Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tambora: Ketika Bumi Meledak 1815

Rate this book
Penemuan tengkorak kepala manusia dan kopiah emas menyeret langkah Lesly dan Jeff menuju Indonesia. Dua artefak tersebut dibawa Profesor Thomas, ayah Lesly, ke Amerika setelah ia menemukannya pada ekspedisi penggalian tanah di sekitar Tambora, gunung suci di Pulau Sumbawa yang meledak tahun 1815 dan mengubur tiga kesultanan di sana. Ketika Lesly memasang kopiah emas pada tengkorak tersebut, sosok misterius muncul di tengah cahaya kemilau dan berpesan kepadanya agar benda-benda itu dipulangkan ke tempat asalnya.

Dalam perjalanan menuju Tambora, ditemani Uma dan Wayan, mobil yang membawa mereka dari Bali mogok dan hujan lebat datang tiba-tiba. Sosok misterius itu muncul lagi, memandu mereka membelusuk lorong waktu menuju tahun 1815. Tanah Sumbawa membuka pintunya dan mengizinkan empat orang itu menjadi saksi meletusnya Tambora dan rahasia-rahasia yang menyelimutinya. Penderitaan rakyat Sumbawa di tengah kebun kopi yang subur, kekejaman Penjajah Belanda, dan perang saudara, terpampang nyata di hadapan mereka.

Novel ini mencoba menyatukan keping-keping kisah di seputar meletusnya Tambora yang mengguncang dunia dua ratus tahun silam, sebuah peristiwa alam mahadahsyat yang menggegerkan dunia.

347 pages, Paperback

First published June 18, 2015

8 people are currently reading
87 people want to read

About the author

Agus Sumbogo

1 book2 followers
Agus Sumbogo lahir di Kebumen pada 26 September 1957. Kecintaannya pada baca-tulis sudah tumbuh semenjak kecil, terpengaruh oleh keluarga besarnya di desa yang gemar membaca, terutama sang ayah. Lepas dari beberapa jenjang pendidikan formal, ia kemudian lebih banyak berguru kepada kehidupan. Tak terhitung peristiwa pahit-getir, jatuh-bangun, dan sakit-sembuh dialaminya dalam kehidupan, yang dihayatinya sebagai pelajaran yang penuh hikmah. Pernah menjadi orang yang terbuang dan terasing di keluarga dan masyarakatnya karena dianggap beda, mempunyai sifat aneh dan gagasan-gagasan yang tak lazim. Ia sering kali berpetualang ke berbagai pelosok Nusantara, menghayati setiap tanda dan peristiwa yang dijumpainya di perjalanan. Kesejatian, itulah hasrat utama pengembaraannya, demi mengabdi kepada kemanusiaan. Ia telah banyak membabar tulisan dalam bentuk opini, resensi, kumpulan puisi, cerpen, skenario drama, sinetron, dan film, yang tersebar di berbagai media. Tambora adalah novel debutnya yang dipublikasikan, hasil petualangan rohaninya selama bertahun-tahun di bumi Sumbawa.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
11 (18%)
4 stars
10 (16%)
3 stars
21 (35%)
2 stars
10 (16%)
1 star
7 (11%)
Displaying 1 - 15 of 15 reviews
Profile Image for Mela.
26 reviews2 followers
Read
July 2, 2021
Novel ini bercerita tentang Lesly dan temannya, Jeff, mahasiswa arkeologi dari Rhode Island yang mendapatkan sebuah misi dari sosok Orang Sakti. Mereka diminta untuk mengembalikan benda-benda yang ditemukan oleh ayah Lesly (seorang arkeolog dan profesor) dari Tambora, Indonesia. Menurut perkiraan Lesly dan ayahnya, benda-benda itu merupakan milik sultan atau orang dengan derajat tinggi dari kesultanan yang pernah ada di Tambora sebelum akhirnya hilang karena letusan gunung Tambora. Lesly dan Jeff pun berangkat ke Indonesia untuk mengembalikan benda-benda itu. Mereka berdua dibantu oleh Uma dan Wayan agar bisa sampai di Tambora. Di Tambora, mereka pun dibawa oleh Orang Sakti untuk memasuki lorong waktu dan melihat sendiri keadaan daerah di sekitar Gunung Tambora sebelum meletus hebat ditahun 1815.

