Bagi Amara, monster itu bernama Marcello. Monster dengan kenangan-kenangan buruk. Cowok. Sahabat. Gaun. Pemerkosaan. Rumah sakit. Amara tidak lagi menginginkan hal-hal itu hadir di hidupnya.
Seakan takdir belum puas mengolok-olok Amara, monster itu tiba-tiba muncul mengganggu hubungannya dengan Ji Hwan. Tepat ketika dia berusaha membuka hati.
Indah Hanaco penyuka novel-novel historical romance. Tergila-gila pada segala hal yang berbau tahun 90-an. Juga sederet serial kriminal dan film-film romance. Mendadak mellow hanya karena gerimis. Kolektor majalah dan buku-buku resep yang jarang dimanfaatkan.
Fans sejati Michael Schumacher yang memilih berhenti menonton balapana Formula Satu begitu sang idola pensiun. Tidak bisa lepas dari kopi meski sangat tidak menyukai kopi.
Indah Hanaco pernah bekerja kantoran, tetapi benar-benar merasa menemukan "dunia" saat menjadi penulis. Cita-cita saat ini adalah pindah dan menetap di Yogyakarta, keliling Eropa serta menghabiskan sisa hidup untuk menulis.
Indah Hanaco telah menerbitkan 23 novel, beberapa buku anak dan parenting. Indah Hanaco juga menulis novel dengan pseudonym Aimee Karenina.
Indah Hanaco Heartling Gramedia Pustaka Utama 260 pages 1.8
The problem with prolific writers is that sometimes they tend to sacrifice the depth of plot and character development for the sake of incessant swooning moment or extremely-hot-and-handsome-characters or fanservice. "Heartling" is my second read of Hanaco and it suits that description. My first read was Cinta Tanpa Jeda that I loathe, especially because of Mary Sue characters, and it makes me avoid Hanaco's books before I decide to try this one. After all, how bad can it be? I am wrong, of course, once again. It is worse. In a way, "Heartling" basically tastes as sour as "Cinta Tanpa Jeda", with Mary Sue character--who has been given a big flaw by Hanaco, but it still doesn't work; I'll explain it later--stiff conversation, and the lack of the depth of characterization. But, it's not those things that I hate the most.
It's how Hanaco uses rape as a plot device. I'm not gonna put it on my spoiler tag--I won't even bother. I'll just put it there so people will know that this book is about raping. It's such a low move, to be honest. In a perfect world, rape should've not happened, but since we live in the shitty world, that shitty thing happens. Rape is a horrible thing because it will not only destroy your physical appearance, but your mental as well. It will crush your confidence, your self-worthiness, your independence, and your mind will be haunted by this terrible experience. And it can happen to women or men. Using rape in work of fiction is really tricky because it's a sensitive issue and it is hard to transform what the victims go through into words that are limited. There's no word that can describe what horror they must bear, and what trauma they go into, and every victims share different story. A fine example how authors handle rape is in Pierce Brown's Red Rising where Brown perfectly describes that rape happens, indeed, but it should've not happened or Laurie Halse Anderson's Speak where Anderson portrays a victim rape realistically.
In "Heartling", our main character, Amara, a Mary Sue character who happens to be a victim rape that makes her afraid of guys who try to hit her--which surprisingly a lot, but of course, Amara is a Mary Sue. Hanaco narrates with the stiffest narration style that I've ever read--it kinda reminds me of Arumi E.'s--who is coincidentally a prolific writer as well--style in Monte Carlo: Skenario--with the most unflowing and unnecessary conversation that rarely drives the plot that I have to follow. The plot seems so flat that it makes Freytag cry. Reading "Heartling" makes me cringe all the time.
Amara is annoying even if her ridiculousness is understandable--after all she's a victim rape, and every victim has different story--but she's not believable, the reason why after all rape is only as used as plot device. The most shocking and ultimate reason why I hate the book is when Hanaco puts another victim rape as easy as that for the sake of twist. Damn. This issue should be fastidiously handled, but the way Hanaco writes it makes me speechless. "Heartling" has no personal mission or moral value--and I'm one of the few people who believe that moral value is not the main thing in work of fiction; there's nothing you can get by reading it, except for frustration and lividity. And the supporting characters are just there and frivolously written. Even one of the supporting characters, Reuben, appears in the beginning of the story and puffs by the end. Everything about this book is just off.
If I have "Worst Book" candidate, well, I guess "Heartling" matches all the criteria.
Heartling ini mengisahkan mengenai kehidupan Amara. Amara yang trauma untuk dekat dengan semua yang berjenis kelamin laki-laki. Hal ini dikarenakan dirinya telah diperkosa oleh Marcello, seseorang yang disebutnya sahabat, yang malah ternyata mengambil hal yang paling berharga darinya.
Hidup Amara pun menjadi tidak sama lagi. Amara menjadi tertutup bahkan susah percaya dengan orang lain. Amara terlalu takut untuk bersahabat bahkan terkesan menutup dirinya. Hingga ketika dia kembali ke bangku kuliah, Amara masih tetap menjaga jarak. Amara tidak ingin membangun kedekatan dengan orang lain lagi, karena pernah dikecewakan di masa lalu.
