Jump to ratings and reviews
Rate this book

Coppelia

Rate this book
Sejak kecil Oliver sudah jatuh cinta pada Nefertiti yang aneh. Namun, tetangga depan rumah sekaligus teman sekelasnya itu tiba-tiba menghilang. Oliver ditinggalkan sebelum sempat membuat gadis itu mengingat namanya.

Sampai ke Jerman, Oliver mencari cinta pertamanya. Hingga akhirnya mereka bertemu. Tetapi, keadaan telah berubah. Nefertiti bukan lagi gadis yang dulu. Penari balet itu terluka sangat dalam dan menganggap cinta sebagai rasa asing yang terlalu mewah untuk ia miliki.

Akankah cinta menemukan jalannya, atau Nefertiti tidak akan dapat meloloskan diri dari masa lalunya yang begitu dingin… sedingin kisah boneka Coppélia yang begitu dicintai ibunya.

192 pages, Paperback

First published July 9, 2015

11 people are currently reading
168 people want to read

About the author

Novellina A.

2 books17 followers
Novellina A. adalah arek Malang yang kini tinggal di Jakarta.
Ia sangat suka membaca, menulis dan travelling (hobi masyarakat pada umumnya).
Pengarang favoritnya adalah Haruki Murakami dan J.K Rowling

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
42 (20%)
4 stars
106 (50%)
3 stars
51 (24%)
2 stars
8 (3%)
1 star
3 (1%)
Displaying 1 - 30 of 69 reviews
Profile Image for Nana.
405 reviews27 followers
August 13, 2015
Menang Goodreads giveaway!!!

Yaaayy!!!


Jadi sebenarnya Coppelia ini bercerita tentang seorang anak yang haus kasih sayang ibunya. Iya, sinopsis backcovernya menipu banget (huh!)

Sejak kecil, Nefertiti selalu merasa inferior dibanding ibunya, yang seorang pelukis terkenal. Ibunya tak pernah lelah menggali bakat seni di tubuh Nefertiti, sampai akhirnya Nefertiti menambatkan hatinya pada balet. Sayang, ia tetap membuat ibunya kecewa dengan pertunjukan perdananya. Tak lama, kedua orangtua Nefertiti bercerai dan Nefertiti berpisah dari ibunya.

Nefertiti dewasa menjalani hidup terombang-ambing. Karir baletnya selalu diwarnai bayang-bayang ibunya. Nefertiti yang pendiam dan tertutup menyimpan perasaannya sendiri sampai akhirnya dia bertemu kakaknya, Brian, dan tetangganya, Oliver, yang mengabarkan kalau ibu Nefertiti.... (apa hayoooo???)

Yang gue suka dan layak jadi highlight untuk buku ini adalah kemampuan Penulis menghidupkan karakter Nefertiti. Dunia Nefertiti yang kelam, sepi, dan terbungkus rapat disajikan dengan jelas melalui suara khas Nefertiti. Alur maju-mundur dan kenangan-kenangan Nefertiti semakin menjelaskan duka yang dibawa Nefertiti selama hidupnya dan membuat penasaran juga, mau dibawa ke mana sih, kisah ini?

Settingnya sendiri, yang menggunakan Yunani, Jerman, dan flashback Indonesia, yaaa emang pas. Emang dibutuhkan, bukan sekadar tempelan biar ceritanya ngikutin tren (eh berasa nggak, sih, kalo novel2 Gramedia sekarang kebanyakan bersetting di Eropa?) dan terasa menyatu dengan cerita.

Yang kurang mungkin penulisannya yang kurang teliti yaa.. ada beberapa kali gue nemuin ketidakkonsistenan penyebutan "beliau" dan "dia", penempatan kata yang terbalik, dan kata yang hilang. Tapi secara umum nggak gitu ganggu.

Di luar covernya yang terlalu unyu dan sinopsis backcover yang nggak gitu sesuai, gue merekomendasikan novel ini.
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
July 3, 2015
Sejak membaca debutnya Fantasy aku sudah suka dengan tulisan Novellina A.dan ketika novel ini terbit, aku tidak membutuhkan waktu lama untuk membacanya.

Novel ini mengisahkan tentang kehidupan seorang Nefertiti. Nefertiti yang dianggap aneh oleh teman-teman dan bahkan lingkungan sekitarnya, Nefertiti yang jarang berbicara dengan orang lain. Bagi Nefertiti, hanya Mia, sahabatnya yang bisu dan ayahnya saja yang mengerti dirinya. Sedangkan ibunya terasa terlalu jauh dan sulit untuk dijangkau.

Nefertiti pun tumbuh menjadi wanita yang berbeda. Nefertiti merasa tidak memiliki bakat apapun, hal yang sungguh berbeda dengan kedua orangtuanya yang berbakat. Lahir dari ayah yang seorang arsitek terkenal sekaligus ibu yang memiliki bakat melukis yang indah membuat Nefertiti memikul beban yang berat. Nefertiti pun menemukan dirinya dalam balet, tetapi tetap saja ibunya seakan tidak bisa menganggapnya luar biasa.

Nefertiti pun semakin sulit untuk dijangkau, menjadi semakin tertutup apalagi kemudian ayah dan ibunya memutuskan untuk bercerai, tidak ada lagi tempat untuknya. Nefertiti pun memutuskan untuk melanjutkan ke sekolah Balet di Jerman, tetapi tetap saja ada perasaan kosong dalam dirinya, yang membuatnya akhirnya memutuskan untuk berhenti dan menghilang.

Dilain sisi, ada sosok Oliver teman SMA sekaligus tetangganya yang ternyata memendam perasaan cinta sejak lama. Oliver jatuh cinta terhadap Nefertiti, walau mereka mengobrol kurang dari dua kali, bahkan Oliver ragu Nefertiti masih mengingatnya.

Membaca novel ini jujur perasaanku dibuat sesak sekali, penulis benar-benar membangun suasana muram, kelam bahkan dark begitu erat dalam karakter Nefertiti. Penulis membuatku terus terkejut dengan fakta-fakta yang terungkap selama perjalanan aku membaca novel ini. Sesuatu yang memang tidak bisa kutebak sebelumnya.

Diceritakan dari sudut pandang Nefertiti dan Oliver, sebagai pembaca aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan dan pikirkan. Nefertiti yang selalu merasa tidak pernah dicintai tanpa tahu keluarga dan bahkan ada seorang pemuja rahasianya. Disisi lain, Oliver yang sudah cenderung terobsesi dengan sosok Nefertiti, yang membuat dirinya malah mendekat ke kehidupan Ibu Nefertiti dan terkuaklah segala misteri yang melingkupi.

Penulis benar-benar membuat alur yang cukup mengalir, walau kadang-kadang ada bagian-bagian yang membuatku bingung dengan siapa yang sedang berbicara tetapi aku tetap menikmatinya. Profesi tentang balet yang memang jarang dipakai, membuat kisah ini lebih berwarna. Setting tempat pun mendukung keseluruhan cerita.

Novel ini mungkin bukanlah kisah romance sepasang kekasih yang mengharu biru, tetapi ini lebih ke kisah drama keluarga Nefertiti. Hubungan Nefertiti dan ibunya yang terlihat menonjol. Mereka saling mencintai dengan caranya masing-masing, dan jujur aku agak kecewa dengan endingnya. Walau memang penulis sudah mengutarakan sendiri, memang sengaja dibuat seperti ini, tetapi tetap saja aku tidak rela...
Profile Image for Just_denok.
366 reviews7 followers
August 17, 2015
Ini cerita menyentuh sekali. Di Fantasi, kita disuguhi cerita persahabatan yang mengharukan. Sedangkan di Coppelia kita disuguhi cerita tentang hubungan seorang putri dengan ibunya. Novel ini diceritakan dengan kalimat2 yang menyentuh. Di awal kita dibuat menebak2 apa yang terjadi dengan Nefertiti. Apa yang membuat gadis itu terluka begitu dalam dan memilih kabur dari keluarganya yang tergolong sempurna. Tiap bab seperti kepingan puzzle yang segera ingin kususun untuk mendapatkan gambaran mengenai kehidupan Nefertiti.

