Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ibu Pergi ke Surga

Rate this book
Inilah salahsatu mistar kesusasteraan Indonesia yang ditulis oleh sasterawan terkemuka, Sitor Situmorang.

Kumpulan cerpen Ibu Pergi ke Surga ini adalah gabungan tiga kumpulan cerpen Sitor ditambah dengan beberapa cerpen yang masih tercecer dari periode 1950-an dan 1970-an. Kumpulan cerpen ini disusun dengan berusaha mengikuti alur kronologi tahun terbitnya cerpen di majalah. Cerpen yang tidak dimuat dalam majalah, tetapi langsung muncul dalam kumpulan secara kronologis dianggap terbit sama dengan tahun terbitnya kumpulan. Sebagai contoh adalah cerpen “Harimau Tua” dari kumpulan cerpen Pertempuran dan Salju di Paris dianggap terbit pada 1956. Atau cerpen “Jatmika dan Jatmiko” dianggap sama dengan terbitnya kumpulan cerpen Pangeran (1963). Begitu juga “Perjamuan Kudus”, “Kasim”, dan “Kehidupan Daerah Danau Toba” yang tahun terbitnya sama dengan Danau Toba (1981).

Seperti dalam puisi-puisinya, Sitor dengan cerpen-cerpennya pun tidak hanya menunjukkan bukan saja kemampuan puitiknya yang memuaskan dari segi penikmatan bahasa, juga kekayaan batin dari pemikiran-pemikiran yang padu.

244 pages, Paperback

First published January 1, 2011

12 people are currently reading
192 people want to read

About the author

Sitor Situmorang

31 books34 followers
Sitor Situmorang (lahir di Harianboho, Samosir, Sumatera Utara, 2 Oktober 1923), dengan nama Raja Usu, adalah wartawan, sastrawan, dan penyair Indonesia. Ayahnya adalah Ompu Babiat Situmorang yang pernah berjuang melawan tentara kolonial Belanda bersama Sisingamangaraja XII.

Sitor menempuh pendidikan di HIS di Balige dan Sibolga serta MULO di Tarutung kemudian AMS di Jakarta. Ia sempat berkelana ke Amsterdam dan Paris (1950-1952). Tahun 1956-57 ia memperdalam ilmu sinematografi di Universitas California. Setelah keluar dari tahanan politik, ia tinggal di Leiden (1982-1990) lalu Islamabad (1991).

Karirnya dimulai sebagai wartawan harian Suara Nasional (Tarutung, 1945), Waspada (Medan,1947), Berita Indonesia, dan Warta Dunia (Jakarta, 1957). Ia pernah menjadi dosen Akademi Teater Nasional Indonesia (Jakarta), anggota MPRS dari kalangan seniman, Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (1959-65), lalu ditahan pemerintahan Orde Baru.

Karyanya antara lain kumpulan cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956) mendapat hadiah sastra nasional 1955, kumpulan sajak Peta Perjalanan memperoleh hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta 1976, otobiografi : Sitor Situmorang Sastrawan 45, Penyair Danau Toba (1981); sejarah lokal: Toba na Sae (1993) dan Guru Somalaing dan Modigliani Utusan Raja Rom (1993).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
29 (38%)
4 stars
23 (30%)
3 stars
15 (19%)
2 stars
6 (7%)
1 star
3 (3%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for Helvry Sinaga.
103 reviews31 followers
April 26, 2011
Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek lengkap karya Sitor Situmorang. 23 Cerita pendek yang ditulis dalam kurun waktu Maret 1950 s.d. 1981. Cerita pendeknya ini dipengaruhi oleh kecintaan akan kampung halaman yang berlatar pengalaman dunia tradisi batak serta pengalamannya selama di Eropa. Lewat cerpen Fontenay Aux Roses, diketahui bahwa Prancis menjadi tempat Sitor muda menghabiskan waktu dengan mengobrol dan minum. Saat itu, sedang berkembang fisafat Eksistensialisme yang ditemukan oleh Sartre. "Saya hanya kena imbas" begitu ungkap Sitor dalam catatan editor, JJ Rizal.

