Jump to ratings and reviews
Rate this book

Indonesiana Series #1

Perempuan-Perempuan Tersayang

Rate this book
Pernahkah kau mendengar kisah dari Kota SoE, kota kelahiranku?

Ya, tadinya aku pun berpikir sama denganmu, tak ada yang menarik dari kota yang berjarak lebih dari seratus kilometer dari Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur itu.
Maka, aku meninggalkannya.
Dan, di ruas Ibu Kota, aku menemukan cinta.
Menegakkan mimpiku hampir sempurna.

Namun, hidup tak selalu memihak pada mimpi yang sempurna, bukan?
Mau tak mau, aku harus kembali ke SoE.
Aku pulang, meninggalkan cinta dan harapan akan masa depan.

Pernahkah kau mendengar kisah dari Kota SoE, kota kelahiranku?
Tadinya, aku pun berpikir sama denganmu, tak ada yang istimewa darinya.
Namun, ternyata aku lupa akan indahnya barisan bugenvil yang mekar serentak di tepi-tepi jalannya.
Aku lupa sempat kutitipkan cinta malu-malu di sana.

Lalu, maukah kau menelusuri bersamaku kelok jalannya yang berbatu-batu?
Menikmati siur dingin udaranya sambil kita perbincangkan lagi cinta yang sering kau lupa.

Mungkin kau sama denganku, cinta yang sebenarnya justru kau temukan saat kau pikir kau sedang kehilangan.

Jadi, dengarlah kisah dari Tana Timor ini.

276 pages, Paperback

First published May 27, 2015

3 people are currently reading
49 people want to read

About the author

Okke Sepatumerah

13 books48 followers
Okke 'Sepatumerah', perempuan yang (berusaha selalu) pro perempuan, seorang pengajar yang terus belajar, penggemar sneakers, passionate blogger, leisure time face painter and crafter. Suka ngaku-ngaku beauty blogger, padahal kesukaan dandannya musiman. :)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
10 (15%)
4 stars
34 (51%)
3 stars
20 (30%)
2 stars
2 (3%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 25 of 25 reviews
Profile Image for Alvi Syahrin.
Author 11 books727 followers
February 22, 2016
I hear music through words.

Kau tahu satu hal paling indah di dunia ini? Begini alurnya:

1. Ketika kau mendengar deru mesin motor yang mendekat ke arah rumahmu.
2. Suara itu berhenti tepat di depan rumahmu.
3. Seseorang mengetuk pintu.
4. Kau membuka pintu, dan seorang kurir menyerahkan sebuah bingkisan untukmu. Sebelum kau membuka kado itu, kau sudah tahu apa isinya, dan kau semakin tak sabaran.

***

Saat itu Sabtu malam, dan saya membuka bingkisan dari Pak Kurir. Isinya, Perempuan-Perempuan Tersayang.

Seperti saya bilang tadi, kali ini, saya ingin menikmati buku layaknya musik. Jadi, kala melihat sampul ini pada kali pertama, saya membayangkan album-album dari band indie yang cenderung underrated, tapi, di balik sampul tersebut, menyimpan potensi: lirik-lirik yang dalam dan bermakna dan instrumen-instrumen sederhana. Ini adalah tipikal sampul sederhana yang saya suka. Gambar rumah kecil itu adalah favorit saya.

Malam itu juga, saya telusuri halaman-halamannya,

Jadi, mari kita dengar bukunya, layaknya sebuah musik.

Halaman satu...
Saya bisa mengatakan saya menyukai sebuah lagu dalam beberapa detik pertama, begitu pula sebaliknya. Sejujurnya, bila ini adalah intro sebuah lagu, ini bukan tipikal intro yang saya sukai. Intro-nya tidak seindah seperti A Thousand Miles milik Vanessa Carlton atau penuh intrigue layaknya Blank Space milik Taylor Swift. Ini seperti intro band-band indie yang sederhana saja, belum terdengar istimewanya. Well, when it comes to music, saya memang mainstream, kok.

Saya mengharapkan pembukaan yang dramatis, tapi itu tak membuat saya berhenti membacanya.

Halaman lima...
Saya mulai merasakan ritmenya, saya mulai menebak-nebak ini akan berjalan ke mana, berharap ekspektasi saya tepat karena saya akan menyukainya seperti itu.

Membaca halaman lima seperti mendengar bagian sebelum chorus. Bagian jelang reff selalu membuatmu penasaran, semakin intens dalam mendengar, dan bertanya-tanya..., dan itulah yang saya rasakan di halaman keenam, saya mulai menyukai musik dari buku ini. Halaman ketujuh, dan reff tak kunjung dipecahkan, tapi nuansanya semakin meningkat, meningkat, dan meningkat.

