Jump to ratings and reviews
Rate this book

Take Off My Red Shoes

Rate this book
Atha
Aku hanyalah seorang gadis yang terlalu lama memendam kesunyian. Hanya dua hal yang paling kuinginkan dalam hidupku. Mendapat tempat yang sama seperti Alia, saudara kembarku. Dan mendapat perhatian dari Ares, kakakku yang sempurna. Aku tak pernah ingin menyingkirkan siapa pun.

Alia
Aku memiliki semuanya. Memiliki semua yang tak dimiliki Atha. Mama dan Ares menyayangiku lebih dari segalanya. Tapi, ada seseorang. Dia satu-satunya orang yang selalu berada di samping Atha. Apakah salah jika aku ingin memilikinya juga?

Ares
Aku menyayangi kedua adikku dengan caraku sendiri. Dengan cara yang salah. Saat aku menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Salah satu dari mereka menempuh jalannya sendiri dan akhirnya tersesat.

Kegan
Ada seseorang yang mengacaukan pikiranku. Seorang gadis bersepatu merah yang aneh. Kau tak akan pernah tahu apa yang ada dalam pikirannya. Tapi yang kutahu, sejak awal mengenalnya, matanya tak pernah berhenti menatap Ares, kakak lelakinya yang sekaligus adalah sahabatku sendiri.

240 pages, Paperback

First published June 15, 2015

8 people are currently reading
158 people want to read

About the author

Nay Sharaya

4 books86 followers
Lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan tanggal 26 April 1989 dan saat ini bertempat tinggal di Bandung.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
35 (17%)
4 stars
94 (46%)
3 stars
66 (32%)
2 stars
9 (4%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 79 reviews
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews298 followers
September 23, 2015
review lengkap http://www.kubikelromance.com/2015/07...


Natasha dan Athalia adalah saudara kembar tidak identik yang sedari kecil tinggal di panti asuhan, tanpa tahu siapa orang tua yang sesungguhnya, Atha hanya samar dengan ibu yang meninggalkan mereka berdua. Atha lebih pendiam daripada Alia yang ceria, Alia lebih banyak teman dan Atha lebih suka bermain sendirian atau hanya dengan Alia saja, hubungan mereka sangat dekat, saling memiliki satu sama lain. Ketika panti mendapatkan sumbangan bertepatan dengan ulang tahun si kembar, mereka mendapatkan hadiah dari pengurus panti, sebuah buku dongeng tentang sepatu merah yang diberikan kepada Atha karena dia suka membaca, sepasang sepatu merah dihadiahkan kepada Alia karena dia cantik seperti putri. Namun Atha berharap dialah yang mendapatkan sepasang sepatu merah yang menawan, Alia menyadari hal tersebut dan berjanji mereka akan berbagi, Alia akan meminjamkan sepatunya, dan Atha gantian meminjamkan buku dongeng. Tetap saja sepatu itu bukan milik Atha.

Lalu suatu hari ada sepasang suami istri dan seorang anak lelaki mengunjungi panti, mereka berniat mengadopsi seorang anak gadis, sebagai pengganti anak gadis mereka yang baru saja meninggal. Anak lelaki bernama Ares itu sangat senang bertemu dengan Alia, belum pernah terlihat bahagia sejak ditinggal pergi selamanya oleh Aurelia, adiknya tersayang. Alia sangat mirip dengan adik Ares, raut wajah dan caranya tertawa membuat kerinduan Ares dan ibunya terobati. Tapi mereka hanya ingin mengadopsi seorang anak gadis, bukan sepasang anak kembar. Atha menyadari kalau dirinya akan berpisah dengan saudara satu-satunya, dia akan semakin kesepian dan setiap hari sebelum kepergian Alia dia selalu menangis. Alia berjanji akan memberikan sepatu merah kesayangan miliknya, dan seketika itu juga kesedihan Atha hilang. Tidak lama setelah kedatangan yang pertama, kedua pasangan suami istri tersebut memutuskan untuk mengadopsi kedua gadis kembar tersebut.

Atha begitu terkejut dan senang mendapatkan dongeng tentang sepatu merah dalam buku bacaan yang dihadiahkan padanya. Gadis bersepatu merah yang sangat beruntung, ia bahkan mendapat seorang ibu yang bersedia merawatnya. Akan sangat menyenangkan kalau ia dan Alia juga seperti gadis itu.
Sejak saat itu, Atha mulai melihat sepatu dan warnanya yang mengagumkan itu sebagai sesuatu yang harus ia miliki. Harus selalu ia miliki. Kalau bukan sekarang, mungkin suatu hari nanti.


Obsesi Atha terhadap sepatu merah tidak berhenti begitu saja, beranjak remaja dia tetap sangat menyukai warna merah, bahkan beranggapan kalau sepatu merah akan membawanya kepada sebuah keberuntungan, seperti dalam dongeng, dia akan mendapatkan ibu yang sangat menyayanginya. Namun itu hanya impian semata, nyatanya keluarga barunya hanya menyayangi Alia, terlebih Ares. Alia selalu menjadi yang utama, anak kesayangan, dan Atha merasa dirinya ikut diadopsi karena Alia yang menginginkan, karena dulu mereka tak terpisahkan. Atha sering sekali menarik perhatian agar ibu dan kakak lelakinya sekali saja memandang dirinya, tapi tidak pernah, dia selalu menjadi yang kedua, setelah Alia.

Kesenjangan kasih sayang yang didapat Atha juga dirasakan oleh Kegan, sahabat Ares dan tetangga mereka. Ares jarang sekali memperhatikan Atha, lebih peduli kepada Alia, Ares rela menunggu Alia yang pulang terlambat, tidak mau menunggu Atha apabila dia ada latihan cheers. Dan banyak lagi pilih kasih antara Atha dan Alia, membuat Kegan penasaran sebenarnya ada apa dengan keluarga mereka? Terlebih Atha sangat berusaha ingin diperhatikan Ares, dibuat bingung oleh Alia kalau Atha tidak bisa dipercaya, selalu membenarkan kebohongan-kebohongan yang selama ini dia lakukan, tidak pernah sadar kalau berbohong. Ada rahasia apa tantang Atha?

"Kenapa merah?"
"Karena merah selalu terlihat menarik. Selalu menonjol di mana pun dia berada dan kamu nggak perlu kesulitan nemuin dia walaupun berada di tengah-tengah orang asing."


Saya belum pernah membaca dongeng Sepatu Merah karya Hans Christian Andersen, sebuah dongeng klasik yang di retelling oleh Nay Sharaya kedalam Take off My Read Shoes. Membaca sekilas dongeng tersebut di buku ini, memberikan sedikit gambaran bahwa ceritanya tidak berakhir bahagia, kelam dan memiliki pesan bahwa sebuah obsesi yang berlebih akan membahayakan diri sendiri. Sama seperti obsesi Atha terhadap sepatu merah, yang menyebabkan ia selalu mempercayai apa yang dia inginkan, tidak peduli apakah keinginannya itu baik atau buruk. Ketika membaca prolognya, saya sangat tertarik sekali, membuat saya penasaran. Terlebih beberapa kali penulis mengeksekusi kalimat penutup dengan bagus sekali, menambah rasa penasaran, menambah emosi pembaca. Contohnya kalimat berikut yang menjadi penutup di prolog:

"Temannya Alia ikut juga, Ma?" tanya Ares tak mengerti seraya menatap Atha seperti orang asing.