Jika Cerpen ini dipilah berdasarkan waktu penerbitan dan tempat kejadian, maka tempat yang paling banyak diceritakan adalah Samosir dan Prancis. Mari kita lihat dengan lebih terinci.
1. Kembang Gerbera (Yogyakarta Maret 1950)
2. Akbar(Tidak diketahui, Oktober 1954)
3. Fontenay Aux Roses (Prancis, September 1954)
4. Cheri(Prancis, April 1954)
5. Diplomat Muda(Belanda, 1954)
6. Harimau Tua (Toba, 1954)
7. Kota S (Diduga Sibolga, 1954)
8. Perawan Tengah Hari(Jakarta, 1954)
9. Pertempuran dan Salju di Paris (Prancis, 1954)
10. Begitulah Selalu Kalau Hujan (Jakarta, 1955)
11. Ibu Pergi ke Surga (Samosir, 1955)
12. Jin (Samosir, 1955)
13. Pertempuran (Sumatra, Jakarta, 1955)
14. Cinta Pertama (Milano, Italia, 1958)
15. Kereta Api Internasional (Di dalam perjalanan kereta api Prancis-Belgia, 1958)
16. Pangeran (Yogyakarta, 1963)
17. Pribahasa Jepang (Tokyo, 1958)
18. Jatmika dan Jatmiko (Kebun Binatang, 1963)
19. Kisah Surat dari Legian (Denpasar, 1980)
20. Suatu Fiksi dalam Fiksi (Jakarta, 1981)
21. Perjamuan Kudus (Parapat, 1981)
22. Kasim (Jakarta, 1981)
23. Kehidupan Daerah Danau Toba (Samosir, 1981)

Membaca cerita pendeknya ini, saya seperti membaca buku harian. Tentang perjalanan, tentang sahabat, tentang kampung halaman, dan tentang kisah cinta. Tentang keindahan Danau Toba dan Pulau Samosir, Sitor menulis dalam "Perjamuan Kudus" ...pulau besar di tengah danau itu seperti raksasa tergolek. Kota Parapat yang terletak di Semenanjung kecil, dengan lampu-lampu listriknya, yang kemilaunya bergabung dengan sinar bulan di sisi air danau..... Harian Kompas pernah menampilkan Kota Parapat dengan Danau Toba di headline-nya.



Kisah Diplomat Muda yang bertugas di Belanda menarik perhatian saya. Apakah masih seperti itu sekarang ini, dimana diplomat yang bertugas di Kedutaan Besar Indonesia di negeri tertentu, pekerjaan sampingan yang jadi utama adalah mendampingi bapak-bapak dan ibu-ibu pejabat bukan dalam hal pekerjaan diplomatik? Apakah tugas diplomat tercantum dalam job description untuk mendampingi ibu pejabat yang katanya memberantas pelacuran ke night club?

Tentang kisah cinta, cerita Cinta Pertama menurut saya sangat unik. Bercerita dari sisi perempuan Italia berusia 17 tahun, yang karena suatu peristiwa tidak disengaja kakaknya, akhirnya berkenalan dengan seorang wartawan asal Indonesia. Cinta pertama muncul karena si perempuan diajak ke Indonesia dan jatuh cinta pada Bali dan seluruh alam serta seninya.

Tentang kampung halaman. Sitor menulis keindahan Danau Toba dengan apik. Pada cerita Kehidupan Daerah Danau Toba, tergambar keindahan pemandangan luas dan Pulau Samosir. Termasuk di dalamnya ia menceritakan tentang aktivitas Hari Pekan, yaitu dimana banyak orang dari penjuru kampung datang berkumpul untuk berniaga menukarkan barang-barang hasil bumi mereka dengan barang dagangan dari Siantar. Tempat Pekan itu di Haranggaol. Ibu saya pernah bercerita bahwa semasa ibu saya kecil, pergi ke Haranggaol untuk menjual bawang. Makan buah pisang saat itu adalah makan istimewa, karena buah pisang adalah barang mahal. Saya sendiri belum pernah kesana. Tapi Pekan Haranggaol itu masih ada sampai sekarang. Sumber foto dari sini.



