Novel: 1. Tarapuccino (bersama Rika Y. Sari, Penerbit Indiva Media Kreasi 2009) 2. Hati Memilih (Bukune 2011) 3. Izmi & Lila (Divapress 2011) 4. Persona Non Grata (Indiva Media Kreasi 2011) 5. Yang Kedua (Bukune 2012) 6. Ping! (bersama Shabrina WS, Bentang Pustaka 2012) 7. The Coffee Memory (Bentang Pustaka 2013) 8. Jasmine (Indiva Media Kreasi 2013) 9. A Cup of Tarapuccino (bersama Rika Y. Sari, Indiva Media Kreasi 2013) 10. First Time in Beijing (#STPC Bukune 2013) 11. Perjalanan Hati (Rak Buku 2013) 12. A Miracle of Touch (GPU, 2013) 13. Dear Bodyguard (Bentang Pustaka, 2013) 14. Gerbang Trinil (duet bersama Syila Fatar, Moka Media) 15. Rahasia Pelangi (duet bersama Shabrina WS, GagasMedia, 2015) 16. The Secret of Room 403 (Indiva Media Kreasi, 2016) 17. Love Catcher (Gagas Media ; 2017)
Non Fiksi : 1. Kitab Sakti Remadja Oenggoel (bersama Oci YM, Indiva Media Kreasi 2013) 2. Sayap-sayap Sakinah (bersama Afifah Afra, Indiva Media Kreasi, 2014) 3. Sayap-sayap Mawaddah (bersama Afifah Afra, Indiva Media Kreasi, 2015) 4. I Will Survive (bersama Oci YM, Indiva Media Kreasi, 2016) 5. Sayap-sayap Rahmah (bersama Afifah Afra, Indiva Media Kreasi, 2017)
Antologi : 1. LDR Crazylove (Bentang Belia, 2012) 2. My Stupid Love (Indiva Media Kreasi, 2013) 3. Jomblo Prinsip Atau Nasib (Indiva Media Kreasi, 2015) 4. Ramadhan in Love (Indiva Media Kreasi, 2015) 5. Jejak Kaki Misterius (Indiva Media Kreasi, 2016)
Beberapa penghargaan lomba menulis : 1. Pemenang I Resensi Indiva (2008) 2. Pemenang II Sayembara Cerber Femina (2008) 3. Pemenang Harapan Sayembara Cerber Femina (2009) 4. Pemenang Hiburan Feature Ufuk Dalam Majalah Ummi (2009) 5. Pemenang II Lomba Novel Inspiratif Indiva (2010) 6. Pemenang I Lomba Novel Remaja Bentang Belia (2011) 7. Pemenang Berbakat Lomba Novel Amore 2012 8. Pemenang 1 Indiva Reading and Review Challenge (2015) 9. Pemenang Harapan Lomba Menulis Novel Indiva (2015) 10. Pemenang 2 Lomba Resensi Novel "Pulang" (2015) 11. Pemenang 1 Lomba Blog StilettoBook (2016) 12. Pemenang 2 Lomba Resensi Novel "Ayat-ayat Cinta 2" (2016) 13. Pemenang 1 Lomba Resensi Buku "Cerdas Mengelola Keuangan Pribadi" (2016)
Pertama kali melihat cover novel ini, aku sangat tertarik sekali, aku penasaran ada apa dengan gajah dan 2 orang di dalam cover novel ini. Dan jawabannya langsung bisa kudapatkan saat membaca novel ini.
Novel ini dituliskan secara duet, oleh Mba Riawany dan Shabrina. Karya yang indah dan berbeda dengan novel yang selama ini kubaca. Rasanya jarang sekali penulis memikirkan untuk memasukkan isu-isu seperti ini dalam sebuah karya fiksi, hal yang mungkin sering kita temui jika membaca buku nonfiksi.
Novel ini mencoba memotret isu lingkungan, dalam hal ini perlindungan gajah. Bagaimanapun gajah adalah salah 1 hewan yang dilindungi. Sayangnya manusia yang tamak, masih sering mencuri gading gajah, bahkan dengan teganya merampas hutan sebagai habitatnya. Alhasil, gajah pun mencari habitat baru bahkan sumber makanan mereka yang telah rusak, salah satunya dengan memasuki kampung dan rumah-rumah penduduk. Ini tentunya menimbulkan keresahan, manusia yang terganggu pasti tidak akan tinggal diam. Disinilah pentingnya sosialisasi dan pemahaman penanganan yang baik untuk mengatasi konflik gajah dan manusia ini.