Sejak pertama penulis langsung membuat saya tertarik akan tokoh Atha. Saya sangat tersentuh, emosinya dapat sekali, penulis sukses membuat karakter Atha, seseorang yang tidak diinginkan dan berharap mendapatkan perhatian dari orang yang dia sayang. Banyak adegan miris, terlebih yang dilakukan Ares terhadap Atha. Tidak jarang saya merasa geregetan dan capek hati melihat perlakuan keluarga Atha, mengganggap Atha sebagai orang luar. Banyak adegan yang akan membuat kalian berempati kepada Atha, salah satunya adalah ketika Mama mereka memasak makanan kesukaan Ares dan Alia yang kebetulan sama, dalam rangka Ares mendapatkan jadwal manggung di acara radio dan Alia masuk nominasi sepuluh besar lomba fotografi, padahal di saat yang bersamaan Atha terpilih menjadi anggota cheers dan Mamanya tidak akan tahu kalau saat itu Atha tidak bilang, Mamanya tidak tahu apa makanan favorit Atha, tidak tahu apa yang disukainya. Jleb banget deh adegan itu. Dan masih banyak adegan jleb lainnya.

Selain Atha, tokoh favorit saya di buku ini adalah Kegan, orang yang sangat memperhatikan Atha selain Narendra, teman di klub fotografi Kegan yang naksir Atha, bahkan sempat mengirimkan surat cinta. Saya suka interaksi mereka berdua, setidaknya mengobati luka hati karena Atha selalu dicuekin Ares, orang yang sangat mengerti Atha, bahkan beberapa keganjilan yang baru disadari Kegan di bagian akhir, tidak membuat dia langsung meninggalkan Atha. Saya tidak akan membahas Ares ataupun Alia, bikin emosi saja, hahahaha. Saya juga cukup puas dengan endingnya, walau masih khas dengan buku-buku sebelumnya, yaitu cepat sekali, setidaknya ada sesuatu yang manis sebagai penutup cerita yang sepanjang jalan cerita cukup kelam, tidak ada rasa bahagia untuk Atha.

Saya melihat semakin kesini tulisan Nay Sharaya semakin berkembang, sudah semakin mulus, tidak melupakan detail penting berhubungan dengan twist yang ingin dia suguhkan. Ciri khas penulis adalah selalu membumbui cerita dengan unsur psikologi lewat karakter tokoh utamanya, sehingga selalu terlihat menarik. Awalnya saya tidak tahu, baru ketika Ameera muncul, twist mulai kelihatan, saya menyadari bersamaan dengan Kegan yang juga merasakan ada yang aneh dengan Atha, penulis cukup rapat menyimpan rahasia tentang diri Atha sebenarnya. Sedikit kekurangan adalah penulis kurang detail menyangkut psikis Atha, saya masih penasaran apakah Atha memiliki ganguan psikologis yang sangat parah? Apa nama penyakitnya? Berbeda dengan Me(Mories) yang dijelaskan cukup gamblang oleh penulis, di buku ini hanya dijelaskan seperlunya. Mungkin memang bukan tentang kondisi psikis Atha yang ingin ditekankan penulis, lebih kepada perasaanya, dia ingin diterima, tidak dianggap orang asing oleh keluarganya sendiri, dan penulis sangat sukses menunjukkannya.

Buku ini bercerita tentang sebuah obsesi yang apabila tidak dipupuk dengan baik, akan mengarah ke hal yang buruk, tentang proses penerimaan, tentang seorang anak yang merindukan kasih sayang seorang ibu, tentang seorang adik yang ingin diperhatikan kakaknya.

Recommended bagi yang ingin baca retteling, cerita keluarga yang cukup dark.
Profile Image for Wardah.
954 reviews172 followers
January 27, 2016
3.5 bintang.

Alasan pertama saya membaca Take Off My Red Shoes adalah fakta bahwa novel ini didaskan pada sebuah dongeng. Saya pribadi sudah lupa sama dongengnya, meski sepertinya dulu pernah saya baca sih. Namun, cerita yang terinspirasi dari sebuah dongeng itu selalu punya daya tarik sendiri.

Selama membaca, saya selalu menebak-nebak. Penulis selalu membuat saya menebak-nebak. Juga membuat saya sebal sama Ares karena pilih kasih. Juga membuat saya berspekulasi atas perasaan Atha. Juga soal Kegan, si tetangga mereka dan sahabat Ares. Banyak sekali hal yang misterius di novel ini.

Pada awalnya, saya pikir novel ini akan berakhir standar. Roman segitiga, kisah keluarga yang pilih kasih, saudara kembar yang tidak merasakan kasih sayang yang sama, dll. Namun, ternyata tidak. Saya memang pada awalnya membenci karakter Ares dan Mama, juga tidak bisa simpati sama Alia. Namun, pada akhirnya saya tidak bisa membenci mereka. Banyak hal penuh misteri yang bergulung-gulung di novel ini dan baru terjawab di akhir. Ada banyak kebohongan di novel ini.

"Tapi kebohongan Atha beda."
"Beda apanya? Yang namanya bohong di mana-mana sama aja."
"Nggak, Ega. Atha berbeda, dia percaya dengan kebohongannya." (h. 166)


Inilah kenapa saya bisa bilang bahwa Take Off My Red Shoes punya konflik yang tidak bisa ditebak. Saya yakin bahwa pembaca akan mengalami hal yang sama. Nay Sharaya berhasil meruntuhkan ekspektasi saya soal novel ini yang saya-pikir-bakal-standar.

Yah, saya merekomendasikan novel ini bagi yang suka cerita yang didasari pada dongeng. Juga bagi mereka yang suka kejutan. Review lengkap bisa dibaca di sini.
Profile Image for Aso.
214 reviews45 followers
July 30, 2015
4,5/5 bintang

Saya menyesal menunda nunda untuk menyelesaikan membaca buku ini, 50% di awal buku ini bagi saya sedikit off, membosankan dan dramanya agak dipaksakan. Saya kurang terkoneksi dengan karakter dalam ceritanya.

Tapi, memasuki 50% kedua, that's where shit hit the fan. Hahaha kita baru sadar how messed up kondisi kejiwaan si Atha itu. Saya Sangat berharap kondisi Atha lebih dijelaskan lagi, kalo bisa banyak menyinggung ke ilmu psikologinya. Tapi, sudah bagus, sisa digali lebih dalam karakter-karakternya.

Dan, hats off buat Nay, dari awal sampai akhir memberikan pembaca clue-clue yang menyesatkan. Nay, menggiring kita ke arah yang sesat dalam menebak-nebak kelanjutan plotnya. Saya beberapa kali tertipu. Well done, girl.
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
December 3, 2015
Sejak awal melihat cover novel ini, aku sudah memasukkannya dalam wishlist bacaanku. Alhamdulilah, ternyata aku berjodoh dengan buku ini, tawaran untuk mereview buku ini langsung datang dari sang penulis.

