Perburuan belum berakhir. Sungging, seorang prabhangkara muda yang kehilangan ingatan dan kemampuan olah kanuragan akibat racun mematikan, terjebak dalam pusaran kuasa Sunda-Majapahit.
Dalam pelariannya ke Bumi Sunda, ia justru terjerat ke dalam percaturan kuasa yang melibatkan dua kerajaan. Ketika goresan kuas Sungging di Rumah Telaga berhasil menangkap kecantikan sekaligus kedalaman rasa Dyah Pitaloka, lukisan itu jatuh ke tangan para pemburu Kalamura. Lukisan tersebut kini menjadi senjata dalam percaturan takhta Wilwatikta.
Bubat berkisah tentang intrik kekuasaan yang menyeret Majapahit dan Sunda menuju perang. Dari sayembara mencari permaisuri Hayam Wuruk, siasat senyap Raden Kudamerta untuk menggagalkan sayembara, hingga pertumpahan darah di Bubat.
Sebagai pembaca, saya kurang suka bagaimana Alan TH memperlakukan tokoh utama bikinnya sendiri. Sama seperti buku pertama, di buku ini Sungging tetap kurang mendapat spotlight, sehingga penggambarannya sebagai karakter utama menjadi sangat lemah. Penggambaran tentang diri Sungging seperti seberapa tua Sungging, bagaimana perawakannya, dll begitu jarang dibahas oleh penulis. Imajinasi pembaca mengenai Sungging menjadi lemah. Apakah Sungging itu pendekar tampan yang sakti mandaraguna, apakah pendekar kuat bertubuh kurus, sudah tua atau bagaimana, bagi saya sangat kurang. Bagian berakhirnya perang Bubat dan kesedihan Sunda menurutku kurang dieksplorasi penulis. Ending bukunya jadi seperti diburu-buru.