What do you think?


Reuni
Seorang murid SMA ditemukan tewas di dasar Tebing Kala. Investigasi polisi menyimpulkan kasus itu sebagai bunuh diri.
Dua puluh tahun kemudian, tibalah reuni angkatan 200X SMA St. Quinta. Max, sahabat karib pemuda yang mati itu, mengikuti reuni SMA-nya dengan enggan. Saat pembukaan kapsul memori, sebuah surat anonim menyebutkan pemuda itu tidak bunuh diri, melainkan dibunuh....
Keesokan harinya, salah seorang peserta reuni lenyap secara misterius. Kemunculan sesosok penguntit yang tidak segan melukai orang-orang membuat Max bertanya-tanya, apakah kasus orang hilang ini berhubungan dengan kematian sahabatnya dua dekade silam?
Dua puluh tahun kemudian, tibalah reuni angkatan 200X SMA St. Quinta. Max, sahabat karib pemuda yang mati itu, mengikuti reuni SMA-nya dengan enggan. Saat pembukaan kapsul memori, sebuah surat anonim menyebutkan pemuda itu tidak bunuh diri, melainkan dibunuh....
Keesokan harinya, salah seorang peserta reuni lenyap secara misterius. Kemunculan sesosok penguntit yang tidak segan melukai orang-orang membuat Max bertanya-tanya, apakah kasus orang hilang ini berhubungan dengan kematian sahabatnya dua dekade silam?
335 pages, Paperback
Published September 1, 2026
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
September 16, 2026
Biasanya kalau ke acara reuni itu, apalagi ini 20 tahun pasca kelulusan, saling tanya kabar atau adu kesuksesan atau pun kegagalan. Tapi, reuni alumni tahun 200X St. Q, sebuah sekolah elit di kota T, malah menguak kembali misteri kematian siswa inisial RP yang ditemukan di dasar tebing 20 tahun lalu. Pelakunya adalah salah satu peserta reuni. Berarti RP tidak melakukan bunuh diri. Apakah itu artinya RP dibunuh?
Peringatan Pemicu.
Buku ini mengandung pelecehan seksual, grooming, manipulasi, power abuse, bunuh diri, implied sexual content, dan perundungan. Dan buku ini memiliki rating usia 21+ sehingga kebijakan pembaca mohon diperhatikan.
Thriller Investigasi.
Rasanya sulit untuk tidak membandingkan Reuni dengan Vermillion Rain (VR), novel thriller karya penulis sebelumnya. Jika VR merupakan science-fiction yang dikombinasikan dengan thriller yang begitu darderdor, maka Reuni ini lebih ke investigasi yang membawamu menelusuri apa yang terjadi 20 tahun yang lalu pada orang-orang yang berada di masa sekarang. Di sini tidak hanya polisi yang investigasi, tetapi pemeran utamanya [bukan polisi] turut serta mencari jejak samar peristiwa kematian temannya.
Dari segi darderdor, Reuni ini lebih light. Bercerita maju-mundur. Lebih pelan. Layering-nya banyak. Satu misteri membawa ke misteri lainnya.
Pengacara & Psikolog.
Sebenarnya tokohnya banyak di buku ini, tetapi aku meng-highlight dua tokoh yang aku anggap utama di sini: Max dan Theo. Max ini berprofesi sebagai pengacara dan Theo sebagai psikolog.
Ketika Jodi, teman Max dan Theo, hilang setelah acara reuni, mereka pun berusaha mencari Jodi. Friksi keduanya begitu terasa. Ketika Max selalu memandang apa pun dengan rasa curiga dan tidak segan-segan untuk menggertak bahkan terkesan "mengancam" demi mendapatkan informasi yang dia inginkan, sementara Theo lebih menekankan pada sisi psikologi korban dan pelaku. Pasti ada alasan, kebiasaan, background masa lalu, yang mendasari perbuatan itu.
Dan aku merasa hal ini cukup segar dan "menyenangkan" melihat Max dan Theo kadang berdebat (baca: berdiskusi) saat melakukan investigasi.
Tiga isu utama.
Di buku ini ada tiga isu utama yang menurutku penulisnya cukup berani dan lugas dalam membalutnya ke cerita fiksi.
1. Semua bisa menjadi korban.
Baik perempuan maupun laki-laki, keduanya bisa menjadi korban perisakan dan pelecehan. Tanpa dipandang sebelah mata, tanpa ketimpangan gender, dan semuanya harus sama-sama ditindak terlepas itu pelakunya perempuan atau pun laki-laki.
