Jump to ratings and reviews
Rate this book

Cermin Tak Pernah Berteriak

Rate this book
Mama pernah berpesan agar aku selalu menjaga Papa ketika Mama tak ada. Aku tak menyangka aku benar-benar harus melakukannya secepat ini. Dan, serumit ini.

Orang-orang menyangka Papa sosok yang kuat dan tegar sepeninggal Mama dan adikku. Aku yang ambruk ketika musibah itu terjadi dan Papa yang mengurus segalanya. Tapi, mereka tak tahu betapa rapuhnya Papa di rumah. Papa yang murah senyum pada semua orang berbalik pendiam di kamar, memandang kosong ke arah cermin milik Mama, dan sering berbicara sendiri. Papa yang menyukai gaun Mama, koleksi heels Mama, perhiasaan Mama, kerudung Mama, bahkan mencoba make up Mama. Papa mendadak suka crossdressing, memakai baju perempuan dan berdandan!

Kemudian, pria dari Madrid itu datang mendekati Papa. Seumur hidup, baru kali ini aku merasa benar-benar akan gila menghadapi tingkah orang dewasa di hadapanku. Jika ada anak yang bisa tetap waras tinggal di rumah ini, akan kuserahkan tempatku pada mereka. Aku tak tahan lagi.

Mama, benarkah aku harus menjaga Papa? Lalu, siapa yang bisa menjagaku agar tak hilang akal menghadapi mereka berdua dan memerangi kesepianku sepeninggal Mama?
-Agasthya Ega Baskoro, 15 tahun, Jogja-
------
“Sebagai penulis Indonesia, Ida tergolong berani menulis novel yang menceritakan sisi tergelap seorang ayah dan reaksi anak remajanya. Salut pada penceritaan dan riset yang mendalam.”
(Sari Musdar, Author of bestselling novel #CinderellaInParis & 3 travelogue books, Business Development Manager @JapanTravel in Indonesia)

“Berani dan menghanyutkan! Jarang ada novel yang mengangkat kisah semacam ini. Bacalah, maka kau akan ikut merasa gemas dengan kepolosan dan ketegaran Ega, pertentangan batin sang Ayah dan setiap konflik yang disuguhkan membuat kita sadar, keluarga adalah sumber kekuatan kita setelah Tuhan.”
(Cuncun, Penulis novel Haru no Hana, Why?)

“Well... ini adalah novel Indonesia pertama dari Miss Ida R. Yulia yang saya baca. Dan... awesome!!! Benar-benar menyukai semua unsur dalam novel ini. Tutur bahasanya indah, tapi tidak membuat sakit kepala dengan pemborosan kata. Yang terpenting, penulis tidak kehilangan ciri khas –terutama konsistensinya menulis psikologi remaja tanpa terkesan mendikte—meskipun ini novel pertamanya yang menggunakan latar tempat di Indonesia. Very recommended untuk pembaca!!!”
(Ayra, Penulis novel Rival Generation dan novel-novel remaja lainnya)

“Tidak pernah mudah menjadi seseorang yang berbeda dengan mayoritas orang di masyarakat. Cermin Tak Pernah Berteriak ini menyajikan salah satu contoh pergumulan batin seseorang yang ‘berbeda’ tersebut. Bahasanya ringan dan membumi, detailnya kaya dan akurat, namun yang paling istimewa adalah bagaimana emosi para tokoh digambarkan dengan sangat jujur dan menyentuh.”
(Renate – Aktivis LGBT)

“Heart breaking story! Dari halaman pertama membacanya, tulisan ini menyandera perhatian saya. Tidak banyak yang nyaman bercerita tentang biseksual yang senyatanya menjadi bagian dari LGBT- yang justru paling terdiskriminasikan dan penuh pelabelan, namun buku ini memunculkannya dengan cara yang luar biasa; tenang, tanpa kemarahan yang justru semakin meminggirkan. Terlepas dari semua itu, buku ini memberikan sebuah jepretan realita bahwa LGBT adalah sebuah bagian dari mozaik budaya dan bagian dari entitas masyarakat dunia. Buku ini memberikan edukasi tanpa menggurui, tentang memanusiakan manusia dalam bingkai keberagaman.”
(Fairy Cahya Abdulghani, Aktivis salah satu NGO di Jogja yang bermitra untuk kampanye anti diskriminasi dan stigma di komunitas yang dimarginalkan; perempuan pekerja seks, remaja jalanan, dan LGBT)

296 pages, Paperback

First published June 8, 2015

Loading...
Loading...

