"Kalau cuma boleh membawa tiga barang ke sebuah pulau kosong, kalian mau bawa apa?"
Pertanyaan sederhana itu berhasil membuat enam pengunjung setia Bar Island jadi berandai-andai untuk pergi ke pulau kosong. Mereka semua pun heboh saat tahu bahwa sang Master pemilik bar mengundang mereka semua untuk pergi ke sana. Begitulah, mereka pun berangkat ke pulau kosong itu dengan gembira sambil membawa tiga barang pilihan masing-masing. Akan tetapi, keesokan paginya, sang Master beserta yacht-nya raib meninggalkan sebuah pesan video. "Dua orang yang bisa bertahan sampai akhir saja yang bisa pulang dan menerima satu miliar yen."
Rikako Akiyoshi (in Japanese, 秋吉 理香子) studied literature at Waseda University and received her Master’s degree in Film and TV Production from Loyola Marymount University. Her debut work Snow Flower won the Yahoo! JAPAN literature prize and was adapted into a short film. She is the author of several works of fiction. The Dark Maidens has also been adapted into a movie.
Tapi karena penulis kesayangan, harus tetap dirayakan dengan dibeli karyanya.
Tentang 9 orang yang tiba-tiba diajak ke pulau nggak berpenghuni, lalu duarrr... ternyata battle royal. Tertebak, page turner, tapi nggak seistimewa karya Rikako lainnya.
Terjemahannya? Selalu nyaman.
2,4 bintang.
Catatan: SNAK ITU APAAN? Maksudnya snack? Camilan>? Kukira salah ketik (karena udah biasa di penerbit ini untuk salah ketik yang superbanyak kayak nggak di-italic dan sebagainya), tapi konsisten sampai dua kali ditulis snak snak. Apa udah masuk KBBI? Kayaknya KBBI-ku belum ter-update karena aku nggak nemu. Duar.
Island Battle Royal oleh Akiyoshi Rikako 3 dari 5 bintang
Island Battle Royal merupakan kisah terbaru dari Akiyoshi sensei yang diterjemahkan. Seperti yang tergambar dari judul dan juga blurb, IBR adalah kombinasi antara Battle Royal dan Squid Game. Enam pengunjung setia Bar Island berangkat ke pulau kosong setelah berandai-andai apa yang akan mereka lakukan apabila terdampar di pulau yang demikian. Sayangnya, petualangan yang awalnya dikira sekadar petualangan, berakhir menjadi ajang pertumpahan darah dan mempertahankan diri.
Yang aku sebaaaal… dan sepertinya sudah dibahas oleh yang lain adalah… sampulnya tuh kinda ngasih spoiler banget. Meskipun bisa dipahami kalau itu adalah ciri khas desain dari Haru, tapi kan bisa ya dibuat dengan imej yang lain?
Oke, sama seperti di Battle Royal—kalau aku nggak salah ingat, kisah dalam buku ini diceritakan secara bergantian. Setidaknya ada delapan karakter yang ikut ke pulau terpencil itu, ada Shuichi (tokoh yang muncul pertama), Ishihara Ririko (pacar Shuichi), Amano Mamoru (dokter), Itsuke Daisuki (pegawai PNS), Suehiro Keigo (mahasiswa), Yu Koichi (Yutuber), Kawakami Goro (pegawai kantora), dan Yoshida Noboru (guru bimbel).
Karena battle royal sejati adalah permainan, cuma boleh ada satu pemenang. Maka, hadiah itu adalah takdir satu orang.
— hlm. 98.
Dibandingkan karya Akiyoshi lainnya yang cenderung plotnya datar, IBR berhasil menghadirkan suasana yang mencekam. Masing-masing karakter punya ambisi masing-masing untuk bertahan hidup—ada yang memang menyukai permainan survival yang terwujud ke dunia nyata, keinginan menciptakan konten viral, sampai sekadar ingin selamat. Aku juga berasa deg-degan waktu adegan mereka harus lari-lari plus sembunyi dari satu sama lain. Aku rasa IBR cukup bisa memberikan penggambaran itu.
Yang aku sayangkan adalah Ririko. Aku merasa potensi Ririko untuk menjadi perempuan yang kuat—dari yang awalnya manja mampus, terlewati begitu saja. Aku sebal karena dia menjadi pintar karena sebetulnya dia bucin ke Shuichi. Bisa nggak sih dia dibuat beneran cerdik dan licik aja? Huft.
Terus, awalnya tuh, aku pikir Ririko dipajang di sampul tuh karena mungkin aja dia punya peran lebih selain sebagai survivor. Kali aja dia mastermind terselubung. Ternyata aku harus kecewa dengan asumsiku itu. Haha.
