Jump to ratings and reviews

Miserere

Untuk hidup, ia harus makan. Dan untuk makan, seseorang harus mati. Sesuatu yang menyumbat kerongkongan Lee Yeong-eum, membuatnya tidak bisa menelan makanan selama bertahun-tahun. Tubuhnya kering kerontang. Satu-satunya benda yang ia bisa telan hanyalah tusuk gigi pati. Pada suatu hari, ia menyaksikan kematian tragis seorang pria. tiba-tiba sesuatu yang selama ini menyumbat tenggorokannya hilang. Yeong-eum mendadak bisa menelan makanan lagi. Rentetan kematian nan ganjil terjadi di sekitar Yeong-eum. Siapa wanita ini sebenarnya? Mengapa dia selalu berada di tengah-tengah kematian.

312 pages, Paperback

First published August 1, 2024

Loading...
Loading...

About the author

최난영

2 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (11%)
4 stars
10 (58%)
3 stars
4 (23%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (5%)
Displaying 1 - 11 of 11 reviews
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books128 followers
August 30, 2026
Membaca novel ini rasanya seperti sedang menonton film thriller-misteri dengan unsur klenik dan okultisme. Bab-bab awal saja sudah diawali dengan suasana ritual perdukunan. Tapi sebelum menilik lebih jauh, mari kita bahas lebih dulu konteks dari judul novelnya.

“Miserere” sendiri ialah mahakarya portofolio grafis yang terdiri dari 58 cetakan intaglio campuran (ukiran tembaga, akuatin, dan drypoint) karya pelukis dan pembuat cetakan asal Prancis, Georges Rouault. Istilah “miserere” berasal dari bahasa Latin yang berarti “kasihanilah aku” atau “ampunilah”—yang juga merujuk pada ayat Mazmur 51.

Diceritakan bahwa Lee Yeong-eum adalah wanita kurus kering, sebab menderita penyakit ganjil yang mencegahnya untuk makan. Yeong-eum bertahan hidup hanya dengan menelan tusuk gigi dari bahan pati, dan sesekali dengan menyuntikkan infus ke tubuhnya. Sudah lebih dari sepuluh tahun sejak insiden itu dimulai.

Saat itu ulang tahunnya ke-18. Tiba-tiba, Yeong-eum tidak bisa makan. Setiap kali ia memasukkan makanan ke mulutnya, rasa sakit yang mengerikan akan menyerang. Rasanya seperti bola biliar tersangkut di kerongkongannya, dan rasa sakitnya begitu hebat sehingga sulit bernapas. Bahkan para dokter pun menggelengkan kepala. Suatu penyakit yang tidak diketahui asalnya dan penyebabnya tidak dapat diidentifikasi.

Keluarga Young-eum, yang sudah putus asa, akhirnya mengadakan gut—ritual perdukunan Korea yang dilakukan untuk menjembatani dunia manusia dengan roh. Mereka meletakkan boneka seukuran manusia di atas tikar jerami, lalu seorang cenayang mengelilinginya. Cenayang itu tampak seperti dirasuki sesuatu. Tiba-tiba, zat merah dan putih keluar dari mulutnya. Ritual itu pun berakhir dengan kekacauan yang mengerikan.

Namun, orang tua Young-eum masih belum menyerah. Berulang kali dikatakan bahwa mereka akan melakukan apa saja agar putri mereka bisa menyantap sesuatu. Mungkin berkat kegigihan itulah, suatu hari Young-eum kebetulan melihat tusuk gigi di meja restoran. Krek, krek, krekek. Tusuk gigi pati yang mempunyai tekstur renyah ternyata memberikan sensasi yang begitu menyenangkan saat dikunyah. Young-eum akhirnya menemukan “sesuatu yang bisa dimakan” dan ia tumbuh dewasa dengan kebiasaan itu. Ia juga pergi ke klinik untuk mendapatkan infus dengan gajinya yang pas-pasan, dan berusaha terbiasa dengan rasa malu.