Dalam novel ini, kita akan bertemu dengan 2 wanita hebat, yang sama-sama peduli dengan lingkungan. Ada Anjani, seorang mahout wanita yang mengabdikan dirinya mengurus gajah di sebuah Taman Nasional Tesso Nilo. Jujur, Tesso Nilo ini masih terasa asing di telingaku, aku lebih familiar dengan Way Kambas. Makanya aku antusias sekali karena melalui novel ini aku mendapatkan banyak informasi baru.
Selain Anjani, kita pun akan diajak berkenalan dengan Rachel, seorang aktivis lingkungan yang bekerja di Change World Organization, sebuah organisasi yang fokus dengan aksi penyelamatan lingkungan. Rachel bersama timnya diutus ke Tesso Nilo untuk meliput kegiatan perlindungan gajah.
Disinilah akhirnya Rachel dan Anjani bertemu, awalnya semua terasa baik-baik saja, namun kehadiran Rachel membuat perasaan Anjani tidak nyaman, apalagi sikap Rachel yang ramah dan friendly, mampu mencairkan Chay, salah satu mahout pria di Tesso Nilo. Tanpa diduga, Anjani merasa cemburu dengan kedekatan Chay-Rachel, apalagi Rachel dengan mudah bisa berbicara dan bahkan dekat dengan Chay.
Anjani pun akhirnya mengambil jarak terhadap Rachel, hal ini membuat Rachel bingung. Hingga suatu hari di salah satu operasi pengusiran gajah liar yang memasuki perkebunan sawit oleh Flying Squad (gajah jinak yang dilatih), Rachel terluka parah.
Rachel harus menerima kenyataan bahwa hidupnya tak sama lagi, Anjani yang merasa bahwa dia seharusnya bisa mencegah kejadian itu menjadi bersalah. Di lain sisi, konflik gajah pun makin melebar, perlu koordinasi semua pihak untuk menyelesaikan semuanya.
Bagaimana akhir kisah Rachel dan Anjani?
Membaca novel ini sungguh menyenangkan, aku membaca novel ini selama seminggu, walau sebenarnya aku bisa menyelesaikannya hanya beberapa jam saja. Rasanya aku tidak ingin cepat-cepat menyelesaikan kisah ini, aku memilih untuk meresapi setiap bab pelan-pelan.
Begitu banyak informasi yang kudapatkan mengenai gajah dalam novel ini, dan juga profesi mahout/pawang gajah. Jujur aku sama sekali buta dengan mahout, mungkin sebagai orang awam kita akan berpikir seorang mahout hanya bertugas memberikan makan sekaligus memandikan gajah, ternyata banyak hal yang harus dilakukan oleh seorang mahout, dan butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi gajah.
Selain itu, sebagai pembaca aku juga mendapatkan informasi mengenai konflik gajah-manusia yang sudah menjadi isu global. Aku setuju dengan novel ini, bahwa konflik gajah-manusia ini tidak mungkin terjadi jika manusia sadar untuk tidak merusak lingkungan, bagaimana pun gajah butuh makan dan jika habitatnya dirusak otomatis dia harus mencari.
Disinilah diperlukan kesadaran dari setiap elemen untuk bisa sama-sama menjaga lingkungan, agar keseimbangan itu pun bisa terjaga dengan baik. Novel ini sukses memotret isu ini dengan sangat baik.
Novel ini juga tidak hanya menyoroti kisah tentang perlindungan gajah saja, kamu akan tetap disuguhi sebuah kisah percintaan yang manis. Tidak berlebihan dan mengena. Aku suka bagaimana cara penulis menutup kisah ini, manis sekali.
