Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seri Cerita Kenangan Nh. Dini #2

Padang Ilalang di Belakang Rumah

Rate this book
Zaman berubah. Belanda diusir dari Nusantara. Bangsa Jepang yang semula dianggap sebagai pemenang dan penyelamat, segera tampak kebengisannya: rakyat lapar dan telanjang. Penyakit busung lapar dan bahan karung atau tenunan jerami yang dinamakan bagor merupakan penutup tubuh yang umum di desa dan pinggiran kota. Dalam suasana kemiskinan yang menyeluruh itu, Dini kecil tetap tumbuh, direngkuh oleh kearifan kedua orangtuanya, dipedulikan dua kakak perempuan yang bertindak sebagai pengasuhnya, dibingungkan oleh kedinamisan yang bercampur bibit-bibit keegoisan pria remaja dua kakak lelakinya, kemudian ditambah kehadiran dua adik sepupu perempuan yang untuk waktu lama akan menjadi sahabat-sahabatnya. Persengketaan antara para pemuda yang tergabung dalam pasukan Pembela Tanah Air (PETA) dengan pengajarnya, ialah militer Jepang, meletus menjadi serangan bersenjata. Kekacauan itu di kota Semarang menjadi bagian sejarah Tanah Air yang dinamakan Pertempuran Lima Hari. Periode ini meneruskan perkembangan kepekaan Dini, baik dalam menanggapi sifat-sifat manusia di lingkungannya, maupun arahan pendidikan kemanusiaan dan kebudayaan dari orangtuanya. Pada ilalang di belakang rumah keluarga merupakan dunia lain bagi dirinya, karena dia melintasi pagar kebun untuk memasuki bagian alam yang lebih "berbahaya". Namun dia melakukannya demi menangkap belalang untuk binatang kesayangan.... Kisah ini adalah lanjutan dari Sebuah Lorong di Kotaku, buku pertama dari buku-buku seri Cerita Kenangan yang menceritakan perjalanan hidup Nh. Dini.

112 pages, Paperback

First published January 1, 1979

39 people are currently reading
415 people want to read

About the author

Nh. Dini

51 books237 followers
Nh. Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin) started writing since 1951. In 1953, her short stories can be found in most of national magazines like Kisah, Mimbar Indonesia, and Siasat. She also writes poems, radio play, and novel.

Bibliography:
* Padang Ilalang di Belakang Rumah
* Dari Parangakik ke Kampuchea
* Sebuah Lorong di Kotaku
* Jepun Negerinya Hiroko
* Langit dan Bumi Sahabat Kami
* Namaku Hiroko
* Tirai Menurun
* Pertemuan Dua Hati
* Sekayu
* Pada Sebuah Kapal
* Kemayoran
* Keberangkatan
* Kuncup Berseri
* Dari Fontenay Ke Magallianes
* La Grande Borne

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
149 (25%)
4 stars
230 (38%)
3 stars
176 (29%)
2 stars
30 (5%)
1 star
9 (1%)
Displaying 1 - 30 of 61 reviews
Profile Image for winda.
357 reviews14 followers
March 10, 2011
Demikianlah kehidupan terus mengalir.
Dari seluruh isi rumah, ibukulah yang paling terengah-engah. Ia berusaha mengikuti zaman dengan langkahnya yang sempit, tertahan-tahan oleh kain dan kebiasaan adat yang sukar dilepaskan.


Beitulah kenangan NH. Dini ketika serdadu Jepang mulai menggantikan kedudukan Belanda. Kehidupan ekonomi yang sulit ketika masa Jepang, membuat orang semacam Nyonya Bustaman yang termasuk ke dalam strata sosial bangsawan harus rela menjadi bakul rombengan (pakaian bekas). Awalnya Ibu Dini yang juga bangsawan sulit untuk menerima perubahan itu, tetapi melihat kenyataan Nyonya Bustaman maka Ibunya mulai menjadi buruh batik dan menerima pesanan kue kering. Ketika proses perkenalan Kakak pertamanya Heratin dengan seorang pria, sikap Ibunya yang awalnya memberikan banyak batasan juga melonggar. Sikap Ibunya yang tanggap terhadap perkembangan zaman dipuji berkali-kali oleh Dini.

Kenangan Dini kecil melekat dengan kuat ketika dia dan kakak-kakaknya bahu membahu membantu pekerjaan Ibunya juga kenangan akan nama panggilan saudara-saudaranya (Heratin-Lara Ireng, Nuggraha-Manu Pendet, Teguh-Banteng, Maryam -Genuk, Dini-Krupuk),NH. Dini juga mengingat kegelisahannya menantikan tontonan wayang orang dan keseruan menirukan lakon wayang orang yang telah ditontonnya, rahasia antara dirinya dan Maryam tentang padang ilalang, kesulitannya mengucapkan “er”, dan terutama kenangan bagaimana Dini dan keluarganya bisa bertahan dalam peperangan. Perang telah berakhir menyisakan berbagai cerita mengerikan, bagaimana kehidupan Dini setelah peperangan berakhir? Benarkah perang talah berakhir sepenuhnya? Cerita kenangan ini masih terus berlanjut.

