Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar sapu tangan yang telah ditenunnya sendiri.

Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang.

Bagaimana mungkin.

144 pages, Paperback

First published June 18, 2015

507 people are currently reading
5463 people want to read

About the author

Sapardi Djoko Damono

122 books1,590 followers
Riwayat hidup
Masa mudanya dihabiskan di Surakarta. Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam".

Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.

Karya-karya
Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sampai sekarang telah ada delapan kumpulan puisinya yang diterbitkan. Ia tidak saja menulis puisi, tetapi juga menerjemahkan berbagai karya asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.

Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet "Dua Ibu"). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.

Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esei.

Kumpulan Puisi/Prosa

* "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969)
* "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
* "Mata Pisau" (1974)
* "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis)
* "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan)
* "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan)
* "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya)
* "Perahu Kertas" (1983)
* "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
* "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn)
* "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn)
* "Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
* "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
* "Hujan Bulan Juni" (1994)
* "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling)
* "Arloji" (1998)
* "Ayat-ayat Api" (2000)
* "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen)
* "Mata Jendela" (2002)
* "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002)
* "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen)
* "Nona Koelit Koetjing :Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun)
* "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)

Musikalisasi Puisi

Musikalisasi puisi karya SDD sebetulnya bukan karyanya sendiri, tetapi ia terlibat di dalamnya.

* Album "Hujan Bulan Juni" (1990) dari duet Reda dan Ari Malibu.
* Album "Hujan Dalam Komposisi" (1996) dari duet Reda dan Ari.
* Album "Gadis Kecil" dari duet Dua Ibu
* Album "Becoming Dew" (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu
* satu lagu dari "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti", berjudul Aku Ingin, diambil dari sajaknya dengan judul sama, digarap bersama Dwiki Dharmawan dan AGS Arya Dwipayana, dibawakan oleh Ratna Octaviani.

Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata "Ars Amatoria" yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD.

Buku

* "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1,037 (25%)
4 stars
1,347 (33%)
3 stars
1,200 (30%)
2 stars
314 (7%)
1 star
96 (2%)
Displaying 1 - 30 of 574 reviews
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
July 1, 2015
Hanya Sapardi yang diizinkan nulis novel seperti ini. Heeehee, jujur aku berekpektasi terlalu tinggi untuk novel tipis ini. Memang novel ini berisi konflik sederhana, antara Sarwono dan Pingkan, sama-sama dosen yang saling mencintai. Namun ada banyak kendala yang merintangi terutama perbedaan agama dan suku bangsa keduanya.

Namun kesederhanaan itu menjadi rumit sekali dengan cara bercerita yang ribet. Entahlah! Aku sendiri kurang sreg (selera ya). Ya, Sapardi masih menggunakan cara bercerita mirip berpuisi. Butuh penafsiran lapis tujuh untuk mengurai keruwetan bahasa. Dan Sapardi tidak sekalipun mau memakai koma (,) bila menulis kalimat majemuk. Mungkin Sapardi ingin mengembalikan bahasa sebagai cara bertutur atas dirinya sendiri. Tidak butuh tanda baca atau jeda untuk memahami. Coba buka halaman 45, ada satu paragraf super panjang yang hanya diisi satu kalimat.

Ya, hanya Sapardi yang diperbolehkan menulis novel seperti ini.
Profile Image for Alvin Zirtaf.
Author 4 books31 followers
July 29, 2015
Tidak ada yang lebih tabah dari pembaca novel ini.
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
136 reviews82 followers
April 5, 2021
KASIH SAYANG DAN SEDIKIT TENTANG IMAN

“Bahwa kasih sayang beriman pada senyap.”—hal. 45


KETIKA teknologi informasi dan media sosial mulai marak dipakai oleh hampir setiap orang yang berusia produktif, barangkali sekitar tahun 2011, saya pernah menduga bahwa di masa depan isi novel-novel dan cerita pendek Indonesia tidak akan terlalu jauh dari komunikasi semacam situ. Novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin mulai mencuri kesadaran awal saya ketika Tereliye memberi tempat yang kentara bagi email (suatu teknologi yang lebih modern ketimbang telepon kabel) sebagai media komunikasi jarak jauh dua tokoh utamanya.

Sapardi semakin membuatnya kentara.

Pada bulan Juni tahun ini, Sapardi Djoko Damono menerbitkan novel Hujan Bulan Juni. Meskipun dirinya telah mencapai umur 75 tahun dan agaknya hal tersebut mempengaruhi keterampilannya dalam menggunakan teknologi informasi/ media sosial (saya sering melihatnya agak kaku dan gagap memakai Twitter), Sapardi mengakrabkan kasih sayang dua tokoh utamanya dengan salah satu aplikasi teknologi telepon genggam terkini: WhatsApp. Di halaman 61, beberapa kalimat tentang komunikasi Sarwono dan Pingkan, tertulis:

Tanpa mengindahkan tata cara naik pesawat terbang, begitu mendarat Sarwono mengirim WA, aku rindu kamu, Ping.
Jawaban Pingkan singkat, Sedaaap.


Kemunculan WA, yang merupakan singkatan dari aplikasi WhatsApp, terus muncul di halaman 77, halaman 63, 90, 103, 104, 106, 113, dan halaman 128—artinya, di sepanjang novel. Barangkali melalui pengalaman pribadinya, Sapardi membuat variasi ketika WA dipakai untuk mengirim selfi (halaman 63). Masalah-masalah seputar komunikasi melalui WA juga ditunjukkan ketika Sarwono tidak membalas WA dari Pingkan (halaman 128). Di halaman yang lain, Sapardi mencoba menggambarkan candaan dan perilaku yang mendetail terhadap WA. Misal, pada halaman 90:

Masuk lagi WA dari Pingkan, kali ini selfinya bersama tante-tantenya. Ia besarkan gambar itu, lalu ia geser-geser agar yang tampak di gambar hanya wajah tante-tante itu —lalu dijulur-julurkannya lidahnya. Seandainya menyaksikan adegan itu, Pingkan pasti mati ketawa.


