Jump to ratings and reviews
Rate this book

Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Rate this book
The most complete autobiography of the first president of Indonesia. This is the revised edition from the previous controversial edition.

425 pages

First published January 1, 1965

231 people are currently reading
3313 people want to read

About the author

Sukarno

70 books149 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
923 (57%)
4 stars
408 (25%)
3 stars
178 (11%)
2 stars
39 (2%)
1 star
45 (2%)
Displaying 1 - 30 of 153 reviews
Profile Image for Jun Kawai.
10 reviews9 followers
April 23, 2009
"Apabila aku telah mencapai sesuatu selama diatas dunia,ini adalah karena rakyatku.Tanpa rakyat aku tidak berarti apa-apa.Kalau aku mati,kuburkanlah Bapakmu menurut agama Islam dan diatas batu kecil yang biasa, engkau tulislah kata-kata sederhana : Di sini beristirahat Bung Karno,Penyambung Lidah Rakyat Indonesia"

Laki-laki yang hebat,bahkan dalam penjarapun dia masih membaca buku.
Sukarno adalah seorang mahapencinta.Dia mencintai negerinya,dia mencintai rakyatnya,dia mencintai perempuan,dan dia mencintai seni,dan diatas segala-galanya,dia mencintai dirinya sendiri...
Profile Image for Karamullah.
4 reviews1 follower
December 2, 2008
disadur bebas dan diceritakan kembali dari buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”

Saat Masuk kuliah
“Aku berkeinginan untuk meneruskan universitas di Belanda karena biasanya seorang yang ingin sekolah teknik pergi ke negeri Belanda, tetapi ibuku melarang dengan alasan biaya yang cukup besar dan ingin aku tinggal disini diantara bangsaku sendiri”
“Dan begitulah aku mendaftar diri ke universitas di bandung, mungkin suara ibuku yang didengar, akan tetapi sesungguhnya tangan Tuhanlah yang menggerakkan hatiku”

Teman Kuliah dan Pergaulan
“Aku termasuk diantara 11 orang pribumi Indonesia yang bermuka hitam terapung-apung kian kemari dalam lautan kulit putih berambut merah, berjerawat dan bermata hijau seperti kucing ”
“Biasanya anak Belanda menyorakkan kami dengan kata-kata “Hei kamu anak inlander (pribumi-red) bodoh mari sini”, Aku tidak tahu kekuatan apa yang ada padaku, aku hanya tahu, bahwa sekalipun aku tidak mengucapkan sepatah kata, kehadiranku saja sudah cukup untuk menutup mulut-mulut orang yang menghina lalu menghentikan perintah-perintahnya”

Kegiatan Perkuliahan
“Kami membanting tulang di sekolah. Pekerjaan rumah banyak sekali . Kuliah-kuliah yang diberikan enam hari dalam seminggu, semua kuliah dalam bahasa Belanda ditambah dengan ujian tertulis setiap triwulan selama sebulan penuh sungguh-sungguh rasanya seperti akan mematahkan tulang punggung karena bertekun”
“Aku sering tidak kuliah. Otakku sudah terlalu penuh dengan soal-soal politik, sehingga tidak mungkin memusatkan perhatian pada studi”
“Siapa yang belajar ? bukan Aku. Tidak pernah. Aku mempunyai ingatan seperti bayangan gambar dan terlalu sibuk memompakan soal politik kedalamku sehingga tidak sempat membuka buku sekolah”

Biaya Kuliah
” Aku kira bahkan kelaparanpun tidak dapat mencegah keluarga saya membiayai yang perlu bagi pendidikan anaknya. Sebagai mantri guru bapak membanting tulang seperti pekerja lainnya. Ibu duduk berjam-jam lamanya melukis kain batik sampai tengah malam hingga pelita dan pemandangan matanya menjadi samar. Supaya dapat mengumpulkan susah payah uang 300 rupiah untuk kuliah setahun. Kakak saya dan suaminya juga membantu setiap bulan”

Mata Kuliah
“Dewi dendamku adalah ilmu pasti. Aku tidak begiku kuat dalam ilmu pasti. Arsitek bagiku sangat menarik, akan tetapi kalkulasi bangunan dan komputasi (numerik bukan ?-red) jangan tanya. KLEINSTE VIERKANTEN atau geodesi semacam ilu mengukur tanah dan belajarnya dalam kaki persegi, dalam semua ini aku gagal”

Ujian
“Dalam ujian aku bermain curang, misal dalam menggambar konstruksi bangunan, aku kuat dalam pelajaran ini. Ketika dosen yang mengawas tidak memperhatikan, temanku berkata “Karno buatkan bagan untukku kau mau ?” Aku bertukar kertas dengan dia, dengan terburu-buru membuat gambar yang kedua dan menyerahkan kembali padanya. Kawanku juga membalas dalam pelajaran KLEINSTE VIERKANTEN. Professor membuat 3 pertanyaan dalam waktu 45 menit, kawan-kawanku menempatkan kertas sedemikian rupa dibangku sudut, sehingga aku dapat menyalin jawabannya. Tentu saja aku mencontoh mahasiswa yang lebih pandai dalam ilmu pasti. Cara ini bukan semata-mata curang, di Indonesia ini disebut kerjasama yang erat. GOTONG-ROYONG.

Nilai Ujian
“Ada Pameo di sekolahku di HBS (SMA-red) angka 10 buat Tuhan, 9 buat professor, 8 untuk anak yang luar biasa, 7 buat Belanda dan 6 untuk kami (Pribumi-red)”
“Aku pernah mendapat 3 karena professor melakukan taktik licik, ia mengadakan ujian lisan satu persatu hanya ada satu mahasiswa dan professor di kelas, karenanya aku jatuh”

Kurikulum
“Kurikulum kami disesuaikan dengan kebutuhan masa penjajahan Belanda. Yang dipelajari adalah teknik Kapitalis. Misal tentang irigasi, yang dipelajari bukan cara mengairi sawah yang terbaik tetapi yang diajarkan sistem pengairan tebu dan tembakau. Ini adalah irigasi kepentingan imperialisme dan kapitalisme bukan untuk memberi makan rakyat yang kelaparan tetapi membikin gendut pemilik perkebunan”
“Pelaran dalam membuat jalanan tidak menguntungkan rakyat. Jalan yang dibuat bukan menghubungkan antar pulau sehingga rakyat berpergian dengan mudah. Kami hanya merencanakan jalan tambahan sepanjang pantai dari pelabuhan ke pelabuhan sehingga pabrik dapat mengangkut secara maksimal”
“Rektor Sekolah Teknik Tinggi berkata didirikannya sekolah ini untuk memajukan politik Den Haag di Hindia suapaya dapat mengikuti kecepatan ekspansi dan eksploitasi, pemerintah saya perlu mendidik lebih banyak insinyur dan pengawas yang berpengalaman”

