Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
“Kau tidak takut jatuh?” tanya Mia.

Danny menggeleng.

“Aku takut jatuh,” aku Mia dengan polos. “Kalau kau takut apa?”

Danny tidak langsung menjawab. Ia juga tidak menolakkan kaki ke tanah lagi untuk menambah kecepatan ayunan. Senyuman di wajahnya perlahan-lahan memudar. “Aku takut tidak bisa melihat selamanya.”


Menurut Danny Jameson, hidupnya tidak pernah mudah. Ia punya orangtua yang protektif, mesin tik Braille yang tidak dimiliki teman-temannya, dan semacam magnet yang menarik John Schueller untuk terus mengganggunya. Namun, yang paling buruk adalah ia punya sepasang mata biru yang tidak bisa melihat. Ketika Danny berpikir Mia Berry akan menjadi satu-satunya teman yang ia punya, Will Anderson datang dan mengubah hidupnya. Will memperlihatkan kepadanya dunia yang ingin ia lihat. Will juga membuat Danny mempertanyakan sesuatu tentang dirinya. Tapi, sebelum Danny sempat menemukan jawabannya, Will menghilang.

248 pages, Paperback

First published June 22, 2015

10 people are currently reading
187 people want to read

About the author

D. Wijaya

2 books35 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
30 (21%)
4 stars
75 (52%)
3 stars
26 (18%)
2 stars
5 (3%)
1 star
6 (4%)
Displaying 1 - 30 of 72 reviews
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews298 followers
September 13, 2015
Bincang Asik dengan D. Wijaya | Ask Author, Giveaway
dlvr.it/C7kDhF


review lengkap http://www.kubikelromance.com/2015/07...

Bagi William Anderson, hidup itu seharusnya dinikmati, lakukan apa yang ingin kita lakukan, jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada karena kita tidak akan tahu kapan bisa menikmatinya lagi. Sedangkan bagi Danny Jameson, hidupnya tidak pernah mudah, dia selalu bergantung kepada tongkat yang membantunya berjalan, orangtua dan sahabatnya, Mia yang sanggat protektif, dianggap selalu berisik karena menggunakan mesin tik Braille di sekolah, tidak punya banyak teman, hanya gelap yang bisa Danny lihat. Semua tidak mudah dijalani. Dia mempunyai mata biru yang indah namun tidak berfungsi, Danny membutuhkan warna dalam hidupnya, yang kemudian dibawakan oleh William.

Di sekolahnya yang dulu, William adalah murid yang pandai menciptakan segudang masalah, cara hidup yang Will pilih tidak banyak dimengerti orang lain, kemudian ayahnya mendapatkan promosi, dia harus pindah dan tinggal di Magnolia. Di sekolahnya yang barulah Will bertemu dengan Danny. Awalnya Will tidak tahu kalau Danny tidak dapat melihat, baru ketika uluran tangganya tidak disambut dia merasakan ada yang aneh. Sejak itu Will mulai tertarik, tertarik dengan cara Danny bertahan hidup, bertahan dari ejekan teman-temannya (John Schueller, Craig Martin, Leon Parker), cara Danny menyesuaikan dengan lingkungannya. Will ingin berteman dengan Danny, mengenalnya lebih jauh, walau harus rela menghadapi tempramental Mia, yang sangat protektif pada Danny, takut kalau Will hanya ingin mengerjai sahabatnya.
"Memangnya berteman itu butuh alasan?"

"Apa yang kau lihat?"
"Tidak ada. Haya gelap."
"Itulah yang aku lihat," gumam Danny. "Itu yang aku lihat pertama kali di pagi hari, yang aku lihat sepanjang siang hari, dan yang aku lihat sebelum tidur di malam hari. Seperti punya bekas luka permanen, kau tahu. Bedanya, kalau bekas luka sungguhan, aku mungkin bisa melupakannya sewaktu-waktu. Kalau bekas luka yang ini, tidak bisa dilupakan. Bagaimana aku bisa melupakannya kalau semua yang aku lihat sepanjang waktu cuma kegelapan?

Sejak pertemuan pertama, Will selalu bersama dengan Danny dan Mia, bahkan berangkat dan pulang dari sekolah, membela dan memberi pelajaran ketiga orang yang suka menganggu Danny, dan yang paling penting Will mengetahui rahasia tentang Danny bahwa dia memiliki suara yang amat sangat indah. Namun tetap saja Danny iri dengan hidup Will yang bebas, berbeda dengan dirinya yang harus menghadapi kedua orangtua yang protektif. Kemudian Will pun punya ide, dia meminta Danny menyebutkan tiga keinginannya; ingin berlagak seperti orang biasa sehingga tidak ada yang menyadari kalau dia tidak dapat melihat, pergi ke klub malam, dan terakhir, dicium.

Apakah William berhasil mengabulkan ketiga keinginan Danny? Kenapa di saat Danny mulai yakin dan percaya diri akan dirinya sendiri William malah tidak pernah muncul lagi? Sejak William hadir, Danny merasa dirinya lebih hidup.

"Kau tahu," sambung Will, "bintang-bintang tidak hanya muncul saat malam. Sebenarnya mereka selalu ada di sana, di atas sana. Mereka cuma bisa dilihat saat malam karena di pagi dan siang hari ada terlalu banyak cahaya. Polusi cahaya itu menyebabkan mereka tidak terlihat."

"Jangan ragu untuk mencoba lagi. Tidak ada kata terlambat untuk sebuah awal yang baik."

Saya akan menjabarkan alasan kenapa kalian harus membaca buku ini. (1) Walau debut, penulis mempunyai keahlian dalam hal mendiskripsikan kalimat, penuh detail dan kaya akan kosa kata baru, sehingga (2) saya sangat menikmati jalannya cerita, plotnya sangat rapi, bahasanya indah, twist sudah dimunculkan sejak awal namun penulis 'memeliharanya' dengan baik sampai akhir, membuat saya tidak bisa berhenti membaca. Kemudian, kelebihan yang lain adalah (3) tema yang diambil untuk ukuran buku teenlit alias Young Adult sangat berani sekali yaitu tentang LGBT, bukannya membuat pembaca merasa jijik malah bisa membuat kita memahami perasaan para tokoh-tokohnya, perasaan yang tulus dan hubungan yang manis antara Will dan Danny, di mana menjadi kelebihan selanjutnya, (4) penulis sanggup menyentuh hati pembaca dengan karakter tokoh yang dia buat. Walau memiliki penderitaan masing-masing, Will dan Danny bukanlah orang yang lemah.

Will yang sangat bertolak belakang dengan Danny, Will yang sanggup memberikan warna dalam hidup Danny, dan sebaliknya, Danny mengenalkan Will kepada penderitaan lain, kepada kegelapan. Menyadarkan satu sama lain bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini, namun kita bisa berdamai dengan ketidaksempurnaan tersebut. Mereka bagaikan dua kutup negatif, yang apabila digabungkan akan menjadi positif. (5) Setiap adegan sangat menyentuh dan memorable, bagian yang paling saya suka sekaligus yang sangat mengharukan adalah ketika kedua orangtua Danny mengetahui tentang perasaannya kepada William, siap-siap tissue.
"Danny sayang, aku tidak akan duduk di sini dan bersikap seolah-olah ini bukanlah apa-apa karena kenyataannya tidak begitu. Ini jelas-jelas sesuatu. Sesuatu yang besar. Tapi, aku senang kau mengatakannya kepada kami. Dan seberapa besar pun ayahmu mencintaimu, aku selalu meyanyangimu sepuluh kali lebih besar."
Danny terkekeh pelan.
"Apa maksudmu, Sayang?" protes Mr. Jameson sambil bercanda. "Akulah yang paling menyayangi Danny."
"Marcus, yang benar saja.." erang Mrs. Jameson tidak tahan. "Aku ini ibunya, yang mengandung dan melahirkannya. Sudah pasti rasa sayangku lebih besar."
Danny tidak sanggup menahan diri untuk tertawa lebar.

Selain permasalahan dalam keluarga Danny, saya juga cukup menyukai hubungan William dengan ayahnya. Mr. Anderson berduka karena kematian ibu Will, sejak itu dia mencoba menjadi ayah yang sempurna sekaligus menjadi pengganti ibu, namun tidaklah mudah. Will menganggap ayahnya mulai melupakan dirinya, sibuk dengan urusannya sendiri namun Will tidak tahu beban berat yang ditanggung ayahnya, duka yang menghinggapi, dan Danny memahami perasaan Mr. Anderson, membuatnya lebih terbuka akan perasaannya dan menyemangati agar lebih berani menghadapi hari esok. Alasan terakhir buku ini wajib baca, (7) endingnya nendang banget. Sempurna banget, saya suka cara penyelesaian yang dipilih penulis, kalimat-kalimatnya benar-benar indah.

Sedikit kekurangan buku ini selain sedikit typo adalah saya tetap tidak suka dengan orang berwarna putih yang ada di cover, saya lebih suka kalau orangnya dihilangkan. Kata penulisnya dia menunjukkan Will, hanya saja saya merasa kehadiran orang tersebut malah membuat nggak mecing dengan cover yang seharusnya indah. Tapi bukan hal yang besar sih, toh isi di dalamnya yang penting, dan yang jelas saya akan menantikan karya D. Wijaya selanjutnya.

Buku ini sangat-sangat recommended bagi yang ingin mencari bacaan YA lain dari pada yang lain, sebuah teenlit berkualitas dari penulis dalam negeri, karya debutnya. Buku ini tidak hanya bercerita tentang cinta terlarang, namun juga tentang sebuah penerimaan. Mengajarkan kepada kita kalau kebahagiaan akan selalu muncul di belakang penderitaan, yang suatu saat akan menyalip, mengalahkannya.
"Kau tahu, manusia itu bisa diibaratkan sebuah pohon," gumam Will. Ia melirik dari sudut mata dan saat itu Danny telah berbalik -mereka sama-sama menghadap ke halaman. "Kita tumbuh tinggi, begitu juga dengan pohon. Kita membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup, begitu juga pohon membutuhkan daun-daun untuk bertahan hidup."
Will melirik lagi. Ketika Danny tidak kunjung berkomentar, Will mendesah. "Perumpamaan yang payah, ya?"
"Tidak, bukan begitu," Danny buru-buru menggeleng. "Aku kira masih ada lanjutannya."
Will terkekeh pelan.
"Jadi, kalau yang kaukatakan itu benar, bahwa kita itu ibarat pohon dan orang lain adalah daunnya, kurasa aman bagiku untuk mengatakan bahwa kau itu adalah daun sweet gum di pohon kehidupanku?" tanya Danny.
"Kalau kau tidak keberatan," sahut Will. Ia melipat tangan di atas langkan batu, membungkuk, lalu menumpukan dagunya di sana. "Danny, kau tahu kenapa aku suka daun?"
Will menoleh. Danny mengedikkan bahu.
Will kembali memandang ke depan Avenue West Nomor 27, belasan daun sweet gum luruh ke halaman, dan Will mengawasi salah satunya. Kemudian dengan satu tarikan napas, ia menjawab, "Kurasa mereka gugur, seperti setiap detik dalam kehidupan kita, seperti kita semua pada akhirnya."