Dari segi itu saja, bagi saya, buku Hujan Bulan Juni memperlihatkan satu cerita cinta yang dekat dengan latar situasi masa sekarang. Pengamatan, atau pengalaman pribadi, yang mendalam mengenai gaya perilaku pemakaian teknologi masa kini juga muncul dalam bentuk lain ketika Sapardi, di halaman 59, menulis tentang tokoh buatannya yang memakai “earphone kalau sedang cari-cari bahan di perpustakaan kampus sambil mendengarkan “The Swan” versi jazz Bob James adaptasi yang dicuplik Le carnaval des animaux karya Camille Saint-Saёns”.

Meskipun begitu, agaknya Sapardi tidak bisa melepaskan diri sepenuhnya dari selera yang se-zaman dengan masanya. Mungkin selera zaman yang lampau masih bertaut dalam diri Sapardi, dan akan senantiasa begitu: ia menulis tentang anak muda penyuka musik jazz yang “duduk tenang di sofa, mendengarkan piano Jacques Loussier dan gitar Bill Frisell”, sementara Loussier sendiri lahir tahun 1934 dan Frisell tahun 1951; kita tahu zaman ini melahirkan beberapa pemusik jazz yang terkenal dan berusia muda.

Pernyatan saya di atas tentu saja bukan kritik. Yang lebih penting, dalam keadaan seperti itu, Sapardi Djoko Damono menunjukkan bahwa novelnya lebih dari sekedar novel yang ditulis seorang pengarang berumur 75 tahun. Keberanian Sapardi menjelajah dan menjejali penggemarnya dengan komunikasi lewat teknologi aplikasi telepon genggam dalam novelnya turut membuka suatu kebiasaan baru dalam sastra Indonesia.

●●●
Sarwono, dosen Antropologi UI, Jawa. Pingkan, dosen Sastra Jepang UI, campuran Jawa-Manado. Dengan kata-kata kunci tersebut, Sapardi telah memulai cerita cinta yang terancam oleh jarak: antropologi berarti bahwa Sarwono mesti keliling ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan yang tidak aman buat nyawanya, sementara sastra jepang berarti Pingkan suatu saat akan pergi jauh ke Jepang dalam waktu yang agak lama—itu kalau keduanya ingin sukses mengejar karir dengan kecerdasan yang dimiliki dan diakui lingkungan di sekitarnya.

Kesan saya adalah, novel ini bukan berisi perjalanan cinta antara anak-anak muda yang liar dan bandel sebagaimana hidup pengarangnya. Sapardi sendiri pernah mengaku bahwa dirinya bukan orang bandel semenjak kecil, apalagi memiliki pengalaman pertempuran dan pertarungan fisik (saya pernah menuliskan hal ini dalam reviu untuk buku puisi Sapardi). Ia bukan orang yang selalu ingin membuat geger dan ribut—bahkan puisi-puisinya menajamkan dunia sastra kita dengan kelembutan nuansanya. Maka, dalam Hujan Bulan Juni, Sapardi menempatkan segala yang rusuh tampak dalam hati: cemburu Sarwono yang terus-menerus, kepada Sensei Hiro, kepada Katsuo, kepada dosen UNSRAT, yang memiliki potensi merebut hati Pingkan darinya; kekhawatiran akan persetujuan hubungan dari keluarga Pingkan; kecemasan memikirkan berbagai kemungkinan tersebut sampai lelah, sampai “ricik air yang tetes-tetes dari piano Loussier yang memainkan Bach akhirnya membawanya tidur” (halaman 110). Sarwono dan Pingkan, dua tokoh utama kita, diburu pergolakan dalam hati.

Juga bergolak pada apa yang melekat di hati masing-masing: iman/ keyakinan yang berbeda, yang membuat dua insan itu seperti sepasang merpati dari hutan yang berbeda perangainya namun berada dalam satu sangkar. Dalam novel diceritakan, bagaimana Benny menanyakan apakah Pingkan berani memakai jilbab, sambil di benak Benny muncul bayangan orang-orang Timur Tengah beserta keributannya (yang merupakan asal dari agama Islam yang dianut oleh Sarwono), meski Sapardi tidak menyebutkan secara detail kekhawatiran-kekhawatiran itu.

Berbeda dengan keresahan-keresahan yang disertakan secara implisit dan serba samar, Sapardi menunjukkan toleransi agama dalam hubungan Sarwono dan Pingkan yang eksplisit ketika keduanya mengantar saudara-saudara Pingkan plesir di Solo. Pada halaman 74 tertulis dialog:

Pingkan melihat jam tangannya, mendadak bilang,
“Sar, ini kan dah jam setengah 12, Jumat. Pergi sana kamu ke Mesjid Gedhe. Nanti telat lho. Yen kowe telat, dongamu ora bakal ditampa. Naik becak yang tadi dipakai aja, biar cepat.”


Saya tidak ingin mengatakan bahwa saya berada dalam sudut pandang yang sama dengan Sapardi terhadap persoalan cinta beda agama—dalam artian, Sapardi tidak pernah menunjukkan rasa tidak senang atas hal tersebut. Saya juga tidak ingin menggolongkan persoalan itu sebagai perbuatan yang “ganjil”, yang seringkali berarti tak menyenangkan, setingkat dengan “dosa”. Tapi saya menggaris-bawahi upaya penggambaran toleransi Sapardi tersebut sebagai bagian dari pergulatan-pergulatan cinta beda agama yang oleh dua tokohnya disikapi secara sempurna—sikap “kasih sayang” yang sempurna, tanpa egoisme salah satu pihak, tanpa permintaan untuk berada dalam satu iman.

●●●
Tidak lama setelah terbitnya novel Hujan Bulan Juni, segera muncul kritikan & rasa kecewa tentang novel itu (tapi pada zaman sekarang, siapa sastrawan yang bisa lepas dari kritik & rasa kecewa penggemarnya?). Orang-orang rupanya tidak memberi nilai yang tinggi. “Hujan bulan Juni”—kata yang di masyarakat pecinta sastra Indonesia lekat dengan puisi Sapardi— hanya muncul sebagai latar cerita pada bab pertama (dari keseluruhan lima bab), di awal-awal novel, ketika Sarwono mencari koran yang hari itu memuat tiga sajaknya di antara kios majalah Malioboro. Tidak ada eksplorasi lain dari Sapardi mengenai keindahan atau romantisme yang orang-orang bayangkan mengenai “hujan bulan Juni”.

