Jump to ratings and reviews
Rate this book

Titik Balik

Rate this book
"Di rahim penciptaan, segala sesuatu saling berhubungan layaknya jejaring yang tak pernah diam. Di sana, getaran-getaran serupa akan saling menarik. Pikiran dan kesadaranmu harus diarahkan untuk bergetar dengan frekuensi yang selaras dengan getaran sesuatu yang kau inginkan. Itulah yang kau undang ke dalam hidupmu sebagai kenyataan. Segala hal di sekitarmu tak lain adalah pantulan-pantulan getaranmu sendiri."

Perjalanan Rani keliling Nusa Tenggara dan singgah di Pulau Kepa adalah perjalanan orang kota yang berniat mengambil jeda dari kecamuk batin yang dialaminya. Dia tidak mengira alam semesta mempunyai kehendak lain. Seorang lelaki misterius telah menunggunya di sana. Di antara debur ombak, padang sabana, dan terik matahari tropika, lelaki itu mengajarkan kembali berbagai teknik dan kearifan kuno tentang pencarian jati diri dan ketenangan batin, yang anehnya sudah pernah dipelajarinya di masa lalu. Pertemuan itu menjadi titik balik perjalanan Rani yang mengubah hidupnya selamanya.

272 pages, Paperback

First published June 8, 2015

15 people are currently reading
164 people want to read

About the author

Rani Rachmani Moediarta

5 books8 followers
Rani Rachmani Moediarta lahir di Majalengka, menghabiskan sebagian besar masa kecil dan remajanya di Pontianak dan Singkawang. Selepas SMA di Majalengka, ia kuliah di Bandung, lalu bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Pulau Galang, Riau. Selama belasan tahun kemudian ia menjadi wartawan di Jakarta sebelum akhirnya menetap di Bali hingga kini.

Selama menjadi wartawan di tiga media Ibu Kota, ia meraih beberapa kali penghargaan nasional dan satu penghargaan internasional untuk tulisan bertema kesehatan. Ketika kariernya menanjak tajam, tiba-tiba ia merasa jenuh dengan keramaian yang tak terhindarkan dalam bidang kerjanya, ingin lebih banyak bersendiri dalam sunyi. Ia undur diri dari media tempatnya bekerja dan memilih menjadi penulis lepas, berharap dapat memuaskan hobinya menulis fiksi.

Perempuan periang yang tak pernah lelah merindu dan punya kegemaran jalan-jalan sore dengan anjingnya ini bisa dihubungi secara personal di: ranibali2011@gmail.com. Bagi yang ingin mengikuti percikan-percikan pemikirannya secara reguler, ia bisa dijumpai di akun Facebooknya: https://www.facebook.com/ranibali2011.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
25 (40%)
4 stars
18 (29%)
3 stars
12 (19%)
2 stars
3 (4%)
1 star
4 (6%)
Displaying 1 - 14 of 14 reviews
Profile Image for Shalahuddin Gh.
31 reviews13 followers
June 8, 2015
Dalam beberapa ajaran Sufi, Al-Quran dianggap sebagai representasi alam semesta. Sementara, intisari Al-Quran ada pada Surah Al-Fatihah. Intisari Surah Al-Fatihah ada pada Lafal Basmalah. Intisari Lafal Basmalah ada pada Huruf Ba. Intisari Huruf Ba ada pada Titik Ba. Ya, Titik Ba adalah perlambang Keilahian. Suwung. Suwung hamêngku ana (Suwung yang memangku keberadaan). Pada Huruf Ba, lengkung serupa perahu di bagian atas adalah perlambang keberadaan yang dipangku oleh titik di bawahnya. Bahwa keberadaan itu dipangku, dipapah, oleh Suwung, oleh Keilahian. Titik Ba adalah awal sekaligus akhir dari segala keberadaan (sangkan paraning dumadi). Dari Titik Ba segala keberadaan tergelar, kepada Titik Ba segala keberadaan tergulung. Gumêlar dan gumulung. Manusia sejati adalah ia yang terus menyadari awal gumêlar sekaligus akhir gumulungnya.