4.5 sayap untuk daun sweet gum.
Profile Image for inas.
392 reviews37 followers
October 16, 2018
Well, kalo masih ada yang mau baca novel ini, tapi malah iseng nyari + baca review, aku sarankan ntar aja baca review-nya. Ini beneran mengandung spoiler soalnya. Wkwkwk. ^3^

Ada banyak hal unik dan menarik selama aku baca ini:

🌠 Dua tokohnya—Will sama Danny—adorable banget dan, well, nggak sulit buat menyukai mereka sampe senyum-senyum sendiri tiap kali karakteristik mereka ditonjolkan (mulai dari nyanyi, main musik, berani ngambil risiko, sheepish, you name it; my heart goes so uwu)

🌠 Karena tokohnya nggak bisa melihat, deskripsi lewat dialog + ngandalin visual doang tuh jadi tepat banget. Ini bikin deskripsi itu nggak terasa berlebihan dan justru enak diikuti. 😆

🌠 Banter-nya keren-keren. Baik yang ngelucu, serius, maupun yang ngulang kalimat lawan bicara di saat yang nggak direncanakan. Ngalir dan nggak terkesan maksa. My heart goes uwu all over again. (○゚ε゚○)

🌠 Emosinya pas di bagian akhir kerasa bangeeet. Nyesss gimana gitu. Wkwk. Apalagi aku semacam sengaja ngebayangin Will sama Danny versiku sendiri—yang, meski mungkin beda, justru bisa ngebantu aku semangat baca. Tapi, tanpa cast yang kubayangin pun, penggambaran emosinya udah oke dan patut diacungi jempol. 😆👍


Selain itu, ada beberapa hal yang cukup bisa ditebak, dan ada typo di beberapa tempat yang nggak banyak tapi tetep kelihatan.

Trus, sedikit komen juga nih, quote Will tentang ruang angkasa agak rancu sebenernya. Di sana nggak ada gravitasi, jadi konsep atas-bawah itu... hmm, patut dipertanyakan. But it's okay sih. Aku tau maksudnya kok. Ini semacam intermezo nggak penting aja. 😁



Daaan, akhir kata, bonus gambar cast yang aku bayangin. ≧ω≦ (๑•́ ₃ •̀๑)

description

(Ken jadi Will, Hongbin jadi Danny. xD)



Ini juga alasanku ngaktifin spoiler supaya nggak ada yang terpengaruh sama bayanganku soal tokoh utamanya. Hehehe. 😙



P.S.: aku mau banget baca lebih banyak cerita kayak gini dari penulis lokal! 😆 Ceritanya mengusung tema dan tokoh yang diverse, sekaligus fokus ke kehidupan tokoh sebagaimana novel-novel YA lainnya. Ada situasi, masalah, dan penyelesaian. Romance-nya juga pas, manis, nggak berlebihan, dan sesuai umur tokoh. Pokoknya kayak novel pada umumnya, tapi dikasih unsur diversity. Yang bikin my heart goes so uwu lagi. Wkwkwk. ≧ω≦
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for D. Wijaya.
Author 2 books35 followers
July 14, 2019
(Baru selesai baca malam ini)

Above the Stars ini novel debutku, yang juga merupakan buku YARN pertama yang tokoh utamanya cowok. Aku harap kalian menikmati novel ini sebesar aku menikmati saat menuliskannya. :)
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
March 2, 2016
Hiduplah dengan bahagia, Danny. Pohon kehidupanmu tidak boleh mati hanya karena ia kehilangan sehelai daun sweet gum. Akan ada daun-daun lain yang melindungi pohon kehidupanmu dari sinar matahari yang menyengat. Jadi, lakukan apa yang ingin kau lakukan, gunakan setiap kesempatan, dan bahagialah.

Ini salah satu seri YARN yang paling kusuka dan favoritku. Novel debut yang menyenangkan sekali oleh D Wijaya. Aku suka cara bercerita D yang seperti terjemahan, baku tetapi begitu mengalir.

Ini tentang kisah Danny Jameson. Hidupnya sejak lama tidak pernah mudah. Danny yang tidak bisa melihat, punya orang tua dan Mia, sahabatnya yang sungguh protektif terhadapnya. Perlakuan teman-teman disekolahnya yang juga tidak baik, entah kenapa John selalu mengganggunya.

Hingga suatu hari Will Anderson, murid baru di sekolahnya hadir dalam kehidupannya. Hidup Danny berubah seketika, Will membuat Danny melihat warna lain dalam kehidupannya, tidak hanya hitam yang selama ini dilihatnya.

Bersama Will, Danny menemukan dunia baru yang sudah lama sekali ingin dilakukannya, tetapi karena keterbatasan dirinya dan keadaan dia sulit melakukannya. Will dan Danny kemudian bersahabat, Will pun menawarkan 3 permintaan yang bisa diminta oleh Danny.

Walau hanya 3 permintaan saja, tetapi itu semua terasa luar biasa bagi Danny. Danny meminta agar dia bisa bersikap layaknya orang biasa (orang lain tidak sadar dirinya tidak bisa melihat), pergi ke klub malam dan terakhir merasakan sebuah kecupan/ciuman.

Apakah Will bisa mengabulkan semua permintaan Danny? Kenapa disaat Danny dan Will sudah berteman dengan baik, kemudian Will menghilang tanpa jejak? Apa yang sesungguhnya terjadi?

Aku suka dengan idenya yang menarik, lain daripada yang lain. Penulis berani mengambil tema yang berbeda, untuk sebuah novel remaja/Young Adult, tema yang sungguh berani dan mungkin jarang kutemui untuk novel lokal. Tema LGBT yang diangkat, tidak membuatku alih-alih jijik, aku malah menikmati kisah Danny-Will

Karakter tokohnya, baik Will dan Danny juga benar-benar menyentuh sekali, mereka sama-sama punya masalahnya sendiri, tetapi saling melengkapi. Mereka hanyalah remaja yang "haus kasih sayang". Walau gaya berceritanya seperti terjemahan, tetapi aku sangat menikmati kisah ini, karena bahasanya indah, alurnya begitu mengalir, penulis mampu meramu kisahnya secara perlahan membuatku ingin terus membaca hingga akhir.

Adegan demi adegan dalam novel ini begitu membekas dihati, aku suka sekali dengan saat-saat terkuaknya rahasia Danny terhadap Will, ah aku hampir menangis di bab ini. Kisah ini tidak hanya memfokuskan hubungan Danny dan Will saja, tetapi juga kisah keluarga, baik keluarga Danny yang segitu protektifnya terhadap Danny dan Keluarga Will yang memang "berbeda" sejak meninggalnya ibu Will. Part favoritku saat aku membaca surat Will, rasanya nyesek banget bacanya, aku bisa merasakan chemistry yang begitu kuat.

Sebagai novel debut, aku sangat menikmati kisah ini. Penulis benar-benar membuatku bertahan membaca sejak halaman awal hingga akhir, tanpa terasa aku sudah di penghujung akhir. Sayangnya aku "kurang suka" dengan endingnya, walau memang endingnya benar-benar terasa realistis dan menutup kisah ini dengan baik, tetap saja aku..... (no spoiler)

Walau memang tidak ada gading yang tak retak, novel ini pun memang tidak mulus dari kesalahan ketik, tetapi karena aku terlalu menikmati membaca kisah ini, aku pun membiarkannya saja. Semoga jika novel ini mendapat kesempatan untuk dicetak ulang, bisa lebih diperhatikan masalah typonya.

Overall, kalau kamu ingin membaca kisah YA yang berbeda, lain daripada yang lain, aku merekomendasikan novel ini. Kisah cinta terlarang yang begitu memikat. Ditunggu karya lainnya, D karena aku tidak akan ragu lagi membaca karyamu selanjutnya...

Selamat jatuh cinta.....
Profile Image for ABO.
419 reviews47 followers
July 19, 2015
*Postingan review lengkapnya di blog saya: http://ariansyahabo.blogspot.com/2015...*


“Aku takut tidak bisa melihat selamanya.”

Sejak lahir, yang bisa dilihat oleh Danny Jameson hanyalah kegelapan. Ya, Danny mengalami kebutaan sejak lahir. Dia bersekolah di sekolah biasa walaupun kadang sering diganggu oleh bullies di kelasnya.

Beruntung Danny punya Mia Berry, sahabatnya sejak kanak-kanak yang sifat protektifnya menyamai kedua orangtua Danny. Lalu hadirlah murid pindahan di kelas mereka bernama Will Anderson. Berteman dengan Will membuat Danny memandang dunia dari cara yang berbeda. Dengan Will setidaknya Danny bisa merasa ‘normal’, dia punya kesempatan untuk bisa melakukan hal-hal yang dulu dianggap tidak mungkin oleh Danny lantaran keterbatasan fisiknya. Termasuk 3 keinginan yang telah dijanjikan untuk dikabulkan oleh Will.

Danny mulai merasakan perasaan spesial di hatinya ketika bersama dengan Will, namun sayang, sejak kejadian terkait dengan salah satu keinginan Danny, Will mendadak menghilang.

“Bagiku, ‘dulu’ adalah kata yang dipakai sebagai pengantar untuk menjelaskan bahwa sekarang keadaan sudah berubah.”

Hoje Eu Quero Voltar Sozinho atau lebih dikenal dengan judul The Way He Looks, merupakan film coming of age yang berasal dari Brazil. The Way He Looks awalnya adalah film pendek yang berjudul I Don’t Want to Go Back Alone. Walaupun ada beberapa perubahan dalam perkembangan cerita di versi panjangnya, secara garis besar The Way He Looks tidak melenceng jauh dari film pendeknya.

Bercerita tentang seorang remaja yang buta sejak lahir, Leonardo, yang hidupnya berubah sejak mengenal siswa pindahan di kelasnya Gabriel, The Way He Looks sukses menyentuh saya dengan kemanisan ceritanya.

Kenapa saya menulis tentang film tersebut di awal review ini? Karena sinopsis buku ini tidak bisa dimungkiri mengingatkan saya pada film itu, pun begitu ketika saya membaca di bagian-bagian awal. Dan by the way, penulisnya sendiri sudah mengonfirmasi kalau dia belum menonton film asal Brazil itu dan kaget dengan kemiripan keduanya.

Bahkan kalaupun terinspirasi dari film tersebut juga tidak masalah sih karena beberapa karya dari Tere Liye, salah satu penulis favorit saya, ada juga yang terinspirasi dari film/buku. Seperti Moga Bunda Disayang Allah (dari film Bollywood “Black”, yang keduanya sama-sama terinspirasi dari kisah hidup Helen Keller), Ayahku (bukan) Pembohong (dari buku “Big Fish”. Saya belum baca bukunya sih, baru nonton filmnya doang). Plus ada satu adegan dalam Rembulan Tenggelam di Wajahmu yang mengingatkan saya pada salah satu scene film Bollywood “Mohabbatein”.

Tapi cukup membahas kemiripan-kemiripannya, selanjutnya saya hanya akan membahas apa yang saya suka dan apa yang menurut saya agak mengganggu ketika membaca Above the Stars.

Pas pertama kali baca sedikit tidak menyangka sih kalau setting dan karakter buku ini bukan asli Indonesia, yang artinya buku ini diceritakan dengan cita rasa terjemahan tapi kadang masih berasa ke-Indonesia-an.

