidup. Menurut saya buku ini merupakan buku yang penting dalam mengubah pandangan pelajaran sejarah yang traumatik menjadi pelajaran yang baik untuk bangsa indonesia menjadi lebih humanis. Tidak hanya bercerita mengenai kenangan pahit yang dialami, penulis juga menceritakan usaha beliau untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa peristiwa 30 september merupakan peristiwa yang lebih besar daripada persoalan mana yang dirugikan dan mana yang diuntungkan, akan tetapi pelajaran yang dapat diambil sebagai sebuah bangsa untuk melanjutkan kehidupan sebagai bangsa yang lebih baik.
Saya sebagai seorang yang berada di lingkungan masyarakat kelas menengah ke bawah dan tidak memiliki latar belakang leluhuryang bersentuhan langsung dengan peristiwa 30 september, kesulitan untuk merasa lebih dari iba kepada penulis. Latar belakang keluarga yang berkecukupan serta interaksi dengan buku karangan tan malaka membuat saya cenderung untuk memosisikan diri sebagai seseorang yang terkena dampak pergerakan pasca peristiwa 30 september yang jauh lebih traumatik bagi masyarakat kelas bawah yang merupakan mayoritas pendukung PKI pada zamannya. Kesulitan saya untuk membuat cara pandang saya sesuai dengan penulis yang hidupnya didukung sepenuhnya oleh negara sebagai keluarga pahlawan revolusi menghambat diri saya untuk mengerti dan memahami secara pasti perasaan dan trauma yang dialami penulis.
Overall buku ini merupakan buku yang bagus dan penulis memberikan banyak insight baru melalui tulisan ilmiah yang tercantum didalamnya.
Nani Nurrachman Sutojo adalah salah satu anak dari Jenderal Sutojo (beliau punya 3 anak, Bu Nani adalah anak ke duanya) yang merupakan korban dari sejarah Indonesia G30S 1965.
Saat itu dini hari, rumah Jendral Sutojo dikepung dan Bu Nani menyaksikan langsung pengepungan yang di lakukan oleh beberapa oknum tersebut.
Jenderal Sutojo di culik dan hilang, lalu beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 4 Oktober 1965 ditemukan kembali dalam keadaan sudah meninggal dunia di Lubang Buaya, jasadnya ditemukan bersama 6 jasad lainnya.
Dalam buku ini beliau menulis perjalanan traumanya hingga proses healing. Beliau kehilangan ibu kandungnya saat berusia 2 tahun dan kehilangan ayahnya saat berusia 15 tahun. Proses healing yang dilalui cukup lama hingga beliau bisa menerima dan mengikhlaskan semua yang terjadi dalam hidupnya.
Buku ini berupa autobiografi sekaligus psikososial history yang ditulis langsung oleh penyintas, sesuai perspektif humanis dan sosial, hadirnya buku ini tidak bertujuan untuk membuat pembaca berpihak kepada satu sisi dalam hal ini Bu Nani yang dianggap sebagai sisi "pemenang", bukan tentang margin kanan dan kiri, namun lebih kepada menguraikan benang kusut dari sejarah Indonesia. Didalamnya mengisahkan banyak trauma dari kedua belah pihak dan luka batin yang mendalam teruntuk Indonesia dan sejarah Indonesia khususnya. Bukan siapa "kalah" dan yang "menang", sekali lagi bukan untuk keberpihakan, tapi lebih kepada rekonsiliasi psikologi paska kejadian dari semua korban yang mengalami maupun yang menerima imbasnya. Siapa yang lebih korban? Semua. Bahkan generasi selanjutnya.
Saat membaca buku ini rasanya aku merasakan kesedihan yang beliau rasakan, walaupun aku tau pasti tidak akan sama dengan apa yang sebenarnya dirasakan langsung oleh korban. Aku rasa buku ini penting untuk di baca siapapun terlebih kita generasi muda yang setidaknya harus tau tentang sejarah agar tidak terjadi kesimpangsiuran. Buku ini juga menjelaskan tentang penerimaan takdir dan luka batin serta cara proses healing yang sangat bermanfaat dan bisa di terapkan dalam kehidupan. ⭐5/5
Buku ini terdiri dari dua bagian: (1) memoar Bu Nani semasa beliau masih kecil hingga upayanya dalam mengatasi trauma dan memperjuangkan rekonsiliasi tragedi kemanusiaan di Indonesia, dan (2) makalah-makalah beliau yang membahas perlunya rekonsiliasi tersebut.
Mulanya saya berharap bisa mengetahui bagaimana seseorang bisa mengalami trauma, apalagi yang berkaitan dengan sejarah bangsa Indonesia seperti tragedi 1965 ini. Sayang saya tidak menemukan penjelasan yang elaborate tentang hal itu (mungkin karena pemicu trauma pada masing-masing orang bisa berbeda).
Tetapi saya menemukan gagasan bagus dalam buku ini, yaitu pentingnya pendekatan psiko sosial historis untuk merehabilitasi orang-orang yang terlibat dalam tragedi. Dan itu bukan sekadar tragedi personal, namun juga tragedi bangsa yang berdampak luas pada masyarakat hingga ke generasi selanjutnya. Pentingnya memaafkan, namun tidak melupakan bahwa tragedi itu telah terjadi dalam sejarah kita. Sehingga kita bisa menjadi bangsa yang berbesar hati mementingkan kepentingan bangsa di masa depan dengan tidak menurunkan dendam dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, apapun latar belakang mereka.