Mendapat Gelar Sarjana
“Dengan dua orang kawan bangsa Indonesia yang berhasil bersama-sama denganku pada tanggal 25 mei 1926 (umur Sukarno 24-red) aku mendapat gelar “INGENIEUR”. Ijazahku dalam jurusan TEKNIK SIPIL (menepis bahwa dia berasal dari arsitek-red ) menentukan bahwa aku adalah spesialis dalam pekerjaan JALAN RAYA DAN PENGAIRAN. Aku sekarang diberi hak dalam menulis namaku : Ir Raden Sukarno”

Penutup
“Ketika memberi gelar sarjana teknik kepadaku, Presiden Universitas (rektor-red) berkata “Ir Sukarno, ijazah ini dapat robek dan hancur menjadi abu suatu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah, bahwa satu-satunya kekuatan yang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang. Ia akan tetap hidup dalam hati rakyat, sekalipun sesudah mati”"
“Aku tak pernah melupakan kata-kata ini”
Profile Image for Henry Manampiring.
Author 12 books1,221 followers
January 3, 2024
All adult Indonesians should read this. Our founding father's voice and vision, also his personal struggle.
Profile Image for Fadilla Dwianti Putri.
83 reviews63 followers
September 3, 2011
"Aku tidak begitu memikirkan benda-benda duniawi seperti uang. Hanya orang-orang yang tidak pernah menghirup apinya nasionalisme yang dapat melibatkan dirinya dalam soal-soal biasa seperti itu. Kemerdekaan adalah makna hidupku. Ideologi. Idealisme. Makanan daripada jiwaku."

Sebelum saya membaca buku ini, saya selalu bertanya-tanya, bagaimana caranya seorang pemuda Soekarno bisa menjadikan dirinya sebagai pemimpin daripada rakyat Indonesia. Ternyata di balik perkataan orang-orang yang mengatakan beliau adalah seseorang yang kharismatik, setelah saya membaca buku ini, he was beyond charismatic. Ia memiliki "sesuatu" yang dibutuhkan dan tidak dimiliki oleh rakyat Indonesia kebanyakan. Perjalanan hidupnya yang penuh akan lika-liku, pengasingan, dan pembuian seakan tidak meruntuhkan semangat dan api nasionalisme yang berada dalam diri beliau. Indonesians must be really proud to have a very first president like him!
Profile Image for tnty.
121 reviews2 followers
October 21, 2017
Sejujurnya selama ini saya adalah #TeamHatta daripada #TeamSukarno karena berbagai alasan. Setelah menyelesaikan buku ini, saya melihat sosok Sukarno dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah sosok yang patut dikagumi dan memang yang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia pada masa itu sebagai Presiden pertama di Indonesia. Dalam buku ini, Beliau digambarkan apa adanya bahkan banyak cerita hidupnya yang ditulis di sini membuat saya tertawa terpingkal-terpingkal karena Sukarno menuliskan perasaannya dengan sangat jujur. Meskipun saya menyadari juga kalau buku ini adalah edisi revisi, mungkin banyak yang saya baca belum tentu 100% benar.


Bung Karno adalah sosok yang patut dikagumi dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain karena dalam buku ini Beliau terlihat sangat mengerti Indonesia dan bagaimana memperjuangkan rakyatnya yang tertindas. Beliau lahir dari Ibu keturunan Bali dari kasta Brahmana yang tidak bisa baca tulis dan seorang Ayah yang merupakan guru dengan pemikiran yang visioner dan menerapkan disiplin yang keras. Dari Ayahnya, Beliau diajarkan filosofi Hindu ‘Tat Twam Asi, Tat Twam Asi’ dan juga digembleng oleh HOS Cokroaminoto yang seorang religious muslim. Dari Ibunya, ia memperoleh arti kasih sayang dan mungkin yang membentuk pemikiran Beliau terhadap perempuan-perempuan yang dicintainya kemudian: sosok yang penuh kasih sayang tanpa perlu mementingkan intelektualisme. Dari Sarinah, yang merupakan pembantu di rumahnya, ia mengenal asas gotong royong dan rasa cinta pada rakyat kecil. Namanya membuat saya teringat pusat perbelanjaan jadul Sarinah di Menteng yang memang dibangun oleh Sukarno pada masa kepemimpinannya.


Dalam buku ini ditulis sosok Sukarno muda yang sangat ingin melanjutkan kuliah di negeri Belanda, tapi ditentang oleh Ibunya karena kondisi keuangan. Tetapi justru dengan takdir Sukarno untuk bersekolah di Bandung, Beliau dapat menjadi sangat mengerti dan dekat dengan rakyat Indonesia dibandingkan tokoh-tokoh Indonesia yang bersekolah di Belanda, seperti misalnya Bung Hatta. Bagaimana dia bertemu seorang petani bernama Marhaen di selatan Bandung yang mengilhami filosofi Marhaenisme yang Beliau ciptakan. Lalu Sukarno yang kritis mampu melihat materi kuliahnya yang disusun oleh Belanda untuk melanggengkan kolonialisme. Bagian yang saya kagumi adalah ketika Beliau dibuang ke Flores. Bagaimana Beliau dapat menginisasi pementasan sandiwara dengan rakyat setempat dan juga mendapat pemikiran tentang rumusan Pancasila. Sisi Sukarno inilah yang menurut saya lebih unggul dibandingkan dengan tokoh Indonesia lainnya termasuk Bung Hatta, disamping Sukarno adalah sosok yang karismatik dan mampu menggerakkan semangat kemerdekaan pada rakyat Indonesia pada masa itu.


Sayangnya, buku ini hanya memberikan tulisan singkat dari kacamata Sukarno di masa kepemimpinannya sebagai Presiden. Meskipun begitu, saya merasa buku ini pantas diberi lima bintang dan wajib dibaca oleh setiap rakyat Indonesia.
335 reviews32 followers
August 20, 2022
Note: I hold a 1st Edition copy, unedited before "controversial" changes in the 2nd Edition; I am unsure of what the 2nd Edition changes.

