What do you think?


Kapitalisme Hijau - Fetisisasi Gaya Hidup Hijau dalam Masyarakat Neoliberal
Buku ini membahas bagaimana kehendak dan kesadaran menyelamatkan lingkungan hidup, justru tak bisa lepas dari jerat kapitalisme. Ide tentang membeli produk-produk atau membangun rumah ramah lingkungan, misalnya, justru memburamkan perjuangan ekologis, yang sebenarnya merupakan tanggung jawab kapitalisme via korporasi ekstraktif yang telah dan secara terus menerus merusak alam.
Menjalani gaya hidup hijau tidak selalu berarti menyelamatkan lingkungan, bahkan pada tingkat tertentu justru menjauhkan kita dari upaya menyelamatkan lingkungan itu sendiri.
"Krisis yang kita hadapi, tidak lain dan tidak bukan, adalah krisis struktural yang secara sistemik dibuat oleh para oligark untuk menjadikan kita sebagai penyokongnya melalui keseharian yang ’tidak penting’. Betul bahwa, lebih mudah membayangkan kiamat dunia, daripada membayangkan kehancuran kapitalisme. Namun, justru karena itu, maka setiap utopia anti-kapitalisme–kalau boleh menamai isi buku ini–adalah gerak nyata untuk menghentikan inovasi kreatif dari regenerasi kapitalisme." - Laksmi A. Savitri, Centre for Restoration and Regeneration Studies (CeRReS)
Menjalani gaya hidup hijau tidak selalu berarti menyelamatkan lingkungan, bahkan pada tingkat tertentu justru menjauhkan kita dari upaya menyelamatkan lingkungan itu sendiri.
"Krisis yang kita hadapi, tidak lain dan tidak bukan, adalah krisis struktural yang secara sistemik dibuat oleh para oligark untuk menjadikan kita sebagai penyokongnya melalui keseharian yang ’tidak penting’. Betul bahwa, lebih mudah membayangkan kiamat dunia, daripada membayangkan kehancuran kapitalisme. Namun, justru karena itu, maka setiap utopia anti-kapitalisme–kalau boleh menamai isi buku ini–adalah gerak nyata untuk menghentikan inovasi kreatif dari regenerasi kapitalisme." - Laksmi A. Savitri, Centre for Restoration and Regeneration Studies (CeRReS)
160 pages, Paperback
Published June 18, 2026
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
August 18, 2026
Salah satu buku yang kubeli pre-order sebelum ia terbit, karena aku tergiur desain sampulnya yang menarik (parodi dari lukisan American Gothic) dan judulnya membuatku penasaran.
Sebagai salah satu orang yang berusaha menerapkan gaya hidup hijau dan beberapa tahun belakangan mempertanyakan efektivitas dari keputusanku tersebut, aku cukup terpantik untuk menyelami diskusi ini lebih jauh. Tentu saja, aku tidak heran jika buku ini akan sarat dengan kritikan akan gaya hidup yang masih kuanut hingga kini.
Hal pertama yang kusadari dari buku ini adalah adanya level arogansi yang muncul dari Sang Penulis terhadap golongan masyarakat yang berusaha menerapkan gaya hidup hijau. Memang, gaya hidup tersebut bisa dibilang cukup eksklusif, karena sedikit banyak membutuhkan edukasi dan skala ekonomi yang memadai. Meskipun begitu, aku merasa 90% isi buku ini tertulis bak gunjingan terhadap partisipan penelitian yang diwawancara untuk mengumpulkan data empiris yang diulas dalam buku ini.
Entah apakah kritikan yang ditulis di sini sudah disampaikan secara langsung kepada mereka atau belum, atau apakah para partisipan itu tahu bahwa gaya hidup yang mereka yakini tersebut dibedah dan dihakimi dalam buku ini.
Inti dari bahasan yang ingin disampaikan memang—tidak bisa dipungkiri—tepat dan terbukti, namun menurutku bisa disampaikan dengan cara yang tidak terdengar memojokkan satu golongan (yang aku cukup yakin tidak memiliki maksud untuk mengekslusifkan dirinya) yang menerapkan gaya hidup hijau.
Selain itu, jika kita ingin jujur, buku ini pun tidak terasa lengkap bagiku. Iya, ia mengkritik golongan berprivilese yang menerapkan gaya hidup hijau dan merasa dirinya lebih baik dari "warga biasa." Iya, ia membuka mata pembaca pada kenyataan bahwa gaya hidup hijau bukan solusi absolut—bahkan mungkin menambah masalah. Namun, buku ini tidak memaparkan apa solusi yang bisa dilakukan oleh golongan-golongan berniat baik yang selama ini sudah menerapkan gaya hidup hijau dengan tujuan melindungi bumi atau memelihara lingkungan.