Saya salut dengan penulis yang mengangkat isu LGBT untuk novel remaja. Saya juga punya draft (novel) young adult bertema LGBT yang terendap dari bertahun-tahun lalu dan tetap mentok di bab awal di folder komputer saya (*nggak ada yang nanya), dan baca buku ini sukses bikin saya iri sama penulisnya x))

Above the Stars saya nilai cukup lumayan sebagai novel debut sang penulis, dan saya pasti akan membaca buku dari D selanjutnya. Tapi di balik kelebihannya, ada hal yang cukup mengganggu, beberapa detail hal-hal remeh yang menjadi pendukung cerita seolah terlupakan. Padahal hal-hal remeh ini juga penting untuk membangun cerita yang utuh.

Seperti, kening saya berkerut ketika membaca bagian Will dan Danny membolos dan mengganti seragam mereka. Saya tidak tahu dengan pasti, tapi apakah sekolah-sekolah di Amerika juga masih memakai seragam? Bukannya pakaiannya bebas yak, malah bisa fashionable kayak siswa-siswi Rosewood (dari Pretty Little Liars). Dan tidak ada kejelasan juga apakah sekolah mereka public school atau private school.

Selanjutnya, juga masalah sistem sekolah misterius ini. Masa membolos sehari aja langsung dipanggil ke “ruang BP” sik? Apalagi mereka kan es em a, wajarlah sekali-kali bolos xD. Perhatian sekali ya, sekolahnya sampe murid membolos sekali udah dikepoin. Nggak penting sih, tapi tetap saja saya tidak bisa menghilangkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak saya.

Lalu, Bagian sisipan penting-nggak-penting soal “daftar pertanyaan yang mungkin ingin kalian tanyakan pada Danny”, “awal mula Mia bersahabat dengan Danny”, “hubungan buruk Will dan ayahnya”, sebenarnya bisa diselipkan di sepanjang cerita saja. Apalagi dengan sudut pandang orang ketiga yang sudah mendukung. Kalau dibuat terpisah seperti itu kesannya terlalu maksa untuk diceritakan.

Terakhir, penulis sering sekali menggunakan sebutan nama (misal: Mrs. Jameson, Mr. Jameson) di narasinya. Memang kadang juga kata ganti “ibunya” dan “ayahnya” juga dipakai sih, tapi sebutan nama ini sering mendominasi. Tidak cuma sekali saya salah mengenali Mr. Anderson sebagai Mr. Jameson.

Seperti seri YARN yang saya baca sebelumnya, Perfection, Above the Stars jelas tidak sempurna. Terlepas dari kemiripan atau kekurangan atau endingnya yang ketebak (dan saya kurang suka), buku ini layak dibaca untuk mengisi libur lebaranmu :))

“Aku benci menjadi buta! Aku benci terus-menerus diberi tahu mana yang bisa dan tidak bisa aku lakukan karena aku buta! Aku benci dicemaskan sepanjang waktu karena aku buta!”
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
July 4, 2015
** Books 195 – 2015 **

Buku ini untuk memenuhi New Author Reading Challenge 2015

4 dari 5 bintang!

“Nanti, saat aku pergi, aku tidak ingin menjadi bintang. Bintang pasti jatuh. Bintang pasti meledak. Aku ingin pergi ke suatu tempat di atas bintang-bintang. Agar aku bisa terus mengamatimu dari atas. Tanpa Jatuh. Tanpa Meledak”


ARGHHHHHH! Astagaa astagaaa bisa-bisanyaa Novel Young Adult satu ini berhasil membuat air mata saya menetes pelan tanpa saya sadari! *mendadak frustasi

Pada awalnya saya penasaran jarang sekali di Indonesia ada yang menulis tema tentang Young Adult udah begitu LGBT pula yang diangkat. Makin penasaran ketika saya kemarin ke Toko buku besar stok bukunya ada 26 buah tapi masa saya keliling2 ada setengah jam sendiri mengubek rak buku Young Adult dan buku2 YARN tidak ada penampakan wujud novel ini. Saya jadi bertanya-tanya sendiri kenapa buku ini terasa istimewa karena susah ditemukan. Setelah menemukannya di tumpukan buku lainnya akhirnya saya berujung pada kesimpulan ini adalah suatu petanda bahwa saya harus membelinya. >___<

Saya sebelumnya sempat membaca penulis local yang membahas tentang isu LGBT ini seperti Before Us by Robin Wijaya ataupun Lelaki Terindah by Andrei Aksana. Tapi, tidak ada yang semanis kisah di novel ini. Manis tapi sekaligus sedih yang menjadi paket komplit dan menghiasi setiap halaman di buku ini.

Tidak bisa dipungkiri ada beberapa hal yang mengingatkan saya akan beberapa adegan di film/buku tapi secara keseluruhan buku ini adalah gabungan antara Film drama Korea yang berjudul Endless Love dan unsur manis di Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe. Gaya penulisan seperti novel terjemahan, alur ceritanya, kisah Danny dan Will itu rasanya sekaligus membuat saya menjadi haru dan sesak karena saya belum pernah menemukan penulis Indonesia yang berhasil mengangkat isu LGBT dan diracik dengan baik didalam buku ini. Salut banget dan saya acungin jempol untuk Mas D. Wijaya! ;)

Saya sempat sudah mengira ending di bukunya akan seperti yang tertulis dibuku. AWAS INI SPOILER!!JANGAN DIBUKA RESIKO TANGGUNG SENDIRI LOH YA!

Dan ituu kenapaaa di akhir buku suratnya Will jadi senjata pamungkas banget yahhh! >__<

Referensi buku LGBT lainnya yang lebih spesifik ke M/M beserta rating bukunya menurut saya :
1. Because You'll Never Meet Me by Leah Thomas --> 4,2 dari 5 bintang!
2. Will Grayson, Will Grayson by John Green and David Levithan --> 3,8 dari 5 bintang!
3. Two Boys Kissing by David Levithan --> 3,4 dari 5 bintang!
4. Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe by Benjamin Alire --> 3,2 dari 5 bintang!
5. rock by Anyta Sunday --> 4,8 dari 5 bintang!
6. Moonlight, Tiger, and Smoke by Connie Bailey --> 3,9 dari 5 bintang!
7. The Doors of Time by Felisblanco --> 4,3 dari 5 bintang!
8. Captive Prince: Volume One by C.S Pacat --> 3,2 dari 5 bintang!
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews852 followers
February 4, 2016
D. Wijaya
Above The Stars
Ice Cube Publishing
7.6

Saya ingat masa-masa di pertengahan tahun 2000-an ketika teenlit GPU berkuasa dan menerbitkan sejumlah buku-buku teenlit dengan tema "berani", seperti Luna yang mengangkat tema transgender. Setelah itu, kayaknya saya yang terlalu kuper atau apa, saya belum melihat ada buku young adult bertema LGBT(Q) yang diterbitkan oleh penerbit mayor.

Yah, saya ngerti, sih, kalau topik LGBTQ ini masih topik yang kontroversial di negeri ini, tapi karena saya anaknya lumayan liberal dan saya selalu belajar buat mengasihi orang lain despite everything, makanya saya enggak begitu masalah sama topik yang berkaitan dengan LGBTQ. Tapi, yah, harusnya bukan berarti kalau karena topik yang kontroversial semacam ini, jarang sekali ada buku young adult lokal yang mengangkat tema kayak gini. Fenomena ini, suka tidak suka, emang beneran ada dan rasanya kayak salah kalau kita menutup mata akan hal-hal semacam ini.

Loh, kok saya malah ceramah.

Jadi, yeah, guys spoiler alert buku ini mengangkat tema LGBTQ, sudah seperti yang saya duga. Tapi dari blurb emang harusnya ketebak. Tapi, tenang aja, fokusnya bukan di situ kok, lebih banyak ke... wellpersahabatan meskipun adegan romantisnya cukup bikin orang yang heteroseksual nyengir miris karena iri.

Rating sebenarnya 3,5 bintang, tapi karena keberanian D. Wijaya dan karakter Will yang sangat menyenangkan, saya bulatkan ke atas.

Danny Jameson buta sejak lahir dan ia selalu berpikir bahwa ia tak akan pernah bisa melihat, bahwa orang tuanya akan selalu protektif, bahwa John dan kroninya akan selalu mengganggu Danny, bahwa Mia Berry akan menjadi satu-satunya teman yang ia miliki. Namun, ketika Will--si biang masalah--pindah ke sekolah Danny, ia menemukan teman baru. Will mengerti Danny, mengabulkan permintaan Danny, begitu baik padanya. Awalnya semuanya baik-baik saja. Namun, saat perasaan Danny pada Will berkembang menjadi sesuatu yang lain, Will tiba-tiba saja menghilang.

Yah, gini-gini, nih, standar yang saya pakai buat menilai young adult bule dan Above The Stars sudah sangat memenuhinya. Narasinya lancar dan saya suka dengan narasi yang dipakai. Beberapa kalimat terasa indah, dan indahnya begitu effortless. Maksudnya, hanya dengan kata-kata lugas, perasaan dan maksud yang hendak disampaikan dapat disampaikan dengan baik. BUkan dengan bahasa berbunga-bunga, kayak Suaranya sungguh indah bak lembayung senja yang menggetarkan sukma. Yha, sesuatu kayak gitulah.

Saya cuma suka karakter Will, sebenarnya, dengan dialog-dialog yang sarkastis yang ia lontarkan. Meskipun cukup klise--karena saya sudah cukup banyak baca tipe karakter macam Will--saya masih suka dengan sejumlah dialog yang ia keluarkan. Beberapa lumayan bikin benak saya berpikir. Meski demikian, karakter-karakter yang lain juga cukup menyenangkan. Saya lumayan suka dengan Mia Berry, tipe-tipe cewek tsundere yang akan sangat menarik kalau saya bisa kenalan lebih lanjut.

Plotnya juara, dengan beberapa petunjuk yang samar untuk menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi di akhir cerita. Kejutan yang diselipkan membuat saya sedikit terperanjat karena saya enggak nyangka kalau Will hilang karena hal tersebut, terlebih lagi karena sudah ada petunjuk.

Beberapa hal yang sedikit mengganggu saya:
1. Entahlah kenapa panggilan Papa dan Mama ini terasa janggal. I know. Memang ada beberapa anak yang memanggil Papa dan Mama di Amerika Serikat sana, tapi mungkin bukan hal yang lazim. Tapi, ini bukan hal yang patut dipermasalahkan.
2. Masih soal panggilan, saya juga merasa sebutan Bu Guru untuk nyebut guru SD juga terasa sangat Indonesia sekali.
3. Terus sejumlah kutipan konfesional (?) di sela-sela bab awal itu terasa sedikit aneh, terutama karena back story-nya lumayan enggak memengaruhi jalannya cerita.
4. Saya berharap kalau buku ini ditulis dari multiple PoV 1 biar semakin mengiris-ngiris.
5. Spoiler ending:


Omong-omong nama Will Anderson ini mengingatkan saya akan nama vokalis salah satu band favorit saya, Parachute, salah satu band underrated yang pernah ada. Lirik-liriknya mantap dan romantis, dan musiknya lumayan. Terutama di album The Way It Was.

(malah promosi Parachute wkwk)

Well akhir kata, well done buat D. Wijaya. Ceritanya bisa dibilang sukses mengaduk-aduk perasaan saya, dan saya tunggu karya-karya berikutnya.

Profile Image for Abdul Azis.
127 reviews13 followers
June 25, 2015
Oke baiklah ini review ke Dua gue setelah yang pertama kurang gereget, dan yes novel ini menimbulkan semacam susah 'move on' seperti Montase dan Evergreen yang jadi daftar teratas novel lokal terfavorite gue. Sekilas pas baca Sinopsisnya gue keingetan sama film Eropa yang judulnya 'The Way He Looks', tapi ketika gue baca sampai akhir dan endingnya novel ini yang bikin gue menghembuskan nafas panjang perkiraan gue meleset, kesamaannya hanya di tokoh aja.