Truly an outstanding biography, perhaps creating an even greater enigma of an already enigmatic man. A nationalist, but a collaborator; a nationalist, but a socialist; a socialist, but not a communist; a friend of John F. Kennedy, and yet also to much of the Eastern Bloc; a man who put down many communist rebellions and coups, yet often held onto power with the support of the PKI; a deeply religious Muslim, yet an admitted womanizer.

Sukarno makes no attempt to hide his faults, nor his ego, in such a candid work. He admits to womanizing, to lust, to hatred of US imperialism, to a dislike of Communism, to his lengthy intellectual pursuits on all things spanning from Marxism to Islamic theology. Truly an engaging, thoughtful, yet remarkably unconventional work.
Profile Image for Veni Johanna.
9 reviews22 followers
February 18, 2012
Must-read book for Indonesian people, simply for the insight it gives on Sukarno's thoughts. The mastermind of Indonesia's independence, Sukarno was not only an incredible public speaker but also a lover of women. This book, told in a characteristic, Sukarno-esque boastful manner, portrayed the man's charms and influence in front of women and his people. His passion and love for Indonesia were magnetic, and it came across in this book. He walked through important moments in his life and the thoughts behind some of his controversial decisions (his collaboration with Japan, for example) with great clarity. The team dynamics among Sukarno, Muhammad Hatta and Sutan Sjahrir is also interesting, with Sukarno dissing them more than he praised them.

All in all, this is not the best-written book or even the most factual. Gatot Mangkupraja, for example, had published a rebuttal of some of Sukarno's claim in this book; there are also some discrepancies with Hatta's and Sjahrir's accounts. It's still an interesting and easy-to-read book, though. You'll finish reading this feeling that you better understand the complexity of the man to whom Indonesian people owed their independence.
Profile Image for Katherine 黄爱芬.
2,419 reviews291 followers
August 6, 2018
Soekarno adalah presiden pertama Indonesia yang paling kontroversial semasa hidupnya, baik aspirasinya, visinya, maupun kehidupan pribadinya. Dari buku biografi ini, Soekarno menceritakan kehidupannya sejak masih kecil hingga tahun 1965.

Dari yang saya baca, kepribadian Soekarno ini sangat kompleks. Pemikirannya jauh melampaui zamannya. Soekarno bukan tipe teoritis, dia adalah seorang praktisi, yg langsung mengimplementasikan pemikirannya, ide-idenya langsung dituangkan dalam bentuk tulisan, bahkan saat dirinya ditahan di penjara oleh Belanda. Badan boleh dipenjara tetapi pikirannya tetap bebas mengembara utk mewujudkan kemerdekaan Indonesia, cita-cita seluruh bangsa Indonesia pada masa 1920-an. Saat menjelang kemerdekaan RI, Soekarno mengungkapkan bhw banyak perbedaan pendapat, ada yang belum siap, perlu perencanaan matang dsb, bagi Soekarno kalau menunggu siap, sampai keburu mau mati juga gak bakalan merdeka negeri kita ini.

Soekarno bukanlah tipe yang langsung jera. Usai dipenjara, Soekarno tetap saja berpidato utk membangkitkan semangat perjuangan utk melawan Belanda. Maka akhirnya Soekarno dibuang ke Ende. Saat dirinya sakit malaria, dia dipindahkan ke Bengkulu. Selama masa pembuangan, Soekarno selalu tetap kreatif dan tidak melupakan cita-cita pergerakannya. Saya baru tahu Soekarno membuat tonil kecil-kecilan di Ende utk membasmi waktu. Menjadi guru saat di Bengkulu.

Saat Jepang masuk, Soekarno terpaksa "berkolaborasi" dgn Jepang. Dari dalihnya, dia mengatakan bhw dirinya mendapatkan lebih banyak dari Jepang, ketimbang sebaliknya Jepang mendapatkan dari Indonesia. Benar atau tidak, saya kagum berat dgn pesona kharismanya yg melimpah, krn dia toh "lolos" dari tuduhan penjahat perang, bahkan diangkat sbg Presiden secara aklamasi.

Soekarno juga menceritakan beratnya setelah membidani kelahiran Republik Indonesia ini, penuh chaos dan Belanda (NICA) yg berusaha menguasai Indonesia kembali, belum lagi masing-masing daerah mau merdeka sendiri. Saat darurat Soekarno memindahkan ibukota ke Yogyakarta, RI yang masih serba darurat, langit Jogja yg selalu diselimuti hadiah bom dari pesawat NICA, mewarnai kehidupan keluarganya. Hingga saat dirinya dibuang ke Bangka juga diwarnai penuh ketegangan, vonis hukuman mati tanpa pengadilan, hingga banyak simpatisan gerilyawan yg berusaha membebaskan dirinya. Entah bagaimana kharismanya itu tidak hanya membetot para kenalannya juga, bahkan rakyat jelata yang tidak mengenalnya.

Hingga pada penghujung cerita, dia menceritakan pengalamannya dalam kunjungan kenegaraan di Amerika Serikat, kebenciannya pada negara adidaya tsb, krn selalu disalahartikan maksud ucapannya melulu. Soekarno sendiri mengakui dirinya adalah seorang Sosialis (bukan komunis), seorang idealis, seorang romantis yang menyukai keindahan. Dari muda hingga usia senja, Soekarno tidak pernah mengumpulkan uang utk dirinya sendiri, dia selalu meminta ke teman-teman kanan kirinya tetapi hanya mengambil secukupnya, sebutuhnya saja. Sebaliknya Soekarno juga tidak pernah tega pada teman yang meminjam uangnya dan tidak mengembalikannya. Soekarno selalu menekankan gotong-royong, bahkan mengatakan saat dia masih kuliah, dia bukan mencontek tetapi bergotong-royong. Soekarno selalu membantu kenalan-kenalannya tanpa pandang bulu, atau kebangsaannya dsb. Selama orang itu pernah berbuat kebaikan pada Soekarno, beliau pantang utk melupakannya.