About the author

Ida R. Yulia

16 books58 followers
Ida R. Yulia menulis sejak kelas 3 SD, menggunakan media papan tulis, buku tulis, mesin ketik, komputer tabung, hingga tibalah di era ‘kembali ke laptop’. Dia berprofesi sebagai guru bahasa Inggris SMA di kota kecil Batang, Jawa Tengah, yang sepenuhnya ia dukung ‘gerakan kota hijau tanpa mall dan macet’. Dia tipe wanita pedesaan anti-polusi yang tergila-gila oleh WiFi.

Sejak tahun 2012, ada 11 judul novel karyanya yang telah terbit dan beredar di Gramedia dan toko buku lainnya di Indonesia. Semua novel tersebut berfokus pada psikologi remaja, mencakup hubungan mereka dengan teman-temannya, guru, dan juga orangtua.

Penulis bisa dihubungi via http://www.goodreads.com/missidasensei, Facebook: Ida R Yulia atau Twitter @Cechida33.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
13 (25%)
4 stars
24 (46%)
3 stars
7 (13%)
2 stars
6 (11%)
1 star
2 (3%)
Displaying 1 - 14 of 14 reviews
Profile Image for Itsarian.
5 reviews
January 22, 2026
[3,5/5]

Di biografi penulis dikatakan bahwa Ida R. Yulia suka menulis tentang psikologi remaja, buku ini buku kedelapannya yang mengeksplorasi topik tersebut. Oleh karenanya, psikologi Ega di buku ini diberikan panggung yang lebih tinggi dan cerah, ketimbang topik Baskoro, seorang biseksual yang memiliki hobi crossdressing. Dari perspektif pembaca queer, representasi identitas seksual dalam novel ini menjadi aspek yang sangat menentukan dalam menilai keseluruhan narasinya. Terutama karena buku ini bersinggungan dengan tema disonansi kognitif dalam relasi keluarga dan pertemanan queer.

Meskipun penggambaran komunitas LGBTQ di Yogyakarta dalam buku ini patut dipuji, identitas seksual dan gender tokoh utama kita, Baskoro, tidak dieksplorasi secara mendalam. Identitas Baskoro terasa lebih seperti sebuah titik alur, yang hanya digunakan untuk mendorong gangguan psikologis Ega lebih jauh dan dengan demikian ketertarikan Ida R. Yulia pada psikologi remaja, alih-alih sebagai identitas karakter yang tulus. Interpretasi ini didukung oleh bagaimana identitas seksual dan gender Baskoro secara naratif direduksi menjelang akhir cerita, tanpa resolusi tematik yang sebanding dengan porsi pembangunan karakter sebelumnya. Setelah 300 halaman, jelas terlihat bahwa identitas Baskoro digunakan terutama sebagai perangkat naratif untuk memperdalam konflik psikologis Ega, alih-alih sebagai eksplorasi identitas yang berdiri sendiri.

Meskipun demikian, bagian cerita Ega ditulis dengan indah. Frustrasinya disampaikan dengan jelas sehingga buku ini akan membuat siapa pun merasa marah. Sebagai buku kedelapannya tentang masalah ini, pendekatan Ida R. Yulia terhadap mentalitas remaja Ega sangat realistis. Terlepas dari karakter Baskoro yang tidak mendapatkan kematangan narasi yang cukup, eksplorasi sisi cerita Ega membuat keseluruhan buku ini layak dibaca.
Profile Image for Abu Wafa.
Author 3 books2 followers
May 24, 2022
dengan menggunakan puisi SDD sebagai pijakan premis, novel ini cenderung utopis terhadap keadaan realita sebenarnya. Sayangnya rada nanggung.
Profile Image for tïmmyrèvuo.
205 reviews2 followers
October 19, 2023
After reading This book, I felt a sense of heartache and emptiness. The narrative tends to be simple but strongly binds the reader's feelings.

This book tells the story of Bas and his son Ega's life after the death of his wife. Bas begins to remember the other part of himself, which has been buried deep and never emerged, especially after he married his wife and had a pair of intelligent and adorable children. After his wife's death, people from Bas's past return, and this is where the story begins: how Jon empowers Bas to be his cross-dressing self and other things considered taboo. So what about Ega when he finds out that his father is bisexual?