Bercerita tentang seorang Danny yang punya keterbatasan fisik yaitu tak bisa melihat (Will ngelarang gue buat nyebut Buta), sahabat dan keluarga yang sangat overprotective tentang keadaanya, serta mimpi yang belum terwujudkan. Setibanya Will disekolah Danny sebagai anak urakan pindahan merubah kehidupan Danny selamanya, Will seperti obat penyembuh bagi ketidak mampuan Danny.

Gue suka banget sama tiap karakter disini terutama Will, yap he just like another crush male in novel. Penjelasannya adalah bahwa dia punya sifat penenang, pencerah, dan penolong yang semua itu sebenernya lebih pantes kalo disebut sebagai ' a great lover'.

Tentang dialog yang renyah dan berasa ngalir terlebih percakapan Will dan Mia pas lagi berantem.

Tentang Cerita yang bikin gue terhipnotis sampai akhir dimuali dari awal perkenalan, mengabulkan permintaan Danny, dan soal bagian akhir yang bikin gue bilang 'Damn, I should ready knew it for sure', yang artinya gue terkecoh dengan kenyataan bahwa si Will yang periang itu akan berakhir dengan 'ya itu'. gue sangat menikmati ceritanya. Ada beberapa bagian yang bikin gue senyum-senyum sendiri salah satunya pas Will ngabulin permintaan ketiga Danny, padahal hell yaw it's male vs male. Sejauh ini buku luar yang udah gue baca soal ketertarikan batang dengan batang lainnya adalah BrokeBackMountain yang legendaris itu, Will and will karya John Green, dan about mice yang masih belom paham dimana penulis mendapat idea kaa gitu.

Ending Novel ini ngingetin gue sama TFIOS, 'ketika kamu berfikir bahwa kematian akan datang kepada dirimu cepat dan kenyataannya dia lebih dulu mengambil orang yang kau cintai tanpa kau duga karena kau berfikir dia baik baik saja'. dan terakhir Suratnya, gue benci Eulogi.

Penulis baru semacam mas D, Trini ,dan Agatha mesti dibudidayakan.

last notes, Thank you for ice cube yang consistent dengan project Yarnnya, salute. dan gue akan membaca series lainnya.
Profile Image for MAILA.
481 reviews120 followers
March 3, 2017
pas membaca ini, saya berubah menjadi wanita supercengeng sekali :')

***

belum selesai membaca seluruh serial YARN tapi bisa dipastikan kalau ini masuk salah satu yang menjadi super-kesukaan. iya, super-kesukaan. ceritanya manis, ringan dan mengalir dengan lancar tanpa cela banget yang bikin saya bisa hanyut juga seolah merasa mendegar langsung suara Danny, memegang tangan Will yang kurus saat sakit juga merasakan ''dimarahi'' oleh Mia.

dan yang membuat saya semakin kagum karena ini adalah karya pertama penulisnya, ya allah, ini the best banget sih huhu. gak yakin sih saya bisa nulis beginian juga :')

***

kalau ditanya ini cerita tentang apa..gatau juga ya gimana jelasinnya. pokoknya kisah persahabatan antara Will, Danny dan Mia. nah, kira2 yang terbayang di kepala kalian kalau ada 2 laki-laki dan 1 wanita ceritanya bakal gimana tuh?

tenang, tenang, cerita di buku ini akan 100% lain dari apa yang kalian bayangkan dan saya jamin kalian juga akan suka dan jatuh cinta.

***

setelah selesai membaca ini saya langsung mengunduh juga lagu2 yang dinyanyikan Danny di buku ini. mencoba membayangkan bagaimana suaranya Danny yang ''katanya'' terdengar begitu ringan sehingga siapapun yang menderkan pasti akan terbius.

Selesai membaca ini juga lagi2 saya menghabiskan 3 lembar diary untuk curhat dan merenung akan banyak hal.

Will berkata di buku ini bahwa kita harus menikmati dengan baik setiap detik yang kita miliki. jangan takut untuk mencobanya.

hidup dan menikmati waktu ya...

meskipun saya sangat suka dengan buku ini, entah mengapa tidak ada satupun kutipan yang membekas dengan baik di ingatan saya.
mungkin karena saya terlalu hanyut dalam cerita, atau mungkin karena saya juga telah jatuh cinta pada Will.

saya memberikan rate untuk buku ini 6.
suka. terlalu suka.
sampulnya cantik, ceritanya manis dan setelah selesai membaca ini saya merasa harus lebih menghargai hidup dan waktu.

tidak hanya sekedar hidup, tetapi benar-benar Hidup.

dan well, terima kasih ice cube pop karena telah membuat lomba YARN-nya :')
Profile Image for Laili Muttamimah.
Author 5 books39 followers
July 31, 2015
"Hiduplah dengan bahagia, Danny. Pohon kehidupanmu tidak boleh mati hanya karena ia kehilangan sehelai daun sweet gum. Akan ada daun-daun lain yang melindungi pohon kehidupanmu dari sinar matahari yang menyengat. Jadi, lakukan apa yang ini kau lakukan, gunakan setiap kesempatan, dan bahagialah" - Will (hal 247).

Pertama, aku suka banget sama cover Above the Stars. Gradasi warna ungunya terlihat sendu tapi manis, pun dengan tambahan objek seperti ferris wheel, lampu taman, langit malam, dan sebagainya. Menurutku, cover terbaik YARN dipegang oleh Above the Stars sejauh ini. Plus, hal itu didukung dengan isi ceritanya yang menarik.

Selain cover, aku suka gaya bercerita Kak D. Penuh kosa kata baru, mengalir, rapi, dan asyik untuk diikuti. Dialog antar tokohnya pun terasa fun. Banyak juga quotes yang cukup menohok hati di novel ini, terutama yang diucapkan oleh Will. :')

Oh Will... dia seperti hero di novel ini. Kehadirannya memberikan warna tersendiri bagi Danny meskipun ia hanya bisa melihat kegelapan sejak kecil. Danny dan Will berhasil bikin aku gemas, aku suka interaksi mereka sepanjang cerita. Will yang berani, percaya diri, dan ceria, seolah mampu melengkapi karakter Danny yang awalnya pemalu dan kurang bisa bergaul. Jelas Danny kurang bisa bergaul, sepanjang hidupnya ia dikelilingi dengan orang-orang yang overprotective sama dia. Ketika Will datang, ia seolah menyuntikkan semangat tersendiri dalam hidup Danny untuk melakukan kebebasan dan hal-hal yang ingin ia lakukan (yang selama ini dianggapnya mustahil). Will terlihat sangat menikmati hidupnya. Ia punya prinsip manfaatkanlah waktu untuk melakukan hal-hal yang kau inginkan selagi bisa. Meski di balik itu semua, ia memiliki beban dan hidup yang juga tak sempurna. Tapi Will seolah ingin menutupi sisi gelap hidupnya dengan menghibur Danny untuk mengabulkan keinginan-keinginan cowok itu. Aku bisa membayangkan betapa membosankan hidup Danny sebelum Will datang. Biarpun Danny sudah punya Mia sebagai sahabatnya, tapi tetap saja... Mia hanya membuat Danny merasa terkekang. Omong-omong, adegan antara Mia dan Will berhasil bikin aku senyum-senyum sendiri. Aku heran, Will itu tabah banget, ya, hadapin cewek rese dan bawel kayak Mia? Will sama sekali nggak pernah marah meski Mia selalu menyudutkan dia. Sampai akhirnya, malah Mia yang jatuh cinta sama Will. Hahaha. Senjata makan tuan, kan.

Adegan favoritku... apa, ya? Banyak banget adegan yang aku suka di novel ini. Adegan ketika Will mengabulkan keinginan Danny, salah satunya. Waktu Danny beli kopi, pertunjukkan jalanan, pergi ke pub, sampai beli bando Batman (padahal Hello Kitty). Adegan lain yang kusuka pas Danny (untuk pertama kalinya) berani membantah orangtuanya. Waktu Danny marah sama ibunya itu, ah... dia keren banget! Sepanjang cerita, aku geregetan sendiri sama Danny karena dia nurut banget sama orangtuanya (memang seharusnya gitu, sih). Lagian, Mrs. Jameson agak nyebelin, ya. :'D tapi aku terharu banget ketika orangtua Danny mau menerima segala kekurangan Danny, pun pengakuan tentang perasaan Danny kepada Will. Selain itu, adegan pas Danny main 'Titian Kejujuran' sama Mia. Well, mungkin aku harus coba permainan itu suatu hari untuk nagih kejujuran temanku atau siapalah itu. :D Banyak juga adegan-adegan kecil yang membuat novel ini lebih 'bernyawa' dan kesan realistisnya pun terasa.

Omong-omong, Above the Stars ini adalah salah satu novel LGBT yang sama sekali nggak bikin aku jijik atau geli pas bacanya. Biasanya aku selalu skeptis sama novel-novel LGBT (apalagi kalau cewek sama cewek), tapi di novel ini aku malah hanyut dan maklum sama perasaan mereka. Awalnya aku agak deg-degan, sih, pas adegan Will mau mengabulkan keinginan ketiga Danny, tapi untungnya adegan itu nggak terlalu 'menakutkan' seperti bayanganku. :D

Endingnya sudah bisa kutebak, sih, pas di tengah cerita. Tapi aku rasa itu akhir yang terbaik untuk mereka. Pengembangan karakter Danny pun terasa di ending, menunjukkan kalau kehadiran Will memang nggak sia-sia buat dia. Ah... Will! :'D aku mulai nyesek pas Danny datang ke rumah Will, lihat-lihat kamar Will dan wajah Will untuk pertama kali. Dan itu kenapa lagunya harus See You Again? Rese, nih, Kak D. :')

Mungkin kekurangannya, aku cuma pengin adegannya ditambahin. Hahaha. Konflik antara Will dengan Mr. Anderson sepertinya masih bisa digali. Dan apa kabarnya John Schueller setelah mendapat perlawanan dari Danny?

Overall, 4,5 bintang untuk novel ini. Untuk Kak D, pokoknya Kakak harus terus berkarya, ya! Aku tunggu novel-novel Kakak selanjutnya (dan aku pasti beli!). :)

P.S Aku penasaran, Kak, suara Danny itu kayak apa.
Profile Image for April Silalahi.
227 reviews213 followers
August 13, 2015
Seri YARN kali ini menceritakan tentang sosok Danny yang tidak dapat melihat sejak dia masih kecil. Hari-hari Danny jalani di sekolah dengan tidak baik. Seperti kisah nyata pada umumnya, Danny sering sekali diledek oleh teman-temannya. Bahkan dia merasa tidak ada yang ingin berteman dengannya. Sampai dia bertemu dengan Mia.

Perkenalan Mia dengan Danny yang tidak sengaja justru mengusik hati Mia kalau selama ini Danny sendirian-tidak punya teman. Mia lah sahabat Danny di sekolahnya. Mia dengan sabar membantu Danny mencatat dengan mesin tik, mengantarkannya pulang dan pergi dari sekolah hingga ke rumah, bahkan dengan sabar membantu Danny mengerjakan tugas sekolahnya.