Soekarno memiliki wawasan sangat luas karena beliau sangat menyukai membaca buku-buku, dia melahap semuanya, dari Islam hingga Kristen, sejarah seluruh dunia, dan dirinya juga menyukai menonton film Hollywood (satu-satunya yang dia sukai dari produk Amerika). Ya, presiden pertama kita ini pribadi yang sangat mempesona, malah saya suka ngekek di bagian cerita-cerita yang lucu, terlepas pribadinya sbg suami, sangat tidak ideal.
Profile Image for nana_nans.
4 reviews3 followers
December 22, 2012
Cindy Adams menuturkan otobiografi sang penyambung lidah rakyat dengan cara yang membuat pembaca merasa dekat dengan Bung Karno. Apa makanan kesukaannya, bagaimana saat kanak-kanak dia merasa "kecil" karena gunjingan orang-orang di lingkungannya, bagaimana dia jatuh cinta dengan istrinya yang entah ke berapa, bagaimana dia harus berbagi ruang yang hanya tersekat sebilah papan hingga derit-derit kasur tidur tertangkap indra pendengaran di kala malam, bagaimana perasaannya saat dikaruniai seorang anak, bagaimana dia terkena malaria ketika dikucilkan, bagaimana orang Bali menganggapnya sebagai Dewa Hujan dalam agama Hindu dan lain-lain.

Saya bukan penggemar Bung Karno. Kalau buku ini dan "Sarinah" tidak ditinggalkan almarhum ayah saya di rak buku, mungkin saja saya hanya akan menganggap Bung Karno sebagai tokoh bersejarah yang sangat berpengaruh dan beristri banyak. Maklum, saya antipoligami, jadi skeptis pula dengan orang-orang yang menerapkannya.

Well, bagaimanapun juga, secara subjektif saya cinta buku terjemahan ini, penuh kenanga bagi saya (karena ini buku peninggalan ayah saya dengan tanda tangannya yang dibubuhkan di halaman depan). Secara objektif, Cindy Adams (Oh, saya suka caranya bertutur), menangkap dan mencatat segala-galanya dengan lihai, lalu menyuguhkannya dengan sederhana (penting). Tak hanya masalah politik yang dibahas, tapi juga sisi humanis dari Bung Karno; sisi seorang ayah, sisi seorang suami (atau lelaki), sisi seorang pemimpin dan pejuang, sisi seorang teman, sisi seorang yang arogan, sisi seorang anak yang lahir di tanah Ibu Pertiwi, Indonesia. Bagaimana Cindy menjelaskan sosok Bung Karno dengan menggunakan "aku", membuat saya merasa Bung Karno menceritakan kisah dan pemikirannya sendiri kepada saya.

Mungkin Bung Karno harus berterima kasih pada ayah saya, dan pada Cindy Adams tentunya. Karena keduanya membuat saya mencari: sosok seperti apa yang almarhum ayah saya lihat pada diri Bung Karno, dan Cindy Adams menjawabnya. Saya pun jatuh hati pada beberapa sisi pribadi Bung Karno. Tak lain tak bukan, karena dia menuturkan sesuatu (atau mungkin sebagian) dengan jujur (atau mungkin blakblakan), dan betapa dia sangat percaya diri.

Kutipan:
"Orang bertanya, "Sukarno, apakah engkau tidak merasa tersinggung bila orang mengeritikmu?" Sudah tentu aku merasa tersinggung. Aku benci dimaki orang. Bukankah aku bersifat manusia seperti juga setiap manusia lainnya? Bahkan kalau engkau melukai seorang Kepala Negara, ia akan lemah. Tentu aku ingin disenangi orang. Aku mempunyai ego. Itu kuakui. Tapi tak seorang pun tanpa ego dapat menyatukan 10.000 pulau‐pulau menjadi satu Kebangsaan. Dan aku angkuh. Siapa pula yang tidak angkuh? Bukankah setiap orang yang membaca buku ini ingin mendapat pujian?"
Profile Image for Evan Dewangga.
303 reviews37 followers
January 25, 2019
Buku pertama yang saya habiskan di 2019 (meski saya sudah mulai dari 2018 hehe). Kejujuran, satu kata yang menggambarkan buku ini. Membaca buku ini saya seperti membaca curhatan cowok yang super sensitif dan baperan. Ya memang, karena Bung Karno sendiri mengakui kalau dirinya seperti itu, mudah tersinggung dan sakit hati, tapi tetap selalu mencoba bersahabat, bahkan dengan musuhnya. Toh kalau Bung Karno tidak seperasa ini, saya yakin dia tidak akan benar-benar bisa mendengar rintihan rakyat. Dari sisi kontroversialnya, seperti memanfaatkan pelacur dan poligami, Bung Karno bisa menjelaskan dengan gamblang kenapa dia berperilaku demikian (meski saya kurang bisa mentoleransi yang masalah poligami). Pun juga masalah kolaborasi dengan Jepang, sangat lugas sekali dijelaskan dalam buku ini, sehingga pembaca dibuat mengerti kenapa Bung Karno memilih jalan ini.

