What do you think?


Buku Anak Bungsu: Tak Pernah Dianggap Dewasa
Anak bungsu ini selalu dianggap manja dan tak pernah dewasa oleh keluarganya.
Ia punya mimpi untuk melangkah jauh, tetapi selalu diminta tinggal di rumah. Padahal sejatinya ia hanya ingin membahagiakan orang tua, sama seperti kakak-kakaknya. Takdirnya seolah menjadi sang penjaga sampai nanti saat semua orang pergi meninggalkan dirinya.
Buku ini adalah ungkapan jujur tentang anak bungsu yang di mata dunia dipandang paling enak hidupnya. Kamu bukan anak manja seperti apa yang orang katakan padamu.
#SemuaAnakDirayakan
Ia punya mimpi untuk melangkah jauh, tetapi selalu diminta tinggal di rumah. Padahal sejatinya ia hanya ingin membahagiakan orang tua, sama seperti kakak-kakaknya. Takdirnya seolah menjadi sang penjaga sampai nanti saat semua orang pergi meninggalkan dirinya.
Buku ini adalah ungkapan jujur tentang anak bungsu yang di mata dunia dipandang paling enak hidupnya. Kamu bukan anak manja seperti apa yang orang katakan padamu.
#SemuaAnakDirayakan
94 pages, Paperback
Published July 1, 2026
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
August 22, 2026
“Di luar sana aku belajar membuat keputusan, mengambil risiko, dan bertanggung jawab atas pilihanku sendiri. Aku merasa lebih bebas jadi diri sendiri, tanpa bayang-bayang sebagai si kecil yang harus selalu dituntun.”
Oleh karena diberi judul Buku Anak Bungsu, tentu tidak salah jika pembaca—yang kebetulan anak bungsu—akan langsung mengasosiasikan buku ini sebagai kisah tentang diri mereka. Setidaknya, itulah cara saya memosisikan diri ketika membacanya. Kebetulan sekali, saya dan Yuhaenida Meilani (penulisnya) juga sama-sama anak bungsu dari empat bersaudara.
Harus diakui, memang benar buku ini tentang Meilani. Tapi untuk menyebut buku ini sebagai buku—dari dan untuk—anak bungsu? Sayang sekali, saya tidak merasa terwakili. Sebagian besar "stereotip" yang dituturkan oleh penulis memang sering kali tepat sasaran, tapi memang cukup sulit untuk mengamini semuanya sekaligus.
Anak bungsu lebih sering memilih diam? Hmm, ya, bisa jadi. Anak bungsu selalu datang paling akhir, menetap paling lama; itukah takdir anak bungsu? Kemungkinan besar, iya. Anak bungsu sering dianggap paling manja? Ini panjang lagi urusannya.
Pendek kata, ada beberapa hal yang agaknya kurang terkoneksi dengan saya sebagai anak bungsu ketika membaca buku ini. Salah satunya soal isu anak bungsu yang sering dibanding-bandingkan dengan kakaknya. Bagaimana anak bungsu harus bersikap apabila mulai dibandingkan dengan kakak-kakaknya yang lebih dulu sukses? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada banyak hal lain yang perlu dijawab, sebabnya latar belakang dan pengalaman setiap keluarga berbeda. Pola asuh orang tua, jarak usia, dan kepribadian tiap anak sudah semestinya membuat dinamika keluarga menjadi unik.
Pertanyaannya besarnya, apakah urutan kelahiran berpengaruh pada sifat dan karakter seorang anak? Faktanya, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan kepribadian anak sulung, anak tengah, anak bungsu, ataupun anak tunggal lebih banyak dipengaruhi oleh peluang perangkat genetik (blue print) dari kedua orang tua. Bahkan jika diurai lebih jauh, kepribadian anak dipengaruhi oleh faktor genetik sebesar 50 persen, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Lantas, membaca (atau menulis) buku semacam ini sebetulnya untuk apa? Kemungkinan jawabannya hanya dua: untuk memvalidasi atau justru menginvalidasi perasaan anak bungsu itu sendiri. Kita mungkin sepakat untuk tidak sepakat.
Oleh karena diberi judul Buku Anak Bungsu, tentu tidak salah jika pembaca—yang kebetulan anak bungsu—akan langsung mengasosiasikan buku ini sebagai kisah tentang diri mereka. Setidaknya, itulah cara saya memosisikan diri ketika membacanya. Kebetulan sekali, saya dan Yuhaenida Meilani (penulisnya) juga sama-sama anak bungsu dari empat bersaudara.