Sampai suatu hari mereka kedatangan murid baru pindahan bernama Will. Will ditempatkan duduk semeja dengan Danny. Pertemuan mereka berawal dengan baik. Sampai akhirnya Will mulai dirasa membawa pengaruh negatif pada Danny. Mia dan keluarga Danny berusaha untuk menjauhkannya dari Will.

Pembawaanya Will yang santai menjalani hidup dan tidak menganggap Danny sebagai seorang yang tidak bisa melihat, membuat persahabatan mereka semakin dekat. Apalagi saat petualangan yang dilakukan Danny bersama Will- hanya untuk membuat orang banyak tidak membuat Danny merasa berbeda, itu semakin membuat Danny terkesan.

Sampai suatu hari Will meninggalkannya, dan semua rahasia mulai terkuak.

"Nanti, saat aku pergi, aku tidak ingin menjadi bintang. Bintang pasti jatuh. Bintang pasti meledak. Aku ingin pergi ke suatu tempat di atas bintang-bintang. Agar aku bisa terus mengamatimu dari atas. Tanpa jatuh. Tanpa meledak."

Ini bukan seri YARN pertama yang aku baca. Saat melihat review di Goodreads yang penuh sekali dengan spoiler, aku tidak terpengaruh. Apalagi dengan komen beberapa teman yang mengatakan ini bagus. Maka aku mulai membacanya.

Memang benar seri YARN ini bagus sekali. Aku tidak menyadari kalau ada suatu yang salah antara Danny dan Will. Untuk saja penulis membawa aku membaca kisah mereka perlahan. Untuk juga tidak dibuat lebay sama penulisnya. Kalau gak mungkin aku akan mengatakn hal sebaliknya tentang buku ini.

Yang harus aku sesali banyak sekali typo di dalamya. Maafkan aku tidak mencatatnya satu per satu. Hal itu membuatku sedikit bingung apa maksud suatu kalimat yang ada typonya. Untuk saja terselamatkan dengan pembawaanya ceritanya yang ringan.

Mengambil setting di Magnolia, hanya saja aku tidak merasakan kalau ini mengambil setting di luar negri. Selain buble gum dan nama jalannya yang terkesan luar negri -maafkan aku tidak tau apakah nama jalan itu nyata disana. Tapi akan lebih baik aku rasa kalau penulis mampu melakukan riset mendalam mengenai setting tempat ini.

Dan aku harus setuju sama anggapan sebagian besar komen review mengenai sistem belajar dalam novel ini. Aku memang belum pernah tau bagaimana sistem belajar di Magnolia, tapi semua yang tergambarkan di dalam novel ini aku merasakannya kalau itu setting di Indonesia.

Untuk semua kelebihan dan kekurangan yang aku berikan, novel ini rekomen buat yang suka cerita santai dan penuh makna persahabatan.
4* dariku. Selamat menikmati seri YARN yang lainnya juga xD

Aku menulisnya dalam blogku juga: http://duniakecilprili.blogspot.com/2...
Profile Image for Pattrycia.
351 reviews
June 24, 2015
Above the Stars berkisah tentang dua remaja laki-laki bernama Danny dan William. Danny terlahir dengan sepasang mata biru yang tidak bisa melihat. Orangtuanya dan sahabatnya Mia sangat protektif terhadap dirinya. Namun keadaannya tidak semata membuatnya berubah menjadi anak yang suram dan bertabiat buruk. Walaupun teman sekelasnya selalu mengejeknya, ia tetaplah Danny yang ceria.

Kedatangan Will bagaikan hembusan angin segar di suatu hari yang panas. Will memberi warna baru di kehidupan Danny yang selama ini selalu dikekang oleh orangtuanya dan disabilitasnya. Will bahkan mengabulkan 3 permintaan Danny; mengajaknya membolos dan mengamen di pinggir jalan, membawanya ke klub malam dan yang terakhir memberinya sebuah kecupan. Orang tua Danny menganggap Will membawa pengaruh buruk kepada Danny. Namun Danny tak menggubris larangan orangtuanya dan tetap berteman dengan Will.

Sampai suatu pagi, setelah malamnya berhasil mengajak Danny pergi ke sebuah klub malam, Will mendapat teguran keras dari Ibu Danny. Sejak saat itu Will menghilang tanpa kabar. Dan ketika Danny berhasil menemukan Will di sebuah rumah sakit, mereka dihadapkan pada suatu kenyataan yang sangat menyakitkan.

Mulai dari sini cerita berubah menjadi haru biru. Dengan segala keterbatasannya, Danny berusaha menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan Will. Mereka saling terbuka terhadap perasaan masing-masing. Banyak air mata yang diteteskan selama mereka bersama.

Saya merasa apa yang dilakukan Will untuk Danny sangat heroic. Karakter favorit saya disini adalah Will yang menganut kepercayaan "Live like there's no tomorrow". I totally agree with that saying cause we never know what the future brings.

"Well, aku tidak terlalu percaya dengan 'bisa menunggu'."

Dan surat terakhir dari Will untuk Danny itu benar-benar bikin saya... Argh!

Keinginan terakhirku? Hiduplah dengan bahagia, Danny. Pohon kehidupanmu tidak boleh mati hanya karena ia kehilangan sehelai daun sweet gum. Akan ada daun-daun lain yang melindungi pohon kehidupanmu dari sinar matahari yang menyengat. Jadi, lakukan apa yang ingin kau lakukan, gunakan setiap kesempatan, dan bahagialah.

Oh iya, penggalan lagu See You Again yang dinyanyikan oleh Charlie Puth benar-benar cocok untuk menggambarkan suasana waktu Will meninggal. Sedih banget. Duh sampe nitik air mata gw.

Buat ceritanya yang mengharukan dan Will yang heroik, saya sematkan 4 bintang untuk Above the Stars.

This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
July 29, 2015


Jangan ragu utk mencoba lagi. Tidak ada kata terlambat utk sebuah awal yg baik


Di antara keterbatasannya, Dhanny cukup beruntung karena dia memiliki dua orang sahabat, Mia dan Will. Perkenalannya dengan Mia sudah dimulai sejak ia masih di bangku sekolah dasar, semenjak itu mereka jadi berteman akrab. Bahkan Dhanny menganggap Mia sebagai kakak perempuannya sendiri, yang selalu membantu dan melindungi Dhanny dari keisengan teman temannya.

Sedangkan Will masuk ke kehidupan Dhanny di suatu hari saat mereka beranjak remaja. Sebagai seorang murid pindahan, di kelas barunya Will mendapatkan tempat duduk di sebelah Dhanny yang ternyata buta. Perkenalan mereka tidak berjalan dengan baik, tetapi ternyata kemudian Dhanny malah menjadi sahabat Will. Mereka pulang sekolah bersama, mengerjakan tugas bersama serta melakukan kenakalan kenakalan kecil khas remaja bersama-sama.

Tapi di suatu pagi, Will menghilang dari kehidupan Dhanny. Kemana sebenarnya ia pergi? Dan bagaimana nasib Dhanny yang ditinggalkan sahabatnya?

Saya suka membaca buku ini, alurnya cepat, dialognya juga mengalir, serta perubahan antar adegannya juga lancar. Konflik utama yang dibawakan juga memang masih jarang sih di jajaran novel lokal, tapi karena novel ini berlatar luar negeri, saya jadi membanding bandingkannya dengan novel luar bertema serupa yang pernah saya baca. Selain itu, di buku ini si penulis tidak bertele tele dalam membangun konfliknya, plus ngga pake filosofi kehidupan yang berat kayak macam novel Aristotle and Dante dan You'll Never Meet Me.

Menurut saya buku ini murni bercerita tanpa menggurui pembacanya, nah karena itulah buku ini banyak mendapat apresiasi bagus.

Tokoh favorit saya, jelas Will yaaa. Saya kan emang suka sama cowok semi berandalan gitu. Will itu ekspresif, pintar merayu pula XD (*sodorin kembang*). Sayangnya ada beberapa bagian di mana Will jadi agak garing gitu bercandanya, yang entah kenapa tetap aja bisa membuat Dhanny tertawa. Terus saya salut juga dengan keberanian penulis untuk bercerita tentang isu yang cukup sensitif seperti LGBT ini. Kabarnya sih latar yang dipilih di luar negeri karena memang ada pertimbangan tentang isu LGBT yang diceritakan. Yaahh moga moga kalau si penulis akan menerbitkan novel setema, saya penasaran semoga bisa diceritakan dalam latar Indonesia. Terus ada lagii… meski covernya kurang nendaang, tapi dimaafkanlah karena temanya unik, penyajiannya apik, jadi cukuplah ya untuk menggoda para calon pembacanya.. x)
Saya tunggu karya selanjutnya! ;))
Profile Image for Deta NF.
234 reviews6 followers
August 4, 2015
Seri YARN pertama yang saya baca dan saya menyukainya. Saya sangat terkejut dengan tema yang D. usung namun saya salut karena ia cukup berani. Yang paling saya suka dari novel ini adalah gaya bahasa dan cara D. bercerita; that's my cup of tea. Saya selalu suka membaca tulisan dengan gaya bahasa baku namun tetap mengalir dan enak dibaca dan novel ini salah satunya meski saya menemukan beberapa kata 'banget' yang menurut saya kurang enak dipadukan dengan kata sebelumnya.

Saya juga menyukai karakter setiap tokoh terutama Will yang berandalan namun di satu sisi, ia begitu hangat dan penyayang. Will itu brilian, ide-idenya membuat saya terkesan, oh ya, tak lupa kalimat-kalimat yang Will lontarkan dengan candaan yang tak melebihi porsinya berhasil membuat saya tersenyum sendiri ketika membacanya. Mia mengingatkan saya pada Hermione, btw.

Saya adalah silent reader cerpen-cerpennya D. yang ia posting di facebook. Ketika akhirnya ia mengeluarkan novel debutnya, saya sudah optimis that it'll be amazing. Dan, terbukti. Kami juga pernah mengobrol mengenai musik dan TFIOS di facebook (padahal, kami tidak mengenal satu sama lain). Dari obrolan itu, saya mengetahui bahwa D. begitu menyukai keduanya. Tak heran jika D. banyak menuliskan mengenai musik dan lagu-lagu (yang menurut saya adalah lagu-lagu favoritnya) di novelnya. Dan kalau boleh menebak, mungkin novel TFIOS adalah salah satu inspirasi terbaik D. menuliskan novel debutnya ini. Haha maafkan saya yang sok tahu.

Satu lagi, scene favorit saya adalah saat Will mengabulkan permintaan Danny yang pertama. Terutama pada saat Danny membeli kopi dipandu oleh suara Will yang terdengar melalui bluetooth headset. Itu keren!
Profile Image for Yovano N..
239 reviews14 followers
October 4, 2015
Novel YARN pertama yang saya baca. Saya penasaran karena buku ini sempat menjadi topik diskusi hangat anak-anak BBI Joglosemar.

Jujur, buku ini mengingatkan saya pada A Walk to Remember dan The Fault in Our Stars. Bedanya, yang ini versi m x m. :)

Secara keseluruhan, saya suka sekali gaya bercerita D. Rasanya seperti membaca novel terjemahan. Bahasanya baku namun tidak kaku. Ceritanya sendiri gimana? Hmm. Kadang bikin elus dada, kadang bikin ngakak, dan terakhir malah sukses bikin saya sibuk nyari tisu buat ngelap air mata. (Halah.)