Asyiknya buku ini, adalah perspektifnya, dari Bung Karno kecil hingga dewasa, sehingga pembaca diajak menyelami tiap-tiap fase perkembangan Bung Karno dari kenaifan hingga kedewasaannya yang tahan banting. Isu politik dan perang dunia II dipandang dalam kaca mata kemanusiaan dan sensitifitas Bung Karno, membuat saya sadar betapa kejinya zaman kala itu. Dan kemerdekaan kita seringkali hanya dianggap take for granted. Buku ini bagi saya sempurna, pemikiran besar Bung Karno diterjemahkan dalam bahasa sehari-harinya tanpa istilah-istilah yang sulit dimengerti, dan saya yakin waktu Bung Karno dan Cindy Adams menulis ini, pasti tidak hanya ditujukan pada politisi dan pembesar, sebaliknya buku dengan bahasa sederhana ini ditujukan untuk rakyat Indonesia sendiri, demi semakin mengerti sosok asli Sang Proklamator. Ini buku wajib baca untuk seluruh orang yang mengaku WNI.
Profile Image for Karina.
133 reviews4 followers
August 20, 2019
Setelah menyelesaikan membaca autobiography bung karno ini, saya hanya ingin mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada bapak bangsa Indonesia ini atas rasa cinta, perjuangan dan kasih sayangnya pada negeri ini, beliau mengajarkan banyak hal, membangkitkan semangat, memberikan nasehat, beliaupun kadang bersikap jenaka, perasaan saya membaca buku ini, semangat, terketuk, menyadari,terharu,bangga dan sedih sekali di bab bab terakhir.
Buku ini sungguh berkesan mendalam, dan memudahkan anak bangsa mengenal pribadi beliau lebih dekat. Alhamdulillah ada kesempatan Cindy Adams mewawancarai beliau.
Kami bangga sekali padamu Bapak Sukarno, bapak bangsa yang sangat luar biasa, walaupun tidak hidup di zamanmu, kami amat sangat merasakan aura perjuanganmu. Semoga bapak tenang di alam sana. Terimakasih banyak.
Profile Image for Mayangiras.
25 reviews23 followers
Read
August 16, 2010
indonesian must read this book. it's not only his story but also behind the scene, though lil bit, of our freedom revolution.it makes you more understand what is in sukarno's mind.bung karno shares his life with a simple phrase, easy to read and sometimes funny. it contains more than words, it's all about his weakness, his statement, his courage, his struggle for this beloved country, and some answers for questions that world's asked.
Profile Image for Niar.
61 reviews
August 28, 2022
buku autobiografi pertamaku yg meninggalkan kesan begitu mendalam pada diri khususnya hatiku. selama membaca buku ini aku merasa makin dekat dengan bung karno seiring bergantinya halaman pada tiap lembar buku "bung karno penyambung lidah rakyat indonesia". aku dibuat tergugah, sedih, bangga, dan sesekali tertawa karena candaan bung karno yg lucu.

aku merasa sedikit hilang beban setelah membaca buku bung karno, karena dari bukunya inilah yg memberikan gambaran betapa besar perjuangan yg bung karno serta para pahlawan lakukan untuk indonesia pada saat itu. bahkan perjuangan itu sudah dilakukan jauh sebelum merdeka. seluruh hidup para pahlawan dicurahkan untuk kepentingan kemerdekaan dan keberlangsungan indonesia.

beberapa hal yg aku suka dari buku ini:

bung karno tidak segan2 menyebutkan apa yg beliau pikirkan. beliau tidak mengenal takut dan menyerah, tak ada keraguan dari setiap tindakannya. tapi sisi lain dari sosoknya yg kuat serta berprinsip itu, beliau lembut hatinya.

bung karno percaya Allah. pada saat bung karno di penjara di banceuy, beliau mengatakan bahwa kehidupan penjara membuatnya makin dekat dengan Tuhannya. setelah bab itu, aku temukan seberapa besar keyakinan bung karno kepada Tuhan dan agama yg dianutnya, melihat dari bagaimana beliau berulang kali menyebutkan segala hal hebat yg ia lakukan semata2 Allah yg memberikan. begitu tersentuh hatiku membacanya

buku ini menjelaskan peristiwa sejarah dengan cara yg mudah aku pahami, mungkin karena ini merupakan buku autobiografi yang menggunakan kata "aku" sebagai pelaku utama, bahkan cerita membosankan seperti sejarah beserta tahun2nya itu, menjadi menyenangkan. ditambah lagi, ini merupakan buku autobiografi bung karno, sosok yg hebat, sangat kharismatik, pintar, ramah, bisa masuk ke golongan mana pun dan pencerita yg baik. sehingga dengan kelebihan2 bung karno itulah yang membuat buku ini bisa dibaca oleh semua umur dan sangat layak untuk dibaca oleh seluruh rakyat indonesia

"tak kenal maka tak sayang"

dengan mengenal sosok presiden pertama indonesia beserta perjuangannya membawa kemerdekaan dipangkuan ibu pertiwi, membuatku makin mencintai negeri ini, lalu optimis untuk menjadi warga negara yg baik yg bisa membawa perubahan

semoga semangat bung karno terus berkobar hingga generasi2 penerusnya, meski kini secara jasmani beliau tidak ada didunia.. nilai2 kehidupan baik yg bung karno anut semoga bisa diteruskan kepada generasi2 muda masa kini dann begitu pun generasi2 selanjutnya...
Profile Image for Yozzoi.
13 reviews1 follower
July 5, 2017
His thought against Nationality/Indonesia always being my role model in order to think and put it as milestone about " The Steadily Great Indonesia" for present and future.
Profile Image for Peggii.
415 reviews
June 3, 2017
Learned so much and enjoyed the writing
Profile Image for mahatmanto.
545 reviews38 followers
November 23, 2011
yang menarik saya dari buku edisi revisi ini adalah adanya revisi itu sendiri, yang tidak lain adalah dibukanya diskursus mengenai PENULISAN buku ini sendiri.
ternyata,
dengan munculnya edisi revisi maka buku ini sendiri menyejarah: ada beberapa versi yang tidak sama, ada yang bisa dibilang sebagai versi terdahulu dan ada yang kemudian. ada yang disebut sebagai "edisi bahasa inggris" ada pula yang "terjemahan". seandainya buku ini hanya terbit satu edisi yang setia pada edisi yang berbahasa inggris, maka sejarah penulisan buku ini pun pendek.
selain karena munculnya edisi terjemahan yang tidak sama versinya, bentuk yang dipilih oleh cindy adams untuk mengisahkan biografi bung karno ini pun sudah memberi peluang untuk terjadinya banyak tafsiran: ia menulis tentang seorang tokoh yang masih hidup dengan cara seolah-olah tokoh itu sendiri yang bicara langsung apda pembacanya.
siapa author yang sebenarnya dari buku ini?
ketika buku ini diterjemahkan -yakni diubah komposisi audiens pembacanya dengan memasukkan para pembaca berbahasa indonesia- maka muncul aktor baru yang mewarnai isi buku: penerjemah dan editornya.
alhasih, membaca buku ini dalam versi terjemahan akan mempertemukan pembaca dengan pihak-pihak yang menghantarkan isi buku ini kepadanya.
pendeknya,
buku ini hadir di hadapan pembaca berbahasa indonesia tidak secara lugu, tapi berbelit-belit oleh banyak kepentingan. kita tidak tahu yang sebenarnya terjadi di masa lalu, tapi terbitnya buku ini justru menyampaikan pesan tersendiri: bahwa tulisan sejarah itu adalah representasi dari kepentingan.
[emang ada buku yang menghantarkan isi atau pesan secara lugu dari author kepada pembacanya? apa sih yang "lugu" itu?]

terima kasih untuk terbitnya edisi revisi buku ini!
Profile Image for Marina.
2,036 reviews359 followers
July 21, 2015
** Books 212 - 2015 **

Buku ini untuk memenuhi tantangan New Author Reading Challenge 2015 dan Yuk Baca Buku Non Fiksi 2015

4 dari 5 bintang!