Barangkali Rani Rachmani dituntun oleh tangan-tangan gaib, yang mungkin tidak disadarinya, ketika memberi novelnya judul Titik Balik. Ada frasa “Titik Ba” pada judul Titik Balik. Ada Suwung yang menjadi Titik Balik segala keberadaan setelah tergelar. Ada Suwung, Keilahian, yang berada di dalam diri manusia yang memang diburu oleh tokoh utama dalam novelnya, sosoknya sendiri. Sosok seorang Rani Rachmani yang letih berkelana di realitas fisikal. Sosok seorang Rani Rachmani yang batinnya terus berkecamuk di alam keberagaman. Ia merindui sesuatu yang tunggal. Sesuatu yang tak terbagi lagi. Sesuatu yang dicarinya ke sana-kemari sementara sesungguhnya ia sangat dekat dengan dirinya sendiri. Ah, bukan sangat dekat. Frasa “sangat dekat” pun masih meniscayakan jarak. Sementara tiada jarak antara dirinya dengan Titik Balik itu. Ia berada di dalam Titik Balik itu. Kita semua berada di dalam Titik Balik itu.

Novel ini merupakan bayi ruhani Rani Rachmani, yang lahir setelah lama mengeram di rahim sunyinya selama puluhan tahun. Sudah lama ia ingin membabar bayinya itu, tetapi keinginan tersebut dipendamnya sekian lama. Ia merasa ragu. Galau. Keraguan dan kegalauan itu bisa dipahami, sebab tidaklah mudah menceritakan kisah yang sangat pribadi kepada khalayak ramai, yang belum tentu bisa mengapresiasinya. Tetapi dorongan hatinya yang kuat untuk berbagi, seperti yang terkandung dalam namanya, Rachmani, yang bermakna Pengasih, membuat dirinya pada akhirnya memutuskan untuk menuliskan kisah pribadinya buat kita semua.
Profile Image for 'vika Klaretha.
1 review1 follower
June 30, 2015
Buku ini diawali dengan kisah-kisah indah. Ada kisah masa kecil Neng, tokoh cerita yang selalu bergembira, selalu bersuka ria menjalani hari-harinya, meski dia punya seribu satu alasan untuk tak bahagia. Orangtua yang berpisah, hidup jauh dari Ibu yang tinggal di pedalaman karena harus terus sekolah dan hidup dalam suasana penuh keterbatasan. Kisah Neng menjalani hari-harinya di Pontianak ini akan sangat mempesona kita, yang sekilas membuat saya teringat Laura Ingalls Wilder dan seri Rumah Kecil-nya,

Kemudian diceritakan tokoh Neng dewasa yang sedang galau. Yang secara tak sengaja membawanya bertemu dengan tokoh yang disebutnya Avatar. Dialog-dialog dengan Avatar ini saya kira adalah pesan dari buku ini. Perjalanan spiritual tokoh Neng untuk mengupas lapis-lapis kesadaran pada dirinya' melepas semua sekat yang membatasi kesadaran, melepaskan rasa sedih dan menerima. Suatu perjalanan ke dalam diri inilah yang kemudian mengurai kekusutan-kesutan hidup yang dirasakan tokoh Neng selama ini. Ada juga ulasan tentang Fisika Kuantum. Di tangan sang penulis, fisika kuantum tidak terasa njelimet, melainkan sesuatu yang natural dan tanpa kita sadari telah menjadi bagian dari penciptaan jalan hidup kita di semesta ini.
"...bagisemesta, perhatianmu adalah isyarat untuk menyiapkan berbagai 'janin' kemungkinan. Namun, adalah keputusanmu yang kelak menentukan 'janin' mana yang akan lahir sebagai kenyataanmu." (halaman 171).

"Pikiran dan kesadaranmu harus diarahkan untuk bergetar dengan frekuensi yang selaras dengan getaran sesuatu yang kamu inginkan dan itulah yang kamu undang ke dalam hidupmu sebagai kenyataan." (halaman 172).

