.... saya tidak lagi memakai “Islamisasi pengetahuan”, dan ingin mendorong supaya gerakan intelektual umat sekarang ini melangkah lebih jauh, dan mengganti “Islamisasi pengetahuan” menjadi “pengilmuan Islam”. Dari reaktif menjadi proaktif .... “Pengilmuan Islam” adalah proses, “Paradigma Islam” adalah hasil, sedangkan “Islam sebagai ilmu” adalah proses dan hasil sekaligus .... — (Kuntowijoyo) —
Kuntowijoyo was born at Sanden, Bantul, Yogyakarta. He graduated from UGM as historian and received his post-graduated at American History by The University of Connecticut in year 1974, and gained his Ph.D. of history from Columbia University in year 1980.
His father was a puppet master (dalang) and he lived under deep religious and art circumstances. He easily fond of art and writings and became a good friend of Arifin C. Noer, Syu'bah Asa, Ikranegara, Chaerul Umam, and Salim Said.
His first work was "Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari".
Judul: Islam Sebagai Ilmu Pengarang : Kuntowijoyo Tebal: xii+136 halaman Tahun Terbit:2006 Penerbit: Tiara Wacana
Setiap muslim punya kewajiban untuk belajar Islam. Ilmu yang wajib dipelajari lebih awal adalah ilmu yang berkaitan dengan akidah dan segala hal yang jika tidak ia pelajari dapat menjerumuskannya dalam dosa atau meninggallkan yang haram. Namun demikianlah manusia kebanyakan lalai akan hal ini. Sibuk dengan urusan dunia, lupa akan akhirat dan lupa akan kebutuhannya akan ilmu agama. Ingatlah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, "Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim." ( HR. Ibnu Majah). Didalam buku ini penulis mengkritisi konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan dengan terperinci. Buku ini juga membahas tentang Islamisasi Pengetahuan. Islamisasi pengetahuan artinya mengembalikan pengetahuan kepada tauhid atau konteks kepada teks supaya ada koherensi dalam artian pengetahuan yang tidak terlepas dari iman. Hal itu bertujuan supaya kita memiliki hikmah yang atas dasar itu dapat dibentuk perilaku yang sesuai dengan nilai nilai normatif Al Quran baik pada level moral maupun sosial. Buku ini sangat cocok bagi kaum pemuda yang akhlak mereka masih dalam kondisi kritis. Namun, pembaca harus mengkaji ulang beberapa kalimat yang memiliki makna ambigu. Dalam memahami isi secara jelas pembaca juga membutuhkan pemikiran yang logis dan rasional. Kekurangan buku ini terletak pada kalimatnya yang berlevel tinggi, sehingga tidak semua orang mengerti secara pasti. Masih banyak hukum-hukum yang tidak dicantumkan dasarnya, baik dari Al-Qur’an maupun Al-Hadits.