Buku kelima dari seri Cerita Kenangan ini menceritakan si Aku atau pengarang Nh. Dini yang tumbuh menjadi remaja. Dia menghidupi masa Sekolah Menengah Atas (SMA) Bagian A/Sastra sebagai anak seorang janda tanpa santunan. Di kala itu pula bakat seninya berkembang, disertai latihan-latihan dan pemupukan pengetahuan umum lewat bacaan berbobot maupun ringan yang ada di perpustakaan kotanya. Selain rajin membaca, menulis cerita pendek, dan naskah sandiwara radio, Dini juga giat berkecimpung di bidang teater (yang waktu itu disebut sandiwara) serta kesenian tradisional (gamelan, tembang, dan tari Jawa). Sementara itu, nilai-nilai kehidupan berubah.Suasana kampung dan mental penduduknya bergeser. Tata cara pergaulan semakin kurang memperhatikan perasaan dan kesopanan. Manusia lebih mementingkan kebutuhan dan kepuasan diri sendiri atau golongan daripada peduli terhadap orang lain. Semua pengalaman membaca dan pengamatannya atas kehidupan di sekitarnya dia tampung dan dia cerna. Ditambah asahan pendidikan fisik dan rohaniah keluarga, Dini mampu menuangkan hasil pemikirannya ke dalam karya tulisnya di masa itu. Kumpulan cerita pendeknya yang berjudul Dua Dunia terbit ketika dia duduk di kelas tiga SMA.
Nh. Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin) started writing since 1951. In 1953, her short stories can be found in most of national magazines like Kisah, Mimbar Indonesia, and Siasat. She also writes poems, radio play, and novel.
Bibliography: * Padang Ilalang di Belakang Rumah * Dari Parangakik ke Kampuchea * Sebuah Lorong di Kotaku * Jepun Negerinya Hiroko * Langit dan Bumi Sahabat Kami * Namaku Hiroko * Tirai Menurun * Pertemuan Dua Hati * Sekayu * Pada Sebuah Kapal * Kemayoran * Keberangkatan * Kuncup Berseri * Dari Fontenay Ke Magallianes * La Grande Borne
Buku Nh Dini ini menurutku bercerita secara sederhana, lugas dan jujur. Konflik tidak mendaki tajam 'kecuali pada salah satu bukunya Keberangkatan. Namun aku masih selalu ingin menyelesaikan bukunya sampai ke akhir dan selalu berkeinginan membaca bukunya yang lain.
Merupakan buku kelima dari seri "cerita kenangan" , Kuncup Berseri menceritakan Nh. Dini yang tumbuh menjadi remaja semasa Sekolah Menengah Atas (SMA) Bagian A/Sastra sebagai seorang anak seorang janda, Di kala itu bakat seninya mulai berkembang, Dini bergabung dengan sebuah grup sandiwara radio dan tarian tradisional Jawa.
Dini tamat SMP dan melanjutkan ke SMA Sastra. Bersama kakaknya Teguh, ia juga membentuk Kuncup Seri, sebuah kelompok teater yang pada masa itu masih disebut sandiwara dan seringkali tampil di RRI. Kehidupannya adalah kehidupan remaja pada umumnya; sekolah, belajar, membantu ibunya, nongkrong berfaedah dengan teman-temannya. Sebagaimana layaknya gadis remaja sebayanya, Dini juga senang bersolek dan berhubungan dekat dengan banyak teman lelakinya. Yang berbeda dari Dini adalah ketenarannya sebagai penulis, dan masih dengan perangainya yang keras dan pola pikirnya sebagai anak perempuan yang masih cukup langka pada masa itu. Cara pandangnya terhadap perbedaan antara kaum lelaki dan perempuan amat kritis bahkan mendekati memberontak, hampir di sepanjang buku ia menuliskan betapa tidak adilnya lingkungan sosial terhadap kaum perempuan, ia bahkan mengungkapkan penyesalannya terlahir sebagai perempuan. . . . Ah, Dini. Saya begitu iri padanya karena di usia semuda itu, ia sudah tahu apa yang diinginkannya. Ia memiliki bakat yang menonjol dan kekerasan hati yang membuatnya tangguh. Adegan favorit saya adalah saat kelompoknya memenangkan Lomba Sandiwara di RRI untuk kategori Naskah Terbaik, dan begitu saja Dini mengembalikan pialanya; sebuah patung kayu yang begitu buruk buatannya sehingga dianggap menodai harga dirinya. Ia tak peduli pada pendapat orang lain, dan begitu saja memutuskan hubungan dengan orang yang tak disukainya. . . . "...kaum lelaki itu, yang beberapa orang di antaranya mencoba menjadi pengkritik, bermata gelap menulis atau mengatakan apa saja untuk memuaskan hati penjajahnya sebagai laki-laki, sementara itu melupakan dalil obyektivitas. Karena mereka tidak rela ada seorang perempuan yang berani masuk ke dalam lingkungan kerja mereka."