Halaman delapan, saat itulah reff pecah, dengan nuansa yang tak sesederhana intro, dengan perasaan yang bercampur aduk, dan segalanya.

Tiba di halaman sepuluh, reff pertama berakhir, saya bergumam pada diri sendiri, "I. Like. It. Already."

***

Yang terjadi pada sepuluh halaman pertama adalah konflik pertama yang memulai segalanya. Berdasarkan cerita, konflik ini terjadi di Jakarta, di sebuah rumah kontrakan milik kakak-beradik perempuan yang merantau, dan konflik ini menyebabkan kakak laki-laki mereka dari Nusa Tenggara Timur harus datang ke Jakarta, dan membawa mereka pulang ke kampung halaman. Harus. Tidak pakai "tapi".

Tetapi, pulang tak semudah itu.

Kakak-beradik perempuan itu masih butuh berada di Jakarta. Sang kakak perempuan adalah seorang fresh graduate yang berprestasi dan mulai mendapatkan beberapa panggilan wawancara kerja. Sang adik perempuan masih terdaftar di sebuah SMA di Jakarta.

Pulang harusnya jadi hal yang indah dan hangat, tapi sesuatu yang terjadi pada mereka menjadikan pulang adalah beban.

Selamat tinggal, Jakarta.

Halo, SoE.

***

Di SoE, konflik semakin berkembang dan memanas, ritme musik dari buku ini semakin kena di telinga dan di hati. Semakin dalam saya menelusuri buku ini, semakin saya sadar bahwa saya menyukainya. Memang, musik dari buku ini amat sederhana, tapi, seperti dugaan saya tadi, liriknya amat mendalam. Musik dari buku ini akan membuatmu mengambil momen sejenak untuk menutup mata, lalu menyerap makna dari kata-kata yang tertulis, dan kamu akan memberi beberapa anggukan, bukan karena asik mengikuti ritmenya, melainkan karena kalimat-kalimatnya yang begitu kena.

Beberapa kali, saya mengambil momen untuk menutup buku ini dan berpikir. Sebuah pertanyaan muncul dalam kepala:

Mana yang kamu pilih: Mengambil pekerjaan di luar kota, yang jauh dari kampung halamanmu, tapi amat menjanjikan untuk masa kini dan masa depanmu atau memilih tinggal bersama keluarga di kota yang belum berkembang (termasuk lapangan pekerjaannya) tapi keluarga sedang membutuhkanmu saat itu, tak tahu hingga kapan?

Kamu hidup untuk kerja atau kerja untuk hidup?

Sekarang, saya menanyakan ini kepadamu. Mana yang kamu pilih?

Mungkin mudah mengatakan, "Ya, jelaslah lebih memilih keluarga," yet there goes the "tapi"'s part. Dan, itulah yang ditawarkan buku ini: ia realistis. Tokoh utama dalam buku ini mewakili diri kita. Kita merasakan kebingungannya dalam memilih. Kita merasakan kemarahannya akan sesuatu yang terjadi di awal tadi. Saya bahkan ikut tak bisa menebak akhir cerita.

Yah, suara di kepala saya terus mengatakan, "Endingnya mungkin begini, begitu."

Tetapi, kondisi tokoh ini amat terjepit. Ini tidak semudah memilih: Mana cowok/cewek yang kamu ingin jadikan pasangan? (Itu pilihan yang sulit juga, tapi ini pilihan yang lebih kompleks, yang bisa saja terjadi setelah mendapatkan pasangan). Dan, tiap pilihan mengandung risiko, luka dan, mungkin, penyesalan.

Jika memilih keluarga di kampung halaman dalam waktu yang tak tahu hingga kapan, bagaimana dengan pekerjaan? Bagaimana masa depan?

Jika memilih pekerjaan, otomatis harus meninggalkan kampung halaman, karena tak ada lowongan di sana--ini nyata. Apalagi sebagaimana kata orang-orang, kamu adalah lulusan sarjana, masa, iya, kerja di kota kecil?

Well, this book has it all: tentang masalah-masa-kini; yang mungkin dialami orang-orang di luar sana, yang kelewat tergoda akan gaji yang tinggi hingga melupakan prioritas, terobsesi pada pekerjaan, sampai-sampai menggunakan jam off mereka untuk lanjut--bukan karena cinta, tapi takut kehilangan atau penurunan jabatan, yang bingung harus pindah atau menetap. Buku ini mengajarkan saya bahwa tidak ada pilihan yang paling benar, tidak ada yang paling salah--tapi, diri kita sendiri selalu tahu mana pilihan yang tepat...