Mungkin bagian yang paling menarik dari novel ini adalah bagian-bagian yang menyerupai puisi khas Sapardi. Paragraf-paragraf puitis itu paling tidak muncul tiga kali, yaitu pada halaman 44-45, halaman 66, dan halaman 124-125. Pada halaman 66 tertulis, misalnya:

Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar saputangan yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang. Bagaimana mungkin.


Kalimat di atas, yang ditulis dengan puitis, menyatu dengan alur novel dalam hal memberi ruang yang besar pada kasih sayang. Ada perasaan yang tak bisa dikatakan antara Sarwono dan Pingkan yang berbeda dalam iman, selain cinta, atau kasih sayang, yang “mengungguli segalanya menembus apa pun yang tidak bisa dipahami oleh pengertian pinggir jalan tidak akan bisa dicapai tidak bisa dibincangkan dengan teori metode dan pendekatan apa pun…” Saya melihat Sapardi yang ingin berhenti pada “kasih sayang” itu, dan tak menghendaki lanjutan cerita yang kontroversial, yang mudah disulut dalam suatu arena diskusi/ perdebatan (misal: soal pernikahan beda agama, dengan kesan bahwa kasih sayang berada di atas iman).

Sapardi memilih akhir yang menggantung: ketika Pingkan (yang Nasrani) mendatangai Sarwono (yang Islam) yang terbaring di rumah sakit, dan Bu Hadi mengeluarkan lipatan koran agak lecek untuknya. Lipatan koran itu barangkali berasal dari koran yang dibeli Sarwono di jejeran kios majalah Malioboro. Yang tertulis di sana adalah sebuah puisi, dari Sarwono, dengan ruang penafsiran yang terbuka:

kita tak akan pernah bertemu:
aku dalam dirimu


tiadakah pilihan
kecuali di situ?

kau terpencil dalam diriku
Profile Image for Theresia.
Author 2 books20 followers
April 11, 2016
This book is a hot mess.

First, "zadul" is annoying, and its unnecessary repeat appearance is enough to make me want to lob this book at someone else's head, preferably a grammar nazi. Hell to old men's proper and correct Indonesian spelling's need to correct things that don't need correction. (If I have to write 'correct' one more time, I'll eat my shoes.) Second, all the Japanese stuff. So much, and yet so wrong. Third, SDD and Shrek and WA and Javanism and other yadda yadda bs form the unholy trinity of Do. Not. Want. You know you write novel(la)s when you can't write short stories, and you write short stories when you can't write poems. Stick to poems, SDD, jfc.

I'll stick with Duka-Mu Abadi, thank you.
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
November 14, 2015
"...bahwa kasih sayang ternyata sebuah ruang kedap suara yang merayakan senyap sebagai satu-satunya harap..."

novel tentang penantian, harapan dan kerinduan antara dua insan yang berbeda latar belakang dan keyakinan.

suka dengan bbrp bagian penulisannya *hal 44-45 yang tanpa titik koma itu indah sekali*, suka juga dengan cara penulisannya yg meski beralur maju tapi penuh dengan semburan stream of conciusnesss yang mengawang kemana-mana, juga dengan ide besar ceritanya, tapi kok terasa "zadul yang dipaksakan berselfie".

jauh lebih suka puisinya, yang sederhana tapi lugas, yang romantis tapi gak galau, yg sampai kapanpun tak akan lekang oleh waktu.
Profile Image for Mahir.
Author 11 books84 followers
July 15, 2015
Tak ada yang lebih tabah dari pembaca novel Hujan Bulan Juni...
Profile Image for Biondy.
Author 9 books235 followers
January 20, 2016
"Hujan Bulan Juni" bercerita tentang Sarwono, seorang dosen muda UI, serta Pingkan, seorang gadis yang akan melanjutkan S2-nya di Jepang. Walau saling mencintai, masih ada masalah perbedaan suku dan agama di antara mereka.

"Hujan Bulan Juni" ini adalah salah satu novel yang ingin saya baca sejak pertama kali rilis. Sebelumnya saya sudah pernah baca kumpulan puisi berjudul sama (review di sini) dan saya juga memilih kumpulan puisi itu sebagai buku terfavorit 2013. Sayangnya, saya kurang suka dengan buku ini.

Ceritanya terasa sangat melompat-lompat. Kadang-kadang ceritanya terjadi di alur waktu saat ini, lalu ada alur mundur, lalu tiba-tiba saja mereka sudah melompat ke peristiwa lain yang terjadi di masa depan.

Konflik di antara Sarwono dan Pingkan nyaris tidak ada. Tidak ada masalah yang terlalu berarti dalam hubungan mereka, kecuali mungkin galaunya Sarwono tentang kepergian Pingkan ke Jepang. Saya sampai akhir masih bingung buku ini sebenarnya mau cerita soal apa? Apakah mengajukan pertanyaan tentang apa itu kesukuan? Ataukah bahwa cinta melampaui segala hal yang mengikat seperti suku dan agama?

Untuk penulisannya, uh, katakanlah saya lebih suka puisi-puisinya Sapardi Djoko Damono dibandingkan novel ini. Puisi-puisinya jauh lebih indah dengan segala kesederhanaannya.

Baru kali ini mereka menyadari bahwa kasih sayang mengungguli segalanya menembus apa pun yang tidak bisa dipahami oleh pengertian pinggir jalan tidak akan bisa dicapai tidak bisa dibincangkan dengan teori metode dan pendekatan apa pun bahwa kasih sayang ternyata tidak cabul [...]. (hal. 45)


Secara keseluruhan, dua bintang untuk novel ini.
Profile Image for Haniva Zahra.
425 reviews43 followers
July 7, 2015
Secara umum, saya suka buku ini. Secara lebih mendetail, saya suka halaman muka buku ini. Saya suka gaya Sarwono yang mencintai Pingkan, gaya Pingkan terhadap Sarwono. Lucu ya nama tokohnya, kalau buat saya sih ya, terasa Indonesianya. Orang Jawa dan keturunan Menado. Latar cerita dekat dengan saya, lingkungan kampus UI. Pingkan adalah asisten dosen prodi Jepang dan Sarwono di prodi Antropologi. Banyak orang di sekitar mereka yang perlu melihat Pingkan bersama Sarwono, atau sebaliknya. Kalau hanya satu, pasti bertanya, pasangannya mana?

