Jump to ratings and reviews
Rate this book

Bukan Keluargaku

Rate this book
Narator novela ini adalah seorang pria gay yang pulang ke Jakarta setelah mencoba bunuh diri di Brisbane, hanya untuk menemukan ibunya mencoba menenggak cairan pembersih lantai setelah mengetahui ayahnya punya anak dengan wanita lain.

Tragedi dalam pernikahan orang tuanya mendorong sang narator berefleksi tentang pertautan antara gender dengan tradisi, spiritualitas, medis, seksualitas, globalisasi, dan ekonomi. Melihat perselingkuhan dalam pasangan heteroseksual di Indonesia melalui kacamata kwir emigran, novela Bukan Keluargaku akan memancing pembaca mempertanyakan apa yang mereka ketahui tentang keluarga, kebebasan, dan cinta.

80 pages, Paperback

Published June 24, 2026

Loading...
Loading...

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
0 (0%)
4 stars
6 (42%)
3 stars
7 (50%)
2 stars
1 (7%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for raafi.
971 reviews469 followers
August 1, 2026
“… Lagi pula, hal yang kita nggak tahu itu, kan, nggak bisa menyakiti kita. Untuk hal yang sudah kita tahu, ya kita punya pilihan untuk bereaksi atau tidak.” (hlm. 58)


Sebagai pembaca, saya amat kagum dengan cerita yang bermain struktur alur. Buku ini ternyata melakukannya, tapi dengan cara berbeda. Alur maju kisah ‘aku’ yang sowan ke rumah setelah beberapa tahun tinggal di luar negeri diselingi kilas balik masa lalu. Bedanya, pergantian alur ini berlangsung selang-seling alias dua garis waktu ini saling menyisip terus-menerus sepanjang cerita. Sedikit butuh fokus lebih memang, tapi ini jarang bahkan tidak pernah saya temukan di fiksi yang saya baca sebelumnya. Amat distingtif.

Dari segi tema, awalnya saya mengira novela tipis ini akan berfokus pada gender atau identitas gender tokoh ‘aku’ tersebut. Tapi, pembahasannya lebih mengarah pada dinamika hubungan domestik, khususnya keluarga: antara orang tua dan anak, antara suami dan istri, antara adik dan kakak.

Saya sempat berharap ada porsi yang lebih menonjol mengenai kedirian tokoh utama terkait identitas gendernya. Namun setelah direnungkan kembali, saya menyadari bahwa unsur kedirian itu sebenarnya hadir di hampir setiap interaksi tokoh ‘aku’ yang terlihat dari caranya memandang orang lain dan caranya merespons mereka. Saya masih tertegun dengan kebiasaan tokoh ‘aku’ dan Mas.

Gaya penceritaannya terasa jauh dan dingin. Saya sebagai pembaca seolah-olah diberi jarak untuk melihat kisah keluarga tokoh ‘aku’ tanpa tahu nama mereka. Tapi, entah kenapa narasi dan percakapannya terasa hangat dan dekat. Mungkin karena pembahasannya seputar keluarga. Saya seperti ikut membandingkan diri sendiri dan tokoh ‘aku’ lalu memikirkan kembali bagaimana hubungan antara saya dan orang tua, saya dan pasangan, serta saya dan adik-adik saya.

Intinya, ini buku yang bagus dan cukup reflektif. Mungkin masalah keluargamu bisa tersolusikan dengan buku ini. Entahlah.

“Melihat wajah anaknya, aku berpikir tentang berbagai hal yang aku tahu tentang Papa dan Mama—hal-hal yang mereka tidak mau aku tahu dan hal-hal yang ingin mereka lupakan. Memiliki anak dan membangun keluarga adalah ide terburuk bagi orang-orang yang ingin melupakan masa lalu.” (hlm. 69)
Profile Image for Teguh.
Author 10 books346 followers
July 10, 2026
Novela pendek ini menurutku menarik dari bagaimana queerness ditulis bukan eksploitasi queerness. Maksudnya? Begini tokoh dalam novel ini setidaknya sudah firm atas identitas seksual dan ODHIV yang dalam beberapa kalimat diceritakan bukan untuk didramatisasi dengan kesedihan atau bagaimana, tapi justru meyakinkan tokoh aku sebagai satu jalan meraih pendidikan tinggi di Brisbane.
Yang menarik adalah tokoh aku justru dihadapkan bagaimana perkawinan hetero (bapak dan ibunya) justru menampilkan sebuah "keculasan. Bapaknya ujug-ujug punya anak dari perempuan lain, dan sejatinya perselewengan yang dilakukan oleh si bapak sudah sejak dahulu. Dan juga novel ini adalah tarikan hetero - same sex, kemudian modernitas dan klenik.

