"Dengan begitu, aku berpendapat bahwa jika kita dapat memandang hidup ini dengan penuh rasa humor, berarti kita sudah sanggup hidup sebagai manusia yang berderajat lebih tinggi.”
Buku ini berisi dua belas cerita pendek yang merekam nasib orang-orang yang ditimpa kesialan. Fragmen ceritanya menawarkan sesuatu yang getir, tapi dibalut dengan humor gelap. Narasi pendek yang dibawakan Utuy dalam kumpulan cerpen ini merupakan penggambaran realitas dalam simpul-simpul yang berbeda. Terkadang laten, terkadang tersurat.
Salah seorang angkatan '45 terkemuka, mula-mula terutama karena romannya "Tambera" dan cerita-cerita pendeknya yang dikumpulkan dalam "Orang-orang Sial" Tetapi ia kemudian lebih terkenal dengan lakon-lakonnya. Meskipun lakonnya yang awal "Suling" dan "Bunga Rumahmakan" ditulis seperti biasa, tapi akhirnya ia menemukan cara menuliskan lakon yang unik.
Karya-karya lainnya: "Awal dan Mira", "Sayang Ada Orang Lain", "Di Langit ada Bintang", "Sang Kuriang", "Si Kabayan", "Selamat Jalan Anak Kufur", dan "Tak Pernah Menjadi Tua"
Saya suka dengan gaya menulis Utuy Tatang Sontani yang lugas, kritis, kadang sinis, dan kerap membuat kita tersenyum getir. Apalagi ketika menyadari bahwa sejumlah hal yang ia sindir atau soroti dalam cerpen-cerpennya yang ditulis di masa-masa awal kemerdekaan ini, ternyata masih ada hingga saat ini. Pertanyaan apakah setelah bendera merah putih berkibar maka mencari makan akan lebih mudah, misalnya, masih relevan hingga saat ini. Menyedihkan.
Tidak disebutkan dengan jelas di dalam profil penulis di buku ini, tetapi Utuy Tatang Sontani meninggal sebagai seorang eksil pasca 1965. Mengetahui hal itu membuat kebenaran yang tersaji di antara fiksi dalam buku ini terasa makin pahit....
Orang-Orang Sial adalah buku yang getir dan penuh satir. Tiap cerita pendek di sini selalu berkahir dengan hal yang sama: setiap tokohnya sial, baik kehilangan uang, kehilangan muka, kehilangan ideologi, bahkan ketiga-tiganya.
Agak sulit memilih cerita favorit karena jujur, beberapa treatment terhadap tokoh perempuan memang membuat pembaca kurang nyaman. Perempuan di sini ada saja yang disiksa, diobjektifikasi, atau didiamkan saja. Beberapa dari perlakuan ini, tentu mendapat ganjarannya, tapi beberapa tetap dibiarkan begitu saja.
Namun, kalau ada satu yang berkesan di hati, adalah cerpen "Bendera". Dilatari masa awal Bersiap hingga awal kemerdekaan, Bendera adalah cerita tentang seorang bapak yang menjaga sebuah bendera peninggalan kedua anaknya yang gugur saat revolusi. Tapi, kenyataan membuat kita bertanya: apakah berkibarnya merah-putih membuat kita lebih mudah makan? Apa artinya merdeka kalau perut kosong belaka?
Satir, getir, sekaligus lucu dalam artian yang gelap sekali.