MENGGERAKKAN
“How many roads must a man walk down, before you call him ‘a man’?”
—Bob Dylan
SETIAP kali kita selesai membaca sebuah buku, setiap kali halaman terakhir ditutup dan kita terkesan, ada pertanyaan penting yang mengganggu kesadaran: apakah kita masih orang yang sama seperti sebelum membaca buku itu?
Apakah setelahnya kita berupaya untuk menjadi manusia yang lebih baik?
Bagaimana kalau yang kita baca adalah cerita semacam ini: seorang laki-laki bernama Sabari mencintai seorang perempuan bernama Marlena, namun Marlena tak mencintai Sabari, tak peduli seberapa besar pengorbanan Sabari untuk membuktikan cintanya? Apa yang bisa kita dapat dari cerita cinta semacam itu?
Tentu, kisah cinta Sabari dan Marlena hanya salah satu cerita cinta dari beberapa hubungan cinta yang dituliskan Andrea Hirata dalam Ayah. Yang menarik adalah keterangan dari Andrea yang menyebutkan bahwa kisah tersebut “inspired by true story” (bukan “based on true story”). Sabari itu ada, Marlena itu ada, kata Andrea. Perempuan yang main catur dengan suaminya, yang pernah muncul dalam novel Padang Bulan, juga benar-benar ada di kampungnya, kata Andrea lagi.
Dalam Ayah, Andrea Hirata masih melanjutkan tradisinya untuk setia pada gaya penceritaan story telling. Pada sebuah seminar di Perpustakaan Pusat Universitas Gadjah Mada, Andrea mengatakan bahwa, dengan gaya tersebut, ia memang ingin pembaca memihak opininya terhadap hidup dan apa itu cinta. Andrea ingin pembaca bisa lekat dengan konteks tempat, yang dalam hal ini, latar budaya Melayu Belitong.
Memang kerap kali ada jebakan perihal yang terakhir. Pada tahun 1957, dalam esai Beberapa Soal Daerah dalam Sastra Indonesia, Ajip Rosidi dengan gelisah melihat “gedjala memasukkan kata-kata, perbandingan-perbandingan, ungkapan-ungkapan daerah di mana sisastrawan (antara tanda-kutippun djadi) berasal jang dilakukan setjara semena-mena, bahkan setjara liar”. Dalam novel Ayah, Andrea cenderung bisa lepas dari jebakan itu. Budaya Melayu yang menjadi jiwa seluruh isi novel, bahasanya, guyonnya, karakter tokohnya, memperlihatkan teknik kematangan penulisan novel ini untuk tidak “setjara semena-mena” meletakkan apa yang Melayu dalam kalimat-kalimatnya. Tak heran, Andrea menyebutkan rasa terima kasih yang besar pada peran editor—suatu posisi yang di dunia sastra Indonesia belum cukup dihormati.
●●●
Friedrich Nietzche menulis perbedaan cinta laki-laki dan perempuan pada umumnya dengan kesimpulan berikut: cinta perempuan adalah cinta tanpa syarat, sementara cinta lelaki adalah cinta yang mengharapkan balasan. Cinta lelaki adalah cinta yang harus memiliki. Cinta bagi perempuan mendekati status sebagai agama; dengan laki-laki sebagai sesosok dewa.
Sejalan dengan itu, Simone de Beauvoir mengatakan bahwa lelaki tidak pernah mau menyerahkan diri pada perempuan. Dalam The Second Sex (yang diterjemahkan dari bahasa Prancis oleh H. M. Parshley, dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Nosa Normanda dan Dewi Anggraeni dalam buku terbitan Yayasan Obor Indonesia), pemikir Prancis yang sering dipengaruhi pemikiran Nietzche itu berkata lebih keras: “[l]aki-laki ingin menyatukan perempuan dengan kehidupan mereka, tapi tidak ingin menghabiskan seluruh waktu mereka untuk perempuan yang mereka cintai”.
Apa yang dituliskan Andrea Hirata dalam novelnya agak lain dari gambaran laki-laki-perempuan Nietzche/ de Beauvoir.
Sabari bin Insyafi, seorang pemuda biasa, tidak tampan, mencintai Marlena tanpa mengharapkan balasan. Bahkan ketika ia bersedia bertanggung jawab atas diri Marlena yang hamil entah dengan siapa, dan tak ada sekali pun rasa terima kasih dari Marlena, Sabari tak mengapa. Marlena tak pernah mau bersentuhan dengan Sabari, dan Sabari tak mengapa. Marlena tak pernah mau tinggal dengan Sabari setelah pernikahan, dan Sabari tak mengapa. Sabari menyerahkan dirinya pada Marlena dengan memegang teguh filosofi “mencintai seseorang merupakan hal yang fantastis, meskipun orang yang dicintai itu merasa muak".
Yang saya kira perlu kita bicarakan, tanpa melihatnya sebagai kelebihan atau kekurangan, Andrea tidak menghakimi Marlena. Ia tak pernah mengutuk tindakan Marlena yang meninggalkan Sabari dan merenggut Zorro. Ia menyamarkan apa-apa yang dilakukan Marlena yang pulang ke rumah dengan laki-laki yang berbeda tiap malam, sampai akhirnya hamil di luar nikah. Andrea tidak memberikan opini tentang Marlena yang kawin-cerai hingga tiga kali dengan tiga lelaki berbeda.