Semenjak buku pertama dari Seri Kenangan Nh Dini, aku bernafsu untuk membaca sepenuhnya cerita kenangan Nh Dini. Buku ini bercerita Dini (yang penulis sendiri) ketika memasuki dunia SMA. Dini mulai merasakan suka dengan lelaki, Dini mulai berkiprah dalam mengarang yang sebenarnya, dan mulai bergejolak pemikiran berhawa feminis.
Aku terhanyut buku ini, begitu detail. Lebih-lebih diceritakan betapa susah payah memulai menjajal dan menawarkan tulisan ke media massa. Terlebih masa itu dunia kepengarangan didominasi oleh kaum lelaki. Di buku ini diceritakan bagaimana Nh Dini menciptakan cerpen pertamanya "Dua Dunia" yang dimuat di Majalah Kisah (Asuhan HB Jassin) ketika kelas 1 SMA. Lantas diceritakan juga beberapa proses kreatif cerpen-cerpennya.
Cerpen pertamanya mendapat perhatian khusus dari HB Jassin. Tetapi Nh Dini menunjukkan kuasanya sebagai penulis,
Pada mulanya aku tidak ingin menjawab 'kritik' tersebut. Kerjaku menulis, terserah pembaca bagaimana menilai kerjaku. Kalau dia mengkritik, itulah kerjanya pula. Kalau dia pembaca biasa, dia menyukai atau tidak, aku tidak perlu mengindahkannya benar. (hal.57)
Nh Dini muda mengkritik bagaimana dunia seniman selalu berhubungan dengan ketidakteraturan hidup (rambut gondrong, tidak rapi, tidak pernah mandi, dll) seperti tersurat dalam halaman 92.
Nh Dini pun mulai menjelaskan bagaimana nilai feminis mulai hinggap di pemikiran dan karya-karya sastranya. Dia mulai mengkritisi mengapa ketika berhubungan seksual, bekas hanya ada dalam pihak perempuan (red:hamil).
Jika seorang laki-laki dan seorang perempuan sepakat untuk tidur bersama, menjalankan puncak tindakan cinta, tidak ada tanda sesuatu yang nampak pada sisi laki-laki sesudah perbuatan itu.Mengapa hanya perempuan yang 'ditinggali' bekas? (hal.158-159)
Selain itu juga Nh Dini keras menanggapi ketidak sepakatan hati. Bahkan beberapa kali disinggung bahwa Nh Dini akan lekas melupakan orang-orang yang tidak disukainya karena pernah menyakiti hatinya.
membaca curhat hidup NH. Dini ketika remaja, lebih tepatnya ketika dia menduduki bangku SMA, pada novel ini saya menjadi iri. Jika dibanding dengan remaja hari ini atau pada jaman saya beberapa tahun dulu yang tidak banyak menghasilkan karya apalagi seni.