Tokoh Will mengingatkan saya pada seseorang yang saya kenal. Saking miripnya karakter Will dengan orang tsb, saya membayangkan bahwa mereka adalah orang yang sama. Itulah mengapa saya sempat melempar buku ini (I mean, beneran saya lempar, saking kesalnya) begitu tahu apa yang penulis lakukan kepada Will.

Padahal, kalau dipikir-pikir, sebenarnya endingnya sweet kok. Ingat ending A Walk to Remember? Nah, itu.

Overall, nggak nyesel baca buku ini. :)
Profile Image for Amaya.
749 reviews58 followers
February 29, 2024
Tw: bullying, violence, chronic illness, queerphobic

Rasanya nano-nano setelah menyelesaikan buku ini. Isinya bagus, simpel, dan cukup menggambarkan kehidupan remaja. Kubilang cukup karena di beberapa hal isunya nyambung dengan masa-masa remaja, salah satunya bullying.

William terpaksa harus pindah sekolah karena ayahnya dipindahtugaskan ke kota lain. Kali ini, Will tidak membuat masalah yang mengharuskan sang ayah datang ke sekolah menghadap kepala sekolah. Kehidupan di sekolah barunya cukup menyenangkan, apalagi setelah pertemuannya dengan Danny, siswa buta di kelasnya. Awalnya, semua berjalan seperti biasa, sampai Will mulai mengenal Danny dan mengajak Danny untuk melihat dunia lebih luas. Lebih daripada yang selama ini Danny ingat dan rasakan.

I thought, I'll be triangle love story yang bisa aja jadi konflik perpecahan persahabatan antara Danny dan Will, tapi ternyata Danny biasa saja ke Mia. Awalnya, aku ngerasa buku ini bagus, rapi, dan apa ya, vibe LN banget, mana latar tempatnya juga mendukung. Ternyata lebih dari itu. Agak kurang suka juga sama karakter Danny. Di bagian akhir dia nyebelin banget, keras kepalanya kayak dipaksa gitu, walaupun ada perkembangan karakter tetap terkesan kurang pas.

Karena ada satu isu yang nggak pas dengan ideologiku, aku jadi kurang bisa menikmati karyanya secara utuh. Yang pasti, buku ini mengajarkan tentang persahabatan dan menantang diri sendiri menghadapi hal baru. Baca ini kalau kalian butuh bacaan YA yang ringan.
Profile Image for Olivia.
375 reviews25 followers
July 16, 2015
Buku yang akan habis dalam sekali lahap :)
Review lengkap: http://hijaubalonku.blogspot.com/2015...

(16/07)
William Anderson, adalah seorang murid pindahan baru di Warren High School dan seseorang yang memiliki prinsip bahwa hidup ini harus dinikmati sesuai keinginan karena hanya sekali dijalani. Namun, prinsip Will ini sering kali disalahartikan oleh banyak orang terutama guru dan ayahnya. Dia sering kali ditegur karena terkenal sebagai pembuat onar di sekolahnya yang lama. Maka, bisa jadi bila dia tidak pindah ke sekolahnya yang baru karena ayahnya yang pindah karena mendapat promosi kerja, dia akan dikeluarkan karena kelakuannya. Will sampai harus berjanji pada ayahnya bahwa dia tidak akan berbuat nakal di sekolah barunya lagi,

Di hari pertamanya sekolah, Will hendak menyapa anak laki-laki yang duduk disampingnya, namun ketika sudah mengulurkan tangannya, temannya itu tidak memberikan respon. Beberapa teman melihat itu dan tertawa. Sang anak laki-laki pun baru membalas ketika seorang anak perempuan memberitahu bahwa dia disapa. Belakangan, Will pun menyadari, anak itu- Danny Anderson- tidak bisa melihat.

Tapi alih-alih menjauhi Danny setelah mengetahui hal itu, Will malah makin tertarik pada dunia Danny. Dia pun mulai mendekati dan berteman dengan Danny serta teman Danny sejak kecil, Mia Berry, yang kadang merasa Will kadang hanya mempermainkan Danny.

"Kau tidak perlu malu hanya karena meminta sedikit bantuan." (halaman 31)

Ini pertama kalinya bagi saya untuk membaca buku dengan tema seperti ini. Gaya penulisan novel ini juga unik dan bakal bikin orang yang kurang tahu bakal mengira bahwa novel ini adalah novel terjemahan. Yup. Gaya bahasa dan latar cerita dari novel ini serta tokoh-tokoh yang ada, mengambil latar luar negeri.

Ide ceritanya lumayan unik dan jarang ada dari yang saya tahu selama ini. Well, banyak juga sih yang bilang kalau novel ini sedikit banyak mirip dengan film "The Way He Looks", dimana sang penulis sendiri berkata dia juga baru tahu lalu menonton dan mengakui banyaknya kemiripan. Saya sendiri juga belum menonton film itu, jadi tidak bisa membandingkan. Hohoho.

Tokoh-tokohnya rasanya bisa digali lebih dalam lagi (a.k.a novelnya kurang banyak). Saya suka hampir semua tokoh. Walau di pertengahan cerita rasanya saya kurang bersimpati dan menganggap Danny egois dan malah bersimpati pada orangtuanya. Saya juga suka dengan Will dimana karakternya yang sekarang memang bisa membuat orang suka dengannya.

Untuk kelancaran ceritanya, saya suka dengan penulisannya yang lancar dan membuat saya bisa melahap cerita dengan cepat. Saya hanya membutuhkan 1-4 kali untuk duduk dan membaca hingga akhirnya selesai.. Jadi sediakan waktu dan buku ini cocok buat kamu baca dalam sekali baca ;) Tema yang diangkat juga mengangkat banyak elemen. Mulai dari pertemanan, keluarga, dan banyak lagi.

Konflik antar karakter juga terjalin dengan rapi dan bagus. Membuat kita kadang tergugah dengan dunia Will dan Danny

Saya suka elemen-elemen novel ini, walau dibeberapa fokus, cerita bisa diekspor lebih lanjut. Terlebih saya paling suka dengan bintang, daun sweet gum. Saya juga suka saat Will dan Danny membolos sekolah ;)

P.S: Saya penasaran apa Danny tidak menggunakan "hukuman apa sajanya" untuk Will saat Will membujuknya saat mengabulkan salah satu permintaan Danny? Apa saya lupa ya? Hahaha
Profile Image for Femi.
205 reviews18 followers
June 6, 2017
Topik yang diangkat penulis ini cukup berbeda dengan penulis umumnya. Ia berani mengangkat cerita ini dengan tema yang cukup sensitif, LGBT (Lesbian, gay, bisexual, transgender). Bisa dibilang, belum banyak lho penulis remaja Indonesia yang mengangkat tema serupa.


Ide ceritanya sendiri menurutku mirip dengan The Fault in Our Stars. Penulisnya sendiri mengakui kalau dia memang terinspirasi oleh John Green. Tema yang unik seperti ini menjadi angin segar di kancah perbukuan Indonesia yang mungkin bagi beberapa orang terasa ‘begitu-begitu saja’.


Penulis berhasil membangun cerita yang berlatar di luar negeri. Gaya bahasa yang digunakan sudah mirip sekali seperti buku terjemahan. Ini adalah karya debut penulis sendiri dan aku suka sekali. Kenapa? (1) Bahasanya indah, dan walaupun bahasanya baku, namun cerita tetap mengalir dengan indah. Aku memang mem-favoritkan sekali penulis yang bisa menulis seperti ini. Kuacungi jempol! (2) Membaca buku ini mengingatkanku pada Ari dan Dante di Aristotle and Dante Discover the Secrets of Universe, yang sifatnya bertolak belakang namun bisa jadi satu. Dan kuakui, Will dan Danny memang manis banget! (3) Twistnya. Penulis sebenarnya sudah memberikan petunjuk-petunjuk kecil sebelumnya, but i didn’t see that coming. Aku clueless (atau nggak konsen karena menikmati ceritanya?) sekali sampai aku harus baca halaman-halaman sebelumnya (4) Pesan yang disampaikan mengena sekali. Tentang penerimaan, tentang kebahagiaan, dan tentang kehilangan.


Awalnya aku berpikir adanya LGBT di buku ini cukup ‘ekstrim’, seperti yang sering ditulis penulis YA luar. Aku agak was-was awalnya waktu membacanya. Ternyata, interaksinya tidak seekstrim yang kubayangkan. Kalau kamu baru membaca buku bertema seperti ini kali pertama, aku yakin tidak ada kesan aneh atau jijik yang kamu tangkap. Dalam kamusku, aku sebut ini manis.


Sayangnya, aku sempat menemukan beberapa typo (yang kuingat adalah penggunaan Mr. Dan Mrs. serta preposisi kalau tidak salah) dan karakter Danny menurutku.. terlalu polos. Bahkan aku sering kali lupa kalau Danny ini anak SMA, bukan anak SMP. Aku merasa ada beberapa bagian yang harusnya Danny tahu karena ia sudah cukup dewasa.


Pesan yang disampaikan dalam buku ini tersampaikan jelas. Syukuri apa yang kamu punya, jangan pernah takut menjadi berbeda, dan nikmati setiap detik dari hidupmu yang tersisa :D


Well, aku akan menunggu karya-karya D. Wijaya selanjutnya. Terus berkarya, Kak! (*ps : terimakasih sudah dikirim langsung jauh-jauh dan baru dibaca sekarang XD)

review bisa dibaca di --> http://thebookswanderer.blogspot.co.i...
Profile Image for Yuki Haura.
3 reviews1 follower
February 2, 2016
Bukan novel dengan tema LGBT yang kubaca untuk pertama kali. Sebelumnya aku sudah pernah baca beberapa fanfiction dengan tema LGBT, well, fangirl made it. Tapi, AtS adalah novel tema LGBT yang pertama kali aku tamatin.

Di awal baca, mungkin aku agak kaget. Kaget dalam artian, karena setting-nya di luar negeri, jadi aku udah berpikir kalau AtS ini pakai bahasa yang baku--kayak novel-novel dengan setting luar negeri lainnya. Tapi ternyata, Kak D nulis AtS dengan bahasa yang santai/non-baku. That's it, dan itu bikin aku rada "Eh?". Tapi itu gak berlangsung lama karena pada akhirnya aku mulai menikmati gaya bahasa AtS. Bahkan aku jadi suka dengan gaya kepenulisannya yang khas.

Bisa dibilang, AtS ini merupakan novel dengan durasi baca tercepat bagiku. Isinya begitu ringan dan mudah dipahami, jadi aku gak perlu bolak-balik baca kalimat untuk memahami situasi. Dan aku juga gak yakin, apa aku bacanya memang cepat atau memang isi dari AtS ini sangat ringan sehingga gak kerasa aku sudah tamat baca.

Kisah antara Danny dan Will dikemas dengan manis tanpa menimbulkan rasa 'risih' sedikit pun. Setiap momen yang mereka lalui bersama berhasil membuatku senyum-senyum sendiri. Apalagi saat Will mencoba mengabulkan permintaan Danny yang pertama.

Mendekati akhir, dengan kode-kode yang diberikan, aku sudah siap siaga dengan semua kemungkinan yang akan terjadi. Dan ternyata benar! Emosiku cukup diuji saat membaca chapter 14 dan seterusnya. Pada akhirnya aku menangis juga di tiga chapter terakhir.