Kesan yang saya dapatkan, Andrea bukan pengarang yang cepat-cepat menghakimi suatu persoalan individu. Andrea amat sopan dalam hal ini. Dalam perkembangan selanjutnya, ia bahkan seperti memuja: Marlena digambarkan sebagai tokoh perempuan dengan karakter petualang, mandiri, dan punya daya hidup tinggi. Marlena terlihat sebagai “yang berbeda” dari standar kehidupan normal, tanpa melihat “berbeda” itu dengan penilaian baik atau buruk.
Saya kira semenjak novel Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, atau Edensor, Andrea bukan pengarang yang menempatkan peran antagonis sebagai bagian yang perlu dan utama dalam cerita. Para tokoh utamanya hampir tak pernah punya musuh yang gawat, kecuali dibuat repot oleh suatu sifat yang ada di tiap-tiap manusia biasa. Ada militansi menghadapi penderitaan, tetapi bukan kekerasan terhadap orang lain. Arai dan Ikal dalam Sang Pemimpi, misalnya, tidak memiliki musuh atau peran antagonis untuk memperlihatkan adanya konflik sampai klimaks. Dunia di sekeliling mereka adalah dunia yang dipenuhi orang-orang baik: Pak Balia, ayah Ikal, Jimbron, Nurmi. Tokoh utama seperti Arai terlibat dalam arus konflik dari pengalamannya sendiri: ditolak cinta, tanpa memberikan opini bahwa Zakiah Nurmala adalah seorang perempuan yang kejam dan tanpa hati.
Dalam Edensor, siapa tokoh antagonisnya?
●●●
Sejak kemunculannya yang pertama pula, karya-karya Andrea memiliki tarikan garis lurus yang sama: pendidikan sebagai suatu usaha menghasilkan karakter, dan bukan hanya otak yang encer, untuk sukses. Dalam novel Ayah, Andrea menghubungkan percetakan batako dengan kepentingan membangun sekolah demi “mencerdaskan kehidupan bangsa”; menyertakan humor/ sindiran tentang pendidikan (tentang Presiden Filipina atau hitung-hitungan persen); menciptakan tokoh Zorro/ Amiru yang selalu memiliki semangat untuk sekolah meski sering berpindah-pindah tempat tinggal. Hal-hal filosofis seperti itu menutup apa yang saya kira kurang menghentak: sosok “ayah” dalam novel ini tak semengharukan sosok “ayah” dalam novel Sang Pemimpi, misalnya kalau kita baca lagi Mozaik 8 Baju Safari Ayahku dan Mozaik 12 Sungai Lenggang.
Itu sebabnya, saya memilih merayakan apa yang selalu ada dalam novel-novel Andrea: pada mulianya pendidikan yang memungkinkan seseorang untuk percaya pada kekuatan mimpi. Saya ingat Andrea mengatakan untuk “jangan lelah belajar, karena belajar itu kesenangan”. Saya kira Andrea Hirata dan Nelson Mandela memiliki irisan optimisme yang sama: pendidikan adalah cara terbaik untuk mengubah dunia.
Agaknya inilah yang dicita-citakan Andrea: bahwa pekerjaan mengarang bukan hanya semata-mata pekerjaan menulis, melainkan untuk menghadirkan perasaan cinta di mana-mana, menjadi penguat mimpi setiap orang yang mungkin tengah celaka/ tak berdaya oleh keadaan. Andrea ingin novel Ayah dibaca lebih dari sekedar cerita menghibur, cerita cinta yang klise, atau cerita yang membuat orang bisa gampang ketawa. Andrea ingin tulisannya membuat orang-orang bergerak melakukan suatu perbuatan yang riil, bukan hanya menjadi semacam berita.
Artinya, citra kisah yang hendak dibangun adalah kisah yang menggerakkan pembaca agar, seperti pertanyaan di awal catatan ini, menjadi orang yang tidak sama seperti sebelum membaca buku ini, untuk menjadi orang yang lebih baik. Saya katakan "hendak dibangun" sebab sebenarnya bisa saja Andrea menulis tenggelamnya matahari dalam sembilan halaman di awal bab, misalnya.
Melalui novel Ayah, Andrea lebih menghendaki gaya yang memungkinkannya membangkitkan impuls bagi para ayah untuk menunjukkan cinta kepada anaknya di tengah gempuran berita para orang tua yang kasar terhadap anak; bahkan kalau pun anak itu tidak memiliki hubungan darah seperti hubungan antara Sabari dan Zorro. Ia berusaha meneguhkan para pembaca bahwa hormat dan kasih sayang anak kepada ayah adalah salah satu perilaku manusia yang paling membahagiakan di muka bumi, di tengah kebiasaan para anak yang sering durhaka terhadap orang tua.
Gaya penulisan story telling yang dipilih Andrea memudahkan tujuan itu: gaya untuk menampilkan cerita yang lebih punya tenaga untuk menggerakkan orang.
●●●
H.B. Jassin, sebagaimana pernah ditulis Budi Darma, pernah merasa ragu bahwa kritik sastra yang dilakukannya selama ini adalah kerja ilmiah yang “mempergunakan otak”. Padahal karya sastra adalah suara hati, dan perlu ditanggapi dengan hati pula—dengan hati itu pula sastra bisa menggerakkan dan mengubah dunia.
Catatan ini tak pernah punya pretensi untuk mereviu novel Ayah dari sisi “otak” atau “kritik sastra”—terutama karena yang menulis catatan ini tidak menempuh pendidikan sastra.
Dan lewat Sabari, saya senang Andrea masih sama seperti dulu, seperti Ikal yang berkata: “Orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi… Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…”