Kalau mau mencari kisah gubahan Akiyoshi sensei yang cenderung fast-paced, aku rasa IBR bisa menjadi pilihan. Tapi kalau mau mencari kisahplot twist sialan, aku rasa IBR nggak menawarkan itu.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Island Battle Royal ini punya 𝗽𝗹𝗼𝘁 yang sederhana tapi menarik banget dan menurutku ini tuh beda dari novel-novel Akiyoshi Rikako yang pernah kubaca. Berawal dari obrolan sederhana tentang "Kalau cuma boleh membawa tiga barang ke sebuah pulau kosong, kalian mau bawa apa?", delapan orang akhirnya benar-benar pergi ke sebuah pulau terpencil tapi ketika kapal dan sang master alias bartender menghilang, mereka yang tersisa justru dihadapkan pada permainan mematikan yaitu battle royale dengan hadiah 1 miliar yen untuk dua orang yang berhasil bertahan hingga akhir. Maka dari itu tujuh orang yang tersisa mulai melancarkan aksi demi aksi demi bertahan hingga akhir, konflik-konflik yang ditimbulkan dalam cerita ini menurutku dibuat berlapis dari yang paling ringan sampai akhirnya paling berat terus penyelesaiannya pun menurut okei walau agak ketebak sih ya menurutku jadi gak ada plot twist yang gede kayak biasanya tapi Island Battle Royal ini punya 𝗽𝗹𝗼𝘁 𝘁𝘄𝗶𝘀𝘁-nya tersendiri dan unik aja sih menurutku🤩
𝗔𝗹𝘂𝗿nya menurutku cukup cepat dan straightforward jadi buku ini termasuk fastpaced di aku, ceritanya kayak to the point dan langsung aja bawa aku masuk ke mode survival para tokoh selama di pulau terus alurnya gunain alur maju dengan switching POV antar tokohnya yang somehow ngebuat aku tu paham sama bagaimana para tokoh itu menghadapi ketakutan, kecurigaan, serta keinginan mereka untuk bertahan hidup dengan mengatur strategi demi strategi🫵🏻 Terus menurutku untuk cerita thriller-mystery gini tuh alurnya okei juga karena awalnya kerasa ringan bahkan kayak seru-seruan aja gitu lho karena mereka masih pada becanda soal 'memilih tiga barang' terus perlahan alurnya jadi lebih tegang pas mereka mulai terjebak di pulau dan saling lawan-lawanan demi bertahan hidup, okei sih menurutku karena tension-nya pun kerasa gitu lho, aku berasa deg-degannya🫣 Terus 𝗻𝗮𝗿𝗮𝘀𝗶nya termasuk ringan dan mudah buat diikuti, terjemahannya tim @penerbitharu emang gak perlu diraguin ya soalnya lugas menurutku dan gaya kepenulisannya Akiyoshi Rikako tuh tersampaikan dengan baik menurutku, kayak walau ini terjemahan tetep ada karakternya lah gitu, guys. Narasinya tuh bikin cerita ini somehow nggak terasa berat padahal tema yang dibawain sebenernya cukup brutal. Aku suka gimana narasinya tuh bisa nunjukin perubahan psikologis para karakternya yang semakin lama berada di pulau, semakin terlihat sisi diri mereka yang selama ini disembunyikan. Showing dan tellingnya juga okei menurutku 😚
Terus 𝗽𝗲𝗻𝗼𝗸𝗼𝗵𝗮𝗻nya menurutku menarik karena setiap karakter punya kepribadian dan latar belakang yang berbeda. Mereka tuh yang gak langsung ketebak "orang baik" atau "orang jahat" karena baru ketauan tuh pas situasi makin menekan mereka dan ini kayak 𝗽𝗹𝗼𝘁 𝘁𝘄𝗶𝘀𝘁 menurutku karena yang kutebak baik ternyata nggak and vice versa. Terus perkembangan karakter di cerita ini tuh gak terlalu dispotlight tapi lebih ke yang nunjukkin ke reader, kalo seseorang berada dalam posisi terdesak, sifat asli dan naluri bertahan hidupnya dapat muncul dan mereka akan menghalalkan segala cara untuk stay as the winner apalagi di cerita inikan yang menang dapet duit tuh jadi keliatan deh mana yang pengen banget menang👀☝🏻
And lastly, aku ambil 𝗽𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿𝗮𝗻 kalo kita sebenernya gak pernah benar-benar tahu seseorang karena orang yang kita lihat baik-baik saja bisa aja menyimpan sisi lain yang baru muncul ketika berada di bawah tekanan so hati-hayi juga dengan orang yang kita percayai, selalu sediakan ruang untuk kecewa because even salt looks like sugar✨️
Overall, Island Battle Royale ini novel thriller-survival yang seru walaupun sedikit perdictable ya tapi aku tetep rekomendasiin ini buat yang suka cerita thriller atau emang udah ngoleksi karyanya Akiyoshi Rikako, ayo lengkapin koleksi kalian🫵🏻
ini adalah buku Akiyoshi Rikako pertama yang aku selesaikan dalam waktu cepat. idenya sederhana tapi berhasil bikin suasana mencekam.
tapi jujur, ini adalah cerita paling aman dari Akiyoshi Rikako yang pernah aku baca. alurnya maju, gak perlu tebak-tebakan; karena dari sampulnya udah dikasih spoiler 🙃 jadi tinggal cari tahu kenapa bisa dia yang selamat. gak tau juga kalau sampulnya dibikin beda apakah akan lebih bikin penasaran? terus dari judul-judul bab-nya juga langsung ketahuan siapa yang selamat dan enggak. gak ada plot twist bombastis yang biasa kita temukan dari buku-buku sebelumnya.
jadi ya bisa dibilang buku ini sangat datar padahal idenya udah menarik.
✨ mungkin yang bisa di-highlight adalah munculnya sifat asli manusia dalam keadaan terdesak, bagaimana kita menilai orang hanya dari luarnya saja, dan yang sering dianggap lemah justru bisa diandalkan.
“Kalau hanya boleh bawa 3 barang untuk pergi ke sebuah pulau kosong, kira-kira kamu bakal bawa apa?”
Begitulah tantangan yang diberikan Master untuk para pengunjung setia bar miliknya saat mendengar antusiasme mereka untuk liburan ke pulau kosong. Dikarenakan tujuan awalnya adalah liburan maka mereka memilih 3 barang yang paling berguna untuk mendukung kenyamanan diri sendiri mulai dari sebongkah daging, kamera perekam sampai ada yang membawa set riasan wajah. Sayangnya liburan yang seharusnya menjadi pengalaman menyenangkan itu berubah menjadi sebuah mimpi buruk. Master telah pergi meninggalkan sebuah rekaman video yang berisi cara untuk bisa pergi dari pulau tersebut. Tak ada kesiapan apapun untuk mengikuti survival battle royal tersebut apalagi kemampuan bertahan maupun menyerang masing-masing orang jelas berbeda. Ditambah barang yang mereka bawa tentu saja tak banyak membantu. Dari sinilah konflik pemantik mulai muncul dan kengerian itu berkembang menjadi pengalaman teror tanpa batas. Hanya ada dua cara untuk menghentikannya yakni menjadi pemenang atau menyerahkan diri sebagai korban. Island Battle Royal memberikan kesan berbeda untukku dibandingkan dengan 11 Akiyoshi lainnya yang sudah kubaca. Jika biasanya Akiyoshi Rikako fokus dengan pelenyapan terstruktur bertujuan khusus namun buku kali ini temanya survival. Sangat dimaklumi bagaimana tokoh-tokoh di dalamnya melakukan pelenyapan karena alat dan kondisinya terbatas. Tak ada rencana pasti, mereka bertindak sesuai kondisi paling mendesak, yang awalnya kawan bisa jadi menjadi lawan tergantung kebutuhan paling menguntungkan. Bagiku justru di sinilah sisi kengeriannya karena kita tak bisa benar-benar percaya dengan siapapun hanya diri kita sendiri yang mampu menyelamatkan. Buku ini menjelaskan detail nasib masing-masing tokoh dalam cerita yang bikin deg-degan, takut dan harap-harap cemas. Sama halnya ketika menonton acara survival pasti ada tokoh jagoan yang digadang-gadang bisa kabur atau memenangkan permainan, begitupun aku yang membaca bukunya.
Alurnya cukup pas tanpa meninggalkan detail penting dari perkembangan permainan. Tidak ada bantuan sistem apapun dari Master semuanya berjalan sesuai dengan kehendak masing-masing pemain yang masih bertahan. Apakah tokoh yang terlihat paling kuat akan menjadi pemenangnya lalu pemain beban akan langsung kalah di awal permainan? Ternyata kisahnya bukan hanya sesederhana itu melainkan banyak faktor yang mempengaruhi mulai dari perkembangan kemampuan bertahan, memanfaatkan keadaan dan memaksimalkan kekuatan. Ternyata selain perkara uang, terjebak dalam liburan mematikan bersama juga mampu membuka topeng siapa teman kita sebenarnya. Buku ini sangat aku rekomendasikan untukmu penyuka buku tema survival tentang bertahan dan menyerang untuk mendapatkan pengalaman menegangkan maupun deg-degan dengan nasib masing-masing orang di dalamnya. Bukan tipe yang dar der dor namun tetap mengesankan bagiku.
Sekilas tentang Novel Island Battle Royal merupakan sebuah novel tema survival tentang permainan siapa mampu bertahan sampai akhir di sebuah pulau kosong. Awalnya peserta yang berasal dari pengunjung setia bar sang Master sangat antusias dengan liburan ke pulau kosong, mereka juga mencatat 3 barang yang akan dibawa. Sayangnya liburan yang seharusnya menyenangkan itu harus berakhir menjadi permainan mengerikan. Master telah pergi meninggalkan rekaman yang berisi sebuah tantangan berhadiah uang. Tak ada jalan untuk pulang selain memainkan tantangan sampai menemukan pemenangnya. Dari situlah kengerian itu dimulai, masing-masing peserta mulai memikirkan cara bertahan dan melawan.
Liburan yang Berakhir Mengerikan Pernahkah kamu merencanakan sebuah trip bersama teman-teman ke sebuah daerah baru? Rasanya menyenangkan dan antusias kan? Namun bagaimana jika akhirnya justru membawamu dalam sebuah kompetisi mengerikan? Jujur abis baca ini rasanya kayak makin waspada dengan liburan bersama teman-teman random apalagi kita belum pernah ke sana sama sekali. Dari awal sudah banyak yang janggal mulai dari pulau kosong yang tak pernah disebut keberadaannya, daftar barang yang dibawa hanya boleh dibatasi 3 macam kemudian tidak boleh ada yang membocorkan kemana mereka akan pergi. Seperti mimpi kita berharap bisa segera bangun untuk melewatkannya namun sayang kejadian itu benar adanya membuat tokoh-tokoh dalam buku mau tidak mau harus memainkan lakonnya.
Kawan atau Lawan? Awal-awal setelah permainan dimulai mereka sepakat untuk membentuk kerjasama agar tidak perlu ada proses pelenyapan. Sayangnya yang namanya manusia pasti ada saja pemikiran serakahnya. Ada yang ingin terkenal dengan rekamannya, ada yang ingin memenangkan uangnya dan ada juga yang pokoknya keluar dari tempat itu tanpa memerdulikan temannya. Diskusi dan bagi tugas panjang itu dirusak dengan pemikiran mengerikan akibat keadaan dan kondisi yang menghimpit. Pelenyapaanpun tak bisa dihindari membuat pemain yang tersisa bertanya-tanya siapa lawan dan kawan mereka. Sifat manipulatif dan saling hasut membuat kebenaran menjadi abu-abu alhasil mereka mencari-cari orang yang bisa disalahkan.
Kedok yang Terbuka Ada kisah unik dari buku ini sekaligus mengingatkanku pada sebuah kisah pertemanan yang sudah kandas. Dua teman ini punya rencana liburan ke Jogja semuanya aman pada awalnya namun setelah liburan itu bukannya makin erat keduanya malah saling menjauhi. Kata mereka liburan bisa membuka kedok siapa temanmu sebenarnya. Dalam kondisi tertentu membuat seseorang bisa menjadi karakter yang sangat berbeda dari yang kita kenal. Kita memang tak sepenuhnya kenal dengan orang lain bahkan orang terdekat dalam hidup kita sekalipun.