Overall, kalau kamu mencari kisah romansa yang "berbeda", berbalut isu lingkungan, aku rekomendasi buku ini untukmu.^^
Novel Rahasia Pelangi bercerita tentang perjuangan Rachel dan Ebi di Hutan Teso Nelo di Riau dalam rangka misi penyelamatan lingkungan. Keduanya dihadapkan pada fakta memprihatinkan mengenai kondisi hutan Teso Nelo sendiri yang pembabatan hutannya sangat parah. Hal itu menyebabkan kehidupan hewan-hewan liar di sana terganggu, sehingga ekosistem dan segala macamnya tak seimbang. Gajah sebagai salah satu spesies yang dilindungi di tempat tersebut tak luput dari perhatian Rachel dan Ebi. Kedekatan mereka dengan gajah membuat hubungan mereka dengan mahout pun otomatis lebih intens. Tetapi, bagaimana jika kehadiran para aktivis lingkungan seperti Rachel dan Ebi membuat tak nyaman para mahout alias pawang gajah di hutan Teso Nelo?
Kehadiran novel remaja bertema observasi lingkungan memberikan warna baru di deretan literatur remaja Indonesia. Rahasia Pelangi lebih menitikberatkan kepada amanatnya yang kuat mengenai pentingnya penjagaan lingkungan. Degradasi kualitas lingkungan khususnya alam liar memberikan dampak negatif yang begitu terasa di lingkungan terkait, apalagi suatu saat pasti akan terasa berdampak luas. Rahasia Pelangi membeberkan pula intrik dan masalah yang sering terjadi di balik pembakaran hutan, sebab hewan liar turun ke permukiman warga, dan isu-isu lingkungan lainnya.
Ditulis oleh dua orang pengarang mengakibatkan novel Rahasia Pelangi tidaklah membosankan. Pun di dalamnya penceritaan dituturkan dari dua sudut pandang. Pertama, dari Rachel yang mana seorang aktivis lingkungan berkarakter teliti, semangat, dan lincah namun ceroboh. Dan kedua dari sudut pandang Anjani, dia adalah pawang gajah di Teso Nelo yang memiliki karakter ramah, tenang, namun pencemburu. Tokoh-tokoh lain pun turut menggerakkan napas cerita seperti Ebi yang selalu ada di dekat Rachel, dan Chay yang mana partner Anjani.
Novel Rahasia Pelangi mencoba menghadirkan atmosfer berbeda dalam tema novel remaja, selain itu literatur untuk anak muda ini pun mencoba memberikan alternatif bacaan yang kaya pengetahuan. Gaya tutur, amanat, dan segala unsur intrinsiknya semakin membuat novel ini sebenarnya bisa dibaca semua kalangan meskipun bahasanya terasa kental sekali untuk remaja, dan konflik percintaannya pun tidak terlalu berlebihan alias pas porsinya. Sekali lagi, novel Rahasia Pelangi bisa sekaligus mengajak pembacanya sadar mengenai pentingnya menjaga lingkungan selain tenggelam dalam kisahnya sendiri yang heroik dan romantis.[]
Seharusnya, sejak awal aku menyadari bahwa cinta tak pernah jatuh terlalu jauh.
Kisah di dalam novel ini berasal dari dua orang perempuan yang kuat dan tegar. Perempuan yang sama-sama mencintai dan peduli dengan alam, namanya Anjani dan Rachel. Bukan sekadar kecintaan mereka dengan alam, tapi juga dengan lawan jenis mereka, ada Chay dan Febri.
Anjani kecil yang pernah diajak ayahnya menonton sirkus yang menampilkan seekor gajah, trauma. Karena sewaktu sirkus dia melihat gajah itu membanting-banting anaknya sendiri hingga tak bernyawa. Tapi siapa sangka, kehidupan Anjani selanjutnya malah setiap hari berhubungan dengan gajah.
Yah, sering kali saya mendengar kalau sesuatu yang kamu benci atau tidak sukai kamu malah akan semakin dekat dengan hal itu. Contoh yang sering saya dengar adalah perkataan para pengajar yang mengatakan bahwa dulu pelajaran yang paling tidak disukainya adalah apayang dia ajarkan sekarang. Hal itu terjadi pada Anjani.
Kita memang tak bisa lari dari masa lalu. Namun, kita punya pilihan, berdamai dengan waktu (hlm 1)
Anjani memilih menjadi mahout, perawat gajah. Disitu pulalah Anjani bertemu dengan Chay,mahout senior. Mereka merawat gajah bersama-sama, Chay juga memberikan banyak pelajaran kepada Anjani juga perhatian. Memberikan kado disetiap ulang tahun Anjani misalnya.
Kenapa Anjani memilih menjadi mahout padahal dulu dia punya trauma?