Awalnya tertarik karena cover yang lumayan "eye-catching" dan sinopsis yang cukup menggoda, ternyata setelah membaca novel ini, aku lumayan kaget, sinopsis yang ada tidak menggambarkan keseluruhan cerita. Ini bukanlah tentang cinta biasa, tetapi lebih ke sebuah obsesi yang tidak terkendali lagi...

Novel yang terinspirasi dari dongeng "Sepatu Merah" ini menjadi daya tarik sendiri, aku dibuat bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan sosok Atha, mengapa dia diperlakukan berbeda dengan Alia, saudari kembarnya sendiri? Mengapa Ares, kakaknya dan mamanya seakan tidak peduli dan menutup mata. Nay mampu membuat cerita ini perlahan-lahan menuju klimaks, ketika semua terungkap, aku dibuat terkejut.

Walau mungkin aku seperti pembaca lainnya, yang sedikit terkecoh dengan sinopsisnya, tetapi aku bisa merasakan semua perasaan dan emosi yang bergejolak dalam sosok Atha. Tetapi aku kurang mendapatkannya di sosok tokoh lainnya. Ah, endingnya kok hanya segitu doank sey, pengen lebih panjang lagi (pembaca banyak maunya)..^^

Memang masih ada beberapa kesalahan ketik sepanjang aku membacanya, dan kadang-kadang aku bingung dengan siapa tokoh yang sedang berbicara, tetapi secara keseluruhan aku menikmati proses membaca novel ini. Novel ini menjadi perkenalan yang manis untuk karya penulis dan gak ragu untuk membaca karya lainnya.

Kalau kamu pengen membaca novel yang kompleks, tidak hanya cinta, tetapi juga ada unsur psikologis dan sedikit dongeng masa kecil, yuk cobain baca karya terbaru Nay ini, dijamin kamu akan larut dengan kisah Atha, Alia, Ares dan Kegan^^

Review selengkapnya secepatnya akan meluncur diblog ya^^
Profile Image for Zulfy Rahendra.
284 reviews76 followers
December 1, 2016
"Apakah mencintaiku tidak menyenangkan?"

Direkomenin temen psikolog yang picky soal buku bacaan (terutama karya penulis dalam negeri), dan benar saja, BAGUS BANGET!!!

Saya bukan psikolog, sama sekali mbuh dengan isu yang dihadapi Atha, walaupun saya tau dan beberapa kali baca buku tentang kondisi serupa. Saya jadi ga bisa komen soal psikologisnya Atha. Saya cuma bisa komen betapa buku ini sukses ngacak-ngacak perasaan saya. Nangis aja dong. Di kantor pun. Ketauan satpam pula pas dia ngasih paket. Memalukan.

Sedih miris banget sama kondisinya Atha, gimana dia diperlakukan, gimana orang-orang yang mengenalnya kemudian menerima akibatnya. Paham juga gimana nganunya konflik batin orang-orang terdekatnya, gimana Mama dan Ares ngerasa segimana bersalahnya. Dan bahkan saya ngerti kalo Atha pada akhirnya memilih menjaga jarak. Dapet banget emosinya. Suka juga karena pemilihan POVnya kebanyakan Atha. Bikin cerita ini jadi ada twistnya, walaupun sebenernya ketebak karena terspoil pas direkomenin. Tetep aja, suka banget!
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
July 29, 2015
Lo ngga berhak marah sama orang yg cinta sama lo, seburuk apapun dia


Athalia dan Natasha adalah sepasang gadis kembar. Meski demikian, keduanya amat berbeda, kecuali jika kamu melihat sekilas wajah mereka maka akan kamu temukan kemiripan di sana. Lainnya, sama sekali berbeda. Alia seorang gadis yang supel, suka jalan-jalan, dan banyak memiliki teman. Sedangkan Atha lebih pendiam, jarang bergaul dan cenderung menyimpan perasaannya sendiri. Kedua gadis ini diadopsi oleh sebuah keluarga dengan satu anak lelaki bernama Ares. Sebenarnya mereka hanya ingin mengadopsi Alia tetapi entah bagaimana Atha tetap ikut serta juga, sehingga jadilah keduanya diadopsi bersamaan.

Buku ini bercerita ketika Ares dan kedua adik adopsinya bersekolah di SMA. Alia dan Atha tidak sekelas, sedangkan Ares satu tingkat di atas mereka. Suatu hari, Atha melihat sepatu cheerleaders yang berwarna merah manyala, dan timbul keinginan kuat untuk bisa memiliki dan menggunakan sepatu itu. Ternyata Atha memang berambisi dengan barang barang yang berwarna merah, ia bahkan memiliki tempat khusus untuk menyimpan barang barang berwarna merah koleksinya. Sejak itu ia bersemangat untuk mendaftar sebagai anggota cheerleaders, tanpa memberitahu Alia ataupun Ares tentang ambisi di balik rencananya tersebut.
Nah ternyata, ada yang janggal dalam ambisi Atha maupun tingkah laku antara dia dan keluarga angkatnya… Apaan? Nah, baca aja ya XP
Buku ini nggak terlalu berat sih ceritanya, jadi bisa selesai dalam waktu yang singkat, saya bahkan hanya butuh waktu 3 jam untuk menyelesaikan ceritanya. Alurnya cepat, meski dialognya di beberapa bagian agak kaku, plus typo yang membuat saya gatal pingin protes, tetapi saya bertahan untuk menyelesaikannya. Kenapa? Karena si penulis pinter bener deh menggiring pembaca berasumsi yang macam-macam. Udah gitu konfliknya nggak terlau terlihat di awal, karena tadinya saya piker palingan ini kisah roman biasa, semacam cinta segitiga atau persaingan antar saudara. Lha ternyata, sampai ke belakang, saya baru sadar kalau konflik yang ada jauh lebih kompleks daripada itu tadi.

Tetapi ada beberapa hal yang saya kurang puas saat menutup lembar terakhir bukunya. Konflik yang dibangun jauh lebih panjang daripada penyelesaiannya yang saya harus puas karena nggak kelihatan tahapannya. Diceritainnya hanya secara garis besar doank gitu deh. Udah gitu agak ganjil juga sama tokoh Keyra, ini cewek muncul sebentar dan secara tiba-tiba. Si Alana juga di akhir cerita sempat membuat kening saya berkerut, loh kok jadi mantunya si itu, bukannya dia sama si ini. Mungkin karena novelnya kepanjangan, lalu jadi dipaksa dipotong ya? Terus kenapa namanya nggak Natasha dan Nathalia? Kenapa malah Athalia dan Natasha? *banyak protes* X))

Secara keseluruhan sih, saya suka, apalagi karena ini cerita yang terinspirasi dari dongeng. Duh ajdi gatel pengen baca novel serupa yang lainnyaaaa.
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
January 22, 2016
Retelling lagi! Senang rasanya bisa baca kisah daur ulang dongeng khas penulis negeri sendiri. Jadi tambah ingin baca Beautiful Liar yang katanya mengadaptasi Si Kancil!