Tidak bisa dipungkiri, suhu bumi tahun demi tahun semakin memanas. Tidak bisa dipungkiri, kualitas udara (terutama di Indonesia) kian memburuk. Jika gaya hidup hijau bukan solusinya, lantas apa? Mungkin memang kondisi bumi sangat dinamis dan tidak bisa dikembalikan ke masa-masa yang dianggap "ideal" bagi manusia, namun kenyataannya bukan hanya soal suhu. Kepunahan berbagai macam species, kualitas air dan udara yang memburuk, serta hancurnya ribuan hektar habitat satwa liar—ini semua nyata adanya.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi ini semua?
Sebagai salah satu orang yang berusaha menerapkan gaya hidup hijau dan beberapa tahun belakangan mempertanyakan efektivitas dari keputusanku tersebut, aku cukup terpantik untuk menyelami diskusi ini lebih jauh. Tentu saja, aku tidak heran jika buku ini akan sarat dengan kritikan akan gaya hidup yang masih kuanut hingga kini.
Hal pertama yang kusadari dari buku ini adalah adanya level arogansi yang muncul dari Sang Penulis terhadap golongan masyarakat yang berusaha menerapkan gaya hidup hijau. Memang, gaya hidup tersebut bisa dibilang cukup eksklusif, karena sedikit banyak membutuhkan edukasi dan skala ekonomi yang memadai. Meskipun begitu, aku merasa 90% isi buku ini tertulis bak gunjingan terhadap partisipan penelitian yang diwawancara untuk mengumpulkan data empiris yang diulas dalam buku ini.
Entah apakah kritikan yang ditulis di sini sudah disampaikan secara langsung kepada mereka atau belum, atau apakah para partisipan itu tahu bahwa gaya hidup yang mereka yakini tersebut dibedah dan dihakimi dalam buku ini.
Inti dari bahasan yang ingin disampaikan memang—tidak bisa dipungkiri—tepat dan terbukti, namun menurutku bisa disampaikan dengan cara yang tidak terdengar memojokkan satu golongan (yang aku cukup yakin tidak memiliki maksud untuk mengekslusifkan dirinya) yang menerapkan gaya hidup hijau.
Selain itu, jika kita ingin jujur, buku ini pun tidak terasa lengkap bagiku. Iya, ia mengkritik golongan berprivilese yang menerapkan gaya hidup hijau dan merasa dirinya lebih baik dari "warga biasa." Iya, ia membuka mata pembaca pada kenyataan bahwa gaya hidup hijau bukan solusi absolut—bahkan mungkin menambah masalah. Namun, buku ini tidak memaparkan apa solusi yang bisa dilakukan oleh golongan-golongan berniat baik yang selama ini sudah menerapkan gaya hidup hijau dengan tujuan melindungi bumi atau memelihara lingkungan.
Tidak bisa dipungkiri, suhu bumi tahun demi tahun semakin memanas. Tidak bisa dipungkiri, kualitas udara (terutama di Indonesia) kian memburuk. Jika gaya hidup hijau bukan solusinya, lantas apa? Mungkin memang kondisi bumi sangat dinamis dan tidak bisa dikembalikan ke masa-masa yang dianggap "ideal" bagi manusia, namun kenyataannya bukan hanya soal suhu. Kepunahan berbagai macam species, kualitas air dan udara yang memburuk, serta hancurnya ribuan hektar habitat satwa liar—ini semua nyata adanya.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi ini semua?
August 9, 2026
refreshing review on “gaya hidup hijau” that, while good, isnt appropriately addressing systemic problems.
“subjek hijau mengalami fetis objek hijau dan membuatnya hanya menjadi kolektor objek-objek hijau saja”
anyways, book also acknowledges that gaya hidup hijau is somewhat better than nothing. its the “most” control we can possibly get amid the climate crisis.
“subjek hijau mengalami fetis objek hijau dan membuatnya hanya menjadi kolektor objek-objek hijau saja”
anyways, book also acknowledges that gaya hidup hijau is somewhat better than nothing. its the “most” control we can possibly get amid the climate crisis.
July 24, 2026
Ulasan menyusul.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews




