Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seri Cerita Kenangan Nh. Dini #14

Dari Ngalian ke Sendowo

Rate this book
Menginjak awal masa yang disebut “manusia usia lanjut” atau manula, Dini mengalami tambahan kesulitan dalam menyikapi kehidupan. Yang pertama adalah seringnya mengalami gangguan kesehatan, sedangkan hal kedua ialah sukarnya mendapatkan tenaga guna membantu mengurus rumah tangga serta Pondok Baca. Kebiasaan masa lalu, di mana kaum wanita berdatangan dari desa menuju kota untuk bekerja sebagai pembantu atau pamong balita, telah berubah. Mereka memilih menjadi karyawati di berbagai pabrik yang bertumbuhan di sepanjang jalan-jalan besar pinggiran kota.


Demi kepraktisan, Dini memutuskan akan bergabung ke suatu kelompok organisasi khusus bagi orang-orang berusia di atas 50 tahun. Dia tertarik kepada Yayasan Wredha Mulya, atau disingkat YWM, yang didirikan oleh Kanjeng Ratu Hemas, istri Sultan Hamengku Buwono ke-X. Menempati seluasan tanah milik Kraton, yayasan tersebut membangun rumah-rumah kecil yang disebut Graha Wredha Mulya di kawasan Sendowo, Sinduadi, RT 13/56, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Apa boleh buat, Dini “harus” pindah, meninggalkan kota kelahirannya.


Aneka kejadian dialami dan dijalani oleh Dini sebagai lansia mandiri, sebagai pekerja seni di bidang susastra, dan juga sebagai warga Daerah Istimewa Yogyakarta. Empat tahun berlalu, namun dia tidak juga mendapatkan ketenangan lahir ataupun batin seperti yang dia harapkan. Karena pada akhirnya, lingkungan yang semula damai dan tenteram, berubah menjadi bising, sangat mengganggu kegiatan seorang praktisi bidang kepengarangan seperti dirinya.


Ketika di cakrawala tampak ada harapan meraih ketenteraman yang dia idamkan, Tuhan menganugerahkan tambahan pengalaman berupa gempa bumi dahsyat........

292 pages, Paperback

First published May 1, 2015

5 people are currently reading
61 people want to read

About the author

Nh. Dini

51 books238 followers
Nh. Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin) started writing since 1951. In 1953, her short stories can be found in most of national magazines like Kisah, Mimbar Indonesia, and Siasat. She also writes poems, radio play, and novel.

Bibliography:
* Padang Ilalang di Belakang Rumah
* Dari Parangakik ke Kampuchea
* Sebuah Lorong di Kotaku
* Jepun Negerinya Hiroko
* Langit dan Bumi Sahabat Kami
* Namaku Hiroko
* Tirai Menurun
* Pertemuan Dua Hati
* Sekayu
* Pada Sebuah Kapal
* Kemayoran
* Keberangkatan
* Kuncup Berseri
* Dari Fontenay Ke Magallianes
* La Grande Borne

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (9%)
4 stars
16 (38%)
3 stars
20 (47%)
2 stars
2 (4%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for Teguh.
Author 10 books336 followers
July 11, 2015
Buku ini, seperti buku-buku Nh Dini sebelumnya, lebih cocock disebut sebagai autobiografi saat Nh Dini memasuki usia senja, kepala enam, dan setelah berpisah dari suaminya yang seorang Diplomat Perancis. Nh Dini seorang diri di perumahan beringin. Kehidupannya semakin terseok-seok, seorang diri dan ekonomi tidak memiliki kepastian. Novel ini sangat sederhana seperti kebanyakan novel Nh Dini yang lain. Dituturkan dengan gaya lugas tanpa banyak metafora bahkan terkesan seperti seorang nenek yang sedang bercerita kepada cucu kesayangannya di kala lebaran.