Sekolah menengah pada jaman dulu tidak sebanyak sekarang tetapi terlihat bedanya kesadaran remaja pada jaman dulu akan perlunya pendidikan dan sekolah. mereka punya pilihan ingin sekolah atau tidak? merasa sadar akan perlu sekolah atau tidak? disamping faktor biaya dan banyaknya pilihan yang bisa mereka kerjakan, remaja jaman dahulu lebih produktif dibanding remaja jaman sekarang. saya sangat jarang mendengar remaja jaman sekarang yang mau menulis sastra seperti kebanyakan remaja pada tahun hidup penulis. remaja mana saat ini yang tertarik dengan budaya? teater? atau bacaan serius?
review saya jadi skeptis bernada curhat dan melenceng dari isi buku :D ya rapopo to? kebanyakan dari kita sekarang ini juga mulai bosan dengan band yang berciri seperti itu-itu saja, sinetron, reality show murahan, yang kesemuanya itu jauh dari kekayaan wawasan (tetapi dekat dengan kekayaan owner) hahaha.
Buku kelima dari seri "cerita kenangan" ini menceritakan si Aku atau pengarang Nh. Dini yang tumbuh menjadi remaja. Dia menghidupi masa Sekolah Menengah Atas (SMA) Bagian A/Sastra sebagai anak seorang anak seorang janda tanpa santunan. Di kala itu pula bakat seninya berkembang, disertai latihan-latihan dan pemupukan pengetahuan umum lewat bacaan berbobot maupun ringan yang ada di perpustakaan kotanya. Selain rajin membaca, menulis cerita pendek, dan naskah sandiwara radio, Dini juga giat berkecimpung di bidang teater (yang di waktu itu disebut sandiwara) serta kesenian tradisional (gamelan, tembang, dan tari Jawa). Sementara itu, nilai-nilai kehidupan berubah. Suasana kampung dan mental penduduknya bergeser. Tata cara pergaulan semakin kurang memperhatikan perasaan dan kesopanan. Manusia lebih mementingkan kebutuhan dan kepuasaan dri sendiri atau golongan daripada peduli terhadap orang lain.
Buku ini memuat kisah-kisah perjalanan Ibu Nh. Dini mulai memasuki usia remaja dan duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Disini kita dibawa menuju ketika Ibu Nh. Dini memutuskan masuk ke sekolah SMA Sastra dan mulai sering tampil dalam permainan sandiwara dan di radio RRI kala itu.
Cerita ini ditutup dengan diakhiri ketika Ibu Nh. Dini memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah di perguruan tinggi tetapi mendaftarkan diri sebagai Pramugari di Garuda Indonesia yang tertulis gamblang di buku selanjutnya yang berjudul Kemayoran. XD
Memang buku tipe Nh Dini ini menurutku adalah jujur. Even konfliknya gak 'setinggi' cerita fiksi, tapi aku masih selalu ingin menyelesaikan bukunya sampai akhir. Kuncup berseri ini bercerita fase masa dia SMA Sastra, keadaan dia berjuang dengan grup Kuncup Seri yang nampil di RRI, berjuang dengan idealisme seniman/sastrawan. Semua detail dan deskriptif dengan keadaan saat itu.
Bahasanya memang lugas tapi tepat pada sasaran. Tidak perlu kata berbelit-belit untuk mengutarakan sebuah hal, sangat efisien. Kata yang dipakai guna merangkai sebuah kalimat juga tidak berkesan kuno untuk pembaca dizaman sekarang.
Pagi ini kuselesaikan baca Cerit ini, Kuncup Berseri. Setelah perjalanan panjang melenakan membacanya. Tentang perjalanan masa SMA pengarangnya, tentang keteguhan hati dan pandangannya saat itu. Kompleksitas masalah diceritakan dengan gaya yang kusuka. Melenakan dan asyiikkk. Maka bacalahhhh....
Mengisahkan kehidupan NH Dini pada masa SMA, dimana ia mulai mencintai dunia sastra dan terlibat dalam banyak kegiatan seni yang menempa kemahirannya menulis kelak.