Mengapa harus ada kata "terlambat" untuk sebuah pertemuan yang masih menyisakan kisah cinta masa lalu?
Ajeng dan Adhitya kembali bertemu setelah sembilan tahun berlalu. Perasaan mereka ternyata tidak banyak berubah, masih saling menganggumi, masih ada cinta bersemai di masing-masing hati. Sayangnya, kali ini Adhitya sudah akan menikah dan perusahaan milik Ajeng yang menjadi Wedding Organizer untuk pernikahan tersebut.
Cerita malu-malu masa lalu, cinta yang tak terungkap, cemburu, juga dansa romantis di tempat penuh kenangan.
Bagaimana Adhitya harus memilih antara Ajeng dan Alysyaa? Atau Ajeng yang mengalami dilema antara memperjuangkan cintanya atau lomba dansa yang sudah dipersiapkan sejak lama bersama partnernya, Faiz?
"Menikah itu ibarat belanja. Mau pilih yang kamu butuhkan atau kamu inginkan?"
She was born in and grew up Indonesia, now living in Prague, Czech Republic. Rhein is a cat person, love traveling, sometimes jumped to stupid situations, and always seek for adventurous things.
Her first novel published when she was in senior high school. Once she stopped writing novel when she was studied in university majoring Physics (sure, she was busy writing lab reports). After graduated, she's back writing novel and traveling until now.
Follow her daily activities on instagram and twitter: @rheinfathia.
Buku yang tepat hadir di waktu yang tepat, seperti ketika sedang sakit dan menjadi teman istirahat di rumah, juga saat menyadari kalau cinta tidak cukup untuk menyatukan dua orang dalam pernikahan.
Ya, ya, itu saya.
Cukup terhibur membaca 'draf' Teh Rhein Fathia ini, yang merupakan seorang self-proclaimed hopeless romantic. Saya pernah bertemu beliau, sayangnya cuma sebentar, karena beliau harus kembali lagi ke Bogor. Meskipun ini buku pertamanya yang saya baca (payah, memang. Hapunten), saya serasa pernah membaca karyanya yang lain seperti adanya tokoh dengan nama adiknya Furky, inner dialogue, dan tentu saja adegan romantis yang cheesy (bahasa Tetehnya sendiri, hehe).
Di awal cerita, ada kata pengantar yang intinya mempersilakan pembaca untuk belajar dari draf ini. Kira-kira inilah yang saya dapat dari Dansa Masa Lalu:
1. Baru berupa draf saja, DML sudah minim typo dan gaya berceritanya lancar. Apalagi sampai bisa punya twist.
2. Latar SMA-nya terasa nyata, bikin saya bernostalgia sebentar. Dan manis banget kayak di cerita Serial Cantik.
3. Waktu itu saya pernah tanya Tetehnya, ada rencana bikin buku nonfiksi, nggak? Tips menulis misalnya. Dan beliau jawab mungkin saja, tapi yang penting beliau inginnya dibagikan secara gratis. Ternyata dimulai dari DML ini. Selamat ya, Teh!
4. Kesinambungan antara zaman SMA dengan masa kini terlihat jelas. Dan memang dimaksudkan untuk baper.
Omong-omong baper, ini adegan favorit saya:
- Waktu Adhit sama Ajeng belanja bareng. Nggak tahu kenapa, saya menganggap kegiatan itu romantis. Kayaknya Teh Rhein juga sepakat dengan saya. Senang tahu saya tidak sendiri.
- Pas Ajeng kasih sweater rajutan ke Adhit (manga banget)
- Saat akhirnya... ah, nanti spoiler. Hehe. Maaf hari ini saya agak out-of-character. Flu bikin seseorang sedikit berubah.
Saya juga senang karena banyak pendapat Teh Rhein di DML yang saya setujui. Jadi bagi saya twist ini wajar. Akhirnya... juga manis. Happy ending guaranteed.
Dari awal, Teh Rhein sudah 'memperingatkan' kalau cerita ini sama sekali tidak diedit. Jadi jangan mengeluh dengan banyak kekurangan di dalamnya. Cukup nikmati saja emosi yang ditawarkan, opini soal cinta dan nikah, kenangan masa kisah-kasih di SMA yang relatable dengan semua orang, juga kejutan di akhir. Karena saya akui, membaca ini membuat saya ketagihan membaca novel bertema wedding yang sekarang sedang tren.