Tetapi sosok Sophie, teman barunya itu perlahan-lahan meruntuhkan benteng pertahanannya. Sophie perlahan-lahan menjadi sahabat baru Amara. Bersama Sophie, Amara perlahan-lahan mulai membuka diri lagi, malah kembali merekatkan kembali persahabatannya dengan Brisha sahabat lamanya. Amara, Sophie dan Brisha pun menjadi sahabat yang saling mendukung.
Tetapi tetap saja Amara masih menutup diri dengan kehadiran pria dalam hidupnya. Hingga akhirnya dia bertemu dengan sosok Ji Hwan. Ji Hwan yang awalnya berusaha Amara hindarin sekuat tenaga, ternyata hatinya berkata sebaliknya. Berkat kehadiran Ji Hwan pula, kepercayaan diri Amara bangkit kembali. Tetapi ketika semua mulai terkendali, Marcello pun hadir kembali...Apa yang terjadi selanjutnya???
Pertama-tama, selamat buat Mba Indah Hanaco yang mencoba mengangkat tema baru lagi dari novel terbarunya. Membuat sebuah novel dengan keberadaan tokoh yang trauma seperti ini tentunya tidak mudah. Penulis harus mampu membuat pembaca bisa merasakan dan ikut larut dengan trauma yang diderita oleh si tokoh, dalam hal ini Amara. Amara yang digambarkan berubah menjadi seseorang yang penyendiri, tidak percaya diri, suka menyakiti diri sendiri, takut terhadap lawan jenis, sedikit banyak mewakili sisi trauma dari Amara, si korban pemerkosaan.
Sebagai pembaca, aku bisa ikut memahami setiap perubahan dari sosok Amara, bagaimanapun untuk menghadapi masa lalu sekaligus mimpi buruk itu tentunya tidak mudah, dan Amara punya caranya sendiri.
Kehadiran Brisha dan Sophie, sahabat Amara yang membantu Amara keluar dari traumanya itu juga dieksekusi dengan cukup baik. Persahabatan mereka begitu terasa, aku bisa merasakan mereka saling melengkapi satu sama lain. Apalagi sosok Brisha dan Amara juga punya permasalahannya sendiri, yang ternyata cukup berat juga. Aku benar-benar jatuh hati dengan sosok Sophie, sahabat Amara ini, dengan semua permasalahan yang mendera hidupnya, dia begitu pandai menyimpannya sendiri =) Apalagi berkat ide Sophie terkait lollipop juga sedikit banyak membantu Amara. Dan berkat bocoran penulis, horeeee akan ada novel tersendiri loh terkait Sophie dan Brisha. Semoga lancar nulis dan bisa segera diterbitkan ya, Mba =D
Sosok Ji Hwan juga manis dan romantis. Dengan semua upaya pedekatenya dengan Amara, pantes saja Amara akhirnya luluh juga. Sosok Ji Hwan ini too good too be true banget, sabarnya itu loh buat mendekati Amara patut diacungin jempol. Ji Hwan dan Amara jadi saling melengkapi dey. Twist tentang siapa Ji Hwan pun cukup mengagetkanku, ternyata aku sedikit melewatkan kepingan fakta itu :p
Sebagai pembaca yang sudah membaca beberapa novelnya, tokoh Ji Hwan yang peranakan korea lumayan menjadi sesuatu yang berbeda juga. Apalagi selama ini, aku sudah terhipnotis dan jatuh cinta dengan tokoh pria di novel-novel sebelumnya, yang kebanyakan blasteran =D
Akhirnya, novel ini hanya butuh beberapa jam saja berhasil kusantap. Dan aku semakin jatuh cinta dengan tulisan Indah Hanaco dan akan selalu menunggu karya lainnya. Walau memang aku berharap Mba Indah akan lebih jauh lagi mengeksplor mengenai kehadiran Marcello, si monster. Ya, mungkin dengan sedikit memflashback hubungan mereka dulu, tetapi mungkin penulis punya fokus sendiri, fokus untuk membuat si tokoh utama "move on" dari masa lalu.
Akhir kata, novel ini akan mengingatkan kita untuk bisa lebih peduli dengan orang-orang disekitar kita, mungkin saja ada yang butuh bantuan kita walau tanpa kata. Selamat melepas masa lalu demi masa depan yang lebih baik!!!!!
"Kamu, ada baiknya nggak berharap banyak padaku, Ji Hwan. Kejadian kemarin itu pasti akan terulang lagi dan kamu pasti akan segera menjauh. Aku bukan orang yang … tepat." – halaman 73
Amara Kameli kembali ke bangku kuliah setelah cuti selama setahun. Di hari pertamanya, dia berkenalan dengan Sophie. Teman barunya itu selalu ingin tahu dan sangat peduli dengan keseharian Amara. Walaupun awalnya agak menyebalkan dan canggung, mereka jadi dekat dan saling curhat tentang berbagai macam hal, terutama saat dosen tampan mereka, Pak Reuben, menyatakan perasaannya kepada Amara. Amara ketakutan karena usaha Pak Reuben itu mengingatkannya pada pemerkosaan yang pernah dilakukan temannya, Marcello. Karena itu Amara jadi tak nyaman berada dekat dengan lawan jenis.