Buku ini, merupakan buku kedua dari seri cerita kenangan NH. Dini yang terdiri dari lima buku. Dalam buku ini, Dini tetap menceritakan kenangan masa kecilnya dengan detail dan jujur.

Kedekatannya keluarganya dengan keluarga Bibi dan Paman Iman Sujahri membuat Dini dekat dengan putri pertama mereka, Edi Sedyawati. Seringkali Dini menginap di rumah pamannya dan bergitupula sebaliknya, dikisahkan bahwa suatu waktu Dini perlu menginap beberapa minggu karena bibinya melahirkan dan saat itu Dini merasakan bagaimana rasanya kelaparan,ketika kembali ke rumahnya Dini menggambarkannya dengan perasaannya.

Rumah kami yang lindung, betapun buruk dan tuanya,lebih ramah dan akrab daripada gedung besar kediaman sepupuku. Kebun kami yang tidak teratur, merupakan kawan yang setia dan dermawan, memberi berbagai buah segar, menerima kami bermain di bawah naungan pohon-pohonnya yang penuh ranting dan daunan. Aku juga menemukan kembali si jalak, kucing-kucingku, itik dan ayam yang ribut, Yng justru menggambarkan suasana keluarga dan rumah tangga. Tentu saja, padang ilalang yang memigiri kali di belakang rumah kami.

Mungkin karena tergolong keluarga yang bangsawan maka kekejaman dan kesulitan hidup pada masa penjajahan Jepang tak begitu ketara disini; selain berkurangnya jumlah pembantu di rumahnya dan Ibunya yang perlu bekerja mencari nafkah..
Juga karena masih anak kecil yang harus berlindung dan berada di tempat aman ketika peperangan terjadi maka suasana perang yang digambarkan kurang mencekam. Akan tetapi, tetap saja buku ini tetap menarik untuk dibaca.
Profile Image for Akrom Alfathih.
16 reviews1 follower
May 23, 2019
Dari buku ini kita mengetahui bagaimana keadaan saat pasukan jepang datang menjajah hingga akhirnya pulang dari daerah desa yang tidak separah di kota-kota besar namun tetap saja menimbulkan kerusuhan yang parah. Di balik itu dibalut dengan kisah keluarga dari mendiang Nh Dini saat masih kecil yang sangat hangat.
Profile Image for Lia.
7 reviews
January 7, 2013
NH Dini adalah pengarang favorit sampai sekarang. Pertama kali liat buku ini pas di perpustakaan SD yang kondisinya sangat memprihatinkan, penuh debu dan buku ini tidak berada di bagian depan. Membaca buku ini bagaikan larut dalam kehidupan penulis ketika kecil. Tulisan2 NH Dini memang enak dibaca, plot nya mengalir...sayang sekali seri selanjutnya baru bisa saya baca ketika SMP karena akses pada waktu saya kecil tidak memungkinkan untuk mencari buku ini di toko buku semacam Gramedia. Setelah membaca buku ini, pasti akan penasaran dengan buku2 nya yang lain.
Profile Image for Sads.
68 reviews6 followers
January 30, 2023
Terbaca nada kekanakan pada penuturan kisahnya, kumaksudkan itu sebagai pujian karena telah menyentuh bagian sentimental dan memberi kesan familiar ketika membacanya.

Aku tidak memahami secara menyeluruh periodisasi Sastra Indonesia, namun dari beberapa karya sastra modern penulis lama, baru satu ini yang memberi impresi ringan dan mengasyikkan saat dibaca; mengisahkan kehidupan sehari-hari dalam lingkup domestik dari sudut pandang seorang anak perempuan keluarga rakyat biasa di Jawa Tengah, Dini, pada masa pendudukan Jepang.

Entah kesengajaan atau memang secara alami tertuang, karya-karya penulis lawas seringnya dipenuhi isu-isu rumit dimengerti oleh pembaca dengan latar belakang masyarakat awam sepertiku; tidak mengetahui seluk-beluk konteks sejarah pada latar tempat dan waktunya. Seakan ada prasyarat untuk pembaca agar memiliki berpengetahuan luas lebih dulu sebelum mencerna karya mereka.

Karya Nh. Dini yang pertama kubaca ini sama sekali mengangkat tema lain dari karya seangkatannya. Dengan caranya menyaji cerita kehidupan domestik masa tersebut, malahan memberikan stimulasi kesegaran. Walau memerlukan beberapa belas halaman dengan perlahan, untukku sampai ke tahap nyaman, menikmatinya tanpa tekanan.