Pingkan dan Sarwono memiliki hubungan saling mencintai yang jelas terlihat. Novel ini tidak bercerita cinta mana yang lebih besar, Sarwono atau Pingkan. Keduanya begitu, hanya saja dengan gaya yang berbeda, Sarwono seorang melankolis yang lucu juga ya. Pingkan, dengan caranya sendiri pun cinta mati pada Sarwono. Suatu waktu, Pingkan dikirim ke Jepang, ia sebenarnya ada keinginan juga Sarwono ikut, menetap bersamanya di Jepang. Sarwono lain, meninggalkan Indonesia?

Setelah Pingkan berangkat, Sarwono mengambil banyak kesibukan, untuk melupakan Pingkan?

Ujung cerita, Sarwono yang kurus kering dan seperti laki-laki bujang pada umumnya, tidak pandai merawat diri dan gemar begadang, ia jatuh karen paru-paru basah juga. Pingkan pulang mengunjungi Sarwono di Solo dan cerita ini selesai.

Pada akhir bagian, cukup membuat terharu juga. Di awal hingga tengah, saya banyak juga senyam-senyum sendiri karena lucu juga membaca Sarwono dan kata-kata semacam sontoloyonya. Oh ya, Sarwono juga pandai menulis puisi, saya tertawa dengan istilah calon istri, dan lucu juga ya kalau dijelaskan dalam buku komunikasi Pingkan dan Sarwono itu via wa. Semacam... kekinian :D dekat dengan kehidupan kita sekarang, sama seperti apa yang kita lakukan.
Profile Image for Ari.
1,042 reviews116 followers
August 31, 2016
Buku tantangan #6 reading challenge August; Novel Lokal.

Kalau ada yang bilang baca novel ini perlu ketabahan, memang ada benarnya.
Gimana gak harus tabah kalau dari 144 halaman, dari halaman 10-117 isinya flashback semua dengan time frame yang loncat-loncat sesukanya seperti vampir China?!! Belum lagi perpindahan POV yang juga suka-suka!

So basically nothing happened sepanajang 144 halaman itu kecuali dua orang dewasa, academically smart tapi insecure dengan relationship-nya, sehingga horny dan hanya mikir kawin, kawin, dan kawin mulu!

ah sudahlah...
Profile Image for Hidayu Hatta.
Author 4 books10 followers
May 13, 2017
Mengapa langit menawarkan ruang yang mahaluas agar orang bisa menatap ke Yang Tak Terbatas. Mengapa ada pepatah untuk kota itu; Langitlah batasnya.

Tapi aku tak pernah membayangkan betah tinggal di sini selama-lamanya. Aku hanya sebentar. Untuk belajar.

Seperti sebentarnya Hujan Bulan Juni yang hari ini selesai.
Profile Image for Manik Sukoco.
251 reviews28 followers
December 29, 2015
Here's my favorite part on this novel:

"QUATRAINS"
/1/
I sent you a few words
ones that are now rare –
if they reach you one day,
hide them, there’s no way to understand me
/2/
the space that exists within a word
is like our home:
there are pictures, sounds, and gestures in it –
and yet we are forbidden to decipher it
/3/
for those who still believe in words:
silent is their surging core, pitch-dark is their heart of fire –
but when will we ever understand the sea?
and the eternal fire?
/4/
what do we find beyond words:
a flower garden? deep space?
in the garden, so many things are left unsaid
in space, so stark is the void
/5/
what else is left to cling on to? some words
insist on bursting through reality’s edge –
upon reaching the other shore, will it still be meaningful,
to you, everything I want to say?
/6/
in every word you read there are always
missing letters –
you will find them again someday
amidst thickets of memories
Profile Image for Boyke Rahardian.
353 reviews22 followers
July 5, 2015
Ya memang, novel ini adalah karya Sapardi dan siapa dari kita yang tidak pernah termehek-mehek oleh puisinya? Tapi Sapardi dalam novel ini rasanya tidak selincah dirinya saat menulis puisi. Plot ceritanya sederhana saja, tidak ada yang salah dengan itu. Yang bikin lelah sebenarnya adalah gaya bercerita yang agak terlalu dipanjang-panjangkan. Mungkin lebih sesuai untuk cerita pendek. Seluruh cerita seperi kata pengantar yang kepanjangan untuk "Tiga Sajak Kecil" di akhir buku.


***
Profile Image for hans.
1,166 reviews152 followers
June 3, 2017
Kisah cinta si lelaki dan si gadis berlainan suku/adat dan agama, saling suka namun kisahnya tidaklah seromantis yang selalu-selalu. Masalah-masalah sendiri-- kurang yakin, mungkin. Diceritakan seakan ia satu halangan yang besar terutama bagi si lelaki yang seringkali berfikir-fikir sendiri, risau, dan cemburu. Ada kisah-kisah keluarga dan hal-hal sahabat juga. Agak menarik bila ada satu bahagian yang ditulis tanpa titik atau koma sebanyak dua muka. Juga bahagian balas-membalas mesej antara kedua watak utama.

It was okay although saya harus google beberapa perkataan Indonesia baru-- new stuff, new knowledge. Jalan cerita yang tidak susah untuk dihadam, konflik diri saja untuk buku pertama dari trilogi ini. Namun ending-nya buat saya mahu tahu sambungan di buku kedua. Mungkin kemudian saja saya beli.

Paling gemar bab akhir-- tentang tiga sajak kecil. "Suaramu lorong kosong sepanjang kenanganku, diammu ruang lapang seluas angan-anganku."

Pak Sapardi dan bahasa puisinya.
Profile Image for Tutut Laraswati.
16 reviews
February 6, 2017
Sebagai seorang penyair yang cukup senior dan sekaligus akademisi sastra, saya punya ekspetasi cukup tinggi ketika menemukan novel ini di toko buku. Seorang Sapardi menulis novel? Ini buat saya adalah kejutan. Kejutan saya selanjutnya adalah, Sapardi menovelkan puisi Hujan Bulan Juni yang cukup terkenal itu. Dan konon katanya, puisi ini sudah bertransformasi menjadi bentuk lain; dari puisi kemudian menjadi lagu, komik, film dan yang terakhir novel ini.

