Tempat Paling Sunyi, saya sudah beberapa tahun lalu membeli buku ini (atas tawaran sahabat) tapi tak berani membacanya karena takut kesunyian yang ditawarkan tak seperti kesunyian yang sedang saya butuhkan. Tetapi, tahun ini akhirnya saya membacanya juga oleh karena perasaan ingin yang datang begitu saja ketika saya melirik-lirik lemari buku untuk memilih bahan bacaan bulanan.
Beberapa tahun belakangan saya hanya tertegun menatap sampul buku ini dan asyik sendiri menerka-nerka bagaimanakah kisah cerita di dalamnya. Mulanya, saya pikir kisah ini akan menceritakan tentang lelaki yang berjalan jauh sekali untuk menemukan kehidupan setelah mengalami banyak kehilangan pahit yang semakin ia pergi semakin ia temukan kesunyian.
Tetapi, buku ini justru mengisahkan sesuatu yang amat bising dan berlarut-larut membuat sesak. Mustafa, si lelaki penulis novel yang memiliki cita-cita tinggi terhadap karyanya--bahwa apa yang ia tulis akan mengubah dunia--justru mengalami hidup yang menyedihkan setelah menikahi gadis yang awalnya terlihat cantik dan pintar, ternyata tak lebih dari seekor keledai.
Salma, dan ibunya, kerap menyiksa Mustafa karena pikiran kolot serta bebal dan tingkah laku menyebalkan mereka. Jangankan Mustafa si lelaki sebatang kara, saya sebagai pembaca pun dibuat tertekan dengan tingkah laku mereka. Nampaknya memang benar, anak gadis yang penurut pada ibunya belum tentu berperangai baik pada suaminya, terlebih jika ibunya selalu ikut campur urusan rumah tangga mereka.
Dan Mustafa adalah manusia kesepian yang betul-betul telah kehilangan banyak akibat peperangan. Hidupnya terombang-ambing dan keadaan ini semakin diperparah oleh istri dan mertuanya yang membuat ia hanyut dalam kegelisahannya sendiri. Bahkan saking rumit hidup yang ia jalani, ia tak mampu pisah dari istrinya yang hampir membuat seluruh hidupnya menderita.
Sebagai suami, Mustafa terbilang bertanggungjawab, rajin, dan tidak menyusahkan karena dia pun mencuci bajunya sendiri, tidak mengeluh dengan keadaan apa pun dalam rumah tangganya. Tetapi, apa yang ia dapat dalam kehidupan rumah tangganya semakin membuatnya terperangkap dalam pengeluhan-pengeluhan yang tak kunjung selesai hingga akhirnya dia bertemu Riana, seorang mahasiswi cantik yang juga berprofesi sebagai guru, baik perangainya tetapi selalu bermasalah dengan hubungan lawan jenis.
Kian hari kian rumit jalan hidup Mustafa, tetapi semakin ke belakang yang merumitkan justru jalan pikirnya sendiri. Memang, hal paling mengganggu dalam hidup ini adalah kebimbangan yang manusia ciptakan atas pemikiran-pemikiran yang sebetulnya tak terlalu penting dalam keputusan yang dibuat. Dan barangkali hal-hal seperti ini sering dialami oleh seorang penulis yang acap kali terjebak dengan perasaannya sendiri.
Tempat Paling Sunyi, menurut saya adalah bacaan yang asyik, narasinya enak sekali meski bukan pula sebagai tulisan yang membuat ketagihan atau penasaran. Buku ini telah berhasil membuat saya merasa menjadi pendengar yang baik, sebab apa-apa yang tertulis seperti berdengung di telinga dan kehadiran para tokoh terasa dekat meski ketika menatap ke penjuru ruang yang terlihat hanya kesunyian.
Kendati begitu, ada bagian-bagian yang saya tak suka dalam buku ini, seperti typo yang cukup banyak, pengulangan kata yang cukup sering, dan ada kalimat yang diulang ketika mendeskripsikan kecantikan Riana. Cukup mengganggu, apalagi si narator seakan begitu mengagumi kemolekan tubuh tokoh perempuan itu seolah yang paling menonjol dalam dirinya hanyalah keindahan fisik. Padahal Riana cukup pintar dan menyenangkan, hal utama yang sebetulnya membuat banyak orang betah berlama-lama dengannya.
Hal paling saya suka dalam buku ini adalah kejujuran yang dibingkai tentang bagaimana sebuah karya tak terlalu penting bagi kehidupan banyak orang. Hal yang paling sering disuarakan oleh yang menggebu-gebu menjadi penulis. Jangankan untuk mengubah dunia, mengubah sekumpulan kecil manusia pun belum tentu bisa.
Orang-orang terdekat yang begitu bangga melihat Mustafa berhasil menjadi penulis pun, sebetulnya tak sampai hati mengetahui apa yang ia tulis dalam bukunya. Mereka hanya berkata, Mustafa penulis hebat, demi menuliskan buku ini ia berjuang mati-matian! Tetapi mereka tak tahu cerita apa yang ditulis Mustafa dalam novelnya. Bahkan mereka tak menyimpan karya hebat itu sebagai kenang-kenangan meski telah diberikan secara cuma-cuma.
Dalam, sesak, dan menyenangkan. Terima kasih Arafat Nur telah menuliskan kisah ini. 💕