Teman-teman lama Amara, salah satunya Brisha, mempertanyakan alasan di balik cuti Amara. Pertanyaan itu selalu bisa Amara hindari sampai Brisha mengundangnya ke acara keluarganya. Karena sudah terlanjur berjanji, Amara akhirnya datang dan mengajak Sophie. Di sana dia dikenalkan dengan teman sepupu Brisha, Seo Ji Hwan. Paksaan kedua temannya membuat Amara kesal. Dia jadi melontarkan kata-kata pedas kepada Ji Hwan. Rasa sesal kemudian datang karena sebenarnya Amara tertarik dengan Ji Hwan. Pada saat Amara memikirkan kebodohannya itu, Marcello tiba-tiba muncul kembali.
---
Heartling memperlihatkan bahwa move on dari masa lalu tidak hanya butuh dukungan dari orang-orang terdekat, tapi juga keinginan diri sendiri untuk bisa menikmati masa sekarang dan membangun masa depan. Langkah Amara, yang sempat mengalami perlakuan tak senonoh, untuk kembali kuliah sudah sangat berani. Sayangnya, dia belum sepenuhnya membuka diri. Kehadiran dan dukungan dari Sophie, Brisha, dan terutama Ji Hwan membuatnya yakin. Cerita sampingan dari Sophie dan Brisha cukup menarik dan membuat mereka bertiga punya kesamaan dan muncul lebih banyak alasan kuat untuk move on. Walaupun kerasa sedikit cheesy, persahabatan yang aku lihat pada umumnya emang begitu. Tips menggunakan lolipop untuk mengurangi rasa gugup dari Sophie itu lucu banget. Akhirnya aku mengerti dengan desain cover-nya.
Lalu soal Ji Hwan, ehem, kalau menyangkut cinta, semuanya bisa terjadi. Cinta, baik dalam hubungan pertemanan atau percintaan, selalu bisa mengubah dan menggerakan seseorang. Untung saja Amara mau mencoba lagi. Kalau tidak, kita kehilangan kesempatan untuk berkenalan dengan tokoh cowok keturunan Korea yang super sabar itu. Alih-alih memasang tokoh berwajah indo, pasangan Amara ini berasal dari negara yang budayanya sangat digandrungi. Maka dari itu kehadiran Ji Hwan ini sangat menarik. Aku sangat senang saat Ji Hwan mendapat porsi untuk bercerita dari sudut pandangnya. Sayangnya munculnya di bagian pertengahan. Lalu kebudayaan Korea, makanan, cara berpakaian dan pemikiran, tidak terlalu terlihat dari keseharian Ji Hwan. Kenapa dia lebih memilih burger daripada makanan Korean sebagai menu makan malam mereka? Sepertinya dia sama saja dengan kebanyakan anak muda sekarang yang cenderung mengikuti budaya negara lain.
Amara kecanduan berolahraga. Seluruh badannya terasa sakit, namun sakit itulah yang dicarinya. Dia melakukan semua ini sebagai sebuah pelarian atas masa lalunya yang kelam, gara-gara seorang monster yang telah menghancurkan hidupnya. Marcello, sahabatnya telah menodai dirinya. Selama setahun, Amara menyepi, meninggalkan semua aktivitas perkuliahan untuk memulihkan diri. Kini Amar merasa siap untuk kembali berkuliah. Bagaimanapun juga dia harus menghadapi ketakutannya.
Sophie adalah gadis pertama yang berusaha mendekatkan diri padanya, meski Amara sudah berusaha menghindar. Usaha gigih Sophie membuahkan hasil. Selain menjadi teman dekat Amara, kehadiran Sophie juga membawa efek positif bagi Amara. Amara mulai membuka diri, seperti misalnya saat menghadiri undangan ulang tahun pernikahan orang tua Brisha, sahabatnya dulu. Di sana seorang pemuda bernama Ji Hwan, berusaha mendekati Amara. Tapi Amara belum siap membuka dirinya pada pria manapun juga.
Heartling adalah karya Indah Hanaco yang pertama saya baca. Melihat betapa produktifnya penulis ini dalam menerbitkan karyanya, saya langsung mengiyakan saat diajak dalam blogtour ini. Apalagi buku ini juga buku pertama dari genre Young Adult GPU yang saya baca. Porsi romance-nya pas, meski kalau menurut saya masih kurang dieksplore lagi. Saya juga tadinya berharap porsinya Marcello diperbanyak. Tapi memang topik utama dalam novel ini adalah bagaimana bisa beranjak dari masa lalu alias move on. Selain Amara yang berusaha move on, ada Sophie dan kedua orang tua Amara yang juga dikisahkan meninggalkan masa lalunya. Di antara semua tokoh yang ada di dalam novel ini saya paling suka dengan Sophie. Meski dia juga punya masalah yang besar, dia tetap mau dan berusaha membantu Amara.
Aku kurang klik dengan ceritanya. Konflik2 yang diceritakan terlalu tanggung untukku. Kurang digali lebih dalam. Mulai dari pemerkosaan yg dialami Amara, Marcello yang hanya muncul sebentar lalu tiba2 menghilang, orang tua Amara yang tiba2 bercerai, kejadian yg dialami Brisha yang hanya disampaikan secara lisan. Penyelesaiannya pun terlalu simple, malah ada beberapa konflik yg belum tuntas juga. Biasanya aku bisa dibuat jatuh cinta dengan sosok hero bikinan mb Indah, sayang kali ini tidak. Ji Hwan manis, pengertian, tapi terlalu datar untukku. Padahal aku suka sekali dengan sinopsisnya, sayang cerita di dalamnya tidak sesuai ekspektasiku.