Cara penulis menggambarkan cinta Oliver pada Nefertiti pun aku sangat suka. Simple tapi maknanya dalam. Aku masih penasaran dengan apa yang terjadi pada Theos. Laki2 itu masih seperti misteri di novel ini. And I love the ending so much ;)

Well, novel ini bagus dan menyentuh. Sejak baca Fantasi, aku sudah jatuh cinta dengan karya penulis. Moga2 kalau penulis pulang ke malang, aku bisa ketemu dan ngobrol2 :))
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews298 followers
March 26, 2016
Resensi bisa juga dibaca di http://www.kubikelromance.com/2016/03...


Baca buku ini sudah beberapa minggu yang lalui melalui iJak karena tidak juga memilikinya sampai sekarang secara fisik, hehehe. Coppélia adalah salah dua metropop yang membuat saya penasaran, selain 3 karya Alicia Lidwina, yang katanya tidak seperti metropop kebanyakan, ratingnya juga sangat bagus. Saya belum membaca karya debut Novellina, tapi dengan membaca buku ini dan membaca review buku debutnya, saya sedikit menerka-nerka kalau penulis mempunyai minat terhadap karya klasik. Di buku pertama dia bercerita tentang piano, di buku keduanya ini dia banyak membahas balet dan lukisan. Selain itu, nama-nama yang dia pilih untuk para tokoh utamanya juga cukup unik.

Coppélia beraura dark, ceritanya cukup gelap. Di awali dengan setting di Santorini, Yunani, di mana sang tokoh utamanya Nefertiti 'melarikan diri', di sana dia bertemu dengan orang yang sangat mirip dengannya, berbicara hanya dengan orang yang dia rasa bisa dipercaya. Dalam perjalanan kembali ke Jerman karena Nefertiti sudah kehabisan uang, dia menceritakan masa lalunya kepada Theos, anak dari Angeliki, wanita yang memiliki rumah tempat Nefertiti menumpang selama di Santorini. Dimulailah cerita dari masa kecil Nefertiti yang penuh tekanan dan kurang kasih sayang dari ibunya, yang sejak kecil selalu dipaksa mencari apa bakat yang dimiliki, apakah arsitek seperti ayahnya atau melukis seperti ibunya. Dia dipaksa harus berprestasi, membuat masa kecilnya penuh tekanan, membuatnya jarang bisa bersosialisasi dengan teman-teman di sekolah. Dia hanya punya satu teman, teman yang tidak bisa berbicara dan menderita keterbatasan mental.

Di belahan dunia yang lain, Oliver mencoba mencari Nefertiti, tetangga sekaligus teman sekolah yang diam-diam dia cintai. Ketika ada reuni SMA di Jakarta, Oliver mendengar pembicaraan tentang Nefertiti dari teman-teman perempuannya, yang mengatakan kalau Nefertiti adalah perempuan aneh, tidak pernah berbicara, tidak memiliki teman tapi masuk siswa yang berprestasi dan bertanya-tanya kemana dia sekarang ini. Dia berharap Nefertiti bakalan datang, tapi seperti tahun-tahun sebelumnya, dia tidak pernah muncul lagi, dia yang bertempat tinggal di depan rumahnya juga tidak tahu kemana dia sekarang berada. Bahkan Oliver sampai meneruskan kuliah dan memilih Jerman karena siapa tahu Nefertiti juga ada di sana, siapa tahu dia bisa bertemu lagi, tempat di mana sekarang ibunya tinggal setelah kedua orangtuanya bercerai.

Brian dan Ayumi seperti antigen dalam hidupku. Mereka coba meringsek masuk ke pertahananku dan mencoba memperkenalkan warna warni pelangi.

"Luka karena kehilangan seseorang yang sangat kau cintai tak bisa bagitu saja berkurang oleh waktu. Ada kalanya kau merasakan sakit yang beratus-ratus kali lipat," kataku lagi. "Aku tidak takut tidak bisa melihatnya lagi, tapi aku takut aku akan mati karena tidak bisa terlepas dari kenangannya."

Saya cukup menikmati Coppélia ini, jenis cerita yang 'aku banget', dark, pilu, ada harapan akan kehidupan yang lebih baik, ada seseorang yang akan mencintai dengan tulus. Hanya saja di bagian awal saya cukup dibuat bingung dengan setting dan sudut pandang penceritanya. Saya bukan kebanyakan pembaca yang tertipu dengan blurb di belakang sampul karena saya tidak membacanya terlebih dulu. Di bab pertama, Nefertiti sebagai narator alias sudut pandangnya mengambil orang pertama, kemudian di bab kedua saya harus berhenti sejenak, membaca ulang dan mencerna lebih lama karena narator berganti menjadi Oliver. Tidak masalah sebenarnya, sudut pandang orang pertama membuat pembaca lebih memahami apa yang dialami karakter tokoh utamanya, hanya saja 'suara' Nefertiti dan Oliver hampir sama, sehingga di awal saya cukup bingung, cerita yang mulanya bersetting di Yunani kemudian tiba-tiba ada di Jakarta. Cerita disuguhkan secara bergantian dari Nefertiti kemudian Oliver, begitu seterusnya.

Alur yang dipilih penulis maju mundur, di bagian ini saya juga perlu berkonsentrasi apakah ada di masa sekarang atau sebaliknya. Saya merasa plotnya kurang rapi, tapi setelah ke belakang saya bisa mengikuti dan menikmatinya. Chemistry antara Nefertiti dan Oliver kurang, tidak banyak interaksi yang mereka lakukan, tapi adegan ketika Oliver mengajak Nefertiti pulang sekolah bareng itu cukup romantis. Diksinya bagus, referensi tentang balet dan segala sesuatu yang berbau klasik perlu diapresiasi, semua dilebur menjadi satu kesatuan dan tidak terasa kalau tempelan semata. Satu hal lagi yang menarik di buku ini, yaitu salah satu jenis kepribadian yang melekat pada Nefertiti, dia adalah seorang INTJ (introversion, intuition, thinking, jungement), salah satu jenis kepribadian yang langka di dunia, sayangnya dalam hal ini tidak dikembangkan penulis secara detail.

Mengesampingkan beberapa kekurangannya, yang saya sukai dari buku ini adalah tema ibu-anak yang diangkat penulis, dalam sekali dan emosinya terasa. Saya bisa merasakan bagaimana harapan Nefertiti akan lebih dipedulikan ibunya, ingin hubungan mereka dekat layaknya orang lain, tidak hanya dituntut selalu sempurna dengan bakat yang dimiliki, berharap ibunya bangga dengan apa yang sudah diusahakan Nefertiti. Puncaknya adalah ketika Nefertiti gagal menjadi pemeran utama dalam Swan Lake. Gezzz, kecewanya terasa sekali. Apa yang dialami Nefertiti banyak juga dialami oleh para anak di luar sana.

