Melihat pedang datang, Yang Guo tidak menghindar, tetapi kepalanya menoleh kepada Xiao Longnü. Waktu mati aku melihat Bibi, pikirnya, menyenangkan sekali.
----
Di Perjamuan Pendekar, Yang Guo dan Xiao Longnü berkumpul kembali dan bersama-sama mengalahkan musuh negara, Guru Roda Emas. Namun, percintaan guru dan murid di antara mereka dianggap tabu pada masa itu dan ditentang semua orang. Demi kebaikan Yang Guo, Xiao Longnü meninggalkan pemuda itu. Di Lembah Tanpa Cinta keduanya bertemu dan terkena racun bunga cinta.
Louis Cha, GBM, OBE (born 6 February 1924), better known by his pen name Jin Yong (金庸, sometimes read and/or written as "Chin Yung"), is a modern Chinese-language novelist. Having co-founded the Hong Kong daily Ming Pao in 1959, he was the paper's first editor-in-chief.
Cha's fiction, which is of the wuxia ("martial arts and chivalry") genre, has a widespread following in Chinese-speaking areas, including mainland China, Hong Kong, Taiwan, Southeast Asia, and the United States. His 15 works written between 1955 and 1972 earned him a reputation as one of the finest wuxia writers ever. He is currently the best-selling Chinese author alive; over 100 million copies of his works have been sold worldwide (not including unknown number of bootleg copies).
Cha's works have been translated into English, French, Korean, Japanese, Vietnamese, Thai, Burmese, Malay and Indonesian. He has many fans abroad as well, owing to the numerous adaptations of his works into films, television series, comics and video games.
金庸,大紫荊勳賢,OBE(英語:Louis Cha Leung-yung,1924年3月10日-2018年10月30日),本名查良鏞,浙江海寧人,祖籍江西婺源,1948年移居香港。自1950年代起,以筆名「金庸」創作多部膾炙人口的武俠小說,包括《射鵰英雄傳》、《神鵰俠侶》、《鹿鼎記》等,歷年來金庸筆下的著作屢次改編為電視劇、電影等,對華人影視文化可謂貢獻重大,亦奠定其成為華人知名作家的基礎。金庸早年於香港創辦《明報》系列報刊,他亦被稱為「香港四大才子」之一。
Buku kedua ini makin seru. Yang Guo bertemu dgn Hong Qigong dan menyaksikan Tetua Partai Pengemis ini bertanding seru dgn ayah angkatnya, Ouyang Feng, dan mereka meninggal dunia bersama, semasa hidup menjadi musuh dan di akhir hayat menjadi sahabat karib.
Setelah itu Yang Guo reuni kembali dgn keluarga Guo Jing. Perjamuan Pendekar dan Pemilihan Ketua Persilatan Daratan Tengah sangat seru, dgn kehadiran Hakim Roda Emas dan murid-muridnya, terutama Pangeran Hotu yg awban. Dan baru saja bertemu kembali dgn bibi guru Xiao Lungnu, lagi-lagi Yang Guo berpisah kembali. Mereka bertemu kembali di Lembah Putus Cinta dimana Xiao Lungnu nyaris menikah dgn Gongsun Zhi yg licik. Yang Guo juga sudah menemukan rahasia terpendam selama ini siapa yg membunuh ayah kandungnya.
Sebelum kalian menghakimi kebiasaan Xiao Lungnu yg naif dan kabur-kaburan ini, harap memaklumi gadis ini yg nyaris seumur hidupnya tinggal dan dibesarkan di Kuburan Kuno. Dia tidak diajari ttg norma dan tradisi yg berlaku di luar tempat tinggalnya ini. Jadi ada perbedaan besar antara Yang Guo yg tahu tapi gak peduli, Xiao Lungnu ini tidak tahu jadi tidak mengerti. Bisa dibayangkan keterkejutannya mengapa orang luar menolak keras hubungan cintanya dgn Yang Guo krn mereka guru dan murid (yg pada masa itu menikahi guru mereka sama serasa spt menikahi orangtua kandung mereka). Demi masa depan Yang Guo maka dari itu Xiao Lungnu memutuskan meninggalkan kekasihnya ini. Cuma "takdir" dan kegigihan Yang Guo-lah akhirnya mereka selalu bertemu kembali dan menghadapi semua kendala bersama-sama.
Kisah di Lembah Putus Cinta ini membuka persepsi saya. Berbeda dgn di film yg membuat saya ketakutan pd Qiu Qianchi, istri Gongsun Zhi yg dibuat cacat lumpuh dan dibuang di gua selama belasan tahun, justru di buku ini saya merasa tokoh ini luar biasa. Bayangkan kalau dia pasrah dan gak berusaha, dia hanya tinggal seonggok tulang saja saat ditemukan Yang Guo dan putrinya Lu'E. Tapi dia membuktikan bhw dgn semangat tekad (balas dendam) dia mencari kesempatan utk bertahan hidup dan malah menyempurnakan ilmu silatnya dgn meludahi biji bidara menjadi senjata mematikan. Luar biasa sekali wanita ini kalau hidup di zaman modern pasti bisa sukses jadi wanita miliarder.
Lanjut ke buku ketiga utk menyaksikan Yang Guo membalaskan dendamnya.
Dahulu sekali ketika saya masih belia, saya mengenal seri kisah ini sebagai tayangan televisi yang waktu itu dialih bahasakan dan disulih suara oleh dubber-dubber negeri sendiri. Sebagai anak kecil saya menganggap ceritanya menarik, ada nilai pelajaran dalam hidup dan bertata krama cara orang Tiongkok selain halnya sejumlah gerakan jurus silat dari berbagai aliran serta partai. Saya tidak tahu jika sumbernya adalah sebuah buku sampai bertahun-tahun setelahnya setelah lewat masa remaja dan menemukan salah satu volume dari versi komiknya yang digarap Lee Chi Ching dari sebuah gerobak toko buku loak dekat stasiun (yang sekarang sudah tidak ada). Dan sekitar beberapa tahun lalu terbit satu paket buku seri pertama dari Trilogi Rajawali (atau kurang lebih begitulah sebutannya) terdiri atas 4 buku, yang tentu saja sudah saya tebak urutan ceritanya setelah sempat menyaksikan versi adaptasi terbarunya di layar kaca.
Tapi saya tidak berani membeli karena sudah barang tentu harganya tidak terjangkau untuk kantong yang cuma bisa menyambangi buku obralan ini di waktu itu. Dan kini setelah bisa membelinya (tentu saja berterima kasih karena obral) saya pun bersemangat ingin membacanya. Cara penulisannya mengingatkan saya pada sebagian karya dari Tiongkok yang berkesan cepat dibaca, mendalam, tapi setelahnya entah mengapa saya merasa bosan, mungkin saya tidak terbiasa membaca kisah berseri semacam Kho Ping Ho ini. Meski tetap saja menarik, tapi saya hanya cukup menyukainya saja karena telah menuntaskan rasa penasaran saya pada tulisan Jin Yong (tapi memang, sekilas saya merasa deja vu karena seolah menemukan cara bercerita dari buku Raden Mandasia meski tentu saja muatannya berbeda).