Miniseri tentang seorang polisi divisi investigasi yang bisa melihat arwah orang baru meninggal gara-gara ada peluru 'nyangkut' di otaknya....
Oke, saya yakin banyak orang yang sudah familiar dengan konsep semacam itu.... baik dari buku, film maupun seri TV dari Timur, Barat, Utara dan Selatan. Jujur, dari volume pertamanya saya juga belum menemukan hal yang membuat komik ini terasa istimewa.... masih terasa seperti kisah penyelidikan episodik yang cara pemecahannya pun biasa saja. Gambar juga terkesan agak datar, kurang bisa membawa atmosfer lebih kelam atau duar-duar khas cerita misteri atau suspense.
Lalu, dari volume kedua hingga tamat, pendapat saya soal ceritanya berubah drastis.
Saya benar-benar suka pada semua kasus dari sejak volume kedua. Bagian paling menarik ternyata bukan soal menebak pelakunya, melainkan pada 'komplikasi' yang selalu terjadi setelah pelakunya ketahuan. Banyak pergulatan batin soal idealisme, hukum, prinsip kebenaran, dan keabu-abuan yang sejatinya akan selalu ada dalam diri manusia. Inilah kedewasaan yang selalu saya harapkan dari komik seinen, bukan yang asal mengumbar darah, erotisme, atau kata-kata umpatan belaka.... walau premisnya supernatural, Border berhasil menampilkan isu-isu berat dengan gaya realis. Tokoh-tokohnya awalnya terkesan klise, tapi lama-kelamaan saya jadi menikmati kepribadian dan interaksi antar mereka.
Acungan jempol khusus harus saya berikan pada kasus terakhirnya yang panjang itu (*dari paruh kedua Volume 3 hingga keseluruhan Volume 4). Struktur penuturannya cerdik, plot twist-nya maknyus, dan diakhiri dengan hantaman emosional tak terduga. Kasus yang sangat cocok jadi penutup, karena seakan menggarisbawahi tema keseluruhan judul ini.
Tiga setengah bintang dibulatkan ke atas, karena.... setelah saya baca ulang judul ini, rasanya memang jadi tambah bagus, hehe. Idealnya ada lebih banyak kasus lagi dan semacam epilog supaya komiknya benar-benar berkesan 'tamat'.... tapi kalau saya pikir-pikir lagi, .
Detektif yg bisa berkomunikasi dengan roh para korbannya yg telah meninggal, bekerja sama dengan perempuan manis calon inspektur dengan kemampuan mengingatnya yg luar biasa, namun masih lugu dalam menyusun analisa. Bukan kombinasi yg buruk, menurut saya.
Kasus-kasus yg ada cukup menarik. Gambar serta jalan ceritanya juga lumayan bagus. Tapi, ya hanya sampai situ saja. Mengharapkan sesuatu yg lebih "menggigit" di volume selanjutnya. Apalagi dengan kemunculan karakter baru yg dokter otopsi itu :)
Jujur saat membaca voljme 1-3 saya merasa biasa saja. Premisnya tidak terlalu unik dan kasus-kasusnya juga cukup biasa karena tidak terlalu membuat pembaca seperti saya harus memikirkan trik maupun menduga siapa pelakunya. Walau memang entah kenapa kasus-kasusnya yang 'biasa' ini terasa dewasa bagi saya. Mungkin sebenarnya di setiap kasusnya terselip ironi dan kepahitan hidup yang dialami banyak orang-orang biasa di dunia ini tapi karena sepertinya kurang didalami jadi lagi-lagi tidak terlalu membekas untuk saya. Bahkan rasanya tidak dijelaskan lebih lanjut bagaimana caranya atau kasus seperti apa yang membuat Detektif Ishikawa sampai tertembak.
Pemeran utamanya, Detektif Ishikawa, terasa datar dan dingin, begitu juga tokoh-tokoh lainnya yang walau sering muncul tapi tidak terlalu membekas untuk ksaya. Mungkin hanya Detektif Magang Haruna yang cukuo membuat saya teetarik karena karakternya yang cukup unik. Seandainya para karakternya lebih didalami lagi dan hubungan mereka digambarkan lebih detail mubgkin manga ini akan lebih asyik lagi untuk dibaca.
Tapi saya harus memberikan applause karena ending manga ini yang membuat saya terkejut dan terdiam sejenak. Saya sama sekali tidak menyangka manga akan ditutup dengan adegan seperti itu. Jadi saya harus memberikan bintang lebih hanya kafena ending yang menurut saya tidak terduga. Jadi walau memang kasus-kasusnya dan para tokohnya tidak terlalu membekas selama saya membaca ini namun endingnya yang kuat memberi kesan tersendiri untuk saya. Saya beri 3,5 bintang untuk manga ini.
Gara2 nemu buku 2 sampai tamat makanya berburu buku ini. Harganya plus ongkir bisa buat beli 12 buku diobralan itu wkwkkw. Harga sebuah penasaran. Jadi penasaran, andai detektif kita tak bisa berkomunikasi dengan arwah, apakah ia akan dengan mudah menyelesaikan sebuah misteri? Kadang ada arwah yang tak mau membantu, hanya diam dan menatapnya saja.
Sebuah premis yang barangkali tidak terlalu istimewa. Unsur mistis mehinggapi setelah melewati batas hidup mati. Kali ini dialami oleh seorang polisi kasus pidana. Tentu saja ini sangat membantu. Beragam kasus disajikan dengan alur yang baik.
Agak gimana~ gitu. Korbannya cewek terus. Penceritannya lebih mengarah ke background hidup korban sebelum meninggal. Jadi santai aja gitu. Nggak misterius. Tapi ide ceritanya memang unik. Detektifnya bisa melihat hantu (roh) korban pembunuhan.
It's one of the rare police manga with a quite nice art style. The plots, cases, revealing parts of different faces of humanity, everything is interesting.
Lumayan. Cuma, karena ada bantuan "mistis"--detektif Ishikawa bisa melihat hantu--sisi penyelidikan jadi kurang greget.
Karakternya... Hagi sepertinya menarik. Sang detektif memang menyimpan sesuatu di kepalanya, yang mungkin menjadi sumber kekuatannya bisa berkomunikasi dengan hantu. Sementara sang asisten baru, Haruna, masih belum tampak menonjol selain memiliki ingatan yang baik. Misalnya, ketika dia disuruh menyingkir dari TKP sama polisi senior karena kehadirannya dianggap mengganggu, dia malah mengutip ucapan Bunda Theresa: "Kemalangan terbesar di dunia ini bukanlah kemiskinan atau penyakit, melainkan merasa diri kita tidak dibutuhkan oleh siapa pun."
Untuk komik bertema detektif tantangannya itu membuat misteri dan cara pemecahan misteri yang bikin pembacanya penasaran. Sebenernya berharap lebih sih sama"kemampuan bicara dengan orang mati"-nya. Dari volume 1 ini cukup puas dengan kemampuan tersebut yang membuat pembaca memahami 'isi hati' dari korban.
Bacaan yang terlalu ringan dan bisa diselesaikan dalam tempo kurang dari 30 menit. Sebagai seorang pembaca yang "perhitungan", rasanya jadi rugi membelinya. Saking ringannya cerita-cerita misteri pembunuhan yang disuguhkan sampai terasa tidak ada greget, dan benar-benar tidak tertarik untuk membaca volume-volume selanjutnya.