Kemudian suatu hari, Yeong-eum menyaksikan kematian seorang pria. Tubuhnya gemetar. Namun anehnya, semakin ia gemetar, semakin ia merasakan bola biliar di kerongkongannya menyusut hingga seukuran biji kenari, lalu seukuran kacang tanah. Seolah dirasuki sesuatu, Yeong-eum memesan kue krim dan mulai memakan makanan yang sudah lama ingin ia makan, satu demi satu. Tiba-tiba saja ia bisa menelan makanan seperti orang normal.

Kita tahu, nafsu makan adalah salah satu keinginan manusia yang paling mendasar. Untuk hidup, seseorang tidak bisa berhenti makan. Oleh karena itu, sama sekali tidak aneh jika manusia menginginkan makanan. Sebagai pengarang, Choi Nan-young menemukan ide gila dari keinginan mendasar itu: soal hilangnya nafsu. Fakta bahwa seseorang harus menyaksikan kematian orang lain untuk melanjutkan hidupnya sendiri benar-benar layak disebut dilema. Novel ini kemudian menjadikan nilai moral dan ketidaktahuan pembaca itu sebagai bayangan yang mengerikan untuk bahan bakar plotnya.

Selain ceritanya sendiri, sebetulnya ada beberapa isu menarik yang sempat disinggung dalam novel. Misalnya, soal perbedaan substansial antara anoreksia dan pika (pica). Anoreksia merupakan kondisi ketika seseorang merasa sangat takut akan kenaikan berat badan. Penderitanya selalu menganggap dirinya gemuk meskipun pada kenyataannya ia bertubuh kurus. Sementara itu pika adalah suatu zat yang tidak memiliki nilai gizi dan tidak dapat dimakan. Istilah ini juga merujuk pada kondisi ketika seseorang berulang kali mengonsumsi benda-benda yang bukan makanan. Misalnya, kertas, tanah liat, rambut, es batu, dll. Apa yang diderita Yeong-eum jelas tidak termasuk keduanya.

Ada juga soal sindiran kepada Dewa Susin. Diceritakan setiap Sabtu, Yeong-eum harus pergi ke Sekte Susin yang terletak di sebuah lembah pegunungan di Gwangwon-do. “Jika itu Yesus, Buddha, Allah, atau bahkan Dewa Siwa sekalipun, Yeong-eum masih mencoba untuk memahaminya. Namun, Dewa Susin? Dari namanya saja sudah terasa janggal, seperti komplotan penipu. Terlebih lagi, Dewa Susin tampak jauh lebih terang-terangan menyukai uang persembahan dibandingkan dewa-dewa lainnya.” Di lain waktu, Yeong-eum juga punya keinginan terpendam untuk berkunjung ke Oman tepat di bulan Ramadan, agar ia bisa ikut berpuasa bersama umat muslim dan tak perlu repot-repot untuk berpura-pura sudah makan.

Hal menarik lainnya, latar belakang pekerjaan Yeong-eum dalam novel ini juga bukan sekadar tempelan. Segala tokoh yang muncul dan bagaimana konflik diselesaikan, hampir selalu berkaitan dengan urusan pekerjaannya sebagai reporter. “Orang-orang percaya bahwa artikel di media adalah jaminan fakta objektif. Jika nama toko muncul di internet bersama artikel bernada positif, efek promosi pun otomatis didapat. Karena itulah, banyak orang bersedia "membeli" artikel. Kata "membeli" di sini berarti membayar agar artikel ditulis sesuai arah yang mereka inginkan.”