Di antara sekian banyak cerita-cerita membahas carut-marut negara yang masih muda umur kemerdekaannya; dengan tema berisi kisah bermacam bentuk perjuangan dan pengorbanan yang dilalui tokoh-tokoh penggulir peradaban. Belum banyak yang sudah kubaca, namun daftar bacaan dengan tema tersebut benar-benar terlalu banyak, terlalu panjang, melewati batas jenuh. Baru melihat judulnya saja langsung bikin menggerutu, lagi-lagi bahas itu lagi.

Mungkin persoalan selera saja. Aku tidak berminat menggeluti catatan-catatan lika-liku sejarah, biarlah terjaga oleh mereka yang terdidik atau mereka yang kebetulan lahir dalam lingkar sosial yang mampu memberikan akses istimewa hingga mereka turut andil pada perubahan zaman.
“Biasanya kanak-kanak cepat mengetahui kekurangan-kekurangan orang lain. Tetapi mereka juga cepat melihat mana-mana yang patut disenangi maupun dibenci.”

Kutipan ibu Dini cocok sekali buat orang bermental sepertiku.

Kisah personal dari rakyat umum biasa-biasa saja, realisme kontemporer pada periode hidup mereka; merupakan kesegaran dari jenuhnya kisah para tokoh heroik.


cocok untuk pembaca; yang menginginkan bacaan ringan tema sejarah tanpa ada tekanan untuk sepenuhnya paham lika-liku sejarah.
tidak cocok untuk pembaca; fiksi sejarah penuh aksi dengan gambaran heroik menempel ke karakteristik tokoh-tokohnya.
Profile Image for Nourman Yafet Goro.
99 reviews7 followers
November 14, 2024
Buku ini berisi nostalgia akan kehidupan keluarga sang penulis pada masa penjajahan Jepang. Bukan menceritakan momen heroik yang dihadapi masyarakat pada saat itu, melainkan kehidupan sederhana sebuah keluarga yang berusaha melewati berbagai peristiwa yang kemudian menjadi sebuah sejarah. Dituturkan dengan gaya khas sang penulis yang akan membuat pembaca merasakan perasaan yang hangat dan ditutup dengan perasaan yang pilu.
Profile Image for H-vid.
2 reviews1 follower
May 23, 2012
IDENTITAS NOVEL
Judul : Padang Ilalang di Belakang Rumah
Pengarang : NH. Dini
Cetakan : Kedua, Tahun 1989
Tebal : 99 halaman
ISBN : 9794030392
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Bahasa : Indonesia
Harga : Rp. 17.500


Kisah novel ini adalah lanjutan dari Sebuah lorong Kotaku, buku pertama dari buku-buku seri Ceria kenangan yang menceritakan perjalana hidup Nh. dini.

Padang Ilalang di belakang rumah keluarga merupakan dunia lain bagi dirinya, karena dia melintasi pagar kebun untuk memasuki bagian alam yang lebih "berbahaya". Namun dia melakukannya untuk menangkap pelalang dengan bersenang-senang untuk binatang kesayangannya.

Zaman telah berubah, Belanda diusir dari Nusantara. Jepang datang dengan ramah. Mareka datang sebagai pemenang dan penyelamat, namun kebengisan mereka mulai tampak. Rakyat kelaparan, menderita dan sengsara. Rakyatpun menjadi semakin miskin, busung lapar merajalela. Didalam kemiskinan itu, Dini kecil tetap tumbuh, dirawat ddengan sabar oleh kedua orang tuanya, dipedulikan 4 kakaknya, kemudian ditambah dua adik sepupu perempuan yang untuk waktu lama akan menjadi sahabat-sahabatnya.

Perang antara PETA dengan jepang terjadi, kekacauan itu sekarang menjadi sejarah yang dinamakan Lima Hari di Semarang. Hari-hari rakyat dipenuhi kecemasan dan kekhawatiran. Seluruh rakyat bersembunyi di lubang perlindungan. Kemudian keadaan menjadi tenang kembali. Ibu berharap ketenangan untuk seumur hidupnya, ibu melihat ke luar pintu. Sekali lagi, kuterka keraguan pandangannya menghadapi hari-hari mendatang. Selesai.
Profile Image for Siti Maslihah.
32 reviews3 followers
January 22, 2014
Buku kedua ini menekankan pada kenangan Dini di masa-masa Pertempuran 5 Hari di Semarang. Bagaimana saat berada di bawah jajahan Jepang, pernikahan Heratih, dan kedekatannya dengan keluarga pamannya.
Setelah membacanya lagi aku baru menyadari sosok yang diperkenalkan pamannya kepada bapaknya di tengah malam itu adalah Wongsonegoro yang entah sudah menjadi Gubernur Jawa Tengah atau belum kala itu.

Tampak di buku ini bagaimana Bapak dan Ibu Dini mendidik putra-putri mereka, dengan gaya cerita tutur kisah-kisah pewayangan di kala bosan dalam penantian akhir perang juga dari pentas dan gelar wayang yang sering mereka hadiri. Such a classic way but really works.

Nh. Dini tak pernah gagal membawaku ke masa kecilnya juga masa kecilku sendiri.

