What do you think?
Rate this book


144 pages, Paperback
First published June 18, 2015
Tanpa mengindahkan tata cara naik pesawat terbang, begitu mendarat Sarwono mengirim WA, aku rindu kamu, Ping.
Jawaban Pingkan singkat, Sedaaap.
Masuk lagi WA dari Pingkan, kali ini selfinya bersama tante-tantenya. Ia besarkan gambar itu, lalu ia geser-geser agar yang tampak di gambar hanya wajah tante-tante itu —lalu dijulur-julurkannya lidahnya. Seandainya menyaksikan adegan itu, Pingkan pasti mati ketawa.
Pingkan melihat jam tangannya, mendadak bilang,
“Sar, ini kan dah jam setengah 12, Jumat. Pergi sana kamu ke Mesjid Gedhe. Nanti telat lho. Yen kowe telat, dongamu ora bakal ditampa. Naik becak yang tadi dipakai aja, biar cepat.”
Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar saputangan yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang. Bagaimana mungkin.
kita tak akan pernah bertemu:
aku dalam dirimu
tiadakah pilihan
kecuali di situ?
kau terpencil dalam diriku
Baru kali ini mereka menyadari bahwa kasih sayang mengungguli segalanya menembus apa pun yang tidak bisa dipahami oleh pengertian pinggir jalan tidak akan bisa dicapai tidak bisa dibincangkan dengan teori metode dan pendekatan apa pun bahwa kasih sayang ternyata tidak cabul [...]. (hal. 45)
Sejak menjadi mahasiswa ia sering berpikir mengapa semuanya harus seragam, mulai dari baju sekolah sampai cara berpikir yang dikendalikan kurikulum yang seragam, yang harus ditafsirkan secara seragam juga, Tadi pun, mereka seragam tertawa seragam. Bangsa ini tampaknya akan menghasilkan anak-anak yang seragam.
Namun, ternyata sampai zaman yang sudah lanjut ini masih saja ada pengaruh keluarga dalam hal perkawinan. Bukan hanya Jawa, bukan juga hanya Manado ternyata keluarga merasa memiliki sejenis hak milik atas anggotanya. Keluarga besar, bahkan.
Jakarta itu cinta yang tak hapus oleh hujan tak lekang oleh panas
Itu bukan pepatah, itu klise yang bersikeras untuk menjelma kembali ke habitatnya yang purba sebagai larik puisi
Jakarta itu kasih sayang