Saya ingin melenyapkan asumsi saya sendiri bahwa gajah itu hewan jahat. Saya melihat gajah-gajah di sini sangat jinak dan penurut. Itu artinya, mereka juga bisa baik kalau diperlakukan dengan baik. (hlm 49)
Rachel, karyawati di Change World Organization (CWO) diutus bersama Febri untuk melakukan liputan terhadap tim Flying Squad, tim patrol gajah latih di Taman Nasional Tesso Nilo atau singkatnya TNTN. Menurut Febri atau Ebi, Rachel yang ceroboh dan suka terburu-buru pantas dipasangkan dengannya agar dia bisa menjaga Rachel di tengah hutan nanti. Mereka selalu saja bertengkar. Di TNTN Rachel dan Ebi pun berteman dengan Anjani dan Chay.
Rachel adalah perempuan yang sangat senang, cinta dan peduli akan alam.
Bagiku, tak ada tempat terindah dan ternyaman di muka bumi ini selain dimensi yang didominasi oleh elemen hijau. Elemen yang akan membantumu mengembangkan paru-paru secara optimalan mengisinya dengan oksigen yang lebih berkualitas. (hlm 62)
Aku tak pernah bosan berlama-lama berada di alam. Aromanya, tak pernah kudapatkan di ruang yang diberi pewangi termahal di dunia sekalipun. (hlm 88)
Ah, benar sekali. Bau alam, daun-daun hijau bercampur lembab tanah serta udara segar yang menjanjikan siapa yang tidak senang?
Semakin dekat mereka satu sama lain, semakin membuka peluang ada yang merasa cemburu. Mengingat mereka adalah sepasang lawan jenis. Rachel tiba-tiba menjadi akrab dengan Chay, yang menurut Anjani adalah lelaki yang sangat tertutup. Bahkan dengannya saja yang sudah beberapa tahun bersama tidak sedekat itu.
Terkadang, urusan perasaan memang jauh lebih rumit daripada kalkulasi biner. Perasaan tidak pernah bisa dianalogikan dengan dua kali dua hasilnya pasti empat. Hasilnya bisa jadi seratus, seribu atau bahkan semiliar. (hlm 109)
Amarahpun melingkupi Anjani dan membuat dia menarik diri dari Rachel bahkan Chay. Anjani bersikap dingin kepada Rachel dan menghindar setiap Chay mengajaknya bercerita. Semua masalah menjadi klimaks ketika ada segerombolan gajah liar yang merusak perkebunan warga. Rachel yang kurang berhati-hati mengalami kecelakaan. Dia terinjak oleh gajah liar, berkali-kali.
Rachel dirawat di rumah sakit, kakinya patah. Anjani diliputi rasa bersalah karena amarah di dalam dirinya lebih besa daripada mencegah Rachel untuk tidak turun dari Gajah sementara kawanan gajah liar masih berkeliaran.
Lalu bagaimana nasib Rachel yang periang setelah mengetahui kakinya patah? Bagaimana Anjani yang selalu diliputi oleh rasa bersalah? Bagaimana pertemanan Anjani dan Rachel selanjutnya? Apakah Anjani akan kembali mengajak Chay ngobrol? Apakah Ebi masih terus bertengkar dengan Rachel?
Emmm, masih banyak tanda tanya kan?
****
Terima kasih kepada Mbak Riawani yang sudah memberikan kesempatan untuk mereview bukunya ^^
Satu kata untuk buku ini, informatif. Yah, setelah membacanya saya mendapatkan banyak informasi baru, mengenai apa itu pekerjaan mahout, apa-apa yang dilakukan Tim Flying Squad dan terlebih dengan gajah. Ternyata, konflik manusia dengan gajah belum benar-benar tuntas. Ngeri juga membayangkan tiba-tiba ada gajah liar yang masuk ke pedesaan.
Bicara tentang hutan semestinya bukan hanya tentang pohon, tetapi juga tentang keselamatan bersama. Jika hutan aman, penghuninya juga akan merasa nyaman, dan manusia pun akan merasa tenteram. (hlm 141)
Yah, betul sekali. Saya juga membenarkan apa yang ditulis oleh mbak Riawani dan mbak Shabrina kalau kawanan gajah liar itu sebenarnya menuntut kita, manusia yang sudah mengacaukan tempat tinggal alami mereka. Kasus di sini adalah menjadikannya kebun kelapa sawit. Yah, kalau kita tidak mengusik tentu gajah-gajah atau hewan lainnya masih bia menikmati habitat asli mereka dan tidak pula mengganggu kita.