Tentang orangtuanya. Ia menulis dua cerpen. Perpisahan dengan ayahnya ditulis dalam Perjamuan Kudus, sedangkan perpisahan dengan ibunya, ia tulis dalam Ibu Pergi ke Surga. Cerpen Ibu Pergi ke Surga ini entahkah fiksi ataukah tidak, saya tidak tahu. Seperti cerpen-cerpen yang lain, tidak ada penjelasan konteks pada setiap cerita. Pembaca diserahi tanggung jawab berimajinasi sendiri. Ibu dalam cerita itu memanggil pulang "Aku" dari perantauan. Ia sudah lama terbaring sakit di rumah. Sang Ibu meninggal ketika acara natal dilakukan di rumah "Aku", tokoh utama. "Aku" sudah mengetahui bahwa ibunya tak bernapas lagi sesaat sebelum acara natal di rumah dimulai. Tak satupun oranglain yang tahu. Acara berlangsung khidmat, sampai Pak Pendeta berkata pada "Aku" supaya ibu dibangunkan, karena lagu kesukaannya akan dinyanyikan. Tidak ada yang tahu, sampai "Aku" memberitahukan kepada Ayahnya setelah semua orang pulang. "Aku" hendak pulang ke perantauan, sebelum pulang, ayahnya meminta supaya jika ia mati, ia ingin bersama dengan Ibu dan kuburannya menghadap Danau Toba.

JJ Rizal menutup catatannya tentang Sitor Situmorang dengan mengatakan tanda kekurangsuburan Sitor yang mengarang 23 cerpen selama hidupnya menunjukkan bahwa ia adalah pujangga pemikir. Dengan cerpennya, Sitor memuaskan dari segi penikmatan bahasa dan kekayaan batin dari pemikiran yang padu dengan pengungkapannya sebagai bahasa cerpen.

Tentang Sitor
Tidak banyak yang saya tahu tentang Sitor Situmorang. Informasi dari Wikipedia pun sangat minim. Menurut si Wiki ini, Ayahnya, Ompu Babiat Situmorang adalah orang yang berjuang mengusir tentara kolonial Belanda bersama Sisingamangaraja XII. Selama 30 tahun bergerilya bersama Sisingamangaraja, Ompu Babiat diubah statusnya menjadi kawula Ratu Belanda dalam status setengah merdeka, setengah pegawai administrasi kolonial.

Sedikit saya tambahkan riwayat Sitor Situmorang yang terdapat pada bagian akhir buku ini. Lima tahun pertama di sekolah dasar di Balige, kemudian pindah ke Sibolga. Kemudian ia masuk MULO (Meer Uitgebreid Lager Oderwijs) di Tarutung (1938). Kemudian ia berangkat ke Jakarta untuk bersekolah di CMS (Christelijke Middelbare Scholen), sekolah menengah atas di Salemba (1941). Keinginan untuk menjadi ahli hukum kandas, sebab Jepang datang (1942). Awalnya ia menjadi redaktur berkala di Suara Nasional. Selanjutnya ia bergabung dengan Harian Waspada. Esai, kritik, dan sajaknya mulai diperkenalkan ketika ia ditugaskan Waspada untuk meliput suasana revolusi di Yogyakarta (1947-1948). Ketika itu, ia juga menjadi wartawan Kantor Berita Antara. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda II Tahun 1948, ia ditangkap NEFIS (Netherland East Indies Forces Intelligence Service) dan dipenjara di Penjara Wirogunan, Yogyakarta hingga penyerahan kedaulatan RI di akhir Tahun 1949.

Karya sastra dianggap memberi pencerahan dalam alam seni kebudayaan Indonesia. Karyanya bukan saja isi, tema, dan kata-kata, tetapi juga membawakan kekayaan batin dari pemikiran-pemikiran. Antara lain karyanya itu adalah Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1955), Drama Jalan Mutiara (1954), dan Cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956) yang memenangkan hadiah sastra nasional Tahun 1955/56 dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN).

Pada tahun 1956, ia mendapat beasiswa untuk belajar sinematografi dan seni panggung di Los Angeles (University of Southern California) dan di New York (Actor's Studio) Amerika Serikat. Ia memasuki dunia politik dengan memasuki lembaga yang mendukung Demokrasi Terpimpin Soekarno. Pada 1959, ia mendirikan Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) yaitu anak organisasi Partai Nasional Indonesia (PNI), lalu menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) dari golongan seniman. Ia menulis dan berceramah tentang hubungan sastra dan politik yang dikumpulkan dalam Sastra Revolusioner (1965). Bersama dengan jatuhnya Presiden Soekarno, ia ditahan oleh orde baru tanpa proses pengadilan selama delapan tahun. Keluar dari penjara, karyanya Peta Perjalanan dimenangkan oleh Dewan Kesenian Jakarta (1976/77). Selain itu, ia memasuki dunia sejarah dan antropologi dengan menulis buku "Guru Somalaing dan Mogliani Utusan Raja Rom"(1993)dan "Toba Na Sae"(1993).