"Memilih dengan getaran sukacita dan memilih dengan getaran iri dengki jelas akan memberikan hasil yang berbeda, bukan?" (halaman 173).

Saya kira puncak dari perjalanan spiritual tokoh Neng adalah ketika dia menyadari bahwa segala sesuatu di alam ini berasal dari yang Satu, dan merasa menjadi bagian darinya - semesta. Dan sebagai benang merah yang mengikatnya pada jaring-jaring semesta ini adalah kesadaran untuk melestarikan tradisi kemanusiaan. dengan demikian hanya ada satu identitas, ras kemanusiaan. Dalam kemanusiaan tak perlu lagi ada sekat-sekat identitas yang membatasi manusia, sekaligus juga membawa manusia untuk mampu menerima keberagaman sebagai keniscayaan. Inilah jalan untuk berkesadaran.

Kesadaran inilah yang membuat tokoh Neng di masa kecilnya hidup dengan suka cita. Kesadaran penuh untuk tidak menghakimi sekaligus juga tidak menuntut kehidupan selayaknya apa yang biasa dicitrakan, dan didogmakan. Hanya menerima. Kesadaran untuk menyadari keberadaan kita pada titik ini dan saat ini.

Akhirnya, dengan penuh kesadaran saya hanya bisa mengatakan, buku ini bukan hanya indah, tapi juga penuh pesan 'cerah' membawa kita pada pencerahan. Tanpa harus menggurui. Hanya dengan mengikuti halaman demi halaman yang kisahnya mengalir dan pada akhirnya membawa kita ke titik balik. Hidup dengan kesadaran.

Buku yang sangat layak baca, karena kapan lagi kita menemukan kisah setingkat karya Paulo Coelho dan Laura Ingalls Wilder dikemas dalam satu buku?
Profile Image for Wahyu Hidayat.
3 reviews1 follower
June 24, 2015
Istilah 'titik balik' biasa digunakan untuk menyebut suatu momen ketika kita merasa mendapatkan sebuah kesadaran baru yang membuat pemahaman kita tentang masa lalu seakan menjadi sangat kuno. Dan Rani menceritakan pengalaman menemukan titik baliknya itu dengan indah. Membuat kita iri untuk dapat mengalami pengalaman yang sama dengannya.

Rani membalut spiritualisme dengan kenyataan duniawi yang sangat mudah dipahami oleh pembacanya. Seakan ingin menegaskan bahwa dunia kita ini sejatinya memang dunia spiritual. Dunia ilusi yang nyata dan dunia nyata yang ilusif--alias dunia Kuantum. Kebanyakan kita tidak melihat hal itu, karena kita memakai kaca mata yang out of date dalam memahaminya.

Menuturkan perjalanan batinnya di novel ini, Rani tampaknya sedang mengajak kita untuk menemukan titik balik kita sendiri. Titik balik kesadaran untuk memahami hidup dan kehidupan dengan cara yang berbeda.
Profile Image for Duma Milla.
4 reviews
June 27, 2015
Wowsome. Melalui tulisannya ini, penulis pastilah membuat orang merasa harus segera melakukan perubahan dalam hidup. Tidak lagi menjalani hidup dalam keadaan setengah sadar, dan memandang dunia dengan cara sendiri terlepas dari pandangan-pandangan sekitar yang disuntikkan pada setiap individu.

Bagi yang suka menonton Avatar: The Legend of Korra, buku ini akan mengingatkan kita pada satu adegan, di mana roh Avatar sebelumnnya muncul pada saat Korra berada pada titik terendah dalam hidupnya, yaitu rasa ketidakberdayaan karena pengendaliannya diambil oleh musuh. Apa yang dialami oleh tokoh utama dalam novel ini sama seperti yang dialami Korra, di mana Avatar Wizard muncul pada saat dia berada pada titik tergalau dalam hidupnya. Meskipun esens lavender itu agak ... bisa dibilang sulit dijelaskan.