Saya beli novel ini dengan harapan yang membumbung tinggi, mengingat jarang-jarang lho ada novel fiksi Indonesia yang menggabungkan antara sejarah dengan fantasi. Sayangnya, semakin saya baca novel ini, harapan saya semakin lama semakin turun. Di awal-awal cerita, turunnya masih seperti turun tangga, dengan harapan cerita selanjutnya makin bagus dan harapan saya bisa naik lagi. Tetapi, sekitar bab 10, harapan saya sudah turun seperti orang yang terjun bebas dari ketinggian 5.000 kaki.

Dari segi ide cerita, novel ini punya ide cerita yang amat sangat bagus. Mengembalikan benda yang berupa tengkorak kepala dan kopiah emas yang diduga milik orang penting dari Tambora ke Indonesia, bahkan tokoh utama sampai dibawa ke ribuan tahun silam untuk menyaksikan sendiri kejadian meletusnya Gunung Tambora. Menarik kan? Belum ada lho novel dengan ide seperti ini. Namun sayangnya, eksekusi penulis yang kurang maksimal membuat ide cerita ini terbuang sia-sia.

Penulis bukanlah penulis yang detail, bisa dilihat dari tulisannya yang sama sekali tidak mendeskripsikan seperti apakah rupa dari karakter-karakter yang dia buat. Sampai di halaman terakhir, saya sama sekali tidak tahu seperti apa rupa dari Lesly. Apakah dia cewek Amerika yang berambut blond, kulitnya putih kemerah-merahan dengan flek-flek atau bagaimana? Saya cuma tahu kalau Wayan itu gemuk dan Uma adalah pemuda tampan dengan tubuh atletis. That's it. Penulis juga gak repot-repot menjabarkan perasaan yang dirasakan oleh karakter yang dibuatnya. Saya tidak tahu seberapa takut tokoh-tokoh di novel ini saat pertama kali melihat sosok Orang Sakti, atau seberapa bingungnya mereka saat berada di dimensi waktu lain. Penulis hanya menulis: Lesly takut. Lesly bingung. Uma senang. dst... dst... Karena tidak ada penjabaran tentang apa yang dirasakan oleh karakter-karakternya novel ini jadi lempeng aja dari awal sampai akhir. Gak ada yang bikin deg-degan, gak ada yang bikin penasaran. Datar. Oh ya, karena penulis tidak detail dalam menjabarkan cerita, saya di sini dibuat kebingungan gimana caranya Orang Sakti, yang bisa dipastikan merupakan orang asli Tambora, bisa berkomunikasi dengan Lesly yang lahir dan besar di Amerika. Apakah Orang Sakti itu bisa bahasa Inggris? Atau si Lesly habis makan konyaku penerjemah punya Doraemon? Hanya penulis yang tahu jawabannya.

Di novel ini juga ada beberapa hal-hal sederhana yang kurang tepat penggunaannya. Contohnya, Lesly memanggil papanya dengan sebutan papi. Dari novel-novel yang pernah saya baca atau film-film yang pernah saya tonton, tidak ada anak Amerika yang memanggil papanya dengan sebutan papi. Dad/Daddy, Father, atau kadang Pops, adalah sebutan yang paling umum digunakan. But Papi?? Kayaknya itu sebutan di Indonesia aja kali yah. Dialog-dialog yang dilontarkan oleh Lesly dan Jeff juga kurang Amerika banget. Menurut saya, mereka malah seperti orang Indonesia.