Kekurangan novel ini mungkin hanya pada karakterisasi tokoh-tokohnya yang cukup minim, terutama untuk tokoh yang berperan penting pada pemecahan konflik utamanya. Narasinya pun kadang terlalu "telling" dan teramat ringkas untuk mendeskripsikan latar belakang tokoh-tokoh selain Yeong-eum, yang sebetulnya menarik untuk dikulik. Tapi apa pun itu, seperti yang tadi disebut di awal paragraf, tetap saja ini adalah novel thriller-misteri yang seru dan penuh momen mendebarkan.
Profile Image for Fikriah Azhari.
387 reviews172 followers
September 2, 2026
❝Begitu roh halus mulai mencelakai, dia tidak hanya mengusik orang itu, tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Dia mengirimkan kutukan pada orang ataupun benda, bahkan sampai merenggut nyawa.❞

Ayo jujur-jujuran! 👀 Seumur hidup kalian, benda paling aneh apa yang pernah nggak sengaja kalian telan? 🍽️ Gimana kalau ada orang yang nelan tusuk gigi, bukan karena nggak sengaja, tapi karena itu jadi SATU-SATUNYA hal yang bisa dia "makan"? 😰

Aku sudah punya feeling buku ini akan memberikan sensasi kurang nyaman ketika baca blurbnya yang bilang “Untuk hidup, ia harus makan. Dan untuk makan, seseorang harus mati” karena secara teknis, keseluruhan cerita di buku ini memang sudah cukup digambarkan lewat kalimat tersebut! Yeong-eum hanya dapat menelan makanan ketika menyaksikan momen kematian seseorang! Sepanjang baca buku ini aku jadinya mikir ini Yeong-eum beneran "ketempelan" arwah atau gimana sih 🤯

Di masa mudanya, Yeong-eum sudah diseret dari satu cenayang ke cenayang lain. Orang tuanya yakin, ada arwah jahat yang membuat Yeong-eum tidak dapat menelan makanan apa pun. Namun, tak ada satu pun ritual yang berhasil—cenayang terakhir yang "mengobatinya" justru jatuh sakit dan dianggap terkena kutukan, sedangkan Yeong-eum tetap merasa ada sebuah bola biliar di tenggorokannya, menghambat segala makanan yang berusaha ditelannya.

Kurang lebih sensasinya ngingetin aku sama Teka-Teki Toilet Aneh yang sama-sama psychological thriller (sepertinya BIP punya ketertarikan nerjemahin buku-buku genre serupa...), penggambaran adegan ketika Yeong-eum menikmati tusuk giginya itu sukses bikin aku bergidik ngeri, seakan-akan tenggorokanku lah yang tertusuk saat itu. Aku juga bisa paham amarah dan perasaan jijik Gyeong-jun ketika menyaksikan Yeong-eum menikmati potongan terakhir bakwan kepala ikan kod di samping jasad ibunya.

Di balik alurnya, ada selipan kritik tajam yang dialamatkan penulis kepada cara masyarakat merespons sebuah tragedi. Lewat narasi ”Sebab, sebuah cerita yang terus diulang-ulang dan ‘dimatangkan’ pada akhirnya akan dianggap sebagai kebenaran dengan sendirinya.”

Lambat laun, kita paham bahwa penderitaan Yeong-eum berawal dari satu peristiwa tragis—yang faktanya ditutupi dan justru dibumbui oleh cerita yang lebih ingin dipercaya dari mulut ke mulut.
Profile Image for Anes.
193 reviews2 followers
August 30, 2026
Aku suka dengan ide ceritanya yang unik, yang mengangkat hal-hal sederhana kayak rasa lapar dan makanan sebagai bagian dari misteri dan horornya buku ini. Makan yang seharusnya jadi kebutuhan dasar, disini berubah jadi hal yang sangat ditakuti dan dihindari.
Dari awal, udah banyak banget pertanyaan di kepalaku tentang Yeong-Eum dan kondisinya. Beneran bikin aku penasaran banget dan gak bisa berhenti baca.