Amara mempunyai masa lalu yang kelam, dia pernah menjadi korban pemerkosaan oleh sahabatnya sendiri, membuatnya trauma terhadap laki-laki, membuatnya berubah dari seorang yang ceria menjadi menghindari semua orang, membuatnya tidak mudah percaya dengan orang lain. Setelah setahun lebih menyendiri dan mengobati luka batinnya, dia memberanikan diri melanjutkan kuliah, bertemu dengan orang-orang yang pernah dekat dengannya, orang-orang baru yang tidak menangkap sinyal kalau Amara hanya ingin sendiri, orang-orang yang menyemarakkan hidupnya lagi.
Sophie adalah teman baru Amara yang tidak pantang menyerah, dia tidak pernah menanyakan masa lalu Amara, dia hanya ingin dekat karena tahu Amara membutuhkan orang lain. Lama kelamaan Amara membiarkan Sophie menyusup ke dalam hidupannya, menjadi salah satu sahabat barunya. Orang kedua adalah Brisha, teman lama Amara. Sebelum kejadian nahas yang menimpa Amara, mereka bersahabat dekat, bahkan Amara dekat dengan keluarga Brisha dan beberapa kali menginap. Brisha kehilangan informasi tentang Amara, dan ketika kembali dia ingin menjadi sahabatnya lagi.
Kehadiran Sophie dan Brisha membuat Amara terbuka sedikit demi sedikit, dia mulai menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya. Di luar dugaan Amara, kedua sahabatnya tersebut tidak bertanya banyak tentang kronologi kejadian, mereka hanya memeluk dan memberikan semangat, mendukung segala usaha Amara untuk menjadi lebih tegar dan kuat. Kehadiran Ji Hwan, teman Brisha, juga berpengaruh besar terhadap trauma Amara. Lelaki tersebut tidak marah sewaktu Amara dengan jelas menolak kehadirannya, dia tidak pernah menyerah dan sabar. Ji Hwan tahu kalau Amara pernah trauma dengan laki-laki, dia tidak memaksa, yang dia butuhkan adalah bisa selalu berdekatan dengan Amara.
Kehadiran orang-orang yang menyayanginya dengan tulus membuat Amara berpikir kalau semua masalah yang menghinggap dirinya akan mendekati akhir, siapa sangka ternyata hidup tidak selalu sejalan dengan keinginan kita. Ternyata bukan hanya Amara saja yang mempunyai masalah pelik, kedua sahabatnya pun juga sama, Sophie dan Brisha menyimpan lukanya sendiri, sebuah rahasia gelap yang tidak pernah disangka Amara.
Heartling adalah buku pertama Indah Hanaco yang saya baca, buku kesekian yang ditulis penulis, salah satu penulis yang sangat produktif kalau saya lihat. Heartling sendiri lebih menitikberatkan kisah persahabatan tiga perempuan yang mempunyai masalah cukup kompleks dalam hidup mereka. Dalam Heartling, cerita fokus kepada Amara yang pernah menjadi korban pemerkosaan, dan feeling saya mengatakan akan ada buku tersendiri untuk Sophie dan Brisha.
Saya menaruh perhatian cukup besar terhadap buku-buku bertema mental illness, sayang sekali tema pemerkosaan di buku ini kurang digali lebih dalam. Saya kurang merasakan trauma Amara, penulis kurang detail menggambarkan gangguan kejiwaan yang dialami Amara, hanya diceritakan sekilas saja, ditunjukkan kalau dia cukup ketakutan bila berdekatan dengan laki-laki, tidak mudah percaya dengan orang lain, itu saja. Cerita fokus ketika Amara sudah bisa move on dari trauma masa lalu, digantikan dengan masalah orang-orang yang ada disekitarnya. Saya tidak keberatan dengan kehadiran Sophie dan Brisha, saya memahami kehadiran mereka. Hanya saja banyak sekali konflik dan karakter yang tidak terlalu mempunyai andil dalam cerita, membuat cerita tidak fokus dan mencar kemana-mana. Misalnya saja masalah kedua orangtua Amara dan kehadiran Reuben.
Yang saya sukai dari buku ini adalah persahabatan Amara dengan Sophie dan Brisha, hubungan mereka cukup tergambarkan dengan baik, bagaimana sedikit demi sedikit Amara mulai membuka diri sampai merasa nyaman dengan kehadiran mereka. Bagian Amara menghadapi kegugupannya ketika bertemu lawan jenis dengan permen lolipop juga saya suka, mungkin terapi ini bisa beneran membantu kalau kita berhadapan dengan kegugupan, mengalihkan perhatian. Tokoh Ji Hwan juga manis, tidak pantang menyerah, dan cukup romantis :D.
Recommended bagi yang ingin mendapatkan kisah persahabatan manis, cara mengatasi trauma masa lalu, untuk yang pengen move on buku ini bisa menjadi pilihan.
Karakter Amara tu ga banget. Tau sih dia ada masalah. Tapi ya cemen banget.