Take Off My Red Shoes mengangkat dongeng HCA yang berjudul kurang lebih sama, The Red Shoes. Ceritanya tentu seputar sepatu merah yang kelam, dibumbui unsur psikologi yang hmmm... membuat pembaca terkejut. Saya pribadi sudah menebak-nebak rahasianya sejak bab-bab pertama (dan benar!), tapi tetap saja lanjut membaca karena bahasanya yang empuk.

Kekuatan novel ini berada pada detailnya. Hal sekecil apa pun dipertimbangkan matang-matang sehingga berpengaruh pada kejadian selanjutnya atau emosi yang mau diaduk. Makanya saya sebagai pembaca mampu berempati dengan Atha, apalagi perspektifnya juga mengambil dari dia. Hanya karena sebuah jawaban kita bisa tahu perlakuan tak adil dari Ares dan Mama juga Alia, saudara kembar Atha sendiri. Pokoknya dalam membangun semua detail itu saya angkat dua jempol untuk Teteh penulisnya.

Cerita ini juga berhasil mengambil elemen dongeng yang penting dan disatukan dengan tema utama. Alurnya, konfliknya, sampai akhir ceritanya. Biasanya saya akan lebih menikmati retelling yang mengambil intisarinya saja dan mengubah seluruh semestanya, bahkan ada yang sampai gender-bender. Itu akan lebih seru ketimbang straight retelling. Saya temukan itu di sini.

Saya cuma sempat bingung di pergantian adegan, misalnya ketika Kegan sedang berjalan lalu ia teringat percakapan dengan Atha beberapa hari lalu. Seharusnya itu menjadi flashback, tapi karena formatnya sama (tidak dibedakan dengan adegan utama) saya mengira Kegan sedang berbicara dengan Atha, bukan sedang berpikir. Akhirnya juga cenderung terburu-buru, inginnya sih melihat interaksi Atha dengan psikiaternya, hehe.

Agak conflicted ketika harus memberi rating, karena saya kagum dengan detailnya juga premisnya, tapi saat membaca entah mengapa sering dibuat bingung. 3.5 bintang!
Profile Image for Just_denok.
366 reviews7 followers
October 27, 2015
Ide nya mengingatkanku akan ide cerita yang melintas di kepalaku saat SMA. Tentang saudara kembar, cewek dan mendapat perlakuan berbeda dari sang ibu. Cuma disini cerita yang mbak Nay bikin lebih ke arah psikis dari tokoh utamanya, Atha.

Cerita ini menceritakan tentang Atha. Ia adalah saudara kembar dari Alia. Semenjak diangkat oleh keluarga baru dai panti asuhan, Atha memiliki sikap yang cenderung aneh. Ia sangat terobsesi dengan warna merah dan dongeng sepatu merah. Di keluarga angkatnya, Atha mendapat perlakuan yang berbeda dengan Alia. Atha sadar ia tidak mendapat kash sayang yang sama dengan Alia, tapi Atha memilih untuk membohongi dirinya sendiri atas sikap yang ia peroleh dari keluarga angkatnya. Yang Atha tidak sadari adalah, sikap menipu hatinya sendiri malah menyebabkan kekacauan untuk dirinya juga orang2 disekitarnya.

Di awal cerita aku sangat bersimpati kepada Atha. Kasih sayang yang tidak adil dari pengurus panti, mama angkat dan Ares pada Atha, membuatku miris saat membacanya. Yang aku sayangkan, di novel ini hanya diceritakan mengenai alasan mengapa Atha melakukan hal2 aneh tersebut. Juga dampak atas sikap yang dilakukan Atha sebagai bentuk "protes" akan ketidakadilan yang ia dapatkan. Tidak diceritakan "kesadaran" yang dialami mama angkat ataupun Ares akan apa yang membuat Atha bersikap "aneh". Duh, rasanya pengen deh teriak,

"Wooooi, si Atha begitu karena kalian tidak memberi kasih sayang yang sama dengan Alia. Lalu pernahkah kalian menghampiri Atha saat gadis itu harus sibuk membuat dirinya merasa baik2 saja, padahal ia sedang tidak baik2 saja? Pernakah kalian membuat suasana nyaman bagi Atha supaya dia bisa menceritakan ketidaknyamanan yang ia rasakan?!!!!"

Nah, aku jadi baper nih pas nulis review ini. Hehehe. Pokoknya aku suka ide ceritanya lah. Kalau saja cerita mengenai kesadaran yang dialami keluarga angkat Atha dan kesembuhan Atha sendiri bisa lebih diexplore, kupikir ceritanya bakal lebih emosional.
Profile Image for Saptorini.
Author 5 books12 followers
November 21, 2015
Suka dengan premis Nay. Pasti butuh banyak referensi untuk menggali sifat-sifat saudara kembar dan suatu obsesi yang aneh yang dimiliki seseorang. Kapan mau ngajarin aku, Nay *maunya

Maaf, ya, kalau aku memberi 3 bintang. Aku masih berharap memberi bintang lebih banyak untuk novelmu selanjutnya.
Untuk yang ini, karena ada beberapa bagian yang membuatku tersendat membacanya. Terutama bagian nama tokoh si kembar dan bagian flash back-nya. Aku juga masih bertanya-tanya mengapa Atha diperlakukan begitu kasar saat kecil? Soalnya aku tidak menemukan kalimat penjelas apakah Atha memang melakukan kesalahan atau tidak. Kalau memang iya, mengapa? Apakah karena sepatu merah itu? Mungkin aku harus baca ulang. :)
Profile Image for Shen Meileng.
65 reviews5 followers
August 17, 2015
Dan akhirnya terbeli juga novel ini setelah setengah mati membujuk mbak Sepupu beliin *maaf modalnya abis buat beli komik*

Retelling dongeng yang samasekali asing bagiku, namun aku kepo. Aku suka cerita apapun yang hasil retelling dan ini menurutku keren. Dan gatau kenapa, aku nangis baca buku ini padahal gak ada yang begitu bikin sedih gimana gitu.

Review lengkapnya masih OTW buat di blog :)
Terima kasih telah membuat cerita yang menyentuh ini.
Profile Image for el.
69 reviews47 followers
December 29, 2017
Sejak tahu buku ini re-telling aku langsung masukin buku ini dalam wishlist-ku. Udah lama pengen banget baca buku ini tapi nggak keturutan. Akhirnya kemarin ada teman yang terlebih dulu baca buku ini di iJak dan nyuruh coba dan baca juga.

Sebenarnya aku belum pernah baca dongeng yang di ceritakan ulang di novel ini. Tapi aku tetap menikmati ceritanya yang menarik. Alurnya pas dan mengalir. Buatku buku ini page-turner banget. Ini buku pertama Nay Sharaya yang aku baca dan meninggalkan kesan yang baik, terutama dari gaya penulisannya yang enak dan mengalir. Plot-twist yang ada membuat cerita ini makin menarik. Sayangnya, disaat semua udah terbongkar, bagian ini kurang digali lagi, kurang menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi.