Ide cerita dari novel ini sebenarnya bisa menyajikan cerita fantasi yang keren abis. Sayang banget ide ceritanya di sini gak berkembang karena penulis sepertinya kepingin memasukkan sebanyak mungkin cerita sejarah tentang Tambora di tahun 1815. Kopiah emas dan tengkorak kepala yang merupakan misi Lesly dan Jeff sebenarnya sudah selesai di bab 4 dan kedua benda itu tidak membawa efek apapun di cerita ini. Mulai dari bab 5 sampai habis (bab 29), isinya seperti artikel-artikel sejarah tentang Tambora di tahun 1815 yang dikumpulkan jadi satu dan diselipi kejadian-kejadian fiktif tentang Lesly dan kawan-kawan. Saat itu Lesly dan kawan-kawan sudah masuk ke lorong waktu dan sampai Tambora di tahun 1815, sebelum Gunung Tambora meletus, jauuuh sebelumnya. Di sini Lesly dan kawan-kawan jalan-jalan keliling 3 kesultanan yang ada di lereng Gunung Tambora. Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri kekacauan 3 kesultanan yang disebabkan oleh politik adu domba Belanda. Lesly dan kawan-kawan ngapain aja di lorong waktu? Nothing! Mereka cuma jalan-jalan aja di sana, gak ada misi apa-apa. Jalan memutari 3 kesultanan tanpa membawa efek apapun. Memang sih mereka cuma melihat memori tentang 3 kesultanan di Tambora itu, dan mereka gak bisa mengubah sejarah. Tapi setidaknya, mereka bisa dikasih misi lain yang bisa bikin perjalanan mereka melewati lorong waktu itu ada gunanya dan pembaca jadi penasaran terus. Sayangnya sih, gak ada. Plus! Mereka masuk ke Tambora jauh sebelum Gunung Tambora meletus. Yang saya maksud jauh di sini adalah mereka berada di dalam lorong waktu itu bukan dalam hitungan hari. Tetapi dalam hitungan minggu, kalau perkiraan saya tidak salah, mereka berempat berada dalam dimensi lain selama 1-2 bulan. 1-2 bulan tanpa bisa melakukan apa-apa, cuma melihat, tanpa misi apapun. How boring is that?

Yang bikin lebih membosankan lagi adalah di cerita ini gak ada urgency-nya sama sekali. Di awal cerita, sosok Orang Sakti itu muncul dan bilang segera kembalikan kopiah emas dan tengkorak kepala itu ke Tambora. Lesly dan ayahnya menyimpulkan kalau mereka harus mengembalikan benda-benda itu sebelum perayaan 2 abad meletusnya Gunung Tambora yang memang bakal ada perayaan pada 10-11 April 2015. Saya kira bakalan ada apa-apa kalau gak sampai dikembalikan. Ternyata gak ada efeknya sama sekali. Dalam misi mengembalikan kedua benda mistis itu, Lesly dan Jeff masih sempat berlibur di Bali selama 3 hari!

Penulis juga berusaha memberikan bumbu romantisme di ceritanya, tapi sayang gagal. Adegan-adegan romantis antara Lesly dan Uma sering muncul di saat yang gak pas. Misalnya saat mereka baru saja 'mendarat' di Tambora lama, mereka berempat mendarat di tempat yang terpisah-pisah. Lesly dan Uma yang paling pertama bertemu. Eh, bukannya bingung mencari teman-temannya yang masih belum ketemu, mereka malah asyik duduk-duduk menikmati indahnya pemandangan.

Penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga maha tahu, si narator tahu semuanya. Saking tahu semuanya, si narator sering banget keceplosan tentang adegan-adegan selanjutnya yang seharusnya belum muncul. Jadinya gak surprise lagi. Gara-gara maha tahu juga, banyak terjadi pengulangan yang gak perlu. Misal, saat Lesly dan kawan-kawan masih dalam perjalanan menuju Tambora, mereka melewati berbagai macam daerah di Sumbawa dan si narator menyebutkan ini termasuk di daerah mananya Sumbawa. Sementara si narator sudah menyebutkan mereka ada di mana, si Lesly dan Jeff gak tahu mereka ada di mana dan mereka pun bertanya mereka ada di mana. Ngulang lagi deh. Padahal bisa lho si narator gak menyebutkan dulu sebelum karakternya bertanya.

Sepertinya buku ini lebih cocok sebagai kumpulan artikel sejarah tentang Tambora dengan sedikit cerita fiktif supaya orang-orang yang baca gak bosen. Kalau disebut novel, sepertinya masih terlalu banyak artikelnya (bahkan di bab terakhir ada artikel dari jurnal apa gitu, ditulis juga di situ). Sekali lagi, saya sangat menyayangkan ide cerita yang begitu bagus jadi terbuang sia-sia karena eksekusinya kurang maksimal.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
November 12, 2015
** Books 289 - 2015 **

Buku ini untuk memenuhi New Author Reading Challenge 2015

2,7 dari 5 bintang!