***

Secara keseluruhan, saya suka sekali dengan pesan dari buku ini. Saya senang tidak ada tokoh yang paling salah, tidak ada tokoh yang paling benar--sebagaimana manusia, masing-masing tokoh tersebut punya kesalahan juga, dan mereka belajar, saya pun belajar. Saya senang konflik di sepanjang cerita. Saya berharap merasakan feel dari SoE lebih mendalam, tapi kisah dalam buku ini sudah memuaskan. Saya tak butuh lebih. Terakhir, saya suka bagaimana penulis mengakhiri kisahnya, dan kalimat pertama pada paragraf terakhir.

Jika ini musik, ini adalah musik yang sederhana: hanya ditemani gitar akustik, tapi liriknya begitu dalam, dilantunkan dengan perasaan yang pas.

Dan, kadang-kadang, kita tidak butuh musik yang hingar-bingar, cukup lirik sederhana dengan pesan yang membuat kita merefleksikan hidup. Seperti yang dilakukan buku ini kepada saya.

***

Saya merekomendasikan buku ini untuk siapa pun yang membaca tulisan ini.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
May 15, 2016
** Books 118 - 2016 **

3,4 dari 5 bintang!

"Jika jalan makin berliku, masihkah kau selalu menunggu?"


Inilah quotes yang berhasil saya memilih buku ini pada saat acara Books Blind Date yang dilangsungkan oleh teman-teman Goodreads Indonesia pada hari Minggu, 15 Mei 2016 ini. Ini adalah buku kedua mbak Okke yang pernah saya baca sebelumnya adalah buku Heart Block: Biarkan Cinta Menemukanmu yang saya berikan rating 2 bintang. Saya termasuk yang cocok-cocokan untuk karya pengarang lokal sehingga sempat terkejut ketika mendapatkan buku ini. *Namanya Juga Blind date with books jodoh-jodohan juga sama isi bukunya yang udah disampul coklat =__=

Ketika saya membaca buku ini jujur saya terpukau dengan penggambaran settingnya Kota SoE yang membuat saya seketika dapat membayangkan sedang berada disana meski saya belum sempat kesana. Saya sangat suka riset yang dibuat oleh mbak Okke yang sukses menciptakan imajinasi saya terbang melanglang buana ke salah satu kota di Nusa Tenggara Timur itu.

Selain itu membaca buku ini membuat perasaan menjadi hangat. Iya hangat karena betapa kita melupakan apapun yang terjadi keluargalah yang terpenting dari segalanya bahkan dibandingkan dengan uang. Saya seketika juga seakan diingatkan bahwa kita ini bekerja untuk hidup bukannya hidup untuk kerja. Buat apa kita punya materi yang berlimpah tetapi tidak ada yang bisa merasakannya? Buat apa kita memiliki uang yang banyak tetapi kitanya sakit-sakitan dan tidak merasakan hasil kerja keras kita? Hal inilah yang sering kita lupakan bagi kita yang hidup di kota besar. Habiskanlah quality time yang tersisa dengan sebaik-baiknya bersama keluarga karena waktu yang kita miliki sudah dihabiskan dengan terkungkung macet setiap harinya.

This books is such a heartwarming story! It really makes me smile :)
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
August 21, 2015
"Perempuan-Perempuan Tersayang" bercerita tentang Fransina, gadis Timor yang terpaksa pulang ke SoE, Timor Tengah Selatan, NTT, karena sebuah masalah keluarga. Terpaksa meninggalkan pacarnya serta berbagai kesempatan kerja di Jakarta, Fransina pulang dengan hati uring-uringan, serta menyalahkan adiknya yang dia anggap sebagai penyebab masalah.

Di SoE inilah, di kampung halamannya, Fransina mengevaluasi kembali dirinya, serta mempertanyakan apa yang selama ini dia anggap penting. Di SoE jugalah dia bertemu seorang pria yang mampu membuat hatinya berdebar-debar, yang mampu membuatnya meragukan perasaannya pada pacarnya di Jakarta yang kini mulai berubah.

Ini buku kedua dari seri Indonesiana yang kubaca. Sebelumnya sudah baca Di Bawah Langit yang Sama (review di sini).

