Hasan Bashri adalah manusia yang memiliki ucapan paling menyerupai ucapan para nabi, dan orang yang memiliki petunjuk paling mendekati petunjuk para sahabat. —Imam al-Ghazali, Ulama Besar Persia, Pengarang Kitab Ihya` Ulumiddin
Ketika Hasan Bashri muncul, maka ia seolah datang dari akhirat lalu memberitahukan apa yang ia saksikan sendiri di sana. —Mathar al-Warraq, Perawi Hadis
Hasan Bashri adalah seorang yang jami` (penghafal alQuran), alim, luhur, ahli fikih, ahli hujjah (kuat argumennya), tepercaya, ahli ibadah, luas ilmunya, fasih dan tampan. —Muhammad ibn Sa’ad, Penghafal Hadis dan Ahli Fikih
Dia adalah orang yang batinnya paling serupa dengan lahirnya. Ucapannya paling serupa dengan perbuatannya. —Khalid bin Shafwan, Tabiin
Sejak Islam hadir, aku tak pernah mengetahui shalat (jamaah) ditinggalkan selain hari itu (wafatnya Ibnu Tamiyah), karena semua orang ikut menggiring jenazah, hingga tak ada yang mengerjakan shalat Asar di masjid. —Hamid ath-Thawil, Perawi Hadis
Nasihat imam Hasan al Basri tidak akan pernah lekang dimakan zaman. Meskipun sudah berabad-abad silam, nasihat beliau tetap relevan dengan kehidupan manusia saat ini.
Sebetulnya saya sudah mulai baca buku ini dari dua bulan yang lalu, tapi lalu saya abandon di tengah jalan, haha. Lalu karena diminta Ustz saya untuk bawa buku ini ke halaqah minggu depan, jadi termotivasi lagi untuk nyelesaiin.
Buku ini satu series dg buku lain dari penerbit Turos yg sebelumnya juga sempat saya baca, untaian nasihat dari Ibnu Taimiyyah. Secara konsep, buku ini semacam kumpulan petikan perkataan Hasan Al-Bashri yang dikutip dari banyak kitab lain. Jadi bukan kitab utuh beliau, tapi lebih seperti rangkuman mutiara-mutiara nasihatnya.
Ada banyak sekali bagian di buku ini yang langsung ngena. Salah satu yang paling membekas buat saya adalah perkataan Hasan Al-Bashri tentang orang yang sibuk bekerja keras mengumpulkan harta, tapi pada akhirnya tidak mendapat manfaat apa-apa dari harta itu. Bisa jadi ia wafat sebelum sempat menikmati atau memanfaatkannya, lalu harta itu diwariskan. Lalu datang orang yang menerima harta warisan itu, yang bahkan tidak bekerja untuk mendapatkannya, tapi hatinya tergerak untuk menginfakkan harta tersebut. Akhirnya justru dia yang mendapatkan pahala dan kebaikan dari harta itu. Sementara orang yang mengumpulkan harta tadi, bersusah payah seumur hidup, tapi manfaatnya justru berpindah ke orang lain.
Bagian itu cukup lama membuat saya terdiam. Seperti diingatkan lagi tentang betapa sementara dunia ini, dan betapa niat serta bagaimana kita menggunakan harta jauh lebih penting daripada sekadar mengumpulkannya.
Masih banyak quote lain yang juga kuat dan menohok. Hanya saja, dalam banyak tema, kutipannya sangat pendek. Kadang sebagai pembaca saya merasa belum sepenuhnya menangkap gambaran utuh hikmah yang ingin disampaikan oleh Hasan Al-Bashri. Ditambah lagi, terjemahannya terasa agak kaku di beberapa bagian, jadi perlu dibaca pelan-pelan supaya benar-benar paham maksudnya.
Overall menurut saya buku ini masih cukup recommended untuk dibaca, terutama sebagai pengantar. Cocok untuk yang ingin mulai kenal pemikiran dan nasihat para ulama salaf secara ringan. Tapi tetap, jangan berhenti di sini. Akan sangat baik kalau lanjut membaca kitab aslinya secara utuh supaya dapat pemahaman yang lebih dalam dan lebih utuh, bukan hanya potongan-potongan hikmah saja.