Lahirnya sang Pemenang Sampai akhirnya permainan berjalan sesuai keinginan Master, mereka memainkan peran saling hantam tanpa ampun. Tujuannya adalah kebebasan dan uang sampai pemikiran mereka sudah gelap. Sayangnya menjelang akhir, calon pemenang meremehkan musuhnya. Bagi mereka, para monster sudah tumbang di awal namun mereka melupakan satu hal penting dalam sebuah permainan game. Setelah menghempaskan para prajurit kita harus melawan bos atau monster paling besar bukan? Begitulah permainan ini akhirnya melahirkan pemenang yang sesungguhnya meskipun tak bisa dicap juga sebagai tokoh yang terpuji.
Apa yang Menarik dari Buku Ini? Rasanya cukup segar membaca buku dengan tema survival melihat siapa yang mampu memenangkan permainan sampai akhir. Ada rasa sedih dan kehilangan ketika tokoh jagoanku akhirnya harus tumbang namun tetap harus mengikuti kisahnya sampai akhir untuk tahu siapa pemenangnya. Detailnya pas sesuai dengan kondisi serba terbatas dan tanpa rencana. Mereka melakukan pelenyapan karena terdesak dan salah satu cara bertahan sampai akhir. Jadi prosesnya mungkin tidak akan terlalu seram bahkan bisa jadi banyak yang mengalami cara pelenyapan konyol. Semua karakter manusia diwakili dalam buku ini mulai dari yang bijak, cerdik, cerdas sampai yang licik dan serakah semuanya ada bahkan ada tokoh yang menyebalkan juga dalam buku ini rasanya seimbang.
Konsep, Penokohan, Alur dan Eksekusi Cerita Konsepnya menarik dengan penokohan spesifik meskipun nama tokohnya banyak namun buku ini menghadirkan detail bagaimana masing-masing tokohnya bertahan sekaligus bagaimana nasib akhirnya. Alurnya cepat dan sat set tanpa meninggalkan kesan tegang dan mengerikan saat menikmati permainan berlangsung. Eksekusinya sangat menarik namun tetap menyisakan kengerian di akhir cerita bahkan setelah pemenangnya ditemukan. Aku mempertanyakan apakah permainan ini akan terus ada, apakah Master memenuhi janjinya atau jangan-jangan pemenangnya juga akan dihabisi setelah dapat hadiah itu pokoknya aku curiga.
Pelajaran dan Pesan yang Diberikan dari Cerita Apa ya pelajaran dari buku ini? Mungkin lebih ke jangan pernah langsung percaya dengan orang yang kalian kenal apalagi tidak 24 jam penuh bersamanya. Selalu waspada dengan hal-hal yang sekiranya membahayakan diri seperti liburan di tempat baru dengan barang terbatas contohnya. Dalam kondisi terhimpit hanya diri sendiri yang bisa dipercaya selebihnya masih mencurigakan. Jangan mudah percaya dengan apapun yang dikatakan orang lain tanpa melihat buktinya sendiri bisa jadi semuanya sudah dimanipulasi.
Buku Ini Cocok untuk Siapa? Buku ini cocok untukmu yang ingin merasakan sensasi menegangkan dari sebuah cerita survival sampai menemukan pemenangnya. Bukan tipe yang gore banget namun kengeriannya jelas tetap ada bahkan akupun juga masih kepikiran dengan tokoh yang lenyap itu. Bagaimanapun juga mereka hidup dengan harapan yang masih menggantung.
Sudah lama aku tidak membaca buku Akiyoshi Rikako dan akhirnya sekarang berkesempatan membaca buku terbarunya yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Penerbit Haru. Saat membaca Island Battle Royal, aku langsung teringat konsepnya mirip dengan Squid Game dan Hunger Games. Aku sangat suka dengan genre yang seperti ini (Dystopian / Survival) ketika karakternya harus berjuang bertahan hidup dan melawan orang lain. Cerita berawal dari 8 tokoh dalam buku ini bertemu dengan Master pemilik Bar Island. Mereka awalnya berandai-andai bagaimana kalau mereka semua berlibur di pulau kosong dan menjauh lari dari kehidupan nyata yang melelahkan. Lalu, si Master bilang dia punya pulau kosong dan menawarkan mereka untuk berlibur disana. Kedelapan orang itu sangat senang dengan tawaran si Master dan menyetujui bahwa mereka akan berlibur bersama selama 2-3 hari. Terus agar lebih seru, mereka setuju untuk hanya membawa tiga barang saja ke pulau kosong tersebut.
Setiap bab berisi satu pov dari tokoh-tokoh tersebut. Shuici seorang pria biasa yang miskin memiliki pasangan bernama Ririko yang kaya raya; Amano, seorang dokter; Itsuki, seorang PNS; Suehiro, seorang mahasiswa; Yu, seorang youtuber; Kawakami, seorang pegawai kantoran; Yoshida, seorang guru di tempat bimbel. Saat mereka tiba di pulau kosong bersama si Master, mereka awalnya bersenang-senang sampai tengah malam -lalu keesokan paginya Master sudah pergi bersama Yacht-nya. Ternyata mereka harus melakukan permainan Battle Royal di pulau kosong tersebut. Dari delapan orang, harus ada 1-2 orang saja yang bertahan agar bisa pulang dan mendapat hadiah satu miliar yen. Sisanya berarti harus mati. Dari buku ini, kalian bisa mengetahui watak/sifat setiap orang yang sebenarnya dan bagaimana caranya mereka bertahan menggunakan persediaan yang mereka bawa ke pulau tersebut. Barang yang awalnya terlihat sepele ternyata bisa menjadi sangat penting ketika mereka harus berstrategi bertahan hidup di pulau terpencil. Pulau kosong ini perlahan-lahan memperlihatkan sisi lain dari masing-masing karater. Apakah pada kenyataanya mereka memang orang seperti itu atau mereka berubah karena keadaan serta demi uang permainan battle royal? Ada karakter yang naif, licik, baik, dan jahat. Buku ini tidak memiliki plot twist yang wow banget. Alurnya mengalir begitu saja, bisa ketebak juga sih. Kalau dibandingkan dengan cerita survival game lain, konsepnya mungkin tidak terlalu baru. Namun, pengalaman membaca buku ini menyenangkan, seru dan bikin penasaran sampai akhir, karena ingin tahu siapa sih pemenangnya yang membuatku tetap ingin terus membaca.