Kalau boleh jujur, antara "Di Bawah Langit yang Sama" dengan "Perempuan-Perempuan Tersayang" ini butuh untuk saling transfer kelebihan masing-masing. Dari segi cerita/plot, saya lebih suka novel ini. Tapi, dari segi cara bercerita, saya lebih suka "Di Bawah Langit yang Sama".

Cara narasinya terlalu mengandalkan 'tell', khususnya di bagian awal. Ada banyak bagian yang saya rasa akan lebih baik kalau ditunjukkan pada pembaca. Hal-hal seperti keadaan mental Fransina, kehidupan sehari-hari yang membosankan, hingga keadaan kota SoE yang katanya tidak ada harapan bekerja untuk Fransina (yang sesuai keahliannya di bidang entah periklanan, bahasa, atau ilmu komunikasi. Tidak disebutkan dengan spesifik), pasti bisa lebih menarik kalau ditunjukkan dengan lebih detail.

Untuk ceritanya, saya cukup suka. Penyelesaiannya juga bagus, walau saya masih bingung dengan . Kalau bisa, sih, ada lebih banyak adegan yang menunjukkan perkembangan dalam keluarganya Fransina.

Btw, melihat Fransina di novel ini, saya jadi kepikiran salah satu puisinya Rendra. Saya kutipkan di sini:

Sajak Seonggok Jagung

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan.

Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
ia melihat petani;
ia melihat panen;
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar ………..
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium kuwe jagung

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja

Tetapi ini :

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta .
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.

Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya ?
Apakah gunanya seseorang
belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :
“ Di sini aku merasa asing dan sepi !”

Saya merasa Fransina seperti layang-layang ibukota yang pulang ke daerahnya dengan kikuk, lalu berkata, “Di sini aku merasa asing dan sepi!”.

Secara keseluruhan, tiga bintang. Buku ini saya rekomendasikan untuk penyuka konflik keluarga, serta yang penasaran dengan kehidupan di SoE.

Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 New Authors Reading Challenge
- 2015 Lucky No 15 Reading Challenge
Profile Image for Pattrycia.
351 reviews
September 5, 2015
Suka sama ceritanya yang mengangkat tema kekeluargaan. Mengingatkan kita bahwa kita kerja untuk hidup, bukan hidup untuk kerja. Buat apa punya materi yang berlimpah kalo ga ada orang buat berbagi kenikmatan materinya? Buat apa punya uang banyak tapi sakit-sakitan & ga punya kehidupan? Baca tentang kebersamaan mereka sebagai keluarga bener-bener bikin hati hangat.
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
July 7, 2015
Ini memang bukan pertama kalinya aku membaca karya kak Okke dan sejauh ini buku ini yang paling kusuka dari semua novel Kak Okke yang kubaca. Gagas Media kembali lagi dengan seri terbarunya "Indonesiana", setelah sebelumnya sukses dengan "STPC"nya.

Jika sebelumnya, STPC menghadirkan setting luar negeri yang buat aku berasa ingin keliling dunia, sekarang hadir "Indonesiana" yang menghadirkan setting lokal Indonesia yang tak kalah menakjubkan. Kak Okke sendiri menghadirkan setting Kota SoE, sebuah kota di Provinsi NTT yang jujur baru pertama kali kudengar, sampai aku google langsung lokasi kota ini^^

Melalui novel ini, aku seakan diajak berjalan-jalan menelusuri kota SoE bersama Fransina, gadis Timor yang "terpaksa" harus melepas mimpinya karena keluarga. Fransina yang pintar, cantik dan sedang menanti panggilan pekerjaan harus kembali ke kampung halamannya, SoE karena adiknya Sherly hamil diluar nikah bersama pacarnya, Radya. Olivianus, kakaknya meminta Fransina untuk ikut pulang mendampingi Sherly yang sedang hamil dan mamanya di SoE. Dilain sisi, Fransina ingin tetap tinggal diJakarta mengejar impiannya bekerja di perusahaan impiannya, dilain sisi ada keluarga yang sedang membutuhkannya.

Fransina pun mulai sering menyalahkan Sherly, adiknya karena ikut susah karenanya. Apalagi Sherly, tetaplah gadis remaja yang manja, yang masih sering merajuk dengan segala tingkahnya. Yang kadang-kadang masih membuat pusing Fransina dan keluarganya. Sherly sengaja dipulangkan ke SoE, dan tetap tinggal dirumah, agar orang lain tidak tahu mengenai aib ini. Hanya keluarga dan Fritz, dokter sekaligus sahabat Olivianus yang tahu keadaan Sherly.