Suka sama isi sejarahnya tapi tidak terlalu suka dengan jalan cerita yang berputar-putar. Saya bingung buku ini gado-gado antara fantasi, religi, drama atau sejarah lebih tepatnya? Kurang bisa menikmati isinya =___=a

Review lengkap menyusul :)
Profile Image for Truly.
2,764 reviews13 followers
June 26, 2015
http://trulyrudiono.blogspot.com/2015...

Oh ya, ada sebuah istilah yang sepertinya layak menjadi bahan renungan agar kita bisa lebih menjadi sosok yang mawas diri, Ayat Alam Hayat. Apa itu? Temukan saja dalam buku ini he he he.
Profile Image for Talia.
2 reviews
January 30, 2022
Jujur, ini salah satu karya tulis yang paling saya tidak sukai dari semua karya tulis yang telah saya baca. Karakter utama, Lesly, terkesan seperti sebuah karikatur wanita kaukasia yang jatuh cinta dan tergila-gila oleh seorang lelaki lokal pada pandangan pertama. Mungkin saya terlalu membawa perasaan sebagai seorang blasteran yang terus-terus kena getah stereotype dan selalu mendengar omongan macam "kawin sama gw dong biar gw bisa benerin keturunan" "lo kan bule, kenapa gk mau have sex sama gw? bule kan semuanya -------" dan segala jenis hal-hal yg tidak dapat saya katakan di muka umum, tapi karakter Lesly berasa seperti sebuah hinaan. She sounds like she was created to fulfil some fantasy instead of being an actual character; she has very little depth, and also unlikeable.

Kemudian, pada paragraf pertama jelas tertulis Excuse me? Kontras dari kedua kalimat itu jelas, warga Distrik Barat lebih kaya dan terpandang dibanding warga Distrik Timur, tapi kenapa hal yang digunakan sebagai kontras adalah warna kulit/ras dari mayoritas warga Distrik Timur dan bukannya kondisi perekonomian mereka? Penulis seolah-olah mengatakan bahwa warga Kulit Hitam tidak dapat kaya dan tidak mungkin berasal dari keluarga yang terpandang.

Gaya penulisan juga tidak homogen. Penulis mendeskripsikan bbrp scene dengan cukup detil, namun tidak mendeskripsi lebih banyak scenes yg justru menurut saya lebih penting. Pendeskripsian fisik karakter juga menurut saya absurd ya. Kenapa penulis lebih memilih untuk mendeskripsikan outfit Lesly terlebih dahulu dibandingkan dengan fisik Lesly sebagai manusia? Memangnya pembaca harus tau kalau Lesly memakai terlebih dahulu dibandingkan ? Dialog kelewat kaku, kek mayoritas penulisan saya untuk review ini. Kelewat formal. Editing dan proofreading juga perlu diperhatikan lagi! Masa iya bisa kurang kata penting yang bisa ngubah arti satu kalimat? Kualitasnya di mana?

Oh ya, ngomong-ngomong gimana ya cara Leslie ? TSA itu cukup ketat, loh, dan di UU US sendiri ada aturan kalo penumpang . Kenapa gk diceritain caranya Lesly dan Jeff ngurusnya? Belum lagi sama imigrasi Indo pasti ditanya . Lagian ada prosedurnya kok, dan itu gk gampang diurus. Bayangin , apa gk mencurigakan? Yang ada udah ditangkap duluan kali, or ya maybe penulis ngambil sisi imigrasi Indo itu korup, tapi imigrasi US? Di sana aja ada larangan membawa remains bbrp jenis binatang untuk perjalanan antar-states loh ya, masa iya ini gk ditanyain? Ya saya tau ini fiksi genre fantasy dan historical fiction, tapi logikanya gk masuk akal.

Ini baru dari 3 chapters awal. Kalau saya harus kritik sisa 26 chapters lagi rasanya gk perlu. Kekecewaan saya makin menjadi seiring ceritanya berjalan.