Kelebihan dari novel ini buat saya adalah pembawaan Sapardi ketika menuliskan novelnya. Diksi pasti sudah tak diragukan lagi. Namun dari segi alur dan penceritaan, Sapardi cukup buruk menuliskan novel ini. Terlalu banyak karakter, terlalu banyak setting dan terlalu banyak plot yang tak terduga yang akhirnya membuat novel ini timpang di beberapa hal. Sapardi tak cukup baik merepresentasikan puisi Hujan Bulan Juni untuk dijadikan puisi.

Oke, barangkali ekspetasi saya sudah meluncur jauh dari awang-awang ketika selesai membaca novel ini. Iya, saya harus tabah (barangkali) setelah melihat nama besar Sapardi ketika menulis novel. Atau barangkali, pemikiran saya tentang spesialiasasi sastrawan memang ada benarnya juga. Cerpenis tak perlu menulis novel kalau memang tak mempunyai napas cukup panjang. Seorang novelis tak perlu menulis cerpen kalau tak mengerti bagaimana memangkas ratusan halaman novel menjadi beberapa lembar halaman saja. Seorang penyair tak perlu main-main dengan menulis novel jika masih kebingungan bagaimana menulis panjang. Tapi ini hanya barangkali saja sih.

Profile Image for Arista Devi.
13 reviews3 followers
January 15, 2016
Puisi adalah Puisi, memiliki bentuk dan makna keindahannya sendiri. Tak bisa dibandingkan dengan novel atau karya jenis lainnya meski dituliskan dengan judul yang sama oleh penulisnya sendiri. Itu yang saya pahami dari membaca novel ini dan semestinya dipahami oleh pembaca lainnya agar 'tak kecewa berlebihan' karena ternyata tak bisa menemukan sosok puisi Hujan Bulan Juni yang dicarinya dari buku ini.

Untuk sementara mari tempatkan Puisi Hujan Bulan Juni pada tempatnya dan menikmati novel ini seperti menikmati kopi. Tak ada rasa kopi yang sempurna sebab kesempurnaan rasa bagi tiap lidah memang berbeda. Tapi untuk pecinta kopi dijamin pasti akan bisa menemukan kenikmatan tersendiri untuk tiap cangkir kopinya, begitu pula dengan penikmat novel ini. Khas Sapardi, menunjukkan betapa berlabirinnya imajinasi penulisnya meski menulis dengan bahasa paling sederhana sekalipun.
Profile Image for Sukmawati ~.
79 reviews34 followers
July 10, 2022
Saya kira Sang Maestro akan menghadirkan cuplikan puisi ‘Hujan Bulan Juni’ dalam satu-dua bab novel ini. Ternyata, tidak sama sekali. Pembaca malah disuguhi ‘Tiga Sajak Kecil’ sebagai penutup cerita yang agak muskil dicerna. Demikian penafsiran saya kala menemukan buku Sapardi Djoko Damono ini di Salman Reading Corner dan mulai membacanya.

Sekilas melihat penampakan buku ini. Sampulnya tampak menarik, simpel, dan klasik dengan judul ‘Hujan Bulan Juni’ tepat di tengah buku menggunakan fon tulisan tangan yang usang. Buku yang saya baca ini cetakan kelima, terbit Oktober 2015, dengan ketebalan 135 halaman atau sekitar setengah senti saja.

Kesan awal saat menemukan buku ini, “Oh, ternyata Hujan Bulan Juni ada versi novelnya juga!” Saya cukup terkesima ketika mengetahui kehadiran novel ini di jagat perbukuan Indonesia. Waktu itu sekitar 2018, saya sedang gandrung dengan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono (selanjutkan disingkat SDD atau Eyang Sapardi) lewat rekomendasi seorang teman.

Membaca karya SDD yang satu ini terbilang ringan. Kalimat demi kalimatnya lugas sehingga mudah dipahami oleh penikmat puisi semodel saya.

Novel ‘Hujan Bulan Juni’ mengangkat topik percintaan yang bersinggungan dengan isu etnik. Topik dari buku ini menarik untuk dilirik karena tidak se-“bucin” kisah cinta pada umumnya. SDD menyelipkan unsur eufemisme pada setiap dialog maupun tema yang diangkat.

Alur cerita terasa mengalir. Dari awal hingga akhir Eyang Sapardi memaparkan hubungan asmara antara dua tokoh utama, Sarwono dan Pingkan, secara pas tanpa ada pengendapan. Saat Sarwono pertama kali mengenal Pingkan, menjalin rasa cinta dengan kedok pertemanan hingga takdir hampir memisahkan kisah cinta keduanya. Itu semua dikemas dengan gaya bahasa yang khas sebagaimana Eyang Sapardi bersyair ria di buku puisinya. Misalnya, saat Sar –panggilan sayang Pingkan untuk Sarwono- dilema membayangkan kelanjutan hubungan dirinya dengan Pingkan. Pada cuplikan suasana batin itu, pembaca disuguhkan narasi puitis nan nestapa. Adapula cerita-cerita konyol bernada puitis nan mesra ketika Pingkan membayangkan Sarwono sebagai Matindas, kekasih masa depannya. Pingkan dengan sesuka hati mengganti lakon “Matindas sejati” –dalam cerita rakyat Minahasa itu- dengan sosok Sarwono yang berdarah Jawa.

Ini pula yang menjadi muasal konflik dalam novel Hujan Bulan Juni..

Baca review selengkapnya di sini
http://catatansangsukma.blogspot.com/...
Profile Image for Aditya Agni.
47 reviews3 followers
July 11, 2018
Sapardi Djoko Damono adalah Puisi, Puisi adalah Sapardi Djoko Damono.
Yap, hal itu serasa diperkuat setelah saya membaca karya Beliau dalam bentuk bukan puisi, namun sebuah novel.

Rasanya seperti membaca puisi, pemilihan diksi, pemenggalan kalimat, dsb. Prof. Sapardi tidak bisa dilepaskan begitu saja dari puisi.

Temanya sangat umum, cerita mengalir begitu saja, tanpa banyak kejutan. Yang membuat novel ini istimewa justru detail-detail pada ceritanya, yang sepertinya hanya Sapardi yang bisa melakukannya.