Fransina yang stres dengan semua masalah yang menimpa keluarganya, ditambah pula dengan sikap Banyu, kekasihnya yang jauh berbeda. Banyu seakan sibuk dengan dunianya sendiri, waktu Banyu terkuras habis dengan pekerjaannya, tidak ada lagi waktu untuk saling bercerita seperti dulu. Padahal Fransina butuh dukungan, tetapi sayangnya Banyu seakan tidak punya waktu lagi.

Bersama Fritz, Fransina menemukan pandangan baru mengenai kehidupan. Dan ketika Fransina pun harus memilih antara impian dan keluarga, mana yang akan dipilihnya???

Kak Okke membuatku larut dengan kisah kehidupan Fransina. Setting Kota SoE begitu memanjakanku, melihat negeri cantik diluar sana yang belum pernah kudengar namanya. Membuatku menyadari bahwa Indonesia pun mempunyai banyak kota yang tak kalah indahnya dengan luar negeri. Melalui novel ini, Kak Okke memaparkan kehidupan orang-orang Timor yang memang berbeda dengan orang-orang yang hidup di Jawa, banyak hal yang membuatku merasa bersyukur dengan kehidupanku saat ini.

Sekelumit kisah Fransina dan keluarganya, dialek Timor yang begitu terasa membuat novel ini menjadi menarik. Aku selalu suka membaca novel yang memberikanku pengetahuan baru. Aku suka karakternya, chemistry diantara para tokoh dan gaya menulis yang cukup rapi. Walau memang tetap ada typo, tetapi tetap tidak mengurangi kenikmatan membacaku.

Melalui novel ini juga, aku mengerti arti keluarga. Sesukses apapun kita, kalau tidak ada tempat berbagi tetaplah tidak ada artinya. Keluargalah tempat kita bisa berbagi segalanya, keluarga juga yang akan hadir dikala kita tertimpa musibah dan betapa pentingnya saling mendukung satu sama lain.^^

Ada pertanyaan yang menggelitik dan selalu kuingat, "bahwa kita itu hidup untuk bekerja atau bekerja untuk hidup???...
Profile Image for Mandewi.
574 reviews10 followers
June 10, 2016
Keren!! Sabtu Bersama Bapak minus komedi. Heart warming banget, dan keluarga adalah segalanya! <3
Profile Image for Fakhrisina Amalia.
Author 14 books200 followers
June 24, 2015
Suka sama tulisan-tulisan Kak Okke di blog, tapi untuk novel, berhubung baru baca Prewed dan ini. Aku lebih suka yang ini.

Novel ini jenis bacaan yang menghangatkan hati dan bikin mikir ulang tentang hidup yang kita jalani. Hal-hal yang aku suka juga dari tulisan-tulisan Kak Okke di blog.

Kadang kita terlalu asyik sama hidup kita sendiri tanpa sadar kalau keasyikan kita itu bikin kita zholim atau mengabaikan orang-orang terkasih.

Awalnya sempat bingung kenapa judulnya Perempuan-perempuan Tersayang, tapi pas udah hampir nyampe akhir, barulah aku mengerti. Dan judul Perempuan-Perempuan Tersayang ini nyatanya memang pas sekali.

Cerita ini mengajarkan kita tentang memilih. Mengajarkan kita tentang prioritas. Mengajarkan kita tentang indahnya hidup yang kadang kita lupakan karena terlalu asyik dengan kesibukan dan hal2 egosentris yang kita inginkan.

3,75 stars dibulatkan ke atas!
Profile Image for Diego Christian.
Author 5 books127 followers
October 15, 2015
Seperti novel Mbak Okke, selalu hangat, menyentuh dengan gaya bahasa yang berkelas, tapi sederhana.

Menurut saya sebuah buku yang bagus adalah buku yang membuat siapapun ingin membacanya untuk kedua kalinya dan buku ini menurut gue layak untuk dibaca kedua kalinya.
Profile Image for ahmad.
188 reviews4 followers
August 12, 2015
i love fransiana and i love Perempuan Perempuan tersayang. karena hampir semua orang di dunia ini akan juga mengalami apa yang dirasakan fransiana, i love her so much. thx Mbak Okke ...
Profile Image for Diyah.
72 reviews1 follower
May 16, 2016
rumah selalu menjadi tempat untuk pulang, sejauh apapun kita pergi. ada alasan kenapa kita dilahirkan disana, di kampung halaman. untuk membawa kebaikan dan keberkahan.
Profile Image for Agung.
48 reviews9 followers
September 18, 2015
Fransin ini lebih keliatan seperti perempuan jawa .. nerimoan
Profile Image for Desy.
355 reviews33 followers
July 11, 2015
khas Okke :). luv it!
Profile Image for Hanafm.
12 reviews
November 17, 2021
Judul: Perempuan-perempuan Tersayang
Penulis: Okke 'Sepatumerah'
Penerbit: @gagasmedia
Tahun Terbit: 2015