Aku suka tokoh-tokoh yang ada. Sifat dan pembawaan tiap tokoh juga khas, mudah untukku bersimpati. Tapi menurutku, sepanjang cerita, tokoh Kegan dan Atha lebih menonjol daripada Ares dan Alia. Selama baca aku merasa mengenal dan terkesan banget dengan Atha dan Kegan, sayangnya kurang diajak lebih dekat lagi dengan Ares dan Alia.Dari keempat tokoh yang ada, favoritku adalah Kegan! Meski dia terkesan selengekan dan jail, tapi dia penyayang, perhatian pada Atha dan dewasa di saat-saat yang tepat.
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
July 10, 2015
"Mereka berdua berbagi cerita dan kesepian yang sama, sampai keluarga ini datang. Kesepian tidak lagi menjadi milik mereka berdua. Alia berhasil melepaskan diri dan meninggalkan Atha sendirian di belakang."
Novel ini terinspirasi dari sebuah dongeng berjudul The Red Shoes karya Hans Christian Andersen; dan jujur saja aku belum pernah mengetahui dongeng itu sebelumnya. Elemen dari dongeng tersebut yang diadaptasi ke novel ini adalah sepatu merah yang menjadi obsesi salah satu karakter utamanya, Atha. Sejak awal buku ini berhasil membuatku bersimpati dengan karakter Atha yang kesepian dan penuh luka batin yang tersembunyi. Aku bisa merasakan betapa sedihnya Atha karena keluarga yang mengadopsinya sepertinya lebih menyukai saudara kembarnya, Alia. Oleh karena itulah pada bagian awal ceritanya aku seringkali merasa kasihan dengan karakter ini dan berharap sesuatu yang baik akan terjadi padanya kemudian. Namun perlahan-lahan, ceritanya mengungkap sesuatu yang mengejutkan dan sama sekali tidak aku duga. Selama membaca, aku beberapa kali memang merasa ada sesuatu yang 'aneh' namun aku tidak memiliki dugaan apa pun tentang apa yang terjadi. Dan setelah misterinya terungkap, aku semakin bersemangat membaca karena ingin tahu lebih banyak tentang apa yang telah terjadi di masa lalu dan juga apa yang akan terjadi kemudian. Aku cukup puas dengan bagaimana setiap konflik diselesaikan—meskipun aku merasa ending-nya sedikit terburu-buru. Penyelesaian ceritanya membuatku lega dan juga turut bahagia untuk setiap karakter di dalamnya :)
"Gadis kecil itu benar-benar tak pernah menceritakan hal itu pada siapa pun. Tentang hukuman-hukuman yang diterimanya atau perlakuan anak-anak panti lainnya.... Seakan tidak ada hal buruk yang pernah terjadi pada dirinya. Beberapa tahun berlalu, Alia baru menyadari bahwa seharusnya ia mencegah Atha menyembunyikan dan menyimpan semuanya, tapi ternyata ia sudah terlambat."
Dari empat karakter utama yang berperan dalam buku ini, aku rasa karakter Atha dan Kegan adalah yang paling mencolok untukku. Meskipun buku ini ditulis dari sudut pandang ketiga, tetapi ceritanya lebih banyak membahas tentang perasaan dan pikiran Atha; sehingga karakter Alia dan Ares jadi terkesan jahat karena seringkali tidak menghiraukan keberadaan Atha. Padahal setelah semuanya terungkap, aku menyadari bahwa semua yang terjadi tidak seperti apa yang terlihat dari sudut pandang Atha. Jika harus memilih karakter utama, mungkin aku akan memfavoritkan Kegan karena menurutku ia sosok yang menyenangkan. Perhatiannya pada Atha terasa menghangatkan hati di saat seolah tidak ada siapa pun yang peduli pada gadis itu. Dan aku rasa hadiah terakhir dari Kegan adalah salah satu hal yang membantu Atha dalam hidupnya kemudian :))

Secara keseluruhan, aku menikmati kisah tentang Atha dan obsesinya terhadap sepatu warna merah—terutama plot twist-nya yang benar-benar tidak terduga untukku. Dan aku juga senang karena penulisnya mengangkat sebuah tema yang cukup jarang aku temui dalam buku remaja sebelumnya. Take Off My Red Shoes berhasil menjadi sebuah kisah yang mengkombinasikan elemen dongeng The Red Shoes dan isu mental illness yang cukup kelam. Pada akhirnya, aku ingin mengucapkan terima kasih untuk Nay Sharaya yang sudah mengirimkan buku ini untuk aku baca dan review. Sukses selalu dalam karir menulisnya, semoga di buku selanjutnya juga bisa mengangkat kisah yang tidak kalah menarik dari yang satu ini ;))
D"Atha selalu bisa meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja, lalu benar saja, semua berubah menjadi baik-baik saja entah bagaimana caranya. Namun ternyata cara itu tidak selamanya berhasil. Bahkan mungkin, sebenarnya semuanya tidak pernah baik-baik saja. Semua masalah yang dilupakan dan dikubur Atha rapat-rapat hanya bersembunyi untuk sementara, dan menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan diri."

Baca review selengkapnya di:
http://www.thebookielooker.com/2015/0...
Profile Image for Dhyn Hanarun .
329 reviews203 followers
December 21, 2015
"Karena merah selalu terlihat menarik. Selalu menonjol di manapun dia berada dan kamu nggak perlu kesulitan nemuin dia walaupun berada di tengah-tengah orang asing." – halaman 32

Atha dan Alia adalah sepasang saudari kembar yang memiliki warna kulit dan gaya rambut yang berbeda. Hobi mereka juga berbeda. Atha lebih suka membaca buku sedangkan Alia pandai menari. Sejak kecil mereka tinggal di sebuah panti asuhan sampai akhirnya diadopsi oleh sepasang suami istri. Pada awalnya mereka hanya ingin mengadopsi Alia untuk menjadi teman main Ares, anak laki-laki mereka. Tapi karena tak bisa dipisahkan, Atha akhirnya ikut serta. Atha sempat berpikir terpilihnya Alia disebabkan oleh sepatu berwarna merah yang dipakainya. Atha jadi menyenangi warna itu, terutama dalam bentuk sepatu.

Saat mereka menginjak bangku SMA, Atha masih terobsesi dengan sepatu berwarna merah. Dia ingin membeli sepasang sepatu baru dengan warna tersebut. Dia membutuhkannya dengan harapan Ares akan dekat dan mengajaknya jalan-jalan, seperti yang selalu dia lakukan bersama Alia. Tapi mama angkatnya tidak menyetujuinya, apalagi melihat barang merah Atha sudah terlalu banyak. Atha mendapatkan solusinya saat melihat kelompok cheerleader sekolahnya menggunakan sepatu merah setiap penampilan. Kegan, tetangga dan sahabat Ares, menganggap ide itu menggelikan tapi membantu Atha mengikuti audisi cheerleader. Perlahan Kegan sadar bahwa Atha tidak diperlakukan sebaik Alia oleh keluarganya. Dia bingung kenapa tidak seorang pun menyadari hal tersebut.