Karya Sitor telah diterjemahkan dan dibukukan dalam Bahasa Belanda Bloem op een rots dan Oude Tijger (1990), Wander (1996), dan Prancis Paris La Nuit (2001) serta Cina, Italia, Jerman, Jepang, dan Rusia. Pada 20 Maret 2003, Sitor dianugerahi Hadiah Francophonie karena dianggap sebagai penyair terkemuka Indonesia yang telah memberikan kontribusi penting dalam mengembangkan bahasa Prancis di Indonesia dan prinsip-prinsip Francophonie yaitu penghormatan serta pengembangan keanekaragaman budaya, perdamaian, demokrasi dan hak asasi.
Pada usia ke 80, Sitor menunjukkan eksistensinya dengan mengeluarkan kumpulan sajak Biksu Tak Berjubah (2004) dan sajak-sajaknya dalam terjemahan bahasa Belanda: Lembah Kekal/Euwige Valley (2004). Serta pada tahun 2006, terbit dua jilid kumpulan sajak lengkap Sitor Situmorang: Kumpulan sajak 1948-2005. Sedangkan buku "Ibu Pergi ke Surga" ini adalah kumpulan lengkap 23 buah cerita pendek karangan beliau.

@hws23042011
Profile Image for Bimana Novantara.
286 reviews29 followers
January 15, 2024
Kumpulan lengkap cerpen Sitor Situmorang ini membuktikan bahwa ia, walau lebih dikenal sebagai penyair, adalah seorang penulis cerpen yang handal. Kata-katanya mengalir lancar menyampaikan cerita yang ingin ia sampaikan. Cerita-cerita Sitor menunjukkan bahwa ia adalah seorang kosmopolitan sejati yang mampu menangkap dan menceritakan hasrat dan kegelisahan manusia dari berbagai latar tempat dan bangsa. Kepekaannya sebagai penyair juga dapat terlihat ketika ia melukiskan suatu tempat secara indah namun penuh dengan emosi dan melankoli.
Profile Image for Indah.
73 reviews1 follower
May 12, 2012
This book is a bundle of short stories. I was in awe reading it. Mr. Sitor is a real master in Bahasa Indonesia. He kept me surprised with the way he played with words to unfold his story. He is also very good in taking the readers away to places far away. A true story teller, who had produced, though not so many, masterpieces.

And this short stories edition, which was constructed by gathering his old works published in local newspaper, is really a gem.
Profile Image for Karlina.
4 reviews8 followers
July 3, 2012
Sangat-sangat suka sama buku ini. Saya tak terlalu bisa menjelaskannya tapi cerpen-cerpennya sangat renyah dan gurih.
Profile Image for Arief Ramadhan.
72 reviews
July 15, 2019
Cerpen-cerpen dengan gaya berbahasa yang menarik. Bercerita tentang pengalaman Sitor di dalam dan luar negeri, majoritas Eropa.
Profile Image for Sanya.
90 reviews8 followers
February 8, 2017
Beberapa cerpen sulit saya pahami, tetapi beberapa yang saya pahami, saya sukai. Salah satu cerpen dalam kumpulan cerpen ini menunjukkan solidaritas suku Batak di tanah rantau, dalam cerita ini, Jakarta. Selain itu, banyak pula cerpen lain dalam kumpulan cerpen ini menunjukkan adat dan masyarakat di tanah utara Sumatra, tempat asal penulis kumpulan cerpen ini.

Salah satu kekurangannya, menurut saya, ada beberapa cerpen yang tidak konsisten menggunakan “saya” atau “aku”.
Profile Image for Perkutut Manggung.
13 reviews
July 13, 2020
Salju telah tebal di jalanan dan di atap Paris. Ia berjalan, lalu berhenti menoleh. Jejaknya mencekam dalam salju....Salju jatuh, bertimbun sedikit demi sedikit meliputi lubang jejak, menutupi lumpurnya, hingga putih kembali. Putih seperti jalan sunyi di hadapannya.
-hal.61


Kumpulan cerpen yang puitis dalam segi kesegaran bahasa dan penggalian makna.
Author 1 book21 followers
August 18, 2014
puisi meleleh dari lilin kata-kata.

dan jika kata-kata Pak Sitor adalah panjut yang mengisi lilin, maka saya adalah udara yang terpanggang kebakaran
Displaying 1 - 9 of 9 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.