I'm disappointed. The author somehow destroyed his own story without even trying. No, perhaps that's the reason why - he didn't even bother to try. One star for bringing up the theft of artefacts by 'collectors'. More people should be aware of it. That's the only redeeming quality of this book.

Oh, btw, just because someone calls their father papi doesn't mean that everyone else will use it when we're talking about him :) We'll just use your/their father instead. Thank you.

I should probably get rid of this book since it's taking up precious space in my private library, but it's so hilariously bad I want to keep it so I can use it as an example of what not to do when trying to write a novel.
Profile Image for Syifa Adiba.
140 reviews22 followers
January 6, 2018
Lesly, seorang mahasiswa di Rhode Island suatu hari mendengar suara-suara aneh dari museum ayahnya, seorang arkeolog ternama di Amerika. Didorong oleh rasa penasaran yang dalam, Lesly akhirnya mengendap-endap menuju ruangan tersebut dan menemukan sebuah kotak misterius berisi kopiah dan kepala tengkorak manusia. Takjub akan benda yang diyakini adalah penemuan ayahnya tersebut, Lesly menyatukan kopiah dan kepala tengkorak tersebut dan muncullah sosok misterius yang menamai dirinya, "Orang Sakti". Lesly diwajibkan untuk membawa kembali barang tersebut ke tempat asalnya dan di sinilah pengalaman Lesly bersama Uma, Jeff, dan Wayan bermula.


Sebuah kisah berdasarkan cerita sejarah selalu menjadi sebuah intrik yang menarik untuk dituturkan dalam karya tulisan. Hanya saja, cerita ini menurut saya, sih. Serba nanggung!

Nanggung karena minim deskripsi. Oh, jelas. Hingga akhir cerita, saya masih penasaran bentuk Uma seperti apa sih sampai Lesly yang bule tergila-gila, bahkan Jeff pun yang juga cowok, melongo saat melihatnya? Selain deskripsi penokohan yang nanggung, deskripsi terhadap emosi dari tokoh juga nanggung. Seperti misalnya, "Uma tersenyum". Akan tetapi, dialog yang terjadi berikutnya tidak membuat saya juga ikut tersenyum? Hah? Emang siapa saya?

Nanggung karena perasaan. Jangan! Jangan baper duluan, saudara-saudara! Karena kebaperan yang Anda harapkan bisa jadi akan berujung kekecewaan. Seperti yang sudah-sudah, salah satu bumbu dalam cerita bertemakan adventure kaya gini, biasanya adalah adanya "romance interest" antara pemain utama pria dan wanita. Hal inilah yang berusaha dibangun oleh pengarang, walau ya, menurut saya failed miserably. Sudah jelas Lesly tertarik sama Uma, begitupun Uma. Akan tetapi, interaksi romantisnya minim sekali. Di akhir cerita pun, akhirnya digantung kaya, "Hah, gini doang? Serius?" Ibarat kata Lesly dan Uma itu jatuhnya cuma flirt ala anak-anak SMA.

Jika ditilik dari cover buku (salah satu alasan kenapa saya menarik buku ini dari toko buku!) dan sinposis buku, seharusnya buku ini mampu membawa emosi pembaca ke dalam area yang menegangkan. Akan tetapi, perasaan tegang hanya saya dapat di bab awal ketika kemunculan orang sakti di museum papinya Lesly itu. Setelahnya, saya tidak tahu bagaimana perasaan tokohnya, karena jatuhnya mereka memang "terjebak di lorong waktu". Akan tetapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa selama kembali ke masa lalu tersebut dan anehnya, mereka mampu berinteraksi dengan orang di masa lalu. Walau tentu, mereka tidak bisa mengubah sejarah. Sayangnya, puncak acara atau dalam hal ini kejadian saat terjadi letusan hanya bisa "mereka saksikan" dari jauh, yang artinya dalam novel ini, pengarang tidak berusaha mendeskripsikan secara lebih jelas tentang bagaimana keadaan kesultanan yang saling berperang dan sebagainya.

Akan tetapi, untuk sebuah novel bertemakan sejarah dan sebagai novel debut, novel ini patut diacungi jempol karena berani mengambil tema yang belum pernah ada sebelumnya. Menariknya, ada satu frasa atau bisa dibilang kalau bahasa gaulnya anak jaman sekarang itu semacam petuah hidup, namanya "Ayat Alam Hayat".