Konsep tiga barang yang boleh dibawa ke pulau juga menurutku cukup menarik karena membuatku beberapa kali berpikir, “Kalau aku yang ada di posisi mereka, aku bakal membawa apa?” Jujur bingung sih wkwkw tapi kalau aku kayaknya pisau survival wajib dibawa. Aku juga cukup menikmati format multiple POV-nya. Setiap bab berpindah ke sudut pandang karakter yang berbeda sehingga kita bisa melihat kejadian yang sama dari perspektif yang berbeda. Pergantian POV ini juga membuatku terus mencurigai setiap karakter dan bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Kalau kalian suka cerita bertema survival, battle royale, psychological thriller, atau cerita yang mengeksplorasi sisi gelap manusia ketika berada dalam situasi ekstrem, menurutku buku ini layak dicoba untuk dibaca. Apalagi kalau kalian suka sensasi membaca sambil terus menebak, “Siapa yang bakal bertahan sampai akhir?”
"Kalau hanya bisa bawa 3 barang ke pulau terpencil dan kosong, kamu mau bawa apa?"
Itu adalah pertanyaan klasik ketika sedang ngobrol di tongkrongan. Sekadar pertanyaan iseng. Namun, bedanya 8 orang yang sering ngumpul di Bar Island ini, beneran ditantang oleh Master, seorang kaya raya yang gabut untuk ikut ke dalam permainannya. Pergi ke pulau kosong hanya membawa 3 barang.
"Karena battle royal sejati adalah permainan, cuma boleh ada satu pemenang. Maka, hadiah itu adalah takdir satu orang. (p. 98)
Survival thriller pada umumnya. Pertama kali aku baca karya penulis adalah Holy Mother. Kebayang nggak se-jumpalitan-nya aku saat baca? Maka dari itu, ketika bertemu karya penulis yang lainnya terkesan biasa saja. Nah, yang ini lebih biasa banget.
Premis biasa. Survival-thriller pada umumnya saja. Boleh bawa 3 benda. Satu yang bertahan. Yang lain nanti saling bunuh.
Tidak ada deep POV dan karakter. Ada 8 orang yang ikut ke pulau, diantaranya: 1. Amano Mamoru: dokter 2. Itsuki Daisuke: PNS 3. Suehiro Keigo: mahasiswa pencinta alam 4. Yu Koichi: youtuber 5. Kawakami Goro: pegawai kantoran 6. Yoshida Noboru: guru bimbel IPA 7. Ishihara Ririko: pacarnya Suichi, anak orang kaya 8. Suichi Omura: kerja di kantor bapaknya Ririko, cowok mokoncil (modal kontribusi kecil).
Dari 8 peserta ini sama sekali tidak ada background story. Hanya dituliskan nama dan pekerjaannya apa. Dan sudah demikian. Mengapa dari mereka ada yang maniak game? Mengapa ada yang lebih mementingkan bawa make up ke pulau kosong daripada hal yang mungkin menurut yang lain lebih “penting”? Mengapa ada yang begitu licik hanya demi ketenaran? Dan masih banyak mengapa yang sayangnya nggak dieksplor oleh penulisnya.
Hal tersebut menyebabkan tidak ada rasa attachment antara pembaca dengan tokoh dalam buku. Jadi, ketika mereka mati satu per satu berasa kayak ah, yaudah. Tidak ada kesedihan atau ngerasa kehilangan. Malah lebih ke hah kok udah mati aja? Cuma agak ngilu aja prosesnya karena menggunakan sudut pandang orang pertama, jadi saat momen kematiannya pun terasa ngeri.
Sampul buku adalah spoiler yang besar. Penerbitnya memang memiliki khas sendiri kalau membuat sampul buku. Yang biasanya adalah tokoh utama dalam buku yang diilustrasikan. Nah, tapi sampul ini akan menjadi spoiler yang besar karena … coba deh baca chapter pertama. Maka kamu akan menemukan maksud ini. Maksudku kenapa nggak gambar delapan orang aja. Kayak spesifik sampul buku. Spesifik spoiler.
Ps. blurp-nya pun typo. Ditulisnya enam orang padahal ada delapan orang.
Twist yang dipaksakan. Selain jadi nggak ada twist karena cover adalah spoiler, juga ada karakter yang tiba-tiba jadi jagoan dan jadi pinter. Dan hal itu terkesan dipaksakan untuk menjadi twist.
Rekomendasi. Kalau kamu suka karya Akiyoshi Sensei, mungkin kamu akan baca-baca saja karya beliau yang ini. Namun, dari segi intens dan cerita, ini biasa saja. Cocok untuk kamu yang suka genre survival-thriller.
Tenda, buku, camilan. Adalah tiga hal yang akan aku bawa jika tiba-tiba ditanya, "Kalau cuma boleh bawa 3 barang ke suatu pulau, kamu mau bawa apa?" Dan barangkali aku akan menjadi korban pertama pada battle royal yang terjadi di pulau itu.
Delapan orang pelanggan setia sebuah bar tiba-tiba diberi tawaran, "Ayo ke pulau pribadiku," oleh sang Master, "Tapi hanya boleh bawa tiga barang ya."
Little did they know, bahwa barang-barang itu akan menjadi senjata mereka untuk bertahan hidup.
SPOILER!!
