What do you think?
Rate this book


248 pages, Paperback
First published June 22, 2015
"Memangnya berteman itu butuh alasan?"
"Apa yang kau lihat?"
"Tidak ada. Haya gelap."
"Itulah yang aku lihat," gumam Danny. "Itu yang aku lihat pertama kali di pagi hari, yang aku lihat sepanjang siang hari, dan yang aku lihat sebelum tidur di malam hari. Seperti punya bekas luka permanen, kau tahu. Bedanya, kalau bekas luka sungguhan, aku mungkin bisa melupakannya sewaktu-waktu. Kalau bekas luka yang ini, tidak bisa dilupakan. Bagaimana aku bisa melupakannya kalau semua yang aku lihat sepanjang waktu cuma kegelapan?
"Kau tahu," sambung Will, "bintang-bintang tidak hanya muncul saat malam. Sebenarnya mereka selalu ada di sana, di atas sana. Mereka cuma bisa dilihat saat malam karena di pagi dan siang hari ada terlalu banyak cahaya. Polusi cahaya itu menyebabkan mereka tidak terlihat."
"Jangan ragu untuk mencoba lagi. Tidak ada kata terlambat untuk sebuah awal yang baik."
"Danny sayang, aku tidak akan duduk di sini dan bersikap seolah-olah ini bukanlah apa-apa karena kenyataannya tidak begitu. Ini jelas-jelas sesuatu. Sesuatu yang besar. Tapi, aku senang kau mengatakannya kepada kami. Dan seberapa besar pun ayahmu mencintaimu, aku selalu meyanyangimu sepuluh kali lebih besar."
Danny terkekeh pelan.
"Apa maksudmu, Sayang?" protes Mr. Jameson sambil bercanda. "Akulah yang paling menyayangi Danny."
"Marcus, yang benar saja.." erang Mrs. Jameson tidak tahan. "Aku ini ibunya, yang mengandung dan melahirkannya. Sudah pasti rasa sayangku lebih besar."
Danny tidak sanggup menahan diri untuk tertawa lebar.
"Kau tahu, manusia itu bisa diibaratkan sebuah pohon," gumam Will. Ia melirik dari sudut mata dan saat itu Danny telah berbalik -mereka sama-sama menghadap ke halaman. "Kita tumbuh tinggi, begitu juga dengan pohon. Kita membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup, begitu juga pohon membutuhkan daun-daun untuk bertahan hidup."
Will melirik lagi. Ketika Danny tidak kunjung berkomentar, Will mendesah. "Perumpamaan yang payah, ya?"
"Tidak, bukan begitu," Danny buru-buru menggeleng. "Aku kira masih ada lanjutannya."
Will terkekeh pelan.
"Jadi, kalau yang kaukatakan itu benar, bahwa kita itu ibarat pohon dan orang lain adalah daunnya, kurasa aman bagiku untuk mengatakan bahwa kau itu adalah daun sweet gum di pohon kehidupanku?" tanya Danny.
"Kalau kau tidak keberatan," sahut Will. Ia melipat tangan di atas langkan batu, membungkuk, lalu menumpukan dagunya di sana. "Danny, kau tahu kenapa aku suka daun?"
Will menoleh. Danny mengedikkan bahu.
Will kembali memandang ke depan Avenue West Nomor 27, belasan daun sweet gum luruh ke halaman, dan Will mengawasi salah satunya. Kemudian dengan satu tarikan napas, ia menjawab, "Kurasa mereka gugur, seperti setiap detik dalam kehidupan kita, seperti kita semua pada akhirnya."

Jangan ragu utk mencoba lagi. Tidak ada kata terlambat utk sebuah awal yg baik