Inilah akhir perjalanan Kemi. Setelah "bermain-main", kemudian "terjebak" serta "tersesat" dalam kubangan liberalisme, santri cerdas bernama Kemi akhirnya menemui nasib tragis: diperas, dihinakan, disiksa, kemudian diakhiri hidupnya.
Melalui Kemi 1 dan Kemi 2, Adian Husaini berhasil menyajikan kisah pergulatan batin dan pemikiran para aktivis liberal. Satu per satu, para aktivis liberal ditelanjangi dan dipatahkan logika-logikanya oleh santri kampung. Jaringan penyebaran paham liberalisme--dalam dan luar negeri--pun terbongkar. Skenario perusakan pemikiran terungkap jelas.
Akhirnya, Kemi 3 menutup kisah pergulatan Islam versus liberalisme dengan babak akhir yang tragis. Meski telah sadar dan berusaha kembali ke jalan yang benar, Kemi harus jadi tumbal liberalisme.
Sebagai akhir sebuah trilogi, Kemi 3 menyajikan keteladanan tinggi beberapa tokohnya dalam dunia pendidikan, yang sangat jarang terjadi di dunia nyata.
Meski sebuah fiksi, semoga novel ini bisa menjadi hikmah bagi yang ikhlas membacanya. Selamat menghayati dan merenungi!
Lahir di Bojonegoro pada 17 Desember 1965. Pendidikan formalnya ditempuh di SD-SMA di Bojonegoro, Jawa Timur. Gelar Sarjana Kedokteran Hewan diperoleh di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, 1989. Magister dalam Hubungan Internasional dengan konsentrasi studi Politik Timur Tengah diperoleh di Program Pasca Sarjana Universitas Jayabaya, dengan tesis berjudul Pragmatisme Politik Luar Negeri Israel. Sedangkan gelar doktor dalam bidang Peradaban Islam diraihnya di International Institute of Islamic Thought and Civilization -- Internasional Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM), dengan disertasi berjudul “Exclusivism and Evangelism in the Second Vatican Council: A Critical Reading of The Second Vatican Council’s Documents in The Light of the Ad Gentes and the Nostra Aetate.
Penulis nampaknya seperti tergesa-gesa ingin menamatkan cerita. Kisah Kemi sudah tidak intens, berat dan mendidik akal seperti 2 buku yang terdahulu. Saya cringe pada banyak babak di dalam novel ini, kerana penulis tiba-tiba memasukkan unsur yang tidak sesuai pada sesebuah babak. Misalnya, di penghujung cerita Kemi akan mati dibunuh (spoiler), tiba-tiba boleh pula penulis masukkan cerita pasal kahwin dan lawak poligami. I mean, come on man. Out of place gila.
Siri ceramah sepanjang novel juga mempunyai kesan didaktik, membuatkan saya rasa geram seolah-olah sedang dibebel. Tidak seperti novel sebelum ini, di mana syarahan tentang liberal dibentur dengan baik bersama cerita.
Bolehlah nak baca, tapi jangan letak high expectation.
I could not find anti climax on this book like I did on the first book. At least this last sequel gave me the idea there is always nothing such a free lunch in this world we need to pay it back for something we take !
Di novel ketiga ini lebih fokus ke dampak yang dialami oleh Kemi dan Dokter Rajil sebagai aktivis liberal. Disebut tumbal karena mirip pesugihan, para aktivis diberikan dana, popularitas, beasiswa, karir yang cemerlang, namun di saat mereka sadar bahwa pemikiran yang mereka bawa sesat dalam Islam, mereka harus membayar dengan nyawa. Apalagi media-media mainstream dikuasai oleh orang-orang liberal.
Sebenarnya ini relate banget dengan kenyataan. Kita bisa melihat para pendakwah yang mendakwahi kebenaran dicap radikal, dibubarkan pengajiannya. Sedangkan aktivis liberal, dibiarkan begitu saja. Pluralisme sudah diharamkan MUI, tapi gagasan-gagasannya masih saja hangat diperbincangkan dengan “tren” yang berbeda. Begitu pula feminisme pernah dikecam akibat seorang dosen di perguruan tinggi Islam mengeluarkan fatwa bahwa hubungan sesama jenis itu halal. Namun feminisme kembali lagi dengan cara yang lebih halus. Semua strategi ini digambarkan lho di novel Kemi yang seri pertama.