This book is very close to my experience, so Ega's pain, shame, and mixed feelings can be accepted and felt. How painful it is to be Ega, who was abandoned by someone dear to her on her birthday, has left a deep trauma, especially with her father's attitude, which immediately changed 180 degrees after the emergence of her past. Throughout reading this book, I was anxious about the end. Who should make the sacrifice? Although until the end, I was immensely relieved with the ending.

This book is quite brave, with LGBTQ topics far from the norm in Indonesia, but it dares to be written nicely and remain engaging. The author's objectivity towards the characters also deserves a thumbs up. There is no impression of partiality at all other than the turmoil of each character.

One sentence intrigued me, making me rethink sexual orientation and its standard label. Regardless of the beliefs that I still understand and adhere to, declaring the abnormality of the situation of sexual orientation is not by the teachings of the religious book, whatever it is. Until the end, I remain firm in my stance. I do not want to disturb you. I respect your decision, but I will not be able to accept you.

"Kami sama normalnya dengan dengan orang lain. Hanya orientasi seksial yang berbeda. Keberagaman seksualitas manusia ada sejak dulu, hanya kebanyakan orang belum tahu apa saja. Ada yang heteroseksial, homoseksual, biseksual, dan bahkan aeksual. Heteroseksial itu kategori dengan jumlah paling banyak dan mendominasi itulah kenapa kebanyakan orang beranggapan, jika bukan heteroseksual, maka tidak normal. - Jon when explaining the concept of sexual orientation to Ega."

Apart from the annoying typos, I enjoyed this book; it gave me many new POVs and left a deep impression.
Profile Image for Annnnnnn .
40 reviews8 followers
June 12, 2019
Lebih spesifik-nya lagi kuberi rating 4.75

Ceritanya sangat cermat, menarik dan antimainstream, 97% aku luar biasa menyukai segala hal dalam novel ini, terutama tokohnya. Karena aku memang tertarik dengan topik 'liar' yang masih dianggap tabu, terutama seperti tema LGBT. Oleh karena itu, aku memberikan apresiasi tinggi pada novel ini.

Lalu kenapa aku tidak sekaligus memberikan 5 bintang?
Karena aku menemukan lumayan banyak typo di sana-sini yang cukup membuat gemas (karena aku seorang perfeksionis yang cenderung anti dengan typo), hal simpel ini jelas membuatku sangat tidak nyaman.

Juga karena endingnya.
Eksekusi endingnya di luar prediksiku, namun cukup bisa diterima nalarku. Endingnya memang tidak menggantung, tapi aku merasa aku butuh sequel karena beberapa tokoh kurang dijelaskan secara mendetail, contohnya Jon dan masa lalunya bersama dan tanpa Bastian di London (semoga bukan spoiler). Jujur saja aku jatuh cinta dengan karakter Jon disini lol.

Ah, masalah porsi seorang main character juga mengurangi ratingku. Tapi aku rasa aku butuh lebih banyak sudut pandang seorang Ega karena dia memang tokoh sentrik dalam novel. Aku merasa jatah fokus utama Ega masih kurang, namun tetap enjoyable dan recommended banget buat dibaca bagi pecinta genre psikologi (terutama psikologi remaja dan orang tua /kurasa/) <33
Profile Image for emma susanti.
4 reviews
October 26, 2019
Well, LGBT emang hal tabu, tapi bukan berarti gak ada. Di Indonesia sendiri udah banyak dan gak sedikit yang terang-terangan mengaku kalau dia emang bagian dari itu. Salut sama penulisnya yang emang berani ngangkat tema semacam ini.

Serius! Aku kasian sama Ega yang seolah ditelantarkan sama papanya setelah balikan lagi sama pasangan “humu”-annya. Setelah istri dan anak perempuannya meninggal, bukannya saling menguatkan diri sama satu-satunya anak yang tersisa yaitu Ega, Baskoro malah lebih sering ngabisin waktunya sama Jonathan. Bahkan sampe gak pulang-pulang. Yang lebih parahnya lagi, Baskoro sampe balik lagi ke hobi lamanya yaitu crossdresser alias suka dandan dan pake baju cewek!

Kebayang gak sih punya bapak yang ternyata biseksual dan suka crosdresser? Kebayang juga gak sih mental Ega yang baru aja ditinggal ibu dan adeknya, yang juga sekaligus harus ngehadapin kenyataan kalau bapaknya punya perilaku menyimpang?

Buat endingnya, hmm ... “adil” mungkin kata yang tepat sih. Kayaknya penulisnya emang sengaja bikin endingnya “begitu”.

Pokoknya, gak nyesel deh baca ini.

Profile Image for Husni Magz.
213 reviews1 follower
November 18, 2019
Cermin tak Pernah Berteriak' Mengisahkan tentang Ega, siswa SMA yang polos dan ada sifat kekanakan juga sang ayah, Baskoro yang mengalami dilema sepeninggal istri dan anak perempuannya. Novel ini menarik, karena jarang ada yang berani mengangkat tentang LGBT, apalagi ini rate remaja.

Pelajaran yang saya ambil dari novel ini adalah bahwa setiap kehidupan memiliki pilihan. Terkadang kita tidak bisa memilih kedua-duanya. Hal ini seperti digambarkan tokoh Baskoro yang harus meninggalkan dunia LGBT demi anaknya, Ega. Ega meradang setelah mengetahui bahwa ayahnya memiliki hubungan spesial dengan lelaki lain, sepeninggal istrinya.

Kelemahan buku ini, alur ceritanya monoton dan bikin boring. saya banyak skip
Profile Image for Rima.
31 reviews
February 23, 2025
satu hal yang paling aku suka dari novel ini adalah penulisnya memberi judul setiap bab berdasarkan penggalan puisi atau lirik lagu—menurutku bagus banget!

meskipun terbitan 2015 dan aku baru baca di tahun 2025, aku terpana sama gaya penulisannya yang BAGUS DAN RAPIIIIII. sangat terlihat kalau penulisnya pastu riset banyak, terutama tentang isu LGBT yang (surprisingly) menjadi tema utama di sini.

sepanjang baca, perasaanku turut bergejolak. di satu sisi pengen meluk Ega, di satu sisi pengen meluk Baskoro. tapi ada beberapa bagian yang bikin aku geregetan mampus sama Bas 😭😭😭 untungnya ending buku ini melebihi ekspektasiku; make sense and somehow heartwarming ❤️‍🩹
Profile Image for Nisa F.
52 reviews9 followers
September 17, 2017
(Tulung-tulung!) Aku baper baca ini, sumpah! Aku sakit merasakan berada di posisi Ega. Dia belum sepenuhnya sembuh dari rasa duka, tapi dia harus menghadapi kenyataan lain yang dialami papanya. Risetnya Kak Ida kece, lengkap, jadi rasanya begitu dekat dengan kehidupan Ega dan sekitarnya. Bintang empat, karena ada typo yg mengganggu, selebihnya, aku angkat tangan saking bapernya😭
Profile Image for Natasa.
19 reviews
December 19, 2018
Menurut gue alurnya bagus anti mainstream. Penggambaran emosinya pas. Covernya menggambarkan apa yg ada di isi. Gue kira tadi Aga bakalan ngikutin jejak ayahnya wkwk. Tapi gue tahu gak ada Ayah yg membiarkan anaknya demi orang lain. Dan aku mendapatkan perasaan itu dibuku ini!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Colleen .
37 reviews2 followers
April 26, 2022
buku ini mengangkat isu yang masih sensitif di masyarakat namun penulis dapat mengambarkannya dengan apik, penulisannya rapi and imo the plot is very different compared to other LGBT books. interesting, 100/5 ❤️‍🔥😋
Profile Image for Kamal.
22 reviews1 follower
July 28, 2015
Judul: Cermin Tak Pernah Berteriak
Penulis: Ida R. Yulia
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal: 292 halaman
Tahun Terbit: 2015


image



Sinopsis:
Di hari ulangtahunnya Agasthya Ega Baskoro mendapatkan kado yang mengerikan, ibu dan adiknya meninggal dalam kecelakaan saat ingin ke sekolahnya. Tidak hanya itu, ia juga harus menyaksikan betapa buruknya kondisi sang ibu dan adik karena ayahnya, Baskoro, sedang dalam perjalanan dari luar kota. Akibatnya, setiap malam Ega sering bermimpi buruk tentang ibu dan adiknya. Dan Ega juga sulit makan dan sering memuntahkan apa yang ia makan.

