kembang berangkat dari satu kesadaran penting: sejarah sering lupa mencatat perempuan
karya ini membuka kembali “sisi retak” sejarah indonesia—terutama jejak para perempuan penyintas tragedi 1965 yang hidup dalam sunyi, stigma, dan penghapusan
kembang adalah manifesto subversif yang mendekonstruksi hegemoni sejarah maskulin dan memutus keheningan sistemik seputar tragedi 1965
kumpulan puisi ini merebut kembali kedaulatan memori dari narasi penguasa, menempatkan agensi perempuan sebagai pusat kebenaran, bukan sekadar catatan kaki
Oka Rusmini was born in Jakarta, July 11, 1967. She lives in Denpasar, Bali. She writes poetry, novel, and short story. Her published works are Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007), Pandora (2008), Tempurung (2010), Akar Pule (2012), Saiban (2014). Her novel Tarian Bumi has been translated into foreign languages: Erdentanz (Deutsch edition, 2007), Jordens Dans (Svenska edition, 2009), Earth Dance (English edition, 2011), and La danza della terra (Italian edition, 2015). In the year 2002, she received the Best Poetry Award from Poetry Journal. In 2003, The Language Centre, Ministry of Education of the Republic of Indonesia, gave her the Literary Appreciation Award of Literary Works for her novel Tarian Bumi. In 2012, she received the Literary Appreciation Award from the Agency of Language Development and Cultivation, Ministry of Education of the Republic of Indonesia, and the South East Asian Write Award, Bangkok, Thailand, for her novel Tempurung. Her book of poems Saiban (2014) won the national literary award, “Kusala Sastra Khatulistiwa 2013-2014”. She was invited to national and international events, such as Literary Festival Winternachten in Den Haag, Amsterdam, Netherland (2003), Singapore Writer Festival (2011), and OZ Festival, Adelaide, Australia (2013). She was also invited as guest writer in Hamburg University Germany (2003).
Oka Rusmini can be contacted at Twitter: @okarus Email : tarianbumi@yahoo.com. Facebook Page: oka rusmini
Perempuan pada dasarnya punya ruang untuk bertumbuh dan berdaya ditengah arus maskulinitas yang membelenggu ruang gerak perempuan. Namun, sebuah tragedi justru membatasi ruang gerak mereka dan pelan-pelan tubuh mereka dikuasai oleh amarah yang sayangnya dikendalikan oleh rasa takut dan stigma. Dibalik wajah yang terus menua itu, tersimpan harapan untuk meraih kemerdekaan sejati atas tubuh, bebas dari rasa takut serta sembuh dari borok masa lalu.
Horor bisa datang dalam berbagai bentuk bahkan dalam ruang keseharian yang sayangnya selalu luput dari pandangan kita. Hingga akhirnya horor itu pun berubah menjadi bentuk penindasan sistemik paling fatal yang kerap memicu timbulnya kosakata yang namanya "Lupa."
Dan puisi ini adalah cara Bu Oka melawan penindasan atas kejadian yang dialami oleh mereka. Ia memberikan ruang kesaksian antara dua orang perempuan yang berbagi luka yang sama dalam menavigasi kehidupan mereka yang sunyi.
Bu Oka pun pelan-pelan membawa pembacanya pada ceceran sejarah yang akhirnya dia rekatkan menjadi diksi penuh luka. Berawal dari ketenangan yang begitu syahdu dari seorang perempuan mandiri yang punya hak untuk bisa setara seperti lelaki, kemudian berubah menjadi ketegangan atas peristiwa penangkapan dari geger politik hingga akhirnya menimbulkan rasa haru dari pertemuan dua orang yang berbagi luka yang sama dan bersama-sama mereka saling menguatkan. Dan fase dalam kehidupan mereka inilah yang membuat Bu Oka tergerak untuk mengabadikan sejarah kehidupan mereka dalam puisi ini.
Pada akhirnya aku sadar bahwa bukan hanya Bu Oka saja yang merawat sejarah. Kita sebagai generasi sekarang juga punya peranan penting untuk merawatnya agar sejarah yang pernah kita alami tidak dilupakan oleh oleh generasi kita yang akan datang. Karena sejarah ditulis oleh pemenang, maka kitalah yang harus bergerak untuk sama-sama saling mengingatkan, kalau bukan kita siapa lagi yang akan melakukannya.
Kembang bukanlah sejarah yang berbentuk sebuah dokumen usang yang disembunyikan atau dihilangkan melainkan sebuah arsip kehidupan yang kini menjelma dalam wajah, tubuh dan ingatan mereka. Stigma yang mereka rasakan itulah yang menjadi saksi akan kelamnya peristiwa itu.
Terima kasih kepada Bu Oka sudah menulis puisi segetir ini. Semoga para korban 65 mendapatkan keadilan yang layak dalam hidup mereka.
senang bisa menjadi reviewer pertama karya terbaru bu Oka di goodreads!
debut puisi Kembang ini menurutku layak untuk dijadikan novela sih, agak sayang sebetulnya jika berhenti dalam bentuk puisi saja. tapiii, puisi Kembang sangat indah dan menyentuh hal terkelam para perempuan korban '65.
memang agak sulit jika mau dibaca oleh para remaja, tapi aku tidak akan menghentikan kalian apabila ada yang tertarik buat baca ini!
Kembang bagiku bukan soal puisi yang berusaha merekam ingatan msy Indonesia soal apa yang terjadi para perempuan tertuduh P*I tetapi juga soal menyuarakan bahwa sebetul-betulnya perempuan punya pengaruh yang sama terhadap ekosistem politik di Indonesia.