What do you think?
Rate this book


256 pages, Paperback
First published May 1, 2015
Di tahun 1923, ada kejadian percobaan pembunuhan terhadap putra mahkota Jepang. Pelaku kejahatan dengan menggunakan senapan khusus menembak ke arah mobil yang sedang melaju dan di dalamnya ada putra mahkota. Namun, putra mahkota terhindar dari tembakan, bahkan tidak terluka.Lalu tentang honne dan tatemae. Penulis menjelaskan bahwa ini lebih berkaitan dengan kebiasaan para profesional di Jepang untuk menjalin hubungan bisnis di luar lingkungan formal. Orang Jepang sendiri menyadari bahwa tidak selalu mudah menebak pemikiran dan maksud hati sesamanya, maka diadakanlah nomukai, yaitu kegiatan minum sake selepas kerja. Harapannya, antara atasan dan bawahan atau sesama rekan kerja bisa menjadi lebih rileks dalam berbagi keresahan. Orang Jepang juga bisa menoleransi tindakan heboh dari orang mabuk, selama tidak melampaui batas. Bisa dibilang, nomukai adalah ajang bersosialisasi bagi orang Jepang. Penulis bahkan membagi tips berpartisipasi dalam nomukai bagi yang tidak minum alkohol, biar tidak disangka sombong atau tidak sopan.
Pelaku penembakan langsung ditangkap di lokasi penembakan dan dari hasil sidang diputuskan bahwa pelaku penembakan tersebut dijatuhi hukuman mati. Setelah kejadian itu, akhirnya banyak orang yang mengambil sikap bertanggung jawab.
Polisi senior di komisaris kepolisian dinyatakan kurang dalam pengawasan putra mahkota Jepang sehingga secara spontan juga diberhentikan dan dipecat dari jajaran kepolisian. Dan karena kepolisian merupakan bagian dari pemerintahan, perdana menteri selaku pejabat yang memegang tanggung jawab tertinggi di pemerintahan juga harus menyerahkan surat pengunduran dirinya dan keluar dari kabinetnya.
Selain itu, gubernur di wilayah pelaku penembakan berasal juga diberikan sanksi. Begitu juga kepala sekolah di sekolah dasar tempat pelaku penembakan pernah bersekolah juga mengambil tanggung jawabnya sebagai pendidik dengan mengundurkan diri.
Ayah dari pelaku penembakan yang adalah salah satu anggota dewan perwakilan rakyat, langsung mengundurkan diri dan hanya tinggal di rumah tanpa mau makan sampai akhirnya meninggal dunia.