Bacaan yang ringan tanpa harus banyak berfikir, bisa dibaca sambil ngopi, atau menunggu sesuatu.
Profile Image for Nadia Khaerunnisa.
82 reviews13 followers
December 25, 2019
didnt expect to enjoy this..but here I am, ordering Pingkan Melipat Jarak. LOL

Sarwono yg rumit, Pingkan yg sassy. Deja vu.
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews301 followers
September 23, 2015
Saya bukan penikmat sastra, namun sesekali mencoba membacanya. Saya bukan pecinta puisi, sangat jarang melirik karena saya tidak mempunyai bakat dalam hal membuat atau mencernanya. Ketika selesai membaca buku inilah saya mencoba memahami puisi Hujan Bulan Juni, yang bagi saya sulit dimengerti. Namun, buku ini adalah rasa lain dari puisi yang cukup fenomenal tersebut, mungkin tercipta bagi orang seperti saya yang sulit memahami sebuah puisi, karena menjadi lebih mudah saya terima.

Banyak yang bilang kalau tulisan panjang Sapardi Djoko Damono dalam novel Hujan Bulan Juni ini terlalu njlimet, susah dipahami, ceritanya ngalor ngidul. Saya menganggukkan kepala, karena saya merasakannya juga. Buku tipis namun memerlukan banyak waktu untuk mencerna kalimat demi kalimat yang terasa zadul dan sangat Jawa, mungkin orang non Jawa akan sulit mengerti karena tidak ada catatan kaki terjemahan beberapa bahasa Jawa yang digunakan penulis ke dalam bahasa Indonesia. Entah apakah buku sastra yang ditulis oleh penulis yang sudah sangat senior seperti ini semua, yang jelas saya paham karena zaman berbeda. Walau penulis mencoba menyuguhkan rasa kekinian dengan menyisipkan gadged zaman sekarang, WA bahkan selfi, umur tidak bisa berbohong. Buku ini sangat terasa kezadulannya, dan bagi saya menarik. Saya merasa akan menjadi aneh kalau penulis mengunakan bahasa seperti kisah cinta kebanyakan yang ditulis oleh penulis di era modern sekarang ini.

Buku ini bercerita tentang kisah cinta Sarwono dan Pingkan, seorang dosen dan asisten dosen di sebuah Universitas Negeri Indonesia. Sudah banyak yang tahu kalau Sarwono mempunyai rasa kepada Pingkan, adik dari sahabatnya, Toar. Semua orang menganggap mereka berpacaran, Pingkan sendiri sebenarnya memiliki perasaan yang sama hanya saja tidak ada ungkapan lisan akan status mereka berdua, bahkan Sarwono sering sekali menggoda Pingkan dan menganggap mereka sudah berpacaran.

Hubungan mereka tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Seperti adanya perbedaan agama, adat dan budaya antara Sarwono yang Jawa tulen sedangkan Pingkan peranakan Manado dan Jawa, membuat Sarwono memikirkan apakah dia bisa diterima di keluarga besar Pingkan, apakah dia pantas menjadi menantu orang Manado. Selain itu Pingkan akan melanjutkan studi ke Jepang ditemani oleh Katsuo Sontoloyo, membuatnya cemas akan kelanjutan hubungan mereka berdua, takut kalau Pingkan akan melupakan dirinya dan memilih orang lain.

Sejak menjadi mahasiswa ia sering berpikir mengapa semuanya harus seragam, mulai dari baju sekolah sampai cara berpikir yang dikendalikan kurikulum yang seragam, yang harus ditafsirkan secara seragam juga, Tadi pun, mereka seragam tertawa seragam. Bangsa ini tampaknya akan menghasilkan anak-anak yang seragam.


Namun, ternyata sampai zaman yang sudah lanjut ini masih saja ada pengaruh keluarga dalam hal perkawinan. Bukan hanya Jawa, bukan juga hanya Manado ternyata keluarga merasa memiliki sejenis hak milik atas anggotanya. Keluarga besar, bahkan.


Walau agak susah dipahami dan harus dibaca perlahan, saya cukup menikmati bahasa yang digunakan penulis, memberikan saya pengetahuan baru akan bahasa zadul, yang bisa dinikmati di masa sekarang ini, di era bahasa gaul yang menjajah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ada yang berkata kalau makna dari puisi Hujan Bulan Juni adalah sebuah penantian. Dan saya setuju, novel ini juga bercerita akan penantian Sarwono menunggu pujaan hatinya.

Jakarta itu cinta yang tak hapus oleh hujan tak lekang oleh panas
Itu bukan pepatah, itu klise yang bersikeras untuk menjelma kembali ke habitatnya yang purba sebagai larik puisi
Jakarta itu kasih sayang



review lengkap http://www.kubikelromance.com/2015/07...
Profile Image for Op.
375 reviews125 followers
January 2, 2016
Sejak baca beberapa review yang bilang Pak Prof SDD "mendingan nulis puisi daripada novel", saya jadi nggak berekspektasi macam-macam. Tapi ini Pak SDD, dan mungkin saya tetap bias walaupun ini novelnya pertama buat saya. Dan saya nggak paham, nggak rela, kenapa beberapa (banyak?) bacaan butut dibintangin banyak tapi buku ini nggak.

Berarti cuma sekadar bias, Pat?

Ya terserah mau bilang apa.