Terus bahasanya itu loh kaku kaku manja. *istilah apa tu, Ras?** . Gue beli karena covernya cakebbbh betul. Tapi fontnya gue ga suka, mengurangi keindahan. Meski gw banyk skipmya *apa pula ini gue*
Ya begitulah. Amara dan Ji Hwan. Dataaaaaaaaaar. Flaaaaaat.
Ga bisa konek ama karakternya. Iya sii ini emang masalah selera aja. Maybe selera gue ngaco. Tapi yang buat gue mikir, ini kan novel ke sekian puluh dari penulis.
Gue rasanya ga liat adanya peningkatan gitchu. Emang sik gue ga perna baca novel sebelummya. Toh emang ga ada yg booming. Cjma heran. Apa emang penulis 'ga belajar' ya?
Ah gicu deh.
Kapok beli novel IH. Yg nyelametin kovernya yang cantek. 1 btg bwt cover, setengah buat isi ceritanya...
"Jadi ketika ada pasangan memutuskan berpisah, apapun yang dijadikan alasan nggak patut dipercaya. Orang berpisah cuma karena satu hal, masing-masing berhenti mencintai." (hlm. 97) . . Ini kisah Amara, awal mula persahabatannya dengan Sophie dan Brisha. Perempuan yang mengalami trauma karena diperkosa oleh sahabatnya sendiri dan mengalami keguguran. Sempat cuti kuliah setahun membawa Amara bertemu Sophie, perempuan ceria yang nggak tahu malu, lalu bertemu kembali dengan sahabatnya Brisha yang sangat peduli, serta dosen tampan yang menyukainya. Dari Brisha, Amara dipertemukan oleh Ji Hwan. Laki-laki keturunan Korea yang tampan. Dari awal bertemu, Ji Hwan sudah tertarik dengan Amara. Namun Amara dan traumanya terus menolak. Tapi dengan usaha keras Ji Hwan, Amara pun menyerah. Disaat mereka berdua baik-baik saja, Amara mendapatkan kabar kedua orang tuanya akan bercerai dan fakta bahwa Ji Hwan memiliki hubungan dengan orang yang membuatnya seperti sekarang. Apakah Amara dapat berdamai dengan masa lalu dan memulai hal baru dengan Ji Hwan?? . . 💓Dari ketiga kisah persahabatan ini, kisah Amara yang cukup berat menurutku. Karena konflik Amara cukup complicated. Nggak cukup dengan trauma aja tapi kedua orang tuanya juga bercerai, dan juga karena ini awal cerita antara persahabatan ketiganya jadi mereka masih mencari chemistry yang pas dan masih saling membangun rasa percaya mereka masing-masing. 💓Alurnya sedang dan aku penyelesaiannya berjalan mulus. Cara kak Indah menggambarkan ketakutan Amara pun pas. Aku sebagai pembaca dibuat paham akan ketakutan Amara. 💓Salut sama Ji Hwan yang terus maju pantang mundur walau terus ditolak. Apalagi Ji Hwan ini bener-bener perhatian dan hati-hati banget sama Amara. No comment buat Amara, karena kalau aku jadi dia pun mungkin bakal gila kali yaa..
Saya sudah lama mendengar nama Indah Hanaco di dunia perbukuan dan semakin penasaran ketika tahun lalu ada seorang book blogger yang membuat Reading Challenge khusus buku-buku ibu dua anak ini. Sempat kepo pada karya-karyanya tapi tidak juga menemukan waktu untuk mencicipi bagaimana rasanya. Awal tahun ini, setelah melihat novel terbarunya muncul dalam sebuah seri yang diterbitkan oleh Gramedia, rasa penasaran itu membuat saya mengambil Heartling—salah satu novelnya yang terbit pada tahun 2015. Tidak ada alasan khusus kenapa saya memilih Heartling, selain karena kavernya cantik dan judulnya ciamik. Pun ketika tahu novel ini bukan novel terbaru, lalu sempat terpikir untuk membuat semacam garis start untuk mengenal karya-karya Indah lebih jauh.
Waktu selalu meninggalkan perubahan dalam diri seseorang, begitu juga pada para penulis. Kematangan berpikir, perubahan cara mengelola emosi dan peningkatan kemampuan menulis selalu mudah diamati dalam karya-karya mereka. Saya percaya buku-buku tidak hanya menyimpan sekumpulan ide seseorang tapi juga hal-hal yang telah saya sebut sebelumnya. Maafkan jika ini terdengar mengada-ada, tapi saya dan seorang teman sudah mengamininya. Itu sudah cukup dijadikan sebuah teori bagi kami. Ha!
Berbicara soal perubahan-perubahan dalam diri seseorang, mengingatkan saya pada karakter utama Heartling yang bernama Amara—gadis kuliahan yang terpaksa harus menghilang dari kehidupannya selama satu tahun untuk menyembunyikan sebuah aib besar. Selepas kembali pada dunia nyata, hal-hal tersebut mengubah gadis itu menjadi seorang perempuan peragu dan traumatik.
WAWWWW.. Amazing. Luar biasa. Speeclesh baca karyanya kak Indah Hanaco yg satu ini.. Rasanya tuh kayak nano-nano. Ada manis, sedih, pokoknya campur aduk bangett. Dan aku dgn yakin menyumbangkan 5 bintang dr 5 bintang yg ada ;)
Setiap tokohnya punya masa lalu dan pahitnya hidup dalam versi masing-masing. Dan itu membuat aku pribadi belajar banyak hal dari novel ini.
