Jika kamu bertanya pada Kopites--sebutan penggemar Liverpool FC di luar kota Liverpool--generasi 90an terutama dari Indonesia bagaimana awalnya mereka menyukai LFC, jawabannya hampir selalu sama. Steven Gerrard. Setidaknya itulah yang saya tangkap dari cerita-cerita fans di situs LFC Indonesia. Dan, saya setuju.
Stevie datang di masa pubertas saya. Saya yang tak tertarik dengan cowok nyata dan pacaran menjadikan Stevie sebagai cinta pertama. Nyatanya, saya memang terpukau pada pandangan pertama sejak melihatnya bermain untuk timnas Inggris. Literally at first sight, pas sekali ketika kamera menyorotnya menengok ke belakang, nomor dan nama di punggungnya terlihat. Sejak itu, saya mencari klub tempat ia bermain dan mulai menonton Liga Primer. Lagi-lagi, saya terpana. Ada sesuatu di klub ini yang membuat saya merinding tiap mendengar chant You'll Never Walk Alone meski hanya lewat televisi. Dan setelah mempelajari bahwa Stevie adalah pemain loyal di sana, saya sulit untuk tidak jatuh cinta pada keduanya.
Membaca buku ini membawa saya ke masa itu, sekaligus menjadi jawaban doa saya sejak lima tahun lalu bahwa akan ada biografi Stevie yang diterjemahkan (karena kalau beli yang asli mahal sekali). Saya juga senang sekali buku ini datang di momen yang tepat, yaitu ulang tahun saya dan beberapa waktu setelah ia pensiun.
Ada satu kualitas--selain kemampuan bermain sepak bola dan kepemimpinannya--yang saya tangkap dari Stevie di layar kaca dan saya temukan juga di buku ini: kejujuran. Buku ini seolah konfirmasi atas kejujurannya yang saya temukan di media lain. Tidak ada fakta yang betul-betul mengejutkan. Ini bisa dilihat dari ceritanya tentang pemain favorit untuk bermain bersama--Fernando Torres, Xabi Alonso, Luis Suarez. Saya sudah melihat semua bukti nyatanya di lapangan, betapa Stevie menyayangi mereka semua bahkan sampai mereka meninggalkan Liverpool.
Stevie mencintai dengan intens. Dia tidak ragu-ragu memperjuangkan dan berjuang untuk cintanya. Yang pertama dibahas tentu saja sepak bola. Si kecil Stevie dibesarkan di keluarga yang menggilai LFC sampai hidup dan mati (sepupu Stevie jadi orang termuda yang tewas pada tragedi Hillsborough) sehingga nadinya sudah dari dulu mengaliri merahnya Liverpool. Ketika ia gagal masuk sekolah sepak bola tempat Owen dan Carragher belajar hingga nyaris transfer ke Chelsea, sang ayah selalu menyemangati. Kata-kata dari ayahnya inilah yang membuat semangat Stevie terus terpacu.
Kala itu Stevie kecil menangis di kamarnya setelah mendapat surat penolakan. Kemudian ia berteriak pada ayahnya bagaimana bisa seorang kapten Liverpool Boys tidak bisa lolos tes dan bersumpah tidak akan bermain sepak bola lagi. Ayahnya kemudian mengatakan begini,
"Di sinilah segalanya dimulai. Semua pencapaianmu sebelumnya sudah lenyap."
Beberapa belas tahun kemudian, perkataan ayahnya terbukti. Stevie sudah menjadi pemain kelas atas. Puncaknya, ia memenangkan Liga Champion yang terkenal dengan 'Keajaiban Istanbul'. Saat itu juga klub-klub besar memburunya, salah satunya Chelsea yang tengah dinahkodai Mourinho--idolanya.
Di saat-saat galau itu, ia menemui ayah dan kakaknya Paul. Ayahnya lagi-lagi mengatakan sesuatu yang bijak,
"Tanyakan pada dirimu sendiri, 'Akankah memenangkan dua atau tiga piala bersama Liverpool lebih berarti bagi saya dibandingkan dua atau bahkan tiga kali lipat dari jumlah itu, tapi saya bermain untuk Chelsea?'"
Ayahnya tidak semerta-merta menolak, ia membiarkan Stevie berpikir dulu, dan tentu saja, hatinya tertambat pada klub dengan lambang Liverbird itu.
Cinta kedua adalah khususnya pada Liverpool dan teman-temannya yang bermain bersamanya. Tugasnya sebagai kapten tidak hanya berlaku di lapangan, tapi juga di luar. Siapakah yang akhirnya menolong Suarez dari berbagai kejadian penuh skandal? Stevie. Mereka bersahabat, dan sahabat saling membantu. Ketika Suarez akhirnya tak tahan dengan Liverpool, ia meminta Stevie membicarakannya pada manajemen agar dia dibolehkan pindah. Stevie justru menahannya setahun dan berjanji, 'Jika Barcelona datang lagi tahun depan, kau boleh pindah.'
Lantas Suarez meragu, 'Apa Barcelona masih berminat padaku tahun depan?'
'Percayalah, ketika mereka sudah tertarik pada satu pemain, mereka akan terus mempertahankan pemain itu. Kau jadi salah satunya.'