Untuk Akiyoshi Rikako yang biasanya membuat psychological thriller, buku yang satu ini bener-bener fresh. Tema yang diangkat kayak buku The Hunger Games atau series Squid Game.
Aku dibuat tegang selama baca karena karakter-karakter yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari itu harus menggunakan segala akal mereka demi bisa mempertahankan nyawa mereka.
Aturan yang dibuat 'the psycho old man' adalah hanya 1 atau 2 nyawa yang bisa pulang. Dan game survival pun dimulai.
Awalnya mereka sepakat untuk milih siapa yang pura-pura jadi mayat, tapi ketika salah satu berkhianat, yang bisa mereka lakukan adalah membunuh atau dibunuh.
Karakter favorit-ku Yoshida. Dia guru bimbel yang punya hati suci. Bahkan di saat-saat terakhirnya Yoshida masih mikirin siswa-siswa yang dia tinggalkan. Dia satu-satunya karakter yang berhasil bikin aku nangis. Amat sangat gak rela aku ditinggalin sama karakter sebaik dia.
Suehiro juga punya tempat yang spesial di mataku, karena dia karakter yang selalu berjuang. Apapun yang terjadi dia milih keselamatan kelompok. Pemimpin yang baik. Saat-saat kematiannya juga menyedihkan. "Tak ada Tuhan di dunia ini. Orang sehebat Suehiro-kun dibunuh oleh manusia sejahat itu." Isak Ririko. Bukan, Ririko. Tuhan ada, tapi Tuhan milih ngasih plot armor ke Itsuki. Dia lebih suka Itsuki ketimbang Suehiro, haha.
Oh aku juga suka bagian character development nya Ririko. Dari awal dia dibikin semanja mungkin tapi di akhir, dia berubah menjadi badass. Memang motivasi nya belum kuat sih, tapi lumayan. Waktu Ririko mengambil sendal hak 9 CM nya untuk balas dendam ke Shuichi wahhh.... lega banget! Sudah seharusnya parasit kayak Shuichi dibuang.
Sebenarnya Shuichi bisa banget loh memainkan peran tunangan yang baik. Tapi karena sejak awal hubungan mereka dilandasi niat busuk Shuichi yang mata duitan, sifat Shuichi yang asli pun keluar di sini.
Aku menantikan Akiyoshi Rikako bikin buku lagi tentang Ririko yang balas dendam ke 'the psycho old man'! Atau setidaknya bikin cerpennya deh. Aku sebel sama 'psycho' satu itu. Bisa-bisanya dia lolos gitu aja. Dasar miliyader! Bisanya nyusahin orang-orang bumi aja!
Amanat dari cerita ini adalah : Trust no one!
Oh, aku juga suka sama terjemahan bahasa Indonesia ini. Bahasanya gaul abiesss!!!
Judul: Island battle royal Penulis: Akiyoshi Rikako Penerbit: Haru Dimensi: 296 hal, cetakan pertama Juli 2026 ISBN: 9786235467498
Seorang pemilik pub kecil yang dipanggil Master mengajak Suichi dan kawan-kawan minumnya pergi ke pulau terpencil. Mereka yang tengah bergelut dengan ujian hidup masing-masing segera mengurus cuti dan bersiap. Agar lebih seru, Master membuat peraturan hanya boleh membawa 3 benda dan apa yang dipakai di badan tidak dihitung. Ekspektasi awal mereka hanya pergi 1-2 hari, tiba-tiba berubah menjadi battle royal. Master membuat mereka tertidur lalu meninggalkan 8 orang (Suichi, Ririko satu-satunya wanita, Yuu, Yoshida, Kawakami, Itsuki, Amano, dan Suehiro) tersebut di pulau terpencil. Mereka hanya akan dijemput pulang bila berhasil bertahan dan menjejerkan 6 mayat. Ditambah reward uang cash 1 milyar. Siapakah yang akan menjadi pemenangnya? Apakah motif terbesar bertahan hidup, uang atau hal lain? Bernilaikah persahabatan bila dibenturkan dengan hidup mati seseorang?
Bagi penggemar series Squid Game, buku ini akan cocok sebab memiliki kemiripan seperti itu. Premis yang dimulai dari guyonan berubah fatal dan serius dengan twist tokoh dengan probabilitas terkecil justru yang bertahan hidup. Dengan beragam sudut pandang pencerita, pembaca jadi memahami sisi batin dan pandangan antar tokoh. Mengingatkan saya pada gaya bercerita penulis di novel Girls in the dark.
Pelajaran menarik dan membuat saya tertawa meski selesai membaca buku ini adalah jangan remehkan wanita dan lalai pada senjata utamanya! Ngakak so hard membayangkan LV mule Ririko meski sadis di endingnya.
Cocok dibaca bagi yang suka fiksi genre CTM, permainan maut dan survival.
WOW JUST WOWWW Sekali lagi Akiyoshi Rikako membuktikan karyanya selalu berbeda. Detail banget? Semua orang yang ada di pulau itu semuanya beda kepribadian, profesi, ketertarikan, dan gaya hidup tapi semuanya bisa nonjolin semua itu tanpa berasa tempelan. Yang dokter banyak istilah kedokteran, guru bimbel banyak bahas tentang pengetahuan, mapala (mahasiswa pecinta alam) banyak bahas soal alam. Pokoknya semuanya gak ada yg cuma karakter tempelan gitu.
Di awal emang agak lambat pacenya, tapi makin jauh tensinya makin tegang banget. Page turning to the max sampai bukunya susah kulepas alias kalo gak selesai bakal terngiang. Berbagai sifat manusia (seperti biasa) juga dikupas di sini. Kalau kamu dihadapkan pada situasi hidup dan mati, mana sifat aslimu?