Amara, kehidupan kelam yang membuatnya nyaris gila, membuatnya menghindari yg namanya jenis laki-laki, gaun, teman, dan orang-orang disekitarnya, dan juga sulit utk mempercayai orang. Hingga pertemuannya dengan Ji Hwan dan perlahan merubah semua kebiasaan anti sosialnya Amara. Namun di balik kebahagiaan yg sedang nikmati oleh Amara, tb2 masa lalu datang dan menghancurkan segalanya, termasuk hubungannya dgn Ji Hwan.
So Ji Hwan. walaupun hidup di dalam sebuah keluarga yang rumit malahan sangat rumit. Tapi Ji Hwan tidak membuatnya itu beban atau dendam dgn kedua orang tuanya sendiri. Bagi Ji Hwan masa lalu biarlah berlalu, yg penting masa depan. Itulah yang selalu diyakinkan Ji Hwan kpd Amara ketika ia tahu bagaimana masa lalu Amara.
Sophia. Sahabat sekaligus orang paling bijak dan mengerti bagaimana kondisi yg sedang di alami oleh Amara. Karena Sophie pun punya masa lalu yang tak ;lebih kurang sama seperti apa yang di alami oleh Amara. Hanya saja org yg berbeda yg mengalami. Sophie yg selalu ada di samping Amara. Sophie yg selalu mendukung dan membantu Amara dengan sifat cerianya, membuat aku sbg pembaca sangat terhibur dgn interaksi kocak Sophia.
Brisha. Yg juga merupakan sahabatnya Amara. Yg juga selalu memberi support kepada Amara utk tidak menghindar tapi hadapi. SMensyukuri apa yg sudah di dapat. Brisha juga tdk lepas dr masalah yg menyakitkan. Punya pacar pencemburu buta, suka menyiksa sangat tidak menyedihkan memang.
Dan masih ada lagi rahasian2 kelam yg masih tersimpan rapi di dalam novel ini. Cerita ini sangat aku rekomendasikan utk kalian, semua kalangan. Ceritanya sangat menginspirasi siapapun yg membacanya.
Dan aku berharap semoga kita semua tetap dilindungi oleh Tuhan. Dan dilimpahkan kesabaran dan keteguhan hati yg luar biasa seperi So Ji Hwan dan melupakan masa lalu serta menikmati hidup seperti yg dilakukan oleh Sophie tanpa kita harus melihat kembali masa lalu yg tidak akan membawa perubahan apa pun, kl bukan dr perubahan dr diri kita sendiri.
Menurutku bahasanya agak kurang pas kalau ini untuk kalangan anak kuliahan. Apalagi mereka tinggal di ibu kota. Untuk Ji Hwan boleh lah kalau cara bicaranya dibuat baku karena dia darah campuran. Kadang jadi lucu aja pas lagi baca.
Dari segi isi cerita lumayan lah walau kadang jadi geli. Duh duh ada ga sih modelan Ji Hwan di dunia nyata??😂 Kalau ada aku juga maooo 😂😂😂
Aku baca novel ini karena penasaran sama cerita si Brisha. Kata orang-orang, ini cerita pertama, jadi aku baca ini dulu. Setelahnya baca cerita Sophie dan Brisha.
Lumayan lah untuk dijadikan hiburan pas lagi bingung mau ngapain di masa pandemi 😂👍
Novel ketiga Indah Hanaco yang kubaca. Sebelumnya pernah baca yang out of the blue, kebetulan temanku ada baca juga karya Indah yang flixing a broken heart, ternyata kisahnya berhubungan. Rasanya seperti menyusun puzzle, karena itu aku mencari satu novel lagi dari sudut pandang Amara (heartling), baru sekarang aku menemukannya. Harusnya kisah Amara ini yang pertama kubaca, kemudian Sophie dan Brisha. akhirnya lengkap sudah. Pertama kalinya aku membaca novel yang unik seperti ini, setiap novel berhubungan dan memiliki sudut pandang yang berbeda dari ketiga tokoh sahabat (Amara, Sophie, Brisha).
Lumayan oke ceritanya, walaupun masalahnya Amara memang cenderung berat, tapi penyampaiannya ringan. Tapi karena di awal, Amara setelah masuk kuliah lagi, dia digambarkan sebagai perempuan yang dingin, jadi agak kaget karena dia lumer ke Sophie-nya terhitung cepat. Perceraian orangtuanya juga ternyata nggak dijelasin alasannya, padahal penasaran banget. Oya, ada beberapa typo tapi nggak banyak, jadi ya, mari anggap sebagai human error.
Tidak spesial menurutku. Ceritanya datar, belum bisa membawaku untuk ikut terbawa suasana di novelnya. Tapi masih bisa dimaafkanlah, karena aku pernah membaca novel yg lebih buruk dari ini.
Kurang dibikin sreg sama cerita ini. Dibikin kesel iya sama si Amara nya, tokoh utama ceweknya. Paham sih dia punya masalah, punya masa lalu yg gelap, tapi entah kenapa ada beberapa bagian yang keliatannya terlalu lebay.