Kadang orangtua memaksakan kehendak atau impiannya kepada anak, anak sebagai pabrik pemuas ego, tanpa melihat apakah anaknya mampu atau tidak. Ketika sang anak mencoba sebaik yang dia bisa dan gagal, mereka langsung kecewa, padahal sang anaklah yang jauh lebih kecewa. Tekanannya banyak, kecewa akan diri sendiri yang sudah berlatih keras, kecewa karena telah mengecewakan orang yang berharap lebih padanya. Seharusnya mereka didukung, semua orang bisa gagal, dan tidak ada yang sempurna di dunia ini. Namun demikian, saya juga tidak langsung menghakimi ibu Nefertiti, melihat kisah masa lalu di bagian akhir saya mengerti kenapa ibunya sangat keras pada Nefertiti perihal balet.

Saya menyukai hampir semua tokoh pendukungnya, Brian yang dengan tulus menyayangi Nefertiti walau mereka bersaudara tiri, ayah Nefertiti yang selalu ada dan mendukung apa pun yang dilakukan anak semata wayangnya. Oliver juga manis, penantian akan cintanya membuktikan kalau Nefertiti tidak sendirian di dunia ini, akan ada orang yang akan tulus mencintainya. Saya juga menyukai hubungan Nefertiti dengan gadis bisu yang sering diejek anak-anak kampung sekitar, kadang kita membutuhkan teman yang hanya mendengarkan, menampung apa pun yang kita rasakan, saling berbagi kesedihan.

Overall, Coppélia memberikan rasa yang berbeda dalam lini metropop, yang menyukai segala sesuatu berbau klasik dan sedikit misteri, tentang seorang anak yang haus akan kasih sayang ibunya, buku ini sangat recommended.

3.5 sayap untuk Brian yang jenius bermain piano.
Profile Image for Dhyn Hanarun .
329 reviews203 followers
December 22, 2015
"Aku lelah mencari cinta di mata orang-orang di sekitarku. Untuk sekali saja, aku ingin dibutuhkan, disayangi tanpa harus meminta." – halaman 49

Musim panas sudah berakhir, begitu pula perlarian Nefertiti di Santorini. Selama tiga bulan terakhir, dia menginap di hostel milik Angeliki dengan potongan harga yang cukup besar dan mencoba mengambil pekerjaan sampingan. Theos, putra Angeliki, ditugaskan untuk mengantarkannya ke bandara. Laki-laki yang hanya bicara dalam kondisi dan keadaan tertentu, akhirnya mengeluarkan suara. Dia ingin tahu seperti apa tempat berpulang Nefertiti. Cerita Nefertiti mundur jauh ke masa kecilnya, mulai dari kedua orangtuanya yang berusaha menemukan bakat seni dalam dirinya, perjuangannya mempelajari tarian balet, dan pertemanannya dengan anak bisu di kampung.

Di tengah-tengah studi doktoralnya di Jerman, Oliver pulang ke Indonesia dan menghadiri reuni SMA. Nefertiti dan kemisteriusannya menjadi topik obrolan, membuat Oliver resah karena dia masih tidak tahu di mana tetangga sekaligus cinta pertamanya itu. Lucunya, Oliver berteman baik dengan ibu Nefertiti yang kini tinggal di Hamburg. Dari lukisan-lukisan ibu Nefertiti, Oliver mengetahui bahwa hubungan ibu dan anak itu tidak terlalu harmonis. Tekadnya untuk menemukan Nefertiti semakin kuat.

--

Sinopsis di bagian belakang cover Coppélia menipuku! Aku kira ceritanya akan seputaran perjuangan Oliver mencari cinta pertamanya di Jerman dan menemukan bahwa orang itu tidak seperti bayangannya. Mirip-mirip Paper Towns, gitu lah. Tapi bab pertama, yang diberi nama Act I, malah diceritakan oleh Nefertiti sendiri. Sedikit bingung sih. Untungnya cerita masa kecilnya sangat menarik, apalagi diceritakan dengan gaya bahasa yang enak dibaca dan banyak kalimat yang quotable, hahaha. Aku langsung bisa menikmati ceritanya dan sedikit penasaran dengan hal-hal kecil yang ikut dijelaskan. Lalu di Act II, Oliver akhirnya muncul dan menceritakan sisi lain cerita. Dari sana terlihatlah bagaimana detail sebelumnya menyatukan masa kecil mereka dan menjadi motivasi Oliver mencarinya. Ternyata oh ternyata, ini tidak hanya tentang cinta lawan jenis, tapi juga cinta ibu dan anak! Cukup mengejutkan buatku. Fakta-fakta masa lalu ibu Nefertiti perlahan-lahan terkuak dan membuat apa yang dialami Nefertiti saat masih kecil jadi terlihat berbeda dan punya pengertian lain.

Sayangnya, ceritanya terlalu pendek dan masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, seperti bagaimana hubungan Nefertiti dan ibunya, kenapa dan ke mana ibu Nefertiti pergi, dan siapa yang Nefertiti pilih sebagai pasangan. Tapi aku suka dengan ceritanya. Masih terkagum-kagum dengan kejutan yang disuguhkan. Efek misteri yang tak terpecahkan itu juga membuat ceritanya unik. Mungkin ceritanya mengikuti struktur film Perancis yang pembukaan yang cukup panjang, tiba-tiba klimaks, dan punya ending yang mengantung ;p

Baca review selengkapnya di http://dhynhanarun.blogspot.com/2015/...
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
August 17, 2015
Setelah membaca ini, saya jadi makin penasaran sama karya penulis sebelumnya yang sudah masuk to-read list, Fantasy. Karena halamannya lebih tebal.

Yap, karena novel ini kurang panjang!

Sebelum itu. Banyak sekali hal bagus dalam buku ini, di antaranya:

• Aura sendu yang pas. Dan meskipun muram, ada secercah harapan di belakangnya. Tipe-tipe cerita yang saya gemari.

• Kompleksnya hubungan antarkarakternya. Selain para tokohnya yang tidak hitam-putih, perasaan satu karakter ke karakter lain pun tak hanya satu. Ada benci dan cinta, rindu dan frustrasi, sahabat dan kagum, semuanya terjadi bersamaan.

• Latarnya. Baik itu latar tempat, waktu, dan eksternal seperti psikologis dan balet. Semuanya diletakkan dengan presisi dan hati-hati, sehingga terjahit baik dan indah dengan kisahnya.

• Alur bolak-balik yang meminimalisasi kedataran cerita.

• Pemilihan nama! Nefertiti ada bukan karena terdengar bagus, tapi karena kisah hidup Ibu. Begitupun Oliver.

• Semua yang terjadi berdasarkan hukum sebab-akibat yang masuk akal dan saling berkesinambungan.

Endingnya yang pas dan bittersweet. (And no, Ma'am, I didn't hate your ending at all!)

Sekarang tentang kekurang-panjangan cerita. Menurut saya ada beberapa yang bisa dijelaskan lebih jauh. Sebenarnya dengan seratus halaman lebih pun sudah terangkum dengan baik, kalau saja saya punya ilmu awal atau apersepsi yang sama dengan pengarangnya. Saya butuh penjelasan lanjut soal Coppélia dan hubungannya dengan tema cerita, soal balet, dan karakter INTJ ini--yaitu karakter Titi dan ibunya.

Bicara soal INTJ, mungkin ini jadi sumber kediskoneksian saya dengan perasaan Titi. Saya orang INFP, dan sebagai sama-sama Ni, saya bisa memahami kesendirian Titi. Namun saya gagal paham mengapa sampai akhir pun Titi mau ibunya memandangnya bangga, dan ia tetap berusaha menjadi yang terbaik meskipun ia mengakui jiwanya tak sepenuhnya di balet.

Yah, mungkin itulah pandangan seorang INTJ. Bagi INFP sendiri, yang penting adalah orang yang kita sayangi menerima kita dan apa yang kita lakukan meski itu jauh dari yang diharapkan.