Inti ceritanya buat saya sebenarnya cukup yaelah apaan deh. Buat saya nih yaaa, itu kegalauan Sarwono nggak penting banget. Rasanya tiap si om (((OM))) satu itu ngegalau (yang adalah terus-terusan) jadi gatel komen "Yaelah Bro" atau "LANANG PO RAK!!!". Cengeng, sama seperti yang Pingkan bilang. Tapi ya segagal pahamnya saya sama Sarwono kalo tiba-tiba ada yang ngirim puisi (apalagi kalo saya cinta sama orangnya mengingat di sini Pingkan cinta sama Sarwono), tetep aja bakal yang haduduududududuu... seperti itu... *brb panggil Aan Mansyur pake toa* *karena sekarang, Aan Mansyur adalah koentji*

Da urang mah apa atuh nggak ngerti soal literasi dan sastra dan apalah apalagi gaya bahasa. Tapi cara Pak SDD bertutur (asek bertutur, tutur tinular) rasanya begitu familier, ya padahal saya gak tau familier sama siapa. Karena kefamilierannya yang gak tau kayak siapa, itu bagaikan teh panas saat berbuka puasa. Menghangatkan *asik, brb ambil termos* *lalu jualan* *aku cinta uang*. Kangen banget sama bahasa yang gimana yaaa, idk how to explain in words. (OMG GUE NULIS BAHASA CAMPUR-CAMPUR KAYAK SI... *sinyal hilang ketutup suara TARDIS*

Btw, soal TARDIS, saya mau sekalian curhat di sini ajah. Jadi semalem kan saya baru nonton S09E12 Doctor Who yah, kzl banget sama Moffat. Udah sempet mimbik-mimbik, udah mau berlinang air mata, tiba-tiba... yah begitulah *lempar sekop*

Balik lagi ke Hujan Bulan Juni. Saya sengaja gak mau melihat kembali puisi Hujan Bulan Juni apa supaya nggak kepengaruh apa-apa ke novelnya. Jadi, bias, gaya bercerita yang menarik, cover yang super cantik (dan thanks to Lulu yang udah mau direpotin ngantreen ttd dengan tulisan untuk Opat), empat bintang.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
June 21, 2015
Satu bintang saya berikan karena di buku yg saya pegang ini ada tanda tangan pak SDD disertai tulisan "Untuk Desty" (thanks untuk Lulu).

Memahami novel ini hampir sama sulitnya memahami puisi Hujan Bulan Juni. Kita semua tahu bahwa puisi itu berkisah tentang sebuah penantian. Penantian itu dijabarkan dengan cara berbeda di novel ini.

Di dalam novel ini dikisahkanlah penantian Sarwono akan cinta Pingkan. Sarwono, seorang dosen muda UI jatuh cinta pada Pingkan, juga dosen muda UI yang akan melanjutkan pendidikannya ke Jepang. Meski tidak pernah terucap kata pacaran, keduanya saling mengerti dan memahami.Perbedaan keyakinan dan suku tidak menjadi halangan bagi mereka. Namun keluarga besar Pingkan tidak berpendapat demikian.

Jujur saja, saya sempat mumet pada saat membaca novel yang alurnya liar ini. Berkali-kali saya harus memberi jeda untuk mengecek apakah kisahnya terjadi saat ini atau di masa lampau. Belum lagi penjelasan kalimat yang melebar. Dengan ending yang terbuka, novel ini sederhana sekaligus ribet. Mungkin saja otak saya sedang lelah untuk mencerna kalimatnya.

Menurut keterangan di sampul belakang buku ini, Hujan Bulan Juni yang awalnya puisi telah menjelma menjadi lagu, komik, novel dan nantinya akan menjadi film. Yang pasti saya lebih menyukai puisinya dibanding novelnya ini.
Profile Image for Chaniago.
104 reviews16 followers
July 23, 2015
Pertama, novel ini tidak terlepas dari pengarangnya, Eyang Sapardi Djoko Damono. Seorang sastrawan kalau tidak boleh dibilang zadul, ya cukup berumur lah, sehingga banyak kebingungan dalam menandai alur cerita ini, sebenarnya cerita ini di masa sekarang atau di era 70-an?

Kedua, jika dilihat dengan teknologi yang ada, seperti WA, photo crop, atau Shrek, cerita ini jelas mengambil setting di tahun-tahun saat ini.

Ketiga, bahasa yang digunakan agak aneh untuk percakapan dosen di lingkungan UI yang melek teknologi, agak zadul, menurutku.

Keempat, jangan pernah terpukau oleh judul. Sebab tidak ada hujan, juga bulan Juni dalam novel ini. Yang ada malah bulan April, musim semi sakura, di Kyoto.

Terlepas dari semua itu, saya tetap salut dengan Eyang Sapardi, yang tetap eksis menelurkan karya-karya, termasuk menginterpretasi puisi saya menjadi sebuah novel. Meskipun saya berharap banyak jika saja ada hujan dan bulan Juni di novelnya.
Profile Image for yun with books.
724 reviews244 followers
August 29, 2016
"Kamu ini cengeng, Sar, jualan gombal."

Sarwono, pujangga cengeng. Ditinggal ke Jepang sama Pingkan aja langsung sakit. Haha

Novel ini adalah buku pertama dari Sapardi Djoko Damono yang saya baca. 133 halaman memang singkat sekali, tapi saya cukup menikmati. Pesan moral tentang perbedaan agama dan adat menghiasi karya ini, saya kira ceritanya bakal nangis-nangisan seperti Romeo & Juliet, tapi ternyata salah. Ceritanya menarik, lucu, dan sompret.

Mulai sekarang mungkin saya akan mencoba banyak membaca karya sastra Indonesia. Dimulai dari selesainya Hujan Bulan Juni: Novel ini.

This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Awal Hidayat.
195 reviews36 followers
February 13, 2016
Butuh waktu yang agak lama supaya bisa benar-benar mengkhatamkan buku ini. Bahasanya masih lebih puisi ketimbang dibilang ini adalah versi novelnya. Saya merasa sulit saja memahami apa sebenarnya maksud dari novel ini. Tapi, Sapardi memang punya racikan katanya sendiri untuk menyamankan saya dengan buku ini-terutama di bagian akhir.

Ceritanya berkisah tentang penantian Sarwono pada Pingkan. Hampir mirip dengan beberapa cerita yang sudah ada, dalam kisah mereka, yang menghalangi bisa jadi keluarga, suku, agama, kondisi kesehatan. Sapardi belum mengakhiri ceritanya di tanda titik terakhir buku ini sepertinya. Saya jadi tak tahu, berhasilkah Sarwono dan Pingkan menjadi satu?
Profile Image for Reza N Sanusi.
73 reviews19 followers
June 26, 2015
Saya masih SMP, saat pertama kali membaca puisi Sapardi yang berjudul "Aku ingin". Sejak saat itu saya mencari semua karya Sapardi. Saya jatuh cinta dengan seketika hanya karena gaya puitis romantis Sapardi yang sederhana.