Ketika Dokter Rajil ditekan untuk mengembalikan Kemi dan istrinya tahu, istrinya mencoba membawa Dokter Rajil bertaubat dari pemikiran liberal. Yang membuat Dokter Rajil kesal dengan bosnya bernama Ben Rushak (yang menyalurkan dana liberal) adalah saat Ben menghina orang Indonesia yang gampang dimanipulasi dan masih berjiwa dijajah, bekas penjajahan dulu. Dokter Rajil merasa harga dirinya sebagai bangsa Indonesia terluka. Kata istrinya, kita bukannya anti asing, anti barat, kalau mereka mau memberikan bantuan dana ya silakan, tapi kita ini bangsa yang merdeka. Bahkan Presiden Soekarno saja dengan berani pernah menolak dana dari barat, “Go to hell with your aid!” Ini relate dengan zaman sekarang, selain aktivis liberal yang rela merusak pemikiran bangsa, ada juga yang rela jadi antek ji0n1s. Dan orang-orang itu lupa kalau kita punya presiden yang gagah berani menolak penjajahan.
Sebenarnya tokoh Kemi di sini cuma aktivis eceran. Sama seperti halnya yang berseliweran di sosial media. Sedangkan tokoh liberal yang lebih mengerikan itu yang ada di perguruan tinggi Islam, yaitu yang mempunyai gelar akademik.
Kemi 3 tulisan Ustaz Dr Adian Husaini terbitan @gemainsaniofficial . Penulis sejauh pengetahuan saya merupakan seorang lecturer dan pejuang menentang ajaran liberal di Indonesia. Anak murid kepada Syeikh Naquib AlAttas yang tidak asing lagi di bidang pemikiran.
Ye betul. Sebelum buku ni ada Kemi 1 & 2. Tapi saya ada Kemi 2 & 3 je. Novel ni memang susah cari. Kemi 2 saya beli di Depok Jakarta. Yang 3 Ni beli di @raudhahalmiqyas Bangi.
Em dialog2 seolah dipaksakan. Rasa mcm baca artikel tapi dipindah kepada dialog. Tp secara keseluruhanya suka je. Prinsip2 gol liberal dan hujah balik dari pandangan islam digarap dengan baik. Cuma Tak faham kenapa penulis beberapa kali bawa isu poligami dlm cerita ni padahal kalau takde pun takpe sebab takde kaitan sangat. Tp sebab penulis ni orng akademik, Saya kira ia mungkin sebagai kritikan kepada agamawan yg suka sangat bahas isu ni. Rasa ulangkaji juga sebab penulis masukkan perbahasan ilmu mantiq dan hermenutik. Agenda liberilisasi masyarakat memang real, dulu Dr wan selalu cerita. Dan novel ni bongkarkan semuanya!
Antara yang menarik perhatian saya adalah penulis membawa perbahasan mengenai 'civic pluralism' atau pluralisme kewarnegaraan. Menurut sesetengah pihak ia adalah jalan tengah di antara Pluralisme dan Eksklusivisme. Dan ini amat bertepatan dengan isu yang dibincangkan oleh YB Dato Dr Mujahid Yusuf Rawa. Tidak menyamakan atau membenarkan semua agama, tidak meninggalkan keyakinan pada kebenaran agama masing-masing tetapi sebagai warga negara kita harus mengakui bahawa negara harus bersikap adil pada semua agama sehingga tidak menganaktirikan atau menindas sebahagian agama atau kepercayaan yang berbeza. Ia bukan tentang masalah keiman atau agama tetapi ia masalah kenegaraan.
Buku terakhir dari trilogi Kemi. Akhirnya kerinduan akan dialog-dialog cerdas yang terasa kurang di buku kedua cukup terbayar di buku ketiga ini, yang sekaligus menjadi penutup dari novel trilogi tersebut.
Dialog yang paling berkesan bagi saya adalah dialog tentang dunia pendidikan islam saat ini. Yang semakin menyadarkan dan membuat miris.
"..penjajah punya cara ampuh untuk melumpuhkan umat Islam, disamping proyek devide et impera, juga dengan proyek sekularisasi melalui pendidikan. Pendidikan sekuler Belanda telah melahirkan orang-orang sekuler yang kemudian mereka menolak cara pandang keilahiyahan dalam memahami segala realitas.." (h. 135)
"..penjajahan pemikiran ini yang masih tetap dominan dan dalam beberapa hal semakin menguat karena banyak sarjana yang tidak tahu bahwa pikirannya sedang dijajah. Namun, malah bangga jika meneriakkan konsep-konsep pembangunan yang tidak sejalan dengan ajaran agama yang dianutnya." (h. 136)
Berkisah tentang lanjutan pencarian Kemi, sang aktivis liberalisme, yang tiba-tiba menghilang dari Rumah Sakit Jiwa tempatnya dirawat. Hingga tiba-tiba ia muncul dengan segudang misteri.