Bacaan singkat yang tak ringan. Pada akhirnya, buku ini berujar bahwa tiap orang pantas mendapatkan cinta.
Profile Image for Natha.
780 reviews73 followers
March 15, 2016
Kalau kamu bertanya kepadaku apa inti dari buku ini, pasti jawabanku cuma satu kata: ibu.

Kalau kamu bertanya kenapa sesingkat itu, pastilah aku menjawab karena memang hanya itu inti yang ditangkap sepanjang aku membacanya. Dan bisa dibilang bintang ketiga kuberikan untuk tema yang diangkat oleh penulis. Selebihnya? Bisa dibilang aku pusing. Suka tidak, tapi bukan berarti tidak suka. Deskripsi lokasinya indah, namun hanya itu. Tema seorang penari balet menarik, tapi tidak semenarik itu hingga membuatku betah membaca. Mungkin aku hanya terbiasa membaca kisah yang berbahasa lugas hingga membaca yang terlalu 'tinggi' jadi ngejelimet sendiri. :)) My mistake.
Profile Image for Nay.
Author 4 books86 followers
May 21, 2016
Aku selalu 'sangat' menyukai cerita-cerita seperti ini. Karakter tokoh utama yg berbeda dari kebanyakan orang. Bukan hanya membahas tentang cinta. Cerita yg manis, tapi tidak berlebihan. Dan yang terpenting tidak vulgar

4 bintang untuk keseluruhan cerita. Plus setengah bintang untuk cinta Oliver dan program doktoralnya ^^
Profile Image for Putri Review.
74 reviews13 followers
March 3, 2016
Actual score : 4 from 5 stars

Baca lebih lengkap review novel ini di blog Putri Review : Rumitnya Hubungan Ibu & Anak dalam novel "Coppelia" by Novellina A.

Beberapa halaman setelah saya membaca novel Coppelia, saya mengerutkan dahi, kemudian mengecek bagian kiri atas dari cover depan.

Serius nih, Metropop?

Maaf kalau saya salah paham, silakan kalau ada yang bisa meluruskan, tapi sejak awal kemunculannya, lini Metropop itu bagi saya dekat dengan tema urban, cinta haha hihi, modern. Itulah mengapa kisahnya tak jauh2 dari lajang2 ibukota dengan pekerjaan mentereng yang dilema antara pekerjaan dan cinta, atau perang batin seorang gay/lesbian dengan orientasi seksualnya. Salah satu karya yang menurut saya Metropop banget (dan memang pelopor) adalah trilogi Indiana's Chronicle karya Clara Ng.

Tetapi Coppelia sangat jauh dari contoh dan pemahaman saya tentang Metropop tersebut. Cerita awal novel ini mengingatkan saya akan karya2 penulis asing yang dielu2kan, yang umumnya bercerita tentang perjalanan tokoh utama bertemu dengan orang2 asing, dan mendapatkan kebijaksanaan dari sana.

Namun perasaan itu hanya kental di awal2 saja, setelahnya cerita mulai mengalir seperti novel fiksi roman populer pada umumnya, meskipun masih sarat akan gaya penceritaan Novellina yang detail dan sedikit menyentil isu sosial.

Saya cukup suka dengan novel ini. Terasa sedikit lebih berat daripada novel metropop pada umumnya. Penulisnya pun terlihat menguasai setting dan karakterisasi dengan sangat baik. Elemen balet, juga penggambaran lokasi Santorini dan Hamburg sangat detail, meskipun untuk deskripsi tempat pergerakannya sedikit terlalu cepat, sehingga saya kurang bisa menikmati setiap lokasi yang disambangi Nefertiti.

Yang saya sayangkan adalah alur novel yang sedikit membingungkan. Novel ini dibawakan lewat sudut pandang orang pertama dari dua tokoh : Nefertiti dan Oliver, cowok tetangga Nefertiti di Jakarta yang memang diam2 menyimpan kagum pada gadis itu sejak lama. Sudut pandangnya cukup jelas, tapi latar tempat dan waktunya terasa melompat-lompat, membuat saya harus menelaah dua kali untuk memahami kronologis peristiwa demi peristiwa--namun meskipun begitu, masih ada beberapa momen yang tak jelas dimana dan kapannya, sedikit mengurangi kenikmatan saya dalam membaca.

Hal kedua yang saya sayangkan adalah endingnya. Saya terbuka dengan ending macam apapun, bahkan ending terbuka yang menuntut pembaca untuk menebak2 sendiri. Tapi menurut saya ending Coppelia terlalu penuh tanda tanya. Saya masih tak paham mengapa Nefertiti kabur lagi dari Oliver, pergi untuk waktu yang lama ke tempat tinggal teman bapak ibunya di Hamburg tanpa mengabari, lalu kembali. Apakah dia bertemu dengan ibunya di sana? Atau tidak? Mengapa?

Yang ketiga, beberapa selipan teori dari kata2 sulit awalnya memperdalam cerita. Membuat tipe pembaca yang haus wawasan seperti saya jadi makin menggebu2 dalam membaca. Tapi, makin ke belakang, selipan teorinya makin terasa seperti buku teks, bukan untuk kekayaan cerita. Puncaknya adalah penjelasan tentang tipe kepribadian INTJ yang dijelaskan sambil lalu tanpa memberitahu mengapa kepribadian itu begitu berbeda. Pembaca bisa googling sendiri, tentu saja, tapi sayangnya info itu berhubungan erat dengan tokoh utama (Nefertiti), dan saya tidak keberatan untuk membaca satu-dua paragraf yang bisa membuat saya mengerti kenapa Nefertiti yang memiliki tipe kepribadian INTJ yang sama dengan teman saya bisa begitu berbeda. Saya bisa mengerti teman saya, mengapa Nefertiti menjadi begitu misterius dengan tipe kepribadian tersebut?

Saya merasa, Nefertiti dan ibunya pada novel Coppelia ini pada akhirnya terlalu misterius untuk saya terjemahkan. Saya simpulkan, memang mungkin begitulah orang2 yang kelewat artistik, sama seperti psikopat, mereka punya cara mereka sendiri untuk mengungkapkan cinta. Meskipun begitu, saya kagum dengan tata bahasa penulisnya. Saya suka dengan niatnya untuk membahas tema ibu dan anak dari sudut pandang lain, tentang hal yang sering dilupakan orang : bahwa ibu tidak begitu saja ada di dunia, dia hadir bersamaan dengan kelahiran anak dalam gendongannya.

Bravo Novellina, saya tunggu karya berikutnya ya :)
Profile Image for afin.
267 reviews20 followers
August 30, 2015
rated 5 / 5 stars
thank you, Jenny yang sudah berbaik hati meminjamkan bukunya :D

Sinopsis:
Sejak kecil Oliver sudah jatuh cinta pada Nefertiti yang aneh. Namun, tetangga depan rumah sekaligus teman sekelasnya itu tiba-tiba menghilang. Oliver ditinggalkan sebelum sempat membuat gadis itu mengingat namanya.

Sampai ke Jerman, Oliver mencari cinta pertamanya. Hingga akhirnya mereka bertemu. Tetapi, keadaan telah berubah. Nefertiti bukan lagi gadis yang dulu. Penari balet itu terluka sangat dalam dan menganggap cinta sebagai rasa asing yang terlalu mewah untuk ia miliki.

Akankah cinta menemukan jalannya, atau Nefertiti tidak akan dapat meloloskan diri dari masa lalunya yang begitu dingin… sedingin kisah boneka Coppélia yang begitu dicintai ibunya.

Review:
Nefertiti adalah seorang anak yang terlahir dari keluarga yang memiliki bakat. Ayahnya adalah seorang arsitek yang tenar dan ibunya adalah pelukis dari keturunan yang tenar juga. Seluruh hidupnya Nefertiti hanya ingin mendapatkan kasih sayang dan perhatian ibunya. Karena ibunya adalah seorang seniman, Nefertiti merasa dia harus memiliki bakat di bidang seni. Diapun akhirnya menggeluti bidang ballet.