Dalam buku ini Bu Nani bercerita bahwa ada gagasan untuk membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) yang mana beliau mengajukan diri dalam kapasitasnya sebagai psikolog dan putri salah satu pahlawan revolusi. Komisi ini bertujuan bukan hanya untuk menyelidiki bagaimana terjadinya tragedi bangsa dalam sejarah, namun juga mengupayakan rekonsiliasi bagi segala pihak yang terlibat. Sayang komisi itu gagal terbentuk, bahkan sampai ulasan ini ditulis.
Buku ini berupaya memberikan pemahaman dan penyelesaian sejarah masa lalu bangsa dengan pendekatan psiko-sosial-historis. Dibagi menjadi dua bagian: Pertama, menggambarkan sisi personal penulis. Kedua, mencerminkan sisi akademiknya sebagai seorang dosen Psikologi Sosial. Sentuhan tangan dari seorang psikolog begitu terasa karena ketika membaca tulisan ini aku seperti mendengar Ibu Nani bercerita langsung disampingku. Penderitaan dan perasaan yang timbul akibat trauma seperti loss of trust, perasaan dikhianati, defensif, alone and lonely masih membekas setelah selesai membaca buku ini. Pengalaman dan pemahaman yang telah diperoleh penulis mendorongnya pada sebuah kebijaksanaan, “Rekonsiliasi harus dimulai dari diri sendiri”, “Memaafkan, tapi tidak melupakan”, dan “Tidak ada kebenaran tunggal yang baku dalam sebuah peristiwa sejarah.”
Jika sejarah sering dijadikan pertarungan antara menang dan kalah, dalam buku ini kategorisasi itu terasa tak relevan lagi, karena antara keluarga para pahlawan revolusi dan mereka yang dianiaya Orba karena tuduhan terlibat G30S justru terdorong untuk menyimpulkan bahwa ‘kami’ semua adalah korban. Penulis mengharapkan kita dapat menuju sejarah bersama (shared history) dimana suara dan ingatan para korban tentang penderitaan dapat dipertemukan.
Saya pernah bertanya kepada Ayah saya "Mengapa kita harus belajar sejarah, sedangkan sejarah ditulis berdasarkan penguasa saat itu?" Jawaban Ayah persis seperti yang ditulis oleh Nani dalam buku ini. Sebab itulah membaca buku ini Saya teringat Ayah saya. Karena banyak hal yang bisa diambil dari buku ini sama halnya ketika saya berbicara dengan beliau.
Pelajaran yang terlampir dikemas dalam cerita pengalaman pribadi Nani dengan rapih dan menyentuh. Memang ada sejumlah cerita yang diulang-ulang, namun saya tak merasa bosan sebab menganggap hal tersebut sebagai pengingat dengan pesan yang terkandung di dalamnya. Buku ini memberi saya banyak pandangan baru dalam aspek sejarah, moral, dan psikologi. Terutama dari segi psikologi sebagai bangsa. Saya sebelumnya tak pernah menganggap ilmu psikolog kian berdampak dalam kemajuan bangsa. Penjelasan Nani dalam hal ini tertulis dengan baik dalam buku.
Yang saya senangi pula dari buku ini ialah dicantumkannya beberapa buku yang melandasi opini sang penulis serta peran buku tersebut dalam kehidupannya. Hingga, pembaca mendapat rekomendasi buku 'berpengaruh' tuk ditelusuri.
Harga buku ini terlalu murah! Tak sebanding dengan seberapa mahal isinya!
Ibu Nani Nurachman Sutojo bercerita banyak hal di buku ini. Awalnya saya mengira akan banyak menceritakan detik-detik peristiwa saat ayahnya "diculik" saat 30 September 1965. Namun disini beliau bercerita dari sisi sebagai manusia yang berhadapan dengan tragedi yang cukup membuat beliau "berdampak" hingga tragedi tersebut sudah belasan tahun. ada beberapa kutipan yang menurut saya terkesan oleh beliau yang juga menjadi dosen psikologi di Universitas paling top di negeri ini.
"Tidak ada kebenaran yang mutlak yang secara sah bisa dimiliki oleh siapapun. Kebenaran itu berpihak. Meski kebenaran itu menyakitkan karena membutuhkan pengakuan atas apa yang terjadi, namun ia membebaskan."
serta tanggapan beliau terkait tragedi yang kelam bagi beliau dan bangsa ini.
"..karena saya ingin generasi muda bisa memandang persoalan ini tidak terkotak-kotak sebagai "yang menang" dan "yang kalah". Saya ingin kita melihat, dalam sebuah tragedi kemanusiaan berskala luas, kita semua adalah korbannya. Kita semua pula yang bertanggung jawab atas perkembangan kemanusiaan setahun tragedi berlalu."
Terima kasih ibu Nani sudah bercerita semua hal dari pengalaman ibu.
Buku ini tidak masuk radar buku saya sebelum melihat ada sesi "Saya, Ayah, dan Tragedi 1965" di JILF 2019 kemarin.
Membaca buku ini saya bukan saja menghayati dari dekat suasana batin seorang anak yang kehilangan orangtua terkasih, mencoba memahami keadaan Indonesia jaman 60an, lebih dari itu berterima kasih Ibu Nani boleh berbagi sebagian pengalaman hidup dalam bukunya.
Bacaan yang penting bagi siapapun yang tertarik dengan tema sejarah, psikologi, dan keluarga.