Harus diakui, memang benar buku ini tentang Meilani. Tapi untuk menyebut buku ini sebagai buku—dari dan untuk—anak bungsu? Sayang sekali, saya tidak merasa terwakili. Sebagian besar "stereotip" yang dituturkan oleh penulis memang sering kali tepat sasaran, tapi memang cukup sulit untuk mengamini semuanya sekaligus.
Anak bungsu lebih sering memilih diam? Hmm, ya, bisa jadi. Anak bungsu selalu datang paling akhir, menetap paling lama; itukah takdir anak bungsu? Kemungkinan besar, iya. Anak bungsu sering dianggap paling manja? Ini panjang lagi urusannya.
Pendek kata, ada beberapa hal yang agaknya kurang terkoneksi dengan saya sebagai anak bungsu ketika membaca buku ini. Salah satunya soal isu anak bungsu yang sering dibanding-bandingkan dengan kakaknya. Bagaimana anak bungsu harus bersikap apabila mulai dibandingkan dengan kakak-kakaknya yang lebih dulu sukses? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada banyak hal lain yang perlu dijawab, sebabnya latar belakang dan pengalaman setiap keluarga berbeda. Pola asuh orang tua, jarak usia, dan kepribadian tiap anak sudah semestinya membuat dinamika keluarga menjadi unik.
Pertanyaannya besarnya, apakah urutan kelahiran berpengaruh pada sifat dan karakter seorang anak? Faktanya, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan kepribadian anak sulung, anak tengah, anak bungsu, ataupun anak tunggal lebih banyak dipengaruhi oleh peluang perangkat genetik (blue print) dari kedua orang tua. Bahkan jika diurai lebih jauh, kepribadian anak dipengaruhi oleh faktor genetik sebesar 50 persen, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Lantas, membaca (atau menulis) buku semacam ini sebetulnya untuk apa? Kemungkinan jawabannya hanya dua: untuk memvalidasi atau justru menginvalidasi perasaan anak bungsu itu sendiri. Kita mungkin sepakat untuk tidak sepakat.
August 9, 2026
Buku ini mungkin bisa jadi salah satu bentuk perayaan bagi anak bungsu, yang sering diremehkan kedewasaannya.
Si bungsu yang selalu di cap manja, dalam diamnya menyimpan banyak mimpi dan keinginan. Namun sering kali diminta untuk menetap dirumah.
Si bungsu yang pendapatnya jarang didengar, yang sungkan untuk membagi perasaannya pada keluarganya.
Pesan untuk bungsu : kami selalu bangga dengan semua pencapaian yang telah kamu usahakan selama ini, kamu tidak pernah tertinggal dari kami (kakak²mu). Jangan sungkan untuk membagikan perasaanmu pada kami, kami akan selalu siap mendengarkannya (walau mungkin kadang slow respon).
Si bungsu yang selalu di cap manja, dalam diamnya menyimpan banyak mimpi dan keinginan. Namun sering kali diminta untuk menetap dirumah.
Si bungsu yang pendapatnya jarang didengar, yang sungkan untuk membagi perasaannya pada keluarganya.
Pesan untuk bungsu : kami selalu bangga dengan semua pencapaian yang telah kamu usahakan selama ini, kamu tidak pernah tertinggal dari kami (kakak²mu). Jangan sungkan untuk membagikan perasaanmu pada kami, kami akan selalu siap mendengarkannya (walau mungkin kadang slow respon).
August 7, 2026
Buku anak bungsu ini sangat ringan dan tipis. Tapi di sela2 aku membaca, kok banyak sekali memori kecil yg terpendam ini tiba2 tersentil lagi🥲 Ternyata banyak unek2 yg tenggelam dipikiranku tercantum lewat pertanyaan2 maupun pernyataan di dalam buku ini, walau tak semua nyaa tapi lumayan banyak mewakili sebagai anak bungsu!🙃
At the end of the day, hei kamu anak bungsu, terima kasih sudah hadir ya! You are so much worthy! Kamu sudah berjuang dengan baik🥰 Yuk, kita lanjutin perjalanan hidup ini dg langkah dan warna yg kamu pilih sendiri🤍
At the end of the day, hei kamu anak bungsu, terima kasih sudah hadir ya! You are so much worthy! Kamu sudah berjuang dengan baik🥰 Yuk, kita lanjutin perjalanan hidup ini dg langkah dan warna yg kamu pilih sendiri🤍
Displaying 1 - 3 of 3 reviews