Novel ini sangat aku rekomendasikan untuk kamu yang punya pemikiran terbuka, utamanya tentang LGBT. Yeah, you know, kalau kamu masih rada geli-geli gitu sama hal-hal yang menyangkut LGBT, kayaknya gak usah maksa deh. Meskipun kadar LGBT di AtS cukup rendah (bagiku). Cukup rendah karena hubungan mereka di sini pun cenderung seperti teman baik dengan sedikit bumbu tambahan. Seperti yang sudah kubilang tadi, novel ini memang ditulis dalam gaya penulisan yang ringan sehingga tidak perlu melipat kening banyak-banyak untuk memahami isi ceritanya yang begitu mengalir.

Aku kasih 4 bintang untuk Above the Stars!
Profile Image for Riyan Raditya.
Author 2 books
July 1, 2015
Sepertinya aku selalu tidak ragu memberi seluruh bintang pada setiap buku yang membuatku menangis. Iya, aku sedang memberikan lima bintang (rating penuh) pada Above the Stars ini. Aku sudah sedikit familiar dengan gaya bercerita D. ini dan aku yakin dia akan menjadi penulis yang luar biasa nantinya. Terbukti di novel debutnya ini dan melihat beberapa orang menilai positif akan karya debutnya ini dan aku cukup senang melihatnya.

Aku tidak bisa berkomentar apa-apa, apalagi memberi saran bahkan kritik. Dibandingkan tulisan-tulisannya yang dulu, D. sudah sangat berkembang jauh dari yang kubayangkan. Sukses selalu dan ditunggu karya-karya yang mengharukan lagi.

Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books99 followers
August 10, 2015
WELL DONE, D!

Sempat ingin memberi rating penuh untuk novel debut ini. Tapi, aku yakin penulisnya bisa menulis karya yang lebih baik dari ini. Dan, omong-omong, kesan setelah membaca buku ini sudah diwakili oleh rekan-rekan reviewer lain--padahal sebenarnya masih speechless setelah turut berduka dengan nasib Will.

Ditunggu novel berikutnya yang harus lebih keren, David!
Profile Image for Wildy De partie muchlis.
12 reviews1 follower
November 30, 2015
Saya kayaknya udah pernah menuliskan kesan dan pesan di akun facebook, saat lupa dengan password akun goodreads ini. HAHA. Saya suka bagaimana D mengangkat kisah berat ini dengan gaya yang enteng, seolah-olah, 'oh, ini bukan masalah bagiku'. Gemes deh.
Dipersingkat aja, ya. AtS itu...
1. Mengalir
2. Hangat
3. Mengikat sampai kau sesak napas
Dan yeah, I've warned you.
Profile Image for Suci Wigati.
2 reviews
July 4, 2015
Agustus 2014. Itu pertama kali saya bertemu dengan Will, Danny, Mia, Mr. Anderson, orang tua Danny dan John Schueller dalam draft pertama (The World He Looks) sebelum Kak David mengirimkannya untuk diikutkan bersaing dalam lomba.
Saat itu, setelah selesai membaca naskah awalnya, John Schueller dan antek-anteknya adalah beberapa tokoh yang tidak saya suka. Sebersit rasa tidak suka juga saya berikan untuk Mia.
Tetapi sekarang, ketika draft awal itu sudah ‘kembali lahir’ menjadi sosok yang baru, Mrs. Jameson menambah daftar tokoh yang tidak saya suka. Tenang, saat ini saya sudah kembali menyukai Mia. Ada satu sisi dari diri gadis itu yang membuat saya menyukainya.
Hidup sebagai Danny Flynn Jameson yang berada di dalam keprotektifan seorang orang tua (Mama) itu tidak lah menyenangkan. Segala hal diatur. Tidak bebas. Ketika berhasil keluar untuk beberapa jam saja dari pengawasan Mrs. Jameson, Danny harus bertemu dengan Mia yang tak kalah protektifnya. Tetapi, sejak kedatangan Will -si siswa yang dianggap terlalu bandel- hari-hari Danny ada yang berbeda.
Ia merasa lebih hidup dan tahu bagaimana menikmati hidup -seperti yang dikatakan oleh Will di suatu hari pada saat itu- di tengah kekurangan yang dimilikinya. (itu saja sekilas tentang AtS, kalau mau tahu lebih banyak tentang Will, Danny dan Mia, silakan mampir ke toko buku dan bawa pulang ke rumah ya :). Kalau spoiler nantikan agak merugikan penulisnya, walaupun sudah ada yang ngasih review penuh jebakan maut -,-).
Sejak awal mengenal tulisan-tulisan Kak David, cara dia bercerita, cara dia menyampaikan pesan, cara dia memberitahu kita para pembacanya mengenai setting ceritanya, itu semua mengalir begitu saja. Kita dituntun dengan perlahan, tanpa terburu-buru untuk menyelesaikan cerita-cerita tersebut.
Kalau boleh jujur (buka rahasia), di awal naskah Above the Stars ini, settingnya masih tidak sehalus yang ada dibuku sekarang hihihi.
Dari beberapa review yang sudah saya baca (sengaja membaca karena mau mengikuti perkembangan AtS), mereka yang mengatakan bahwa novel inilah yang dikatakan sebagai novel debut, itu memang benar. Rasakan sendiri ketika kalian membacanya ahahaha.
Beberapa hal yang saya suka dari ‘lahirnya kembali’ novel ini adalah:
1. Selipan-selipan cerita yang dimasukan oleh Kak David untuk lebih mengenal Will dan Mia.
2. Tidak ada typo (pasti senang banget) (tapikan Kak David memang teliti kalau nulis haha).
3. Alurnya lebih asik daripada waktu dulu pertama kali baca ehehe
Hanya satu yang disayangkan, kenapa surat Danny untuk Will yang ditulis dalam huruf istimewa itu tidak dimasukkan? Kan biar tambah greget ehehe.
Tahun lalu, setelah selesai membacanya, setidaknya ada 5 pernyataan dan 1 pertanyaan krusial yang saya tanyakan. Ketika akhirnya mendapatkan jawaban dari pertanyaan terpendam itu, saya hampir saja terpeleset di kamar mandi (karena saya baca emailnya pas lagi di kamar mandi). Sebuah jawaban mencengangkan yang akhirnya setelah beberapa lama bisa saya pahami dan hargai.
Kemudian ada beberapa pernyataan yang saya masih ingat, diantaranya:
1. Dari awal mempublish sebuah cerita kepada publik, Kak David banyak menyuguhkan tema yang sama seperti yang terdapat pada AtS. Novel debutnya (yang tidak diterbitkan secara major) juga memiliki tema yang sama. Fanfictionnya pun begitu.
Dalam pikiran saya, apakah kakak punya ketertarikan sendiri dengan tema-tema seperti ini? Adakah sesuatu yang melatarbelakangi hal ini sehingga kakak sering memasukkannya ke dalam cerita-cerita kakak?
Well, saya tidak antipati dengan cerita yang memiliki tema seperti ini, karena saya sering membacanya.
2. Permintaan Danny kepada Will itu sedikit, hanya ada 3 permintaan yang akhirnya Danny lontarkan. Inginnya sih banyak, agar lebih panjang ceritanya ahaha. Tapi mengingat Will, saya paham kok. Oh Will, menyebalkan sekali kau, mengapa pergi begitu saja!
3. Above the Stars ini Kak David banget kok. Nggak ada sense of writernya Kak David yang hilang kok ahahha.
Saya selalu percaya, bahwa suatu cerita yang memiliki ‘Will’ dalam cerita tersebut, pasti akan punya roh tersendiri yang menarik banyak orang.
Suka dengan daun sweet gum di setiap bab itu. Pertanyaan terakhir, apa alasan yang diambil oleh penulis dan editor hingga akhirnya mengambil judul Above the Stars? Makna dari judul ini apa?
Terus berjuang untuk menulis kak. Siapa tahu suatu hari nanti, tokoh-tokoh cerita ku juga bisa dibaca oleh banyak orang juga hehe. Amin!.
Pst, kak, mungkin kalau naskah If Only juga disodorkan ke editor, bisa dilirik ;).
Rating ya, ehm berapa ya. 4 aja deh. Kalau 5 kebanyakan hahaha (dicekek kak david). Novel debut Kak David ini, bikin baper hahaha.
Itu saja reviewnya Kak.
Sukses!
Profile Image for Dini Afiandri.
Author 4 books17 followers
October 11, 2015
Akhirnya beli buku ini karena berhutang review sama pengarangnya.
And I've said to him that I guarantee I'll give an honest review. Okay, so here it is, Mr. D. Brace yourself, dude. :)

Di halaman-halaman awal membacanya, saya langsung terpaku dan butuh lebih dari dua kali baca untuk memahami kalimat-kalimat panjangnya. Bukan apa-apa, seluruh kalimatnya terstruktur dengan struktur kalimat bahasa Inggris, sampai membuat saya merasa kalau penulisnya menulis buku ini dengan cara berpikir dalam bahasa Inggris, atau menerjemahkannya secara mentah setelah sebelumnya menulisnya dalam bahasa Inggris. Setting luar negeri, nama-nama dan sebutan luar negeri, sampai ke budaya luar negeri, membuat saya terpukau dengan kekonsistenannya.

Walau ada beberapa hal yang janggal, kayak kenapa Danny manggil Will dengan nama depannya hanya saat dia sebal atau marah? Will juga terus-terusan memanggil Mia dengan nama keluarga (CMIIW, apakah memang budaya sana untuk tetap memanggil nama kawan yang akrab dengan nama belakang?).
Selain itu, sebutan Serigala Betina, serta makian-makian yang ada di buku ini... Semuanya betul-betul punya "rasa" bahasa Inggris.
Saya juga sering tertukar antara Mr. Anderson dengan Mr. Berry.

Tokoh-tokoh dewasa dalam buku ini, misalnya para guru dan orang tua Will serta Danny, semuanya dibuat bersikap antagonis demi perkembangan jalan cerita. Barulah menjelang lewat pertengahan, karakter mereka berkembang menjadi lebih nice. Dalam buku ini, setiap konflik juga langsung menemui penyelesaian, terkesan instan, tapi secara keseluruhan saya puas dengan penyelesaiannya.

Hal lain yang mengganggu adalah, kenapa ada banyak sekali kata dalam buku ini? Saya menemukannya berulang-ulang, untuk sekedar menggambarkan "duduk", "berdiri", dan "pergi". Mengenai repetisi ini, dialog-dialognya juga banyak yang dikatakan berulang-ulang oleh dua tokoh yang berbeda secara resiprok. Repetisi ini bagus untuk membuat dialog menjadi tidak kaku dan akrab, tapi rasanya terlalu banyak diulang.

Oke, itu cabe super pedas dari saya. Sekarang, masuk ke bagian positifnya.
Saya suka dan sangat kagum dengan cara bertutur penulisnya. Kalau sudah terbiasa dengan struktur kalimat dan gaya bahasanya, akan terasa sangat lancar, hangat, dan mengena tanpa harus terlalu berbunga-bunga. Ada banyak kosakata terjemahan baru (penatu dari binatu, maneken, menguarkan tongkat, dsb.) yang menambah pengetahuan saya.
Twistnya sangat mulus, dan kadar romansa dan manisnya terasa pas dan tidak berlebihan, juga tidak mesum sama sekali. Sayangnya, klimaksnya terasa agak kurang.
Emosi pembaca diaduk-aduk dari satu adegan ke adegan lainnya. Saya suka bagian Titian Kejujuran. Selipan humor-humornya memang tidak membuat ngakak, tapi akan membuat anda senyum-senyum sendiri.
Untuk ceritanya sendiri, semua masalah dan konflik antar karakter dibahas dengan betul-betul tuntas, membuat buku ini terasa lengkap dan komplit, tanpa perlu sekuel atau tambahan apapun lagi.