Stevie juga memiliki tugas informal dari manajemen, yaitu membujuk pemain yang dijadikan target. Ia akan mengirim pesan singkat, bukan menelepon, karena itu akan lebih membuat si penerima santai membacanya. Yang cukup membuat sedih adalah, tak jarang para pemain targetan itu menolak karena prestasi LFC yang tidak lagi bermain di Champions. Stevie juga sedikit berkelakar ketika menceritakan ini, berkata bahwa dia punya kata-kata a la pedagang untuk membujuk mereka.
Namun ada satu hal yang ia tak mau lakukan demi klub--hak citra. Memang sudah kewajibannya tampil di iklan yang menjadi sponsor LFC, namun kalau menyangkut soal hak citra, ia tak akan mengambilnya. Baginya, sekalinya kau terikat pada LFC, jiwa ragamulah untuknya, tanpa pamrih. Itu sudah jadi kewajibanmu, dan bonus memang menarik, tapi ia tak mau akhirnya dikenal sebagai bintang iklan. Namun, Stevie memberi pengecualian pada Messi dan Christiano Ronaldo.
Cintanya yang terakhir adalah pada keluarga. Saya pernah baca kalau istrinya, Alex, disebut Stevie satu-satunya wanita yang benar-benar peduli dan sayang dengan dirinya. Sebelumnya, para wanita mendekatinya tapi bukan untuk dia, melainkan teman-temannya yang lebih tampan dan terkenal. Tak heran jika Stevie sangat menjaga keluarganya, dan ini makin disadarinya setelah ia memiliki tiga orang putri. Sebelumnya, Stevie pernah berpikir apa jadinya hidupnya jika tanpa sepak bola. Mungkin, ia tidak bisa hidup. Ketika ia lebih dewasa, ia tahu, bahwa ternyata ada yang bisa lebih penting dari sepak bola: Alex dan tiga putri cantiknya.
Buku ini ditutup dengan kisah dan alasannya untuk pindah ke LA Galaxy--yang saya lihat berhubungan dengan keputusannya gantung sepatu. Stevie sadar ia tak semuda dan semenggebu-gebu dahulu. Ia juga sadar kehidupan tak seindah dongeng. Keinginannya di usianya yang sudah 30an sederhana, yaitu ingin dikenang saat sedang jaya-jayanya. Diingat ketika penampilannya sedang sangat baik. Dan juga kehidupan normal untuk keluarganya. Di Amerika, fans sepak bolanya tidak se-hooligan Inggris, yang bisa memuji dan mencaci Stevie kemana pun dia pergi. Ia menginginkan ketenangan.
Dan tentu saja, kata-kata ayahnya juga memengaruhi kepindahan itu. Pencapaiannya di LFC sudah lenyap, saatnya ia memulai lagi. Dan, ia tak mau bermain untuk klub yang akan bertemu LFC sebagai rival. Amerika juga kondusif untuk keluarga dan dirinya, salah satunya karena banyak pemain Inggris di sana seperti Robby Keane dan David Beckham.
Tidak hanya pencapaian karier, saya juga membaca kisah emosionalnya terhadap rekan satu tim--baik LFC maupun timnas Inggris--dan opininya terhadap pemain atau pelatih di luar klubnya. Saya baru tahu kalau Rafa Benitez dingin bahkan pada Gerrard, tidak pernah sekalipun memanggilnya Stevie seperti Brendan Rodgers. Stevie juga sangat mengagumi Mourinho--penyebab kegalauannya ketika ditawari Chelsea--hingga ia berkata bahwa idealnya Mourinho-lah yang memanageri LFC saja. Kuotasi dari Mourinho tentang Stevie yang masih saya ingat inilah buktinya:
"I tried to bring him to Chelsea, I tried to bring him to Inter, I tried to bring him to Real Madrid--but he was always a dear enemy."
Ada satu adegan di mana Stevie dilimpahkan kebahagian setelah kesialan datang bertubi-tubi padanya. Tapi bagian itu terlalu indah untuk dibuat spoiler di sini.
Stevie juga mengemukakan pendapatnya tentang managemen dan kepemilikan klub Liverpool.
Bagian yang seru lagi, menurut saya adalah cerita pertandingan-pertandingannya. Jika saya punya kesan sendiri terhadap pertandingan itu, saya bisa membacanya dari sudut pandang Stevie. Ini juga bagian yang harus dibaca langsung di bukunya.
Kekurangannya, kamu kurang bisa baca buku ini jika kamu kurang tertarik dengan sepak bola, karena banyak sekali istilah dan kejadian-kejadian yang umumnya memang sudah dihafal Kopites di luar kepala. Lalu, desain sampulnya lebih menarik versi aslinya menurut saya karena foto Stevie terlihat ramah. Entah mengapa yang edisi terjemahan ini memakai wajah Stevie yang divektorkan.
Yak, rekor menulis ulasan terpanjang saya pribadi terpecahkan berkat buku ini. Dan tentu saja ini belum menggambarkan betapa bagusnya buku ini terutama bagi Kopites. Setelah membacanya, alih-alih kaget, saya malah semakin yakin bahwa kepribadian Stevie dan determinasinya adalah kunci mengapa ia dicintai pendukung Liverpool dari berbagai penjuru dunia, melewati batas usia dan gender. Dan betapa ia seorang pemain hebat yang hanya bermodalkan cinta dan keinginan kuat.
Terakhir, sepertinya saya harus menulis ini untuk kalian para Ladies Kopites: Get yourself a man who's as loyal as Steven George Gerrard.