Nefertiti merupakan pemain balet yang lumayan berbakat. Ia sempat bergabung di Staatsballet, salah satu organisasi ballet di Berlin. Tetapi setelah memiliki bakat ballet ini ia tetap tidak bisa mendapat perhatian ibunya. Karena kurangnya perhatian dari ibunya, Nefertiti tumbuh menjadi wanita yang berbeda, dia menjadi orang yang tidak percaya dalam hal percintaan dan menjadi orang yang sinis.

Di sisi lain ada Oliver, sejak dulu ia selalu menyukai Nefertiti. Sampai sekarangpun dia masih menyukai Nefertiti bahkan ia masih menunggunya dan mencarinya bahkan disaat dia tahu bahwa Nefertiti menjadi seorang penari ballet di Berlin. Ia memutuskan untuk mengeyam pendidikannya di Berlin dengan harapan bisa mengenal lebih dekat Nefertiti. Anehnya, ibu Nefertiti lebih dekat dengan Oliver daripada Nefertiti.

Kebencian adalah ungkapan lain bahwa kita sangat mencintai orang itu. Namun untuk alasan tertentu, kita memilih membencinya. Hal itu lebih baik daripada menganggapnya tak ada.

read my full review on http://booksoverall.blogspot.com/2015...
Profile Image for Ana  Fitriana.
160 reviews32 followers
May 23, 2018
"Luka karena kehilangan seseorang yang sangat kau cintai tak begitu saja berkurang oleh waktu. Ada kalanya kau merasakan sakit yg beratus-ratus kali lipat. Aku tidak takut tidak bisa melihatnya lagi, tapi aku takut aku akan mati karena tdk bisa terlepas dari kenangannya." hal: 117

Pertama, aku mau bilang aku suka kovernya yang simple dan manis. Yang kedua, aku tertipu oleh blurbnya😂
Aku kira kisah ini tentang Oliver yg nggak bisa move on dari Nefertiti, gadis pendiam -yang seringnya dicurigai tuna wicara saking pendiamnya- teman SMU sekaligus tetangganya. Ternyata sodarahh sodarahhhh isinya lebih komplekd. Ini tentang Nefertiti, penari balet yang kehilangan semangat dan tujuan hidup setelah satu-satunya sahabatnya, Mia, meninggal dunia. Dia bahkan kehilangan semangat untuk menari, hal yang paling dia dan Mia sukai. Iyesss, sahabat. Bukan orang tua atau seseorang yang punya hubungan darah dengannya. Kok bisa gitu ya? hemmm... baca sendiri😁

Flash back di buku ini, persis seperti puzzle. Nggak terlalu rumit, tapi tetap membutuhkan konsentrasi untuk diselesaikan. Di mulai dengan Nefertiti yang sengaja bersembunyi di Yunani Nefertiti merasa, hidup jauh dari keluarganya lebih bisa membuatnya hidup. Terlebih setelah kematian Mia, dia tak tau harus apa. Mia adalah semangatnya untuk hidup dan terus menari. Lahir dari keluarga arsitek-seniman tersohor dan harus menerima perceraian ayah ibunya di umur 13 th, membuat sifat pendiamnya semakin parah. Pendiam dan sinis memandang hidup karena merasa tak diinginkan oleh orangtuanya -terlebih ibunya- bukanlah satu kepribadian yg menyenangkan. Karena itu Nefertiti hanya punya 1 teman. Mereka merasa cocok, karena Nefertiti tak perlu susah payah berbicara, karena Mia bisu.

Kenapa sih Nefertiti begitu terluka hingga memandang sinis pada dunia dan terutama Ibunya? Kenapa juga dia merasa lebih bahagia bersama Mia daripada keluarganya? Berhasilkan Oliver menemukan Nefertiti, cinta paling lama dalam hidupnya? buku ini cuma 196 halaman. Tipis kan? tapi jangan remehkan buku tipis ini, karena isinya oke banget.
3,8*😘
Profile Image for Jenny Faurine.
Author 18 books181 followers
July 4, 2015
Gue nggak benci sama endingnya. Karena menurut gue ya ending itu... realistis. Kadang orang-orang selalu berekspektasi untuk menemukan semua tokoh bahagia di akhir cerita. Tapi menurut gue, wajar ada yang "hilang" di sebuah akhir. Karena ya realistisnya sih gitu.
Grr, ngomong apa sih gue.
Dua novel sebelumnya yang gue baca bahas Ayah. Sekarang bahas Ibu.
Siaaaal, mewek siang-siang. T.T
Gue belum baca novel penulisnya yang Fantasy (novel pertamanya) tapi gue langsung jatuh cinta sama tulisannya di Coppelia. Coppelia bikin gue males nutup buku ini. Pokoknya pengen baca terus.
Di awal gue sempet ragu mau beli novel ini, tipis bok. Tapi akhirnya beli juga karena penasaran....
Dan gue nggak nyesel :")
Aduh, masih speechless. Nggak tau mau ngomong apa :'''''''''
*mewek lagi*
Intinya, recommended banget. Kita diajak Nefertiti untuk bersahabat dengan Mia yang tuna wicara, untuk bertemu dengan Theos yang akhirnya mau bicara, untuk merasakan punya kakak bernama Brian, untuk mengulik masa lalunya bersama sang Ibu, dan untuk dicintai Oliver yang setia menunggu bertahun-tahun untuk dapet kesempatan ngobrol bersama Nefertiti.
Profile Image for Tike Yung.
174 reviews5 followers
March 14, 2017
Aku menyesal... aku menyesalllll....
hah... kenapa dari dulu nggak baca ini novel.
Ohhh... menyesal sekali rasanya dulu ketika di salah satu pusat perbelanjaan di Purwakarta, aku melihat novel ini meskipun saat itu sudah tertarik karena kover dan judulnya (yang unik, pas itu berpikiri, "kok metropop kovernya boneka gini yah, macam teenlit hehehe" tapi sekali lagi seperti apa kata pepatah *don't judge a book by it's cover* )
Tapi tanganku ragu mau mengambilnya (karena kalau nggak salah pas di tahun 2015an itu aku sedang nabung buat beli laptop yang sudah kuimpikan sejak di bangku SMP dan begitu lulus sekolah dan bekerja, satu-satunya barang yang harus aku beli selain ponsel buat Mamah itu yah Laptop!) Jadi saat itu rasanya buat beli buku itu berat banget, Alhasil cuma sering baca buku apa aja yang di pinjam dari senior di tempat kerja atau ke perpustakaan masjid (yang tak lain perpustakaan sekolah SD/TK/PAUD yang dekat dengan Pabrik tempat aku kerja) pokoknya di tahun itu dana buat beli buku di minimaliskan hahahaha
Dan betapa aku menyesal sekali kenapa novel ini dulu nggak masuk daftar buku yang harus kubeli :(

Kusuka sekali tema yang di ambil oleh penulis, kusuka sekali baca novel tentang keluarga, tentang Ibu maupun Ayah. Dan di Coppelia ini... ahhh kubingung mau menuliskannya dengan kata-kata.
Pokoknya kusuka, untuk endingnya... aku malah lebih suka novel dengan ending seperti ini, jadi kumerasa bisa menentukan sendiri gimana nasib akhir dari tokoh-tokohnya. Karena setelah sang penulis menuliskan perjalanan kisah mereka secara naik-turun, setidaknya pembaca di kasih hadiah untuk menentukan sendiri bagaimana akhirnya kisah para tokoh itu.

