Teror ramah kepada nurani kita, tentang berbagai isu sosial yang menggerogoti keseharian kita, membantu kita meletakkan segalanya dalam perspektif keadilan sosial.
Saya pikir ini salah satu dari komik lokal yang lantang meneriakkan protes. Dahsyat. Cukup terbayang mengapa karya mas Aji Prasetyo pada thn 2010 diboikot oleh "suatu gerombolan".
Yang saya kagumi protes beliau tidak hanya berhenti pada opini lewat media komik. Beliau juga aktif dan bergerak di lingkungan nyata. Pembubaran deklarasi dukungan terhadap ISIS adalah salah satu bentuk aksinya. Silakan simak kecadasan mas Aji lewat lembar-lembar komik ini.
Membaca buku (komik) ini bisa membangkitkan emosi. Entah itu emosi kemarahan, rasa malu, atau mungkin jijik dengan borok negara ini yang sudah jelas bau tapi masih selalu berusaha ditutupi. Mas Aji merangkai permasalahan sehari-hari menjadi komik dengan segala hiperboliknya, menjelaskan dengan sejelas-jelasnya apa yang salah dengan kondisi negara ini sekarang. Wajarlah kalau buku sebelumnya sempat dicekal, dan saya agak curiga kalau buku ini sengaja di "jinakkan" supaya penyebarannya lebih merata dan semua orang bisa mendapat akses ke buku hebat ini tanpa harus kucing-kucingan dengan para ormas dan mungkin pemerintah. Buku yang luar biasa. Komik yang sangat tidak biasa.
Setelah membaca Hidup Itu Indah, Teroris Visual masih perihal yang sama adalah bagaimana Mas Aji mengekspresikan opininya dengan lihai dan elegan, menuangkannya dalam gambar/visual. Namun walau halamannya terlihat lebih tipis, buku ini menurut gw step up dari buku sebelumnya.
Buku ini menurut gw lebih enak dibaca, fokus pada visual yang padu dengan teks dan terlihat mas Aji menggunakan berbagai jembatan adegan untuk menjelaskan satu topik terlihat lebih mengalir dibanding karya Mas Aji sebelumnya. Topik-topik yang diangkat juga lebih kena, relevan, sehingga tepat rasanya judul ini memakai nama Teroris Visual, bukan hanya dikarenakan bab pertamanya yang berjudul demikian, tapi lewat gambar, Mas Aji menerror kita dengan prespektif yang tak terbantahkan tentang nilai-nilai normatif yang patut dipertanyakan misal mengenai agama, kedudukan wanita, hiburan, dan segala hal yang kamu lihat sehari-hari. Kita di sini diajari betapa nilai-nilai kemanusiaan kerap kali direndahkan yang anehnya begitu kasat mata, dan bagaimana kita kemudian tidak menjadi resah ketika mengetahui semua hal itu? Kan perasaan ini sama seperti terror, tentu dalam artian yang lain wkwk.
Mas Aji benar-benar berani dalam menyuarakan kritiknya tentang isu-isu sosial yang banyak orang memilih untuk diam. Kritik dan opini yang dituang lewat media komik ini mampu membuat saya terkagum-kagum sambil dibuat termenung.
Mas Aji ini memang teroris betulan. Tapi teroris hati nurani para pembacanya.
Di setiap lembar komiknya dia terus saja mengusik hati, emosi, nurani, batin, dan pikiran saya. Mas Aji memaparkan "kenyataan-kenyataan" yang ada dengan gamblang, dan niscaya akan bikin kita depresi serta putus asa dengan kondisi negeri ini jika saja Mas Aji tidak menyertainya dengan humor dan sindiran yang jenaka namun menyentil.
Setelah membaca buku ini saya jadi sempat merenung sejenak (sebuah efek yang masih saya yakini sebagai tanda dari karya bagus), memikirkan bagaimana saya bisa memberi kontribusi yang lebih baik bagi masyarakat, sebelum jatuh dalam kemarahan kepada diri sendiri ketika menyadari bahwa saya takkan bisa seberani Mas Aji. Dan, untuk keberaniannya itu, saya salut pada Mas Aji.
Buku ini sukses bikin saya senyum-senyum dalam perjalanan pulang kantor di kereta. Kritik yang menggelitik. Part favorit dalam 'Wanita Berdaya dan Mulia'. Nggak kepikiran selama ini dengan petikan Aji di buku ini "dengan cara berfikir seperti ini, maka Tuhan pun ternyata bias gender". Mengingat sudah banyak iming-iming "di surga nanti, kita akan dikelilingi bidadari cantik, surga yang dialiri anggur nikmat,..."