Apa yang membuat sebuah perusahaan mampu bertahan hingga puluhan bahkan ratusan tahun? Bagaimana sebuah perusahaan mampu berkembang sedemikian besar dan menghadapi perubahan di sekitarnya?
Rahasianya terletak pada corporate values. Perusahaan-perusahaan yang tumbuh besar dan mampu bertahan lama ternyata didukung oleh kuatnya penanaman tata nilai atau values. Tata nilai melekat, diimplementasikan, dan dijunjung tinggi oleh seluruh karyawan, manajemen, hingga para stakeholders dan mitra kerja. Kehadiran tata nilai yang diimplementasikan dengan baik dan terus diperbarui terbukti mampu membentengi perusahaan ketika menghadapi berbagai krisis yang datang dari luar maupun dari dalam.
Analisis mendalam terhadap Pertamina menjelaskan bagaimana powerhouse Indonesia ini berjuang keluar dari masa lalunya yang kelam melalui penanaman tata nilai 6C: Clean, Competitive, Confident, Customer focus, Capable, dan Commercial. Citra buruk korupsi, kolusi, dan nepotisme perlahan dikikis dengan tata nilai yang dimulai ketika Pertamina bertransformasi di tahun 2006. Dengan landasan tata nilai itu pula, Pertamina merintis jalan menjadi sebuah energy holding company kelas dunia.
Buku ini akan menggugah pemikiran setiap orang tentang pentingnya tata nilai dalam keberlangsungan hidup, usaha, maupun pengelolaan negara ini!
Buku ini adalah case study yang ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali untuk perusahaan Pertamina. Awal mulanya, beliau terdorong untuk menulis buku ini karena mengamati banyak sekali perilaku tata sosial masyarakat di sekitar yang nampaknya mengalami kemunduran. Banyak masyarakat yang bersikap apatis, kriminalitas yang meningkat, dan kecenderungan pejabat untuk tidak memiliki integritas. Menurut beliau, ini banyak berkaitan dengan lemahnya tata nilai (values) yang dimiliki oleh masyarakat. Agar bangsa ini bisa mengalami kemajuan, maka nilai akan menjadi suatu hal yang sangat penting untuk dibangun.
Untuk menjelaskan bagaimana pentingnya tata nilai, digunakanlah Pertamina (dan beberapa perusahaan lainnya) sebagai contoh kasus dalam buku ini. Cukup menarik juga mencermati bagaimana kemajuan (maupun kemunduran) yang dialami oleh Pertamina; rupanya sudah sangat banyak yang dialami oleh perusahaan tersebut.
Buku ini sangat cocok untuk mereka yang tertarik untuk belajar manajemen (khususnya manajemen perubahan) maupun mereka yang bekerja di posisi Organizational Development dalam sebuah perusahaan atau lembaga.
Menurut saya buku ini diawali dengan 2 pertanyaan penting:
Apa yang membuat perusahaan dapat bertahan lama? Serta bagaimana sebuah perusahaan mampu berkembang sedemikian besar dan bertahan menghadapi perubahan besar dihadapannya?
Jawabannya adalah karena kuatnya penanaman tata nilai. Kehadiran tata nilai yang diimplementasikan dengan baik serta terus-menerus diperbaharui, akan dapat membentengi perusahaan ketika krisis melanda. Apakah yang dimaksud tata nilai tersebut? Tata nilai adalah hal-hal yang dihargai, dijunjung tinggi, dijalankan dan merupakan jiwa dari sebuah korporasi/ perusahaan/organisasi. Umumnya berupa suatu kata sifat yang dirangkai dalam kalimat dan dilengkapi dengan penjelasannya. Bagaimana supaya tata nilai ini dapat tertanam? 1. Tata nilai perlu diyakini 2. Tata nilai perlu dikomunikasikan dan dilatih, terutama untuk menyamakan pandangan dan kepentingan antara pribadi dan perusahaan 3. Bangun sistem berdasarkan tata nilai, dengan membuat peraturan yang lebih detail, serta adanya sistem reward and punishment. Buku ini ditulis dengan tujuan untuk menggugah pemikiran setiap orang tentang pentingnya tata nilai demi keberlangsungan hidup atau usaha. Bagi saya, buku berhasil mencapai tujuan itu. Milikilah tata nilai lalu tanamkan itu, implementasikan dan perbaharui terus menerus.
Buku ini pernah saya baca di era Desember 2012 tapi tidak selesai, entah kenapa. Satu hal yang saya ingat adalah kenapa Pertamina gagal dalam corporate values yaitu karena tidak mencerminkan hal yang dipercayai pemimpin, dirangkai mudah dalam singkatan, terlalu dipaksakan, hanya hiasan dan tidak dijadikan budaya. Padahal values adalah hal yang bersumber dari moralitas dan tika, tidak dipaksakan tapi harus dilatih.