Terus idk ya yang kecewa. Padahal Akiyoshi Rikako bukan spesialis penulis crime, dia penulis psychological. Emang novelnya banyak yg genre crime dengan plot twist di ending, tapi sebagian besar novelnya juga banyak bahas psikologikal aja daripada crime (kaya Cinderella Addiction, Absolute Justice)
Worth to buy, worth to read. Semuanya menurutku perfect, gak ada kurangnya. Bahkan plotnya pun pengen kubilang sempurna saking runutnya. Perkembangan karakternya juga keren banget, dari yg baik jadi jahat, orang-orang egois, dan gak peduli masalah apapun ada juga yang tetap baik.
Spoiler warning :
Satu-satunya masalahku cuma KENAPA COVERNYA SPOILER!! Dari awal liat cover dan baca ceritanya (cewe cuma satu) udah tau kalau karakter Ririko yg akan jadi turning point cerita dan bener aja:)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Pace ceritanya cepat. Namun harus ku akui memang minim sekali plot twist dan arahnya lumayan mudah ditebak. Jadi yang pengen cerita dar der dor, mungkin harus menurunkan sedikit ekspetasinya.
Buku ini terbagi menjadi 8 narasi sudut pandang yang menunjukan penggambaran karakter masing-masing. Aku suka menyelami pemikiran mereka perlahan. Walau pada akhirnya bakal mati juga. Tentu akan ada yang mati. Adegannya sih tidak ditunjukan berdarah darah secara gamblang. Namun cukup monoton bagi ku. Kek ketengangannya tuh tiba-tiba dilempar di tengah tengah ketenangan. Dan yha beberapa bagian juga terasa miss bagiku.
Semua sifat karakter abu-abu. Untuk menjadi last man standing, jadi jahat, bukan lagi pilihan. Tapi kewajiban. Seharusnya. Maka dari itulah. Karena Aku tidak begitu menyukai sifat bermuka dua, Itsuki adalah satu satunya karakter yang aku sukai di buku ini. Meski licik dan bengis, ia jujur dan tetap pada pendiriannya. Bisa dibilang pilihan dalam membawa tiga barang yang ia bawa adalah yang paling masuk akal kalo disuruh ke pulau kosong terpencil, yaitu alat alat survival wkwkwk.
Untuk endingnya aku tak berbicara banyak. Memuaskan? Tidak terlalu. Aku masih penasaran dengan nasib dari orang terakhir yang akan membawa uang bergepok-gepok cash dari kapal itu. Bakal ketemu lagi gak sama sang master pemilik bar itu. Kek masih belum tuntas.
Novel Akiyoshi Sensei yang baru diterjemahin ke Indonesia ini menceritakan soal 8 orang yang diajak berlibur ke pulau tak berpenghuni punya Master Bar. Karakternya ada Dokter Amano, Itsuki, Suehiro, Yu, Kawakami, Yoshida, dan sepasang calon pengantin, Shuichi dan Ririko. Nah mereka diminta untuk membawa 3 benda untuk dibawa ke pulau tak berpenghuni itu. Ternyata si Master pulang duluan dan membuat peraturan: hanya 2 orang boleh pulang dan akan diberikan uang hadiah 1M yen. Apakah mereka akan bertahan hidup atau malah saling membunuh? Dan siapa pemenang akhir dari survival game ini?
Novel ke 12 dari Akiyoshi Sensei yang kubaca dan sayangnya bukan yang paling kusuka. Bisa dibilang ini termasuk ke bottom 3 buatku🙏🏼🥲 bagusnya dari novel ini tuh ingetin aku sama anime BTOOOM, seru aja gitu ngikutin petualangannya karena jadi mikir ini bisa dijadiin kawan/malah lawan? Terus ikut degdegan mikirin nasib karakternya.
Cuma sangat minim plot twist sih novel ini sampe mikir “Ini beneran novel Akiyoshi Sensei kah?” Bukannya jelek sih cuma ga seperti khasnya Akiyoshi Sensei aja. Karakter2 selain Ririko, Shuichi, Itsuki, dan Yu juga kurang diperdalam. Kesel bgt sama karakter Ririko huft so annoying dan manja haha. Hmm menurutku ratingnya 3.4/5 ✨ tetep worth untuk dibaca penggemar karya Akiyoshi Sensei sepertiku!
If you want something fast-paced, adventurous yet thrilling type of read without having to think or analyzing too much, I think this is a perfect read. Island Battle Royal nggak kayak buku Akiyoshi-sensei yang biasanya. Temanya beda, rasanya juga berbeda. Startnya cukup cepat untuk cerita dengan karakter banyak, tapi emang dibuat kenalan sama mereka seiring berjalannya survival ini. Sejujurnya bukan cerita yang gila atau mindblowing, nggak ada plot-twist yang breathtaking juga. Tapi kalo disuruh jelasin dengan satu kata, I'll give: SERU. A fun read. Karena ini temanya survival game (semacam Squid Game atau Alice in Borderland), kayaknya tiap chapter ada yang mati. But rather than tiring, I think that's the fun part of the book. Wondering who's next and how. From an Akiyoshi Rikako avid fans, this book isn't CRAZY GOOD OMG but when life feels boring and stagnant, I think this book would be a fun and adventurous read.
Ini memang judul yang paling biasa dari Akiyoshi Rikako, tapi bacanya tetep aja kerasa sat set apalagi karakter-karakternya yang ga jarang bikin kejutan. Apalagi 1 1-nya karakter cewek, ditaruh di cover ga mungkin ga kasih kejutan kannn
Cuman ada 1 PoV yang gaada dan ga disebut di akhir namanya. Tapi justru itu yang bikin penasaran. Bakal ada lanjutannya kali ya wkwkkw.