Selain misteri tentang kondisi Yeong-Eum, hal lain yang menarik dari buku ini adalah isu body shamingnya. Yeong-Eum yang kesulitan makan, jadi kurus banget. Dan bukannya kasihan.. orang-orang di sekitarnya malah memandang Yeong-eum sebagai sosok yang menjijikkan.
Aku gak tau apa buku ini emang ditujukan untuk menyampaikan kritik sosial atau bukan, tapi itulah yang aku rasa. Seolah orang-orang merasa perlu mengomentari tubuhnya, bahkan menentukan apa yang seharusnya Yeong-Eum lakukan. Padahal mereka aja gak tau apa yang sedang Yeong-Eum alami.
Profile Image for Oktarina Nurfazriani.
100 reviews1 follower
September 30, 2026
Dari chapter awal saja, saat ritual gut diadakan, dan dipaparkan mengenai "seseorang yang tidak seharusnya dimasukkan ke dalam rumah" dan tokoh utama teringat peristiwa yang jauh berbeda dengan orang tuanya, aku mungkin bisa menebak ujung dari cerita ini.

Menurutku, buku ini mirip dengan suasana di negara ini, yang sangat suka mengaitkan gangguan psikis dengan mistis.

Entah memang menegaskan bahwa terkadang manusia memilih lari daripada menghadapi dirinya sendiri, sehingga ketika gangguan dalam 'diri' dikaitkan dengan mistis (sesuatu diluar kemampuannya sendiri), seakan-akan ia tidak harus bertanggung jawab atas hal yang (seharusnya) bisa dikontrol.

Senada dengan sang tokoh utama, yang seakan menghukum dirinya sendiri dengan menekan nafsu makannya—nafsu paling murni dalam tubuh manusia—yang sejatinya, tidak bisa ia kontrol (dalam konteks kemunculannya).

Lambat laun, hukuman ini seakan berhenti (dan menggila) saat ia tanpa sengaja melihat seseorang mati di depannya.

Menurutku, saat itu, ia lupa menghukum diri dengan justifikasi bahwa kematian itu terjadi bukan akibat kesalahannya. Hanya kebetulan kematian itu terjadi saat dia berada dekat dari sana. Jadi, itulah kenapa hukuman menahan nafsu makan tadi seakan hilang.

Namun, tetap saja dia masih melarikan diri bukan? Sehingga saat rasa bersalahnya muncul, nafsu paling dasar itu pun terkekang kembali.

Saat akhir—dan bagaimana akhirnya cerita itu akhirnya tumpah ruah tanpa bisa dibendung, sang tokoh utama akhirnya terpaksa menghadapi dirinya sendiri (di saat sudah dewasa dan lebih bisa memahami semuanya) karena merasa kematian ini sedikit banyak melibatkan dirinya secara aktif (setara dengan rahasia yang mati-matian dia pendam dan hindari).

Menurutku buku ini cukup membuka mata tentang sejauh mana manusia bisa menyimpan trauma dan rasa bersalah yang sebegitu besar hingga bisa menekan nafsu dasarnya sedemikian rupa hingga di titik mengancam nyawa.

Dan unsur mistis pun, tidak melenceng jauh dari realita masyarakat saat ini, yang senang sekali menyalahkan sesuatu yang tidak ia ketahui atau tidak bisa ia kontrol, alih-alih menghadapi realita dalam pikirannya.

Satu lagi:
Ternyata Hong Bongsal itu beneran cenayang sakti kah? Menarik ya kalau dikulik lebih jauh ke arah sini juga.

PS: awalnya kukira memang kutukan, tetapi tebakan awalku jauh lebih mendekati kenyataan.
Profile Image for Pott.
1 review
September 20, 2026
Miserere

Tertarik karna covernya, beli karna baca sinopsisnya.

Buku ini sangat terasa membebani, karna pada akhirnya kita juga ikut merasakan beban dari penyesalan dan tanggung jawab itu.

(Penjelasan sinopsis yg lebih terperinci)
Cerita tentang seorang wanita yang mengalami gangguan makan ekstrim, yang bahkan lebih mirip kutukan. Dimana dia bahkan tidak bisa minum air, dan hanya bisa memakan tusuk gigi yang terbuat dari sari pati tepung. Lalu ia menemukan cara untuk makan, yaitu dengan melihat kematian seseorang. Awalnya itu terasa seperti keajaiban dan mukjizat, tapi semakin lama nafsu makan itu terasa seperti taring setan yang mengharapkan orang2 untuk mati.