"Selama kau terkemuka dalam hidup ini, ditambah dengan sikapmu sendiri yang sopan, ramah dan sederhana, orang lain akan menghormati dan menyayangimu. Meskipun mereka menyindir atau memperolok-olokkan engkau, itu ditujukan sebagai selingan yang bisa mempererat hubungan."
Profile Image for Fitri Eka.
28 reviews2 followers
September 9, 2024
Sungguh cerita yang hangat! Semacam nostalgia masa kecil.
Kepolosan kanak-kanak: Dini, Edi, Teguh dan Nugroho. Manisnya kisah cinta jaman dulu antara Heratih dan Utono yang membuatku senyum-senyum sendiri. Heratih, kamu beruntung dalam karir dan romansa haha. Juga kekalutan dan mencekamnya suasana penjajahan yang diceritakan dengan ringkas tapi tetap terasa. Apalagi Heratih dan Utono yang nasibnya masih menggantung di akhir cerita.
Yang paling utama adalah, sosok Bu Salyo yang menurutku begitu menginspirasi. Kelembutan wanita Jawa (apalagi keturunan bangsawan kala itu), berpadu dengan keterbukaan dengan nilai-nilai positif perubahan jaman, juga ketegasan sikap.

Namun, dari sekian ulasan positif yang kuberikan, aku belum bisa memberi bintang 5 dari 5, dengan adanya ke-'tidak konsisten'an penggunaan kata Ayah dan Bapak. Jika konsisten dalam menyebut 'Ayah' atau 'Bapak', mungkin aku akan lebih khusyuk membaca, dan memberi skor 5 :D
Profile Image for Lani M.
347 reviews42 followers
November 5, 2014
Padang Ilalang di Belakang Rumah adalah salah satu buku dari seri cerita kenangan NH Dhini berkisah tentang kejadian-kejadian yang ia dan keluarganya hadapi pada masa penjajahan Jepang. Kekuatan narasi NH Dhini selalu terasa dalam setiap bab membawa kita hanyut membayangkan berada di dalam posisinya. Turut berkhayal tentang manis-gurih kue kering buatan Ibunya, senang merasakan hangatnya hubungan keluarga Dini, terenyuh saat membaca kehidupan perekonomian masyarakat yang menurun sehingga mereka yang tadinya bisa ongkang-ongkang kaki di rumah menjadi pedagang asongan, -menjual apa saja yang bisa dijual-, dan was-was ketika membaca bagian perampasan harta yang mengusung "Kepentingan Asia Timur Raya". Hal terpenting dari buku ini adalah kita dapat belajar berempati dan percaya bahwa manusia memang memiliki kemampuan beradaptasi yang hebat atas perkembangan zaman.
1 review
August 12, 2011
The description of each details of the stories are very inspiring. I have read this book seven years ago but I still remember some of the important moments described in this book. This book is amazing!
Profile Image for Mutia.
36 reviews2 followers
September 24, 2018
I always love cerita kenangan Nh. Dini terutama masa-masa dia sebelum dewasa,
I gotta admit I do envy her childhood, masa kecil yang sederhana dan menyenangkan...
4 reviews
January 4, 2019
Membaca narasi yang ditulis rasanya seperti diayun dalam gendongan. Nyaman, mengikuti kata demi kata seperti dongeng nenek.
Profile Image for Awanama.
85 reviews6 followers
November 21, 2016
Padang Ilalang Di Belakang Rumah berisi perubahan cara hidup seorang perempuan bangsawan, perubahan cara hidup suatu keluarga yang kepalanya adalah orang pergerakan, perubahan penilaian seorang lelaki terhadap Jepang, dan diselingi kisah lucu bersahaja yang terjadi pada masa pendudukan Jepang sampai kedatangan Sekutu di Semarang.

Perempuan bangsawan itu adalah Kusaminah, ibu Dini, pencerita dalam buku ini. Dia berasal dari keluarga bangsawan Jawa. Pada awal pendudukan Jepang dia menolak untuk mengubah gaya hidupnya. Dia tidak mau bekerja seperti rakyat jelata. Barulah saat melihat dengan mata kepala sendiri temannya yang dianggapnya sama derajatnya berjualan kain di pinggir jalan, dia sedikit demi sedikit mau membuat usaha batik demi menambah nafkah keluarganya.

Perubahan lainnya tampak dalam sikapnya terhadap percintaan Heratih, anak sulungnya, dengan Utono, seorang pemuda rekan kerja Heratih di kantor telepon. Suatu hari saat Utono melakukan pendekatan, Kusaminah marah-marah karena Utono mengajak Heratih menonton berdua saja di bioskop. Dia tidak tenang anaknya begitu. Gara-gara itu dia sempat bertengkar dengan suaminya yang lebih moderat dalam memandang pergaulan muda-mudi masa itu. Barulah setelah itu Kusaminah lebih maklum terhadap Heratih dan Utono. Misalnya, dia memperbolehkan mereka bepergian asalkan setidaknya ditemani oleh salah seorang adik Heratih.