Namun ada beberapa kesan atas pribadi Nh Dini yang tersurat (dalam teks) dan tersirat (apabila ini sekadar kisah fiksi tanpa intertekstual dengan kehidupan pribadi Nh Dini)

1. Nh Dini sangat menjunjung tinggi wanita priyayi Jawa. Maksudnya? Iya, maksudnya adalah minta selalu diagungkan, diwongkan, dan pakem pada aturan. Bagaimana mengambil odol dari tube-nya, menyiduk air, bagaimana berpakaian dan berdandan, bahkan Nh Dini terlihat dari bagaimana Nh Dini menyapa kawan-kawannya. Atau Bagaimana Nh Dini selalu ingin dilayani dengan fasilitas prima. Menurutku ini wajar, karena Nh DIni dibesarkan di lingkungan priyayi (baca novel Padang Ilalang atau Sebuah Lorong) Atau dari kesan Nh Dini yang sangat "matrialistis" selalu memiliki aturan tetap bila diundang sebagai pembicara.
2. Nh Dini sangat "sensitif" mudah perasa. Sedikit-sedikit di bawa perasaan dan efeknya kadang Nh Dini tampak sangat cerewer.
3. Nh Dini orang yang akhirnya harus bergulat dengan materi dan mengenyahkan apa itu ideologi dalam menulis.
Profile Image for Indira Iljas.
206 reviews10 followers
October 15, 2015
baca buku ini benar2 mengingatkan saya akan sosok ibu saya sendiri. saya rasa apa yg nh. dini rasakan skrng adalah hal yang wajar ketika qta sudah sampai puncaknya, dan mau tidak mau hrs turun perlahan dr puncak tersebut dan lama klamaan hilang smua apa yg qta punya saat di puncak dulu. merasa tidak dihargai, mengalami post power syndrom adalah 2 hal pokok yg nyaris di alami oleh smua org ketika harus menghadapi keruntuhan masa gemilangnya.

permasalahan penggunaan odol, air utk mandi, letak barang dan mslh tetek bengek lainnya, adalah hal yg lumrah "bagi saya", krn meski saya hidup di era "kekinian" tp paham hidup hemat tetap terbawa dari dulu hingga skrng. dan saya tulari pula ke anak.

satu hal yg saya salut dgn ibu nh. dini, bliau berani memutuskan utk hidup di panti dmn panti bagi sebagian besar masyarakat kita merupakan sebuah tempat yg menakutkan blm lg di tambah suara2 santer di skeliling keturunannya.....
Profile Image for Truly.
2,771 reviews13 followers
July 28, 2015
http://trulyrudiono.blogspot.com/2015...

Mungkin ini review terpanjang tahun ini.
Love u so much eyang

Apa pun yang tidak diasah, akhirnya selalu menjadi tumpul. Segumpal batu atau berlian yang memiliki nilai jual tinggi sekalipun harus diasah lebih dahulu, dipotong dan dikikis dengan pertimbangan sudut serta segi tertentu agar memantulkan sinar sehingga berkilauan. Demikian pula halnya akal manusia, alat terpenting karunia Yang Maha Kuasa. Bakat yang dimiliki seseorang tidak akan matang, kemudian mewujudkan sesuatu hasil jika tidak dipupuk dan diasah.

Ini bakat dan hobiku
Mana bakat dan hobi kalian yang siap dipupuk dan diasah?
Profile Image for Sri.
897 reviews38 followers
March 12, 2018
Ini seharusnya setelah buku Pondok Baca ya? Tapi karena Pondok Baca dibacanya udah lama sekali lalu diselingi Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang, jadinya agak-agak kurang nyambung. Karena baca kata pengantarnya dulu, kubayangkan ada kisah Bu Dini mengunjungi anaknya, Padang, di Perancis. Ternyata sampai akhir buku, bagian cerita itu tidak ada wkwkwk. Bu Dini nggak cerita, tau-tau Padang dah nikah, dan Lintang sudah punya dua anak. Sebenernya pengin tahu gimana hubungan ibu dan anak-anak itu. Yang kudapat adalah cerita gimana mandirinya Bu Dini di usia tua. Sampai pada tahap udah susah jalan T_T karena sendi lutut sudah kering. Lalu tiap melakukan perjalanan jauh, vertigonya suka ngganggu. Duh, sedih ga ya hidup sendirian di usia senja >_<. Bu Dini sih nggak bilang gitu. Soalnya seperti biasa dia menjalin hubungan baik dengan para tetangga dan orang-orang di kota yang ditinggalinya. Menjelang akhir buku ada tanda-tanda Bu Dini akan kembali ke Semarang dengan bantuan Gubernur Mardiyanto dan istrinya, Bu Effi. Penyebabnya adalah Sendowo semakin ramai. Rumah-rumah yang sedianya untuk para lansia tidak terpakai karena orang Indonesia umumnya enggak tega nitipin orang tuanya ke panti wreda. Rumah-rumah yang nganggur akhirnya disewakan untuk umum. Biasanya penyewanya adalah para mahasiswa pasca sarjana yang sudah berkeluarga tapi anaknya masih kecil-kecil. Dan di dekat rumah Bu Dini dibangun lahan parkir. Kalau sedang isi, bus-busnya suka ganggu. Kalau sedang kosong lahan parkirnya ribut buat tempat main bocils. Bu Dini merasa terganggu. Soal mahasiswa pascasarjana, Bu Dini sempat hosip-hosip soal mahasiswa S3 yang menghamili adik iparnya sendiri, yang diimpor kakaknya untuk bantuin ngawasin bocil, hwadeuh -_-.
Profile Image for Diah.
199 reviews16 followers
March 16, 2021
Beberapa hari ini semalaman menyelesaikan buku ini. Kalau tidak salah, ini merupakan buku terakhir dari Nh. Dini, yang semakin malam dibaca rasanya semakin sedih karena ditulis dengan sangat jujur dan stoic, bagaimana beliau menghabiskan hari-hari masa tuanya.