Amara diperkosa (tadinya gue pikir diperkosa itu dalam artian dia dipaksa2, baju nya dirobek2, badannya dicabik2 dan segalanya, tapi diperkosa disini ternyata dia dikasih obat tidur sama temen bae nya, trus baru deh "begituan") oleh Marcello temannya sendiri. Hal itu bikin dia trauma gk mau ketemu orang terutama cowok.. Setelah 1 tahun cuti kuliah, akhirnya Mara balik kuliah lagi. Dan dia kenalan sama Ji Hwan..
Ternyata, si Marcello ini adik tiri Ji Hwan. Jadi nya Mara dengan segala drama dia maki2 Ji Hwan, gk mau ngeliat mukanya lagi, bla bla bla.. Eh gk lama dia kangen sendiri sama si Ji Hwan. Aelahh..
Gimana yaa, banyak aja gitu kejadian yang terlalu lebay, apalagi sama sikap si Mara ini.. Dan puheliisss, gk suka dengan istilah "sahabat" antara Mara dan teman2 nya. Karena nyata nya mereka tiap ada apa2 disimpen sendiri tanpa cerita ke orang yg katanya "sahabat". Bahkan pas Mara pacaran sama Ji Hwan aja dia gk bilang sama orang yang dia sebut "sahabat". Begitu juga dengan "sahabatnya" Mara, yang udah jadian sama cowok tp diem2 aja.. Itu namanya "sahabat" ya?? Yakalii namanya sahabat lo punya cowok aja gk mo cerita.
🍭 Setelah satu tahun bersembunyi dalam gua yang diciptakannya sendiri, Amara Kameli memulai kembali aktifitasnya sebagai mahasiswi. Meski sedikit demi sedikit pulih karena kehadiran Sophie dan Brisha, namun Amara masih menyimpan luka pada lawan jenis, dan itu berdampak pada perilakunya terhadap Ji Hwan. . 🍭 Seo Ji Hwan, pria yang ketampanannya gak kalah sama oppa-oppa idol Korea, pintar masak, jago komputer dan punya dua dimple manis. Kesabaran Ji Hwan untuk bisa menjadi bagian hidup Amara patut diancungi jempol 👍 dan kata-kata Ji Hwan juga buat aku diabetes 😍 . 💝 "Aku kan pernah bilang, Heartling, kalau berurusan tentang kamu, aku keras kepala. Aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah. Aku benar-benar jatuh cinta padamu." - Ji Hwan. 💝 Melting gak lo?? 😍 . 🍭 Tahun kemarin udah baca ini tapi di re-read supaya bisa di review bareng Hearling dan Out of the Blue. Aku tetap suka konfliknya yang greget dan bagaimana persahabatan mampu memperbaiki luka seseorang. Huf, I miss my besfriends 😢 . 🍭 ada sedikit typo yang kurang huruf tapi its okay, its still a lovely book 😊 . 🌟 3.6/5 .
Judul Buku : Heartling Penulis : Indah Hanaco Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Editor : Irna Desain sampul dan isi : Iwan Mangopang Harga : Rp 50.000,- Jumlah Halaman : 256 hlm ISBN : 978-602-03-1592-8 Sinopsis : Monster! Bagi Amara, monster itu bernama Marcello. Monster dengan kenangan-kenangan buruk. Cowok. Sahabat. Gaun. Pemerkosaan. Rumah sakit. Amara tidak lagi menginginkan hal-hal itu hadir di hidupnya.
Seakan takdir belum puas mengolok-olok Amara, monster itu tiba-tiba muncul menganggu hubungannya dengan Ji Hwan. Tepat ketika dia berusaha membuka hati.
Apa yang harus Amara lakukan?
***
“Tragedi kadang membuat orang lebih cepat matang dibandingkan seharusnya.” – hlm 152
Firstly, thanks to Mba Indah Hanaco yang sudah mengirimkan Heartling ke saya. Jujur saja, ketika tahu buku ini diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, selama membaca Heartling saya hanya terfokus pada kekurangan-kekurangan di buku ini. Read more at http://www.umimarfa.web.id/2015/09/he...
Novelnya kak Indah kedua yang selesai aku baca, setelah "You Had Me at Hello".
Tidak seperti You Had Me at Hello yang aku beri rating bintang 3, Heartling terpaksa aku beri dua bintang saja.
Dari dua novel yang aku baca ini--yang dua-duanya omong-omong aku pinjem di iJakarta--, aku masih merasa ... belum terlalu menyukai novelnya kak Indah. Padahal ada satu novelnya di rak yang telah beberapa bulan belum ada keinginanku untuk membacanya.
You Had Me at Hello was okay, walaupun ada bagian di mana aku merasa sangat bosan membacanya, karena novel itu semua jalan ceritanya "diceritakan" bukan dialami langsung.
Walaupun seharusnya aku bisa menyukai Heartling karena tema yang diambil cukup oke menurutku. Tapi ternyata... Heartling belum cukup untuk benar-benar menarik perhatian. Menurutku semuanya seperti... tanggung. Aku tidak akan bercerita lebih lanjut karena takut spoiler.