Terima kasih, kak Novellina sudah menuliskan novel secantik ini :)
Profile Image for Butter Cup.
1 review
July 10, 2015
Surprise!

Bagi yang udah baca tulisan Novellina A. sebelumnya, Fantasy dan jatuh cinta dengan karakter manager eksentrik Awang-Brian! Disini Brian muncul sebagai pemeran pembantu lagi dengan porsi yang lebih banyak :D
So Far, meskipun lebih tipis, Coppelia masih menawarkan pembaca bagaimana diajak berjalan-jalan sekaligus dipelintir emosinya hingga akhirnya mendapat "gasped-moment". kenapa demikian karena gasped moment ini yang sama sekali ga ketebak oleh pembaca!

So Far I enjoy it!
Profile Image for Weka Swasti.
15 reviews1 follower
September 22, 2015
Aku suka balet, aku suka musik klasik, aku suka Eropa. Tiga hal yang tak terpisahkan, dan ada di dalam novel Coppelia ini, namun dengan tokoh-tokoh sentral orang Indonesia. Alur dan konfliknya unik, lincah, dan elegan. Ada komposisi musik klasik, repertoar balet, film, puisi, yang dimasukkan ke dalam novel ini. Aku pun jatuh cinta pada tokoh-tokohnya, terutama pada Oliver. Jadi pengin baca novel Novellina yang lain.
Profile Image for Nana Petronika.
Author 1 book6 followers
December 14, 2015
Kalau di blurb diceritakan bahwa Oliver sudah jatuh cinta pada Nefertiti sejak kecil, maka aku sudah jatuh cinta dengan tulisan Kak Novellina sejak halaman pertama Coppelia :3 Arrggh! Aku butun novel Kak Novellina yang satu lagi, yang judulnya Fantasy. Malangnya, di Gramedia kotaku bukunya tinggal satu dan udah rusak :( *malah curcol* Tipe Young Adult yang kusuka nih padahal. Apalagi Kak Novellina ini suka memasukkan unsur seni klasik. Hm, dayummm!!
Profile Image for Carolina Ratri.
Author 26 books40 followers
July 15, 2015
novel ini unik. konflik nggak biasa, karakter tokoh nggak biasa, ending yang juga nggak biasa. bukan tipe novel yang bisa membuatku terpesona, tapi tipe novel yang bakalan keinget terus. aku punya 3.5 bintang untuk novel ini, tapi karena nggak ada setengah2an, dengan rela aku kasih 4 bintang.
will review more in my blog.
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
January 14, 2016
Ceritanya manis, dan latar tempatnya ngga bikin bosen
Profile Image for Leila Rumeila.
1,000 reviews28 followers
August 17, 2023
1 kata buat novel ini, "suram". Lol.
Karakter Nefertiti sendiri juga misterius banget.
Mungkin kasarnya, tipe orang seperti ini di sekitar kita akan disebut "freak". Orang yg suka menyendiri, diam yg betul2 diam sampai ditanya engga jawab, aneh, dsb. Kasarnya ya.
Tapi untungnya, karakternya berkembang lebih baik ketika Nefertiti beranjak dewasa.

Hal2 yg buat gue suka, di dalamnya disebut beberapa musik2 klasik beserta sedikit sejarahnya dan beberapa tempat2 di Mesir dan Jerman beserta narasi dari situasi tempat2 tersebut.

Sayang, aspek dunia balet ini kurang digali.
Juga porsi konflik ibu-anak lebih dominan daripada romancenya, padahal Oliver ini, duh he's such a warmhearted man! Nefertiti harus merasa beruntung karna dicintai diam2 sepanjang hidup oleh sosok kaya Oliver ini.

I have no idea about the ending, tbh.
Entah sebaiknya merasa sebal, kecewa, atau legowo terima, hmm.
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
February 1, 2016
I am the Queen of Mediocre.
Running away is my best talent and achievement.


Bintang lima. Pertama, saya cukup selektif dalam membaca novel apalagi karya penulis dalam negeri karena saya jarang menyukai--yang benar-benar menyukai--novel-novel dari penulis lokal. Namun di buku ini, saya bahkan sudah jatuh cinta pada halaman-halaman awal. Ada beberapa hal yang membuat saya senang membaca cerita ini, yaitu:

Pertama, karakter. Novel ini mempunyai dua sudut pandang yang berbeda, disajikan dalam versi Nefertiti dan Oliver. Saya bisa membedakan kedua karakter tersebut dan menyatu ke dalam deskripsi penulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan kepribadian keduanya yang bertolak belakang. Nevertiti yang intovert, pemurung, kelam, dan Oliver yang optimis dan tumbuh dari keluarga yang bahagia. Dalam imajinasi saya, saya bisa membayangkan bagaimana seorang Nefertiti tumbuh, merasakan perasaan-perasaannya dalam momen tertentu yang membuat saya terenyuh.

Kedua, jalan cerita. Saya suka cara penulis menyampaikan kisahnya di bab pertama. Tentang kisah flashback yang disajikan dalam selipan kisah beralur masa kini. Pada poin-poin tertentu saat cerita itu disuguhkan, menjadi kunci untuk membuka lembaran masa lalu si tokoh, sehingga membuat pembaca mengenal bagaimana seorang Nefertiti tumbuh dan berkembang beserta kisahnya yang membuat pilu. Begitu pula saat sudut pandang berubah menjadi Oliver, jalan cerita yang berganti lini masa membuat satu per satu kisah yang tersembunyi menjadi muncul ke permukaan.

Ketiga, setting. Saya harus mengakui, penulis memiliki kemampuan deskripsi setting yang mengagumkan. Cerita dengan latar luar negeri (dalam hal ini Santorini serta beberapa kota di Jerman) disajikan dengan begitu apik, deskripsinya detail, namun sama sekali tidak mengganggu cerita atau emosi sang tokoh yang tengah bercerita. Saya bahkan bisa merasa kalau tengah bersama dengan Titi saat menikmati deburan ombak di Santorini, atau ketika ia belajar naik sepeda di taman.

Selain itu, kehadiran tokoh-tokoh pendamping dalam cerita ini, membuat kisahnya kaya dan tidak hanya linier atau berfokus pada seputar penjabaran para tokoh-tokoh utama. Dan istimewanya, pada tokoh sampingan itu memiliki karakter yang kuat, tidak kalah dengan tokoh utama yang memiliki porsi plot dalam novel ini. Kehadiran mereka juga tidak mengganggu jalannya plot utama, justru menjadi pemanis dan pelengkap yang membuat ceritanya tidak monoton.

Satu lagi, sebuah cerita yang bagus selain mampu menggugah perasaan pembacanya hingga larut ke dalam universe yang dibangun oleh penulisnya, juga mampu membuat pembaca konsisten untuk menikmati setiap lembar demi lembar bukunya. Saya merasa kalau saya akan rugi jika membaca novel ini dengan skimming, karena ada banyak hal--terutama keindahan setting tempat--yang akan saya lewati.

Sebagaimana sebuah buku pasti memiliki kekurangan, novel ini pun tak luput dari itu. Ada beberapa hal yang rasanya bisa untuk digali lebih lanjut oleh penulis seperti tentang cerita Coppelina, atau kisah sang ibu semasa masih muda, atau tentang kepribadian INTJ, mengingat salah satu tokoh utamanya memiliki latar belakang psikologi. Pada cover belakang pun, yang dituliskan ternyata menyembunyikan poin utama dala kisahnya. Tapi tidak masalah, saya justru senang karena 'terjebak' oleh cerita perjuangan Oliver mencari kisah cintanya yang dipaparkan di covernya. Selain itu, kesalahan penulisan juga masih ada beberapa, meskipun tidak melebihi hitungan jari. Semoga novel ini banyak diminati dan banyak dicetak ulang sehingga kesalahan tersebut dapat diperbaiki.

