Teuku Nanta Seutia sudah syahid di jalan Allah, gugur membela tanah air yang dicintainya dari injakan para penjajah. Namun perjuangan belum berakhir, masih banyak tunas-tunas muda dengan tekad membara meneruskan perjuangannya.
Salah satunya adalah Cut Nyak Dien, sang mawar dari bumi rencong, putri Teuku Nanta. Dengan selalu mengingat pesan sang ayah, Cut Nyak Dien meneruskan perjuangan melawan Belanda. Apa pun risikonya. Dien tak akan menyerah sebelum Belanda angkat kaki dari Aceh atau darahnya yang tertumpah membasahi bumi yang dicintainya.
“Sayf Mohammad Isa akan membuat cemburu penulis se-Indonesia. Memanggungkan spirit Hikayat Perang Sabil dan Cut Nyak Dien dalam novel adalah capaian yang tak sanggup dilakukan banyak penulis berbagai generasi.”
Dalam sejarah penjajahan Belanda di Eropa yang pernah mengalahkan Inggris, di Afrika, Amerika Latin dan Asia Tenggara; Belanda tidak pernah mengumumkan perang secara resmi, terkecuali kepada Aceh. Ini berarti perang melawan Aceh merupakan pengecualian dari segala perang yang pernah dilancarkan Belanda di atas belahan dunia.
Perang Aceh termasuk ke dalam sepuluh perang terlama di dunia. Pada tanggal 26 Maret 1873, Kerajaan Belanda mengeluarkan Pernyataan perang dengan resmi atas kerajaan Aceh. Maka pasukan Belanda dibawah pimpinan Jendral J.H.R Kohler pada tanggal 5 April 1873 mulai menyerang Aceh. Pasukan Belanda memusatkan serangannya pada Masjid Raya Baiturrahman. Setelah pertempuran berlangsung beberapa lama, Masjid Raya Baiturrahman terbakar dan dapat dikuasai Belanda. Dalam pertempuran tersebut Jendral Kohler tewas. Meskipun Masjid Raya Baiturrahman dapat dikuasai Belanda, namun hal itu tidak berlangsung lama. Belanda semakin terdesak dan pergi meninggalkan Aceh pada tanggal 29 April 1873.
Namun kemudian Belanda datang lagi. 24 Desember, 1873 Belanda kembali menyerang Aceh dengan mengerahkan serdadu upahannya dari Jawa, Madura, Manado dan Maluku. Mereka juga menyewa ribuan penjahat dari Penjara Swiss, Prancis dan termasuk penjahat dari Afrika untuk dikerahkan mempertaruhkan nyawa mereka di Aceh. Kedatangan kembali Belanda ke Aceh dipimpin oleh Jendral J.Van Swieten. Belanda berhasil menguasai istana dan dijadikan daerah pertahanan. Walaupun istana dapat dikuasai Belanda, namun perlawanan rakyat Aceh terus berlangsung. Di bawah pemimpin-pemimpin Aceh seperti Panglima Polim, Teungku Chik Di Tiro, Teuku Ibrahim Lamnga, Cut Nyak Dien, Teuku Umar dll, rakyat Aceh terus berperang melawan kedzaliman dan penjajahan Belanda. Setelah terjadinya perang periode ke II ini, maka perang melawan Belanda tidak berhenti sampai kemudian Belanda melarikan diri dari Aceh tahun 1942.
Sebuah buku cerita yang indah secara bahasa. Namun dongeng perang sabilnya mengecewakan. Narasi pertarung di medan pertempurannya monoton dan membosankan. Selain itu aku sebenarnya berharap buku ke-2 ini lebih banyak bercerita tentang perang gerilya yang dijalankan Cut Nyak Dien. Pada kenyataannya kisah hidup perempuan perkasa itu bahkan tak memakan satu bab novel ini. Sungguh berbeda dengan judulnya.
Buku yg membuat saya benar2 mengetahui alur dan perjuangan rakyat Aceh. Buku ini membuat saya dpt merasakan getir, takut, dalam peperangan tsb. Salut untuk Pahlawan Pahlawan yg turut berjuang❤️
Kekuatan senjata tak akan mampu menandingi kekuatan semangat dan kekuatan iman orang-orang Aceh ..
Lanjutan dari buku sebelumnya yaitu "Sabil", dimana di buku sebelumnya ksatria2 Aceh dapat memenangkan perang dengan mengobarkan Perang Sabil, tetapi di buku ini walau telah dikobarkan Perang Sabil, namun apa daya ternyata kekuatan Belanda berlipat2 ganda sementara bantuan yang diharapkan dr Kekhalifahan Turki Utsmani tak kunjung tiba bahkan tak akan tiba ..disampin itu terjadi beberapa pengkhianatan serta mungkin kelelahan akibat perang ..
Namun tentang Cut Nyak Dien nya sendiri .. kok terasa hanya sebagai peran pembantu ya??
Novel ini benar-benar membuat pembacanya bisa membayangkan detil-detil setting cerita pada setiap situasi. Tidak pernah memberi celah sedikitpun untuk menceritakan momen ataupun keadaan tokoh secara rancu, karena pada akhirnya semuanya diperjelas statusnya. Misal apakah tokoh A berlaku demikian untuk berkhianat, apakah situasi X benar-benar menjadi ancaman, dsb dsb. Hal yang paling membuat kisah dalam novel ini berbekas adalah ketika ternyata di setiap malam cerita dalam novel karya Syaf ini terbawa ke dalam mimpi :3 seru, tapi tegang, dan ketika terbangun maka sebagian badan akan pegal-pegal. Epik! Barakallah kang Sayf :)