Buku ini merupakan satu kepingan puzzle yang utuh dari kisah Presiden Sukarno yang saya selama ini pernah baca. Ketika saya hanya bisa melihat dari perspektif Ir. Sukarno dibuku ini.. Kepingan-kepingan lainnya saya dapatkan di dalam buku Hatta: Aku Datang karena Sejarah yang melihat Sukarno dari pandangan Moh. Hatta, Fatmawati Sukarno : The First Lady yang melihat Sukarno dari pandangan Siti Fatmawati, Seteru 1 Guru yang melihat Sukarno dari pandangan Musso dan Kartosoewirjo.. Tidak bisa dipungkiri ada fragmen-fragmen yang menghilang dari buku ini. Seperti tidak disebutkan bahwa sebelumnya Musso dan Kartosoewirjo pernah berada mengekos bersama-sama sang putra fajar ini di rumah H.O.S Tjokroaminoto. Dibuku ini hanya disebutkan bersama Alimin saja.

Buku ini juga membagikan kisah kegetiran, kesedihan dan kesederhanaan hidup dari Ir. Sukarno dan menginginkan bangsa Indonesia sejajar dengan bangsa lainnya. >__<
Profile Image for Abieffendi.
65 reviews9 followers
April 9, 2013
Kebetulan saya membaca cetakan pertama dari buku ini.
Lepas dari subjektifitas yang ada di buku ini, saya rasa harusnya buku ini menjadi buku wajib bagi kalangan muda saat ini. Tujuannya adalah untuk lebih membuka mata mereka tentang milik siapakah negara Indonesia ini dan pengorbanan apa yang telah dilakukan para pejuang dulu untuk mendapatkan kemerdekaan. Sementara mereka yang dulu sampai ada yang digantung, ditembak kepalanya karena keras-kepala membela tanah-air, saat ini para pemuda(atau remaja mungkin lebih tepat ya?) malah nongkrong2 di depan kampus setiap pulang sekolah menghamburkan waktu begitu saja, sementara negaranya dicaplok 'orang lain', Amerika, Korea, Jepang, dll. Bukan hanya tanah yang dicaplok, otak kita pun sudah dicaplok sama negara asing, menjadi suka-rela dijajah negara lain, malah mungkin berlomba-lomba menjual negara ini ke tangan asing. Padahal tanah ini bukan milik mereka yang tidak berkorban sama sekali untuk bangsa ini, tanah ini adalah milik para pejuang, dan bung Karno (merasa) mewakili cita-cita mereka yang telah gugur, mengorbankan jiwa dan raga bagi tanah tumpah darah, juga menjadi pemilik dari Indonesia. Kita sebagai pemuda yang numpang lahir di tanah ini, menurut saya berkewajiban untuk meneruskan cita-cita dan idealisme mereka.
Profile Image for Sam Haidy.
Author 4 books35 followers
November 14, 2010
Sebuah biografi yang merefleksikan perjalanan dan gelora hidup sang proklamator. Kegetirannya melewati masa-masa sulit, pergulatannya dalam pergerakan kebangkitan bangsa ini, pendekatannya yang sangat intens terhadap rakyat, dan semangatnya yang di atas normal dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Juga membedah secara mendalam karakternya, lika-liku kehidupan pribadinya, kegelisahan-kegelisahannya sebagaimana manusia umumnya, serta pandangan-pandangan dan sikapnya yang dalam beberapa hal dianggap kontroversial, tapi setelah membaca buku ini bisa lebih dimengerti (meski tak harus disetujui).

Setelah membacanya, segera terasa ada yang hilang dari bangsa ini sekarang: karakter.
Profile Image for Dhini.
96 reviews15 followers
November 18, 2008
mengingat bahwa buku ini disusun dari wawancara cindy dgn bung karno sendiri, maka tidak mengherankan kalo buku ini terasa cukup detail untuk mengenal sosok bapak proklamator kita..

syukur pada Sang Khalik.. bahwa Indonesia pernah memiliki tokoh seperti beliau. Terlepas dari kontroversi menjelang akhir hayat beliau, hendaknya anak-anak negeri ini bisa melihat bagaimana perjuangan beliau melepaskan diri dari kolonialisme dan imperialisme untuk menjadikan Indonesia sebagai suatu negara berdaulat yang bisa duduk sejajar dengan bangsa lain.
Profile Image for Wiwien Chan.
20 reviews1 follower
February 4, 2018
"Aku mendambakan bernaung dibawah pohon yang rindang, dikelilingi oleh alam yang indah, disamping sebuah sungai dengan udara yang segar dan pemandangan yang bagus. Aku ingin beristirahat diantara bukit yang berombak-ombak dan di tengah ketenangan. Benar-benar keindahan tanah airku tercinta dan kesederhanaan darimana aku berasal. Dan aku ingin rumahku yang terakhir ini terletak di daerah Priangan yang sejuk bergunung-gunung dan subur, dimana aku pertama kali bertemu petani Marhaen."
Profile Image for edypekalongan.
77 reviews4 followers
August 31, 2010
membaca buku ini,
saya baru tahu kalau 17 agustus 1945.
tiang bendera kita dari bambu.
dan teks proklasmasi di tulis di kertas biasa.
dengan pulpen meminjam.

dan hidup seorang bung karno,
luar biasa penuh derita di masa perjuangan.



2 reviews
January 8, 2011
Buku sangat bagus, sampai 2x saya baca walaupun kelihatan berat tapi enak dibaca. Menceritakan perjalanan hidup, pikiran dan tindakan seorang Soekarno.
Profile Image for Leonardus Aditya Krisnadi.
8 reviews
May 31, 2020
Bagi masyarakat Indonesia, Soekarno adalah pahlawan yang pro-rakyat. Namun bagi masyarakat Barat, Soekarno dipandang sebagai seorang diktator. Biografi ini menjadi 'hak jawab' Soekarno atas dua pandang tersebut.