2. Bystander adalah pelaku pasif.
Jika kamu melihat sesuatu yang tidak beres terjadi di depan matamu. Seseorang nampak membutuhkan pertolongan. Namun, kamu memilih mengabaikan dengan alasan mindfullness dan menghindari bad news misalnya, maka kamu sudah termasuk pelaku pasif. Maka dari itu, jika melihat orang terdekatmu berbeda, lebih murung, lebih diam, jangkaulah mereka. Sebab, kita tidak pernah mengetahui beban apa yang sedang ia tanggung sendiri.
3. Fungsi orang dewasa yang tidak berfungsi.
Apa yang dilakukan orang dewasa, sebut saja orang tua, guru, dan polisi, ketika anak remaja sedang terkukung oleh masalah? Bukti sudah ada, tetapi tidak ada yang mempercayai karena tidak berbasis pada korban, hanya praduga dengan alasan subjektif, atau "sudah tidak perlu dibesar-besarkan" adalah contoh ketidakberfungsinya peran orang dewasa.
Yang menjadi perhatianku.
1. Tokohnya banyak, red herring-nya banyak.
Jika kamu gampang pelupa, baiknya tokohnya dicatat. Namun, sebenarnya tidak perlu khawatir karena ada 3 bab (kurang lebih) yang memuat "kesimpulan" dari layering konflik di buku ini.
Red herring atau pengecohnya berlapis, jadi jangan keburu senang jika kamu merasa bisa menebak, sebab semua bagaikan bawang. Berlapis-lapis.
2. Mode cerita masa lalu, tidak dibedakan font.
Mode chat: font berbeda ✅️
Mode catatan Max: font berbeda ✅️
Mode artikel berita: ada headline, font berbeda ✅️
Mode masa lalu: "biarkan saja font-nya seperti penceritaan masa sekarang, agar pembaca pay attention" 👀
Jadi, kalau tokoh ini bercerita di bab tersebut, bukannya doi udah telah tiada?, nah maka itu adalah masa lalu. Lalu, tebak-tebaklah buah manggis dia bercengkrama dengan siapa di masa itu 👀
3. Plot twist.
Seperti VR yang twist-nya banyak, di Reuni pun tak hanya satu. Hanya saja aku tidak melihat foreshadowing terutama di twist terakhir. Jadi, ya itu sepertinya "sengaja" disembunyikan atau ditulis sangat subtil oleh penulisnya agar pembaca, "hah kok dia?"
4. Nama yang campur, nama yang mengecoh.
Ada nama yang barat sekali lagi, tapi ada juga nama tokoh yang lokal sekali. Kamu akan bertemu nama Stanley, punya temen Lintang. Maxine, Ursula, punya guru namanya Santi. Lalu, ada nama yang aku kira adalah laki-laki, jadi selama baca itu visualisasiku pada tokoh itu, ya, laki-laki. Kemudian di sekian halaman baru disebutkan kalau dia perempuan, hm.
Rekomendasi.
Reuni bukan hanya novel thriller investigasi, tetapi juga menyingkap dampak pengabaian terhadap luka dan prasangka pada keputusan hidup seseorang. Bagi penggemar genre CTM (bukan obat alergi), terutama penggemar karya penulis, bisa banget baca ini.
🌹 4.5 bintang untuk sebenarnya 5☆ tetapi karena penulisnya spoiler, jadi aku kurangi 0,5.
Peringatan Pemicu.
Buku ini mengandung pelecehan seksual, grooming, manipulasi, power abuse, bunuh diri, implied sexual content, dan perundungan. Dan buku ini memiliki rating usia 21+ sehingga kebijakan pembaca mohon diperhatikan.
Thriller Investigasi.
Rasanya sulit untuk tidak membandingkan Reuni dengan Vermillion Rain (VR), novel thriller karya penulis sebelumnya. Jika VR merupakan science-fiction yang dikombinasikan dengan thriller yang begitu darderdor, maka Reuni ini lebih ke investigasi yang membawamu menelusuri apa yang terjadi 20 tahun yang lalu pada orang-orang yang berada di masa sekarang. Di sini tidak hanya polisi yang investigasi, tetapi pemeran utamanya [bukan polisi] turut serta mencari jejak samar peristiwa kematian temannya.
Dari segi darderdor, Reuni ini lebih light. Bercerita maju-mundur. Lebih pelan. Layering-nya banyak. Satu misteri membawa ke misteri lainnya.
Pengacara & Psikolog.
Sebenarnya tokohnya banyak di buku ini, tetapi aku meng-highlight dua tokoh yang aku anggap utama di sini: Max dan Theo. Max ini berprofesi sebagai pengacara dan Theo sebagai psikolog.