Lelaki itu adalah Salyowijoyo, ayah Dini. Pada awal kedatangan Jepang, sebagaimana kebanyakan orang, dia merasa mendapatkan harapan akan hidup yang lebih baik daripada zaman Belanda. Dia perseptif melihat perkembangan keadaan. Setelah makin sering melihat prajurit Jepang bersikap seenaknya pada penduduk –misalnya, mereka menyuruh warga untuk menyerahkan harta bendanya—kepercayaannya terhadap Jepang memudar. Dia pun menyadari kaburnya prajurit-prajurit Jepang setelah beberapa pertempuran. Ditambah lagi, dia mendapatkan banyak informasi dari iparnya. Oleh karena itu, dia sigap berusaha menjaga keselamatan keluarganya, dan memastikan agar semua mendapatkan cukup makanan.

Kepala keluarga yang berkecimpung dalam pergerakan adalah Iman Sujahri, adik Salyowijoyo. Dia pindah ke Semarang dari Jawa Timur bersama Edi Sedyawati, anaknya, dan istrinya yang hamil tua. Iman Sujahri bekerja di kantor walikota sambil diam-diam melakukan kegiatan pergerakan. Oleh karena itu, dia sangat sibuk dan sebentar sekali ada di rumah. Saat Bibi Dini tinggal di rumah sakit selama masa menjelang dan pasca-melahirkan, Dini sering bermalam di rumah Iman Sujahri. Di situlah dia menyadari bahwa Edi adalah anak yang dididik orang tuanya ala Eropa sehingga asing dengan budaya Jawa macam wayang. Barulah saat sering bermain dengan Dini atau keluarganya, Edi mengenal budaya Jawa, dan bahkan menjadi gandrung dengan wayang dan sering meniru-nirukan wayang orang yang mereka tonton. Pada kesempatan ini pula Dini dan Edi merasakan dampak kesibukan Iman Sujahri dan kehamilan ibu Edi. Mereka kelaparan karena orang yang dipercaya untuk menjaga rumah terlalu banyak membuat aturan. Serba tidak boleh. Tapi, karena inilah ikatan batin antara Dini dan Edi menjadi kuat.

Terlepas dari keduanya saling menolong, terdapat perbedaan sikap politis antara Salyowijoyo dan Iman Sujahri. Salyowijoyo sadar politik tapi memilih tidak terlalu (atau setidaknya tidak secara eksplisit) terlibat dalam pergerakan politik, sedangkan Iman Sujahri sangat terlibat. Keterlibatan inilah juga yang membuat Iman Sujahri mesti berpindah-pindah. Sikap berbahasanya pun menunjukkan sikap politisnya. Iman Sujahri sehari-hari menggunakan bahasa Belanda dan jarang menggunakan bahasa Jawa atau Melayu, sedangkan Salyowijoyo lebih sering menggunakan bahasa Jawa walaupun dia bisa berbahasa Belanda. Salyowijoyo lebih anti-Belanda ketimbang Iman Sujahri. Makanya, saat Jepang datang dia pada awalnya merasakan timbulnya harapan, sedangkan sejak zaman Belanda Iman Sujahri selalu berpindah-pindah dan saat pendudukan Jepang dia diawasi.

Persoalan-persoalan serius itu diselingi oleh kisah-kisah lucu. Kebanyakan kisah lucu ini berkaitan dengan binatang. Misalnya, tentang asal mula ejekan Banteng pada Teguh, kakak Dini. Awalnya adalah Teguh mendapatkan kartu bergambar banteng terhimpit pohon saat diramal oleh peramal kartu gelatik. Tak lama setelah itu dia terhimpit lama di pohon saat disuruh mengambilkan belimbing. Kisah lainnya adalah saat Dini dan kakak-kakaknya bertengkar kekanak-kanakan. Mereka saling mencorat-coret tembok jamban dengan ejekan-ejekan. Bapaknya malah ikut-ikutan sampai ditegur ibunya. Kisah lainnya lagi adalah tentang jalak peliharaan mereka yang mempunyai perbendaharaan kata ejekan karena mereka sering berkata begitu di depannya.

Padang Ilalang Di Belakang Rumah berisi kisah orang-orang yang berusaha menyesuaikan diri untuk bisa sintas di tengah masa peperangan yang bergolak, yang kegawatannya diimbangi oleh kisah-kisah lucu yang bersahaja.

Ulasan ini bisa dibaca juga di http://al-ulas.blogspot.co.id/2016/11...
Profile Image for Lesh✨.
277 reviews4 followers
March 18, 2025
Seperti memoar, buku ini menceritakan tentang kenangan Dini mengenai kondisi awal Indonesia setelah ditinggalkan Belanda dan di bawah pendudukan Jepang.

Dini (POV 1) terlahir sebagai anak bangsawan keturunan ningrat, yakni anak bungsu dari 5 bersaudara. Ia punya rumah dengan halaman uamg besar dan tinggal bersama si Mbok sebagaimana pembantu rumah tangga yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri.