Satu fakta lagi yang membuat kerut di kening saya terbentuk. Saya adalah penyuka kopi juga seperti Rachel dan saya penyuka kopi luwak (yang instan itu, hehe) dan penjelasan Rachel membuat saya dilema.
Para pecinta kopi luwak harus memikirkan satu hal. Faktanya, sebagian luwak-luwak liar itu dimasukkan ke kandang khusus. Mereka dipaksa diet dan hanya memakan biji-biji kopi. (hlm 170)
Kan, kasian luwaknya….
Disamping mengangkat tema alam dan gajah, novel ini mengangkat kisah cinta yang menurut saya manis sekali. Kamu harus baca deh. Sekarang jarang sekali novel remaja yang mengangkat tema alam, dan saya suka sekali tulisan mbak Riawani dan mbak Shabrina ini.
Pertama saya mengira gambar laki-laki dan perempuan di sampulnya memakai seragam pramuka, sebagai anak pramuka tulen *syaelah saya langsung tertarik dengan buku ini, tapi itu adalah seragam mahout kayaknya. Hehehe.
Kenapa judulnya Rahasia Pelangi tapi malah menceritakan tentang gajah? Itu pertanyaan saya selama membaca novel ini, tapi seperti saya, kamu harus baca tuntas bukunya untuk dapat pelangi itu. Hihihi.
Ini novel yang beda. Sebagai novel remaja, ia bukan sekadar menyuguhkan kisah cinta berbunga. Ada pesan penting tentang lingkungan hidup yang menapasi sekujur cerita. Tentang semakin menipisnya populasi hewan-hewan yang dilindungi, tentang pembalakan hutan, tentang asap akibat kebakaran hutan, tentang terganggunya habitat para gajah, tentang bentrokan gajah-gajah liar dengan masyarakat, tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Eit, jangan mengira ini novel yang penuh nasehat dan petatah-petitih. Kesemua pesan mulia itu terbungkus apik dalam jalinan cerita yang asyik. Ada bagian kisah lembut dan menyentuh saat sudut penceritaan ada di Anjani. Ada juga bagian yang menggelitik, enerjik dan bersemangat kala sudut pandang berada di Rachel.
Anjani dan Rachel adalah dua tokoh utama dalam novel ini. Anjani seorang mahout (pawang gajah), sedang Rachel adalah seorang pegiat lingkungan hidup. Keduanya bertemu di Taman Nasional Tesso Nilo, Lampung, tempat perlindungan para gajah.
Mungkin ada yang belum tahu apa itu mahout? Novel ini akan menjelaskannya dengan baik. Demikian pula beragam pengetahuan lainnya yang bertebaran sepanjang cerita.
Novel yang ditulis oleh dua orang novelis berpengalaman ini, merupakan novel paket komplet. Romancenya dapet, informasi pengetahuan lingkungannya pun dapet.
Nggak usah mikir lama, segera aja beli novel ini, dan temukan sensasi serunya berada di alam serta kisah dua cinta yang berbeda. Yang satu, kisah cinta yang lembut, serta satunya lagi cerita cinta yang bikin greget.
Salut buat kedua penulis yang berhasil menyatu dalam cerita keren ini.
"Alam memberi banyak hal daripada yang ia dapatkan. Sementara, kita mencari banyak alasan untuk memberi pada alam." (hal.7) Quote pada awal bab di novel Rahasia Pelangi ini, menggambarkan tentang betapa egoisnya manusia dalam menjaga alam dan pemanfaatannya. Manusia lebih sering memanfaatkan alam dengan sesuka hati tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi selain pada kehidupan makhluk yang lain. Padahal seharusnya, manusia sadar. Mereka hidup di dunia ini tidak sendirian. Ada makhluk lain yang juga tumbuh di alam.
Sebuah novel yang dikemas apik dengan bahasa ringan dan mudah dicerna. Setting dalam novel ini diceritakan dengan menarik. Membuat pembaca seolah ikut menyatu dalam cerita. Novel ini mengajak kita kembali ke alam. Mencoba mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan gajah. Apa yang harus kita lakukan untuk melindungi habitat mereka dan apa yang harus dilakukan untuk melestarikan alam. Bahwa segala kekacauan yang terjadi bisa jadi semua itu bermula dari ulah manusia yang terlalu serakah.