Ketika Jodi, teman Max dan Theo, hilang setelah acara reuni, mereka pun berusaha mencari Jodi. Friksi keduanya begitu terasa. Ketika Max selalu memandang apa pun dengan rasa curiga dan tidak segan-segan untuk menggertak bahkan terkesan "mengancam" demi mendapatkan informasi yang dia inginkan, sementara Theo lebih menekankan pada sisi psikologi korban dan pelaku. Pasti ada alasan, kebiasaan, background masa lalu, yang mendasari perbuatan itu.
Dan aku merasa hal ini cukup segar dan "menyenangkan" melihat Max dan Theo kadang berdebat (baca: berdiskusi) saat melakukan investigasi.
Tiga isu utama.
Di buku ini ada tiga isu utama yang menurutku penulisnya cukup berani dan lugas dalam membalutnya ke cerita fiksi.
1. Semua bisa menjadi korban.
Baik perempuan maupun laki-laki, keduanya bisa menjadi korban perisakan dan pelecehan. Tanpa dipandang sebelah mata, tanpa ketimpangan gender, dan semuanya harus sama-sama ditindak terlepas itu pelakunya perempuan atau pun laki-laki.
2. Bystander adalah pelaku pasif.
Jika kamu melihat sesuatu yang tidak beres terjadi di depan matamu. Seseorang nampak membutuhkan pertolongan. Namun, kamu memilih mengabaikan dengan alasan mindfullness dan menghindari bad news misalnya, maka kamu sudah termasuk pelaku pasif. Maka dari itu, jika melihat orang terdekatmu berbeda, lebih murung, lebih diam, jangkaulah mereka. Sebab, kita tidak pernah mengetahui beban apa yang sedang ia tanggung sendiri.
3. Fungsi orang dewasa yang tidak berfungsi.
Apa yang dilakukan orang dewasa, sebut saja orang tua, guru, dan polisi, ketika anak remaja sedang terkukung oleh masalah? Bukti sudah ada, tetapi tidak ada yang mempercayai karena tidak berbasis pada korban, hanya praduga dengan alasan subjektif, atau "sudah tidak perlu dibesar-besarkan" adalah contoh ketidakberfungsinya peran orang dewasa.
Yang menjadi perhatianku.
1. Tokohnya banyak, red herring-nya banyak.
Jika kamu gampang pelupa, baiknya tokohnya dicatat. Namun, sebenarnya tidak perlu khawatir karena ada 3 bab (kurang lebih) yang memuat "kesimpulan" dari layering konflik di buku ini.
Red herring atau pengecohnya berlapis, jadi jangan keburu senang jika kamu merasa bisa menebak, sebab semua bagaikan bawang. Berlapis-lapis.
2. Mode cerita masa lalu, tidak dibedakan font.
Mode chat: font berbeda ✅️
Mode catatan Max: font berbeda ✅️
Mode artikel berita: ada headline, font berbeda ✅️
Mode masa lalu: "biarkan saja font-nya seperti penceritaan masa sekarang, agar pembaca pay attention" 👀
Jadi, kalau tokoh ini bercerita di bab tersebut, bukannya doi udah telah tiada?, nah maka itu adalah masa lalu. Lalu, tebak-tebaklah buah manggis dia bercengkrama dengan siapa di masa itu 👀
3. Plot twist.
Seperti VR yang twist-nya banyak, di Reuni pun tak hanya satu. Hanya saja aku tidak melihat foreshadowing terutama di twist terakhir. Jadi, ya itu sepertinya "sengaja" disembunyikan atau ditulis sangat subtil oleh penulisnya agar pembaca, "hah kok dia?"
4. Nama yang campur, nama yang mengecoh.
Ada nama yang barat sekali lagi, tapi ada juga nama tokoh yang lokal sekali. Kamu akan bertemu nama Stanley, punya temen Lintang. Maxine, Ursula, punya guru namanya Santi. Lalu, ada nama yang aku kira adalah laki-laki, jadi selama baca itu visualisasiku pada tokoh itu, ya, laki-laki. Kemudian di sekian halaman baru disebutkan kalau dia perempuan, hm.
Rekomendasi.
Reuni bukan hanya novel thriller investigasi, tetapi juga menyingkap dampak pengabaian terhadap luka dan prasangka pada keputusan hidup seseorang. Bagi penggemar genre CTM (bukan obat alergi), terutama penggemar karya penulis, bisa banget baca ini.
🌹 4.5 bintang untuk sebenarnya 5☆ tetapi karena penulisnya spoiler, jadi aku kurangi 0,5.