Kisah bermula saat Dini duduk di bangku SD. Semenjak Jepang datang menguasai sistem pemerintahan, keluarga Dini yang tadinya ningrat harus berubah menjadi masyarakat biasa. Sang Ibu yang tadinya biasa dipanggil Ndoro harus rela membiasakan diri dipanggil Bu oleh masyarakat.

Sejak saat itu ekonomi keluarga Dini jadi merosot. Mereka harus mengurangi jumlah pembantu yang ada di rumah dan mulai mencari pemasukan tambahan. Ibunya mulai membantu bekerja dengan membatik dan membuat kue kering.

Selain membahas ekonomi yang pasang surut, diceritakan juga pengalaman kakak-kakaknya dengan masalah yang berbeda di zaman tersebut. Lalu ada kisah Dini dan anak dari pamannya, Edi yang suka nonton wayang bersama.

Menuju akhir cerita, terjadilah pemberontakan anak-anak bangsa PETA melawan pemerintahan Jepang—yang membuat keadaan menjadi mencekam dan menegangkan. Dari situlah semua warga tidak ada yang berani keluar rumah, mereka bersembunyi sepanjang hari, dan hanya bisa keluar rumah jika tidak mendengar suara tembakan dari tentara.

Setelah itu muncullah bangkai mayat berhamparan di sungai dan bertumpuk-tumpuk di jalanan. Hal inilah yang dilihat Dini saat ia hendak berangkat sekolah.

Namun, setelah peberontakan itu berakhir dan Indonesia dinyatakan meredeka, Bapaknya Dini masih mencari anaknya yang tak kunjung pulang; Heratih dan Maryam.
Profile Image for Meutia Mumut.
24 reviews
October 2, 2022
Bercerita pada masa Jepang datang membawa perubahan, menggantikan Belanda.
Memberikan gambaran ringan yang sangat Indonesia, seperti;
1. Kebiasaan anak-anak berkumpul dan mengawasi kejadian langka di kampung (dari kisah menyelamatkan kakak Dini yang terjepit pohon).
2. Cara Dini dan saudara-saudaranya bermain seperti mencontoh pertunjukan wayang dan menangkap belalang.
3. Juga humor ala keluarga Indonesia antara lain saling memberikan nama panggilan.
Masih banyak lagi kisah ringan yang membawa kita kembali ke zaman Dini kecil. Bahkan nostalgia pada masa kanak-kanak (Iya, saya sudah tua 😅).

Awal cerita saya pesimis dengan karakter Bapak Dini yang mau saja diperintah pendatang dari Jepang. Bapak menuruti saja keinginan mereka sehingga mereka cepat pergi dari rumahnya. Tapi ini lah bentuk karakter kebanyakan dari kita.
Merasa tertampar juga rasanya..
Kalau kita harus mempertahankan milik kita sendiri dari orang asing, pendatang pula. Mereka belum tentu harus terus dilayani tanpa alasan jelas! Hanya karena warga asing yang berlagak tinggi.

Karakter Ibu Dini yang sangat kuat, sudah memikat hati dari awal sampai akhir cerita.
Dari caranya menyesuaikan keadaan ekonomi keluarga, caranya berinteraksi dengan sesama perempuan, caranya berlapang dada dengan anak-anak perempuannya sesuai zaman, sampai sikapnya pada masa pertempuran lima hari dan sesudahnya.

Aku membaca sambil menahan napas sepanjang cerita pertempuran lima hari antara PETA dan tentara Jepang. Heran, marah, sedih, ngeri semua bercampur aduk. Disihir oleh dahsyatnya tulisan NH Dini. Dari sudut pandang Dini kecil yang kerap dihiraukan oleh obrolan orang dewasa. Menjadikan cerita penuh tanda tanya.

Cerita klasik yang kaya!
Mencakup adat (perkawinan), budaya (wayang), kebiasaan hidup warga di kampung, antar keluarga, berbangsa, transportasi, sampai makanan khas Indonesia tertulis dengan indahnya.

Cantik!
Profile Image for Sheeta.
214 reviews18 followers
November 17, 2022
Padang Ilalang di Belakang Rumah menceritakan tentang kehidupan Dini dan saudara-saudarinya pada masa kependudukan Jepang. Buku ini fokus pada masa transisi dari penjajahan Belanda ke kependudukan Jepang. Banyak perubahan yang terjadi, terutama di bidang ekonomi yang bisa dikatakan menurun cukup drastis. Bahkan, seorang kelas atas seperti Bu Bustaman juga sampai harus menjual baju bekas untuk menghidupi dirinya.

Kenangan Dini akan kakak-kakaknya yang selalu sigap melindunginya tetapi di sisi lain juga membuat dia bingung dan kesal, disertai dengan kesulitan dan kearifan orang tuanya dalam menghidupi keluarga diceritakan dalam buku ini. Kita bisa benar-benar melihat apa yang dirasakan sebuah keluarga pada masa itu.