--

Take Off My Red Shoes memberikan cerita remaja yang berbeda dan menarik dengan mengabungkan sisi psikologis sang tokoh utama dengan penggalan dongeng klasik. Keinginan Atha untuk mempunyai sepatu merah, yang dipercayai bisa memberinya keberuntungan yang didapat saudari kembarnya, dipaparkan dengan baik. Tulisannya enak dibaca dan pandai memilih apa yang harus diungkapkan atau tidak, sehingga misteri dan kejutannya tersimpan rapi dan berfungsi dengan baik. Aku sempat sama bingungnya dengan tokoh Kegan, kenapa Atha begini atau begitu, kenapa tidak ada yang peduli dengannya dan apa yang salah dengan keinginan untuk mempunyai sepasang sepatu berwarna merah. Well, well, ternyata obsesi Atha sudah berlebihan sampai dia .. hmm, no spoiler ah. Pokoknya aku terkejut dengan cerita di balik perjuangan Atha memenuhi obsesinya itu. Saat membaca ulang beberapa bagian, untuk memastikan aku mengerti benar, aku menemukan banyak petunjuk penting yang terlewatkan karena menganggapnya sebagai salah ketik dan sebagainya. Aku sama ‘tertipu’-nya dengan orang-orang dekat Atha. Tapi aku suka dengan tokoh Atha ini. Dia punya karakter yang kuat dan menarik. Tambah suka lagi kalau dia sedang berinteraksi dengan Kegan. I ship them so hard!

Baca review selengkapnya di http://dhynhanarun.blogspot.com/2015/...
Profile Image for Nia F. S. Kartadilaga.
168 reviews37 followers
December 3, 2016
Hal yang saya sukai dari novel ini adalah penulisnya tidak berusaha mendikte pembaca , melainkan sekadar memberikan penjabaran dan membiarkan pembaca menginterpretasikan sendiri apa yang dialami oleh ybs. Kalaupun interpretasi pembaca salah, ya, tidak jadi soal --

Hal inilah yang menurut saya sering gagal dilakukan oleh beberapa penulis lokal yang karyanya pernah saya baca, sehingga saya -- -- merasa kesal karena penulis-penulis yang saya maksud tadi sudah "seenaknya" melakukan missleading kepada pembaca ke arah yang mereka inginkan; padahal ternyata itu salah. Isu yang mereka diktekan vs penjabaran yang mereka berikan di cerita itu apa banget ngaconya. ; inilah yang saya maksud dengan mendikte tadi.

Novel ini tidak sempurna, tapi setidaknya saya mengapresiasi penulisnya dan merasakan konflik emosional yang ingin ia sampaikan ke pembaca dengan sangat baik -- tanpa saya merasa penulisnya sedang mendikte No. Tidak ada pelabelan spesifik di sini, di novel ini. Makanya saya suka dan merekomendasikannya kepada beberapa teman langsung. Saya juga sampai menangis karena terbayang kesulitan yang dialami oleh karakter-karakternya jika ini kejadian nyata. Well, saya lemah iman juga sih kalau sudah menyangkut isu emotional bonding antar anggota keluarga. Hahaha.



Penyesalan saya hanya satu; saya terlambat mengenal novel ini. Pasti sudah sulit untuk menemukan buku fisiknya di toko buku. Sigh.

Profile Image for NH. Manjani.
15 reviews7 followers
April 28, 2016
Kegan dan segala keunyuannya sudah berhasil mendorong saya memberikan empat buah bintang untuk novel ini. Nay mungkin memang seorang penulis dengan talenta besar dalam hal menciptakan karakter yang membuat pembacanya gagal untuk tidak jatuh hati *buru-buru ngusir Kai sama Alan dari pikiran*

Sejak beberapa tahun lalu, saya merasa ketertarikan saya pada cerita bertema remaja mengalami penurunan drastis, karena itu saat tahu bahwa novel Nay yang satu ini (lagi-lagi) memusatkan ceritanya kepada sesosok remaja, saya tidak terlalu bersemangat untuk mulai membaca. Tapi terima kasih kepada rasa bosan yang menyelimuti saya waktu itu, akhirnya tangan saya tergerak untuk membuka lembaran pertama novel ini.

Dan dari situlah ketertarikan ini tercipta hingga saya enggan melepas novel ini sebelum menuntaskannya. Beberapa kesalahan pengetikan bisa dengan sangat mudah saya maafkan karena setelah beberapa lembar, otak kiri saya sudah menolak untuk dipekerjakan terlalu keras, membiarkan si otak kanan dengan segala warna-warninya mengambil alih, berimajinasi, membayangkan adegan demi adegan yang dipaparkan penulis dalam ceritanya.

Memang benar kata orang, waktu itu mendewasakan. Hal yang sama berlaku pada Nay dan novel-novelnya. Kalau sebelumnya saya selalu merasa komposisi dialog dan narasi dalam novelnya sering tidak seimbang, kali ini rasanya semua semakin pas dengan selera saya. Ketika saya butuh narasi, dia muncul. Ketika saya butuh dialog, dia hadir.

Satu hal yang masih mengganggu saya adalah kegiatan porseni yang dihadirkan setelah UTS. Demi apa, UTS? Atau memang di sekolah swasta mahal, porseni itu diadakan setiap selesai UTS? Karena seingat saya yang dulu bersekolah di sekolah negeri, porseni itu biasanya diadakan setiap akhir semester. Itupun sudah tidak lagi melibatkan anak kelas 3 yang seharusnya fokus pada ujian nasional.
Profile Image for Aya Murning.
162 reviews22 followers
August 22, 2015
awalnya terasa datar, kayak nggak ada yang menonjol dari karakter-karakter yang ada. tapi makin ke tengah dan makin ke belakang akhirnya menyadari kalau di buku ini konfliknya memang lamban muncul. itu salah satu kekurangannya menurutku. padahal nggak kalah seru loh sama buku lainnya. concern utamanya ke masalah psikologi anak dan remaja.

saya sempat nunda baca karena mood menguap akibat awal cerita yang flat, tapi sosok Kegan jadi penyelamat mood itu bisa kembali. banyak rahasia yang bisa diungkap dari seorang tokoh di sini yang jadi sorotan utama. mungkin kalian akan nggak nyangka kalau dia ternyata begitu dan begitu. :)

penasaran? review selengkapnya silakan baca di sini https://murniaya.wordpress.com/2015/0...
Profile Image for Kamal.
22 reviews1 follower
June 26, 2015
Review Sementara:

Aku suka ide ceritanya yang terinspirasi dengan dongeng (jujur aku salah satu cowok pecinta dongeng). Aku suka dengan karakter-karakternya. Aku suka dengan story telling Kak Nay yang mengalir banget. Aku suka sama endingnya. Aku suka sama unsur psikologinya.

Yang aku nggak suka, TYPO yang lumayan. Nggak banyak, tapi tetap saja aku nggak suka. Ibaratnya ya, lagi enak-enaknya ngemil kacang rebus, eh ketemu upil. eeeerrrggghh ... (apaan sih ini?)

Oke ini review sementara. Review lengkapnya ntar di blog saja (lumayan ngisi blog)

Ditunggu karya Kak Nay selanjutnya. ^^
Profile Image for sifa fauziah.
52 reviews
June 8, 2016
Awalnya kasihan lihat gimana orang disekeliling Atha memperlakukan Atha berbeda, kurang kasih sayang, merasa seperti Atha benar-benar di bedakan, terlalu menyakitkan dan jahat andai dalam suatu keluarga benar terjadi seperti itu. Tapi perlahan jelas ada alasan kenapa mereka melakukan itu pada Atha, ya, karena obsesi Atha yang berlebihan dengan sepatu merah, yang membuat dirinya mampu melakukan segala hal demi sesuatu yang dia inginkan, meskipun itu membahayakan orang lain.