Oleh karena kisah Nefertiti-Ibu, Nefertiti-Mia, dan Nefertiti-Oliver yang berhasil mengaduk-aduk perasaan saya, bintang lima bersinar terang untuk novelnya.


Kisah selengkapnya tentang Nefertiti dan Oliver ada di sini >> http://resensibukunisa.blogspot.co.id...
Profile Image for Lala.
128 reviews46 followers
December 6, 2015
Setelah kabur ke Santorini, si Kota Surga selama beberapa bulan, mengenal Angeliki serta anaknya Theos, membuat perasaan Nefertiti sedikit lebih baik. Tetapi beban yang ditanggungnya takkan hilang begitu saja. Mempunyai darah seni yang mengalir kental dalam keluarganya, membuat Nefertiti kerap menyalahkan dirinya yang sulit menemukan kecintaannya terhadap dunia seni. Tidak seperti ayahnya yang seorang arstitek, apalagi ibunya, seorang pelukis terkenal yang juga menyandang nama besar kakeknya, Nefertiti tidak menemukan bakatnya dalam bermain piano ataupun melukis.

Hal ini membuat sang ibu sempat menyerah, sampai suatu hari Nefertiti menemukan ketertarikannya dalam dunia tari. Kedua orangtuanya pun sepakat memasukannya dalam sanggar balet. Namun, Nefertiti hanyalah penari balet rata-rata tanpa kemampuan menonjol yang tidak cukup membanggakan ibunya. Itu lah yang kerap membebani dan menghantui Nefertiti sepanjang hidupnya. Ia begitu mencintai ibunya, tetapi ibunya seperti tidak menerima cinta yang diberikannya.

Nefertiti tak merasakan adanya kehangatan dalam keluarganya dan kasih sayang terutama dari ibunya yang menurutnya selalu dikecewakan olehnya. Hanya Mia, si gadis bisu yang tinggal di kampung yang berada di belakang kompleks rumahnya dapat memahaminya, menjadikan dua gadis itu bersahabat baik dan mengerti satu sama lain. Mia lah yang menjadi penyemangat Nefertiti. Mia-lah yang menjadi alasan Nefertiti untuk terus menari.

Setelah dewasa, sifat Nefertiti masih sama seperti saat ia kecil, pendiam dan tak punya banyak teman. Padahal dirinya cantik serta pintar. Nefertiti melanjutkan pendidikannya dengan bersekolah balet di Berlin, dengan harapan ibunya yang kini tinggal di Hamburg akan sering mengunjunginya, namun nyatanya nihil. Bersama Brian, kakak tirinya, Nefertiti akhirnya berangkat ke Hamburg untuk menemui ibunya yang sudah sekian tahun tidak ditemuinya. Bukan sosok cantik dan berkelas ibunya yang ditemui Nefertiti, tetapi lukisan ibunya yang belum terselesaikan, serta Oliver, tetangga dan teman satu SMA-nya sewaktu dulu, yang membawa kabar bahwa ibunya telah meninggalkan rumah tanpa kabar dengan penyakit mematikan yang sedang dideritanya.

***

Coppélia. Dengan judul yang unik dan cover yang cantik, novel ini dengan mudahnya menarik perhatian saya. Ditambah lagi denganreview beberapa pembaca yang merekomendasikan buku ini.

Berlatar di Jerman, Yunani, serta Jakarta. Menurut saya yang cukup berhasil adalah penggambaran Santorini dan Jakarta. Saya kurang bisa merasakan feel berada di Jerman-nya. Novel ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama, yaitu dari Nefertiti dan Oliver sendiri yang merupakan dia tokoh utamanya. Saran saya, lebih baik font dibedakan atau diberi penanda bahwa sudut pandang sudah berganti, agar tidak membingungkan pembaca. Saya lebih menyukai penceritaan dari sisi Nefertiti sendiri karena memang kehidupannya yang sangat menarik untuk digali. Nefertiti, seorang yang cantik, pintar, dan dari keluarga yang terkenal, namun ia malah sering diejek dan tidak punya teman banyak. How come? Rasanya agak mustahil terjadi di jaman ini. Tetapi semua punya alasan. Merasa dirinya tidak bisa membanggakan siapapun, memunculkan pribadinya yang seperti tidak percaya diri. Penulis sudah cukup baik menjabarkan kehidupan Nefertiti dan segala perasaannya, cukup membuat saya dapat merasakan apa yang dirasakan Nefertiti, sedihnya, putus asanya saat ia menyandang nama besar seseorang namun tak bisa mengimbanginya, bagaimana ia butuh kasih sayang namun mencoba kuat dan mandiri karena tak kunjung
mendapatkannya.

Baca selengkapnya di http://readingvibes.blogspot.co.id/20...
Profile Image for Astri W .
7 reviews1 follower
October 13, 2016
Seperti Coppelia yang dikendalikan Dr.Coppelius, cantik dan membuat siapapun terpikat.
Nefertiti adalah coppelia dari ibunya, yang dijerat oleh rasa bersalah pada mendiang kakeknya dan perasaan gagal dalam meraih mimpinya. Nefertiti adalah bentuk dari harapan dan kegagalan mimpi ibunya. Oliver adalah bentuk nyata dari Frans, yg terpikat pada Nefertiti si coppelia.

saya nggak nyangka bahwa novel ini benar benar mengaduk emosi pembacanya. kita bisa melihat Nefertiti yang membenci sekaligus mencintai ibunya sebegitu dalam. Dia ingin memperlihatkan bahwa dia bisa menjadi seniman seterkenal ibunya dalam bentuk menjadi penari balet profesional, sebagai bentuk balas dendam atas rasa benci pada sikap dingin dan acuh ibunya. tapi lebih dari itu dia juga ingin menunjukkan bahwa ibunya bisa bangga akan bakat menarinya. Nefertiti tidak pernah tahu bahwa dibalik sikap dingin dan acuh ibunya, ada segudang harapan yang disematkan ibunya pada dirinya, bahwa Nefertiti bisa menuntaskan mimpi ibunya yang sirna.
Dan Oliver, tanpa sadar telah menjadi kunci agar mimpi ibu Nefertiti menjadi nyata. karena mungkin ibu Nefertiti telah lama tahu, cinta Oliver pada Nefertiti bisa menjadi kunci agar Nefertiti bukan sekedar boneka coppelianya. bahkan dengan cinta Oliver, bisa menjadikan Nefertiti menjadi coppelia yang hidup dengan jiwanya sendiri.

terlepas dari konflik dan emosi antara Nefertiti dan ibunya, saya agak menyayangkan perasaan cinta Nefertiti pada Oliver. mungkin karena tidak dijelaskan dengan lebih luas, terkesan dia terlalu cepat untuk cinta dan memaksa. kemana Nefertiti yang introvert dan tidak mudah dekat dengan orang lain? dan utk Oliver, he's too soon to say i love you and kiss her. Oliver mungkin cuma tokoh sampingan buatku, tapi oliver adalah orang yg tau kepribadian Nefertiti dan dengan gampangnya dia bilang cinta dan meminta ciuman dari Nefertiti. Ini bagian yang saya rasa kurang dikembangkan lebih lanjut.

and for ending this story, saya menduga ibunya mungkin masih bisa bertahan dan masih bersembunyi. atau bisa saja ada orang lain yang menggantikan ibunya dan berperan dalam mengirim bunga dan puisi itu untuk Nefertiti.

for all, i love this story! konflik emosinya keren!
Profile Image for Citra Rizcha Maya.
Author 5 books23 followers
May 24, 2016
Sepanjang act 1 saya menyukai cara bertutur penulis dalam tulisannya. Rapi dan mengalir. Saya semakin menyukai ketika yang dibahas adalah tentang ballet dan juga musik klasik, kebetulan bersetting di Eropa pula.