Yang kurang sreg, selain memang plot-nya yang sudah sering kita temui, di sisi penulisan terjemahannya agak kurang konsisten. Misal, ada satu karakter yang selalu bilang "saya" lalu tiba-tiba bilang "aku" lalu bilang "saya" lagi. Typo ada juga, penggunaan kata, "ya" menjadi "yak" di awal lalu tidak muncul lagi hingga akhir. Ngganjel aja sih.
Tapi masih fun buat dibaca, cuman walo baru baca beberapa, kayanya judul Akiyoshi Rikako yang ini masuk ke yang terbawah bagiku.
AHAHAH KOCAK 😂🤣 Endingnya betulan kocak (lovingly). Kesimpulannya; don't judge a book by its cover 👍
It's quite different dari buku-buku Akiyoshi Rikako yang pernah aku baca sebelumnya. Island Battle Royal ini nggak ada plot twist yang bikin kaget or something like that. But, still, ceritanya tetap seru buat diikuti! Seperti buku-buku lainnya, yang ini juga cukup page turner.
Bayangin aja, kamu berada di pulau tak berpenghuni dan hanya boleh membawa 3 barang. Lalu ternyata, kamu dijebak ke dalam 'battle royal'. Kondisi yang memaksamu untuk terus menggunakan insting bertahan hidup. Semua boleh kamu lakukan. Bahkan, saling membunuh juga diperbolehkan, atau malah diharuskan. Jika bisa bertahan dan menjadi pemenang, kamu akan mendapatkan satu miliar yen di tangan.
"Aku akan mengabulkan harapanmu, dengan membunuh, membunuh, dan membunuh tanpa ragu."
Lebih ke thrilling daripada misteri. Ceritanya menurutku B aja, tapi tetep page turner. Tapi sepanjang baca jadi merasa ada refleksi kehidupan jg.
Kayak… ternyata hal2 remeh dlm kehidupan kita, pekerjaan yg suka kita keluhin, bisa jadi sangat berarti ketika kehidupan kita ada di ujung tanduk. Dan benar… sifat asli manusia itu bisa keliatan kalo berhubungan dengan uang. Beberapa karakter di sini sifatnya jeleeek banget. Jadi emosi bacanya wkwkwk.
Well, yeahh… endingnya oke juga. Jangan main2 sama senjata wanita 🔥
Belum pernah baca thriller formatnya battle royal seru sih karena plot nya juga simple jadi easy to read, pace nya cepet. Tapi ga yang wah gimana gimana kaya yaudah ceritanya begitu, gaada plot twist juga terus suspense nya somehow ga begitu dapet di aku. Deskripsi pulaunya kaya kurang gitu, ga sedapet deskripsi pulau di buku Silence yang menurutku bikin merinding padahal sama sama antah berantah tapi mungkin karena fokusnya bukan kesitu kali ya di awal pun dibilang sama si master ini pulau yang indah (wkwkwk apasi ngomenin pulau ah).
I like the character development of some of characters. I like the premise. The plot was alright but some stuff in it sometimes don't make sense, sometimes too coincidental as well, which is not suitable for a story of a battle for survival. Perhaps due to this not being Akiyoshi Rikako's usual story type, the usual mysticism, sinister vibes, and delicious plot twist that their stories carry is not present. Still a nice quick read, though. Beautiful cover as well.
I started this while I was at the salon getting my hair dyed. Pas baca sinopsisnya, cukup menarik dan temanya terasa klasik—khas anak tongkrongan: survival di pulau terpencil. Berharap bakal ada hal-hal yang bikin kaget atau plot twist yang seru, tapi ternyata ceritanya cukup flat dan nggak terlalu meninggalkan kesan Karakternya “manusia” banget.
Not exactly Akiyoshi’s best work, but super fun regardless. None of the characters are likeable except for Suehiro, and I think that’s exactly the appeal. The ending is abrupt but extremely satisfying, especially knowing what the final murder weapon is.
Sebenernya udah gampang bgt ditebak siapa yg akan jadi pemenangnya, tp tetep buat aku penasaran cara tiap-tiap para character bertahan hidup dengan barang seadanya dan gimana mereka akan nyerang satu sama lain. Untuk buku dengan tema survival menurutku ini ringan bgt tp masih seru buat diikutin.
Plotnya gampang banget ketebak... Seharusnya Penerbit Haru jangan menampilkan foto karakter perempuan di cover, karena hanya dengan membaca chapter 1 dan lihat halaman cover, pembaca bisa dengan mudah mengetahui ending ceritanya.
Meski dari tengah aku sudah bisa tebak endingnya yang kurang lebih tepat tapi perjalanan bertahan hidup karakter battle royal ini benar-benar keren. Ini novel pertama dari pengarang Akiyoshi Rikako sensei yang aku baca dan katanya judul-judul lain lebih seru. Jadi penasaran sekali diriku. Hehehe.
banyak typos di terjemahannya, bahkan ada yang sampai buat makna kalimatnya tidak jelas. premis ok, suka banget mode survival gini. tapi endingnya agak... hmmm... character dev ngga begitu terlihat, seperti terlalu ingin ditutupi for the sake of the twist.
Seru bacanya dan genre Action-nya dapet ya. Mungkin saja Akiyoshi Rikako sedang merambah ke genre ini dan hasilnya cukup memuaskan. Konfliknya tidak seberat buku-buku beliau sebelumnya dan tetap berciri khas dengan unsur Pyschological-nya. Well done!
Cukup bikin jantung berpacu sih, but kyk yg udah dibilang orang orang ini tuh flat and udah spoiler banget dari awal. Karakter ririko tidak sebadas yg ku kiraa WKWK
Ekspektasiku ttg buku ini kayaknya ketinggian. Apalagi karena buku ini lumayan viral dan blurbnya juga menarik. Ternyata biasa aja. Seru sihh, menegangkan juga, tapi rasanya kurang berkesan.