Beta sonde menaruh ekspektasi talalu tinggi untuk novel ini, tapi ternyata bukunya sangat menarik. Novel ini menampilkan sisi lain dengan mengambil latar Indonesia Timur, yaitu SoE, kota kecil yang berjarak 100 km dari Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur.

Novel ini mengangkat topik tentang keluarga, mimpi, hubungan romansa, dan pengorbanan. Sejak awal membaca buku ini membuatku tersentak karena salah satu konflik yang diangkat cukup sensitif, yaitu kehamilan yang tidak direncanakan. Konflik yang kompleks, tetapi aku menyukai bagaimana tokoh bersikap tegas dengan tidak memaksakan perkawinan untuk anak di bawah umur.

Novel ini menyelipkan beberapa bahasa daerah, awalnya aku merasa tidak nyaman karena merasa terlalu dipaksakan, tetapi sampai ke pertengahan cerita aku tidak lagi mempersoalkan hal tersebut. Dari sini juga aku belajar memahami sedikit-sedikit budaya di sana.

Bacaan yang cukup ringan, tetapi pada beberapa bagian cukup membuatku harus menghela napas sebelum melanjutkannya.
13 reviews
October 9, 2020
novel pertama yang gw baca dari mba okke sepatumerah dan membuat gw jatuh cinta sm tulisan2xnya. gegara puas banget baca novelnya yg satu ini, gw sampe cari novel lainnya dr penulis yang sama dan sekarang udah punya hampir semua novelnya. comment gw soal novel ini, buat perempuan baca deh nih novel. banyak pelajaran dari " perempuan-perempuan " dalam novel ini yang bisa dipetik. cakep !
Profile Image for lily bookscation.
492 reviews
November 16, 2017
seri indonesiana yg paling bagus

tergelitik dengan kata2 indonesia bukan hanya Jawa saja & kita hidup untuk bekerja atau bekerja untuk hidup?


minusnya cuma satu, porsi cerita Fransinia & Fritz kurang banyak

sekeras wataknya Olivianus, seegoisnya Fransinia in the end, family is home...
Profile Image for Sandra Frans.
236 reviews3 followers
December 15, 2020
Terima kasih kak Okke sudah menulis cerita dengan latar belakang kehidupan (banyak) perempuan di Timor.
Profile Image for Dhani.
257 reviews17 followers
January 17, 2016
" Indonesia bukan hanya Jawa, selamat menikmati dan jatuh cinta pada sisi lain negeri kita tercinta ini", Itu adalah tulisan yang mengakhiri kata pengantar si penulis, Okke Sepatu Merah, di novelnya yang berjudul Perempaun -Perempuan Tersayang. Dan ya, saya jatuh cinta pada ceritanya. Saya jatuh cinta pada keelokan SoE, sebuah kota yang terletak beberapa jam jarak tempuhnya dari Kupang, NTT.Saya jatuh cinta pada keluarga Fransinia. Hati saya meleleh oleh kehangatan keluarga mereka dan cara mereka menyelesaikan masalah, tentu saja lewat versi penulisnya, Okke.

Tak butuh waktu lama untuk menuntaskan seluruh halaman novel ini, 274 halaman dalam sekali baca. Kisahnya sebetulnya sederhana, tentang Fransinia yang sementara harus mengubur mimpi mimpinya, karena adiknya yang tinggal bersama di Jakarta hamil, padahal belum tamat SMA.Fransinia harus balik ke SoE,membawa adiknya bersamanya. Sedangkan pada saat yang sama, dia sedang menunggu panggilan dari beberapa perusahaan besar, tempat dia melamar kerja setelah menamatkan pendidikan starata 1 nya.

SoE yang senyap, SoE yang sederhana, SoE yang tak bersinar dibanding Jakarta yang gemerlap, mula mula tak menarik hatinya. Belum lagi masalah demi masalah yang harus dihadapinya di rumah. Mulai dari mamanya yang sakit, Sherly adiknya yang emosinya tak stabil, karena mengandung di usia muda dan harus dipisahkan dari kekasihnya, juga Olivianus kakaknya yang otoriter. Untungnya ada Elisabeth, istri Oli yang ramah dan belakangan ada Fritz, seorang dokter yang juga sahabat kakaknya.Bahkan lewat Fritz lah, Fransinia mengenal sisi sisi lain dari SoE yang selama ini tak diketahuinya.