Syukurlah aku menyukai Kegan, dan akhir ceritanya tentang Kegan dan Atha.
Profile Image for Seffi Soffi.
490 reviews143 followers
February 19, 2016
3,5 bintang

Awal baca, agak curiga kayanya Atha ini agak aneh..
Dan agak miris juga sih, dapetin perlakuan yg gak adil. Tapii klo kejadian nya emang begitu. Ya gak bisa nyalahin juga sih ya..

Kirain bakalan ada cerita Cinta tentang Kakak dan Adik angkat :p

Overall, novel nya oke.. Cmn emang harus teliti. Kekurangannya, kurang di bahas detail aja tentang kejadian2 yg terjadi.
Profile Image for Stefanie.
126 reviews6 followers
August 7, 2016
bo-ring.
too dark...
too many emotions...
Profile Image for Niki Yuntari.
87 reviews7 followers
November 15, 2017
Novel ini nggak sengaja saya temukan di aplikasi Ijakarta, yaitu aplikasi sejenis Ipusnas. Sebenarnya dari sampul, saya kurang tertarik. Tapi saya penasaran karena pembacanya sudah banyak. Pun review yang diberikan. Kemudian saya baca sinopsisnya. Cukup menarik. Itu yang membuat saya lanjut untuk membaca novel ini.
Membaca novel ini entah kenapa tangan saya selalu penasaran untuk membuka halaman demi halaman. Saya baca ini tanpa jeda, mulai sekitar pukul 19.00 hingga 23.30. Saya sangat penasaran dengan kelanjutan kisah Atha dan Alia. Apalagi ternyata saya salah duga sejak awal.
Sudut pandang novel ini sering menceritakan sisi Atha atau Natasha. Saya merasa opini saya digiring untuk memihak si Atha yang sebagai protagonis di sini. Sejak awal diceritakan betapa Atha ini mendapat perlakuan yang tidak sama dari keluarganya. Kemudian diceritakan juga cara dia mengatasi itu. Semuanya diceritakan dari sisi Atha. Pastilah saya kemudian memilih Atha sebagai tokoh favorit saya.
Sedikit demi sedikit, penulis memberikan petunjuk penting tentang si Atha ini. Atha sangat terobsesi dengan sepatu merah, lebih tepatnya warna merah. Hampir semua barangnya berwarna merah cerah. Sepatu, tas, dan barang-barang yang sekiranya berwarna merah ia simpan di almarinya, takut mamanya tahu. Banyak juga kejadian lain yang diceritakan dari sisi Atha yang membuat saya nggak ragu dan curiga dengan tokoh utama ini.
Semakin ke belakang, penulis semakin gamblang menceritakan apa yang terjadi pada Atha dari sisi Kegan, Ares, dan Alia. Nah, di sini saya baru paham. Ada plot twist yang sama sekali nggak saya duga. Semua fakta-fakta itu diceritakan penulis dengan pelan, pasti, dan jelas maksudnya. Suka deh dengan pembawaan ceritanya. Emosi para tokoh, saya bisa rasakan banget.
Tokoh favorit
Penulis sangat pandai membuat karakter yang loveable. Contohnya si Kegan ini. Saya suka sekali karakter dia yang jail, humoris, cerdas, perhatian, dan hmm, romantis. Saya suka dia yang sangat peka dengan berbagai hal yang terjadi di sekelilingnya. Saya juga suka ketika dia itu tipe orang yang langsung action dan nggak banyak cing cong.
Karakter Atha saya suka banget. Karena saya merasa, karakternya dia itu merepresentasikan diri saya sendiri. Suka baca, pendiam, dan nggak suka hang out. Wah itu saya banget. Yang membedakan hanya dua hal. Saya tidak sakit dan saya nggak suka segala hal yang berbau warna merah. Ini fakta yang nggak penting banget sih sebenarnya.
Alia dan Ares? Ehm, saya nggak tau sih. Tapi saya nggak terlalu tertarik dengan dua karakter ini. Saya jadi nggak mau membahas lebih lanjut.
Banyak Pesan Moral
Novel ini mengajarkan pada kita bahwa orang yang sakit seperti Atha tak selayaknya kemudian diperlakukan berbeda. Ketika dia diperlakukan berbeda, pasti ada saja perilakunya yang menyimpang terjadi. Orang sepertinya harus dirangkul dan diberiperlakuan yang tepat.
Ketika kita fokus pada sesuatu, maka kita akan mencapainya. Yah, di sini saya bukannya membenarkan apa yang dilakukan Atha. Tapi saya suka semangatnya (atau lebih tepat bila dikatakan obsesi). Namun obsesinya itu membawanya pada kerja keras, sehingga apa yang sangat diinginkannya tercapai.
Selanjutnya...
Saya termasuk awam di bidang psikologi. Menurut saya akan lebih baik bila penulis lebih detail dalam menjelaskan sakit yang diderita Atha. Walaupun sebenarnya, saya juga menangkap maksud dari penyakit itu sih. Tapi akan menjadi pengetahuan yang lebih bila dapat dijabarkan secara detail.
Itu saja sih. Secara umum saya sangat menikmati membaca novel ini. Empat setengah bintang untuk novel ini!

Review selengkapnya kunjungi https://wennykinanthi.wordpress.com/2...
Profile Image for Eksa.
292 reviews25 followers
December 24, 2017
5🌟😭😭😭😭
Awalnya aku direkomendasikan temenku buat baca ini karena katanya ceritanya keren dan nggak ketebak. Tadinya mau beli versi cetaknya tapi nggak tahan buat gak baca di Ijak so...di sinilah aku, baru beres baca dan nangis.

Dari awal paragraf, aku sudah langsung bisa jatuh cinta dengan tulisannya. Ide ceritanya yang bener-bener bikin penasaran meskipun dibuka dengan konflik anak kembar di panti asuhan.

Cerita ini bener-bener beda dari apa yang aku bayangkan akan terjadi. Menurutku, inilah novel teenlit yang 'pantas' dibaca daripada teenlit jaman now yang isinya cinta-cintaan bocah😩

Mengambil konflik keluarga dan pilih kasih, tentu saja sudah umum, tapi aku punya ketertarikan khusus ke genre ini yang bisa bikin aku ikut sedih. Hampir sepanjang cerita yang kebanyakan diisi oleh Atha, bikin aku ingin mengumpat kesal kepada orang-orang di sekeliling Atha yang jahat padanya.

Tapi aku juga gak bisa memungkiri bahwa ada yang salah pada Atha, terutama narasi-narasi membingungkan yang terkesan 'kelam'. Aku bahkan sempat berpikir seluruh isi novel ini adalah khayalan Atha semata hahaha karena narasi awalnya yang terkesan mengambang.

Yes. Penulis mampu menggugah segalanya yg ada di dalam diriku. Aku suka narasinya. Aku suka plotnya, aku suka konfliknya, aku sukaaaa KEGAN. OMG. Cowok langka. Limited edition hahahaha.