Kalau alam kehidupann ini merupakan kumpulan ayat, ayat siapa? Kalau alam ini jelas milik Tuhan, berarti ayat-ayat kehidupan juga ayat-ayat Tuhan. Artinya, kehidupan ini sebenarnya adalah ayat-ayat Tuhan yang harus dibaca.
Profile Image for Shalahuddin Gh.
31 reviews12 followers
June 18, 2015
Novel pertama tentang letusan Gunung Tambora yang mengegerkan dunia.
Profile Image for Ahmad Ahmad.
21 reviews
July 27, 2019
Harapan saya buku ini menceritakan tentang meletusnya gunung Tambora, bagaimana reaksi masyarakat saat bencana terjadi, seberapa kalang kabutnya mereka; namun ternyata buku ini hanya menceritakan sejarah meletusnya Tambora, mengapa Tambora bisa meletus. Alasan yang ditampilkan pun merupakan alasan-alasan mistis atau religious —Tambora meletus karena Tuhan murka dengan perilaku manusia sekitar saat itu, khususnya pemimpin kerjaan yang berperilaku sangat jauh dari semestinya pemimpin.

Di satu sisi, penggambaran tersebut bagus karena bernilai sejarah dan menampilan kepercayaan masyarakat lokal. Namun di sisi lain, penulis tidak menunjukkan sikap bahwa kepercayaan mistis tersebut — perihal penyebab meletusnya Tambora — adalah sesuatu hal yang seharusnya tidak dipercaya sepenuhnya. Tidak ada penggambaran ilmiah bahwa gunung meletus karena pergerakan tektonik atau magma pada lapisan bumi misalnya. Penting menulis penggambaran ilmiah agar pembaca tidak serta merta percaya alasan mistis, tapi juga percaya dan paham pada alasan ilmiah.

Perihal cara bercerita penulis, penulis cukup baik dalam menarasikan sejarah. Cukup mengasyikan membaca buku ini.
Profile Image for Gita Sevtia.
20 reviews
March 19, 2021
Kurang rapi. Alur terkesan tergesa-gesa. Perpindahan adegan kurang halus, konflik antar pemain lemah, romansa yang disisipkan terlalu memaksa. Mungkin cerita malah akan lebih baik tanpa bumbu-bumbu romansa. Penyampaian sejarah yang menjadi tujuan utama cukup baik, namun penguatan melalui para tokohnya masih sangat kurang. Ajaran-ajaran yang disisipkan guna menjadi pesan moral juga dirasa kurang pas. Akan lebih baik jika seandainya penulis hanya memaksimalkan salah satu atau dua tema yang utama. Sehingga histori yang menjadi inti dari cerita dapat tersampaikan dengan lebih baik.