Dalam buku Cindy Adams ini, Soekarno menceritakan pengalaman hidupnya kepada pembaca. Perjalanan hidup Soekarno memanglah menarik, ia banyak membahas masa kecilnya dan khususnya kekagumannya pada gotong-royong. Gotong-royong nantinya akan terus dibahas hingga akhir buku, hal ini menunjukkan betapa Soekarno mengagumi kebudayaan tersebut. Salah satu wujud nyata gotong-royong yang ia bahas adalah tentang Sarinah, seorang pengasuhnya.

Kisah selanjutnya yang dapat dikatakan sangat penting adalah periode pematangan Soekarno di Surabaya. Soekarno sangatlah beruntung karena bisa tinggal di indekos milik H.O.S Cokroaminoto dan berjumpa dengan aktivis kemerdekaan dari 3 ideologi yakni nasionalisme, islamisme dan komunisme. Perjumpaan Soekarno dengan hal tersebut nantinya menginspirasinya untuk mendorong gagasan Nasakom di era Demokrasi Terpimpin. Sesudah meninggalkan Surabaya, Soekarno pindah ke Bandung untuk melanjutkan studinya. Di Bandung, Soekarno mengalami banyak hal besar dalam hidupnya: ia bercerai dengan putri Cokroaminoto, menikah dengan Inggit, menemui Kang Marhaen dan melahirkan Marhaenisme, dan mulai muncul sebagai orator. Sesudahnya, Soekarno akan menjadi tokoh yang selalu diikuti Polisi Kolonial.

Soekarno kemudian melanjutkan kisahnya di penjara dan di pembuangan. Di tahap ini Soekarno menemukan Tuhan dan semakin dalam mengimani Islam. Selain itu, di tempat pembuangan Soekarno mencari 5 nilai utama dari kebudayaan Nusantara yang menjadi dasar. Kelima nilai ini nantinya ia tawarkan sebagai dasar negara dengan nama Pancasila. Kisah Soekarno semakin menarik ketika Jepang masuk ke Indonesia, lalu di akhir perang mendirikan BPUPKI dan PPKI. Keterlibatan Soekarno dalam kedua badan tersebut dituliskan secara detail dalam buku ini.

Ketika Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya, Soekarno dan Hatta kemudian dipercaya menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Kisah Soekarno tidak berhenti disini, ia masih harus mengalami penangkapan dan pembuangan lagi ketika Agresi Militer Kedua Belanda. Baru setelah pengakuan kedaulatan, Soekarno kembali ke Istana Negara dan memimpin Indonesia bangkit dari dampak paska perang.

Buku ini juga menampilkan sisi humoris Soekarno seperti ketika ia mencontek saat kuliah, Soekarno berpendapat bahwa yang ia lakukan hanyalah 'gotong-royong' antar sesama murid. Selain itu ada juga kisah ketika ia lupa kalimat ketika sedang memimpin doa di rapat akbar. Kisah lucu ini tidak dihilangkan oleh Cindy Adams, sebuah langkah yang saya rasa sangat bijak karena semakin memanusiakan Soekarno.

Cindy Adams menampilkan Soekarno apa adanya sebagaimana hasil wawancara yang ia lakukan. Maka di buku ini ada beberapa tindakan Soekarno ketika menjadi presiden yang juga bertentangan dengan tindakannya ketika muda, salah satunya adalah isu kebebasan pers. Ketika muda, Soekarno memanfaatkan media massa untuk menyampaikan argumen dan kritiknya terhadap Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Namun justru ketika Soekarno menjadi presiden, ia bersikap anti-kritik dengan cara membungkam media yang mengkritiknya. Soekarno menyatakan dalam buku Cindy Adams bahwa ia berhak untuk marah terhadap orang yang mengkritiknya.

Secara keseluruhan buku ini sangat bagus untuk dibaca. Buku ini menampilkan Soekarno apa adanya, kelebihan dan kekurangannya ditulis dengan baik. Hanya saja memang ada satu bagian penting yang belum ditulis yakni kisah Soekarno pasca G-30S, namun hal ini dimaklumkan buku ini ditulis sebelum tragedi tersebut.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Fatiya Amelia.
29 reviews
May 27, 2023
“Apakah Sukarno seorang komunis? Sukarno adalah seorang individualis. Manusia yang congkak dengan suara batin yang menyala-nyala, manusia yang mengakui bahwa ia mencintai dirinya sendiri tidak mungkin jadi satelit yang melekat pada bangsa lain. Sukarno tidak mungkin menghambakan diri pada dominasi kekuasaan manapun juga. Dia tidak mungkin menjadi boneka.”

Sebelum membaca buku ini, saya tahu presiden pertama Indonesia hanya dari buku sejarah sekolah, bahkan tidak tertartik untuk mendalami. Sukarno dimata saya sebelum dan sesudah membaca autobiografi ini sangat berbeda. Presiden yang karismatik dan memiliki banyak istri, hanya sebatas itu yang saya tahu. Saya tidak menduga bahwa beliau se-”karismatik”-itu -–hingga menyatukan rakyat Indonesia bahkan dipuja seperti nabi.

Membaca buku Bung Karno sama seperti membaca sejarah Indonesia. Mengetahui kelahiran dan kehidupannya, sama dengan mengikuti Indonesia hingga kelahirannya. Membaca autobiografinya sama dengan membaca perjuangan bangsa kita.

Autobiografi ini menceritakan kehidupan Bung Karno dari kecil, masa sekolahnya, pandangan-pandangannya tentang negara dan dunia, kebiasaannya, perempuan-perempuan yang ada di hidupnya, pergerakan, kemerdekaan, revolusi, hingga hidupnya sebagai seorang presiden dari negara yang baru lahir. Sukarno dijuluki Singa Podium dengan pidatonya yang bisa menggetarkan hati rakyat dan menyatukan hati untuk mencintai bangsanya. Kemampuan pidatonya mulai diasah sejak duduk di HBS (sekolah menengah Hindia Belanda), dia banyak membaca buku dari kecil hingga bisa membuat gagasan-gagasan dasar negara Indonesia.