Satu kata yang bisa menggambarkan buku ini adalah: intim. Rasanya seperti menjadi pekerja sosial yang setiap hari diceritai oleh seorang penghuni, bagaimana hasrat dia untuk menulis cerita, bersurat pena, dan bermanfaat bagi orang-orang sekitarnya. Di sini Nh. Dini menceritakan tentang Pondok Baca dan pertemanannya dengan beberapa tokoh kesusastraan, serta kadang mengomentari urbanisasi di kawasan Graha Wedha. Narasi penuh nostalgia, hangat dan ikhlas(?)

Saya (sering) memikirkan ibu saya sambil membaca ini, bagaimana perasaan orang yang memasuki usia senja, dan dengan semua kebijaksanaannya ingin tetap mandiri dan aktif sambil menunggu akhir hayat. Sangat tenang, ibarat buku yang dipenuhi oleh serotonin; damai dan merasa cukup. 4/5
Profile Image for Ranie Ismidiana.
3 reviews
March 25, 2019
Buat aku membaca buku NH Dini seperti merasakan langsung apa yang dialami oleh NH Dini sehari – harinya. Alurnya yang berurut, tulisannya yang lancar, selipan ajaran – ajarannya terkait tata dan tingkah laku hubungan manusia dengan sesamanya dan Tuhan, rasa – rasanya jadi seperti membaca atau diceritakan dongeng langsung oleh Ibu/Nenek kita sendiri. Selesai membaca buku ini, yang aku rasakan adalah perasaan puas yang biasanya jarang dialami. Perasaan bahwa kita telah selesai membaca suatu cerita yang sangat bagus dan merasa melankolis ketika buku itu telah selesai.
Sepertinya tepatlah apa yang dikatakan teman NH Dini di buku ini, beliau adalah salah satu penulis terbaik di Indonesia.
Profile Image for Wikaranosa Supomo.
15 reviews
January 31, 2026
Review buku ini sederhana: Nh Dini Yapping di hari tua.

Anggaplah kamu ada di sebuah acara kumpul keluarga besar, Nh. Dini dalam buku ini mungkin nenekmu, budemu, tantemu, atau mungkin kakak sepupumu yang selisih umur denganmu sangat jauh. Kamu sebagai pembaca seolah sedang mendengarkan cerita dari orang yang sedikit cerewet dan omongannya sulit dipotong atau dibelokkan. Namun, orang ini hanya jujur kepada jati dirinya yang telah terbentuk puluhan tahun dia hidup.

Buku ini cukup menarik buatku karena Nh. Dini dapat menceritakan dengan menyenangkan bagaimana dia ke dokter gigi untuk mencabut giginya.

Ya seperti di kalimat awal. Buku ini berisi Nh. Dini yapping
Profile Image for Tresna Putri.
71 reviews
January 22, 2018
Kayaknya hampir semua nama sastrawan di sini disebut deh, misalnya Mochtar Lubis, H.B. Jassin, dkk.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews363 followers
June 26, 2016
** Books 155 - 2016 **

3,2 dari 5 bintang!