Dengan membaca buku ini, pertanyaan yang tak pernah terlintas dalam hidup kita akan dijawab. Kita terlalu sibuk berkutat dengan hingar bingar dunia modern, sehingga lupa untuk pulang ke rumah. Perjalaan hidup tokoh utama mungkin bisa diringkas dalam satu kalimat saja, "Kita akan ingat pulang, jika kita mulai membenci tempat kita sekarang berada."
Profile Image for Pringadi Abdi.
Author 21 books78 followers
October 11, 2015
Buku ini mengajarkaku untuk "kembali ke dalam". Saat kita punya masalah, kita tidak menyalahkan siapa-siapa atau malah mencari penghiburan sementara, tapi duduk diam-merenung-berpikir, kenapa aku dan bagaimana solusinya.

Profile Image for Nanaku.
155 reviews9 followers
November 11, 2015
Sebagaimana Rani yang merasa ajaran avatar bukanlah pengetahuan baru baginya. Bagi saya, isi buku ini pun bukan hal baru.
Penulis menjabarkan law of attraction dalam bentuk Novel dengan penjelasan serta contoh yang sangat detail.
Dan seperti juga keyakinan bahwa tidak ada yang kebetulan, saya pun percaya tidak ada buku yang saya baca karena kebetulan. Setiap buku memberikan pemahaman yang cukup dalam waktu yang paling tepat.
Profile Image for Septia K..
51 reviews13 followers
February 16, 2017
Jika diibaratkan minuman, saya menenggak buku ini dalam sekali teguk alias one shot: 269 halaman selama tiga jam nonstop. Sejak beberapa puluh halaman pertama, saya sudah menduga bahwa Avatar adalah sosok fiktif yang tercipta dari pikiran sang tokoh utama sendiri; mulai dari segala kebetulan yang nyaris mustahil di antara mereka berdua, absennya nama, kehadiran sosoknya yang seperti tak mengenal waktu, hingga keberadaan yang hanya dirasakan oleh Rani. Avatar berasal dari tempat yang dikenal Rani, menyampaikan ulang hal-hal yang pernah diterima Rani, dan begitu memahami Rani. Sangat tidak mungkin dua orang bisa berbicara sedalam dan sebanyak itu dalam rentang waktu beberapa hari saja, kecuali jika ia berdiskusi dengan kepalanya sendiri.

Sudut pandang yang diambil penulis sangat lazim ditemukan dalam novel-novel sejenis bertajuk filsafat, spiritualitas, dan pencarian jati diri. Titik Balik kental sekali dengan rasa Coelho dari segi pencarian jati diri, jika kita akrab dengan karya-karyanya; atau Gaarder dengan filsafatnya; atau Tasaro, dengan tetralogi Muhammad-nya, dalam spiritualitas.

Adalah Rani, sang tokoh utama; seorang wanita di pertengahan dua puluhan yang sedang kacau-balau-galau dengan kehidupannya dan memutuskan untuk berlibur di kepulauan Nusa Tenggara dan bertemu dengan Avatar; sosok penyembuh yang berhasil mengurai benang-benang kusut dalam hidup Rani. Seluruhnya berisi tentang dialog mereka berdua, yang ternyata adalah curahan hati dari diri Rani sendiri, oleh Rani sendiri, kepada Rani sendiri. Avatar tak lain adalah bagian lain dari Rani yang mengingatkannya kembali akan bawah-sadar yang ter-(atau di-)lupakannya. Avatar adalah Rani yang lain yang membantunya memahami konsep filosofis dari mekanika kuantum yang semula hanya dibacanya sambil lewat saja; yang membimbingnya menerapkan meditasi yang semula hanya ia ketahui teorinya saja; dan yang berhasil membujuk dan menuntunnya untuk menyembuhkan luka hati, alih-alih lari.