Ketika membaca buku ini, rasanya jauh dari senang. Perasaan kita akan diliputi banyak rasa iba. Iba terhadap Sukarno dan kehidupannya, iba terhadap rakyat kita yang diinjak-injak. Juga kebencian tehadap kolonialisme dan fasisme. Kehidupan Bung Karno juga jauh dari kata senang. Penjara, pengasingan, perjuangan, pemikiran, banyak yang beliau curahkan bagi bangsa. Meskipun tidak memiliki kekayaan, kekuatan, dan senjata, dia mampu menjadi pemimpin berbekal pikiran, ketekunan, dan keberanian.
84 reviews
January 15, 2024
Otobiografi Sukarno yang dituliskan oleh jurnalis Cindy Adams ini menjadi salah satu otobiografi yang cukup luar biasa yang memaparkan perjalanan hidup Bung Karno dari kecil hingga usia tuanya.

Di buku ini, Sukarno menceritakan kisah hidupnya dengan sangat detail dan penuh emosi yang menggebu-gebu layaknya seorang Singa Podium.

Buku ini memang sangat berfokus pada Bung Karno, dan Bung Karno juga tidak segan untuk menceritakan kehidupan pribadinya dengan detail seperti hubungan dan pendapatnya tentang HOS Cokroaminoto, Inggit Garnasih (yang merupakan istri kedua Soekarno setelah Utari Cokroaminoto, dan merupakan sosok wanita yang menemani Soekarno dalam menggapai kemerdekaan Indonesia), Muhammad Hatta, dan banyak tokoh-tokoh kemerdekaan lainnya.

Soekarno pun menjawab atau lebih tepatnya mengklarifikasi berbagai tudingan dari media barat seperti sikap permusuhan Soekarno pada Amerika Serikat dan Malaysia, Soekarno yang dianggap komunis, kedekatan Soekarno dengan China dan Rusia, keluarnya Indonesia dari PBB, dan pandangan Soekarno sendiri pada Belanda dan Jepang.

Melalui buku ini, kita melihat Soekarno sebagai bapak bangsa dengan jiwa emosional dan nasionalisme yang menggebu-gebu. Kita mampu untuk melihat Soekarno bukan hanya sebagai pemimpin bangsa Indonesia yang tidak gentar dari tekanan bangsa barat melainkan juga sebagai sosok manusia Indonesia yang kaya akan emosi dan penuh dengan perjuangan hidup sedari cilik.

Akhir kata, melalui kisahnya di buku ini, Soekarno mampu membuktikan diri tidak hanya sebagai Penyambung Lidah Rakyat Indonesia melainkan juga pendukung terbesar kemerdekaan dan kebebasan bangsa Asia-Afrika
1 review
March 8, 2021
Buku ini mengajak kita untuk menelusuri lebih dalam kehidupan seorang Soekarno muda yang begitu bertekad sejak lama utk membebaskan Indonesia dari belenggu kolonialisme dg caranya sendiri. Dalam buku ini Soekarno juga mengakui bahwa pada masa mudanya, ia sama halnya dengan remaja pada umumnya, seperti bermanis mulut kepada orang tua dikala kekurangan uang saat bersekolah, dan ia juga tidak segan untuk mengulik sifat - sifatnya yang baginya tidak perlu untuk dicontoh. Ia juga menyadari bahwa sejak awal cara perjuangannya sering dihadapi pertentangan oleh teman seperjuangannya sendiri seperti Mohammad Hatta dan juga Sutan Syahrir. Soekarno dalam buku ini mampu menceritakan kisah masa lalunya secara detil dan spesifik sehingga saya berpikir bahwa Soekarno adl orang yang memiliki ingatan yang cukup kuat, entah karena hal - hal tsb benar benar membekas atau memang karena ia memiliki memori yang baik untuk mengingat berbagai hal. Sayangnya Soekarno dlm buku ini tidak menceritakan bagaimana sikap kepemimpinannya di masa Orde Lama dimana pada masa ini Soekarno yang saat itu bukan lagi merupakan Soekarno muda yang memiliki semangat perjuangan, dimana sikapnya yang mulai otoriter serta munculnya kebijakan kebijakan yang mengarah pada keinginan untuk berkuasa selama - lamanya, dan awal mula perpecahan Soekarno - Hatta juga bermula dari sikap kepemimpinan Soekarno tsb. Terlepas dari itu semua, buku ini layak untuk dibaca untuk mengetahui bagaimana seorang laki laki dari Surabaya mampu menggerakkan ratusan juta penduduk untuk merdeka dari penjajahan.
Profile Image for J U N.
97 reviews
November 9, 2018
You made my soul burned, my blood rushed, my tears spoiled by just read this book. Now i know the truths from your own perspective, how you saw the world, how you speak for the people and encouraged them to follow you commands, how you defends your beliefs even it means the world is your enemy ! You never affraid ! You are a man with you words, a man with idealism, a man with philosopy and principle ! A kind of leader that i admire so much even when i was a child. And thats all from me, let time answered everything about all lies they put on you. Whatever people said youre still my hero after my father. My life cant even paid your service for this country, thank you so much for sacrificed and dedicated all of your life for our freedom BUNG ! Thank you...
Profile Image for Ilham Rusdiana.
157 reviews1 follower
October 10, 2022
Buku otobiografi Bung Karno yang ditulis oleh Cindy Adams ini sangat menarik karena dibuat dari sudut pandang Bung Karno sendiri. Banyak hal yang mungkin luput dari pengamatan pihak luar dapat diketahui dari buku ini. Menurut saya, buku ini ditulis dan diterjemahkan dengan baik, serta mampu menggambarkan peristiwa-peristiwa penting pada perjalanan hidup salah satu tokoh terpenting dalam sejarah bangsa Indonesia ini. Bung Karno sendiri berharap buku ini dapat menambah pengertian yang lebih baik tentang dirinya dan dengan itu menambah pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia. Sebuah buku yang patut sekali dibaca oleh pembaca Indonesia.
Profile Image for Ann T.
73 reviews
March 11, 2020
A wonderful book. Sangat baik kalau banyak orang Indonesia bisa baca buku ini. Bung Karno merupakan seorang pahlawan Indonesia yang sangat menawan; intelligent, passionate, patriotic, a real fighter and a hero. Agak narcissist, tapi beliau juga sangat impressive. Autobiography ini sangat menharukan, at the same time banyak bagian yang membuatku ketawa. I cried and laughed reading this wonderful autobiography. Sangat disayangkan bahwa seorang pahlawan seperti Bung Karno menhadapi kehidupan yang begitu berat dari kecil sampai meninggal. An enlightenment but a very sad story.
Displaying 1 - 30 of 153 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.