Saranku sih kalo memang ingin mengoleksi novel ini, sebaiknya numpang baca dulu di iJakarta. Jika kalian memang benar-benar menyukainya, baru silakan beli. Saranku aja sih hehe ^^
Tiap orang punya cara tersendiri untuk mengatasi rasa bersalahnya kan? Ada yang mengabaikan terang-terangan, ada pula yang tersiksa dan merana karenanya, seperti Amara. Hlm 5
Amara Kameli, pemilik paras cantik, mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi. Dulu, ia adalah gadis normal. Tidak kaku, punya banyak teman, tidak menganggap laki-laki sebagai monster yang mengerikan. Semua berubah, saat .. teman baik yang disayanginya, Marcello ...... memperkosanya.
Hidup Amara jungkir balik. Setahun lamanya, ia diasingkan. Menyiksa diri dengan serangkaian olahraga berat dan perasaan tertekan. Saat kembali ke kampus, ia menutup diri. Dari teman lamanya, Brisha Serenade. Dari semuanya. Tapi ada gadis gigih yang seolah betah menempel di sisi Amara. Berkat kegigihannya, gadis itu berhasil menjadi sahabatnya. Ia adalah Sophie Lolita. Gadis riang yang seolah tanpa masalah.
Membenci seseorang cuma membuat jiwaku sakit. -- hlm 151
Untuk apa meributkan sesuatu yang tidak bisa kita ubah? Bukankah itu cuma akan membuat frustasi? -- hlm 162
Ketakutan, keinginan untuk kabur dan bersembunyi, serta berbagai perasaan kelam yang ditutupi sedemikian rupa pada akhirnya membawa Amara pada persahabatan yang erat dengan Sophie dan Brisha.
---
Kompleks banget. Selalu suka dengan novel yang menyangkut masalah sosial. Dan gak nyangka twist-nya bikin merinding. Remaja 20 tahunan dengan hidupnya yang ---kalau aku bilang sih--sadis, tapi tetap bertahan. Keren banget pokoknya. Ini belum dijadiin film, ya? Walau memang ada beberapa tanda tanya yang tidak terjawab, tapi karena pada dasarnya fokus cerita antara Amara dan ketakutannya itu, cerita di sini sudah pas. Dengan nilai moral yang sepertinya menyiratkan jangan takut dengan masa lalu, karena pada dasarnya masa depan akan lebih baik jika dihadapi dengan berdamai dari semua ketakutan itu.
Novel Heartling ini tentang Amara yangpunya masa lalu, yang selalu neror hari-harinya. Dia pernah dilecehkan oleh pemuda *tsaah pemuda* bernama Marcello.
Amara terus menutup diri. Sampai akhirnya datang Sophie yang ceria, yang membuatnya membuka diri. Terus mereka bertemen. Ditambah lage sama ada Brisha, teman lama si Amara, yang juga ikut khawatir selama Amara "menghilang" dari kampus.
Ya, gitulah. Amara selalu benci laki-laki... Tapi sampe dia ketemu Ji Hwan! Semuanya berubahh book! ;)
Ceritanya sih oke ya, tapi agak tersendat bacanya coz bahasanya agak sulit. Kurang ngalir aja gitu buat gue. Karakter Amara juga ga loveable, begitu pula Ji Hwan. Tapi yang gua suka dari novel ini, alurnya rekat *maksud looooohhh?* Apa ya istilahe... Gitu dey pokoknya.
Novel ini sebenarnya memiliki tema yang luar biasa. Mengangkat kehidupan korban kasus pemerkosaan dan bagaimana beratnya korban pemerkosaan untuk kembali move on dan menghadapi masa depan. Mba Indah memilih menggambarkan Amara sebagai sosok yang kuat, walaupun ketakutaannya tetap membayangi hingga ia kembali menekuni aktivitas di kampus sebagai mahasiswi. Ketakutan itu juga yang membuat jurang begitu dalam antara Amara dan teman-temannnya yang dahulu. Membuat Amara menjadi gadis penyendiri, tidak percaya diri dan takut pada cowok. Walaupun cowoknya sekece Pak Reuben dan Seo Ji Hwan *plak*
Setelah membaca beberapa novel mbak Indah Hanaco, baru kali ini saya nggak bisa ngasih bintang 3. Yang ini 2.5 saja ya :') Soalnya setelah tiba di ending masih merasa ada yang kurang. Masih penasaran sama si Marcello yang cuma muncul sebentar. Apa alasan dibalik pemerkosaan yang dia lakukan, padahal dia sama Amara kan udah temenan sejak lama. Kok bisa setega itu. Apa karena ngebet pingin minta segera dinikahkan atau apa, yang ini belum terjawab. Meskipun yang lainnya cukup memuaskan.
Berawal dari gak sengaja beli novel bekas yang judulnya Out of The Blue, setelah baca sinopsisnya...otomatis cari deh di iPusnas yg berjudul Heartling. Setelah dapet e-book nya langsung kubaca karena penasaran.
Novel ini tuh nyeritakan kisahnya Amara tentang masa kelamnya & masa yang sedang dia hadapi saat ini.
By the way, kukira Heartling tuh kosakata baru yang gaul gitu. Ternyata setelah kucari tahu di GT artinya "melegakan" 😄😆
Karakter dan konflik nya kuat. Alurnya mengalir dan ringan. Aku jatuh cinta sama Ji Hwan, romantis dan penyabar. Beruntung banget Amara bertemu dengan Ji Hwan. Baca reviewnya di sini yukk... http://hotarubookstory.blogspot.co.id...