Dari segi plot cerita sendiri, masih terdapat beberapa hal yang menggantung yang sebenarnya saya harapkan terjelaskan lewat jilid terakhir ini. Namun, ternyata tidak saya dapatkan dalam buku ini.
Selepas lebih sepuluh tahun membaca Kemi 1 dan Kemi 2, baru dapat baca peleraiannya dalam Kemi 3.
Kebetulan pula isu Lib. Antarabangsa sedang hangat.
Buku ketiga ini agak sadis sebenarnya. Tajuknya pun "Tumbal Liberalisme".
Tumbal ni, istilah dalam perdukunan/perbomohan yang bermaksud imbalan/korban. Engkau nak sesuatu dengan jalan ini, nak berkuasa, nak kaya, boleh.. tapi ada tumbalnya.
Jangan ingat selepas kau dapat dana asing, dapat sokongan luas dan diangkat oleh media mereka, semua itu percuma.
Saya terkejut juga dengan peleraiannya yang mendadak dan agak sadis ini. Cuma mungkin situasi di Indonesia sangat dan lebih kronik dari yang berlaku di Malaysia, jadinya pengakhiran sebegitu dipilih untuk menyentap hati mereka yang membacanya. Wallahu a'lam.
Disebabkan isu yang diangkat dalam trilogi ini menarik, ya, saya tutup mata sahaja dalam aspek-aspek penceritaan yang boleh dianggap sebagai perkara kedua atau ketiga.
memahami liberalisem dengan cara yang lebih ringa. buku ini kurekomendasikan buat adik-adik mahasiswa yang ingin mendalami bagaimana SPILIS bekerja. di narasikan dalam bentuk novel dengan kisah ringan namun tetap syarat dengan nilai.
Pas baca, kayak yang, hahhh udah abis? Kok bisa? Gituuu.. cara mengakhiri kisahnya kurang menarik sih. Tapi overall tetep bintang 5 kalo dinilai dari keseluruhan dan pelajaran di dalam bukunya.
Novel Kemi yang terakhir ini menurut saya sebetulnya adalah penurunan dari konflik-konflik yang ada dari Kemi yang pertama, setelah buku sebelumnya membahas kepada elit liberal maka di buku ini lebih kepada apa yang dilakukan Kemi menjelang ia bertobat hingga akhirnya wafat.
Dari segi alur, Kemi 3 adalah alur penurunan. Dari awal grafiknya dari atas ke bawah, ada memang konflik tapi itu adalah sisa-sisa dan penyelesaian dari konflik buku sebelumnya. Penulis tidak bertele-tele dalam menjelaskan sebuah aksi dalam adegan di novel ini. Karakterisasi juga dijelaskan dengan aksi dan ucapan tokoh, tidak menjelaskan dengan telling tapi showing sehingga novel ini lebih menarik dan membuat pembaca ingin tahu akhir dari seri Kemi ini.
Terlalu terburu-buru membuat Dr. Rijal dan Kemi meninggal dan terlalu mengada-adakan alur kematiannya. Membuat terlalu banyak tanya, kadang ada beberapa bagian dimana hal-hal yang berbau 'bercanda' masuk pada saat yang tidak tepat. Ending yang dieksekusi terlalu dini. Dengan ide cerita yang berbeda dari kebanyakan, hal yang disayangkan adalah cara berkisah yang masih harus diasah. Setidaknya itu penilaianku sebagai seorang 'pembaca'. :)
Kemi 3 kembali sarat dengan penyampaian materi dan pemikiran. Namun sayang kali ini terasa tidak fokus, dibandingkan Kemi 1 yang jelas alur 'kuliah'nya. Banyak hal-hal bagus yang disampaikan di buku ini, tapi dalam spektrum yang meluas. Akhirnya buku ini menjadi kumpulan wejangan obrolan para cendekia, dilatarbelakangi upaya memulihkan Kemi.
Ada satu potongan dialog dari novel ini yang membuat saya termenung. Sedikit menyesakkan dada namun benar adanya.
"...Coba renungkan, bagaimana mungkin kita punya guru yang hebat jika yang kuliah di Fakultas Pendidikan, mayoritasnya adalah anak-anak yang kualitas intelektualnya pas-pasan..."
meskipun endingnya seperti dipaksakan, buku seperti ini layak diapresiasi karena memberi warna baru bagi dunia literasi bergizi di Indonesia dan pastinya perlu proses. saya kira adian husaini memulai langkah pertamanya dengan cukup mengagumkan :)
Bagus, bener-bener bukan novel biasa, tapi banyak kejadian yg ga dijelasin secara rinci. Gimana kelanjutan Habib yg lagi umroh, gimana dalang dari elite² liberalis, dll. But it's a good novel to make us know about liberasims, although just the "kulit luar pergerakannya."