September 15, 2026
Wow ga nyangka aku yang pertama nulis review di goodreads untuk novel ini ☺️🫶🏼 ok markiview~
Novel ini menceritakan soal Maxine, pengacara yang ikut reuni SMA St. Quinta (St.Q) bersama Theo dan Jodie. Mereka bertiga adalah 3 sahabat masa SMA, tapi karena Jodie pernah menipu Max, hubungan mereka berdua pun renggang. Awalnya Max enggan ke reuni, karena dia teringat mendiang sahabat cowoknya, Rayi yang disimpulkan ‘bvnvh diri’ oleh polisi. Di acara reuni itu tiba2 ada surat yang menyatakan Rayi itu dibunbun. Pas mereka semua fokus ngurusin siapa penulis surat itu, ternyata si Jodie menghilang. Apakah Max dan Theo bisa menemukan Jodie? Apakah ada kaitannya soal menghilangnya Jodie dan kasus kematian Rayi? Siapakah pelakunya?
Buku ketiga Kak Kai Elian yang kubaca setelah Halte Alam Baka dan Vermilion Rain! Yass tidak salah memasukkan Kak Kai sebagai author autobuy aku 🫶🏼 novel ini sebenernya cukup rumit ya karena bahas 2 kasus sekaligus (penculikan dan pembunbunan). Tapi menurutku eksekusi nya oke banget dan semuanya diterangkan dengan baik. Menurutku minim plot hole dan ada beberapa bagan, teks berita yang menurutku membantu pemahaman novel ini. Sial aku salah menebak org jahatnya 🥲plot twistnya oke sekalii!!
Tapi jujur bingung ini sbnrnya latar tempatnya dimana ya? Namanya kadang Indo bgt, kadang barat bgt. Aku kesulitan membayangkan latar tempat & waktu di novel ini krn terlalu banyak sensor kaya Tahun 200X, kota T, dll. Terus banyak bgt ih cast nya (ya walaupun berguna utk bikin nambah tersangka jg sih). Ngangkat isu sensitif kyk lgbt, pelec*han s3x*al, dan pembulian. Berani sih, cuma mungkin agak bikin kurang nyaman.
Overall aku menikmati novel ini! Rate: 4.2/5 ✨
Ditunggu karya selanjutnya Kak Kai 🫶🏼💪🏼
Novel ini menceritakan soal Maxine, pengacara yang ikut reuni SMA St. Quinta (St.Q) bersama Theo dan Jodie. Mereka bertiga adalah 3 sahabat masa SMA, tapi karena Jodie pernah menipu Max, hubungan mereka berdua pun renggang. Awalnya Max enggan ke reuni, karena dia teringat mendiang sahabat cowoknya, Rayi yang disimpulkan ‘bvnvh diri’ oleh polisi. Di acara reuni itu tiba2 ada surat yang menyatakan Rayi itu dibunbun. Pas mereka semua fokus ngurusin siapa penulis surat itu, ternyata si Jodie menghilang. Apakah Max dan Theo bisa menemukan Jodie? Apakah ada kaitannya soal menghilangnya Jodie dan kasus kematian Rayi? Siapakah pelakunya?
Buku ketiga Kak Kai Elian yang kubaca setelah Halte Alam Baka dan Vermilion Rain! Yass tidak salah memasukkan Kak Kai sebagai author autobuy aku 🫶🏼 novel ini sebenernya cukup rumit ya karena bahas 2 kasus sekaligus (penculikan dan pembunbunan). Tapi menurutku eksekusi nya oke banget dan semuanya diterangkan dengan baik. Menurutku minim plot hole dan ada beberapa bagan, teks berita yang menurutku membantu pemahaman novel ini. Sial aku salah menebak org jahatnya 🥲plot twistnya oke sekalii!!
Tapi jujur bingung ini sbnrnya latar tempatnya dimana ya? Namanya kadang Indo bgt, kadang barat bgt. Aku kesulitan membayangkan latar tempat & waktu di novel ini krn terlalu banyak sensor kaya Tahun 200X, kota T, dll. Terus banyak bgt ih cast nya (ya walaupun berguna utk bikin nambah tersangka jg sih). Ngangkat isu sensitif kyk lgbt, pelec*han s3x*al, dan pembulian. Berani sih, cuma mungkin agak bikin kurang nyaman.
Overall aku menikmati novel ini! Rate: 4.2/5 ✨
Ditunggu karya selanjutnya Kak Kai 🫶🏼💪🏼
September 27, 2026
"Kok bisa laki-laki diperkosa perempuan?"
Pahit banget cerita reuni ini!
Pahit banget cerita reuni ini!
Displaying 1 - 3 of 3 reviews