Buku terakhir Nh Dini yang saya baca adalah Dari Fontenay ke Magallianes harusnya sih baca Dari Parangakik Ke Kampuchea duluan tapi yasudahlah ketemu buku duluan ini di Ijak membuat saya penasaran apa yang dilakukan ibu Nh Dini menghabiskan masa tuanya

Saya lebih menangkap adanya celotehan seorang nenek mengenai kehidupannya, kisah keuangannya yang tidak semapan ketika menikah dengan diplomat perancis, kesehatannya yang mulai menurun tetapi tidak mematikan semangatnya untuk berkontribusi didalam dunia sastra indonesia (menjadi pembicara, mendapat award di thailand, dsbnya) yang menarik sekali untuk diikuti

Ada salah satu part favorit saya didalam buku ini :
"Orang yang menganggap bacaan sebagai salah satu kebutuhan hidupnya, maka orang tersebut memiliki dan menghayati budaya membaca. Orang seprti ini, di saat akan keluar rumah pasti teringat: "Ah, buku yang kemarin sudah selesai kubaca. Hari ini harus membawa bacaan lain!", lalu memasukkan buku baru ke dalam tas yang akan dia bawa ke kantor atau ke mana pun dia akan pergi hari itu" (Halaman 180)


Hahhaa gimana tidak hal itu beneran terjadi kepada saya :D
Saya selalu membawa minimal 2 buku untuk dibawa kemana-mana. satu buku berupa paperback atau hardcover dan satunya lagi berupa e-book. setiap hari hal itu saya lakukan dan buku akan saya baca ketika di waktu senggang :)

Terimakasih iJak untuk peminjaman bukunya
Profile Image for Bivisyani Questibrilia.
Author 1 book24 followers
July 27, 2015
Ketika saya menemukan buku ini di toko buku, jujur saya kegirangan. Meski belum pernah menyelesaikan buku karya Nh. Dini sebelumnya, saya sudah pernah membaca karyanya. Dan mendengar namanya saja saya tahu kualitas yang akan ditawarkan oleh karyanya. Ini pertama kalinya saya membaca seri cerita kenangan miliknya. Memang ada yang berbeda antara karangan sastrawan dengan novelis atau penulis fiksi biasa. Ada tingkatan rasa hormat dan cinta terhadap Bahasa Indonesia yang tidak dapat ditemukan pada karya penulis-penulis muda zaman sekarang, yang kebanyakan juga lebih senang menulis dicampur dengan Bahasa Inggris ketimbang menggunakan Bahasa Indonesia murni. Penulisannya yang penuh perasaan dan ringan untuk dibaca membuat saya dapat menikmatinya. Buku ini khususnya berhasil membuka mata saya akan perlakuan negeri kita terhadap harta nasional kita, yakni sastra dan seniman Indonesia yang kurang dihargai. Betapa memalukannya mengingat Nh. Dini sudah mendapatkan penghargaan (dan tidak jarang berupa uang) dari berbagai instansi di dunia, namun di negerinya sendiri kerap kali diperlakukan tidak adil. Saya sangat menghormati keteguhan hati dan kekuatan Bu Dini yang berani memilih untuk tinggal sendiri, meski memiliki banyak sanak saudara yang menyayanginya di berbagai penjuru dunia. Buku ini membuat saya ingin menjalin kontak dengan Beliau.
Profile Image for Ardita .
337 reviews6 followers
September 7, 2015
Sudah lama tidak membaca tulisan Nh. Dini. Kali ini tulisannya lebih menyerupai kisah diri. Namun gaya dan pilihan katanya tidak lepas dari buku-bukunya yang lain, yang sebenarnya juga mengisahkan tentang dirinya; meski ada yang berkisah tentang orang lain juga.

Gaya bertuturnya klasik, runtut, namun panjang. Karena kisah diri, buku ini seperti membaca curahan hati penulis. Seperti buku harian. Ada begitu banyak isi kepala Dini yang ditumpahkan di sini. Terdengar seperti celotehan nenek-nenek cerewet. Banyak hal yang terdengar tidak penting, tapi menarik untuk diketahui.

Namun ada keberanian luar biasa dan ketegaran yang kuat dari balik kalimat-kalimatnya.

Profile Image for Anna Sutanto.
31 reviews1 follower
January 4, 2016
Dibanding buku-buku Seri Cerita Kenangan yang lain, buku ini paling sendu sekaligus yang paling tajam menggambarkan perjuangan dan proses kreatif penulis di Indonesia. Penulis dengan detil mengisahkan berbagai kejadian depan panggung dari apa yang dialami, berikut belakang panggung dari apa yang dia rasakan. Perjalanan hidup yang kaya rasa dan ditunggu kisah selanjutnya tentunya,
Displaying 1 - 13 of 13 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.