Di saat hubungannya dengan Fritz lebih akrab dan Sherly sudah mulai bisa menerima keadaannya, Fransinia menerima panggilan interview dari perusahaan yang diincarnya di Jakarta. Dengan bujukan Elizabeth, akhirnya Oli mengijinkan adiknya pergi ke Jakarta.Tapi ternyata kedatangannya di Jakarta malah menghadirkan sepi. Apalagi, hubungannya dengan Banyu, sang pacar malah memburuk karena Banyu amat sangat mendewakan pekerjaannya.Lantas setelah semua yang terjadi, apa yang akhirnya diputuskan Fransin? Mengubur mimpinya atau berkumpul dengan keluarganya kembali di SoE?

Lewat novel ini, Okke mengingatkan kembali, bahwa keluarga adalah sebaik baik tempat kembali .Lewat novel ini pula, Okke menjadikan kenikmatan bubur jagung, lawar Teri, jagung Titi bukan sekedar tempelan. Karena itu semua adalah keseharian. Juga keindahan Fatumnasi, keunikan rumah bulat tradisional. Okke juga menyentil kita dengan kenyataan bahwa daerah di Indonesia Timur, dalam banyak hal masih jauh dari kata sejahtera.Saya suka novel ini. Saya cinta SoE dan berharap bisa mengunjunginya suatu saat nanti.
Profile Image for Prima patriotika.
100 reviews21 followers
January 5, 2017
Novel ini memang lumayan menghibur dan bisa saya habiskan hanya dalam 2 hari saja.

Bercerita tentang Fransinia seorang wanita yang berasal dari NTT. Dia baru saja lulus kuliah dan sedang dalam pencarian kerja. Fransinia dan adik perempuannya tinggal di jakarta. Sementara ibu dan kakak laki-laki mereka tinggal di SoE, sebuah desa kecil di NTT.

Fransinia sedang memupuk tinggi cita-citanya untuk menjadi wanita pekerja yang sukses di jakarta dan tak pernah berfikir kembali ke kampung halamannya.

Namun permasalahan keluarga, membuatnya harus meninggalkan segala mimpinya di Jakarta dan kembali ke SoE.

Berlatar di sebuah desa di NTT, membuat kita terseret untuk merasakan suasana pedesaan yang tentram. Novel ini mengangkat nilai-nilai kekeluargaan yang kental.

Saya tergelitik dengan kutipan yang ada di dalam novel ini "Hidup untuk bekerja atau bekerja untuk hidup". Ya, fenomena ini yang makin berkembang sekarang ini, banyak orang yang berangkat kerja pagi-pagi, pulang malam-malam sehingga sepertinya tidak menikmati hidup... (pulang tinggal tidur, besok berangkat lagi.... bahkan melihat matahari pun tidak... haha miris sekali...)

Karena lebih menonjolkan nilai kekeluargaan, bagi saya nilai romantismenya kurang di garap... Jadi kesannya agak datar-datar aja... Padahal seharusnya romantisme antara Fransinia dengan Fritz yang seorang dokter yang rela mengabdi di kampung halaman bisa menyemarakkan cerita...

Overall novel ini layak untuk dibaca karena mengandung pesan-pesan yang bagus sekali untuk direnungkan, terutama untuk melihat kembali bagaimana hubungan kita dengan keluarga...