Buku ini sangat tipis, tapi menceritakan banyak hal yang luar biasa. Buku ini adalah buku kedua dari seri kenangan karya Nh. Dini dan ia menceritakan tentang masa kecilnya dengan detail dan jujur.
Profile Image for Deristya Handoko.
24 reviews
August 7, 2021
Saya tertarik membaca buku ini lagi karena ini buku di perpustakaan SMP yang belum dikembalikan. Kondisi bukunya masih utuh, namun ada beberapa huruf dan kata yang mulai pudar, senada dengan warna kertasnya. Buku ini ialah cerita kenangan masa kecil zaman penjajahan Jepang sang penulis. Seperti baca buku anak-anak padahal penulisnya saat menulis ini sudah dewasa.

Padang ilalang di belakang rumah hanya diceritakan 3x (sebagai ciri khas rumah, sebagai tempat mencari belalang untuk makanan burung piaraan dan kondisinya ketika terjadi perang antara sekutu dengan PETA), sehingga keistimewaannya tidak terlalu dominan. Hal istimewa justru muncul dari aktivitas sehari-hari sebuah keluarga di zaman penjajahan, suasana anak-anak bermain di halaman dengan suka ria dan banyak adat istiadat Jawa yang ditampilkan sangat apik.
Profile Image for Alfa Tj.
15 reviews
April 28, 2025
Buku kedua dari seri kenangan NH Dini. Masih seputar kenangan masa kecil beliau, NH Dini bercerita tentang keriangan masa kecilnya dengan para sepupunya serta kebahagiaan baru yang datang dalam keluarga mereka karena si kakak sulung, Heratih bakal menikah. Buku ini jadi bukti bahwa sang Ibunda ialah perempuang tangguh yang mampu beradaptasi pada perubahan zaman dan keadaan. Di bagian akhir, buku ini bercerita tentang gejolak perlawanan pemuda terhadap tentara Jepang di Semarang yang membuat keluarga si penulis harus merasakan kegelisahan dan kekhawatiran.

Aku membayangkan bisa berlarian mengejar belalang di sore hari, bersama orang-orang tersayang di hamparan padang ilalang di belakang rumah.
Profile Image for nana ☆.
85 reviews1 follower
October 17, 2022
Honestly, i love this book so much. Ini karya pertama Nh. Dini yang gua baca, memberi kesan yang cukup baik. Buku ini menceritakan tentang kehidupan rakyat Indonesia saat Jepang masuk setelah Belanda mundur, struggle mereka overall ada di ekonomi keluarga. Susah banget hidup pas zaman itu.

Yang rada off aja di gua itu gaya penulisan Nh. Dini di sini, jadi kadang gua harus berhenti buat proses kalimatnya.
Profile Image for Fatiya Amelia.
29 reviews
May 11, 2025
Saya senang memiliki kesempatan membaca buku kedua dari Series Cerita Kenangan milik Nh. Dini ini. Rasanya seperti membaca Little Women versi Indonesia dengan budaya dan konfliknya sendiri. Kita akan diajak menelusuri kehidupan Dini (9 tahun), si anak bungsu dari lima bersaudara di jaman penjajahan Jepang. Di buat dengan sudut pandang anak-anak, membuat kita bernostalgia dengan cara anak melihat dunia seperti interaksinya dengan keluarga, lingkungan, budaya, serta pikiran-pikiran polosnya dalam menghadapi situasi perang saat itu.
Profile Image for Arie Nasution.
3 reviews
January 20, 2023
Buku ini membawa memori dari kecil yang membuat kita merasa ingin menjadi kanak-kanak lagi.
Profile Image for zeeb.
24 reviews
April 14, 2025
Slice of life gitu ya. Ga sebegitu sih plot nya, tapi ok buat bacaan.
Profile Image for Muhammad Shonha.
1 review
August 23, 2013
Buku ini merupakan seri cerita kenangan, yang merupakan autobiografi dari Nh. Dini. Kisah ini berlangsung saat penulis (Dini) masih dalam usia sekolah dasar. Pada saat itu, Belanda telah meninggalkan Indonesia, dan Jepang masuk.
Pada awalnya, kedatangan Jepang ke Indonesia dianggap sebagai penyelamatan dari penjajahan. Akan tetapi, lambat laun terlihat bahwa penjajah Jepang bahkan jauh lebih buruk daripada Belanda. Dari buku ini, interaksi Dini kecil dengan kekacauan pada masa itu tidak terlihat terlalu mencolok. Dari kisah di buku ini pun, masih terlihat kebahagiaan masa kecil, kedamaian yang lugu dan polos. Meski demikian, ‘gangguan’ yang sedikit pun tetap meninggalkan bekas yang tak terlupakan oleh beliau hingga dewasa.
Tak banyak yang bisa diceritakan tentang buku ini, selain memang jumlah halamannya sedikit, kisah ini juga ‘hanya’ merupakan kepingan dari kenangan masa kecil penulis. Tentang bagaimana peralihan pemerintahan memaksa keluarga mereka yang tergolong ningrat untuk hidup setara, yang dirasa paling berat oleh sang ibunda. Keseharian Dini dengan kakak-kakaknya, hubungannya dengan sepupunya dan kerabat lainnya. Dini yang senang saat hari sabtu tiba karena bisa begadang untuk menonton wayang. Bocah yang kecewa karena ‘dilupakan’ keberadaannya saat pesta pertunangan kakak sulungnya. Anak yang merasakan pahit dan manis kehidupan dalam usia yang belia.
Kisah yang sederhana, kumpulan penggalan kehidupan sehari-hari. Bisa dikatakan sesuai dengan judulnya, kisah ini berpusat pada padang ilalang di belakang rumah, masih di rumah tetapi merupakan jalan untuk ‘melihat’ dunia luar. Pengalaman khas anak kecil, tetapi diceritakan dengan bahasa Indonesia klasik yang indah. Apa adanya tapi sarat akan pelajaran hidup.
Buku ini kurekomendasikan untuk orang-orang yang ingin belajar tentang kehidupan. hidup itu tidak mudah dan bisa saja menjadi mudah bila kita rangkaikan dengan syukur. saya suka novel ini bahasanya simpel dan mengalir dengan apik. satu kata setelah saya baca buku ini adalah nyaman.
Dari buku ini saya hampir tidak menemukan cacat yang berarti, hanya ada beberapa kata yang salah dalam pengetikan, namun masih dapat difahami oleh pembaca.Namun hal itu tidak akan menyurutkan niat Anda untuk memebaca buku ini.
Profile Image for Marina.
2,038 reviews359 followers
May 23, 2015
** Books 153 - 2015 **