Kalau versi aku, novel ini tergolong inspiratif. Membacanya, kita jadi kaya informasi. Dari perlindungan gajah, konflik lingkungan, sampai urusan hati. Soal setting, nggak usah ditanyalah, berasa ikut bertualang langsung ke Tessa Nilo. Penokohan juga, keren bangetlah. Nggak ada protagonis, antagonis, semuanya manusia biasa dengan level tangis tawa yang pas.
Judul buku: Rahasia Pelangi Penulis: Riawani Elyta dan Shabrina Ws Penerbit: GagasMedia Cetakan, tahun terbit: Pertama, 2015 Tebal: x + 326 halaman ISBN: 979-780-820-3
:: Dua Konflik di Tesso Nilo ::
Anjani memiliki trauma masa lalu tentang gajah, kala masih anak-anak. Dan bertahun kemudian, saat dia beranjak dewasa, untuk membunuh traumanya, Anjani justru memutuskan menjadi seorang mahout. Dan Chay, salah satu mahout senior asal Thailand yang pendiam mengetahuinya juga. Bahkan telah diam-diam memerhatikan Anjani, sedari mereka bertemu pertama kalinya di Way Kambas.
Sama sekali tak ada rasa dari Anjani untuk Chay, tapi sejak ia membantu Chay menangani Rubi—gajah betina--yang hendak melahirkan pandangannya berubah. Bodohnya, Anjani tidak kunjung menyadari atau mau mengakui rasanya sendiri. Hingga satu rombongan kecil dari CWO (Change World Organization) berkunjung ke Tesso Nilo dengan tujuan survey untuk Forest Camp yang akan mereka adakan. Dan Rachel salah satu dari rombongan itu anehnya bisa cepat akrab bahkan setiap hari semakin dekat dengan Chay (hal. 98-103). Lalu Anjani malah semakin menjauhi Chay, juga lagi-lagi tanpa dia sadari, Rachel yang blasteran itu pun dia benci.
Membaca Rahasia Pelangi yang ditulis duet ini membuat saya bolak-balik membuka kertas termasuk mengamati lamat-lamat halaman ucapan terima kasih. Penasaran dengan bagian mana ditulis oleh siapa. Sebab dari penuturunnya tidak terlihat beda. Dari 'simbol' dedaunan dan atap tenda sirkus-lah, akhirnya dengan sok tahu saya simpulkan Riawani menulis bagian Rachel, sedangkan Shabrina bagian Anjani. Ya, novel ini memiliki dua sudut pandang penceritaan: Anjani dan Rachel.
Banyak hal yang membuat mata pun hati menghangat dari Rahasia Pelangi ini. Terlebih pada paragraf-paragraf yang mendeskripsikan perilaku gajah. Seperti saat Beno mengulurkan belalai, menepuk lembut kepala Anjani, menaburkan daun kering ke atas kepalanya, kala gadis itu dilanda resah. Benar-benar membuat saya ingin bersahabat juga dengan gajah.
Selain konflik hati Anjani, Rahasia Pelangi juga mengisahkan tentang konflik antara gajah-manusia. Saya bahkan secara khusus (didorong rasa ingin tahu) googling tentang Tesso Nilo. Konflik itu memang sering terjadi dan sudah sejak lama. Setting waktu novel ini pun di halaman awal-awal disebut pada tahun 2012. Dan image bagaimana iring-iringan Tim Flying Squad menghalau gajah liar berlatar hijaunya hutan pun dapat terbayang.
Dengan plot konflik itu juga, Rachel mengalami kecelakaan: diserang gajah liar. Anjani yang merasa bertanggung jawab akan kejadian itu, diliputi bersalah terus menerus.
Saya pikir, barangkali novel ini bisa dihadiahkan kepada para mahout di Tesso Nilo. Karena jika saya menjadi salah satunya, merupakan hal yang sangat berharga sekali bila keseharian kami bisa tertuang dalam novel.