Sebenarnya saya tertarik membaca buku ini karena membaca salah satu review yang ditulis oleh Shalahuddin Gh (yang ternyata adalah Editor in Chief dari penerbitnya!) yang isinya:

"Dalam beberapa ajaran Sufi, Al-Quran dianggap sebagai representasi alam semesta. Sementara, intisari Al-Quran ada pada Surah Al-Fatihah. Intisari Surah Al-Fatihah ada pada Lafal Basmalah. Intisari Lafal Basmalah ada pada Huruf Ba. Intisari Huruf Ba ada pada Titik Ba. Ya, Titik Ba adalah perlambang Keilahian. Suwung. Suwung hamêngku ana (Suwung yang memangku keberadaan). Pada Huruf Ba, lengkung serupa perahu di bagian atas adalah perlambang keberadaan yang dipangku oleh titik di bawahnya. Bahwa keberadaan itu dipangku, dipapah, oleh Suwung, oleh Keilahian. Titik Ba adalah awal sekaligus akhir dari segala keberadaan (sangkan paraning dumadi). Dari Titik Ba segala keberadaan tergelar, kepada Titik Ba segala keberadaan tergulung. Gumêlar dan gumulung. Manusia sejati adalah ia yang terus menyadari awal gumêlar sekaligus akhir gumulungnya."

Novel ini segalanya adalah tentang - ehm, salah satu kata favorit saya dalam kamus Bahasa Indonesia - SENANDIKA.
Profile Image for K.
6 reviews
August 14, 2022
4,5/5

Buku ini menceritakan tentang Neng yang liburan ke Pulau Kepa, dia liburan karena mau istirahat dari lelahnya dia di Jakarta. Tapi sewaktu Neng ini sampai di Pulau Kepa, dia kaget karena tiba-tiba dia ketemu dengan... Dia ketemu sama laki-laki misterius, sebut aja lah ya, si Neng ini manggil dia Avatar. Avatar ini ngajarin BANYAK BANGET hal ke Neng dan ke Aku!! Bener-bener banyak. Hal-hal yang Avatar ajarin itu sebenernya udah ada sebagian kecil yang aku terapkan di kehidupan sehari-hari, cuma... Aku emang belum terbiasa, jadi kedepannya aku bakalan membiasakan diri. Tapi, Aku kaget aja, bahkan sampai sekarang aku nulis review ini... Di (kurang dari) 10 halaman terakhir ada plot twistnya...
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Mihael Kheel.
29 reviews11 followers
September 3, 2018
Bertemu buku ini diwaktu yang tepat! keseluruhan buku ini berisi pelajaran hidup yang terkadang kita tinggalkan, tidak kita sadari, namun ternyata disitulah kekuatan terkuat manusia berada. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk siapa saja yang sedang terkena kegalauan tingkat ringkat maupun berat dan semoga setelah membacanya kalian bisa menemukan "titik balik" itu.
Profile Image for Yessica.
49 reviews
November 26, 2017
I enjoyed this at first. Tapi makin kebelakang (bahkan sudah lebih dari setengah halaman), I stopped. Mungkin bagi pembaca yang menyukai buku bertema filosofi, mungkin buku ini cocok, tapi tidak buatku. Filosofi menurutku oke, tapi kalau porsinya kebanyakan, aku pusing juga haha.
Profile Image for Annisa.
18 reviews
Read
July 18, 2016
"Tidak seorangpun dapat membuat kita merasa tidak aman dan tidak nyaman bila kita tidak mengizinkannya. Dunia luar hanyalah cermin besar yang memantulkan keyakinan-keyakinan dan harapan harapan kita"

Menceritakan perjalanan seorang perempuan untuk "pulang". Sebuah novel yang mengajak kita untuk berpikir dan lebih memahami berbagai makna tentang hakikat kehidupan, tentang diri. Saya senang dengan berbagai pemikiran yang diselipkan disetiap bagian.

"Perjalanan terpanjang ketempat yang justru paling dekat : diri sendiri - Rani Rachman Moediarta"
Displaying 1 - 14 of 14 reviews