Keadaan makin buruk saat ia melihat perlahan-lahan ayahnya berubah. Ia menyaksikan ayahnya sering berbicara sendiri di depan cermin. Tidak hanya itu, ayahnya juga jadi jarang berada di rumah. Hingga akhirnya Ega mengetahui penyebabnya. Sang Ayah memiliki kekasih seorang pria. Dan yang paling mengerikan Ega harus menghadapi ayahnya yang kini suka bersolek dan memakai pakaian ibunya.

Ibunya memang berpesan pada Ega untuk menjaga ayahnya. Tapi kalo kondisinya seperti ini, siapa yang akan menjaga Ega agar tidak gila menghadapi ayahnya beserta sang kekasih dan juga kesepian?

image



Review:

Novel Cermin Tak Pernah Berteriak adalah karya pertama dari Ida R. Yulia yang saya baca. Dari blurb saya tahu novel ini adalah novel dengan konflik yang berat dan berlapis.

Dari segi tema, penulis sangat berani mengangkat isu LGBT, yang kali ini lagi ramai-ramainya dibicarakan (momen terbitnya pas ini). Novel ini memberitahu saya sedikit gambaran tentang kaum minoritas tersebut, mulai kehidupan serta komunitasnya. Oh iya, unsur psikologi remajanya juga membuat saya menyukai novel ini.

Dari segi karakter, jujur saya sedikit kecewa, ya. Kecewanya itu sama karakter Ega nya. Entahlah, selama membaca saya sama sekali tidak bisa membayangkan Ega itu sebagai remaja cowok. Dialog, sikap, serta kepribadian Ega yang saya tangkap malah seperti remaja cewek. Selain itu saya juga menyayangkan karakter Hendi. Semula saya pikir Hendi akan punya peran penting di naskah ini, seperti Jon bagi Baskoro. Karena dari dialog batin Hendi yang ingin menarik simpati Ega, membuat saya berpikir ada something pada diri Hendi. Tapi nyatanya tidak.

Dari segi setting, saya acungi jempol buat penulisnya. Risetnya benar-benar top markotop. Setting London dan Jogja sangat detail sekali. Sehingga saya seolah ikut berada di dua lokasi tersebut.

Untuk alur dan ploting, saya tidak mengalami masalah sama sekali. Penempatan flashback-nya pas dan tepat. Semua disusun dengan rapi.

Story telling penulis sangat luwes dan mengalir. Bahasanya lugas sehingga mudah dinikmati.

Tetapi, yang saya tidak mengerti adalah penamaan subjudul yang diambil dari penggalan puisi itu. Saya kok tidak menemukan kesinkronan penamaan sub judul itu dengan ceritanya. Jadi, saya tidak tahu apa fungsi penggalan puisi tersebut.

Buat yang ingin membaca novel yang mengangkat tema LGBT dan ada unsur psikologinya, maka novel ini rekomendasi banget untuk dibaca.

Terakhir, saya memberikan 3,5 bintang dari 5 bintang untuk novel Cermin Tak pernah Berteriak karya Ida R. Yulia ini. ^^
33 reviews
August 31, 2015
Dari judulnya mengingatkan saya akan sajak berjudul cermin karya Sapardi Djoko Damono yang dijadikan subbab oleh pengarang buku ini, tak lepas dari situ saja impresi saya berlanjut dengan tema keluarga penuh drama yang jarang tergali pada novel-novel biasanya, saya yakin penulis melakukan riset mendalam mengenai London, kenakalan remaja, dan LGBT, dengan karakter ayah biseksual yang senang crossdressing dan penerimaan si anak bahwa ayahnya memiliki pacar pria, sudah cukup membuat saya tidak segan-segan segera melahap kisahnya, meski secara subjektif saya lebih menginginkan si ayah kembali bersama pacar prianya itu.
This entire review has been hidden because of spoilers.
24 reviews
October 14, 2015
Judul: cermin tak pernah retak
cover: pria bercermin, yg terpantul sosok wanita
baca sinopsis belakang: "oke, kayaknya gue bakal dapat banyak sentilan-sentilan psikologis nih."

ternyata .... maaf harus sy bilang saya cukup kecewa. hm, masalah selera juga sih sepertinya. ditambah dengan si aku yg anak laki-laki tp saya rasakan seperti anak perempuan. lagi-lagi, masalah selera

Displaying 1 - 14 of 14 reviews