Tidak siap dan tidak espek setelah kebenaran terungkap, semuanya benar2 sesak dan sulit.

Imo yg kurang dari buku ini itu, tiap mau bahas karakter lain tuh suka tiba2, tadinya masih bahas soal A, tiba2 pindah ke B. Kadang dikasih jarak paragraf buat tanda perpindahan bahasan, kadang ngga.

Typo tipis2, selebihnya oke.



((SPOILER))
((SPOILERRR))
⚠️⚠️⚠️

Dugaanku, kenapa dia tidak bisa makan di umurnya yg ke-18 adalah bentuk hukuman yang dilakukan alam bawah sadarnya, rasa bersalah dan penyesalan yang tidak pernah dihadapi, tidak pernah dia selesaikan dan dilupakan gitu aja, perlahan membentuk menjadi sosok hakim yang menghukum dirinya sendiri...

Aku gak suka ini tapi Kepala Direktur Yoon benar

"Apabila seseorang secara resmi diminta memberi kesaksian di pengadilan, tetapi ia tidak mau memberi keterangan keterangan (kesaksian) dari apa yang sudah dilihat atau didengarnya, ia berdosa dan harus menanggung akibatnya"

Dead Dove do not eat:
Public humiliation, Eat disorder, CSA, Black mail, etc
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for gq .
156 reviews
October 6, 2026
jujur seru. aku suka banget masaaa. dan menurutku terjemahannya juga nyaman banget ngimbangi sama cara penulisan authornya yang emang udah rapih dan alur ceritanya yang seru. padahal biasanya aku agak kurang sama korean lit dengan genre psychological thriller gini... krn kdg agak bosen gitu. tp yg inii seru! serius! btw aku kira awalnya ini buku cerpen, krn emg gak baca sinopsis, ga baca review, cuman liat judul bab di daftar isi. trus iseng baca bab terakhir dan tertarik abis itu baca dari bab awal. eh ternyata cerita nyambung wkwk. cuman walaupun udah tahu 'rahasia'nya, buku ini tetep bikin penasaran buat dibaca. yeong eum yang cuman bisa makan ketika ada orang yang meninggal emg ada gila-gilanya wkwk.
Profile Image for Rihazizah.
80 reviews6 followers
October 5, 2026
Ide ceritanya unik sekali dan aku dapat banyak insight dari sini, terutama soal pica disorder.
Aku suka bagaimana unsur misterinya nggak terasa spt misteri, seperti enggak lagi dicari, tau2 kebuka fakta soal kenapa Yeong-eum bisa kena penyakit gangguan makan itu.

Awalnya aku pikir vibe nya bakal seperti karya² Sayaka Murata tapi ternyata enggak, beda.

Tiba² alurnya dipeluntir dan aku nggak siap utk itu. Endingnya depresif dan bikin aku bengong. This book finished me.

Terjemahannya enak banget.
Profile Image for MAULIA.
75 reviews1 follower
September 19, 2026
Sejujurnya aku bukan tipe penikmat Asian lit walaupun kalo ada buku baru pasti harus baca. Tapi untuk kali ini aku lumayan menikmati bacanya. Terjemahan nya suka banget, mudah dipahami.

Plot ceritanya juga menarik.
Sayang banget open ending huhu

Tapi rasa penasaran ku kenapa semua ini terjadi telah terungkap.
Memang kena kutukan sih Yeong eum.
Profile Image for Shimkoongnim.
67 reviews
September 5, 2026
Jadi ini buku maunya jadi horor, thriller atau buku tentang masalah psikologis? Dari awal nunggu ini di mana "gong"nya, ternyata sampai akhir tetap nggak ketemu. Ceritanya seperti hilang arah, nggak tau mau dibawa kemana. Really not my cup of tea.
Displaying 1 - 11 of 11 reviews