3,7 dari 5 bintang!

Lagi-lagi saya dibuat terpesona oleh kisah kecil Ibu Nh. Dini dibuku ini. Beliau memang pakarnya mendeskripsikan latar tempat dan suasana sehingga kita yang pembacanya dapat merasakan suasana itu. Alam yang indah. suasana di kampung yang damai. halaman rumah yang dihiasi itik-itik yang berkejaran, kucing-kucing dan burung jalak yang menirukan suara manusia.

Kita juga jadi mengetahui kehidupan Ibu Nh Dini yang hampir setiap bulan diajak orangtuanya menonton wayang, kisah abangnya Teguh yang terjepit di pohon belimbing, Kakak Sulungnya yang bernama Heratih menikah, yang membuat saya tersentuh ibunya berjualan batik dan membantu membuat kue untuk menghidupi kehidupan mereka.

Buku ini mengajarkan kisah kekeluargaan. kerukunan. kebersamaan. kisah-kisah manis di masa kecil yang saya masih jarang rasakan membaca buku2 sastra saat ini. buku2 Ahmad Tohari dan Keluarga Cemara #1: Keluarga Cemara, Musik Musim Hujan, Kupon Kemenangan yang mendekati apa yang saya rasakan ketika membaca buku ini.

Yahh. semuanya masih terasa sederhana ketika kita hanya mengenal Apple dan Blackberry hanya sebagai buah. dimana waktu kita digunakan untuk bersenda gurau dengan teman memainkan lompat tali, engklek, gobak sodor, kelereng, bermain layangan dan bola bekel bukan seperti sekarang kita duduk bersama dengan teman tetapi fokus kita terhadap gadget masing-masing.

"Bahagia itu sederhana. sesederhana kita masih bisa merasakan itu semua di saat kita masih kecil.."
Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
March 18, 2015
Lanjutan Sebuah Lorong di Kotaku. Buku yg udah susah dicari di toko buku saat ini dan Alhamdulillah...tersimpan rapi di rak perpustakaan :)

Masih setipe dengan buku sebelumnya, banyak kenangan Dini saat masih duduk di bangku SD, melewati hari yg damai bersama keluarganya. Memang tidak semua indah. Ada Ibu yg masih harus beradaptasi mengikuti perkembangan jaman, Dini yg kelaparan di rumah sepupunya saat Bibinya melahirkan, Teguh yg (sempat) terjepit pohon belimbing hingga pertempuran yg melibatkan tentara Jepang dengan Sekutu. Namun, kisah-kisah kenangan yg menyenangkan, buat gw masih lebih mendominasi buku ini. Pertunangan Heratih, sepupu Edi menginap dan main wayang, keseharian Dini bersama keluarganya, cerita peliharaan yg ada di rumah hingga pasar Bandengan di Kendal, semua itu mewarnai masa kecil Dini.

Dan mau gak mau (mau kok...mau) gw diajak melancong dalam kenangan masa kecil seorang N.H Dini :)

Note: Btw, penyebutan Ayah suka nggak sinkron ya. kadang Ayah, kadang Bapak
Displaying 1 - 30 of 61 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.