Tapi ... Anggap saja sebagai pembaca saya lebih betah di Santorini (kedengarannya saya butuh tempat pelarian juga etapi jelas belom mampu 'lari' sampai sana, kakak) ketimbang harus ke Jerman , apalagi mulai dari sini satu persatu hal yang melatarbelakangi hidup Nefertiti mulai terbuka. Di sini saya mulai hati-hati mencerna cerita; tentang Mia, perasaan Oliver, latar belakang keluarga Nefertiti.

Setidaknya novel ini memiliki sejumlah cowok yang harusnya ada dalam kehidupan nyata; Oliver manis, begitupun Theos, iya Brian juga, jangan lupa Vladimir ... kaaaan saya bingung, sebagai penggemar cowok (agak) nakal, kan pengen setidaknya mendapatkan karakter cowok brengsek sebagai hiburan *abaikan keinginan pembaca*

Saya suka sekali tema keluarga apalagi tentang anak yang ingin mendapat perhatian dan cinta dari orang tuanya, ini mengingatkan saya pada For One More Day dari Mitch Albom tentang Chick Benetto yang berusaha terlalu keras untuk dicintai ayahnya, begitupun Titi yang rapuh dan mellow. Hanya saja, please ibu-ibu, bapak-bapak, para orang tua. Anak-anakmu perlu ditunjukkan cinta dan kasih sayang, jangan biarkan mereka berusaha terlalu keras untuk mendapatkannya *apaan sih* dan yang jelas saya ingin mengetahui apa bakat dan talenta itu diturunkan dalam DNA?

Untuk novel keluarga, karena sudah terlalu jatuh cinta pada karya Jodi Picoult yang detail tentang hubungan keluarganya sangat jelas, hingga sulit bagi saya untuk dengan mudah jatuh cinta dengan novel lainnya yang juga berbicara tentang hubungan keluarga. Tapi kembali ini soal selera baca saja.

Ketika membaca ini saya membayangkan mamanya Brian adalah Monday Michiru, penyanyi jazz kesayangan saya, tapi entahlah sulit membayangkan ibu Nefertiti, cuma clue-nya adalah putri dari bapak ekspresionis Indonesia. Tapi kita kembali ke ini adalah kisah fiksi dan saya cukup menikmati.
Profile Image for Annie.
86 reviews7 followers
July 7, 2015
|Aku lelah mencari cinta di mata orang-orang di sekitarku. Untuk sekali saja, aku ingin dibutuhkan, disayangi tanpa harus meminta.|

Kisah ini berawal dari pelarian Nefertiti ke Santorini. Di sana dia bertemu Angeliki dan anaknya-Theos. Dalam perjalan pulang menuju Berlin, Nefertiti menceritakan kisahnya kepada Theos yang mengantarnya sampai ke Athena. Pada bab awal, pembaca di ajak menyelami masa kecil Nefertiti (dalam sudut pandang gadis itu tentunya).

Dari Athena, Nefertiti menemui kakak tirinya-Brian di Berlin, dengan maksud ingin meminjam uang untuk membeli tiket menuju Jakarta. Tapi ternyata persoalannya tidak sesederhana itu. Brian justru mengajaknya menemui Mama kandung Nefertiti-orang yang paling dia hindari, karena Mama gadis itu menghilang secara tiba-tiba.

Di Hamburg (tempat Mama Nefertiti tinggal setelah bercerai), Nefertiti bertemu Oliver tetangga sekaligus teman SMA yang tanpa gadis itu sadari menaruh ‘hati’ padanya. Oliver sengaja bersekolah di Berlin demi mencari Nefertiti yang pindah ke Berlin saat ayahnya menikah dengan Ayumi-mama Brian.
Dalam usaha mencari keberadaan Mamanya, di situlah perjalan cinta Oliver dan Nefertiti di mulai. Kisah yang manis dan mengharukan tentunya.

|Dengar,aku mungkin nggak bisa menemukan alasannya, tapi aku tahu aku cinta sama kamu. Aku nggak butuh jawaban, aku cuma minta izin untuk tinggal di samping kamu, sampai kamu muak.|

Novel ini terbagi menjadi dua POV yaitu Nefertiti dan Oliver. Pergantian POV terjadi di setiap pergantian bab. Penulis begitu lihai memindahkan ‘adegan yang sedang berlangsung’ dengan adegan ‘flash back’. Terlebih lagi, sense 5 inderanya benar-benar digunakan secara maksimal. Novel ini seperti oase di tengah padang pasir. Aku tidak menyesal telah membelinya.

4/5 bintang: 1 bintang untuk Riset, 1 bintang untuk sense 5 indera, 1 bintang untuk kisah yang legit, 1 bintang untuk rasa puas setelah membaca.
Profile Image for Anna.
59 reviews
October 25, 2015
Wow! Ekspektasi saya gak melenceng, bahkan terlewati. Dark story pertama yang saya baca dan langsung bikin jatuh cinta. Dark story tapi sangat manis. Saya bingung mau kasi reviewnya sepertinya apa. Saya terlalu suka dan jatuh cinta dengan sosok Nefertitinya. Terlebih sudah sejak lama saya mencari tokoh wanita yg "dark" seperti dia dan gak tanggung2. Bener2 tokoh yg selama ini saya inginkan untuk ada di cerita yg saya baca. Buku ini bukan bercerita tentang kisah romantis tokohnya seperti yg saya duga saat membaca sinopsisnya. Buku ini justru membahas hubungan antara anak dan Ibu, anak dan keluarganya. Penulis benar2 menghadirkan fakta hidup di dalam cerita ini dan saya sangat suka bagaimana cara dan gaya penulis dalam membuat cerita ini berjalan. Membuat buku ini bagi saya menjadi begitu ekslusif pada akhirnya. Dan untungnya ada Oliver yang membuat dark story ini menjadi semanis coklat. Well, intinya saya sangat suka dan jatuh cinta dengan Coppelia ini dan bersyukur bahkan tidak protes sama sekali dengan endingnya. Lagi-lagi cerita dengan tokoh yang menyenangkan, latar yang memukau, value yang oke, gaya bercerita yang cantik, dan ending yang tepat. Nice story :)
Profile Image for Alya Nfz.
45 reviews
December 31, 2015
Kebencian adalah ungkapan lain bahwa kita sangat mencintainya (Hal.163)

Coppelia adalah novel pertama karya Kak Novellia yang saya punya dan juga novel pertama yang saya review. Selama ini, saya hanya membaca buku, kemudian menyimpannya kembali jika sudah selesai.

Pertama kali, saya melihat Copellia, saya langsung jatuh cinta dengan covernya yang polos, tetapi manis seperti gulali. Walau begitu, saya tidak langsung memilikinya karena hati saya menyimpan keraguan pada novel ini sehingga saya memutuskan untuk menundanya. Seperti kata pepatah, “Kalau jodoh enggak akan kemana.” Karena pada akhirnya saya memutuskan untuk memiliki novel ini. Ternyata novel ini berhasil menyihir saya ke dalam kisah Nefertiti dan ibunya melalui sudut pandang Oliver dan Nefertiti.

Hanya butuh waktu satu hari untuk menamatkan buku ini. Buku ini merupakan buku terbaik saya baca sebagai penutup tahun 2015. Jika kalian ingin membaca reviewnya yang lebih panjang dapat berkunjung ke http://vancapella.tumblr.com
Displaying 1 - 30 of 69 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.