Ah, kembali ke kisah Anjani dan Rachel, bagaimana akhir dari konflik hati mereka? Siapa yang kemudian bersama Chay? Konon, cinta jatuh tak pernah terlalu jauh .... (potongan quote di sampul muka novel) :)
Judul buku: Rahasia Pelangi Penulis: Riawani Elyta & Shabrina Ws Editor: Bernard Batubara & Yulliya Desainer sampul: Mulya Printis Penerbit: Gagas Media Tahun terbit: 2015 Tebal buku: x + 326 halaman ISBN: 979-780-820-3
--------------------------------------
Nah, kali ini saya akan menuliskan review tentang novel #rahasiapelangi.
Dimulai dari penampakan kaver bukunya, bisa dibilang pas. Keselarasan warna sama judul benar-benar menggugah selera untuk segera menikmati lembaran demi lembaran kisah di dalamnya. Maklum, saya suka hal-hal yang berwarna-warni. Maka, untuk kaver dari novel #rahasiapelangi, layak mendapatkan satu bintang.
Novel ini berkisah tentang perjalanan Anjani menjadi seorang mahout (re: pawang gajah), yang punya trauma dengan sirkus dan gajah di masa lalu. Lalu, juga ada Rachel yang bekerja di CWO -- Change World Organization -- yang terlibat konflik perasaan antara Anjani dan Chay.
Dalam novel ini, sang penulis mampu memaparkan dengan baik isu lingkungan secara fiksi dalam setiap momen yang dialami oleh tokoh-tokohnya. Tidak salah, semua permasalahan lingkungan yang jadi perhatian dirampungkan jadi satu. Kita seperti ada dalam cerita. Ikut mengamati hal-hal yang terjadi seperti; konflik antara warga dan gajah, proses melahirkan dan merawat gajah, kerusakan hutan oleh manusia, dan tentu saja, membaca novel #rahasiapelangi menambah ilmu kita tentang lingkungan. Dua bintang untuk ini.....
Novel ini juga berisikan kutipan-kutipan yang menyentuh perasaan. Saya pribadi suka. Karena, selain membahas tentang teguran untuk manusia atas alam yang rusak, juga memberikan macam-macam kutipan yang berkaitan dengan harapan dan perasaan. Satu bintang lagi untuk #rahasiapelangi.
Mungkin, di lain waktu, saya akan menjadi penikmat buku duet antara kak Riawani Elyta sama kak Shabrina WS.
Nah...
Untuk kamu yang pengen hunting buku, boleh deh #rahasiapelangi menjadi salah satu buku pilihanmu di dalam rak belanja, ya. Dijamin tidak akan menyesal.
#rahasiapelangi mengajak kita untuk saling mengingatkan agar menjaga anugrah yang diberi cuma-cuma oleh sang pencipta kepada kita.
Alam yang rusak, belum tentu bisa dikembalikan. Hendaknya kita sadar, kalau terkadang, karena keegoisan manusia, kita merusak tempat hidup makhluk lain yang sama berhak atas lingkungan yang ada di sekitar kita.
Selesainya tadi pagi, updatenya baru sekarang.... :D
Mungkin sebagian orang yang tahu kalau novel ini mengangkat cerita mengenai hewan gajah, akan merasa kisah ini tak bagus. Beranggapan, "Apa bagusnya cerita mengenai gajah?" Awalnya, saya juga berpikiran demikian. Bahkan, kupikir POV dari kisah ini adalah si Gajah *digeplak*
Duh, sebenarnya saya sudah bikin review panjang, tapi saya hapus. Saya takut membuat teman-teman jadi tak terkejut lagi dengan isi ceritanya :D
Sedikit gambaran mengenai tokoh Rachel dan Anjani dalam novel ini. Rachel perempuan "magnet" kalau saya boleh menyebut begitu. Karena sosok Rachel yang mudah bergaul membuat kebanyakan orang akan nyaman di dekatnya, dan membuat perempuan lain iri *saya salah satunya* Sedangkan Anjani perempuan yang lebih pendiam dan pemalu *saya nih!* HAHAHA Kedua perempuan ini mencintai alam, berupaya keras untuk kelangsungan kehidupan hewan, terutama gajah.
Dalam novel ini saya paling suka pasangan Anjani dan Chay, mereka benar-benar manis. Bagaiamana ya cara menggambarkannya? :D Intinya, kisah mereka akan membuat kalian senyum-senyum sendiri. Dari bab awal POV Anjani saya sudah bisa menebak siapa yang menulis, karena beberapa bulan sebelumnya sudah membaca dua novel penulisnya, dan perasaan halus dan manis itu muncul.