Namun .... ini kurang panjaang. Semoga penulisnya mau menulis novel yang lebih panjang.
Profile Image for KALAU WEEKEND BACA BUKU Setyadi.
94 reviews1 follower
August 5, 2026
Buku ini bercerita tentang kemelut seorang anak (dewasa) yang harus menghadapi permasalahan kedua orang tuanya, terutama sang ayah yang masih belum bisa menemukan jati dirinya.

Background seorang anak yang adalah seorang Queer hanya sebatas identitas dan mengisi sedikit bagian dari cemarut keluarga akibat perselingkuhan sang ayah. Novel ini juga dibumbui dengan hal-hal mistis untuk menggambarkan situasi, budaya dan kepercayaan orang tua yang pada zaman itu yang masih kolot.

Sosok aku yang adalah seorang dokter, kurang diberi porsi yang jelas. Identitas sebagai Queer dan percobaan bunuh diri sama sekali nggak diberi ruang untuk tumbuh. Ini seolah mengisyaratkan bagaimana pengorbanan seorang anak (tokoh aku) yang harus menekan dan mengesampingkan masalahnya sendiri untuk terlibat dan berusaha menyelesaikan masalah orang tuanya.

Potret drama keluarga seperti ini memang ada di tengah-tengah kita. Penulis (Satrio Nindyo Istiko) berusaha menyampaikan ceritanya dengan lugas dan to the point dengan hanya 76 halaman saja. Eksplorasi pendalaman karakter memang kurang (sangat kurang terutama pada karakter aku) namun kekurangan semacam ini tidak tepat disampaikan untuk ukuran sebuah novela dan agaknya harap maklum.

Fokus pada konflik utama dan kesampingkan ekspektasi adalah kunci untuk menikmati sebuah novela. Saya rasa cerita semacam ini (sama halnya dengan “makamkan Ibu disamping Ayah” karya Kalis Mardiasih) adalah karya sastra bertema spice of live, cerita keluarga, yang hanya bisa dinikmati sekecap dan mudah dilupakan.

Saya pun memberikan rating novel ini 3,2⭐️/5⭐️
Profile Image for naabilaputri.
32 reviews66 followers
July 29, 2026
baca ini khusyuk dan keseeeellll (lebih banyak keselnya sih) terutama sama bapaknya si narator yang yaampun egonya rapuh sekali yaa :D

Melalui pov narator, dia berusaha menyampaikan soal apa yang terjadi di Indonesia, namun kerap luput oleh banyak orang, mengenai agama, klenik, orientasi seksual, hubungan toksik, ekspektasi masyarakat terhadap perempuan, perempuan sebagai korban, lelaki kerdus (kesel banget selama baca ini sungguuuhh), dengan kompleksitas keluarga.

intinya yang aku tangkap sebagai pembaca adalaaahh please be aware sama diri sendiri, apa yang kamu mau, kalau mau nikah beneran dipikirin matang2 deh!
Profile Image for Adrian Surya.
91 reviews1 follower
Read
July 27, 2026
Buku seram karena mengandung mistisisme—yang ternyata memang dibutuhkan dalam plot, walaupun awalnya terlihat intrusif seperti perhatian tokoh utama yang gampang berlarian—sekaligus relevansi yang begitu kuat.

Dipancang melihat melalui si tokoh utama, pembaca diminta untuk memandang pernikahan dan keluarga sebagai komunitas kecil yang—terpaksa maupun tidak—terus-menerus saling berkompromi sesemrawut apapun perbedaan satu sama lain—sepanjang beberapa waktu.
Profile Image for cebs.
28 reviews
August 2, 2026
Tak banyak meninggalkan kesan, baik secara cerita atau penulisan. Entahlah. Mungkin karena ekspektasi udah kadung tinggi ingin melihat pov dari karakter yang orientasi seksualnya berlawanan dengan nilai-nilai orang kebanyakan. Sayang sekali cerita aku kurang dieksplorasi.
Displaying 1 - 6 of 6 reviews