Dan meskipun temenku bilang aku akan berbalik mendukung Alia, Mama dan Ares, aku gagal mendapatkan rasa kasihan itu. Nggak. Aku nggak suka mereka dari awal. Aku nggak suka cara mereka memperlakukan Atha. Aku benci😭 meskipun alasan sebenarnya terkuak, tapi aku tetap berpihak sama Atha. Dia nggak salah dan harusnya bukan gitu cara mereka memperlakukan Atha. Apalagi mamanya deuh, bikin pengen ngajak tinju di lapangan.

((aku jadi kebawa emosi sepenuhnya ketika membaca novel ini dari awal sampe akhir)) aku bahkan berharap mereka dapet ending yg jelek hahahaha *jahatnyakumat*

Dan sejujurnya agak nggak rela dengan endingnya, setelah apa yang terjadi sama Atha selama ini, aku nggak rela dia cuma berakhir kek gitu hahaha😭😭😭
Profile Image for Nisa F.
52 reviews9 followers
June 12, 2018
Kehidupan Atha sama seperti biasanya, berada di tengah2 Ares- Alia yang selalu memiliki keseruan atau di antara Mama-Alia yang sama saja, selalu memiliki banyak hal untuk dilakukan. Nyeseknya sih di bagian ini, membayangkan posisi Atha yang nggak dianggap tapi dia berusaha menarik perhatian dg caranya.
.
Dia haus perhatian, rindu kasih sayang. Maka dari itu Kegan hadir. Dia tetangga sekaligus musuh Atha sejak kecil. Ega, sapaan akrabnya, emang dasarnya usil. Tapi dia perhatian sama Atha, walaupun caranya menunjukkan perhatian ini ngeselin bgt.
.
Sebenarnya soal karakter tokoh ini dari awal nggak terlalu kuat banget, kayak sekilas2 aja gitu, bahkan interaksi antara Alia dan Atha sebagai saudara kembar. Tapi... entah kenapa justru dengan Kak Nay lebih memfokuskan pada Atha, malah itu yang membuat magnet sendiri untuk menarik pembaca dan ikut merasakan gimana rasanya di posisi Atha. Jadi aku harus jujur, kalau aku nangis baca novel ini.
.
Come on, bagaimana sih nggak sedih kalau keberadaannya seperti tak dianggap tapi diperlakukan dengan baik. Kayak ditipu di depan mata gitu ya. Walaupun, semua itu ada alasannya. Mama, Alia, Ares, semua punya alasan kenapa mereka memperlakukan Atha demikian.
.
Aku benci sama Ibu Panti yg mengasuh Atha dan Alia waktu kecil dulu. Benci bgt pokoknya. Kalau aku ketemu orang yang cara mendidik seperti itu, beuh udah aku laporkan Kak Seto aja langsung.
.
📝 4/5 🌟
Mungkin soal karakter tokoh nggak begitu kuat, tapi... dari semua unsur yang membentuk cerita ini menarik. Aku suka karakter Atha, Kegan juga. Lalu permasalahan psikologi yang diangkat juga. Mengajarkan juga kalau nggak baik terlalu terobsesi, dan juga soal menjaga komunikasi walaupun orang itu dalam sebuah masalah seperti yg dialami Atha.
Profile Image for Chaca.
2 reviews
May 24, 2020
This book hurts.

Awalnya baca ini, karena review yang bagus pula meyakinkan. Covernya lucu dan berdasarkan sebuah dongeng.

Baca buku ini tuh, nagih. Sekali baca lembar pertamanya langsung jatuh cinta. Bagaimana ceritanya diceritakan juga enak buat dibaca. Mengalir dan nggak membosankan.

Tokoh-tokohnya unik, sayang kurang dieksplor. Padahal kalau ada coretan tentang perasaan mereka masing-masing pasti seru. Walau sebagian dari mereka menjengkelkan. Nggak suka gimana pilih kasihnya Ares, ketidakpeduliannya Alia, apalagi sama mamanya yang mengutamakan Alia dibanding Atha. Tapi itu tuh, yang bikin cerita ini spicier. Tokoh Atha itu nggak bisa digambarkan. Isi kepalanya beda dari yang lain. Benar-benar berbeda. Kaget how she turned to be someone i didn’t expect her to be. Plot twist yang sangat tidak aku sangka. Yang bikin aku tercengang-cengang dan menjadi keong.

Dan terutama, untuk Kegan. Male lead yang bikin aku jatuh cinta dan menyayangkan dirimu hanya hadir sebagai tokoh fiksi hiks. Aku suka pribadi Kegan yang santai dan renyah(apaan tuh renyah?). Kegan yang jahili Atha setiap waktu, Kegan yang selalu memerhatikan Atha, Kegan yang usil dan supel. Dan Kegan yang memilih Atha disaat yang lain enggak. Ps: I’m craving for their interaction hiks. Pokoknya Kegan itu bener-bener something else. Sayang Kegan banyak-banyak deh.

Buku ini juga mengajarkan banyak hal. How we learn to forgive and learn. Adil itu nggak ada. Tapi manusia-manusia yang berusaha adil itu ada. Menaruh harap terlalu banyak itu berbahaya, secukupnya saja cukup. Terus bagaimana kita menerima hal-hal yang mungkin berat untuk diakui. Juga berjanji untuk menjadi seorang manusia baik walau dalam keadaan belum pulih.

Such an awesome story🥺🖤
Profile Image for Adhitya.
148 reviews7 followers
April 19, 2020
Buku yang mengajarkan kamu bagaimana untuk berusaha adil untuk semua orang, mengajarkan bagaimana pentingnya setiap hal yang dilakukan terhadap seseorang bisa berdampak pada lahirnya luka batin, pentingnya edukasi bahwa pergi psikolog/psikiater bukanlah berarti orang gila, dan lain sebagainya yang akan membuatmu terkejut. Di lain sisi, buku ini cukup relate dengan kejadian yang saya temukan beberapa bulan yang lalu dengan nama dan tempat kejadian yang kurang lebih mirip. Membuat saya kembali penuh tanya akan diri saya selama ini dan sungguh menyayat hati.
Profile Image for perplexed.
106 reviews1 follower
September 4, 2017
ASTAGA! GUE SUKA BGT SAMA NOVEL INI!

entahlah, gue rasa novel ini bener2 buat gue addicted. dan gue merasa sangaaaaaattt kepo saat harus menahan keinginan gue untuk baca novel ini saat jam pelajaran. tapi sumpah, keren sih. walaupun dengan ending yang menurut gue... agak kurang hehehe. tapi overall gue suka gimana cara penulis membuat gue menerka-nerka apa yg terjadi sebenernya. HAH. GILA.

good job buat penulis! dan ditunggu karya2 selanjutnya!

4/5
Profile Image for Laura Yuwi.
214 reviews16 followers
January 17, 2025
"Tidak ada orang biasa di dunia ini yang bisa berbuat adil sepenuhnya. Hati mereka pasti akan memihak pada salah satu, itu adalah sebuah kepastian. Yang ada adalah, mereka
yang berusaha untuk berbuat adil." -- Hal. 227
Displaying 1 - 30 of 79 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.