"Dalam sepi pikiran bisa dijernihkan, hati bisa disejukkan, karena dalam sepi ada sumber ketenangan hakiki."
Profile Image for Gita.
115 reviews2 followers
September 24, 2019
Hmm... gimana yah... menurut saya dua bintang cukup untuk nilai-nilai yang diajarkan dari kisah di cerita ini, tapi entah kenapa baca dialognya terasa kaku sekali, dan gatau kenapa yang terlintas dibenak saya semacam setting film-film pendekar indosiar, tapi cukup menambah pengetahuan saya tentang gunung tambora. Gila letusannya pasti berasa satu indonesia tuh...
Profile Image for 조 안라.
4 reviews2 followers
June 2, 2022
Buku yang menceritakan tentang sejarah sebelum terjadinya letusan gunung Tambora pada tahun 1815 tapi dikemas menjadi historical-fiction dimana orang dari masa depan menjelajahi kembali waktu untuk melihat kilas balik kejadian sebelum meletusnya gunung Tambora. Personally, cerita ringan. Saya membaca cerita ini seperti air mengalir. Konflik pada cerita sama hal seperti yang biasa kita pelajari dalam buku sejarah Indonesia antara Pribumi dan Belanda. Terselib juga unsur agama pada konflik tersebut.
Profile Image for Alfa Sagala.
25 reviews
April 21, 2022
Bukunya baguus!! Setelah dikenalkan sama budaya-budaya bali dan sekitaran tambora. Buku ini juga mengenalkan penyebaran islam di tambora dan sekitarnya. Tak lain juga ada masa dimana belanda masih suka mengadu domba
Profile Image for Novia Elvita arlis.
16 reviews1 follower
July 12, 2015
pertama kali melihat novel ini,,wah tambora,,,mau ga mau saya flashback ke 2013 ketika saya sempat mengunjungi gunung satu itu yg terkenal krn letusannya,,yg sring dsebut sbgai pompei dr timur,,dr sejak semula saya tau ini novel fiksi,,tapi ada beragam fakta sejarah beberapa yg saya akhirnya menjadi tau ttg hubungan dompu bima makasar ,,dan ttg kesultanan yg terjadi pada masa itu,jg tentang legenda2 yg meliputi tambora,,dan ada satulagi penjelasan ttg ayat alam hayat,,apakah mkst dr itu,,hehhe baca saja ya,,temukan penjelasannya dbuku ini,,saya terbawa suasana membaca buku ini,,sbenrnya pengen nyelesain buku ini kmren krn hanya tgl 50 halaman aja,akan tetapi saya ketiduran ,,alhasil pagi ini saya lanjutkan sbntr,,so far klo dtanya rekomen apa ga,,yah ga ada salahnya sih membaca ,,fakta+fiksi+romantis ,,masi kurangkah ???
Profile Image for Ratnani El Ratna Mida).
Author 11 books14 followers
December 18, 2015
Tambora ..., sebagian orang pasti tidak asing dengan kata ini. Sebuah nama gunung yang terletak di Nusa Tenggara Barat. Dimana Tambora memiliki sejara panjang yang selalu diingat dengan kedasyatannya. Karena efek fenomena alam itu tidak hanya mempengaruhi Negara Indonesia tapi penjuru dunia. melenyapkan tiga Kesultanan yaitu Kesultana Tambora, Kesultanan Sanggar dan kesultanan Pekat. Bahkan Pasukan kavaleri Napoleon dari Prancis pun menjadi takluk atas Inggris dan Prusia. Musim dunia berubah. Di Amerika Utara banyak petani yang ingin bunuh diri karena gagal panen. Sebagian penduduk dunia mengalamai krisis sosial dan paceklik panjang. Dan di Eropa musim salju berlangsung berkepanjangan sehingga mereka menyebut masa itu the year without summer.

Selengkapnya bisa dibaca di sini. http://tulisanelratnakazuhana.blogspo...
Profile Image for Magma.
3 reviews3 followers
May 16, 2016
Begitu menutup buku malah gagal paham sama maksud penulisnya. Keunggulan buku ini hanya penjabaran latarnya saja yang apik. Sudah. Karakter Lesly dan Jeff terkesan seperti figuran saja, bahkan saya nggak ada bayangan solid tentang mereka. Adegan di Amerika pun rasanya mirip sinetron, nggak terasa ke-Amerika-annya. Jauh beda sama penjabaran suasana di masa lalu. Njomplang. Sayang ide sebagus ini tidak dieksekusi dengan baik.
Profile Image for Ana Indriyani.
87 reviews18 followers
April 25, 2017
jujur yang menjadi alasan saya membaca novel ini adalah karena judulny ayang menarik. sedikit sekali novel di Indonesia yang memiliki latar belakang sejarah dalam hal ilmu pengetahuan kebumian seperti ini. Jadi kehadirannya begitu menarik pembaca seperti saya.
secara keseluruhan novel ini dikemas bersamaan dengan sejarah, namun tidak seperti dugaan awal saya, novel ini lebih banyak membahas sejarah manusianya yang ada disini terutama terkait dengan kemunculan sosok gaib.
saya sedikit kecewa karena alasan perjalanan tokoh ke tambora menjadi tidak jelas (menurut saya) sehingga kehilangan alur cerita. intinya membingungkan, terlebil lagi beberapa keterangan sejarah tidak disertakan sumbernya. saya menjadi sangsi dengan petikan2 kisahnya meninngat daya taraik sebenarnya justru pada petikan2 ini.
so far , cukup lumayan lah. hehe
Displaying 1 - 15 of 15 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.