Saya menamatkan novel ini dalam sehari dan tidak bisa berhenti membacanya.
Sekalipun inti cerita dan endingnya klise, jarang ada buku yang bisa menyajikan konflik yang klise dengan sangat memuaskan. Eksekusinya jelas bagus. Karakter-karakternya punya suara dan ciri khas yang jelas (walau saya merasa nggak sreg dengan kesinisan Mia ke Will).

Rating dari saya 3,8. Semula akan saya bulatkan ke bawah.
Namun, ketika menutup buku ini, saya merasa sangat puas. Saya merasa semua pertanyaan saya ketika membacanya sudah terjawab. Dan kecupan yang sempurna, tidak pretensius dan tidak merusak persahabatan ataupun aura bromance Danny dan Will itu baru kali ini saya temukan di sebuah karya.

Akhirnya, inilah rating saya, 4 bintang. :)
Saya yakin mas D pasti bisa membuat cerita yang jauh lebih orisinil, lebih menyentuh, dan lebih baik dari ini tanpa harus terpaku pada setting luar negeri.
Ini adalah review Goodreads terpanjang yang pernah saya tulis, dan hanya buku bagus yang bisa membuat saya secerewet ini. Good job!

Saya menantikan saat untuk merating karya anda perfect score 5 bintang.
Semoga itu tidak lama lagi. Aamiin.



Profile Image for Eksa.
292 reviews25 followers
September 1, 2017
Novel ini menceritakan tentang Danny, seorang good boy yang buta dan badboy bernama Will. Mereka dipertemukan di sekolah Danny karena Will baru saja pindah ke sana.
Semakin lama Will mengenal Danny serta suara merdunya, ia berniat untuk mengabulkan 3 permintaan Danny. Sesuatu yang tidak bisa dilakukannya karena ia buta.
(((Tapi justru kedekatan itu membuat sebuah kenyataan pahit bagi para pembacanya😂😂 #plak)))
Lambat laun, sebuah kenyataan pahit lain harus menerpa mereka berdua, daun terakhir di pohon Danny akan gugur..
-
-
Kalau nggak ada yg bilang ke aku ini adalah novel tentang LGBT, aku bakal bilang ini novel BROMANCE!! Dari awal bacanya, kisah ini ditulis sangat ringan dan asik, apalagi gaya bahasa dan dialog khas terjemahan. Beberapa kali dibuat tertawa oleh tingkah Will😂 ya, meskipun ada beberapa kalimat yang kadang bikin merinding disko. 😹
-
Sampai menuju ke puncak klimaks, aku hampir gak sanggup lanjutin bacanya😭 (karena aku harus tarik opiniku soal bromance) terlepas dari unsur 'itu', aku juga suka bagaimana latar belakang Will dan ayahnya. Lalu bagaimana sikap protektif ibu Danny terhadap Will. Kasih sayang dalam persahabatan dan keluarga, mungkin itulah sisi yang paling menonjol dalam novel ini.

Tapi endingnya aku suka hahaha bagiku seperti inilah happy ending yang hqq. Tuhan menyelamatkanmu, Nak. Dan sekali lagi jujur, surat Will di akhir bikin nangis!😭 Serius, kalau kedua tokoh utamanya laki-perempuan, pasti feelnya gak akan kayak gini, endingnya pasti jadi biasa aja. Justru karena mereka berdua laki-laki, aku jadi 'mendapat' feel yang berbeda.

D. Wijaya pinter berkata-kata dalam novelnya. Bagian LGBT-nya juga cuma dikit, di klimaks doang dan gak aneh-aneh juga kok:D banyak pelajaran yang bisa kita ambil~
Profile Image for afin.
267 reviews20 followers
November 15, 2015
rated 3.5 / 5 stars

Sinopsis:
“Kau tidak takut jatuh?” tanya Mia.

Danny menggeleng.

“Aku takut jatuh,” aku Mia dengan polos. “Kalau kau takut apa?”

Danny tidak langsung menjawab. Ia juga tidak menolakkan kaki ke tanah lagi untuk menambah kecepatan ayunan. Senyuman di wajahnya perlahan-lahan memudar. “Aku takut tidak bisa melihat selamanya.”

Menurut Danny Jameson, hidupnya tidak pernah mudah. Ia punya orangtua yang protektif, mesin tik Braille yang tidak dimiliki teman-temannya, dan semacam magnet yang menarik John Schueller untuk terus mengganggunya. Namun, yang paling buruk adalah ia punya sepasang mata biru yang tidak bisa melihat. Ketika Danny berpikir Mia Berry akan menjadi satu-satunya teman yang ia punya, Will Anderson datang dan mengubah hidupnya. Will memperlihatkan kepadanya dunia yang ingin ia lihat. Will juga membuat Danny mempertanyakan sesuatu tentang dirinya. Tapi, sebelum Danny sempat menemukan jawabannya, Will menghilang.

Review:
Danny Jameson terlahir tidak bisa melihat sejak dulu sehingga dia harus bergantung kepada tongkatnya yang membantunya berjalan, orang tua, dan sahabatnya, Mia yang membantu Danny menjalani hidupnya selama ini. Karena disabilitas yang dimiliki Danny, saat di kelas untuk belajar dia harus mengetik perkataan gurunya di mesin tik Braille miliknya. Seringkali dia menjadi sasaran para bully di sekolahnya dan setiap kali Danny diserang para bully tersebut selalu ada Mia, temannya yang protektif dan galak apabila ada yang berani mengganggu Danny.

Suatu hari, anak baru datang dan masuk ke kelas Danny dan Mia. Namanya William Anderson, baginya hidup cuma sekali maka dari itu harus dinikmati. Awalnya Will tidak tahu kalau Danny tidak dapat melihat, tetapi setelah tahu Will mulai tertarik dengan kehidupan Danny bertahan hidup, Will ingin berteman dengan Danny, mengenalnya lebih jauh, walau harus rela menghadapi Mia, yang sangat protektif pada Danny, takut kalau Will hanya ingin menyakiti sahabatnya.

Sejak pertemuan pertama, Will selalu bersama dengan Danny dan Mia. Dalam lubuk hati Danny yang paling dalam dia selalu iri dengan orang-orang yang bisa melihat, yang bisa hidup bebas, berbeda dengan dirinya yang harus menghadapi kedua orang tua dan teman yang protektif. Kemudian Will pun menawarkan sebuah ide, dia meminta Danny untuk menyebutkan tiga keinginannya, yaitu: (1) ingin berlagak seperti orang biasa sehingga tidak ada yang menyadari kalau dia tidak dapat melihat, (2) pergi ke klub malam, dan (3) dicium seseorang.

Will ingin mengabulkan keinginan Danny. Tetapi, kenapa disaat Danny mulai yakin dan percaya diri akan dirinya sendiri William malah tiba-tiba menghilang? Padahal sejak William hadir, Danny merasa dirinya lebih menikmati hidup.

"Apa yang kau lihat?"
"Tidak ada. Haya gelap."
"Itulah yang aku lihat," gumam Danny. "Itu yang aku lihat pertama kali di pagi hari, yang aku lihat sepanjang siang hari, dan yang aku lihat sebelum tidur di malam hari. Seperti punya bekas luka permanen, kau tahu. Bedanya, kalau bekas luka sungguhan, aku mungkin bisa melupakannya sewaktu-waktu. Kalau bekas luka yang ini, tidak bisa dilupakan. Bagaimana aku bisa melupakannya kalau semua yang aku lihat sepanjang waktu cuma kegelapan?"

read my full review on http://booksoverall.blogspot.co.id/20...
Profile Image for Dian Silviani.
46 reviews4 followers
June 30, 2015
haloooo Kak D,
eh gimana ya manggilnya, karena satu huruf terlalu rumit untuk menyapa seseorang *ih apa ini*

mau kasih bintang 3, tapi 3,5 ajadeh, tapi orang-orang kasihnya 4, yaudah akupun kasih 4 deh. *dasar plinplan*

pas baca sinopsisnya...........aku udah kefikiran endingnya bakalan gimana. Mungkin aku adalah barista cewek yang di cafe waktu di taman kota west galer street itu hahaha

well,
novel ini menceritakan tentang Danny, cowok bermata biru yang 'tidak bisa melihat' sedari lahir, punya orang tua overprotective, sahabat-Mia yang juga overprotective bikin hidup dia yang udah kurang rasanya makin terbatas, karena dia nggak bisa dan dilarang ngelakuin hal-hal yang 'menyenangkan' seperti remaja umumnya dan Will datang.

Will datang kasih pengalaman baru, kasih sesuatu yang baru, yang belum pernah Mia shabatnya kasih, dan lakuin berdua. Banyak kode kode yang Will kasih, dan sebagai orang yang udah nebak-nebak soal ending, aku makin yakin bahwa tebakanku bener.

tapi......twistnya..... aku nggak sampe mikir kesitu, kok bisa?
kok bisa, Will, iya Will-nya aku kok bisa? *halah*

aku udah kefikiran bakalan ada cinta sgitiga, cinta segitiga normal, ternyata salah, salah besar.

padahal aku suka karakter Will, tapi itu cuma sampai halaman 146 setelah itu aku udah "oh yaudah deh, ikhlasin aja"
Will-ku, Will-nya aku *narik-narik kemeja Will*

"memangnya berteman itu butuh alasan?"

"kau tahu, manusia itu bisa diibaratkan sebuah pohon"
"kita tumbuh tinggi, begitu juga dengan pohon. Kita membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup, begitu juga pohon membutuhkan daun-daun untuk bertahan hidup."

aku pernah liat ada pohon tapi nggak ada daunya masih bisa hidup, tapi kalau pohon nggak ada akarnya.....apa bisa hidup? toge aja berakar ya kan? *ini perumpamaan apa Dian* (sungkem Kak D, maapkeun) ✌

nah itu dia! yang kumaksud adalah bahwa penulis nggak memaksakan filosofi yang nggak anak-SMA banget ke dalam ceritanya. Nggak coba memasukan karakter pribadi dan sok-sokan filosofis gitu maksudnya, IHYNWIM.

baca novel ini ngingetin aku sama novel terjemahannya laluna&friends yang Distance Between Us sama Heart to Heart, berasa baca terjemahan juga, asyik gitu, ngalir, walau settingnya bukan Indonesia, dan baku, walau Will-ku *ih lagi-lagi Will* dan aku bertanya-tanya kenapa ini nggak ada di urutan 10 keatas ya?

hmm terus covernya lucu (hampir semua cover YARN aku suka, kecuali 3 yang pertama, terlalu pucat dan mirip, menurutku.), tapi mirip ya nggak mirip banget sih, sama Across the Oceanya Kak Ria. Apa Judul di kotakin itu lagi ngetren ya? XD

udah ah, kepanjangan. nanti kayak makalah.

ps. bisa nggak ditambah bagian Mianya, bagian dia mengatasi patah hatinya gitu hahahaha

ditunggu karya selanjutnya, Kak.

baca ini bikin aku nambah jatuh cinta sama seri YARN, seri ini Sukses!

good job Ice Cube!
Displaying 1 - 30 of 72 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.