Hujan bulan Juni adalah salah satu favorit saya, bercerita tentang kesabaran akan sebuah penantian. Tetapi entah kenapa puisi yang indah itu menjadi begitu menjemukan ketika digubah ke sebuah novel.
Plot yang datar, cerita yang bertele, dan sisipan romantisme sederhana Sapardi yang hampir hilang.

Terkadang mungkin, sebuah puisi dan intreprestasinya lebih baik tetap menjadi milik masing-masing... Novel ini dibawah harapan saya.
Profile Image for B-zee.
580 reviews70 followers
June 24, 2016
Sedikit kurang dari lima, 4.5 kali ya, tapi layak dapat pembulatan ke atas dari saya yang lemah terhadap novella yang kuat.

Ya, novel singkat kalau isinya kuat bagi saya jauh lebih mengena dari novel panjang yang penuh detail. Di novel ini, saya merasa pak SDD sedang 'memamerkan' kekayaan bentuk narasinya. Mulai dari bahasa puitis sampai dialog 'ala kadarnya'. Duh, saya tidak tahu ya istilah-istilah begitu, saya cuma bisa membandingkan bentuk-bentuknya.

Pada akhirnya saya bahkan tidak peduli pada Sarwono atau Pingkan, buku ini membawa saya pada perjalanan yang sangat lain sekali.

https://bacaanbzee.wordpress.com/2016...
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
June 16, 2016
Hujan Bulan Juni merupaka  puisi karya Sapardi Djoko Damono yang menjelma menjadi novel. Rehat setelah hiruk pikuk penyusunan laporan, membuat pilihan jatuh pada buku ini. Berharap dapat membaca buku romantis yang mengurangi ketegangan campur mengantukku.
Buku ini buku yang tipis tapi penuh.

Penasaran dengan akhir romansa Sarwono dan Pinkan, karakter utama dalam buku ini. Membaca sajak kecil diakhir, duh sepertinya mereka tidak bertemu....

"kita tidak akan pernah bertemu;
aku dalam dirimu....."
Profile Image for Rayya Tasanee.
Author 3 books23 followers
October 17, 2016
Tulisan Pak Sapardi memang tak perlu diragukan.
Tetapi saya lebih suka membaca tulisan-tulisan beliau dalam bentuk puisi dibandingkan novel.
Profile Image for Steven S.
705 reviews66 followers
April 28, 2018
Butuh tujuh belas cetakan hingga kutamatkan novel karangan Prof Sapardi itu. Sungguh kelamaan menurutku!

Semenjak punya terus kujual segelan ke seseorang di tempatku tinggal, novel ini kembali masuk radar pembacaanku setelah keluar versi ketiga-buku ketiga-dari trilogi percintaan Sarwono ini. Apalagi sehabis membaca ulasan pertemuan mbak Ratih dengan SDD di Solo. Tampaknya waktunya pas untuk mencoba membaca novel itu.

Sekali duduk-jangan bayangkan cepat saja-yang kurasa berlalu sembilan puluh menit lebih, buku dengan kaver tulisan hukan bulan juni yang luntur terkena air, begitu mengasyikkan sehingga dari paragraf pertama, si Sarwono keluar dari hotel dekat bulaksumur pengen ke Malioboro, ku serasa mengikuti perjalanan Sarwono, dosen muda kesayangan Pingkan si menado, tapi jawa itu.

Pak Sapardi kurasa begitu apik menata kalimat pemuka, paragraf awal yang berbunyi demikian, "Ketika turun dari lantai tiga sebuah hotel di Bulaksumur, dekat kampus UGM, yang ada di kepala Sarwono hanya satu: ke Malioboro mencari kios majalah." Sudah. Dari laku ini aku kemudian menyusuri lembar demi lembar ketika kesampaian membaca di akhir pekan. Selepas melihat-lihat buku baru mas Bukik yang adalah panduan memilih sekolah jaman NOW. Ku baca sampai beberapa puluh halaman sampai merasa Hujan Bulan Juni lebih sip.

Kisahnya sedikit banyak mengingatkan ku dengan film-film percintaan, tapi bisa banget pak Sapardi menarasikan novel ini dengan asyik lan sedap kayak kangkung dicampur terasi disambit dengan gigitan lele ditambah segempal nasi panas yang diciduk dengan kerjasama ritmis jemari dan tuntunan ibujari. Mantap!

Kenapa nggak dikasih lima bintang?

Asem, aku belum punya Pingkan Melipat Jarak, tapi sudah ada Yang Fana Adalah Waktu. Penasaran.
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
October 29, 2017
Di antara kerumitan dan keindahan bahasa puisi Sapardi Djoko Damono, saya terkejut mendapati buku ini memiliki bahasa yang bahasan yang sederhana: tentang Sarwono si dosen muda Jawa yang jatuh hati pada Pingkan, sesama dosen muda yang lahir dari percampuran darah Menado dan Solo. Kisah cintanya bisa dibilang sederhana pula, tidak muluk-muluk, seperti sedang menaiki gondola pada sungai yang tenang; bukan tipikal kisah cinta menggebu dan harus menaklukkan tantangan seperti ketika menaiki perahu karet saat arung jeram.

Hanya saja, satu kendala dalam hubungan mereka, adalah latar keluarga dan perbedaan agama. Ada semacam krisis identitas yang dialami Pingkan. Oleh orang Jawa ia dianggap sebagai orang Menado, tapi oleh keluarganya di Menado (dan menurut Sarwono sendiri), ia adalah seorang putri Jawa. Di balik isu tersebut, rupanya kisah cinta mereka mereka tak terbendung oleh jarak dan tuntutan pekerjaan. Pingkan diharuskan untuk sekolah kembali ke Jepang, sementara Sarwono melakukan pengabdian pada pekerjaannya di Jakarta.

Kisah yang menarik, mengangkat tema toleransi dalam balutan cerita cinta dua insan. Apalagi, saya jadi mengenal legenda Minahasa tentang Pingkan dan Matindas. Setting Gorontalo dan Menado yang membumbui kisah ini, menyentil sisi romantisme masa lalu dan impian masa depan dalam benak saya. Ahahay. Gorontalo memang indah, jadi kangen untuk ke sana lagi. Menado? Semoga suatu saat bisa ke sana.
Displaying 1 - 30 of 574 reviews

Join the discussion

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.