Saya kasih nilai 3,5 untuk novel ini...
Profile Image for Lila Danisa.
808 reviews10 followers
February 21, 2016
Saya yang memang tidak mencintai Indonesia mungkin ya, tapi saya baru tau ada daerah di Indonesia yang namanya SoE ya baru dari novel ini. Duh malu-maluin, durhaka banget jadi warga Indonesia.
Tapi gegara novel ini, SoE jadi masuk di wishlist daerah-daerah yang ingin dikunjungi. Selain karena ingin membuktikan keindahan alamnya, pengen aja traveling ke daerah yang gak mainstream.
Untuk ceritanya sendiri, saya suka sih. Ringan dan bertemakan keluarga banget. Jadi bacanya pun sambil merefleksikan gimana keluarga saya sendiri dan interaksi antar anggota keluarga.
Novel ini juga mengangkat tema dari masalah sebagian daerah timur yang masih kurang aware tentang pengetahuan seks. Agak miris pas baca ceritanya Siska. Semakin meningkatkan jiwa feminisme yang ada, yah walopun memang adat istiadat masih dijunjung tinggi di tana timor sana.
Yang agak menghujam karena jujur saya masih seperti Fransin di awal-awal cerita, saya masih jadi anak daerah yang gak pengen tinggal di daerah. Sampai sekarang pun masih. Jadi sedikit banyak novel ini bikin saya berpikir, oh saya memang durhaka sama daerah dan negara saya sendiri dan saya terlalu realis tentang kehidupan. Sedih deh jadinya.
Suka sama karakter Bu Olivianus. Tegas tapi sayang sama keluarga. Duh andai punya Bu macam Olivianus.
Selalu senang dengan novel yang menceritakan budaya-budaya baru. Coba kalo gak baca novel ini, entah kapan saya tau ada daerah bernama SoE di Indonesia. Dan gegara buku ini, sukses bikin saya pengen menguasai logat timur. Satu lagi, lagu "Bae Sonde Bae" soo easy listening. Selalu terngiang-ngiang.
Profile Image for Nana.
405 reviews27 followers
October 18, 2015
Seandainya ditambah 1 bab lagi yang ngejelasin kenapa Fritz mendadak dingin sama Fransin... btw jadi keinget senior pas kuliah bernama sama yang ternyata anak kepala suku di Flores atau di manaaa gitu...
Profile Image for Putri Review.
74 reviews13 followers
April 24, 2017
Actual score : 3,6 from 5 stars

Baca lebih lengkap review novel ini di blog Putri Review : Keluarga vs. Impian dalam novel "Perempuan-Perempuan Tersayang" by Okke 'Sepatumerah'

Serial Indonesiana dari penerbit Gagasmedia merupakan salah satu favorit saya. Terbukti sudah 2 novel dari serial yang sama saya review di blog ini sebelumnya : "Di Bawah Langit yang Sama" by Helga Rif dan "Satu Kisah yang Tak Terucap" by Guntur Alam. Saya sangat tertarik dengan latar budaya yang begitu kental, baik lokasi, bahasa, juga adat istiadat, dan saya selalu menunggu2 Gagas Media menerbitkan serial Indonesiana berikutnya.

Seperti 2 novel Indonesiana sebelumnya yang saya baca, novel "Perempuan-Perempuan Tersayang" karya Okke 'Sepatumerah' ini pun tidak kalah menarik. Kisahnya mengambil latar kota SoE di tanah Timor, Nusa Tenggara Timur. Okke mengusung tokoh utama perempuan asli Timor bernama Fransin, yang mengalami dilema antara mimpinya di kota besar dan mengurus keluarga di kampung halamannya.

Saya pribadi suka2 saja dengan premisnya, tapi saya sedikit kurang puas dengan plotnya. Saya merasa plotnya masih kurang memanfaatkan tema budaya, terlalu singkat, dan terlalu cepat diakhiri. Sebenarnya aura novelnya sudah cukup kental dengan penggunaan sapaan dan bahasa ala Timor, contohnya Usi, karmana, bosong, Mamatua. Saking kentalnya, bacanya pun sudah dalam logat Timor, dan saya somehow mengerti2 saja. Beberapa lokasi wisata di SoE pun sudah dibahas di dalam novel. Tapi entahlah, saya merasa masih kurang merasakan kentalnya budaya Timor. Mungkin karena memang diceritakan kehamilan Sherly (adik pemeran utama) dirahasiakan oleh keluarganya, sehingga memang Fransin pun terpaksa lebih banyak menunggu di rumahnya di SoE, namun saya masih merasa haus akan adat Timor setelah membaca. Konflik yang sedianya cukup genting terasa terlalu diredam. Beberapa momen penting yang bisa membawa emosi cerita lebih dalam lagi juga kurang dieksplor.

Meskipun begitu, saya cukup suka dengan interaksi antara kakak beradik Fransin. Saya suka bagaimana Olivianus (kakak Fransin) sangat memperhatikan keluarganya. Pesan bahwa keluarga itu penting tersampaikan.

Anyway, ini novel kedua Okke 'Sepatumerah' yang saya baca (yang pertama : Pre-Wedding Rush), masih menunggu karya Okke berikutnya, saya juga suka membaca blognya hellosepatumerah.com :D Novel ini recommended banget untuk kamu2 yang lagi pengen baca kisah keluarga yang hangat, juga yang penasaran soal SoE di Timur sana.
Displaying 1 - 25 of 25 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.