Intinya, membaca kisah ini benar-benar tidak rugi. Selain cara bertutur Mbak Riawani Elyta dan Mbak Shabrina "aku banget", juga karena sedikit banyak kita akan tahu mengenai Gajah. Saya aja baru tahu kalau gajah punya kuku dan harus dipotong :D Saya penasaran alat pemotong kukunya seperti apa :D
Rachel dan Anjani, dua tokoh yg menjadi point of view cerita, dengan dua karakter berbeda yg diceritakan dgn indah. Setting Taman Nasional Tesso Nilo juga sangat apik. Kehidupan gajah, tokoh lainnya-Chay dan Febri punya porsi karakter penting yg gak bisa dilepaskan dr cerita. Semuanya bersatu dgn cantik.
Rahasia Pelangi merupakan karya Riawani Elyta dan Shabrina WS yang terbitkan oleh Gagas Media pada tahun 2015 di Jakarta Selatan. Novel ini menjadi salah satu novel yang unik dan berbeda dari karya fiksi biasa. Tidak hanya mengisahkan tentang romansa cinta anak-anak muda, di dalam novel Rahasia Pelangi juga tertanam nilai-nilai luhur untuk menjaga alam dan habitatnya. Novel ini banyak mengulas tentang aspek ekologi atau hubungan manusia dengan alam lingkungannya. Manusia seringkali memperlakukan alam sebagaimana sebagai sumber penghidupan, tetapi di sisi lain mereka juga mengorbankan alam untuk kepentingannya sendiri. Novel Rahasia Pelangi menjadi salah satu cerminan atas bagaimana tindakan manusia terhadap alam lingkugannya. Novel ini mengisahkan tentang perjuangan dua orang gadis bersama para mahout yang menjalankan misi penyelamatan lingkungan di Hutan Teso Nilo, Riau. Mengambil latar belakang peristiwa tentang pelestarian konservasi gajah di Taman Nasional Teso Nilo, cerita yang disuguhkan di dalam novel ini tentu saja menarik perhatian terutama para pembaca di bidang akademisi lingkungan, seperti aktivis lingkungan hidup.
Dasarnya sih saya lebih ke pengen baca tulisannya Mbak Shabrina Ws. Soalnya kalau beliau bikin quote-quote gitu tuh saya suka. Dan beberapa kali baca blog beliau selalu suka dengan tulisannya. Ditambah duet dengan Mbak Riawani yang juga saya suka tulisannya, makin lengkaplah rasa ingin memiliki buku ini.
Belum lagi tema yang membahas gajahnya. Makin bikin unik novel ini. Pasalnya jarang banget kan ada yang bahas tentang satwa gajah di novel. Makanya dulu sempat ngira ini buku anak, eh ternyata bukan haha.
Jadi buku Rahasia Pelangi ini bisa dibilang nggak jauh-jauh dari tema cinta utamanya. Tapi Mbak Shabrina dan Mbak Ria, pandai sekali mengangkatnya bersamaan dengan tema gajah dan alam.
Dari awal membaca blurb novel ini, ditambah dengan cover-nya yang memvisualisasikan animasi gajah dengan sepasang anak menyentuh belalainya, saya sudah cukup tertarik. Saat membaca, saya dibuat terpikat dengan penggambaran dan fakta-fakta yang ada dengan mengusung tema tentang permasalahan hewan gajah. Riset yang dilakukan oleh kedua penulis ini patut diberi apresiasi. Jika novel ini masuk dalam kategori fiksi remaja, maka inilah novel yang tidak hanya menekankan melulu soal percintaan dan embel-embelnya, melainkan mengenalkan lebih jauh pada pembaca (terutama remaja, seperti saya), tentang lingkungan dan pelestarian hewan gajah serta konflik-konflik yang terjadi antara hewan dan manusia yang pernah terjadi. Konflik percintaannya juga berbobot, walaupun pada beberapa bagian, saya menemukan hal yang klise dan terlalu umum diceritakan. Penyelesaian antara Rachel dan Febri juga seakan dibuat menggantung, jadi pembaca kurang bisa melepas 'beban' yang ada selama menyelami kisah mereka. Tapi, secara keseluruhan, novel ini cukup mengesankan. Sangat-sangat menambah wawasan tentang lingkungan, alam, dan lebih khusus hewan gajah. 4 bintang untuk novel ini!